• Tidak ada hasil yang ditemukan

Migran Warga Toraja di Kota Palu dari Aspek Budaya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Migran Warga Toraja di Kota Palu dari Aspek Budaya"

Copied!
102
0
0

Teks penuh

PENDAHULIAN

KAJIAN PUSTAKA

Teori Migrasi

Selain keempat faktor di atas, terdapat dua faktor yang selalu ada di daerah asal dan daerah tujuan yang selalu berkaitan dengan perpindahan penduduk, yaitu faktor positif dan faktor negatif. Faktor positif dari daerah asal merupakan faktor yang mempunyai daya tarik untuk mendorong seseorang meninggalkan daerahnya, faktor positif dari daerah tujuan merupakan faktor yang mempunyai daya tarik seseorang untuk datang ke daerah tersebut.

Pola dan Proses Migrasi di Indonesia

Pendekatan teori pasar ganda mengungkapkan bahwa migrasi internasional disebabkan oleh permintaan pekerja migran yang terus-menerus, yang melekat dalam struktur pembangunan ekonomi. Kehidupan sosial dan ekonomi tumpang tindih dalam tindakan kolektif karena saling ketergantungan antara ekologi dan proses biologis dalam produksi (Thieme, Susan 2004:1-2).

Teori Pengambilan Keputusan Migrasi

Masyarakat Toraja melakukan migrasi karena adanya informasi mengenai kesempatan kerja terkait dengan tingkat upah atau peluang usaha di daerah tujuan, adanya perubahan jenis pekerjaan dengan harapan dapat meningkatkan pendapatan sehingga dapat membiayai upacara adat yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Toraja. kehidupan. rakyat. Faktor lain yang dapat mempengaruhi keputusan seseorang untuk bermigrasi adalah faktor pendidikan, seseorang yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi akan mencari pekerjaan di daerah yang lebih maju karena terdapat peluang yang lebih besar dibandingkan dengan orang yang berpendidikan lebih rendah, begitu pula dengan tingkat upah dan kesempatan kerja. . Seseorang memutuskan untuk bermigrasi ke daerah yang tingkat upahnya lebih tinggi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (Mulyadi, 2003). Lebih lanjut, kesempatan kerja atau peluang usaha merupakan salah satu dari beberapa faktor yang mempengaruhi keputusan seseorang untuk bermigrasi karena para migran akan sangat memperhatikan dimana peluang kerja yang tersedia atau dimana peluang usaha tertinggi menyiratkan perlunya tenaga kerja yang lebih besar dan keadaan ini menjadi sebuah tantangan. peluang. bagi seseorang untuk memutuskan untuk bermigrasi.

Kondisi yang paling banyak dialami sebagai pertimbangan rasional individu pindah ke kota adalah harapan mendapatkan pekerjaan dan pendapatan yang lebih tinggi di desa, juga karena ketimpangan distribusi pekerjaan dan pendapatan pertanian di pedesaan menjadi motivasi untuk pindah. .

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan

Selain itu, penelitian ini mengkaji aktivitas sosial, ekonomi, dan budaya (rambu tuka' dan rambu solo') pendatang warga Toraja. Secara khusus kajian pada aspek budaya menitikberatkan pada perbedaan keterlibatan warga pendatang Toraja dalam implementasi budaya Toraja di daerah asalnya, yaitu dalam kaitannya dengan budaya Rambu Solo' dan Rambu Tuka'. Praktik migrasi sebagian besar pendatang Toraja di kota Palu adalah mengikuti kerabat dan temannya.

Dengan meningkatnya strata ekonomi, maka pendatang Toray dapat melakukan ritual (budaya rambu tuka' dan rambu solo') sesuai dengan kemampuannya.

Aspek Budaya

Ketersediaan Informasi

Tujuan penelitian ini adalah keputusan migrasi warga Toraja di Kota Palu dengan fokus pada beberapa faktor yang menentukan keputusan warga migran Toraja untuk merantau ke Kota Palu. Meski sudah merantau ke daerah lain, namun upacara ini masih tetap dipertahankan dalam kehidupan masyarakat Toraja, termasuk warga pendatang Toraja Kota Palu. Adanya informasi dari kerabat yang telah merantau lebih awal, serta informasi dari beberapa warga Toraja yang sukses di luar negeri, menjadi daya tarik beberapa warga Toraja untuk merantau.

Gambar 3 menjelaskan alasan pendatang Toraja ingin berimigrasi ke kota Palu. Respon yang diterima sebanyak 40 responden atau 21 persen.

METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian eksplanatori yang dilakukan terhadap keputusan migrasi penduduk Toraja di Kota Palu, disesuaikan dengan alasan tercapainya tujuan penelitian, dilakukan untuk mengetahui nilai variabel bebas, baik satu variabel (independen) atau lebih tanpa melakukan perbandingan. atau dengan menghubungkan variabel lain, serta mengarahkan peneliti untuk mengkaji lebih mendalam aktivitas sosial, ekonomi, dan budaya migrasi Toraja di Kota Palu. Penggunaan penelitian eksplanatori, atau metode model kombinasi atau desain eksplanatori sekuensial merupakan metode penelitian kombinasi yang menggabungkan metode penelitian kualitatif-kuantitatif dalam analisis hasil penelitian (Sugiyono, 2011). Dalam penelitian, metode kuantitatif dan kualitatif dapat digunakan bersama-sama dengan tujuan untuk saling melengkapi (mixed method).

Untuk menambah jangkauan kajian dalam penelitian ini, dilakukan juga analisis mengenai keterlibatan warga pendatang Toraja dalam penerapan budaya Toraja serta keterlibatan warga pendatang Toraja di kota Palu dalam penerapan kebudayaan di negaranya. asli.

Lokasi Penelitian

Makasar, Jawa, Toraja dan beberapa suku lainnya sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendatang termasuk pendatang Toraja, serta menjadi alasan peneliti memilih Kota Palu sebagai tempat penelitian.

Objek Penelitian

Adanya persyaratan budaya lokal (rambu solo' dan rambu tuka)' merupakan kebutuhan budaya masyarakat Toraja di daerah asalnya maupun di perantauan karena jika mempunyai 'dadi tau' berarti sudah mampu membiayai upacara adat karena mereka merupakan bagian dari rangkaian upacara dan banyak tanda tuka' (kegembiraan). Bagi warga migran asal Toraja, ketersediaan informasi menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi warga migran asal Toraja untuk bermigrasi. Penelitian lebih lanjut mengenai informasi ini lebih fokus pada informasi kisah sukses para migran sebelumnya di tempat tujuan. Berbagai penelitian menjelaskan bahwa seseorang bermigrasi karena ingin menambah penghasilannya dan dapat mencapai kesuksesan dengan bermigrasi. Bagi pendatang Toraja, bermigrasi bukan hanya menambah pendapatan tetapi juga karena tuntutan budaya yang memerlukan biaya yang tidak sedikit.

M o n o g r a f | 73 di tempat tujuan, dengan tercapainya peningkatan taraf hidup, apa yang ingin “diketahui” oleh setiap warga migran Toraja di daerah tujuan tanpa terkecuali warga migran Toraja di Kota Palu.

HASIL PEMBAHASAN

Tuntutan Budaya

Upacara Rambu Solo atau upacara berkabung meliputi upacara penguburan jenazah yang dilakukan dengan mengorbankan ratusan ekor babi dan kerbau bagi keluarga yang mampu, namun banyak juga keluarga yang mampu secara ekonomi dan berasal dari strata sosial tinggi. namun dirasa revolusioner, tetap dilakukan upacara tersebut.Namun, jumlah hewan kurban terbatas dan keluarga miskin terkadang hanya mengorbankan beberapa ekor babi atau kerbau karena tidak dipaksakan, upacara dapat berlangsung berminggu-minggu. Meski upacaranya tidak dipaksakan, namun anggota keluarga yang tidak ikut merasa terbebani dan rendah diri bahkan dikucilkan dari keluarganya sehingga tetap bertahan. Reaksi responden terhadap upacara Rambu Tuka seperti tersaji pada Gambar 8 adalah sekitar 40,5 persen yang menyatakan bahwa upacara tersebut merupakan motivasi untuk bekerja lebih keras karena dengan meningkatkan etos kerja dapat meningkatkan produktivitasnya.

Meski sudah berpindah ke daerah lain, namun upacara ini masih tetap dilestarikan dalam kehidupan masyarakat Toraja.

Gambar 1 memperlihatkan bagaimana tanggapan  responden  terhadap  budaya  rambu  tuka”  di  lihatdari  aspek ekonomi sebagai berikut:
Gambar 1 memperlihatkan bagaimana tanggapan responden terhadap budaya rambu tuka” di lihatdari aspek ekonomi sebagai berikut:

Ketersediaan Informasi

Penelusuran terhadap beberapa responden yang datang ke Kota Palu sejak akhir tahun 1960an, umumnya mereka adalah anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang ditugaskan oleh pemerintah, mereka melihat peluang ekonomi yang ada di daerah ini, sehingga mereka merantau ke sanak saudaranya. Margareta”, mengatakan bahwa pada awal tahun 60an pasca represi Permesta yang dipimpin oleh Frans Karangan, banyak masyarakat Toraja yang merantau ke Kota Palu karena melihat masih ada lapangan pekerjaan atau peluang usaha yang sangat menjanjikan, hal tersebut menjadi salah satu faktor penarik para pendatang. Warga Toraja bermigrasi Mereka juga mengatakan, pada awal tahun 1970-an ada beberapa warga Toraja yang migran dan memiliki perusahaan di bidang kayu hitam seperti PT Sinar Kaili (S. Sakkung), PT Batu Marupa (A. Batti') dan PT Sumber Alam ( D. Dali), Pengusaha kayu eboni tersebut memboyong keluarga atau warga desanya untuk dipekerjakan di perusahaan tersebut karena usaha ini membutuhkan tenaga kerja yang banyak, ada juga yang menjadi pegawai yang dipekerjakan oleh Koperasi Primer Angkatan Darat (PRIKOPAD), usaha yang dijalankan oleh Tentara dan terlibat dalam bisnis kayu hitam, ada berbagai informasi dari para migran sebelumnya.

M o n o g r a f | 57 bermigrasi karena adanya informasi dari saudara atau teman yang sebelumnya telah merantau ke suatu daerah, seperti yang dikemukakan oleh Thomas dan Stoufer (1940), Lee (1966), Alatas (1995) dan Wahyuni ​​​​(2014), bahwa faktor yang mendorong seseorang melakukan migrasi dikarenakan adanya informasi mengenai peluang usaha atau peluang kerja di suatu daerah serta hasil penelitian terdahulu seperti yang dilakukan oleh Zulfachri (2017), Sucipto (2010), Patampang (2001) dan Sumanto (2008), informasi tersebut berasal dari kerabat , kerabat bahkan teman desa tentang peluang kerja, peluang usaha dan perbedaan tingkat upah menjadi faktor penarik keputusan untuk bermigrasi.

Pendidikan

Berdasarkan data di atas, sekitar 54,21 persen responden telah menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi mulai dari D3 hingga PhD. Dari pencapaian tersebut dapat disimpulkan bahwa masyarakat pendatang Toraja di Kota Palu lebih mengutamakan pendidikannya karena dengan pendidikan yang lebih tinggi maka mereka mempunyai peluang yang lebih tinggi untuk memenangkan persaingan dalam memperoleh pendapatan atau pendapatan yang lebih baik. Sementara itu, penduduk pendatang di Toraja, dengan tingkat pendidikan SMA/SMK ke bawah, mempunyai pekerjaan serabutan, baik sebagai petani (kebun atau sawah).

Awalnya warga Toraja merantau ke Kota Palu setelah awal tahun 1980an karena tersedianya lapangan kerja dan peluang usaha yaitu dengan adanya perguruan tinggi negeri (Universitas Tadulako) yang membuka peluang bagi lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan ( SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMA). Sekolah-sekolah (SMK) dari Toraja untuk melanjutkan pendidikannya, dan setelah menyelesaikan pendidikannya, ada pula yang menetap di Kota Palu untuk menetap.

Tabel 1  Sebaran Responden Berdasarkan Tingkat  Pendidikan
Tabel 1 Sebaran Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Keputusan Migrasi

Alasan mereka merantau, tidak ada satupun responden yang menjawab, adalah untuk menghindari upacara adat, karena melalui upacara adat itulah orang Toraja bermigrasi dengan harapan bisa lewat. Dari hasil penelitian yang penulis lakukan, budaya Rambu Solo' dan Rambu Taka' (sebagai kearifan lokal) merupakan suatu inovasi yang mempengaruhi migran Toraja dalam bermigrasi, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, beberapa penelitian dan teori sebelumnya tentang migrasi, dijelaskan pada umum. bahwa faktor yang mempengaruhi seseorang untuk bermigrasi adalah faktor pendorong dari daerah asalnya yaitu faktor ekonomi, faktor yang paling besar mendorong seseorang untuk bermigrasi, faktor pendidikan, faktor. M o n o g r a f | 71 banyak membuang waktu pada upacara adat karena jika tidak dilibatkan dalam kegiatan tersebut maka ia akan dipinggirkan oleh keluarga dan masyarakat, hal ini menjadi alasan utama masyarakat Toraja terus merantau ke berbagai daerah termasuk Kota Palu.

Penduduk Toraja merantau ke Kota Palu sejak tahun 60an dengan tujuan tidak hanya ingin meningkatkan taraf hidup, namun juga karena adanya arus informasi dari keluarga, saudara dan sahabat yang kembali ke daerah asal mengenai peluang usaha. yang masih terbuka lebar, dan cerita mengenai keberhasilan yang diraih, sehingga menjadi daya tarik bagi masyarakat Toraja untuk merantau, maupun bagi generasi muda yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Informasi yang benar mengenai kelima variabel independen sangat menentukan pengambilan keputusan warga Toraja untuk merantau ke Kota Palu, karena jika kelima variabel independen bernilai = 0 maka warga Toraja tidak akan merantau. Tuntutan budaya (budaya rambu tuka' dan rambu solo') merupakan hal baru dalam penelitian ini karena penelitian-penelitian sebelumnya bahkan teori-teori tentang migrasi yang mendukung penelitian ini belum memasukkan budaya lokal (kearifan lokal) sebagai salah satu faktor yang mempengaruhinya. bermigrasi, dari hasil penelitian baik wawancara maupun hasil regresi diperoleh bahwa budaya lokal (rambu tuka' dan rambu solo') menjadi salah satu faktor yang paling mempengaruhi keputusan pendatang Toraja ke Kota Palu.

KESIMPULAN

Gambar

Gambar 1 memperlihatkan bagaimana tanggapan  responden  terhadap  budaya  rambu  tuka”  di  lihatdari  aspek ekonomi sebagai berikut:
Gambar  2  menjelaskan  bagaimana  tanggapan  responden  terhadap  budaya  rambu  solo’  dari  aspek  ekonomi berikut:
Tabel 1  Sebaran Responden Berdasarkan Tingkat  Pendidikan

Referensi

Dokumen terkait

Auto-associative neural networks and genetic algorithms model for missing data imputation: dynamic programing approach After implementation it was found that the algorithm breaks down