• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ketersediaan Informasi

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA

F. Ketersediaan Informasi

Informasi berasal dari bahasa Latin yaitu informationem yang berarti konsep, ide atau garis besar yang berarti aktivitas dalam pengetahuan yang dikominikasikan, informasi bisa menjadi fungsi penting dalam mengurangi rasa cemas pada seseorang, karena semakin banyak informasi tentang sesuatu maka dapat memengaruhi atau menambah pengetahuan seseorang dan dengan pengetahuan menimbulkan kesadaran yang akhirnya seseorang akan berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya,

Menurut Mulyadi (1997), informasi merupakan suatu fakta, data, pengamatan, persepsi atau sesuatu yang lain, yang menambah pengetahuan. Informasi diperlukan oleh manusia untuk mengurangi ketidakpastian dalam pengambilan keputusan, karena pengambilan keputusan selalu menyangkut masa yang akan datang, yang mengandung ketidakpastian, dan selalu menyangkut pemilihan suatu alternatif tindakan di antara sekian banyak alternatif yang tersedia, oleh karena

itu, pengambilan keputusan selalu berusaha mengumpulkan informasi untuk mengurangi ketidakpastian.

Faktor ketersediaan informasi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), informasi dapat berarti penerangan, pemberitahuan tentang sesuatu atau keseluruhan makna yang menunjang amanat yang terlihat di bagian-bagian amanat itu atau merupakan kumpulan pesan (ekspresi atau ucapan) yang terdiri dari order sekuens dari simbol, atau makna yang ditafsirkan dari pesan atau kumpulan pesan.

Informasi bisa dikatakan sebagai pengetahuan yang didapatkan dari pembelajaran, pengalaman atau instruksi, namun istilah ini memiliki banyak arti tergantung pada konteksnya, dan secara umum berhubungan erat dengan konsep seperti arti, pengetahuan, persepsi, stimulus, komunikasi, kebenaran, representasi, dan rangsangan mental.

Beberapa pendapat tentang informasi yang dikemukakan oleh para ahli menjelaskan bahwa ketersediaan informasi sangat mempengaruhi seseorang dalam pengambilan keputusan untuk bermigrasi, hal

yang sama juga dialami oleh warga Toraja, bahwa dengan tersedianya informasi dari migran terdahulu tentang daerah tujuan (kota Palu), seperti tersedianya lapangan usaha, lapangan pekerjaan juga sarana dan prasarana pendidikan serta adanya informasi tentang kesuksesan yang diperoleh migran terdahulu dapat mempengaruhi seseorang (warga Toraja) dalam pengambilan keputusan untuk melakukan migrasi ke Kota Palu.

Adanya informasi yang benar akan mempengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan untuk melakukan migrasi, oleh sebab itu Mulyanto (2008) menyatakan bahwa kualitas suatu informasi dapat dinilai dari tiga hal yang sangat dominan yaitu:

1. Akurat, artinya suatu informasi harus bebas dari kesalahan-kesalahan dan tidak menyesatkan karena sumber informasi sampai kepada penerima informasi tidak terjadi gangguan yang dapat merubah atau merusak informasi tersebut

2. Tepat pada waktunya, artinya sebuah informasi yang disampaikan kepada penerima informasi tidak terlambat, karena informasi yang tepat, adalah landasan untuk mengambil suatu keputusan

3. Relevan, bahwa dengan informasi tersebut memiliki manfaat dan sesuai untuk pemakainya.

BAB 3

METODE PENELITIAN

A.Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian eksplanatori yang dilakukan pada keputusan migrasi warga Toraja di Kota Palu, yang disesuaikan dengan alasan pencapaian tujuan penelitian, dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel (independen) atau lebih tanpa membuat perbandingan atau dengan menghubungkan variabel yang lain, serta untuk mengarahkan peneliti dalam mengkaji secara lebih mendalam mengenai aktivitas sosial, ekonomi dan budaya migrasi warga Toraja di Kota Palu.

Penggunaan penelitan eksplanatori, atau metode kombinasi model atau desain sequential explanatory adalah metode penelitian kombinasi yang menggabungkan metode penelitian kualitatif-kuantitatif dalam menganalisis hasil penelitian (Sugiyono, 2011).

Dalam suatu penelitian dapat digunakan metode kuantitatif dan kualitatif secara bersama-sama dengan maksud untuk saling melengkapi (mixed methods) atau

metode penelitian kombinasi akan berguna bila metode kuantitatif atau metode kualitatif secara sendiri-sendiri tidak cukup akurat digunakan untuk memahami permasalahan penelitian, atau dengan menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif secara kombinasi akan dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik (dibandingkan dengan satu metode).

Untuk menambah khasanah kajian pada penelitian ini juga dilakukan analisis yang berkaitan keterlibatan migran warga Toraja terhadap pelaksanaan budaya Toraja serta keterlibatan para migran warga Toraja di Kota Palu terhadap pelaksanaan budaya di tempat asal.

B. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah, dengan pertimbangan bahwa Palu-Toraja aksesnya sangat terjangkau, serta Kota Palu sebagai ibukota Provinsi Sulawesi Tengah sudah barang tentu merupakan pusat pertumbuhan ekonomi dan sebagai daerah yang sedang membangun membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak serta peluang kerja banyak tersedia sehingga memungkinkan tempat berbaurnya penduduk asli dengan penduduk pendatang lainnya seperti suku Bugis, suku Mandar, suku

Makasar, suku Jawa, suku Toraja, dan beberapa suku lainnya, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi para migran termasuk migran warga Toraja, sekaligus sebagai alasan yang mendasari peneliti memilih Kota Palu sebagai lokasi penelitian.

C.Objek Penelitian

Objek penelitian ini adalah keputusan migrasi warga Toraja di Kota Palu dengan fokus pada beberapa faktor yang menentukan keputusan migran warga Toraja untuk bermigrasi ke Kota Palu. Selain itu, penelitian ini juga mengkaji aktivitas sosial, ekonomi dan budaya (rambu tuka’ dan rambu solo’) migran warga Toraja. Khusus untuk kajian pada aspek budaya difokuskan pada berbagai keterlibatan migran warga Toraja dalam pelaksanaan budaya Toraja di daerah asal, yaitu menyangkut budaya rambu solo’ dan rambu tuka’.

M o n o g r a f | 43

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian ini disajikan dalam bentuk deskripsi responden dan variabel penelitian serta hasil analisis statistik regresi logistik. Penyajian deskripsi responden mencakup uraian mengenai karakteristik individu, sedangkan deskripsi variabel penelitian meliputi pekerjaan, pendapatan, tuntutan budaya, ketersediaan informasi, pendidikan, dan keputusan bermigrasi. Sementara itu hasil analisis statistik regresi logistik disajikan dalam bentuk persamaan, untuk menjelaskan bagaimana pengaruh dari masing-masing variabel independen terhadap variabel dependennya.

A. Tuntutan Budaya

Kegiatan ritual budaya Rambu Tuka’ dan Rambu Solo’

telah berlangsung turun temurun dan mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Toraja, bahkan telah terpelihara sebagai budaya atau kearifan lokal yang tetap terpelihara dengan baik, oleh karena itu keberadaannya seringkali menjelma menjadi tuntutan budaya yang sulit dihindari

meski kedua kegiatan ritual budaya tersebut tidak bersifat mengikat dan hanya merupakan tanggungjawab moral bagi masyarakat Toraja, walaupun mereka telah bermigrasi.

Tidak semua warga Toraja berkemampuan untuk melaksanakan ritual budaya Rambu Tuka ‘ dan Rambu Solo’, namun dalam praktik budaya Toraja semangat untuk melestarikan kedua ritual budaya tersebut semakin menguat, terutama oleh sekelompok warga masyarakat yang tergolong telah mampu untuk membiayai kedua kegiatan tersebut, ataupun warga Toraja telah berhasil di daerah lain dan telah merasa mampu untuk melakukan upacara tersebut, disisi lain ingin memperlihatkan kesuksesan atau prestise yang telah di raih di tempat bermigrasi atau memeperlihatkan bahwa dalam kehidupannya telah “mendadi tau” dan hal itu dapat dibuktikan dengan melakukan upacara adat tersebut.

Adanya tuntutan budaya lokal (rambu solo’ dan rambu tuka)’ inilah yang menjadi tuntutan budaya bagi warga Toraja yang ada di daerah asal maupun di daerah perantauan, karena jika mereka telah “dadi tau” berarti telah mampu untuk membiayai upacara adat karena dalam rangkaian upacara rambu tuka’ (suka cita) banyak

M o n o g r a f | 45

macamnya antara lain upacara pernikahan, syukuran rumah seperti “ma’ bate atau ullolok tombi saratu”

upacara ini dilakukan setelah dari rumah tersebut (tongkonan atau rumah adat) telah selesai melakukan rangkaian upacara pemakaman secara sempurna) atau “di rapai” (sapu randanan) yaitu kerbau yang dikorbankan minimal 24 ekor dan sesuai dengan ciri khusus masing- masing seperti kerbau belang (saleko), kerbau balian (kerbau jantan yang dikebiri) dan berbagai jenis kerbau lainnya.

Kegiatan ma’bate dan beberapa upacara lainnya hampir punah karena membutuhkan waktu yang panjang dan pemangku adat (generasi mudah) hampir tidak lagi memahami rangkaian upacara tersebut, sehingga sering lebih disederhanakan pelaksanaannya, mengingat sebagaian besar rumpun keluarga tersebar di berbagai daerah.

Upacara yang lainnya yaitu “mangrara banua atau merok” adalah bagian dari upacara suka cita yang dilakukan warga Toraja yaitu oleh rumpun keluarga besar dalam satu ikatan rumah adat (tongkonan), upacara ini dapat dilakukan jika ada kesepakatan dari rumpun

keluarga tersebut dan telah merasa mampu secara ekonomi sehingga kegiatan tersebut disebut “ussebokan ewananna”

artinya mengorbankan sebagian dari harta yang dimilikinya sebagai tanda kesuksesan dalam bidang ekonomi, kegiatan ini mengorbankan ratusan ekor ayam dan babi, upacara lain yaitu syukur panen yang dilaksanakan setiap tahun sesesudah panen padi, sebagai tanda syukur atas berkat Tuhan berupa panen padi.

Upacara rambu solo’ atau upacara dukacita antara lain upacara pemakaman jenazah yang dilakukan dengan mengorbankan sampai ratusan ekor babi dan kerbau bagi keluarga yang mampu, namun banyak juga keluarga yang mampu secara ekonomi dan dari strata sosial yang tinggi tetapi telah berfikir secara revolusioner, tetap melaksanakan upacara tetapi jumlah ternak yang dikorbankan dibatasi dan bagi keluarga yang kurang mampu kadang hanya mengorbankan beberapa ekor babi atau kerbau karena hal ini bukanlah suatu paksaan, pada pelaksanaan upacara tersebut dapat berlangsung sampai berminggu. Upacara lainnya yaitu ma’nenek (upacara pemotongan kerbau dan babi bagi jenazah yang telah lama meninggal) yang dilakukan oleh anak cucunya karena telah berhasil secara

M o n o g r a f | 47

ekonomi, tetapi upacara tersebut tidak mengorbankan ternak sebanyak upacara pemakaman, ma’palele (pemindahan jenazah dari kuburan yang lama ke kuburan yang baru atau dapat juga pemindahan jenazah dari suatu daerah ke daerah lain, misalnya dari Palu ke Toraja), dan dalam upacara tersebut juga mengorbankan babi maupun kerbau dan dilaksanakan karena anak cucunya telah membuat kuburan baru atau bisa juga karena memperoleh keberhasilan di rantau, upacara ma’ nenek atau ma’palele dalam pengorbanan ternak tidak sebanyak yang dikorbankan pada upacara pemakaman.

Sekalipun menjadi tuntutan budaya, namun praktik- praktik ritual budaya Rambu Tuka’ dan Rambu Solo’

membawa nilai-nilai tersendiri bagi warga masyarakat Toraja untuk lebih bersiap diri melakukannnya, sehingga mereka termotivasi untuk lebih giat bekerja dan melakukan ekspansi usahanya guna memperoleh tambahan penghasilan.

1. Ritual Budaya Rambu Tuka ‘ dari Aspek Ekonomi Ritual budaya Rambu Tuka’ atau upacara syukuran seperti upacara perkawinan, upacara syukuran rumah dan sejenisnya adalah bentuk upacara

yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan warga Toraja. Sekalipun mereka telah merantau ke daerah lain namun upacara tersebut tetap terpelihara dalam kehidupan masyarakat Toraja, termasuk migran warga Toraja di Kota Palu.

Menurut tanggapan responden, upacara rambu tuka tidak memberatkan. Kelompok responden yang menyatakan bahwa pelaksanaan upacara rambu tuka’

tidak memberatkan dengan alasan karena upacara tersebut bersifat tidak memaksa untuk dilakukan tetapi dengan kemampuan serta kesepakatan dari rumpun keluarga, dan pembagian biaya yang digunakan dalam kegiatan tersebut dibagi sesuai dengan kemampuan dari masing-masing anggota keluarga, bahkan ada yang menganggapnya sebagai motivasi untuk lebih giat menambah penghasilan agar dapat berperan dan ikut serta dalam pelaksanaan upacara tersebut.

Walaupun upacara tersebut tidak dipaksakan tetapi anggota keluarga yang tidak berpartisipasi merasa terbebani dan merasa minder bahkan terisolir dari rumpun keluarganya, sehingga mereka tetap

M o n o g r a f | 49

berusaha ikut berpartisipasi sekecil apapun sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

Gambar 1 memperlihatkan bagaimana tanggapan responden terhadap budaya rambu tuka” di lihatdari aspek ekonomi sebagai berikut:

Gambar 1

Tanggapan Responden Terhadap Budaya Rambu Tuka’ dari Aspek Ekonomi

Tanggapan responden terhadap upacara Rambu Tuka’ sebagaimana disajikan pada Gambar 8 terdapat sekitar 40,5 persen yang menyatakan upacara tersebut merupakan motivasi untuk lebih giat bekerja, karena dengan meningkatnya etos kerja dapat menambah

Memberatkan Tidak Memberatkan Sebagai Motivasi untuk Bekerja

Lainnya

16 (8,4%)

97 (51,1%) 77 (40,5%

0 (0%)

pendapatan yang akan digunakan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan sebagian dari pendapatan tersebut di tabung untuk membiayai kegiatan tersebut. Sekitar 51,1 persen menyatakan tidak memberatkan karena sebagai warga Toraja merupakan tanggung jawab moral yang tetap dijujung tinggi sebagai budaya atau kearifan lokal, sedang yang menyatakan memberatkan sebanyak 16 responden atau sekitar 8,4 persen, karena pendapatan yang diperoleh hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari saja. Walaupun ada responden yang menjawab bahwa kegiatan tersebut memberatkan namun tetap berusaha untuk berperan, walaupun tidak pulang dalam menghadiri upacara tersebut tetapi keterlibatannya lewat dana yang dikirim kepada keluarga di tempat asal.

2. Ritual Budaya Rambu Solo dari Aspek Ekonomi Ritual budaya rambu solo’ atau upacara kematian adalah bentuk upacara yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Toraja. Sekalipun mereka telah merantau ke daerah lain namun upacara tersebut tetap terpelihara dalam kehidupan masyarakat Toraja,

M o n o g r a f | 51

termasuk migran warga Toraja di Kota Palu. Upacara ini merupakan salah satu bentuk upacara yang paling banyak membutuhkan dana dan waktu sehingga dari pandangan ekonomi sering dikatakan sebagai suatu pengorbanan yang sangat besar bahkan ada beberapa pendapat yang mengatakan suatu pemborosan, karena selain membutuhkan biaya yang besar dan waktu pelaksanaan yang lama juga dapat menghambat masyarakat untuk kegiatan-kegiatan produktif lainnya.

Gambar 2 menjelaskan bagaimana tanggapan responden terhadap budaya rambu solo’ dari aspek ekonomi berikut:

Gambar 2

Tanggapan Responden terhadap Ritual Budaya Rambu Solo dari Aspek Ekonomi

Memberatkan Tidak Memberatkan Sebagai Motivasi…

Lainnya

34 (17,9%)

49 (25,79%)

106 (55,8%) 1

(0,005%)

Pada gambar 2 dijelaskan bahwa sebanyak 34 responden atau sekitar 17,9 persen menyatakan bahwa upacara rambu solo memberatkan karena dalam upacara tersebut ada pengorbanan baik uang maupun hewan (babi, kerbau), apalagi jika selama itu tidak pernah berpartisipasi terhadap keluarga atau sanak saudara, mereka mengungkapkan demikian karena tidak memahami hakekat sesungguhnya dari upacara tersebut dan hanya karena mengejar prestise semata, pengorbanan pada upacara tersebut tidak dipaksakan dan seharusnya sesuai dengan strata sosial dalam masyarakat tetapi karena migran warga Toraja yang telah sukses di daerah rantau, sehingga merasa terbebani jika tidak melaksanakan upacara sesuai dengan apa yang telah diraih dirantau bahkan lewat upacara tersebut dapat memperlihatkan kepada masyarakat sekitarnya bahwa melalui migrasi dia mampu mengumpulkan harta untuk membiayai upacara di daerah asal.

Bagi warga Toraja, justru pada upacara rambu solo’

sangat dibutuhkan keterlibatan seluruh rumpun keluarga baik rumpun keluarga yang sudah jauh terlebih keluarga

M o n o g r a f | 53

dekat, karena bantuan dari segenap keluarga sangat diperlukan khususnya dalam hal dana dan dalam upacara inilah terlihat kebersamaan, saling membantu dan saling mendukung untuk meringankan tanggungjawab dalam menghadapi kegiatan upacara tersebut.

Pendapatan yang diperoleh migran warga Toraja di Kota Palu, sebagian disisihkan dalam keikut sertaannya pada upacara yang dilakukan oleh sanak keluarga, Adanya upacara rambu tuka’ dan rambu solo’, dapat juga membuka lapangan kerja atau lapangan usaha yaitu usaha peternakan, baik secara kecil-kecilan maupun peternakan skala besar, usaha penjualan pakan ternak (industri pakan), penjualan sayur ubi jalar, penjualan rumput untuk ternak kerbau, karena adanya permintaan atau kebutuhan ternak (babi dan kerbau) yang semakin meningkat, sehingga dari aspek ekonomi tetap ada sisi positifnya.

B. Ketersediaan Informasi

Informasi adalah sekumpulan fakta-fakta yang telah diolah menjadi bentuk data sehingga dapat berguna dan digunakan oleh siapa saja yang membutuhkan sebagai pengetahuan untuk pengambilan keputusan.

Semakin banyak informasi tersebut tersedia atau dimiliki oleh seseorang maka akan memudahkan seseorang itu dalam memutuskan sesuatu.

Dalam hal memutuskan untuk bermigrasi atau tidak, peranan informasi menjadi sangat penting dan dominan. Semakin banyak memiliki informasi dapat mempengaruhi atau menambah pengetahuan seseorang dan dengan pengetahuan tersebut bisa menimbulkan kesadaran bagi seseorang itu untuk berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.

Adanya informasi dari sanak keluarga yang lebih awal melakukan migrasi, serta informasi dari beberapa warga Toraja yang telah berhasil di perantauan, menjadi daya tarik bagi beberapa warga Toraja untuk melakukan migrasi.

Penelusuran terhadap beberapa responden yang telah datang ke Kota Palu sejak akhir tahun 1960-an, pada umumnya mereka adalah anggota Tentara Nasiolnal Indonesia (TNI) yang ditugaskan oleh pemerintah, mereka melihat peluang ekonomi yang ada di daerah ini sehingga memanggil sanak keluarga untuk melakukan migrasi.

M o n o g r a f | 55

Hasil wawancara dengan beberapa responden, diantaranya “Petrus S, “Yacobus”, “Daniel, dan

“Margareta”, menuturkan bahwa pada awal tahun 60-an sesudah penumpasan Permesta di bawah pimpinan Frans Karangan maka banyak orang Toraja yang melakukan migrasi ke Kota Palu dengan melihat adanya peluang kerja atau peluang usaha yang masih sangat menjanjikan, hal ini menjadi salah satu faktor penarik bagi migran warga Toraja untuk melakukan migrasi.

Mereka juga menuturkan bahwa pada awal Tahun 1970-an terdapat beberapa migran warga Toraja yang memiliki perusahaan dibidang kayu hitam seperti PT Sinar Kaili (S. Sakkung), PT Batu Marupa (A. Batti’) dan PT Sumber Alam (D. Dali), pengusaha kayu hitam tersebut membawa keluarganya atau warga sekampungnya untuk dipekerjakan di perusahaan tersebut karena usaha tersebut membutuhkan tenaga kerja yang besar, ada juga yang dipekerjakan sebagai pegawai pada Koperasi Primer Angkatan Darat (PRIKOPAD) yaitu usaha yang dikelola oleh Angkatan Darat dan bergerak pada usaha kayu hitam, adanya berbagai informasi dari migran terdahulu inilah yang

menjadi salah satu daya tarik bagi para responden untuk melakukan migrasi ke Kota Palu, dan hal ini didukung dengan teori-teori yang dikemukakan oleh Lee, Weber, Lewis bahwa seseorang ingin melakukan migrasi karena ada daya Tarik (pull factor) dari daerah tujuan seperti ada peluang kerja atau peluang usaha di tempat tujuan sehingga dapat meningkatkan pendapatannya.

Dengan terjalinnya komunikasi yang baik dalam suatu komunitas dapat mempengaruhi arus informasi, sehingga ketersediaan informasi dalam komunitas tersebut menjadi lebih lengkap. Hal ini pada gilirannya dapat mempengaruhi secara signifikan pada keputusan yang diambil oleh warga komunitas tersebut.

Bagi migran warga Toraja, ketersediaan informasi menjadikan salah satu faktor yang mempengaruhi migran warga Toraja untuk melakukan migrasi, penelusuran lebih lanjut mengenai informasi ini lebih difokuskan pada informasi tentang kisah sukses migran terdahulu di tempat tujuan.

Temuan tersebut jika dikonfirmasi dengan beberapa penelitian tentang migrsi seperti yang dikemukakan oleh Ravenstein (1855), bahwa seseorang

M o n o g r a f | 57

melakukan migrasi karena adanya informasi dari sanak saudara atau teman yang telah melakukan migrasi terdahulu ke suatu daerah, demikian yang dikemukakan oleh Thomas dan Stoufer (1940), Lee (1966), Alatas (1995), dan Wahyuni (2014), bahwa salah satu faktor yang mendorong seseorang melakukan migrasi karena adanya informasi tentang peluang usaha atau peluang kerja di suatu wilayah, dan hasil-hasil penelitian terdahulu seperti yang dilakukan oleh oleh Zulfachri (2017), Sucipto (2010) Patampang (2001), dan Sumanto (2008), bahwa dengan adanya informasi dari sanak keluarga, kerabat bahkan teman sekampung tentang peluang kerja, peluang usaha dan adanya perbedaan tingkat upah menjadi faktor penarik untuk mengambil keputusan melakukan migrasi.

Adapun teori yang mendukung seperti teori Lee (1966), Mantra (1985 dan 1999), dan Tarigan (2004), bahwa tersedianya informasi yang benar tentang suatu daerah akan mempengaruhi seseorang untuk memutuskan bermigrasi.

Mengapa informasi mempengaruhi seseorang untuk melakukan migrasi karena dengan adanya

informasi dari migran terdahulu tentang keadaan daerah tujuan seperti peluang lapangan kerja yang tersedia, kemungkinan untuk membuka usaha, tingkat upah yang lebih kompetitif, sarana dan prasarana yang memadai serta keadaan yang kondusif dan lain sebagainya akan mempengaruhi keputusan seseorang untuk melakukan migrasi atau tidak. Begitu pentingnya informasi yang akurat dalam suatu komunitas karena tidak hanya akan mempengaruhi satu-dua orang tetapi akan menjadi informasi bagi suatu komunitas sehingga dapat mempengaruhi komunitas tersebut untuk mengambil keputusan.

C. Pendidikan

Pendidikan merupakan investasi yang diorientasikan untuk meningkatkan mutu modal manusia. Semakin meningkat mutu modal manusia, seseorang, diharapkan semakin luas wawasannya dan semakin matang dan dewasa cara bertindaknya. Selain itu, mutu modal manusia juga merupakan indikator produktivitas seseorang, semakin tinggi mutu modal manusia seseorang akan semakin tinggi pula produktivitasnya.

M o n o g r a f | 59

Tabel 1 menunjukkan bahwa seluruh responden telah menamatkan pendidikanyan di bangku sekolah dengan tingkat pendidikan yang beragam.

Tabel 1 Sebaran Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Uraian Jumlah (%)

N %

Pendidikan Tamat SD Tamat SMP Tamat SLA/SMK Diploma 3 (D3) Sarjana Strata 1 (S1) Sarjana Strata 2 (S2) Sarjana Strata 3 (S3)

9 17 61 14 72 15 2

4,74 8,95 32,10 7,37 37,89 7,90 1,05

Total 190

Berdasarkan tingkat pendidikannya, sebaran responden bervariasi mulai dari tamat SD sampai dengan tamat S3. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian besar responden berpendidikan atau tamat pendidikan sarjana strata satu (S1), yaitu sekitar 37,89 persen, tamat

pendidikan SMA/SMK sekitar 32,10 persen, sekitar 8,95 persen berpendidikan SMP, berpendidikan strata dua (S2) sekitar 7,9 persen, berpendidikan diploma tiga (D3) sekitar 7,37 persen, sekitar 4,74 persen tamat SD, dan selebihnya sekitar 1,05 persen lulus Strata tiga (S3).

Berdasarkan data tersebut di atas, sekitar 54,21 persen responden telah menamatkan pendidikannya di Perguruan Tinggi, mulai dari tamat D3 sampai dengan tamat S3. Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat kepemilikan pengetahuan dan penguasaan informasi oleh responden semakin tinggi sehingga kemampuan responden mengadopsi hal-hal baru akan lebih mudah dan kemampuan beradaptasi terhadap setiap perubahan akan jauh lebih cepat.

Capaian ini dapat disimpulkan bahwa migran warga Toraja di Kota Palu lebih mengutamakan pendidikannya karena dengan pendidikan yang tinggi memiliki peluang yang lebih besar untuk memenangkan kompetisi dalam memperoleh penghasilan atau pendapatan yang lebih baik.

Sementara itu, para migran warga Toraja yang tingkat pendidikannya Tamat SMA/SMK ke bawah bekerja secara serabutan, baik sebagai petani (kebun atau sawah),

Dokumen terkait