• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI KITAB KUNING KEL 8

N/A
N/A
Adinda Washila

Academic year: 2024

Membagikan "METODOLOGI KITAB KUNING KEL 8"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

METODOLOGI KITAB KUNING

Dosen Pengampu:

Dr. Syamsul Yakin, M.A.

Disusun Oleh:

Maulana Malik Nurmansyah (11220511000132)

Nadia Nur Anggraini (11220511000097)

Adinda Wasilah Mo’o (11220511000127)

Adistya Armitayana (11220511000135)

PROGRAM STUDI JURNALISTIK

FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2022

(2)

1 A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Kitab kuning di pesantren berada pada posisi yang istimewa karena keberadaannya menjadi unsur utama dan sekaligus ciri pembeda antara pesantren dengan lembaga-lembaga pendidikan islam lainnya. Teks kitab-kitab ini ada yang sangat pendek,ada juga yang berjilid- jilid. Kitab kuning menjadi salah satu identitas dari pesantren yang harus dilestarikan dalam rangka menjaga eksistensinya. Untuk mencapai tujuan tersebut, pesantren membutuhkan metode yang selalu relevan dengan kondisi santri yang semakin mengalami penurunan minat belajar, terutama cara membaca kitab kuning. Teks kitab-kitab ini ada yang sangat pendek, ada juga yang berjilid-jilid. Pengelompokan kitab kuning ini dapat digolongkan dalam tiga tingkat yakni; kitab tingkat dasar, kitab tingkat menengah dan kitab tingkat atas.

Kitab kuning difungsikan oleh kalangan pesantren sebagai referensi yang kandungannya sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Kenyataan bahwa kitab kuning yang ditulis sejak lama dan terus dipakai dari masa ke masa menunjukkan bahwa kitab kuning sudah teruji kebenarannya dalam sejarah yang panjang. Kitab kuning juga dipandang sebagai pemasok teori dan ajaran yang sudah sedemikian rupa dirumuskan oleh ulama-ulama dengan bersandar pada Alquran dan Hadits nabi. Menjadikan kitab kuning sebagai referensi tidak berarti mengabaikan kedua sumber itu, melainkan justru pada hakikatnya mengamalkan ajaran keduanya. Kepercayaan bahwa kedua kitab itu merupakan wahyu Allah menimbulkan kesan bahwa Alquran dan Hadits tidak boleh diperlakukan dan dipahami sembarangan. Cara paling aman untuk memahami kedua sumber utama itu agar tidak terjerumus dalam kesalahan dan kekeliruan adalah mempelajari dan mengikuti kitab kuning. Sebab, kandungan kitab kuning merupakan penjelasan yang siap untuk digunakan dan rumusan ketentuan hukum yang bersumber dari Alquran dan Hadits telah dipersiapkan oleh para mujtahid di segala bidang.

2. Rumusan Masalah 1. Apa itu kitab kuning?

2. Bagaimana metode penafsiran dalam Tafsir Jalalain?

3. Bagaimana nilai-nilai akhlak dalam kitab Tanhibul Ghafilin?

4. Bagaimana menyikapi moderasi berkeyakinan dalam kitab kuning?

(3)

2 B. PEMBAHASAN

1. Pengertian Kitab Kuning

Kitab kuning adalah kitab yang disusun oleh para ulama terdahulu terutama penganut madzhab syafi’i yang menjadi rujukan primer pesantren pada umumnya. Sebagai salah satu elemen penting pesantren, kitab kuning tetap diterapkan diberbagai pesantren meskipun materi umum sudah dipelajari karena pesantren memang bertujuan untuk mencetak para ulama penerus ajaran islam tradisional. Dalam menghadapi permasalahan sosial yang luas dan selalu berbanding lurus dengan berkembangnya zaman, maka kitab kuning yang lebih bercorak fiqih ini tidak cukup hanya dipahami dengan pedekatan literalis atau qauli. Akan tetapi harus dengan pendekatan metedologis atau manhaji yang lebih tanggap terhadap perkembangan sosial dan perkembangan zaman. Kedua pendekatan tersebut harus berkolaborasi sedemikian rupa untuk menjawab pberbagai perubahan sosial tersebut. Salah satunya dengan cara memetakan objek kajian dalam fiqih.

Imam bawani dalam buku “Tradisionalisme dalam Pendidikan Islam”, memberikan batasan kitab kuning yaitu kitab-kitab berbahasa arab yang dikarang oleh ulama’ masa lalu, khususnya pada abad pertengahan.1 Dikalangan pesantren sendiri, di samping istilah “kitab kuning”, terdapat juga istilah “kitab klasik” (al-kutub alqadimah), karena kitab yang ditulis merujuk pada karya-karya tradisional ulama’ berbahasa Arab yang gaya dan bentuknya berbeda dengan buku modern2. Dan karena rentang kemunculannya sangat panjang maka kitab ini juga disebut dengan “kitab kuno”. Bahkan kitab ini, di kalangan pesantren juga kerap disebut dengan “kitab gundul”. Disebut demikian Karen teks didalamnya tidak memakai syakl (harakat)3 , bahkan juga tidak disertai dengan tanda baca, seperti koma, titik, tanda seru, tanda Tanya, dan lain sebagainya. Untuk memahami kitab kuning di esantren telah ada ilmu yang dipelajari santri yaitu ilmu alat atau nahwu dan sharaf.

2. Metodologi Tafsir Jalalain

Tafsir Jalalain secara harfiah berarti “Tafsir Dua Jalal”, keduanya bergelar

“Jalaluddin”, artinya keduanya memiliki kemuliaan karena telah memelihara agama. Seperti menulis banyak kitab dan memublikasikannya ke seantero dunia, termasuk Indonesia. Penulis Tafsir Jalalain adalah Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin al-Suyuthi.

1 Imam Bawarni, Tradisionalisme Dalam Pendidikan Islam, (Surabaya: Al – Ikhlas, Cet I, 1993), 135.

2 Endang Turmudi, Perselingkuhan Kiai dan Kekuasaan, (Yogyakarta: LkiS, 2004), 36.

3 Harakat ialah tanda – tanda yang menunjukkan huruf ganda, bunyi pendek, dan tidak berbaris, (Eksiklopedia Islam, Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2000), 151.

(4)

3 Secara metodologis, kitab ini diawali dengan basmalah, hamdalah, dan shalawat untuk Nabi SAW. Hal itu tertuang dalam sambutan pengantar kitab oleh Imam Jalaluddin al-Suyuthi.

Jalaluddin al-Suyuthi mulai menuliskan surah al-Baqarah hingga al-Isra dengan metode yang sama persis dengan yang dilakukan oleh gurunya. Sehingga kalau dibaca, sulit dibedakan antara karya al-Mahalli dan al-Suyuthi. Kerja intelektual al-Suyuthi ini diselesaikan hanya dalam tempo setahun saja, yakni mulai 870-871 Hijriah.4

Jalaluddin Al-Mahalli memulai tafsirnya dari awal surah al-Kahfi sampai akhir Al-Qur’an.

Kemudian beliau menafsirkan surah al-Fatihah dan setelah menyempurnakannya, Ia meninggal. Selebihnya dilanjutkan oleh Jalaluddin AsySyuyuthi dengan menggunakan metodologi pengarang sebelumnya.5 Bagian inilah yang disebut dengan jilid satu Tafsir Jalalain. Jilid kedua adalah bagian yang merupakan karya Jalaluddin al-Mahalli. Karakteristik tafsir jalalain bila dibandingkan dengan tafsir lainnya yang bercorak sama adalah ungkapannya yang lebih simple dan padat dengan gaya bahasa yang muda untuk dipahami.6 3. Nilai-Nilai Akhlak dalam Kitab Tanbihul Ghafilin

a. Ikhlas (bersih hati dari segala tujuan selain keridhoan Allah SWT)

Berdasarkan hadiah yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dari Rasulullah SAW. Al- faqih berkata : Bahwasanya Allah SWT tidak akan menerima sedikit pun amal perbuatan, kecuali amal itu dikerjakan karena ikhlas kepada-Nya. Apabila amal itu tidak ikhlas, maka ia tidak akan menerimanya dan diakhirat tidak ada pahala baginya dan tempat kembalinya adalah neraka jahanam.7

Dinyatakan kepada salah seorang yang bijaksana “siapakah orang yang ikhlas itu?” ia menjawab orang yang ikhlas yaitu orang yang menyembunyikan kebaikan – kebaikannya sebagaimana ia menyembunyikan kejelekkan – kejelekkan “seorang bijak yang lain bertanya:

apakah tanda ikhlas itu?” ia menjawab: “apabila seseorang (didalam beramal) tidak ingin dipuji orang lain.” Dzun nun al-mishri ditanya: “kapankah seseorang itu bisa diketahui bahwa ia termasuk pilihan Allah SWT yang telah dipilih oleh-Nya?” ia menjawab: “ia bisa diketahui dengan empat hal, yaitu: apabila meninggalkan waktu untuk istirahat, ia memberikan apa

4 Syamsul Yakin, Studi Islam Masa Kini, hal. 74.

5 Thameem Usahama, Metodologi Tafsir Al-Qur’an: Kajian Kritis, Objektif & Komperhensif (Jakarta: Riora Cipta, 2000), 77.

6 Baidan Nashruddin, Metode Penafsiran Al – Qur’an, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2002.

7 Siti Shofiah, Nilai – Nilai Pendidikan Akhlak Dalam Kitab Tanbihul Ghafilin…, 2015, 53-54.

(5)

4 yang ada, ia menyukai derajat (duniawi) yang rendah, ia sama saja baik dipuji maupun disela.”

b. Amar Ma’ruf dan Nahl Munkar

Ma’ruf (perbuatan baik) yaitu segala perbuatan yang sesuai dengan al-Qur’an dan akal sehat, sedangkan yang dinamakan munkar yaitu segala perbuatan yang tidak sesuai dengan al-Qur’an dan akal sehat. Abu layth berkata: orang yang menyuruh untuk amar ma’ruf nahl munkar itu harus memenuhi lima syarat: mempunyai ilmu, dalam bertindak, bersikap ramah dan saying kepada orang lain, mempunyai sifat sabar dan penyantun, ia harus mengerjakan apa yang ia perintahkan kepada orang lain, supaya ia tidak diejek oleh orang lain.

c. Taubat

Taubat adalah menyesali atas perbuatan dosa dalam hati, mohon ampun dengan lisan, dan bermaksud untuk tidak mengulangi lagi selama – lamanya. Oleh karena itu, setiap muslim wajib untuk bertaubat kepada Allah SWT diwaktu pagi dan sore. Mujahid berkata : barang siapa yang tidak bertaubat pada waktu sore dan waktu pagi, maka ia termasuk orang – orang yang menganiaya dirinya sendiri.” Seyogyanya seseorang itu bertaubat kepada Allah pada setiap saat, dan bersungguh – sungguh didalam menjaga shalat fardlu yang lima, karena Allah SWT menjadikan shalat sebagai penyuci dosa penyuci dosa – dosa seorang hamba selama menghindari dosa – dosa besar.

d. Silaturahmi (mempererat tali persaudaraan)

Ibnu Umar ra. Berkata: “barang siapayang bertaqwa kepada Tuhannya dan mempererat tali persaudaraan, maka diperpanjang umurnya, ditambah hartanya, dan disenangi familinya.” Al-faqih mengatakan bahwa para ulama berbeda pendapat mengenai tambah umur. Sebagian ulama berpendapat sesuai dengan hadist di atas, yaitu orang yang mempererat tali persaudaraan akan ditambah umurnya. Akan tetapi Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa umur seseorang telah ditentukan oleh Allah itu tidak akan bisa bertambah.

e. Larangan minum khomr

Al – faqih berkata: Muhammad bin Fadl menceritakan kepada kami, dimana ia berkata: Ibrahim bin Yusuf menceritakan kepada kami, dimana ia berkata: Isma’il bin Aliyah

(6)

5 memberitahukan kepada kami dari al-Layth dari Abdullah, dimana ia berkata: Abdullah bin Umar berkata: “kelak pada hari kiamat orang yang meminum – minuman khomr mukanya hitam, matanya menonjol keluar, lidahnya menjulur sampai ke dada, dimana air liurnya mengalir, sehingga setiap orang yang melihatnya merasa jijik karena bau busuknya.

Janganlah kamu mengucapkan salam kepada orang yang meminum minuman keras, janganlah menjenguknya bila ia sakit dan mensholatkannya bila ia mati.

4. Moderasi Berkeyakinan Dalam Kitab Kuning

Diksi “moderasi” sudah sangat tua dalam kitab kuning. Setidaknya lebih dari seribu tahun silam al-Ghazali yang wafat pada 1111 masehi telah menulis buku yang berjudul al- Iqtishad fi al-I’tiqad. Buku tersebut bila kita terjemahkan memiliki arti, “Moderasi dalam Keyakinan”. Di era kini, moderasi seperti dibangkitkan lagi. Dalam beragama, kita diharapkan tidak terjebak pada langkah radikal dan liberal. Juga seorang muslim diharapkan untuk selalu bersikap dan berbuat moderat. Cirinya adalah adil (al-Adalah), berimbang (al- Tawajun), dan toleran (al-Tasamuh).8 Oleh karena itu, moderasi harus menjadi bagian penting dalam materi dakwah saat ini, agar terciptanya hubungan yang harmonis antara manusia dengan sesama dan antara manusia dengan Allah SWT.

Sedangkan dalam tradisi pesantren, literatur keagamaan kitab kuning tidak saja menjadi pusat orientasi studi, tetapi juga sistem nilai yang membentuk dan mewarnai paham dan praktik keagamaan komunitas pesantren. Kitab kuning sebagai inti tradisi intelektulisme pesantren, menjadi sumber pemahaman dinamis dan pesantren yang terbukti mampu menampilkan wajah Islam yang ramah tanpa amarah, serta toleran tanpa kebencian. Sehingga pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam dapat menjadi figur utama dalam memberikan pembelajaran Islam yang moderat.9 Pembelajaran kitab kuning di pondok pesantren telah berkontribusi besar dalam menanamkan sikap moderat sekaligus mewujudkan moderasi Islam di lingkungan pondok pesantren. Tradisi pengkajian kitab kuning memiliki peran penting dalam pengajaran moderasi Islam yang memiliki prinsip, yaitu tasamuh tawassut, dan tawazun yang memiliki arti toleransi, jalan tengah, dan juga seimbang.10

8 Syamsul Yakin, Studi Islam Masa Kini, 2022, hal. 77

9 Fajrusallah Hisny. “Core Moderation Values dalam Tradisi Kitab Kuning di Pondok Pesantren”. Vol. 5.

2020:216.

10 Saddam Husain, “Nilai-nilai Moderasi Islam di Pesantren: Studi Kasus pada Ma’had Aly As’adiyah Sengkang Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan,” (Tesis, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2020), 76.

(7)

6 C. KESIMPULAN

1. Kitab kuning adalah kitab yang disusun oleh para ulama terdahulu terutama penganut madzhab syafi’i yang menjadi rujukan primer pesantren pada umumnya. Kitab kuning tetap diterapkan diberbagai pesantren, meskipun materi umum sudah dipelajari karena pesantren memang bertujuan untuk mencetak para ulama penerus ajaran islam tradisional. Pada umumnya, yang menjadi rujukan utama pengajaran pesantren adalah kitab-kitab kuning berspektif fiqih karena fiqih bersifat yudisprudensi yang mengatur langsung kehidupan masyarakat.

2. Tafsir Jalalain secara harfiah berarti “Tafsir Dua Jalal” yang artinya keduanya memiliki kemuliaan karena telah memelihara agama. Secara metodologis, kitab ini diawali dengan basmalah, hamdalah, dan shalawat untuk Nabi SAW. Metode penyusunan kitab ini ada dua.

Pertama, ada yang disusun sesuai mushaf secara umum yang dimulai dari al-Fatihah hingga an-Naas. Kedua, ada yang memulainya dari al-Baqarah sampai surah al-Kahfi sesuai yang ditulis oleh Jalaluddin al-Suyuthi.

3. Nilai – nilai akhlak yang terkandung dalam kitab Tanbihul Ghafilin antara lain ikhlas, Amar Ma’ruf (perbuatan baik), taubat, silaturahmi, dan larangan meminum khomr

4. Moderasi harus menjadi bagian penting dalam materi dakwah saat ini, agar terciptanya hubungan yang harmonis antara manusia dengan sesama dan antara manusia dengan Allah SWT. Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam sudah seharusnya bisa untuk menjadi figur utama dalam memberikan pembelajaran Islam yang moderat.

D. DAFTAR PUSTAKA

Bawarni,Imam.(1993).Tradisionalisme Dalam Pendidikan Islam. Surabaya: Al – Ikhlas, Cet I Nashruddin,Baidan.(2002). Metode Penafsiran Al – Qur’an. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

SK Rektor No. 507. 2017. “Pedoman Penulisan Karya Ilmiah” dalam Keputusan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Turmudi, Endang. (2004). Perselingkuhan Kiai dan Kekuasaan. Yogyakarta: LkiS Usahama,Thameem.(2000). Metodologi Tafsir Al-Qur’an. Jakarta: Riora Cipta Yakin, Syamsul. (2002). Studi Islam Masa Kini. Surabaya: Pustaka Aksara.

Referensi

Dokumen terkait

1) Kegiatan santri dalam menyimak pembelajaran. Ketika ustadz dan ustadzah membacakan teks-teks kitab yang berbahasa Arab, maka santripun menyimaknya dengan seksama. Santri

Dalam penelitian Kedudukan Kitab Kuning (Kitab Fiqh) sete- lah lahirnya Kompilasi Hukum Islam ada beberapa hal yang akan dilaksanakan, antara lain, sbb :. Menelaah kitab-kitab

Dalam penelitian ini akan dilakukan pengenalan karakter atau huruf arab yang terdapat pada kitab kuning, mengingat banyaknya penerbit dan bentuk tulisan atau font

8 Para ilmuan pada Kementerian Agama Republik Indonesia mendefinsikan kitab kuning sebagai kitab-kitab keislaman yang ditulis dengan menggunakan bahasa Arab dan

Kitab kuning lebih akrab diucapkan oleh ulama Indonesia bahkan ada yang menyebutnya kitab gundul (tanpa harakat), namun dalam kalangan akademisi baik di Indonesia maupun luar

Para ulama hadis yang muncul di abad pembukuan hadis itu, antara lain; Imam Bukhari menyusun Shahih al-Bukhari ; Imam Muslim menyusun Shahih Muslim ; Abu Dawud menyusun kitab

Dalam pengabdian ini masalah pokok yang hendak dikerjakan adalah bagaimana meningkatkan kemampuan santri dalam membaca kitab kuning dan mengi’rab kalimat berbahasa Arab

Seluruh upaya yang dilakukan oleh kalangan Muda Nahdlatul Ulama, terutama melakukan dekonstroksi bagi rekonsruksi pemikiran Nahdlatul Ulama melalui pembacaan ulang terhadap Kitab