BAB 4 HASIL PEMBAHASAN
A. Tuntutan Budaya
Kegiatan ritual budaya Rambu Tuka’ dan Rambu Solo’
telah berlangsung turun temurun dan mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Toraja, bahkan telah terpelihara sebagai budaya atau kearifan lokal yang tetap terpelihara dengan baik, oleh karena itu keberadaannya seringkali menjelma menjadi tuntutan budaya yang sulit dihindari
meski kedua kegiatan ritual budaya tersebut tidak bersifat mengikat dan hanya merupakan tanggungjawab moral bagi masyarakat Toraja, walaupun mereka telah bermigrasi.
Tidak semua warga Toraja berkemampuan untuk melaksanakan ritual budaya Rambu Tuka ‘ dan Rambu Solo’, namun dalam praktik budaya Toraja semangat untuk melestarikan kedua ritual budaya tersebut semakin menguat, terutama oleh sekelompok warga masyarakat yang tergolong telah mampu untuk membiayai kedua kegiatan tersebut, ataupun warga Toraja telah berhasil di daerah lain dan telah merasa mampu untuk melakukan upacara tersebut, disisi lain ingin memperlihatkan kesuksesan atau prestise yang telah di raih di tempat bermigrasi atau memeperlihatkan bahwa dalam kehidupannya telah “mendadi tau” dan hal itu dapat dibuktikan dengan melakukan upacara adat tersebut.
Adanya tuntutan budaya lokal (rambu solo’ dan rambu tuka)’ inilah yang menjadi tuntutan budaya bagi warga Toraja yang ada di daerah asal maupun di daerah perantauan, karena jika mereka telah “dadi tau” berarti telah mampu untuk membiayai upacara adat karena dalam rangkaian upacara rambu tuka’ (suka cita) banyak
M o n o g r a f | 45
macamnya antara lain upacara pernikahan, syukuran rumah seperti “ma’ bate atau ullolok tombi saratu”upacara ini dilakukan setelah dari rumah tersebut (tongkonan atau rumah adat) telah selesai melakukan rangkaian upacara pemakaman secara sempurna) atau “di rapai” (sapu randanan) yaitu kerbau yang dikorbankan minimal 24 ekor dan sesuai dengan ciri khusus masing- masing seperti kerbau belang (saleko), kerbau balian (kerbau jantan yang dikebiri) dan berbagai jenis kerbau lainnya.
Kegiatan ma’bate dan beberapa upacara lainnya hampir punah karena membutuhkan waktu yang panjang dan pemangku adat (generasi mudah) hampir tidak lagi memahami rangkaian upacara tersebut, sehingga sering lebih disederhanakan pelaksanaannya, mengingat sebagaian besar rumpun keluarga tersebar di berbagai daerah.
Upacara yang lainnya yaitu “mangrara banua atau merok” adalah bagian dari upacara suka cita yang dilakukan warga Toraja yaitu oleh rumpun keluarga besar dalam satu ikatan rumah adat (tongkonan), upacara ini dapat dilakukan jika ada kesepakatan dari rumpun
keluarga tersebut dan telah merasa mampu secara ekonomi sehingga kegiatan tersebut disebut “ussebokan ewananna”
artinya mengorbankan sebagian dari harta yang dimilikinya sebagai tanda kesuksesan dalam bidang ekonomi, kegiatan ini mengorbankan ratusan ekor ayam dan babi, upacara lain yaitu syukur panen yang dilaksanakan setiap tahun sesesudah panen padi, sebagai tanda syukur atas berkat Tuhan berupa panen padi.
Upacara rambu solo’ atau upacara dukacita antara lain upacara pemakaman jenazah yang dilakukan dengan mengorbankan sampai ratusan ekor babi dan kerbau bagi keluarga yang mampu, namun banyak juga keluarga yang mampu secara ekonomi dan dari strata sosial yang tinggi tetapi telah berfikir secara revolusioner, tetap melaksanakan upacara tetapi jumlah ternak yang dikorbankan dibatasi dan bagi keluarga yang kurang mampu kadang hanya mengorbankan beberapa ekor babi atau kerbau karena hal ini bukanlah suatu paksaan, pada pelaksanaan upacara tersebut dapat berlangsung sampai berminggu. Upacara lainnya yaitu ma’nenek (upacara pemotongan kerbau dan babi bagi jenazah yang telah lama meninggal) yang dilakukan oleh anak cucunya karena telah berhasil secara
M o n o g r a f | 47
ekonomi, tetapi upacara tersebut tidak mengorbankan ternak sebanyak upacara pemakaman, ma’palele (pemindahan jenazah dari kuburan yang lama ke kuburan yang baru atau dapat juga pemindahan jenazah dari suatu daerah ke daerah lain, misalnya dari Palu ke Toraja), dan dalam upacara tersebut juga mengorbankan babi maupun kerbau dan dilaksanakan karena anak cucunya telah membuat kuburan baru atau bisa juga karena memperoleh keberhasilan di rantau, upacara ma’ nenek atau ma’palele dalam pengorbanan ternak tidak sebanyak yang dikorbankan pada upacara pemakaman.Sekalipun menjadi tuntutan budaya, namun praktik- praktik ritual budaya Rambu Tuka’ dan Rambu Solo’
membawa nilai-nilai tersendiri bagi warga masyarakat Toraja untuk lebih bersiap diri melakukannnya, sehingga mereka termotivasi untuk lebih giat bekerja dan melakukan ekspansi usahanya guna memperoleh tambahan penghasilan.
1. Ritual Budaya Rambu Tuka ‘ dari Aspek Ekonomi Ritual budaya Rambu Tuka’ atau upacara syukuran seperti upacara perkawinan, upacara syukuran rumah dan sejenisnya adalah bentuk upacara
yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan warga Toraja. Sekalipun mereka telah merantau ke daerah lain namun upacara tersebut tetap terpelihara dalam kehidupan masyarakat Toraja, termasuk migran warga Toraja di Kota Palu.
Menurut tanggapan responden, upacara rambu tuka tidak memberatkan. Kelompok responden yang menyatakan bahwa pelaksanaan upacara rambu tuka’
tidak memberatkan dengan alasan karena upacara tersebut bersifat tidak memaksa untuk dilakukan tetapi dengan kemampuan serta kesepakatan dari rumpun keluarga, dan pembagian biaya yang digunakan dalam kegiatan tersebut dibagi sesuai dengan kemampuan dari masing-masing anggota keluarga, bahkan ada yang menganggapnya sebagai motivasi untuk lebih giat menambah penghasilan agar dapat berperan dan ikut serta dalam pelaksanaan upacara tersebut.
Walaupun upacara tersebut tidak dipaksakan tetapi anggota keluarga yang tidak berpartisipasi merasa terbebani dan merasa minder bahkan terisolir dari rumpun keluarganya, sehingga mereka tetap
M o n o g r a f | 49
berusaha ikut berpartisipasi sekecil apapun sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.Gambar 1 memperlihatkan bagaimana tanggapan responden terhadap budaya rambu tuka” di lihatdari aspek ekonomi sebagai berikut:
Gambar 1
Tanggapan Responden Terhadap Budaya Rambu Tuka’ dari Aspek Ekonomi
Tanggapan responden terhadap upacara Rambu Tuka’ sebagaimana disajikan pada Gambar 8 terdapat sekitar 40,5 persen yang menyatakan upacara tersebut merupakan motivasi untuk lebih giat bekerja, karena dengan meningkatnya etos kerja dapat menambah
Memberatkan Tidak Memberatkan Sebagai Motivasi untuk Bekerja
Lainnya
16 (8,4%)
97 (51,1%) 77 (40,5%
0 (0%)
pendapatan yang akan digunakan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan sebagian dari pendapatan tersebut di tabung untuk membiayai kegiatan tersebut. Sekitar 51,1 persen menyatakan tidak memberatkan karena sebagai warga Toraja merupakan tanggung jawab moral yang tetap dijujung tinggi sebagai budaya atau kearifan lokal, sedang yang menyatakan memberatkan sebanyak 16 responden atau sekitar 8,4 persen, karena pendapatan yang diperoleh hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari saja. Walaupun ada responden yang menjawab bahwa kegiatan tersebut memberatkan namun tetap berusaha untuk berperan, walaupun tidak pulang dalam menghadiri upacara tersebut tetapi keterlibatannya lewat dana yang dikirim kepada keluarga di tempat asal.
2. Ritual Budaya Rambu Solo dari Aspek Ekonomi Ritual budaya rambu solo’ atau upacara kematian adalah bentuk upacara yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Toraja. Sekalipun mereka telah merantau ke daerah lain namun upacara tersebut tetap terpelihara dalam kehidupan masyarakat Toraja,
M o n o g r a f | 51
termasuk migran warga Toraja di Kota Palu. Upacara ini merupakan salah satu bentuk upacara yang paling banyak membutuhkan dana dan waktu sehingga dari pandangan ekonomi sering dikatakan sebagai suatu pengorbanan yang sangat besar bahkan ada beberapa pendapat yang mengatakan suatu pemborosan, karena selain membutuhkan biaya yang besar dan waktu pelaksanaan yang lama juga dapat menghambat masyarakat untuk kegiatan-kegiatan produktif lainnya.Gambar 2 menjelaskan bagaimana tanggapan responden terhadap budaya rambu solo’ dari aspek ekonomi berikut:
Gambar 2
Tanggapan Responden terhadap Ritual Budaya Rambu Solo dari Aspek Ekonomi
Memberatkan Tidak Memberatkan Sebagai Motivasi…
Lainnya
34 (17,9%)
49 (25,79%)
106 (55,8%) 1
(0,005%)
Pada gambar 2 dijelaskan bahwa sebanyak 34 responden atau sekitar 17,9 persen menyatakan bahwa upacara rambu solo memberatkan karena dalam upacara tersebut ada pengorbanan baik uang maupun hewan (babi, kerbau), apalagi jika selama itu tidak pernah berpartisipasi terhadap keluarga atau sanak saudara, mereka mengungkapkan demikian karena tidak memahami hakekat sesungguhnya dari upacara tersebut dan hanya karena mengejar prestise semata, pengorbanan pada upacara tersebut tidak dipaksakan dan seharusnya sesuai dengan strata sosial dalam masyarakat tetapi karena migran warga Toraja yang telah sukses di daerah rantau, sehingga merasa terbebani jika tidak melaksanakan upacara sesuai dengan apa yang telah diraih dirantau bahkan lewat upacara tersebut dapat memperlihatkan kepada masyarakat sekitarnya bahwa melalui migrasi dia mampu mengumpulkan harta untuk membiayai upacara di daerah asal.
Bagi warga Toraja, justru pada upacara rambu solo’
sangat dibutuhkan keterlibatan seluruh rumpun keluarga baik rumpun keluarga yang sudah jauh terlebih keluarga
M o n o g r a f | 53
dekat, karena bantuan dari segenap keluarga sangat diperlukan khususnya dalam hal dana dan dalam upacara inilah terlihat kebersamaan, saling membantu dan saling mendukung untuk meringankan tanggungjawab dalam menghadapi kegiatan upacara tersebut.Pendapatan yang diperoleh migran warga Toraja di Kota Palu, sebagian disisihkan dalam keikut sertaannya pada upacara yang dilakukan oleh sanak keluarga, Adanya upacara rambu tuka’ dan rambu solo’, dapat juga membuka lapangan kerja atau lapangan usaha yaitu usaha peternakan, baik secara kecil-kecilan maupun peternakan skala besar, usaha penjualan pakan ternak (industri pakan), penjualan sayur ubi jalar, penjualan rumput untuk ternak kerbau, karena adanya permintaan atau kebutuhan ternak (babi dan kerbau) yang semakin meningkat, sehingga dari aspek ekonomi tetap ada sisi positifnya.