1 PENGEMBANGAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) DI
LEMBAGA PEMBINAAN KHUSUS ANAK KELAS 1 MARTAPURA
Shinta Ramadayanti1, Khairul Anam2, M. Bahrul Ilmi3
1Kesehatan Masyarakat, 132O1, FakultasKesehatanMasyarakat, Universitas Islam Kalimantan MAB, 16O7O456
2Kesehatan Masyarakat, 132O1, FakultasKesehatanMasyarakat, Universitas Islam Kalimantan MAB1110046401
3Kesehatan Masyarakat, 132O1, FakultasKesehatanMasyarakat, Universitas Islam Kalimantan MAB,1112029001
ABSTRAK
Pelaksanaan penelitian pengembangan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas 1 Martapura sebagai bentuk latihan narapidana untuk menjadikan PHBS sebagai suatu kebiasaan dengan harapan terwujudnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang baik. Jenis penelitian ini dalah penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi lapangan dan pencarian data berupa wawancara narapidana dan pemantauan langsung secara berkala.Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan seperti apa Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas 1 Martapura dengan hasil sebagai berikut Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas 1 Martapura sudah cukup baik akan tetapi masih banyak anak yang belum begitu paham tentang penerapan PHBS dalam kehidupan sehari-hari.Personal hygiene narapidana di Lembaga Pembinaan khusus Anak Kelas 1 Martapura juga cukup baik, akan tetapi ada beberapa hal tentang kebersihan pribadi narapidana yang masih kurang diperhatikan oleh yang bersangkutan.Untuk lingkungan keseluruhan di Lembaga Pembinaan Khusus anak Kelas 1 Martapura sudah baik akan tetapi untuk kebersihan ruangan tempat narapidana masih kurang.
Diharapkan Instansi dan petugas lebih memperhatikan fasilitas dan sarana prasarana seperti penempatan letak WC maupun kamar mandi dan lebih sering memberikan pemahaman-pemahaman atau konseling seputar kesehatan untuk narapidana serta memperbanyak poster tentang kesehatan didalam maupun diluar ruangan narapidana.
Kata Kunci : Pengembangan, Narapidana,PHBS, Lembaga Pembinaan Khusus Anak.
ABSTRACT
Conducting Research on the Development of Clean and Healthy Behavior (PHBS) at the Special Guidance Institution for Class 1 Children in Martapura as a form of prisoner training to adopt PHBS as a habit in the hope of the realization of good Clean and Healthy Behavior (PHBS).This type of research is a qualitative descriptive study with field studies and data searches containing inmate interviews and full direct searches.The purpose of this research is to explain what is the Clean and Healthy Behavior (PHBS) in a special development institution of Grade 1 children in Martapura withThe result as follows a clean and healthy behavior (PHBS) at a special Development Institute Children 1st Class Martapura is good enough but there are still many children who have not been familiar about the application of PHBS. Personal hygiene inmates at the Special Development Institution of Class 1 Martapura is also quite good, but there are some things about the personal hygiene of convicts that are still less concerned by the concerned. For the whole environment in special coaching institutions children Class 1 Martapura is good but for the cleanliness of the room where the convicts are still lacking. Hopefully the results of this research agencies and officers pay more attention to facilities and infrastructures such as the Placement of toilets and bathrooms and alsooften provide understanding or counseling about health for convicts and multiply posters about health inside and outside the room convicts.
Keywords: Development, Prisoners, PHBS, Special Child Development Institution.
PENDAHULUAN
Jumlah Tahanan di kalimantan Selatan pada tahun 2018 sebanyak 1,740 dan narapidana sebanyak 6,996 dan pada tahun 2019 mengalami peningkatan dengan jumlah tahanan sebanyak 1,973 dan narapidana mengalami penurunan dengan jumlah 6,993. (Sistem Database Pemasyarakatan (SDP), Direktorat Jendral Permasyarakatan, Kementrian Hukum dan HAM, 2019)
2 Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) adalah lembaga atau tempat anak menjalani masa pidananya. LPKA berkewajiban untuk menyelenggarakan pendidikan, pelatihan keterampilan, pembinaan dan pemenuhan lain dari anak sesuai dengan peraturan perundang- perundangan. Hal ini mengingat anak yang dijatuhi pidana berhak memperoleh pembinaan, pembimbingan, pengawasan, pendampingan, pendidikan dan pelatiham serta hak lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-perundangan. (Nada Safira,2019)
Salah satu hak narapidana adalah mendapatkan pelayanan kesehatan dan makanan yang layak. (Undang-Undang No.12 Tentang Permasyarakatan, 1995)
Menurut Bambang Poernomo, dalam melakukan pembinaan dengan bimbingan dan kegiatan lainnya yang diprogramkan terhadap narapidana dapat meliputi beberapa cara pelaksanaan, yaitu:
1. Bimbingan Mental, yang diselenggarakan dengan pendidikan agama, kepribadian dan budi pekerti, pendidikan umum yang diarahkan untuk membangkitkan sikap mental baru sesudah menyadari akan kesalahan masa lalu.
2. Bimbingan Sosial, yang dapat diselenggarakan dengan memberikan pengertian akan arti pentingnya hidup masyarakat, dan pada masa tertentu diberikan kesempatan asimilasi serta integrasi dengan masyarakat luar.
3. Bimbingan keterampilan, yang dapat diselenggarakan kursus, latihan kecakapan tertentu sesuai dengan keterampilan dan bakat yang nantinya akan menjadi bakal hidup untuk mencari nafkah dikemudian hari.
4. Bimbingan untuk memelihararasa aman dan damai, hidup teratur dan belajar mentaati peraturan.
5. Bimbingan lainnya yang menyangkut perawatan kesehatan dan seni budaya sebisanya diperkenalkan kepada segala aspek kehidupan bermasyarakat dalam bentuktiruan masyarakat kecil selaras dengan lingkungan sosial yang terjadi diluarnya. (Resnu Febri Wibowo, 2018)
Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan salah satu upaya preventif (pencegahan) terhadap suatu penyakit atau masalah kesehatan dan promotif (peringkatan derajat kesehatan) pada seseorang, sehingga dapat dikatakan sebagai pilar indonesia sehat (www dinkes.co.id)
Dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan permasalahan anak di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Martapura tidak beda dengan permasalahan anak pada umumnya seperti perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), kebersihan perorangan yang pada umumnya kurang mendapatkan perhatian dari orang yang bersangkutan dan juga pengetahuan yang kurang baik mengenai kesehatan dan perilaku yang tidak sehat,bahkan pada narapidana akan bertambah lagi dengan masalah kesehatan lingkungan berupa jambanyang tidak sesuaistandar dan lingkungan tempat pembuangan sampah, dalam hal ini diharapkan para narapidana dapat menerapkan perilakukeseharianhidup bersih dan sehat (PHBS).
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Perreault dan McCarthy mendefinisikan penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang berusaha menggali informasi
3 secara mendalam, serta terbuka terhadap segala tanggapan dan bukan hanya ya atau tidak.
Penelitian ini mencoba untuk . Populasi dalam penelitian ini yaitu semua tahanan dan narapidana di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Martapura sebanyak 58 orang.peneliti mengambil kriteria dari jenis pidana dan waktupidana yaitu pasal 338-340 KUHP tentang Pembunuhan dengan hukuman paling lama dua puluh tahun
PEMBAHASAN
Pengembangan PHBS di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas 1 Martapura berdasarkan perspektif pengembangan anak secara umum diaktualisasikan dalam beberapa tahapan menejemen mulai dari perencanaan, pengkoordinasian, dan pengembangan sebagai langkah penanganan program sebagai suatu kegiatan kolektif, pengembangan itu sendiri melibatkan beberapa aktor seperti, narapidana, petugas setempat, dan peneliti. Yang dimana semua aktor turut bekerjasama dalam perencanaan, pelaksanaan sampai monitoring dan evaluasi.
Pengembangan perilaku hidup bersih dan sehat di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas 1 Martapura dilakukan untuk mencari formula terbaik. Karena pada dasarnya, pengembangan dilakukan sebagai upaya untuk memperluas atau mewujudkan potensi- potensi, menjadikan suatu keadaan secara bertahap kepada suatu keadaan yang lebih lengkap, lebih besar atau lebih baik, memajukan sesuatu dari yang lebih awal kepada yang lebih akhir atau dari yang sederhana kepada tahapan perubahan yang lebih kompleks Tujuan besar dilakukannya pengembangan adalah untuk peningkatan kualitas hidup yang semakin baik, meliputi multi sektor seperti ekonomi, sosial, religi politik, budaya, kesehatan, dan aalainnya. Selain itu tujuan secara interanalnya adalah untuk memberikan kekuatan, motivasi, dorongan, partisipasi, dan bentuk lainnya agar masyarakat dapat menyelesaikan problemanya secara mandiri. Dangan memanfaatakan segala potensi yang dapat digunakan demi tercapainya tujuan diatas (Ruri Wulan Sari, 2018)
Seperti yang dijelaskan dalam bab 2 bahwa metode yang digunakan dalam pengembangan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas 1 Martapura ialah metode observasi alami dan metode obaservasi terkontrol yang dimana peneliti melihat gambaraan keseluruhan dalam 2 pengamaatan. Berdasarkan data perbandingan keadaan sebelum dan sesudah dilakukan kegiatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai bentuk pengembangan anak khususnya di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas 1 Martapura. Berikut keterangannya:
1. Keadaan sebelum penerapan PHBS
Dari observasi awal yang dilakukan peneliti di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas 1 Martapura melihat bahwa keadaan lingkungan sekitar ruangan sudah cukup rapi akan tetapi ada beberapa ruangan yang masih tidak teratur seperti barang- barang narapidana yang masih berserakan, lantai yang berdebu, pakaian belum kering digantung sembarangan, dan desain penempatan toilet yang kurang tepat. Dari hasil wawancara peneliti menyimpulkan bahwa masih banyak narapidana yang tidak mempunyai kartu jaminan kesehatan nasional dan bahkan ada beberapa narapidana yang tidak mengetahui apa itu kartu jaminan kesehatan nasional.
4 Menurut MNR yang merupakan narapidana di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas 1 Martapura menyatakan bahwa hampir semua narapidana merupakan perokok aktif dan untuk aktivitas fisik MNR menganggap bahwa tidak aktifnya kegiatan olahraga dan aktivitasfisik lainnya.
Untuk ketersediaan makan dan minum serta sumber air di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas 1 Martapura sudah memenuhi standar.
Jika dilihat dari segi perilaku kesehatan, narapidana masih tergolong kurang karena hampir semua narapidana tidak tahu cara mencuci tangan dengan benar dan jarang melakukan hal tersebut dan untuk kebiasaan sehari hari lainnya sepertibaju, celanamaupunhandukseringberpinjamandengannarapidana lain.
2. Keadaan sesudah penerapan PHBS
Setelah dilakukannya penerapan PHBS di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas 1 Martapura, lingkungan sekitar ruangan narapidana sudah semakin bersih terlihat dari tertatanya ruangan dan bersihnya lantai ruangan ketika peneliti melakukan pemantauan di setiap minggunya, dan untuk aktivitas fisik seperti olahraga kecil juga berjalan sesuai dengan harapan, begitupun dengan hal-hal lain yang juga semakin membaik disetiap harinya, narapidana yang sekarang sadar akan kebersihan pribadi dan kebersihan lingkungan.
PENUTUP
1. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas 1 Martapura sudah cukup baik akan tetapi masih banyak anak yang belum begitu paham tentang penerapan PHBS dalam kehidupan sehari-hari.
2. Personal hygiene narapidana di Lembaga Pembinaan khusus Anak Kelas 1 Martapura juga cukup baik, akan tetapi ada beberapa hal tentang kebersihan pribadi narapidana yang masih kurang diperhatikan oleh yang bersangkutan.
3. Untuk lingkungan keseluruhan di Lembaga Pembinaan Khusus anak Kelas 1 Martapura sudah baik akan tetapi untuk kebersihan ruangan tempat narapidana masih kurang.
4. Pelaksanaan pengembangan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat adalah sebagai bentuk latihan narapidana untuk menjadikan PHBS sebagai suatu kebiasaan dangan harapan terwujudnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat yang baik, menurut pandangan peneliti kegiatan pengembangan PHBS di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas 1 Martapura sudah berjalan cukup baik, namun masih belum maksimal dikarenakan ada beberapa narapidana yang belum menerapkan secara sungguh-sungguh.
5 DAFTAR PUSTAKA
Bambang Poernomo,(1994) Asas-Asas Hukum Pidana, Jakarta, Ghalia Indonesia
Cannon, Perreault dan McCarthy. (2009). Pemasaran Dasar Pendekatan Manajerial Global Buku 2 Edisi 16. Jakarta: Salemba Empat
Direktorat Jendral permasyarakatan, kementerian Hukum dan HAM, (2019). Sistem Database
Permasyarakatan (SDP):
http://smslap.ditjenpas.go.id/public/grl/current/monthly/kanwil/db6489a0-6bd1- 1bd1-d3aa-31313433039, diakses pada tanggal 20 februari 2020 09:32
Pasal 338-340 KUHP Tentang Pembunuhan
Resnu Febri Wibowo, (2018). Skripsi Pelaksanaan Pembinan Terhadap Residivis Anak Oleh Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) dalam (Studi Lembaga Pembnaan Khusus Anak Kelas II Yogyakarta) Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Ruri Wulan Sari, 2018. Skripsi Pengembangan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) DI Kalangan Santri (Studi Di Pondok Pesantren Darul Qalam, Ngaliyan, Semarang) Fakultas Dakwah Dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang 2018http://eprintis.walisong0.ac.id/9394/. Diakses pada tanggal 29 januari 2020 11:34 Surat Edaran Nomor Pas-15.TI.06.03 Tahun 2019 Tentang Sistem Database Pemasyarakatan
(SDP), Direktorat Jendral Permasyarakatan, Kementrian Hukum dan HAM, 2019) Undang-Undang Republik Indonesia No.12 (1995). Tentang Permasyarakatan