• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan

Dalam dokumen mikroenkapsulasi asam mefenamat dengan (Halaman 37-44)

Pada penelitian ini dilakukan pembuatan mikrokapsul Asam Mefenamat dengan polimer Natrium Carboxymethyl Cellulosa (NaCMC) menggunakan metode penguapan pelarut. Asam mefenamat berada dalam kelompok Biopharmaceutical Classification System (BCS) kelas II memiliki kelarutan yang rendah dan permeabilitas yang tinggi (FDA, 1997). Asam mefenamat memiliki waktu paruh yang pendek. Oleh karena itu penelitian ini dibuat formula dari zat aktif asam mefenamat berupa mikroenkapsulasi menggunakan bantuan polimer NaCMC untuk menjadikan sediaan yang dapat mempertahankan efek terapeutiknya dalam waktu tertentu.

Mikrokapsul asam mefenamat dibuat dengan 3 formula mikrokapsul dengan perbandingan 1:1 pada formula 1 dengan jumlah asam mefenamat-NaCMC sebanyak

25 2 gram : 2 gram, mikrokapsul formula 2 dengan perbandingan 1:2 jumlah asam mefenamat-NaCMC sebanyak 2 gram : 4 gram dan mikrokapsul formula 3 dengan perbandingan 1:3 jumlah asam mefenamat-NaCMC sebanyak 2 gram : 6 gram.

Ketiga formula dibuat dengan metode penguapan pelarut menggunakan alat magnetic stirred, pemilihan metode ini dikarenakan metode tersebut paling mudah pelaksanaannya dan peralatan yang digunakan lebih sederhana bila dibandingkan dengan metoda yang lainnya. Pemilihan NaCMC ini karena polimer ini mudah terdispersi dalam air membentuk larutan koloidal dan system ini mampu mengembang diikuti oleh erosi dari bentuk gel sehingga dapat terdisolusi oleh media cair.

Pada proses pembuatan mikrokapsul dengan metode penguapan pelarut, dilakukan dengan cara penyalut dilarutkan dengan suatu pelarut yang mudah menguap, diikuti dengan penambahan bahan berkhasiat. Dengan pengadukan, campuran bahan penyalut dan bahan inti terdispersi dalam cairan pembawa sehingga mendapatkan ukuran mikrokapsul yang sesuai. Untuk tahap terakhir dilakukan penguapan pelarut polimer (Benita, 1991). Dalam metode ini, proses terbentuknya mikrokapsul dimulai dengan membentuk emulsi minyak/air selanjutnya emulsi tersebut dimasukkan kedalam larutan surfaktan yang merupakan fase minyak dan terbentuk emulsi w/o. Emulsi yang diperoleh di homogenkan dengan magnetic stirred sampai homogen, sehingga membantu dalam proses pengadukan zat aktif dengan larutan polimer NaCMC yang dimasukkan kedalam larutan paraffin liq dan tween 80 tadi kemudian diemulsifikasikan dengan memasukkan larutan polimer sedikit demi sedikit, pengadukan sampai semua pelarut menguap, kemudian dicuci dengan n-

26 hexan sebanyak 3x dan dikeringkan hingga diperoleh mikrokapsul yang kering.

Evaluasinya meliputi organoleptis, % perolehan kembali, bentuk dan morfologi, distribusi ukuran partikel, penetapan kadar, disolusi, penjerapan dari mikrokapsul.

Dari mikrokapsul yang terbentuk, hasil perolehan kembali proses mikrokapsul yang didapat untuk formula 1, formula 2, formula 3 berturut-turut adalah sebanyak 94,27% ; 109,11% ; 95,74% (Lampiran 6, Tabel 6). Dilakukan uji perolehan kembali ini merupakan faktor yang pentig untuk mengetahui apakah metode yang digunakan sudah baik atau tidak (Rosidah, 2010). Jumlah mikrokapsul yang diperoleh lebih besar dari pada bobot bahan-bahan yang digunakan dalam formulasi mikrokapsul karena adanya kemungkinan penambahan bobot yang berlaku hanya pada formula 2 sedangkan pada formula 1 dan 2 bobot mikrokapsul yang didapat lebih sedikit dari pada bobot bahan yang digunakan, hal ini disebabkan kemungkinan menempelnya penyalut pada alat yang menyebabkan banyak dispersi yang terbuang dan membuat perolehan kembali yang diperoleh sedikit dan tidak seragam. (Chalila, 2016)

Morfologi dan karakterisasi sampel dapat dilihat menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM). Analisis menggunakan SEM untuk memperlihatkan karakteristik asam mefenamat, NaCMC dan mikrokapsul yang dibuat. Morfologi asam mefenamat yang dilihat dari SEM dengan perbesaran 500 kali memiliki bentuk bulat tidak beraturan (Lampiran 6, Gambar 4), NaCMC pada hasil SEM perbesaran 500 kali berbentuk tidak sferis (Gambar 5), sedangkan mikrokapsul formula 1 dengan perbesaran SEM 500 kali terlihat mikrokapsul asam mefenamat-NaCMC terbentuk bulat dan panjang yang sama rata tetapi belum melekat keseluruhan dikarenakan pada formula ini dengan perbandingan 1:1 tidak terenkapsulasi sempurna oleh polimer

27 karena perbandingan polimer dan zat aktif yang sama banyak (Gambar 6). Pada formula 2 perbesaran 500 kali mikrokapsul terbentuk tidak sferis melekat satu sama lain antara polimer dan zat aktif, ini menunjukkan bahwa asam mefenamat terenkapsulasi dalam polimer (Gambar 7). Pada formula 3 perbesaran 100 kali terlihat adanya penumpukan antara mikrokapsul, dimana terbentuk sferis yang tidak beraturan, ini dikarenakan penggunaan polimer yang terlalu besar sehingga dalam formula ini terjadi penumpukan antara polimer dan dapat berakibat sulitnya asam mefenamat terdispersi kedalam larutan polimer sehingga tidak terenkapsulasi (Gambar 8).

Distribusi ukuran partikel merupakan evaluasi fisik pada mikroenkapsulasi untuk mengetahui diameter rata-rata pada partikel (Hinrics, 2006). Metode yang digunakan yaitu dengan menggunakan alat Optilab Microscope Camera. Hasil dapat dilihat pada (Lampiran 8, Tabel 7, 8 & 9, Gambar 9, 10 & 11). Hasil pengukuran mikrokapsul yang diperoleh membuktikan bahwa ketiga formula yang dibuat mikrokapsul yang terbentuk masuk rentang mikrokapsul dengan menggunakan metode penguapan pelarut yaitu 5-5000 μm.

Profil disolusi dari mikrokapsul asam mefenamat dilakukan dengan menggunakan media dapar fosfat pH 7,4. Penentuan panjang gelombang serapan maksimum asam mefenamat dibuat dalam larutan dengan konsentrasi 50 ppm pada medium dapar fosfat pH 7,4. Berdasarkan literatur asam mefenamat memiliki panjang gelombang 286 nm. Asam mefenamat merupakan senyawa yang tidak berwarna dan strukturnya memiliki gugus kromofor dan gugus auksokrom yang dapat menyerap radiasi didaerah ultraviolet. Oleh karena itu, penentuan panjang gelombang maksimum baku

28 asam mefenamat diukur pada rentang 200 – 400 nm. Menurut Gandjar & Rohman tahun 2012, absorban yang baik pada spektrofotometer antara 0,2-0,8, sehingga panjang gelombang yang masuk dalam range yang telah ditentukan yaitu 0,516. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa panjang gelombang serapan maksimum terdapat pada panjang gelombang 248 nm dengan nilai absorban 0,516 (Lampiran 9, Gambar 12). Oleh karena itu, panjang gelombang 248 nm ditetapkan sebagai gelombang maksimum yang digunakan sebagai patokan untuk pengukuran selanjutnya.

Setelah di dapat panjang gelombang maksimum, tahap selanjutnya adalah penentuan kurva kalibrasi dengan membuat 5 seri konsentrasi larutan standar yaitu 14 ppm, 16 ppm, 18 ppm, 20 ppm, 22 ppm dan diukur pada panjang gelombang 284 nm dengan serapan yang didapat masing-masing 0,440 ; 0,506 ; 0,555 ; 0,623 ; 0,69.

Berdasarkan hasil perhitungan analisis yang diperoleh persamaan kurva kalibrasi a = -0,0053, b = 0,03165 , r = 0,99765. Nilai yang didapat digunakan untuk menghitung persen zat terdisolusi asam mefenamat dari mikrokapsul.

Koefisien korelasi digunakan untuk menunjukkan derajat keeraatan hubungan antara 2 variabel yang diteliti dengan arah hubungannya. Kriteria untuk bahan aktif obat adalah > 0,9950 dengan begitu nilai koefisien korelasi baku asam mefenamat hasilnya dapat diterima karena memiliki linearitas yang sangat baik. Tujuan dilakukan nya tahap ini untuk mengetahui apakah hukum Lambert-Beer menjadi dasar analisis kuantitatif senyawa obat dengan spektrofotometri, dimana ada hubungan serapan dengan konsentrasi sampel dapat dihitung dari persamaan kurva kalibrasi. Menurut hukum Lambert-Beer serapan barbanding lurus dengan tebal dan konsentrasi larutan, sehingga dari hasil yang di dapat hukum Lambert-Beer terpenuhi.

29 Setelah dilakukan penentuan kurva kalibrasi, tahap selanjutnya yaitu pengukuran serapan sampel.

Hasil analisis penetapan kadar sampel asam mefeamat dapat dilihat pada (Lampiran 11, Tabel 11) dimana kadar yang didapat masing-masing nya 5,42%b/v ; 5,73 %b/v ; 6,84 %b/v. Persyaratan kadar asam mefenamat tidak kurang dari 90,0%

dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah yang tertera pada etiket (Farmakope Indonesia Edisi IV, 1995) berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini pada formula tersebut tidak memenuhi persyaratan kadar sesuai FI edisi IV. Hal ini mungkin dikarenakan dipengaruhi oleh suhu dan lamanya pemanasan, dimana semakin lama dipanaskan maka kadar semakin kecil, secara teori. Lamanya pemasan membuat penguraian zat aktif dan zat pelengkap dalam obat semakin besar sehingga kadar yang dihasilkan kecil.

Hasil uji disolusi mikrokapsul asam mefenamat menggunakan natrium carboxymethyl cellulose sebagai penyalut menghasilkan F3 yang memiliki waktu disolusi yang lebih rendah. Berdasarkan teori, menyatakan bahwa semakin besar konsentrasi penyalut yang digunakan maka semakin lambat pelepasan obat.

Nilai efisiensi penjerapan dari tiap formula F1, F2, F3 masing-masingnya adalah 7,36% ; 9,08% ; 7,52%. Tujuan dilakukannya evaluasi efisiensi penjerapan zat aktif di dalam mikrokapsul yaitu untuk mengetahui kemampuan polimer dalam menjerap zat aktif dan mengetahui efisiensi dari metode yang digunakan. Mikrokapsul dapat mengandung bahan inti hingga 99% dihitung terhadap berat mikrokapsul (Desmawarni,2007). Hasilnya menunjukkan nilai efisiensi penjerapan F2 lebih besar dari F1 dan F3, sehingga F2 menjadi formula yang terbaik karena memiliki

30 penyalutan yang lebih besar dibandingkan formula lain. Kadar asam mefenamat ditentukan dengan melarutkan mikrokapsul dengan aquadest. Alasan pemilihan melarutkan dengan aquadest karena polimer NaCMC mampu terdispersi dengan baik di dalam air. Sehingga dapat ditemukan mana yang masih terjerap dan yang tidak terjerap oleh polimer. Kemudian yang terjerap diukur dengan spektro, maka diperoleh kadar asam mefenamat yang terjerap. Hal yang menyebabkan terjadinya perbedaan nilai penjerapan dari tiap formula adalah, semakin kecil perolehan kembali mikrokapsul maka kemungkinan terbuangnya zat aktif semakin besar sehingga F1 dengan Perolehan Kembali yang lebih kecil memiliki efisiensi penjerapan yang kecil pula. Hasil penjerapan yang diperoleh cukup kecil, hal ini mungkin disebabkan karena ada penyalut yang masih menempel pada beker dan juga yang hilang pada saat proses pencucian (Sutriyo et al., 2004).

Berdasarkan data statistik diketahui bahwa nilai efisiensi penjerapan menunjukkan bahwa formula dapat berdistribusi dengan normal (> 0,05).

Berdasarkan dari data homogenitas menghasilkan data yang tidak homogen yaitu 0,003, karena data yang homogen harus > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa data statistik dari nilai efisiensi penjerapan tidak bisa dilanjutkan dengan uji Duncan, karena salah satu persyaratan dari ANOVA 1 arah yang tidak terpenuhi yaitu harus terdistribusi normal dan harus homogen.

31 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam dokumen mikroenkapsulasi asam mefenamat dengan (Halaman 37-44)

Dokumen terkait