BAB 8Fungsi Produksi
Marginal Productivity dan Average Physical Product
• Fungsi Produksi direpresentasikan : 𝑞 = 𝑓(𝑘,𝑙)
• Marginal Physical Product (MPP) → tambahan output yang dihasilkan untuk setiap penambahan 1 (satu) unit input, ceteris paribus
MPP of capital → 𝑀𝑃𝑘 = 𝜕𝑞/ 𝜕𝑘 = 𝑓𝑘 MPP of labor → 𝑀𝑃𝑙 = 𝜕𝑞/𝜕l = 𝑓𝑙
• Secara umum diasumsikan bahwa MPP akan diminishing, sehingga:
• Perubahan pada MP𝑙 juga akan tergantung kepada perubahan input lain (kapital) → 𝜕𝑀𝑃𝑙/𝜕𝑘 = 𝑓𝑙𝑘 umumnya positif
• Produktivitas tenaga kerja sering diukur dengan APL:
• Perlu diperhatikan bahwa APl juga tergantung kepada jumlah kapital Map Isoquant dan RTS
•
Isoquant : kombinasi dari input (K dan L) yang akan menghasilkan output yang sama.•
Semakin jauh dari titik asal semakin besar output yang dihasilkan.•
Kemiringan dari isoquantmenunjukkan tingkat dimana labor dapat disubstitusikan dengan kapital → marginal rate of technical substitution (RTS)
•
Misal fungsi produksi: 𝑞 = 𝑓(𝑘, 𝑙);jika dihitung turunan totalnya:
• Sepanjang isoquant → output sama → dq=0, sehingga:
•
Ditunjukkan slope dari isoquant adalah nilai negatif dari RTS, yang mana RTS bernilai positif (atau nol) karena MPl dan MPk adalah non- negative• Pada Gambar RTS bersifat convex terhadap titik asal → RTS
berkarakter diminishing
• Ingat 𝒇𝒌 > 0; 𝒇𝒍 > 0; 𝒇𝒌𝒌< 0; 𝒇𝒍𝒍< 0
• 𝑑𝑅𝑇𝑆/𝑑𝑙 < 0 jika 𝒇𝒌𝒍 < 0 → isoquant convex terhadap titik asal
• Secara intuisi, 𝒇𝒍𝒌=𝒇𝒌𝒍 memiliki nilai positif → jika tenaga kerja memiliki kapital maka akan semakin
produktif.
• Namun demikian pada beberapa fungsi produksi 𝒇𝒌𝒍< 0 pada level input tertentu.
• Ketika digunakan kurva isoquant yang convex → diminishing RTS → mengandung asumsi yang kuat → MPl dan MPk diminish cukup cepat untuk mengkompensasi
kemungkinan adanya dampak cross-productivity yang negatif Return to Scale
• Return to scale → mengukur respon dari output ketika semua input ditingkatkan secara bersamaan.
• Adam Smith mengidentifikasi 2 (dua) kekuatan yang muncul ketika input ditingkatkan:
- Munculnya spesialisasi dan division of labor lebih detail
- Kehilangan efisiensi akibat manajemen menjadi lebih sulit seiring dengan ukuran perusahaan yang semakin besar
Constant Return to Scale
• Ketika fungsi produksi menunjukkan CRS → fungsi produksi homogen derajat 1 → lihat kembali pertemuan 1 dan 2 → f(tk,tl) = 𝑓1f(k,l) = tq
• Kondisi tersebut juga menunjukkan fungsi marginal productivity yang homogen derajat nol:
• Untuk setiap t > 0, misal t = 1/l, maka didapatkan:
• diartikan bahwa MPl dan MPk tergantung kepada rasio Kapital terhadap Labor, bukan nilai absolutnya → homothetic →
menjelaskan perbedaan
produktivitas antar sektor atau antar negara
•
Karena homothetic → selama rasio k/l konstan maka RTS akan selalu sama meski pada isoquant yang berbeda.• Secara teknis dapat diartikan jika order 200 roti dapat dipenuhi dengan menggunakan 3 pekerja dan 3 oven atau 2 pekerja dengan 4 oven
→ jika ada order 400 roti dapat digunakan 6 pekerja dengan 6 oven atau 4 pekerja dengan 8 oven
Elastisitas Substitusi
• Fitur penting lain adalah mengetahui “seberapa mudah”
mengganti satu input dengan input lainnya → focus pada 1 isoquant
• Pada isoquant tertentu RTS akan menurun seiring dengan penurunan rasio kapital-labor.
• Jika RTS tidak berubah untuk setiap perubahan rasio k/l → substitusi input mudah dilakukan
• Jika RTS berubah sangat besar untuk perubahan kecil di rasio k/l → substitusi input sulit dilakukan
• Responsivitas dari kedua hal diatas diukur dengan elastisitas substitusi.
• Baik RTS dan rasio k/l akan berubah ketika kita pindah dari titik A ke titik B.
• Elastisitas substitusi adalah rasio dari perubahan proporsional tersebut.
• Jika elastisitas substitusi besar → RTS tidak akan berubah banyak relatif terhadap k/l → isoquant akan flat.
• Jika elastisitas substitusi rendah → RTS akan berubah banyak ketika k/l berubah→ isoquant akan berbentuk curve
• Nilai elastisitas substitusi dapat berubah sepanjang isoquant atau ketika skala produksi berubah.
• Mengeneralisasi konsep elastisitas substitusi untuk kasus n-input menimbulkan kompleksitas tersendiri → harus diasumsikan bahwa level output dan input lainnya adalah tetap.
Jenis-Jenis Fungsi Produksi 1. Linear Production Function
q = f(k,l) = ak + bl
• Memiliki karakter CRS
• Isoquant berupa garis lurus : - RTS konstan
- Elastisitas substitusi tak hingga 2. Fixed Proportion
q = min (ak,bl) a,b > 0
• Kapital dan labor harus digunakan dalam proporsi yang tetap.
• Karena k/l konstan → elastisitas substitusi = 0
• Tidak memungkinkan adanya substitusi labor dengan kapital.
3. Cobb Douglas
q = f(k,l) = A𝑘
𝑎𝑙
𝑏A,a,b > 0
• Kondisi return to scale ditentukan oleh nilai a dan b, dimana:
✓ Jika a + b = 1 (constant returns to scale)
✓ Jika a + b > 1 (increasing returns to scale)
✓ Jika a + b < 1 (decreasing returns to scale)
• Jika di logaritmakan maka akan menjadi fungsi linier:
ln q = ln A + a ln k + b ln l
✓ a (elastisitas output terhadap k)
✓ b (elastisitas output terhadap l)
4.
CES Production Functionq = f(k,l) = [𝑘
𝑝+ 𝑙
𝑝]
𝑝
1,
0, > 0
• Kondisi return to scale ditentukan oleh nilai
, dimana:✓ Jika > 1 increasing returns to scale
✓ Jika < 1 decreasing returns to scale
• Untuk fungsi produksi CES:
= 1/(1-)
✓
= 1 (linear productionfunction)
✓
= - ꚙ (fixed proportionsproduction function)
✓
= 0 (Cobb-Douglas production function)5. Generalized Leontief Production Function
q = f(k,l) = k + l + 2(kl)0.5
• Marginal productivity ditunjukkan oleh:
𝑓𝑘 = 1 + (𝑘
𝑙)0.5 𝑓𝑙 = 1 + (𝑘𝑙)0.5
• Sehingga dapat dihitung RTS:
BAB 9 Fungsi Biaya
Biaya Akuntansi dan Biaya Ekonomi
Biaya akuntansi Biaya ekonomi Biaya
labor
memasukkan pengeluaran komponen upah
komponen upah mengasumsikan nilai yang diterima jika bekerja pada tempat lain → w Biaya
kapital
Pengeluaran untuk kapital &
memasukkan komponen depresias
Biaya kapital, Biaya implisit dari kapital=
besaran mau dibayar oleh orang
lain untuk
menggunakannya → v
Biaya jasa entrepr eneur
Mencakup komponen profit
Opportunity cost dari waktu dan biaya yang dikeluarkan
● Biaya ekonomi dari input: besaran pembayaran yang dikeluarkan untuk menjaga input level penggunaannya saat ini
● Diasumsikan 2 (dua) input:
- Tenaga kerja (l) → diukur dalam jam kerja tenaga kerja
- Modal (K) → jam beroperasi mesin
→ biaya entrepreneuer termasuk dalam bagian biaya kapital/modal
● Perusahaan diasumsikan “price taker”
dalam pasar input.
● Secara matematika direpresentasikan:
Total cost = C= wl + vk Total revenue= pq = pf (k,l)
Profit = 𝜋 = Total revenue – total cost 𝜋 = 𝑝𝑞 − 𝑤𝑙 − 𝑣𝑘 = 𝑝𝑓 𝑘, 𝑙 − 𝑤𝑙 − 𝑣k
Pilihan input berdasarkan minimisasi biaya
• Keuntungan ekonomi: fungsi dari kapital (k) dan labor (l) → perusahaan menentukan k dan l yang dapat memaksimumkan profit → perusahaan diasumsikan memilih tingkat output tertentu (q₀ ) dan akan meminimalkan biaya produksi.
• Secara grafis perusahaan memilih titik pada isoquant dimana RTS = rasio w/v
• Secara matematis minimisasi biaya (C = wl + vk) dengan kendala tingkat output tertentu → 𝑞 = 𝑓 (𝑘,𝑙) = 𝑞₀
• Fungsi Lagrangian
L = wl + vk + 𝜆 [𝑞₀ − 𝑓(𝑘,𝑙)]
• FOC: 𝜕L/𝜕l = w - 𝜆(𝜕f/𝜕l) = 0
𝜕L/𝜕k = v - 𝜆(𝜕f/𝜕k) = 0
𝜕L/𝜕k = q₀ - f(k,l) = 0
• Sehingga didapat:
● Dengan modifikasi:
✓
→ Produktivitas marginal per dolar yang dikeluarkan haruslah sama untuk semua input
✓
→ Lagrange multiplier → besar biaya tambahan yang terjadi jika kendala output ditingkatkan
• Biaya direpresentasikan dgn kurva linier dgn slope w/v
C₁ < C₂ < C₃
• Biaya minimum untuk menghasilkan q₀ = C₂ → slope kurva isoquant dan kurva biaya harus sama
Expansion Path Perusahaan
➔ Perusahaan dapat menentukan kombinasi k dan l yang meminimumkan biaya untuk setiap tingkat output.
➔ Jika biaya input konstan → dapat dibangun locus dari pilihan k dan l → expansion path → menunjukkan bagaimana peningkatan input ketika output meningkat.
➔ Peningkatan salah satu jenis input dapat lebih cepat dibandingkan input lain → tergantung pada bentuk kurva isoquant → expansion path tidak selalu berbentuk garis linier.
➔ Penggunaan input menurun ketika output meningkat → Inferior input → expansion path tidak harus memiliki slope positif.
Fungsi Biaya dan Karakternya
• Total Cost (TC) → C = C(v,w,q)
• Average cost function (AC)
• 𝐴𝐶(𝑣, 𝑤, 𝑞) = 𝐶 (𝑣,𝑤,𝑞)
𝑞
• Marginal cost function (MC) →
• 𝑀𝐶(𝑣, 𝑤, 𝑞) = ∂C(v,w,q)
∂q
• Misalkan untuk memproduksi 1 unit output dibutuhkan k₁ unit kapital dan l₁ unit labor
C(q=1) = vk₁ + wl₁
• Maka untuk memproduksi “m” unit output dengan asumsi Constant Return to Scale (CRS):
C(q=m) = vmk₁ + wml₁ = m(vk₁ + wl₁) C(q=m) = m C(q = 1)
• Pada CRS → total cost akan proporsional terhadap output → AC=MC=konstan
• Total Cost juga dapat berbentuk cekung pada awal dan selanjutnya menjadi cembung seiring dengan peningkatan output, karena:
- Terdapat factor produksi yang ketiga (selain labor dan kapital) yang diasumsikan tetap ketika labor dan kapital ditingkatkan.
- C meningkat sangat cepat ketika diminishing return mulai terjadi
• Jika AC > MC → AC akan turun Jika AC <
MC, AC akan naik
• Kurva Biaya dirumuskan dengan asumsi harga input dan teknologi konstan → jika harga input dan/atau teknologi berubah → kurva biaya akan bergeser 1. Homogeneity → fungsi biaya (C)
mengikuti fungsi homogen derajat satu terkait dengan harga input → karakter AC dan MC
- Minimisasi biaya mensyaratkan rasio harga input harus sama dengan RTS, peningkatan harga semua input sebesar 2 kali lipat tidak akan merubah jumlah input yang dibeli.
- Inflasi yang seragam tidak merubah keputusan input tapi akan menggeser kurva biaya ke atas.
2. Output (q), harga kapital (v), dan harga labor (w) yang non-decreasing.
- Fungsi biaya diturunkan dari proses minimisasi biaya, maka penurunan biaya akibat peningkatan salah satu fungsi akan mengakibatkan kontradiksi.
- Karakter AC dan MC
3. Concave in input price
- Biaya lebih rendah ketika perusahaan menghadapi harga input yang berfluktuasi diantara level harga tertentu dibandingkan dengan harga input yang stabil pada level tertentu.
- Jika perusahaan membeli kombinasi input yang sama meski harga labor (w) berubah → fungsi biayanya ditunjukkan 𝐶𝑝𝑠𝑒𝑢𝑑𝑜
- Karena kombinasi input yang dibeli perusahaan cenderung berubah → biaya actual akan lebih rendah dibandingkan 𝐶𝑝𝑠𝑒𝑢𝑑𝑜→ C(v,w,q1 ) Substitusi Input
• Jika ada perubahan harga input → perusahaan akan menyesuaikan kombinasi input yang digunakan.
• Berapa perubahan pada rasio input k/l sebagai respon dari perubahan rasio harga input w/v, dimana diasumsikan output konstan pada q → elastisitas substitusi →
• Dapat ditulis:
• Pada kasus 2 input → elastisitas substitusi (s) haruslah non- negative
Average and marginal cost
output
• Nilai s yang besar mengindikasikan perusahaan merubah kombinasi input mereka jika harga input berubah
Elastisitas Substitusi Parsial
• Elastisitas substitusi parsial antara 2 (dua) input (xi dan xj ) dengan harga input wi dan wj adalah sebagai berikut:
• • 𝑠𝑖𝑗 lebih fleksibel dibandingkan dengan 𝜎 (Ingat fungsi CES) karena memungkinkan bagi perusahaan untuk merubah penggunaan input.
• Peningkatan biaya akan dipengaruhi oleh sejauh mana input sangat dibutuhkan pada proses produksi.
• Jika perusahaan dapat dengan mudah menukar salah satu input (yang harganya naik) dengan input lain → peningkatan biaya akan kecil
Peningkatan Teknologi
• Peningkatan teknologi → menurunkan kurva biaya
• Misalkan fungsi total cost (TC) dengan asumsi CRS direpresentasikan oleh:
C₀ = C₀ (q,v,w) = qC₀ (v,w,1)
• Karena input sama yang digunakan untuk memproduksi 1 unit output pada periode t=0 akan kembali digunakan untuk memproduksi A(t) pada periode t:
Cₜ(v,w,A(t)) = A(t)Cₜ (v,w,1)= C₀ (v,w,1)
• Total cost akan sama dengan:
Cₜ (v,w,q) = qCₜ (v,w,1) = qC₀(v,w,1)/A(t) = C₀ (v,w,q)/A(t)
Short-Run dan Long-Run
• Jika diasumsikan , kapital konstan pada level k₁ , dan perusahaan dapat merubah hanya jumlah labor, maka fungsi produksi:
q = f(k₁ ,l)
• Short-run total cost ditunjukkan oleh:
SC = vk₁ + wl
➔ vk₁ = fixed cost pada short-run
➔ wl = variable cost pada short-run
• Short run cost bukan biaya paling kecil untuk memproduksi level output karena:
- perusahaan tidak memiliki fleksibilitas untuk memilih input - untuk merubah jumlah output
yang diproduksi pada short-run, perusahaan harus memilih kombinasi input yang tidak optimal
- RTS tidak akan sama dengan rasio harga input
➔ Karena kapital tetap pada level k1, perusahaan tidak bisa beroperasi pada saat RTS sama dengan rasio harga input.
1 per period
➔ Kurva Total Cost jangka Panjang (C) dapat diturunkan dari kurva total cost jangka pendek (SC) pada level kapital (k) yang berbeda- beda.
• Hubungan geometric antara kurva AC dan MC pada jangka pendek dan jangka panjang juga dapat ditunjukan pada gambar disamping.
• Average Cost pada jangka pendek → SAC = total costs/total output = SC/q
• Marginal Cost pada jangka pendek → SMC = change in SC/change in output
= 𝜕SC/𝜕q
• Pada titik minimum dari kurva AC:
- Kurva MC akan memotong kurva AC → AC=MC
- Kurva SAC adalah tangen dari kurva AC → SAC (pada level k yang digunakan) akan minimum pada tingkat output yang sama dengan posisi ketika AC minimum.
- SMC akan memotong kurva SAC →
AC=MC=SAC=SMC→ titik
keseimbangan jangka panjang pada pasar persaingan sempurna
output
BAB 10 MAKSIMISASI KEUNTUNGAN
Konsep Dasar Maksimisasi Keuntungan
• Perusahaan diasumsikan sebagai single-decision making unit → memilih input dan output dengan tujuan utama adalah mencapai keuntungan yang maksimal.
• Keputusan perusahaan diambil dan sejalan dengan konsep marginal → tambahan profit yang didapatkan ketika menambah produksi sebanyak 1 unit dengan menambah 1 unit tenaga kerja.
• Misal sebuah perusahaan dengan total penerimaan R(q) = p(q)q dengan biaya sebesar C(q) maka economic profitnya adalah:
• Memilih output yang dapat memaksimalkan profit dapat dilakukan dengan mencari turunan terhadap q, yakni:
• ditunjukkan bahwa necessary condition dari maksimisasi keuntungan adalah pada saat MR = MC.
• Untuk memastikan bahwa titik tersebut adalah posisi maksimisasi profit maka perlu dipastikan apakah sufficient condition-nya terpenuhi atau tidak, yaitu:
• Dimana dapat diartikan bahwa
“marginal profit” harus berada pada posisi menurun pada titik output optimal q.
Marginal Revenue
• Jika perusahaan dapat menjual output berapapun tanpa mempengaruhi harga pasar → maka MR = P
• Jika perusahaan menghadapi kurva demand yang berslope negative → output tambahan hanya dapat dijual jika perusahaan menurunkan harganya, dimana:
• MR adalah fungsi dari harga (p) → jika harga menurun ketika perusahaan menambah output maka MR < P.
• Jika kita pertimbangkan elastisitas dari demand, dimana:
• Maka MR dapat juga dituliskan sbb:
• Sehingga dapat disimpulkan bahwa:
- Ketika demand elastis → eq,p < -1 maka MR > 0; dan ketika eq,p = - ꚙ (kurva permintaan berupa garis horizontal maka MR = P
- Ketika demand inelasti → eq,p > -1 maka MR < 0
- Ketika demand unitary elastis → eq,p = -1 maka MR = 0
• Karena ketika maksimisasi profit diketahui MR = MC, maka:
• Selisih antara harga MC akan turun seiring dengan kurva demand yang dihadapi perusahaan yang semakin elastis.
• Jika eq,p > -1 maka MC < 0 ; atau perusahan akan beroperasi pada titik di kurva permintaan dimana permintaannya elastis.
• Average Revenue (AR) → penerimaan per unit yang dihasilkan dari opsi output yang dipilih.
• Marginal Revenue (MR) → tambahan penerimaan yang didapatkan dari unit terakhir yang terjual.
• Pada kurva permintaan yang berslope negative MR < AR
• Ketika output meningkat dari 0 ke q₁
→ MR positive → TR meningkat
• Ketika output melebihi q₁ maka MR negative → TR turun
Kurva Penawaran Jangka Pendek
• Maksimisasi profit terjadi pada saat P = SMC
• Ketika P > SAC → profit > 0
• Maksimisasi profit juga mensyaratkan bahwa SMC memiliki slope yang positif
• Perusahaan akan beroperasi pada
jangka pendek selama
penerimaannya dapat menutup variable cost-nya → 𝑃 ≥ 𝑆𝐴𝑉C
• Kurva penawaran jangka pendek perusahaan adalah kurva SMC yang berada diatas SAVC.
• Dikarenakan SMC memotong titik minimum SAVC → kurva penawaran dimulai dari titik terendah SAVC.
• Ketika harga dibawah SAVC – tidak ada supply
Karakter dari Fungsi Profit
• Homogeneity
Fungsi profit adalah homogen derajat satu untuk semua harga → ketika terjadi inflasi (pure inflation) → perusahaan tidak akan merubah rencana produksinya
• Nondecreasing in output price Perusahaan dapat merespon kenaikan harga dari outputnya dengan tidak merubah penggunaan input dan juga level outputnya → profit akan meningkat
• Nonincreasing in input price: Jika perusahaan merespon kenaikan harga input dengan tidak merubah penggunaan input tersebut maka total biaya akan naik → profit akan menurun.
• Convex in output price: Rata-rata keuntungan yang didapat dari profit untuk dua harga output yang berbeda akan sama dengan keuntungan yang didapat dengan menggunakan harga output rata-rata:
Surplus Produsen pada Jangka Pendek
• Ketika harga p1 ditingkatkan ke p2 maka welfare gain yang didapat adalah:
welfare gain = (p2 ,…) - (p1 ,…)
• Keuntungan perusahaan akan naik sebesar wilayah yang diarsir.
• Dengan ide yang sama dapat juga diukur perbandingan antara posisi harga keseimbangan dengan harga ketika produksi nol.
• Surplus Produsen adalah tambahan imbal hasil yang didapatkan dengan melakukan transaksi pada harga pasar, pada tingkat di atas apa yang mereka hasilkan ketika tidak memproduksi → area di atas kurva penawaran dan di bawah harga pasar.
• Karena perusahaan tidak akan berproduksi pada shut-down position
→ profit akan sama dengan minus fixed cost perusahaan → (p0 ,…) = -vk₁
• Dengan demikian maka, producer surplus =
• Maka surplus produsen akan sama dengan keuntungan ditambah dengan fixed cost
Maksimisasi Profit dan Permintaan Input
• Fungsi keuntungan perusahaan:
• Perusahaan harus menggunakan input sampai pada titik dimana tambahan penerimaan yang dihasilkan sama dengan tambahan yang timbul akibat penggunaan input tersebut.
• FOC ini juga memiliki solusi yang sama dengan konsep minimisasi biaya:
RTS = w/v
• Untuk memastikan bahwa solusi adalah titik maksimum, maka SOC yang harus dipenuhi adalah:
• Modal dan tenaga kerja pada kondisi diminishing marginal productivity.
• Secara konsep, solusi dari FOC dapat digunakan untuk menghasilkan fungsi permintaan input, yakni:
Capital Demand = k(p,v,w) Labor Demand = l(p,v,w)
Kasus 1 input
misal labor → q = f (L) FOC didapat:
Kasus 2 input
• Jika ada penurunan pada w → tidak hanya mempengaruhi l tapi juga k karena kombinasi l dan k yang meminimumkan biaya berubah.
• Paling tidak terdapat 2 (dua) efek yang terjadi:
1. Efek substitusi
- Jika output konstan maka akan
ada kecenderungan
perusahaan untuk menukarkan l dengan k pada proses produksi
2. Efek output
- Perubahan di w akan menggeser expansion path dari perusahaan
- kurva biaya juga bergeser → tingkat output yang dipilih juga berubah
BAB 11 KESEIMBANGAN PARSIAL DALAM MODEL KOMPETITIF
Permintaan Pasar
• Kurva permintaan pasar adalah penjumlahan dari permintaan dari setiap individu:
𝑋𝑖 = ∑𝑚𝑗=1𝑥𝑖𝑗 (𝑝1, … , 𝑝𝑛, 𝐼𝐽)
• Jika permintaan individu memiliki slope negatif ➟ maka kurva permintaan pasar juga akan berslope negatif.
• Perubahan pada harga barang X akan menyebabkan pergerakan di sepanjang kurva permintaan barang X
• Perubahan pada factor-factor lain yang dapat mempengaruhi permintaan barang X akan menggeser kurva permintaan.
Penentuan harga pada jangka sangat pendek
• Pada Jangka Sangat Pendek → tidak ada respon dari supply terhadap perubahan yang terjadi di pasar:
- Harga berperan sebagai alat untuk menyesuaikan permintaan - Kurva supply berbentuk garis
vertical.
Penentuan harga pada jangka pendek
• Jumlah perusahaan dalam industri diasumsikan tetap.
• Perusahaan dapat menyesuaikan jumlah yang diproduksi ➟ penyesuaian pada penggunaan input variabel.
• Jumlah output yang ditawarkan di pasar adalah penjumlahan dari output yang dihasilkan oleh setiap perusahaan di industri ➟ kurva supply berslope positif :
• Perusahaan diasumsikan menghadapi harga output dan harga input yang sama.
• Elastisitas penawaran jangka pendek memiliki nilai yang positif:
• Harga keseimbangan akan terbentuk pada saat:
𝑄𝐷(𝑃∗, 𝑃′, I) = 𝑄𝑆 (𝑃∗, 𝑣, 𝑤)
- Jika harga meningkat maka dalam jangka pendek perusahaan akan meningkatkan produksinya
Pergeseran Kurva Permintaan dan Penawaran
• Kurva permintaan bergeser karena:
- Perubahan pendapatan
- Perubahan harga dari barang substitute atau
komplementernya - Perubahan preferensi
• Kurva penawaran bergeser karena:
- Perubahan harga input - Perubahan teknologi
- Perubahan jumlah produsen
• Dampak dari perubahan dari permintaan atau penawaran akan tergantung kepada bentuk dari kurva permintaan dan penawaran ➟ elastisitas
Pemodelan supply dan demand Fungsi demand: 𝑄𝑑 = 𝐷(𝑃, 𝛼)
• Dimana 𝛼 menunjukkan parameter yang akan menggeser kurva permintaan;
𝜕𝐷/𝜕𝛼 = Dα bisa positif atau negatif dan 𝜕𝐷/𝜕𝑃 = DP < 0
Fungsi supply: 𝑄𝑠 = 𝑆(𝑃, 𝛽)
• Dimana 𝛽 menunjukkan parameter yang akan menggeser kurva penawaran;
𝜕𝑆/𝜕𝛽 = Sβ bisa positif atau negatif dan 𝜕𝑆/𝜕𝑃 = SP > 0.
• Keseimbangan terjadi pada saat 𝑄𝑑 = 𝑄𝑠
• Untuk menjaga agar tetap berada pada keseimbangan:
• Jika 𝛼 berubah, sedang 𝛽 konstan d𝛽
= 0, maka
• Karena 𝑆p − 𝐷p > 0, maka 𝜕𝑃/𝜕𝛼 akan tergantung kepada 𝐷𝛼
• Jika persamaan dimodifikasi ke dalam elastisitas:
• Asumsikan permintaan pasar meningkat ke D’ → harga akan naik ke P₂ dan perusahaan menaikkan output ke q₂
● Profit positif akan menarik perusahaan baru untuk masuk ➟ supply bergeser
● Kurva supply jangka Panjang akan memiliki slope negatif :
BAB 12 APLIKASI ANALISIS PERSAINGAN
Analisis Statis Persaingan dari Keseimbangan Jangka Panjang
• Misalkan diasumsikan constant cost industry, output industri pada keseimbangan jangka panjang Q₀ , dan output perusahaan q* → jumlah perusahaan n = Q₀ /q*
• Jika terdapat perubahan demand yang menggeser output ke Q₁, maka jumlah perusahaan berubah menjadi n = Q₁ /q* → perubahan jumlah perusahaan dapat dihitung
𝑛₁ − 𝑛₀ = 𝑄1−𝑄₀
𝑞∗
• Bagaimana jika yang berubah adalah harga input?
- perlu diketahui berapa besar dampaknya terhadap minimum average cost.
- Perlu diketahui bagaimana dampak dari peningkatan harga keseimbangan di jangka panjang terhadap jumlah yang diminta.
- Tingkat output optimal di level perusahaan juga akan mengalami perubahan → jumlah perusahaan juga berubah menjadi:
n₁ - n₀ = 𝑞₁𝑄₁∗− 𝑄0
𝑞₀∗
Surplus Produsen pada Jangka Panjang
• Surplus Produsen pada jangka pendek mencerminkan imbal hasil yang didapat oleh pemilik perusahaan jika dibandingkan dengan ketika output yang dihasilkan nol → penjumlahan short run profit dan fixed cost.
• Dalam jangka Panjang: profit adalah nol dan fixed cost tidak ada → yang berbeda adalah yang dihadapi oleh supplier input:
- Pada constant cost industry: harga input tidak berubah
- Pada increasing cost industry:
masuknya perusahaan baru akan meningkatkan harga input.
• Surplus Produsen pada jangka Panjang mencerminkan tambahan imbal hasil yang akan diterima input dari industri relatif jika dibandingkan ketikan output yang dihasilkan nol → area di atas kurva penawaran jangka Panjang dan dibawah harga keseimbangan.
• Ricardian Rent → menjelaskan konsep surplus produsen (SP) jangka panjang.
• Asumsikan bahwa terdapat berbagai jenis tanah: mulai dari tanah subur (biaya produksi rendah) sampai dengan tanah kering (biaya produksi tinggi)
• Ketika harga pasar rendah → hanya tanah yang subur yang digunakan
• Ketika harga naik → tanah kurang subur juga digunakan → biaya naik → kurva penawaran jangka Panjang ber-slope positif.
• Perusahaan dengan biaya rendah akan mendapat profit positif, sedang perusahaan dengan biaya sama dengan harga keseimbangan (marginal firm) akan mendapat zero profit → SP jangka panjang adalah penjumlahan keduanya
• Profit jangka panjang dari low-cost firm dapat direfleksikan oleh harga dari sumberdaya “unik” yang dimiliki oleh perusahaan → profit diciptakan oleh harga input → Ricardian rent
Natural Monopoly
• Monopoli alamiah umumnya terdapat pada sektor utilities, komunikasi dan transportasi.
• Beberapa ekonom percaya bahwa harga yang ditetapkan monopolis seharusnya secara tepat mencerminkan MC-nya.
• Kebijakan harga pada MC tersebut mengakibatkan natural monopolist mengalami kerugian.
• Natural monopolist memiliki AC yang terus menurun pada jumlah output yang besar → MC akan berada di bawah AC
• Jika pemerintah memaksa monopolI untuk menetapkan harga pada P2 → maka monopolis akan rugi karena P2<C2
• Misalkan pemerintah mengijinkan monopolis menerapkan harga yang berbeda (P1) pada beberapa costumers dan menerapkan P2 untuk lainnya.
• Keuntungan yang didapat untuk costumers yang membayar P1 akan digunakan untuk menutup kerugian dari costumers yang membayar P2
.
Penentuan harga pada jangka panjang
• Pada jangka Panjang, perusahaan dapat menyesuaikan semua input mereka untuk merespon perubahan yang terjadi di pasar.
• Perusahaan dapat keluar masuk industri tanpa ada implikasi biaya
• Perusahaan baru akan masuk ke industri ketika ada keuntungan ekonomi yang positif ➟ supply industri jangka pendek akan bergeser ke luar ➞ harga dan profit akan turun
➟ terus berlanjut sampai dengan profit = 0.
• Keseimbangan jangka Panjang pada industri yang kompetisi sempurna terjadi ketika tidak ada lagi insentif bagi perusahaan untuk keluar atau masuk ke industri ➞ P=MC=AC dan setiap perusahaan beroperasi pada kondisi AC minimum.
• Elastisitas penawaran jangka Panjang dapat positif atau negatif tergantung pada karakter biaya dari industrinya:
Keseimbangan jangka Panjang: constant cost
● Asumsikan bahwa masuknya perusahaan baru kedalam industri tidak merubah biaya input biaya yang dihadapi perusahaan tetap constant cost industry :
● Jika permintaan pasar meningkat ke D’
● Pada jangka pendek, setiap perusahaan akan menaikkan outputnya ke q₂ :
● Pada jangka Panjang, perusahaan baru akan masuk ke industri :
Keseimbangan jangka panjang
● Kurva supply jangka Panjang akan berbentuk garis horizontal ➞ infinitely elastic pada p₁
Keseimbangan jangka Panjang: increasing cost
Masuknya perusahaan baru akan menaikkan biaya karena:
(i) harga input naik;
(ii) potensi munculnya eksternal cost;
(iii) peningkatan permintaan tax financed services.
● Ketika permintaan pasar naik ke D’ → harga naik ke P₂ dan output naik ke q₂
• Profit ekonomi positif akan menarik perusahaan baru untuk masuk → supply akan bergeser
• Kurva supply jangka Panjang akan memiliki slope positif
Keseimbangan jangka Panjang:
decreasing cost
• Masuknya perusahaan baru akan menurunkan biaya karena:
(i) trained labor;
(ii) industrialisasi, dengan adanya pengembangan transportasi dan jaringan yang lebih efisien.
Efisiensi Ekonomi dan Analisis Kesejahteraan
• Penjumlahan antara surplus
konsumen dan surplus produsen → total nilai yang diciptakan oleh transaksi yang terjadi → kesejahteraan.
• Area tersebut dapat dimaksimumkan pada saat keseimbangan competitive market.
• Secara matematika, akan dilakukan maksimisasi pada:
• Pada jangka Panjang → P(Q)=AC=MC.
• Jika fungsi diatas diturunkan terhadap Q, maka: U’(Q) = P(Q) = AC = MC
• Welfare akan maksimum ketika nilai marginal dari Q untuk setiap konsumen
akan sama dengan harga pasar → keseimbangan pasar.
Price Controls dan Kelangkaan
• Ada kalanya pemerintah melakukan penetapan harga di bawah harga keseimbangan → menciptakan kelangkaan → bagaimana dampaknya terhadap kesejahteraan?
• Misalkan terjadi peningkatan demand ke D’
• Dalam jangka pendek harga akan naik ke P2
• Perusahaan baru akan masuk ke industry
• Setelah banyak perusahaan baru masuk ke industri → Harga akan bergerak ke P3
• Karena harga dirasa terlalu tinggi, pemerintah melakukan penetapan harga pada P1.
• Akibatnya akan terjadi excess demand Q2 - Q1
• Konsumen akan mendapatkan keuntungan karena harga yang lebih murah.
• Tambahan surplus konsumen ditunjukkan oleh wilayah segi empat yang diarsir.
• Pada saat yang bersamaan, produsen mengalami kehilangan surplus produsen dengan besaran yang sama.
• Wilayah yang diarsir menunjukkan besaran surplus yang ditransfer dari produsen ke konsumen.
• Wilayah segitiga kuning yang diarsir menunjukkan tambahan surplus konsumen yang mungkin didapatkan jika tidak ada price control.
• Wilayah segitiga orange menunjukkan tambahan surplus produsen yang mungkin didapatkan jika tidak ada price control.
• Penjumlahan keduanya
mencerminkan “welfare cost” dari kebijakan price control.
Tax Incidence
• Untuk menganalisa dampak dari pajak maka perlu dibedakan harga yang dibayarkan konsumen (𝑃𝑑 ) dan harga yang diterima produsen (𝑃𝑆 ).
• Pajak adalah selisih keduanya → 𝑃𝐷 - 𝑃𝑆 = t
• Jika ingin dilihat perubahannya → d𝑃𝐷 - d𝑃𝑆 = dt
• Agar pasar tetap seimbang maka → d𝑄𝐷 = d𝑄𝑆
• Atau dapat dituliskan → 𝐷𝑃d𝑃𝐷 = 𝑆𝑃d𝑃𝑆 = 𝑆𝑃(d𝑃𝐷 - dt) = 𝑆𝑃d𝑃𝐷 – 𝑆𝑃dt
• Sehingga didapat → 𝑑𝑃𝐷
𝑑𝑡 = 𝑆𝑃
𝑆𝑃− 𝐷𝑃= 𝑒𝑠 𝑒𝑠− 𝑒𝐷 𝑑𝑃𝑆
𝑑𝑡 = 𝐷𝑃
𝑆𝑃− 𝐷𝑃= 𝑒𝐷 𝑒𝑠− 𝑒𝐷
• Karena eD 0 dan eS 0, dPD /dt 0 dan dPS /dt 0
• Jika kurva permintaan perfectly inelastic (𝑒𝐷 = 0), pajak perunit sepenuhnya dibayarkan oleh konsumen
• Jika kurva permintaan perfectly elastic (𝑒𝐷 = ), pajak perunit sepenuhnya dibayarkan oleh produsen.
• Secara umum, pihak yang memiliki elastisitas yang lebih kecil akan menerima dampak paling besar dengan diterapkannya pajak.
• Deadweight loss (DWL) ditunjukkan oleh daerah segitiga yang diarsir.
• Besar wilayah tersebut akan tergantung kepada elastisitas dari demand dan supply.
• Pendekatan linier untuk menghitung DWL adalah: DW = - 0.5(dt)(dQ)
• Dengan menggunakan konsep elastisitas diketahui:
• Dengan demikian DWL dapat dihitung dengan:
• Jika salah satu ed atau es sama dengan nol maka DWL=0
• Jika ed atau es memiliki magnitude kecil maka DWL juga akan kecil
Hambatan Perdagangan
• Jika harga dunia lebih rendah dari harga domestic → harga akan turun ke Pw
• Jumlah yang diminta akan naik ke Q1 dan jumlah yang ditawarkan akan turun ke Q2
• Maka akan muncul impor sebesar Q1 -Q2 Surplus konsumen naik dan surplus produsen turun → dampak international trade terhadap welfare ambigu.
• Misalkan pemerintah menerapkan tariff sehingga harga naik menjadi PR
• Jumlah yang diminta turun ke Q3 dan jumlah yang ditawarkan naik ke Q4 .
• Impor setelah tariff menjadi lebih kecil, yakni Q3 -Q4
• Surplus konsumen turun dan surplus produsen naik, dan pemerintah mendapatkan pendapatan tarif.
• Dua segitiga menunjukkan DWL
• Untuk menghitung DWL → hitung luas 2 segitiga:
• Hambatan perdagangan lain yang dapat diterapkan pemerintah adalah kuota impor yang membatasi impor misal Q3 - Q4
• Dampak yang ditimbulkan akan sama dengan tariff, dimana:
- Surplus konsumen akan turun - Surplus produsen akan naik
• Perbedaannya terletak pada penerimaan pemerintah, dengan kuota maka tidak ada penerimaan pemerintah yang tercipta → DWL menjadi lebih besar.
BAB 13 Monopoli
• Monopoli merupakan satu-satunya supplier dalam pasar → perusahaan dapat menentukan titik tertentu untuk berproduksi pada kurva demand.
• Hanya satu karena industri tidak menguntungkan atau mustahil untuk masuk ke industri → hambatan.
• Dua tipe hambatan masuk ke pasar : 1. Technical Barriers :
- Produksi memiliki karakter marginal dan average cost yang terus menurun pada wilayah level output yang sangat besar → perusahaan berskala besar yang dapat menjadi low-cost producers
→ natural monopoly.
- Memiliki pengetahuan khusus terkait dengan teknis berproduksi yang low-cost.
- Kepemilikan terhadap sumber daya yang langka
2. Legal Barriers :
- Monopoli juga dapat tercipta akibat dari hukum:
✓ Paten
✓ Government License → ijin khusus dari pemerintah - Hambatan untuk masuk dapat
juga diciptakan oleh tindakan yang dilakukan perusahaan, seperti:
✓ R&D untuk produk dan teknologi baru
✓ Penguasaan terhadap sumberdaya langka
✓ Upaya melobi regulator
Maksimisasi Profit
• Monopolis akan memilih berproduksi pada titik dimana MR=MC
• Karena 1 penjual → Monopolis menghadapi kurva permintaan yang berslope negative → MR < P
• Gabungan dari 2 kondisi diatas akan membuat monopolis menetapkan harga (P) lebih tinggi dari MC.
• Selisih antara harga (P) dan MC berhubungan terbalik dengan elastisitas permintaan (eQ,p), dimana:
• Kesimpulan yang dapat diturunkan:
➔ Monopoli akan memilih untuk beroperasi hanya pada wilayah dimana kurva demand elastis → eQ,P < -1
➔ Selisih antara P dan MC (markup dari monopolis) akan berhubungan terbalik dengan elastisitas permintaan.
➔ Keuntungan monopolis dapat selalu positif selama P > AC → dapat berlangsung sampai dengan jangka Panjang karena “entry” tidak dimungkinkan → monopoly rent.
• Kurva supply monopolis hanya akan berbentuk 1 titik yang terbentuk oleh kombinasi MR=MC.
• Jika kurva demand bergeser → MR akan bergeser → output optimal akan dipilih pada titik baru.
• Monopolis tidak memiliki kurva penawaran.
• Besar keuntungan monopolis akan tergantung kepada AC dan permintaan pasar.
Monopoli dan Alokasi Sumberdaya
• Akibat adanya monopoli → CS akan turun dan PS akan naik.
• Penurunan CS > kenaikan PS → DWL
• Misalkan diasumsikan monopolis memiliki MC dan AC yang konstan, serta menghadapi demand yang memiliki elastisitas yang konstan:
Q = Pe
• Keseimbangan pada PPS:
Pc = c
• Keseimbangan pada monopoli:
• Surplus konsumen dapat dihitung dengan:
• Maka CS pada PPS dan monopoli adalah:
• Jika kita perbandingkan PPS dan Monopoli dengan menggunakan rasio:
• Jika besar elastisitas e = -2 maka ratio diatas adalah ½ atau dapat dikatakan CS pada monopoli hanya sebesar ½ dibandingkan CS pada PPS.
• Keuntungan monopoli ditunjukkan oleh:
• Jika kita atur ulang persamaan maka didapat:
• Dengan membandingkan keuntungan monopolis dan CS pada PPS → transfer surplus dari konsumen ke produsen:
• Jika diasumsikan e=-2 → ratio diatas menjadi ¼
Monopoli dan Kualitas Produk
• Kekuatan pasar yang dimiliki monopolis akan membuatnya tidak hanya focus pada harga tapi juga dapat menyesuaikan aspek lainnya, seperti:
tipe, kualitas, dan variasi dari produknya.
• Jika willingness to pay dari konsumen untuk kualitas produk (X) ditunjukkan oleh inverse demand function P(Q,X), dimana: P/Q < 0 and P/X > 0
• Output optimal pada saat MR=MC
• MR dari peningkatan kualitas sebanyak 1 unit akan sama dengan MC yang dikeluarkan untuk peningkatan kualitas tersebut.
• Perbedaan dengan kondisi PPS:
➔ Monopolis akan mempertimbangkan nilai marginal dari tindakan peningkatan kualitas yang dilakukan pada titik output (Q) optimal.
➔ Perusahaan pada PPS akan mempertimbangkan nilai marginal untuk semua level output.
➔ Seandainya 𝑄𝑃𝑃𝑆 = 𝑄𝑚 → level dari kualitas barang mungkin saja berbeda Diskriminasi Harga
• Diskriminasi harga dapat dilakukan jika tidak ada profit-seeking middleman
• Perfect or first-degree price discrimination → Jika monopolis dapat memisahkan secara sempurna setiap konsumen berdasarkan WTP masing-masing:
- Mendapatkan semua CS - Tidak ada DWL
● Cara lain yang dapat dilakukan monopolis adalah melakukan “market separation” → menerapkan kebijakan harga yang berbeda pada masingmasing pasar → third-degree price discrimination.
● Monopolis membutuhkan informasi tentang elastisitas permintaan pada masing-masing pasar.
𝑃𝑖(1 +𝑒1
𝑖) = 𝑃𝑗(1 + 𝑒1
𝑗)
→
𝑃𝑖𝑃𝑗
=
(1+ 1 𝑒𝑗) (1+ 1
𝑒𝑖)
• Harga akan ditetapkan lebih tinggi pada pasar yang memiliki elastisitas permintaan yang relatif kurang elastis.
• Elastisitas permintaan pada pasar 1 lebih kecil elastisitas pada pasar 2
• Harga yang ditetapkan pada pasar lebih tinggi dibandingkan pasar 2