• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE DAN STRATEGI PEMBELAJARAN DALAM ALQURAN

N/A
N/A
Mardianto Simanjuntak

Academic year: 2024

Membagikan "METODE DAN STRATEGI PEMBELAJARAN DALAM ALQURAN"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

TAFSIR TARBAWI :

METODE DAN STRATEGI PEMBELAJARAN DALAM ALQURAN

Putri Anggreani Silsilia A Husuna, Jurusan Pendidikan Gura Madrasah Ibtidaiyah Email · ([email protected])

ABSTRAK

Pendidikan dalam prosesnya tidak terlepas instrumen yang menunjang didalamnya.

Instrumen ini menjadi cukup penting karena bersifat vital bagi berlangsungnya proses pendidikan. Ketiadaan instrumen ini tentu berdampak negatif bagi proses pendidikan, khususnya bagi proses pembelajaran. Adanya eksistensi model pembelajaran yang tepat akan melahirkan dampak yang cukup signifikan, begitupun sebaliknya. Strategi pembelajaran menjadi alternatif dalam menyusun proses pembelajaran. Bagi proses pendidikan, strategi pembelajaran ini menjadi acuan penting. Sedangkan, bagi pendidikan Islam, strategi pembelajaran ini harus dilihat dalam perspektif Alquran, di mana Alquran menjadi pijakan teologis dalam beragama. Secara lebih jauh, strategi pembelajaran yang berpijakan terhadap eksistensi Alquran, diharapkan akan mampu melahirkan cita-cita spiritual yang ada didalamnya

Kata Kunci: Alquran, Pendidikan Islam, Strategi Pembelajaran

ABSTRACT

Education in the process is inseparable with the supporting instruments in it. This instrument is quite important because it is vital for the ongoing educational process.

The absence of this instrument certainly has a negative impact on the education process, especially for the learning process. The existence of an appropriate learning model will have a significant impact, and vice versa. Learning strategies become an alternative in compiling the learning process. For the education process, this learning strategy becomes an important reference. Meanwhile, for Islamic education, this learning strategy must be seen in the perspective of the Koran, where the Koran becomes theological footing in religion. Furthermore, learning strategies that are based on the existence of the Koran, are expected to be able to give birth to spiritual ideals that are in it.

Keywords: Alquran, Islamic Education, Learning Strategies

(2)

A. PENDAHULUAN

Pendidikan menjadi proses yang memiliki urgensi nyata dalam merekronstuksi masa depan suatu bangsa. Hal ini menunjukan bahwa implementasi pendidikan dibutuhkan keseriusan dan totalitas yang konkrit. Ekspetasi yang tinggi memang disematkan kepada proses pendidikan sekaligus semaian cita-cita yang ada didalamnya. Dalam pandangan Ki Hajar Dewantara,pendidikan memeberikan cikal bakal lahirnya budi pekerti yang pada masanya akan selaras dengan alam dan masyarakat.1

Selain itu,menurut Azyumardi Azra proses pendidikan bukan sekedar pengajaran

belaka. Namun,pendidikan telah menjadi suatu proses,di mana suatu bangsa atau Negara membina dan mengembangkan kesadaran diri diantara individu-individu.Lebih lanjut,Azra memberikan pandangan bahwa pendidikan merupakan latihan fisik,mental,dan moral dalam rangka mewujudkan manusia yang berbudaya.2

Dalam kerangka pendidikan yang lebih spesifik yakni tentang pendidikan islan,Mohammad Nadsir memberikan pandangannya bahwa pendidikan islam menitik beratkan pada didikan jasmani dan rohani menuju kesempurnaan sebagai manusia.3 Sedangkan,pendapat yang lebih kompleks dan komprehensif terdapat dalam pandangab Yusuf Qardhawi,di mana menurutnya pendidikan islami berisi pada proses pendidikan akal dan hatinya,rohani,dan jasmaninya,serta akhlak dan keterampilannya.4

Strategi pembelajaran dalam perspektif Al Quran memberikan sudut pandang yang cukup mapan dan kompleks dalam melihat bagaimana islam menjadi pijakan yang penting dalam proses pendidikan yang kian masi berkembang saat ini.

Abdurrahman Nahlawi telah memberikan potret bahwa islam menampilkan manusia sesuai dengan hakikatnya,menjelaskan asal-usulnya,keistimewaan,tugas,hubungan dengan alam semesta untuk kesiapan menerima kebaikan atau keburukan.5 Disinilah peran pendidikan islam lahir dalam merumuskan masa depan manusia itu sendiri. Dari sisi lain,proses pendidikan tidak terlepas dari pembelajaran yang ada. Implementasi pembelajaran yang tepat dan sesuai tentu akan memberikan dampak yang cukup positif.

Namun tentu sebaliknya,jika pembelajaran yang di implementasikan kurang tepat,akan berakibat pada penyerapan materi pada peserta didik yang kurang maksimal.

Dalam pembelajaran proses belajar akan lebih bermakna, jika peserta didik mengalami apa yang dipelajarinya,bukan sekedar mengetahuinya saja. Pembelajaran yang berorientasi pada target penguwasaan materi terbukti berhasil dalam kompetensi meningat jangka

1 Ki Hajar Dewantara,Masalah Kebudayan: Kenangan-Kenangan Promosi Doktor Honoris Causa,(Yogyakarta: LKiS, 1967), hal.42

2 Azyumardi Azrah,Esei-Esei Intelektual Muslim Dan Pendidikan Islam,(Logos,1998), hal.3

3 Mohammad Nadsir,Capita Selecta,(Bandung: Gravenhage,1954), hal.87

4 Yusuf Al-Qardhawi,Pendidikan Islam Dan Madrasah Hasan Al-banna,(Jakarta: Bulan Bintang,1980), hal.39

5 Abdurrahman Nahlawi,Pendidikan Islam Di Rumah,Sekolah Dan Masyarakat,(Jakarta: Gema Insani,1995), hal.37

(3)

pendek,tetapi sering gagal dalam membekali anak memecahkan masalah dalam kehidupan jangka panjang.6

Dalam perspektif filsafat,bagi penganut filsafat idialisme hakikat realita terdapat dalam pikirin,serta sumber pengetahuan adalan ide yang telah ada dalam pikiran. Sedangkan,bagi penganut realisme,realita terdapat dalam dunia fisik,merupakan kontak atau interaksi individu dengan lingkungan fisik.7

Keadaan seperti ini menjadikan strategi pembelajaran menjadi cukup penting dalam kerangka proses belajar mengajar. Strategi pembelajaran yang komprehensif akan membuat peserta didik memiliki capaian yang akan dicapai berdasarkan arah tujuan pendidikan yang diharapkan. Tulisan ini akan menguraikan strategi pembelajaran dalam perspektif Alquran.

B.

Definisi Strategi Pembelajaran

Menurut J. Salusu sebagaimana dikutip Mulyani Sumantri dan Johar Permana, strategi sebagai suatu seni menggunankan kecakapan dan sumber daya untuk mencapai sasarannya melaui hubungan yang efektif dengan lingkungan dan kondisi yang paling menguntungkan.8 Disisi lain, dalam pandangan Wina Sanjaya strategi merupakan pola umum rentetan kegiatan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu.9

Strategi secara umum sebagai usaha untuk memperoleh kesuksesan dan keberhasilan dalam mencapai tujuan. Dalam dunia pendidikan strategi dapat diartikan sebagai a plan, method, or series Strategi Pembelajaran dalam Perspektif Al-Qur’ an of activities designed to achieves a particular educational goal. Pada mulanya istilah strategi banyak digunakan dalam dunia militer yang diartikan sebagai cara penggunaan seluruh kekuatan militer untuk memenangkan suatu peperangan. Dalam perkembangannya istilah strategi juga digunakan dalam bidang pendidikan atau pengajaran, sehingga muncul istilah strategi pengajaran atau strategi belajar mengajar. Strategi dalam pengertian yang sama untuk menggambarkan keseluruhan prosedur yang sistematis untuk mencapai tujuan. Kemudian memberi batasan mengenai strategi belajar mengajar adalah sebagaimana digunakan untuk menunjukkan siasat atau keseluruhan aktivitas yang dilakukanoleh guru untuk menciptakan suasana belajar mengajar yang sangat kondusif bagi tercapainya tujuan pendidikan.

Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Strategi pembelajaran berbagai merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran yang disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam hal ini, tujuan yang dimaksud adalah tujuan pembelajaran bagi peserta didik yang telah direncanakan dan ditargetkan.

6 Zulvia Trinova,”Pembelajaran Berbasis Students Centered Learning Pada Materi Pendidikan Agama Islam”, Jurnal Al-Ta’ lim, Vol.1,No. 4, Feb 2013,324-335, Hal.326

7 Udin S. Winataputa, Hakikat Bejar Dan Pembelajaran,(Jakarta: Kencana,2007), Hal. 7

8 Mulyani Sumantri dan Johar Permana, Stategi dalam Pembelajaran,(Bandung: Rosda Karya, 1996) hlm. 8

9 Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2007), hm. 99

(4)

Kemudian terdapat pula metode,yang merupakan upaya untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam keliatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal. Ada juga teknik, di mana merupakan cara yang dilakukan seseorang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode, serta yang terakhir adalah taktik yang merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan suatu teknik atau metode tertentu. Istilah-istilah tersebut memiliki distingsi yang sama dan melekat strategi pembelajaran merupakan hal yang perlu di perhatikan oleh seorang instruktur dan guru dalam proses pembelajaran yang akan berlangsung satu sama lain.10

C. Konsep Dasar dan Jenis Strategi Pembelajaran

Menindak lanjuti strategi pembelajaran dalam aspek teoritis akan memberikan indikasi mendalam tentang konsep yang ada didalamnya. Hal ini menjadi cikal bakal dalam merumuskan strategi yang tepat digunakan. Menurut Karismanto secara singkat strategi

pembelajaran pada dasarnya mencakup empat hal utama yaitu:

1. Penetapan tujuan pengajaran

2. Pemilihan sistem pendekatan belajar mengajar

3. Pemilihan dan penetapan.prosedur, metode dan teknik belajar mengajar

4. Penetapan kriteria keberhasilan proses belajar mengajar dari evaluasi yang dilakukan.11

Pada dasarnya konsep dasar strategi belajar mengajar ini meliputi beberapa hal; (1) menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan perilaku pebelajar; (2) menentukan pilihan berkenaan dengan pendekatan terhadap masalah belajar mengajar, memilih prosedur, metode dan teknik belajar mengajar; dan (3) norma dan kriteria keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Strategi dapatdiartikan sebagai suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam rangka mencapai sasaran yang telah ditentukan. Jika dikaitkan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan peserta didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Menurut Newman dan Mogan strategi dasar setiap usaha meliputi empat hal.12 Pertama, spesifikasi dan kualifikasi perubahantingkah laku yang diinginkan sebagai hasil belajar mengajar yang dilakukan. Dengan kata lain apa yang harus dijadikan sasaran dari kegiatan belajar mengajar tersebut. Sasaran ini harus dirumuskan secara jelas dan konkrit, sehingga mudah dipahami oleh peserta didik. Perubahan perilaku dan kepribadian yang diinginkan terjadi setelah peserta didik mengikuti suatu kegiatan belajar mengajar harus jelas, misalnya dari tidak bisa membaca berubah menjadi dapat membaca. Suatu kegiatan belajar mengajar tanpa sasaran yang jelas, berarti kegiatan tersebut dilakukan tanpa arah atau tujuan yang pasti. Lebih jauh suatu usaha atau kegiatan yang tidak punya arah atau tujuan pasti, dapat menyebabkan terjadinya penyimpangan-penyimpangan dan tidak tercapainya hasil yang diharapkan.

Kedua, memilih cara pendekatan belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif untuk mencapai sasaran. Bagaimana cara ini memandang suatu persoalan,

10 Udin S. Winataputra, Hakikat Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2007), hlm. 16

11 Karismanto, Teknik, Model dan Strategi Pembelajaran dalam Matematika, (Yogjakarta: LKiS, 2003), hlm. 12

12 Direktorat Tenaga Kependidikan, Strategi Pembelajaran dan Pemilihannya, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2008), hlm. 7-9

(5)

konsep, pengertian dan teori apa yang gunakan dalam memecahkan suatu kasus yang akan mempengaruhi hasilnya. Suatu masalah yang dipelajari oleh dua orang dengan pendekatan berbeda, akan menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang tidak sama.

Norma-norma social seperti baik, benar, adil, dan sebagainya akan melahirkan kesimpulan yang berbeda, bahkan mungkin bertentangan kalau dalam carapendekatannya menggunakan berbagai disiplin ilmu.13

Ketiga, memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif. Metode atau teknik penyajian untuk memotivasi siswa agar mampu menerapkan pengetahuan dan pengalamannya untuk memecahkan masalah, berbeda dengan cara atau supaya peserta didik terdorong dan mampu berfikir bebas dan cukup keberanian untuk mengemukakan pendapatnya sendiri.Perlu dipahami bahwa suatu metode mungkin hanya cocok dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. Jadi dengan sasaran yang berbeda hendaknya jangan menggunakan teknik penyajian yang sama.

Keempat, menetapkan norma-norma atau kriteria keberhasilan sehingga guru mempunyai pegangan yang dapat dijadikan ukuran untuk menilai sampai sejauh mana keberhasilan tugas-tugas yang telah dilakukannya. Suatu program baru bias diketahui keberhasilannya setelah dilakukan evaluasi. Sistem penilaian dalam kegiatan belajar mengajar merupakan salah satu strategi yang tidak bisa dipisahkan dengan strategi dasar lain. Apa yang harus dinilai dan bagaimana penilaian itu harus dilakukan termasuk kemampuan yang harus dimiliki oleh guru. Seorang peserta didik dapat dikategorikan sebagai murid yang berhasil bisa dilihat dari berbagai segi. Bisa dilihat dari segi kerajinannya mengikuti tatap muka dengan guru, perilaku sehari-hari di sekolah, hasil ulangan, hubungan sosial, kepemimpinan, prestasi olah raga, keterampilan dan sebagainya atau dilihat dan berbagai aspek.14

Selain itu, klasifikasi strategi pembelajaran juga menjadi penting untuk disimak.

Paling tidak ada tiga jenis strategi yang berkaitan dengan pembelajaran, yakni: pertama, strategi pengorganisasian pembelajaran, dalam pandangan Reigeluth, Bunderson dan Meril (1977), mereka menyatakan strategi mengorganisasi isi pelajaran disebut sebagai struktural strategi, yang mengacu pada cara untuk membuat urutan dan mensintesis fakta, konsep, prosedur dan prinsip yang berkaitan.15

D. PANDANGAN AL QURAN TENTANG STRATEGI PEMBELAJARAN

Sebagaimana dipaparkan di atas terdapat istilah yang memiliki kesamaan dengan strategi, yakni metode, di mana metode sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata. Hal ini dimaksudkan agar tujuan yang telah disusun akan tercapai secara optimal dan maksimal sesuai dengan harapan. Dalam hal ini, metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Dengan demikian, metode dalam rangkaian sistem pembelajaran memegang peran yang sangat penting.

Keberhasilan implementasi strategi pembelajaran sangat tergantung pada cara guru menggunakan metode pembelajaran. Oleh karenanya, suatu strategi pembelajaran

13Karismanto, Teknik, Model dan Strategi Pembelajaran dalam Matematika , (Yogjakarta:LKiS, 2003), hlm. 34

14 Udin S. Winataputra, Hakikat Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2007), hlm. 23

15 Direktorat Tenaga Kependidikan, Strategi Pembelajaran dan Pemilihannya, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2008), hlm. 4

(6)

hanya mungkin dapat diimplementasikan melalui penggunaan metode pembelajaran.

Secara umum terdapat beberapa macam metode pembelajaran yang dapat digunakan, diantaranya metode ceramah, demonstrasi,diskusi, simulasi, tugas dan resitasi, tanya jawab, kelompok, problem solving, team teaching, karyawisata, serta lain sebagainya.16 Metode ini pada dasarnya akan senantiasa dapat dikembangan sedemikianrupa agar dapat menunjang akserelasi proses pembelajaran dengan tujuan yang akan dicapai bagi peserta didik.

Dalam kerangka teologis, Islam memberikan pandangan yang konstruktif dan distingtif mengenai metode pembelajaran. Hal ini tentunya berkaitan dengan eksplorasi ajaran yang ada didalam Alquran. Eksplorasi ini dimaksudkan untuk dapat mengimplementasikan secara totalitas ajaran yang ada didalamnya. Secara historis, sejak masa Nabi Saw. sudah dikenal adanya kegiatan belajar mengajar, sehingga kalau dilihat kembali maka pembelajaran itu sendiri sudah ada dan diimplementasikan oleh Nabi Saw. Di zamannya.17

Didalam Alquran telah dijelaskan secara eksplisit tentang metode pembelajaran yang dapat digunakan. Pertama, metode al-Hikmah, kedua, metode Maw’ idhah al-Hasanah, dan ketiga, metode al-Mujadalah. Ketiga metode ini tercermin dalam Alquran surat al-Nahl ayat 125

ةَنَسَحْلا ِةَظِع ْوَمْلا َو ِة َمْك ِحْلاِب َكِ ب َر ِلْيِبَس ىٰلِا ُعْدُا

َّلَض ْنَمِب ُمَلْعَا َوُه َكَّب َر َّنِا ُُۗنَسْحَا َيِه ْي ِتَّلاِب ْمُهْلِداَج َو يِدَتْهُمْلاِب ُمَلْعَا َوُه َو ٖهِلْيِبَس ْنَع

Artinya: “ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang- orang yang mendapat petunjuk” . (Q.s. al-Nahl/16: 125)

metode ini sejatinya menyesuaikan dengan sasaran yang menjadi objek pembelajaran.

Kepada seseorang telah memiliki ilmu, maka dapat menggunakan al-Hikmah, yakni perkataan yang bijak yang disesuaikan dengan tingkat keilmuan mereka. Seringkali al-Hikmah juga diartikan sebagai perkataan yang tegas dan benar, di mana dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil. Dalam pandangan Quraish Shihab didalam tafsir al-Misbah kata al-Hikmah berarti yang paling utama dari segala sesuatu, baik pengetahuan maupun berbuatan. Sedangkan, menurut Imam al- Qurtubi menafsirkan al-hikmah dengan makna kalimat yang lemah lembut.18

16 Lebih lengkap lihat Direktorat Tenaga Kependidikan, Strategi Pembelajaran dan Pemilihannya, (Jakarta:

Departemen Pendidikan Nasional, 2008), hlm. 13-41

17 M. Ramli, “Media Pembelajaran Dalam Perspektif Al-Qur’ an dan Al-Hadits”, Ittihad: Jurnal Kopertais Wilayah XI Kalimantan, Vol. 13 No.23, April 2015, 130-154,

hlm. 131

18 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’ an, (Jakarta: Lntera Hati. 2012), hlm.

132

(7)

Dalam konteks pembelajaran, metode al-Mujadalah ini seringkali diartikan juga dengan diskusi. Metode diskusi yang dimaksud dalam al-Qur’ an ini adalah diskusi yang dilaksanakan dengan tata cara yang baik dan sopan. Yang mana tujuan dari metode ini ialah untuk lebih memantapkan pengertian dan sikap pengetahuan mereka terhadap suatu masalah. Definisi diskusi bisa diartikan sebagai cara penyampaian bahan pelajaran dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membicarakan, menganalisa guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternatif pemecahan masalah.

Akan tetapi, bagi seseorang yang awam dapat menggunakan Maw’ idhah al-Hasanah, yakni dengan memberikan nasihat yang menyentuh jiwa sesuai dengan taraf pengetahuan yang sederhana. Maw’ idhah al-Hasanah terdiri dari dua kata, yakni wa’ azha yang berarti nasihat dan hasanah yang berarti baik. Maka dapat diartikan sebagai nasihat yang baik. Nasihat yang diberikan kepada peserta didik tentunya harus membawa dampak positif bagi mereka. Hal ini dapat dilakukan secara berkelanjutan.

metode cerita. Metode ini tercermin dalam Alquran Yusuf ayat 3 :

ْلا َنَسْحَا َكْيَلَع ُّصُقَن ُنْحَن َنْيِلِفٰغْلا َنِمَل ٖهِلْبَق ْنِم َتْنُك ْنِا َو ََۖنٰا ْرُقْلا اَذٰه َكْيَلِا ٓاَنْيَح ْوَا ٓاَمِب ِصَصَق

Artinya: “Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukanAl Quran ini kepadamu, dan Sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukan) nya adalah Termasuk orang-orang yang belum mengetahui.” (Q.s. Yusus/12: 3)

Ahsanal Qashash dapat dimaknai sebagai materi pembelajaran yang diajarkan melalui metode bercerita maupun dapat diartikan sebagai kisah yang paling baik.19 Dalam pandangan Quraish Shihab kisah adalah upaya mengikuti jejak peristiwa yang benar-benar terjadi atau imajinatif sesuai dengan urutan kejadiannya dan dengan jalan menceritakannya. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa kini Alquran mengajak menuju kepada kisah yang diwahyukan.20

Pada dasarmya beberapa metode di atas merupakan bagian kecil yang ada didalam Alquran.

Sifat Alquran yang bersifat holistic dan universal secara lebih jauh memberikan pola strategi yang mapan pula. Oleh sebab itu, implementasi dan pengkajian akan strategi pembelajaran perspektif Alquran perlu upaya yang lebih masif dan berkelanjutan

.

19 Syahraini Tambak, “Metode Bercerita dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam”, Jurnal Al-Thariqah, Vol.

1, No. 1, Juni 2016, 1-27, hlm. 5

20 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’ an, (Jakarta: Lentera Hati. 2012),

hlm. 12

(8)

E. Memetik Cita-Cita Al-Qur’ an Tentang Strategi Pembelajaran

Dalam kerangka keilmuan posisi Alquran menempati tempat yang sentral. Posisi ini menjadikan Alquran sebagai pijakan utama dalam menyusun kerangka pendidikan yang akan dilangsungkan. Alquran juga merupakan petunjuk yang lengkap bagi manusia dan bersifat universal.21 Pola strategi pembelajaran yang ada didalam Alquran merupakan corak keislaman yang perlu dikembangan dalam pendidikan Islam. Hal ini perlu dikembangkan di masa urban saat ini, di mana arus modernisasi kian meningkat tajam.

Bahkan, tidak jarang dapat menimbulkan dampak yang negatif bagi generasi penerus.

Afir Alquran sebagai pijakan pertama dan utama dalam pendidikan Islam tercermin dalam surat al-Nahl ayat 64 :22

ُّي ٍم ْوَق ِل ًةَمْح َر َّو ىًدُه َو ِِۙهْيِف ا ْوُفَلَتْخا ىِذَّلا ُمُهَل َنِ يَبُتِل َّلَِّا َبٰتِكْلا َكْيَلَع اَنْل َزْنَا ٓاَم َو َن ْوُنِمْؤْ

Artinya : Dan Kami tidak menurunkan Kitab (Al-Qur'an) ini kepadamu (Muhammad), melainkan agar engkau dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan, serta menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Dalam histrositasnya Alquran, kehadirannya telah menjadi cikal bakal dalam pengajaran sekaligus pendidikan bagi Nabi Saw. dan para sahabat saat itu. Dalam pandangan yang distingtif, menurut Abdurrahman Nahlawi kelebihan Alquran terletak pada metode yang menakjubkan dan unik, sehingga dalam konsep pendidikan yang terkandung didalamnya, Alquran mampu menciptakan individu yang beriman dan senantiasa mengesakan Allah Swt.23 Dalam hal ini, instrumen teologis yang menjadi tolok ukur pendidikan Islam dalam kerangka nilai-nilai qurani.

Alquran mengawali konsep pendidikan dari hal yang sifatnya konkrit, seperti hujan, angin, dan tumbuh-tumbuhan. Kemudian hal ini menuju kepada yang bersifat asbtrak, seperti kebesaran dan kekuasaan Allah Swt yang cukup sulit dinalar. Dalam penyajian masalah ini, Alquran seringkali menyajikan materi dalam bentuk metode bertanya, metode untuk menyukakan, atau menyebutkan keindahan untuk menggali dan menumbuhkan spirit ketuhanan. 24 Secara holistik tentu Alquran memberikan wajah yang beragam dalam memberikan pola pengajaran. Hal ini dilakukan karena pada historisasi nya tidak terlepas dari asbabun nuzul yang melatarbelakanginya. Artinya, dalam proses pendidikan penggunaan metode sebenarnya disesuaikan dengan peserta didik dan tujuan yangakandicapai.

21 M. Akmansyah, “ Alquran dan Sunnah sebagai Dasar Ideal Pendidikan Islam” , Jurnal Pengembangan

Masyarakat Islam, Vol. 8, No. 2, Agustus 2015, 127-142, hllm. 129

22 Azyumardi Azra, Esei-Esei Intlektual Muslim dan Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos, 1998), hlm.9

23 Abdurrahman Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat, (Jakarta: Gema Insani, 1995), hlm.29

24 Abdurrahman Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat (Jakarta: Gema Insani, 1995), hlm.

29

(9)

Penekanan penggunaan strategi pembelajaran yang bernuansa qurani dalam kerangka masyarakat yang plural juga,dianggap cukup penting. Hal ini dikarenakan keberadaan Alquran cukup bersifat holistik dalam kerangka pendidikan Islam. Dalam pandangan Azyumardi Azra, pendidikan Islam memiliki tiga tujuan utama, yakni tujuan individual, tujuan sosial, dan tujuan profesional. 25 Tujuan ini secara terpadu dan terarah tersemaikan dalam Alquran.

Pelaksanaan pendidikan Islam yang selaras dengan nilai-nilai qurani akan mampu mengarahkan dan mengantarkan manusia bersifat dinamis-kreatif, serta mampu mencapai nilai-nilai ubudiyah. Tidak dapat dipungkiri bahwa dua pertiga dari ayat-ayat Alquran mengandung nilai-nilai membudayakan manusia dan memotivasi manusia untuk mengembangkannya lewat proses pendidikan. 26 Dari sinilah, misi dan gaya kependidikan yang bersifat, motivatif,persuasif-dinamis, sebagai suatu sistem pendidikan yang utuh dan demokratis lewat proses manusiawi.27

Akan tetapi, sekali lagi proses pendidikan Islam ini tidak terlepas dari nilai-nilai qurani yang terintegrasikan dengan strategi pembelajaran yang ada didalamnya.

Eksistensi pendidikan Islam semacam ini yang akan dapat mampu menyesuaikan dengan tantangan zaman. Oleh sebab itu, membumikan strategi pembelajaran perspektif Alquran perlu dikembangan dalam rangka pengembangan pendidikan Islam secara komprehensif dan optimal.

KESIMPULAN

Pendidikan dalam perspektif Alquran yang akan melahirkan pendidikan islam yang memiliki potensi yang mapan.Ternyata hal ini harus di imbangi dengan strategi pembelajaran yang tepat sebagaimana tercermin dan ada di dalam Alquran. Implementasi strategi yang bernuansa qurani diharapkan akan mewujudkan eksitensi pendidikan islam yang selaras dengan zaman.

25Azyumardi Azra, Esei-Esei Intlektual Muslim dan Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos, 1998), hlm. 7

26 H. M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hlm. 48

27 M. Akmansyah, “ Alquran dan Sunnah sebagai Dasar Ideal Pendidikan Islam” , Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam, Vol. 8, No. 2, Agustus 2015, 127-142, hllm. 131

(10)

DAFTAR PUSTAKA

Ki Hajar Dewantara,Masalah Kebudayan: Kenangan-Kenangan Promosi Doktor Honoris Causa,(Yogyakarta: LKiS, 1967), hal.42

Azyumardi Azrah,Esei-Esei Intelektual Muslim Dan Pendidikan Islam,(Logos,1998), hal.3 Mohammad Nadsir,Capita Selecta,(Bandung: Gravenhage,1954), hal.87

Yusuf Al-Qardhawi,Pendidikan Islam Dan Madrasah Hasan Al-banna,(Jakarta: Bulan Bintang,1980), hal.39

Abdurrahman Nahlawi,Pendidikan Islam Di Rumah,Sekolah Dan Masyarakat,(Jakarta: Gema Insani,1995), hal.37

Zulvia Trinova,” Pembelajaran Berbasis Students Centered Learning Pada Materi Pendidikan Agama Islam” , Jurnal Al-Ta’ lim, Vol.1,No. 4, Feb 2013,324-335, Hal.326

Udin S. Winataputa, Hakikat Bejar Dan Pembelajaran,(Jakarta: Kencana,2007), Hal. 7 Mulyani Sumantri dan Johar Permana, Stategi dalam Pembelajaran,(Bandung: Rosda Karya,

1996) hlm. 8

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta:

Kencana, 2007), hm. 99

Udin S. Winataputra, Hakikat Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2007), hlm. 16 Karismanto, Teknik, Model dan Strategi Pembelajaran dalam Matematika, (Yogjakarta: LKiS,

2003), hlm. 12

Direktorat Tenaga Kependidikan, Strategi Pembelajaran dan Pemilihannya, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2008), hlm. 7-9

Lebih lengkap lihat Direktorat Tenaga Kependidikan, Strategi Pembelajaran dan Pemilihannya, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2008), hlm. 13-41

M. Ramli, “ Media Pembelajaran Dalam Perspektif Al-Qur’ an dan Al-Hadits” , Ittihad: Jurnal Kopertais Wilayah XI Kalimantan, Vol. 13 No.23, April 2015, 130-154,

hlm. 131

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’ an, (Jakarta:

Lntera Hati. 2012), hlm. 132

Syahraini Tambak, “ Metode Bercerita dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam”, Jurnal Al-Thariqah, Vol. 1, No. 1, Juni 2016, 1-27, hlm. 5

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’ an, (Jakarta:

Lentera Hati. 2012), hlm. 12

M. Akmansyah, “ Alquran dan Sunnah sebagai Dasar Ideal Pendidikan Islam” , Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam, Vol. 8, No. 2, Agustus 2015, 127-142, hllm. 129 Azyumardi Azra, Esei-Esei Intlektual Muslim dan Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos, 1998),

hlm.9

Abdurrahman Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat, (Jakarta: Gema Insani, 1995), hlm.29

(11)

Abdurrahman Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat (Jakarta: Gema Insani, 1995), hlm. 29

Azyumardi Azra, Esei-Esei Intlektual Muslim dan Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos, 1998), hlm. 7

H. M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hlm. 48 M. Akmansyah, “ Alquran dan Sunnah sebagai Dasar Ideal Pendidikan Islam” , Jurnal

Pengembangan Masyarakat Islam, Vol. 8, No. 2, Agustus 2015, 127-142, hllm. 131

Referensi

Dokumen terkait

Sebelum kesadaran terbentuk, setiap suku bangsa memiliki perangkat konsep pandangan terhadap dunia, konsep etika, serta selera dan pilihan. Oleh karena itu, dibutuhkan

Pendidikan merupakan salah satu pilar perubahan suatu bangsa yang memiliki peran dalam mengembangkan setiap potensi individu. Pentingnya pendidikan di suatu negara

Pancasila secara terminologis menurut Asmoro Achmadi ialah lima sila/ aturan yang menjadi ideologi bangsa dan negara, pedoman bermasyarakat, dan pandangan

Darussunnah yang mengatakan:“Adapun faktor-faktor yang mendukung dalam pelaksanaan pembelajaran menghafal Alquran diantaranya: pertama kesadaran atau keinginan santri

Pendidikan merupakan salah satu pilar perubahan suatu bangsa yang memiliki peran dalam mengembangkan setiap potensi individu. Pentingnya pendidikan di suatu negara

Sebagai intelektual muda yang kelak menjadi pemimpin-pemimpin bangsa, pada mereka harus bersemayam suatu kesadaran kultural sehingga keberlanjutan negara bangsa Indonesia dapat

Kreativitas terbukti memberikan sumbangsih yang sangat berpengaruh dalam mensejahterakan bangsa dan negara. Ada banyak contoh bangsa dan negara yang menjadi sejahtera dari hasil kreativitasnya bukan dari hasil kekayaan alamnya. Mereka sejahtera walaupun tidak memiliki sumber daya alam melimpah. Sebaliknya, ada banyak negara dengan sumber daya alam melimpah tetapi kehidupan bangsanya jauh dari

Metode yang digunakan pembimbing dalam mengarahkan anak untuk mengembangkan kecerdasan sosial dapat disimpulkan menjadi dua, yaitu: Bimbingan Individu, yang meliputi: mengembangkan