Syukur ke hadrat Ilahi, penulis panjatkan ke hadrat Allah S.W.T yang mengizinkan dan memberi peluang, kebaikan dan kelancaran kepada penulis sehingga dapat menamatkan latihan S1 Farmasi ini. Terima kasih atas segala sokongan yang telah diberikan, segala doa yang baik yang telah dicurahkan, kerana segala yang telah penulis lalui adalah berkat doa dan air mata kalian dalam setiap sujud dan doa kepada ALLAH. Revi Yenti, M.Si yang membimbing penulis dengan penuh kesabaran dari dulu hingga kini, serta ibu apt.
Alhamdulillah, segala puji dan syukur panjatkan kepada Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia-Nya berupa ilmu, kesehatan, kesempatan dan kemudahan, sehingga penulis mampu menyusun dan menyelesaikan disertasi yang berjudul “MIKROENCAPSULASI ASAM MEFENAMAT DENGAN SODIUM CARBOXYMETHYL CELLULOSA (NaCMC) MENGGUNAKAN METODE VAPORATORY SOLARUT”, yang merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan program sarjana di Universitas Pionir Indonesia. Revi Yenti, M.Si selaku dosen pembimbing saya telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan bimbingan , untuk memberikan saran dan arahan dalam melakukan penelitian dan penulisan skripsi ini Ria Afrianti, M.Farm selaku dosen pembimbing, yang pernah memimpin kegiatan akademik penulis di Universitas Pionir Indonesia.
Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi dan membuat mikroenkapsulasi asam mefenamat menggunakan polimer natrium karboksimetil selulosa (NaCMC) dengan metode penguapan pelarut dan kemudian mengkarakterisasi mikrokapsul yang dihasilkan.
Latar Belakang
Asam mefenamat juga merupakan senyawa obat yang rentan terhadap cahaya dan udara, ketidakstabilan ini akan mengakibatkan penurunan kadar asam mefenamat jika disimpan pada suhu yang berbeda, sehingga penyimpanan tidak lebih dari 30oC dan terlindung dari cahaya (Retnaningsih dkk, 2017). Sediaan lepas lambat ini bertujuan untuk mengoptimalkan penghantaran obat guna meminimalkan fluktuasi kadar plasma dan mempertahankan kadar plasma dalam tingkat terapeutik (Suprapto et al., 2010). Hal ini akan menyebabkan obat larut perlahan di dalam tubuh sehingga terapi yang diberikan lebih baik.
Sediaan lepas lambat yang ideal dirancang untuk melepaskan dosis terapeutik awal untuk secara cepat menghasilkan efek terapeutik yang diinginkan, diikuti dengan pelepasan dosis pemeliharaan yang lebih lambat dan lebih konstan untuk mempertahankan efek terapeutik selama jangka waktu tertentu, misalnya 12 - 24 jam. Teknik mikroenkapsulasi umumnya digunakan untuk meningkatkan stabilitas, mengurangi efek samping dan efek toksik, serta memperpanjang pelepasan obat (Benita, S., 2006). Komponen mikrokapsul ini adalah bahan inti yaitu zat aktif sediaan dan terdapat polimer, karena pelepasan obat dikendalikan oleh gel yang terbentuk ketika polimer bersentuhan dengan air (Lachman et al. ., 1986).
Dalam penelitian ini digunakan polimer selulosa dan ditambahkan matriks hidrofilik untuk memperlambat pelepasan zat aktif.
Perumusan Masalah
Tujuan
Manfaat
Pembuatan Mikrokapsul .1 Definisi .1 Definisi
- Tujuan Pembuatan Mikrokapsul
- Penggunaan Mikrokapsul
- Prinsip Dasar Pembuatan Mikrokapsul
- Ukuran Partikel Mikrokapsul
- Teknik Pembuatan Mikrokapsul .1 Suspensi Udara .1 Suspensi Udara
- Pemisahan Fasa Koaservasi
- Polimerasi In Situ
- Pengeringan Semprot
- Pembekuan Semprot
- Lubang Ganda Sentrifugasi
Bahan pelapis yang digunakan harus mampu memberikan lapisan tipis yang kohesif dengan bahan inti serta dapat memberikan sifat pelapis yang diinginkan seperti kekuatan, fleksibilitas dan stabilitas. Perbedaan ukuran partikel dapat disebabkan oleh perbedaan proses pembuatan, jenis bahan inti dan bahan pelapis yang digunakan. Penempelan bahan pelapis di sekitar inti membentuk suatu lapisan yang teradsorpsi pada antarmuka antara bahan inti dengan cairan pembawa, sehingga fenomena adsorpsi menentukan keefektifan pelapisan.
Fasa pendukung bahan inti biasanya berupa cairan dan gas, sehingga terjadi reaksi polimerisasi pada antarmuka antara cair dan cair, cair dan padat dengan cair atau padat dengan gas (Lachman et al., 1994 & Benita, S., 1996). Ini didispersikan dalam larutan pelapis di mana bahan inti tidak larut dan kemudian dikabutkan dalam ruang yang berisi aliran udara panas terus menerus untuk menghilangkan pelarut dari bahan pelapis dan menghasilkan mikrokapsul. Variabel kontrol meliputi sifat bahan pengisi seperti viskositas, keseragaman dan konsentrasi bahan inti dan pelapis serta laju penghilangan (Lachman et al., 1994 & Benita, S., 1996).
Southwest Research Institute (SWR) mengembangkan proses mekanis pembuatan mikrokapsul yang menggunakan gaya sentrifugal untuk mengelilingi bahan inti melalui selubung membran mikrokapsul, sehingga mempengaruhi mekanisme proses pembuatan mikrokapsul (Lachman et al., 1994 & Benita, S ., 1996).
Asam Mefenamat
Farmakologi
Kelarutan: mudah terdispersi dalam air membentuk larutan koloid; tidak larut dalam etanol, eter dan pelarut organik lainnya.
Disolusi
Teori Disolusi
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Disolusi
Pada tahun 1904, berdasarkan teori film Brunner, ketebalan lapisan film dan volume media larutan diperhitungkan, sehingga menghasilkan (Parrot, L.E., 1970). Untuk zat yang kelarutannya tidak bergantung pada pH, perubahan pH media disolusi tidak akan mempengaruhi laju disolusi. Hal ini terjadi karena surfaktan menurunkan tegangan permukaan antara senyawa dan media disolusi sehingga meningkatkan laju disolusi.
Luas permukaan efektif suatu obat dapat ditingkatkan secara signifikan dengan memperkecil ukuran partikel karena pelarutan terjadi pada permukaan zat terlarut, sehingga semakin besar luas permukaan maka semakin cepat pula laju disolusi (Shargel dkk, 1988). Jika bahan aditif yang digunakan bersifat hidrofilik maka laju disolusi akan meningkat, sebaliknya jika bahan aditif bersifat hidrofobik maka laju disolusi akan menurun. Penambahan bahan pembasah seperti surfaktan akan meningkatkan kelarutan senyawa hidrofobik sehingga mempercepat disolusi (Abdou, H.M., 1989).
Menurut USP XXI, derajat pelarutan dapat ditentukan dengan menggunakan peralatan yang terdiri atas: penangas air, labu tertutup, motor penggerak, dan silinder keranjang. Media disolusi ditempatkan dalam labu tertutup, kemudian diatur suhunya menjadi 37oC menggunakan penangas air. Sediaan dimasukkan ke dalam silinder keranjang, kemudian direndam dalam media disolusi, diputar dengan motor penggerak dengan kecepatan 50-125 rpm, kemudian ditentukan jumlah bahan aktif yang terlarut dalam media disolusi.
Cara ini memerlukan peralatan yang hampir sama dengan cara bermain bola basket, namun silinder bola basket diganti dengan dayung.
Waktu dan Tempat Penelitian
Bahan
Formula Mikrokapsul
18 Sifat organoleptiknya terlihat dari bentuk dan warnanya serta kelarutannya dalam larutan alkali hidroksida. Pemeriksaan organoleptik ini dilakukan dengan panca indera dengan tujuan pengenalan awal terhadap sediaan yang meliputi bentuk, bau, warna dan rasa. Rendemen dihitung berdasarkan perbandingan antara berat mikrokapsul yang diperoleh dengan berat bahan yang digunakan untuk membentuk mikrokapsul dan dihitung menurut rumus sebagai berikut (Agustin, 2004).
Mikrokapsul yang akan diamati diletakkan pada kaca objek, kemudian ditutup dengan kaca penutup dan diletakkan di bawah mikroskop. Setelah itu dilakukan pengambilan foto kemudian partikel diukur menggunakan aplikasi Image Raster (Agustin, 2004). Penentuan panjang gelombang serapan maksimum Asam mefenamat menggunakan media larutan larutan buffer fosfat pH 7,4 menggunakan spektrofotometer.
Larutan stok asam mefenamat dibuat dengan cara melarutkan 100 mg asam mefenamat ke dalam labu ukur 100 ml, menambahkan larutan buffer fosfat pH 7,4 kemudian dipipet 1 ml larutan stok ke dalam labu takar 100 ml kemudian ditambahkan larutan buffer fosfat hingga penandaan (konsentrasi 10 ppm). Kemudian dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml dan dilarutkan dalam larutan buffer fosfat sampai tanda tera sambil dikocok selama beberapa menit. Uji disolusi mikrokapsul dilakukan dengan menggunakan alat disolusi tipe 1 (paddle method), menggunakan 900 ml larutan buffer fosfat dengan pH 7,4, pada suhu 37oC ± 0,5oC dengan kecepatan putaran 50 rpm.
22 tercapai, masukkan sejumlah mikrokapsul setara 50 mg ke dalam vial larutan, setelah itu larutan dipipet ke dalam vial hingga 5 mL per menit. Pada setiap pemipaan, larutan dalam labu diganti dengan media larutan yang volume dan suhunya sama. Absorbansi diukur pada panjang gelombang 284 nm dengan spektrofotometer UV, kadar asam mefenamat pada setiap pipet dapat ditentukan menggunakan kurva kalibrasi.
Penentuan efisiensi adsorpsi zat aktif dilakukan untuk mengetahui jumlah zat aktif yang terperangkap dalam mikrokapsul. Penentuan efisiensi penyerapan bahan aktif dilakukan dengan menimbang 50 mg dan memasukkannya ke dalam wadah takar 25 ml kemudian menambahkan 10 ml akuades.
Hasil
Pembahasan
25 2 gram : 2 gram, formula 2 mikrokapsul dengan perbandingan 1:2, jumlah asam mefenamat-NaCMC adalah 2 gram: 4 gram dan formula 3 mikrokapsul dengan perbandingan 1:3, jumlah asam mefenamat-NaCMC . adalah 2 gram: 6 gram. Setelah pencampuran, campuran bahan pelapis dan bahan inti didispersikan dalam cairan pembawa untuk memperoleh ukuran mikrokapsul yang sesuai. Melakukan uji pemulihan merupakan salah satu faktor penting untuk mengetahui apakah metode yang digunakan baik atau tidak (Rosidah, 2010).
Jumlah mikrokapsul yang diperoleh lebih besar dibandingkan dengan berat bahan yang digunakan pada formulasi mikrokapsul karena terdapat kemungkinan penambahan berat yang hanya berlaku pada formula 2, sedangkan pada formula 1 dan 2 berat mikrokapsul yang diperoleh lebih sedikit. beratnya. dari komponen yang digunakan, hal ini dikarenakan kemungkinan menempelnya lapisan pada alat menyebabkan hilangnya dispersi yang besar dan menjadikan perolehan kembali yang diperoleh kecil dan tidak seragam. Pada formula 2 dengan perbesaran 500 kali, mikrokapsul yang terbentuk tidak berbentuk bola, saling terhubung antara polimer dengan zat aktif, hal ini menunjukkan bahwa asam mefenamat terenkapsulasi dalam polimer (Gambar 7). Pada rumus 3 dengan perbesaran 100 kali terlihat adanya agregasi antar mikrokapsul, dimana terbentuk bola-bola yang tidak beraturan, hal ini disebabkan karena penggunaan polimer yang sangat besar, sehingga pada rumus ini terjadi agregasi antara polimer dan hal ini dapat mengakibatkan kesulitan dalam mendistribusikan asam mefenamat dalam larutan polimer sehingga tidak terenkapsulasi (Gambar 8).
Hasil pengukuran mikrokapsul yang diperoleh membuktikan bahwa ketiga formulasi pembentuk mikrokapsul berada dalam rentang mikrokapsul dengan metode penguapan pelarut yaitu 5–5000 μm. Penentuan panjang gelombang serapan maksimum asam mefenamat dilakukan dalam larutan dengan konsentrasi 50 ppm dalam media buffer fosfat pH 7,4. Asam mefenamat merupakan senyawa tidak berwarna dan strukturnya mempunyai gugus kromofor dan gugus auksokrom yang mampu menyerap radiasi pada daerah ultraviolet.
Oleh karena itu, panjang gelombang 248 nm ditetapkan sebagai panjang gelombang maksimum yang digunakan sebagai patokan pengukuran selanjutnya. Kriteria zat aktifnya > 0,9950 sehingga nilai baku koefisien korelasi asam mefenamat dapat diterima karena mempunyai linearitas yang sangat baik. Hasil uji disolusi mikrokapsul asam mefenamat dengan pelapis natrium karboksimetil selulosa menghasilkan F3 yang memiliki waktu disolusi lebih singkat.
Berdasarkan teori menyatakan bahwa semakin besar konsentrasi pelapis yang digunakan maka pelepasan obat semakin lambat. Tujuan dari penilaian efisiensi adsorpsi zat aktif dalam mikrokapsul adalah untuk mengetahui kemampuan polimer dalam mengadsorpsi zat aktif dan untuk mengetahui efisiensi metode yang digunakan.
Kesimpulan
Saran
Preparasi dan evaluasi mikrokapsul ekstrak cacing tanah (Lumbricus rubellus) menggunakan metode emulsifikasi ganda evaporasi pelarut menggunakan polimer Eudragit. Mikroenkapsulasi fraksi aktif ramuan sambiloto (Andrographis Paniculata Ness) yang mempunyai efek sitotoksik dengan metode semprot kering. Formulasi asam mefenamat baru yang dapat mengemulsi sendiri dengan disolusi obat yang lebih baik, Asian Journal of Pharmaceutical Science.
Spektrum panjang gelombang serapan maksimum asam mefenamat dengan media buffer fosfat pH 7,4 pada panjang gelombang 200-400 nm pada konsentrasi 18 ppm. Data kurva kalibrasi asam mefenamat dalam buffer fosfat pH 7,4 dengan konsentrasi berbeda diukur pada panjang gelombang 284 nm.
PROFIL DISOLUSI