Problematik
Setting Penelitian
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
- Asal Usul Nama Desa Adat Padang Luwih
- Letak Geografis Desa Adat Padang Luwih
Desa adat Padang Luwih merupakan desa strategis dengan akses jalan yang baik dan dekat dengan pusat pemerintahan Kabupaten Badung. 9 desa adat Padang Luwih; (6) Susunan kepengurusan desa adat Padang Luwih, uraiannya masing-masing adalah sebagai berikut. Dalam tulisan ini gambaran tentang sejarah desa adat Padang Luwih diperoleh dari kutipan prasasti Katatwaning Jagat Padang Lwah dan kitab Ekalikita desa adat Padang Luwih tahun 2014.
Menurut Ekalikita Desa Adat Padang Luwih Tahun 2014 tentang asal usul nama Desa Adat Padang Luwih berawal dari kepergian I Gusti Agung Maruti dari Klungkung menuju Alas Jimbar (daerah Jimbaran). Ketika beliau memerintah Padang Luwahu di sisi utara dan bertempat tinggal di Gaji, maka daerah tersebut dikenal dengan nama desa adat Padang Luwih Gaji (dari Padang Luwaha sampai Padang Luwih). Mengingat Gaji merupakan adat banjar, maka nama daerah tersebut kemudian menjadi desa adat Padang Luwih atas persetujuan masyarakat desa.
Dan wilayah perkampungan adat Padang Luwih kini hanya berisi enam dusun adat, yaitu banjar adat Gaji, banjar adat Kwanji, banjar adat Pendem, banjar adat Jroan, banjar adat Celuk, dan banjar adat Tegal Jaya. Desa Adat Padang Luwih Berdasarkan data yang diperoleh dari profil desa pada tahun 2014, Desa Adat Padang Luwih meliputi Desa Desa Dalung, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung.
Kependudukan
- Mata Pencaharian Panduduk Desa Adat
- Tingkat Kereligiusan Masyarakat Desa Adat
- Struktur Pemerintahan Desa Adat Padang
Desa adat Padang Luwih merupakan kesatuan wilayah adat yang mempunyai otonomi tersendiri dan telah mampu berperan aktif untuk menciptakan koordinasi yang serasi, serasi dan serasi mengacu pada konsep Tri Hita Karana. Mata pencaharian dalam hal ini adalah pekerjaan sehari-hari yang dilakukan masyarakat Desa Adat Padang Luwih, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung sebagai sumber penghidupannya. Desa adat Padang Luwih pada awalnya merupakan desa yang sangat subur dan sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidup pada sektor pertanian.
Begitu pula dengan mata pencaharian masyarakat adat Desa Padang Luwih yang dulunya berprofesi sebagai petani namun kini beralih ke profesi lain. Berdasarkan Tabel 4.2 terlihat bahwa pekerjaan yang dominan di desa adat Padang Luwih adalah mempekerjakan tenaga kerja, khususnya tenaga kerja yang bergerak di bidang industri pariwisata. Sedangkan untuk pura, masyarakat desa adat Padang Luwih mendukung beberapa pura yaitu Pura Puseh, Pura Baleagung atau Pura Desa, Pura Dalem Tibung, Pura Dalem Penataran dan Pura Dalem Kahyangan, dalam fungsinya adalah Pura Kayangan Tiga.
Hak dan kewajiban setiap warga desa adat Padang Luwih tertuang dalam awig-awig. Peraturan desa adat (awig-awig) diyakini merupakan nilai-nilai luhur yang diwariskan dan dilaksanakan oleh seluruh masyarakat desa adat Padang Luwih.
Asal–Usul Pelaksanaan Tradisi Mesalaran
Faktor Keyakinan Masyarakat Desa Adat Padang
Berdasarkan hasil pemerhatian yang dilakukan di pura kampung adat Padang Luwih, diketahui bahawa masyarakat kampung adat Padang Luwih sangat yakin dan percaya pelaksanaan tradisi mesalaran atau metimpugan akan meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat kampung adat Padang Luwih. ahli masyarakat di kampung adat Padang Luwih yang mempunyai hasil pertanian yang banyak. Melaksanakan tradisi mesalaran atau metimpugan merupakan bentuk rasa terima kasih masyarakat kampung adat Padang Luwih terhadap hasil yang diperoleh masyarakat kampung adat Padang Luwih. Dengan melakukan upacara perang ketipat, mereka sekaligus membentuk masyarakat Padang Luwih menjadi orang yang takut kepada Ida Sang Hyang Widhi, menjadi orang yang berakhlak mulia, dan sentiasa mengamalkan ajaran agama Hindu mengikut apa yang termaktub dalam kitab suci. Mengetahui, agar sesuai dengan tujuan pendidikan agama Hindu adalah untuk menumbuhkan kebiasaan yang berusaha menjadi suci dan berakhlak mulia, mental yang kuat dan tangguh, jiwa yang setia untuk menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan warga negara yang demokratis yang bertanggungjawab. untuk kesejahteraan negara dan tanah air.
Masyarakat desa adat Padang Luwih sangat percaya dengan tradisi mesalaran atau metimpugan, hal ini terlihat pada prosesi pelaksanaannya dimana masyarakat desa adat Padang Luwih sangat antusias mengikuti prosesi untuk memulai tradisi mesalaran atau metimpugan hingga selesai. Masyarakat Padang Luwih sangat percaya bahwa pelaksanaan tradisi mesalaran atau metimpugan akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat desa adat Padang Luwih. Masyarakat Padang Luwih juga meyakini jika tradisi mesalaran atau metimpugan tidak dilakukan maka akan menimbulkan petaka atau ketidakharmonisan dalam masyarakat desa adat Padang Luwih.
Dan mereka juga percaya bahwa setelah upacara mesalaran atau metimpugan selesai, ditandai bahwa anak-anak dan remaja yang suka menerbangkan layang-layang akan berhenti bermain layang-layang (….pengangon cinaeb). Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan tradisi mesalaran (metimpugan) di desa adat Padang Luwih didasari oleh kepercayaan masyarakat yang meyakini bahwa pelaksanaan tradisi mesalaran (metimpugan) di sasih kapat dapat meningkatkan hasil panen dan kesejahteraan masyarakat di desa adat Padang Luwih, dan jika tradisi Mesalaran (metimpugan) pada bulan purnama Sasih Kapat tidak dilaksanakan diyakini akan menimbulkan bencana atau kekacauan, maka tradisi mesalara atau tipat perang di bulan purnama Sasih Kapat ini rutin dilakukan setiap tahunnya.
Tradisi Mesalaran (Metimpugan) di Desa Adat
35 Kewujudan tradisi mesalaran atau metimpugan di kampung adat padang Luwih juga merupakan salah satu bentuk kearifan tempatan di Pulau Bali. Tradisi mesalaran atau metimpugan merupakan tradisi yang diwarisi oleh nenek moyang di kampung adat Padang Luwih dan harus dipelihara oleh masyarakat dan diteruskan oleh generasi seterusnya. Maka, tradisi mesalaran (metimpugan atau perang hujung bantal) merupakan salah satu tradisi keagamaan yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat di kampung adat Padang Luwih.
Upacara mesalaran atau metimpugan dilaksanakan setahun sekali yaitu pada saat bulan purnama Sasih Kapat yang dilaksanakan di pura desa adat Padang Luwih. Masyarakat desa adat Padang Luwih sangat antusias dengan pelaksanaan tradisi mesalaran atau metimpugan, hal ini terlihat dari partisipasi masyarakat dalam prosesi pelaksanaan tradisi mesalaran atau metimpugan. Begitu pula dalam pelaksanaan tradisi mesalaran (metimpugan atau perang bantal ketipat) pada bulan purnama sasih kapat di desa adat Padang Luwih, nilai-nilai agama Hindu diwujudkan sebagai perwujudan dari hasil kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat Padang. Luwih. masyarakat desa adat.
49 khususnya pada kegiatan yang dilakukan di Pura Desa atau Pura Bale Agung desa adat Padang Luwih. Menurut Jro Bendesa Desa Adat Padang Luwih menyatakan bahwa kaitannya dengan etika dalam melaksanakan tradisi Mesalaran (metimpugan adu bantal atau ketipat) di Desa Adat Padang Luwih terdapat nilai etika, hal ini terlihat dari bentuk pelaksanaan tradisi Mesalaran (metimpugan perang bantal atau ketipat) di desa tersebut. Adat Padang lainnya. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pelaksanaan tradisi Mesalaran (metimpugan perang bantal atau ketipat) di desa adat Padang Luwih tetap terjaga nilai-nilai etikanya.
Sehingga tradisi mesalaran (metimpugan adu bantal atau ketipat) dapat menciptakan keharmonisan dan keharmonisan di kalangan masyarakat kampung adat Padang Luwih. Implementasi tradisi Mesalaran (metimpugan adu bantal atau ketipat) di desa adat Padang Luwih juga dapat dipetik dari nilai-nilai sosial yang terkandung dalam tradisi Mesalaran (metimpugan adu bantal atau ketipat) hal ini terlihat dari kesatuannya. masyarakat adat desa Padang Luwih dalam melakukan tradisi mesalaran (metimpugan atau adu bantal ketipat) serta melakukan persembahyangan dan dilanjutkan dengan megibung (makan bersama) sebelum memulai metimpugan. Berdasarkan uraian tersebut maka nilai gotong royong dalam melaksanakan tradisi mesalaran (metimpugan adu bantal atau ketipat) merupakan suatu nilai atau sikap sosial masyarakat yang gotong royong dalam melaksanakan tradisi mesalaran (metimpugan adu bantal atau ketipat) di desa adat. Padang. Lagi.
Nilai persatuan atau nilai sosial menjadi senjata utama terwujudnya tradisi Mesalaran (metimpugan adu bantal atau ketipat) yang dilakukan di desa adat Padang Luwih, lebih tepatnya di pura desa. Diawali dengan persiapan sebelum pelaksanaan tradisi Mesalaran (metimpugan adu bantal atau ketipat) pada bulan purnama Sasih Kapat di desa adat Padang Luwih. Upakara atau sesaji memegang peranan penting dalam tradisi mesalaran (metimpugan adu bantal atau ketipat) pada saat bulan purnama sasih kapat.
Masyarakat desa adat Padang Luwih masing-masing mempersembahkan satu kelan (enam buah) tipat dan bantal. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa tradisi mesalaran (perang bantal metimpugan atau ketipat) yang dilakukan di pura desa adat Padang Luwih pada hari purnama sasih kapat masih dilakukan dengan dukungan seluruh masyarakat desa adat Padang Luwih. . Sebelum tradisi mesalaran (metimpugan atau perang bantal ketipat) berlangsung, masyarakat terlebih dahulu melakukan doa bersama yang diawali dengan tri sandya puja, doa lima waktu dan nglungsur wangsuh pada (tirta) dan bija.
Adapun tugasnya, pemangku berperan sebagai pemimpin prosesi pelaksanaan tradisi mesalaran (metimpugan), prajuru desa bertugas mengendalikan masyarakat, sedangkan masyarakat khususnya krama kone bertugas menyiapkan sarana dan prasarana. untuk sesaji dan para pemuda (yowana) berperan sebagai pelaksana perang bantal ketipat pada sasih kapat bulan purnama di desa adat Padang Luwih.