i
PERAN FOOD VLOGGER DALAM MENINGKATKAN WISATA GASTRONOMI MASYARAKAT LOKAL
Oleh :
Geralda Giovani 210901021
Pertiwi Br Perangin-angin 210901096 Teresia Rolas Sinaga 210901076
PROGRAM STUDI SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2024
2 DAFTAR ISI
BAB IPENDAHULUAN ... 3
1.1. Latar Belakang ... 3
1.2. Rumusan Masalah ... 4
1.3. Tujuan Penelitian ... 5
1.4. Manfaat Penelitian... 5
1.4.1. Manfaat Teoritis ... 5
1.4.2. Manfaat Praktis ... 5
1.6. Kajian Pustaka ... 6
1.6.1.Teori Interaksi Parasosial ... 6
BAB II HASIL DAN PEMBAHASAN ... 11
2.1. Analisis Konten Food Vlogger Kuliner dalam Wisata Gastronomi ... 11
2.2. Peran Food Vlogger Dalam Meningkatkan Minat Wisata Gastronomi ... 13
DAFTAR PUSTAKA ... 18
3 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Globalisasi dapat dimaknai sebagai era yang berporos atau terpusat pada kesatuaan budaya yang global. Menurut Giddens (1990;64) dalam (Sholahudin, 2019) globalisasi merupakan intensifikasi hubungan sosial dunia di mana kejadian di suatu Negara akan saling berpengaruh terhadap Negara lainnya. Pada kesimpulannya, globalisasi akan menuntut suatu negara untuk membuka diri terhadap perkembangan dunia, terutama perkembangan ekonomi, agar dapat bersaing dan saling melengkapi. Kata globalisasi sendiri diambil dari kata global, yang berarti universal. Secara defenitif, globalisasi belum memiliki pengertian yang mapan, dan memiliki pengertian yang fleksibel. Namun, pada dasarnya globalisasi telah menjadi fenomena yang turut membawa banyak perubahaan dalam kehidupan dunia, khususnya masyarakat.
Di era globalisasi sendiri, sekat-sekat dan batas-batas yang sifatnya “material/fisik”
seperti wilayah dan geografis, maupun non fisik seperti nilai, norma, dan budaya global turut mengalami perubahaan. Salah satu dampak dari globalisasi, adalah lahirnya era digital. Era digital sendiri adalah era yang menggunakan kecerdasaan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari, seperti pengunaan media telephone, jaringan internet, dan lainya. Dengan kehadiran jaringan internet dan media telekomunikasi menjadi arus baru dari lahirnya atau populernya pemakaian media sosial. Media sosial dewasa ini, telah menjadi suatu keharusan bagi setiap individu, karena memberikan banyak manfaat mulai dari hiburan, pengetahuan, pekerjaan, interaksi, dan lainya. Namun, secara khusus, dalam era digital saat ini, media sosial telah menjadi platform yang tidak hanya digunakan sebagai media penghubung saja, melainkan juga efektif untuk mempromosikan berbagai hal, termasuk kuliner lokal. Salah satu tren media sosial yang sedang berkembang adalah penggunaan food vlogger untuk mempromosikan wisata gastronomi. Vlog merupakan media komunikasi berbentuk video yang dibuat dalam bentuk rekaman kreatif. Dan, vlogger merupakan orang atau individu yang membuat vlog, namun mereka juga aktif dalam membagikan ke platform media sosial, seperti Instagram, Youtube, Tik Tok dan lainya. Konten atau disebut juga dengan tema/isi cerita dalam vlog biasanya berisi tentang informasi dan ulasan-ulasan mereka mengenai suatu produk atau makanan. Tentu saja, informasi yang diberikan dapat menjadi bentuk promosi produk atau brand yang sedang digunakan atau sedang diulas (Hansvirgo, Leon, Jesselyn, Marcellino, &
Hanita, 2023). Salah satu Food vlogger yang cukup populer ialah Nex Carlos. Merupakan sebuah Youtuber terkenal dengan konten kuliner lokal dari Indonesia. Carlos telah berhasil
4
mempopulerkan makanan tradisional ke negara-negara asing melalui akun YouTube-nya.
Akun YouTube Nex Carlos ternyata terbukti berfungsi efektif dalam mengglobalisasi makanan lokal dengan komunikasi yang interaktif dan ikatan emosional yang intim (Effendy, Wulandari , Setiyaningsih, & Mariani, 2021).
Semakin masifnya penyeragamaan yang telah disebabkan globalisasi khususnya dalam budaya konsumi, seperti Pakaian (fashion), Makanan (food), dan Hiburan (fun). Menjadi sebuah ancaman bagi negara Indonesia yang memiliki keanermakanan kultur. Salah satunya adalah kuliner atau makanan. Era globalisasi melahirkan berbagai produk makanan global yang disebut dengan restoran cepat saji (makanan instan). Tidak jarang makanan ini direproduksi secara masal yang secara esensi hanya dinikmati melalui kecapan lidah. Fenomena ini juga telah banyak menggerus budaya kuliner masyarakat lokal yang kaya akan esensi nilai-nilai budaya. Eksistensi yang dicari masyarakat saat ini yang super instan, membuat makanan lokal yang beresensi pada keunikan/kenikmatan, nilai filosofis, dan kearifan lokal di dalamnya telah tergerus, bahkan hilang. Sehingga, keadaan ini menjadikan banyak generasi masyarakat lokal yang tidak mengenal makanan khas mereka, serta cerita dibalik makanan tersebut. Perilaku konsumsi yang hanya dimaknai pada rasa lezat dan enak, juga menjadi bentuk kemunduran bagi masyarakat dalam hal pemaknaan kuliner secara budaya. Namun, dengan berkembangnya wisata kuliner saat ini dan telah menjadi kegiatan populer saat berwisata menjadikan wisata kuliner lokal berpeluang besar bermain dalam ruang ‘global’ melalui media sosial. Jika dahulu cenderung diabaikan, gastronomi (kuliner lokal) kini bertransformasi menjadi kontributor pengembangan industri kreatif dan industri pariwisata. Penyebaran video memasak hidangan- hidangan di media sosial, khususnya YouTube, Instagram, dan Tik Tok sangat memengaruhi pengembangan wisata budaya berbasis makanan dari seluruh pelosok tanah air. Aktivitas bisnis kuliner merupakan salah satu bagian kegiatan gastronomi. Hal ini tentunya bertujuan untuk mempromosikan produk dan pengalaman lokal yang khas. Oleh karenanya, melalui kampanye atau promosi wisata gastronomi, penelitian tentunya diharapkan mampu mendeskirpsikan bagaimana peran para food vlogger dalam mengenalkan makanan khas Indonesia yang bercita rasa lezat, serta makna filosofis dan budaya di dalamya. Ini tidak hanya membantu mempromosikan makanan dan budaya lokal, tetapi penelitian ini juga melihat dampak dari wisata kuliner dalam membantu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan perumusan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka permasalahan yang diangkat adalah;
5
1. Bagaimana peran para food vlogger dalam meningkatkan promosi wisata gastronomi masyarakat lokal?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka tujuan diadakan penelitian adalah untuk mengetahui apa saja strategi yang dilakukan oleh para food vlogger dalam meningkatan promosi wisata gastronomi masyarakat lokal.
1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Manfaat Teoritis
1) Bagi peneliti, yakni mampu memberikan wawasan maupun pengalaman baru tentang bagaimana peran para food vloggers dalam mempromosikan wisata gastronomi masyarakat lokal.
2) Bagi kaum akademis, yakni dapat dijadikan sebagai salah satu referensi bagi penelitian selanjutnya dan diharapkan dapat bermanfaat sebagai sumber bacaan.
1.4.2. Manfaat Praktis
1) Bagi food vloggers pemula, penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan dan bahan pemikiran dalam melihat peran food vlogger sebagai salah satu agen yang meningkatkan wisata gastronomi di media sosial.
2) Bagi masyarakat, penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam menambah wawasan baru terkait wisata gastronomi.
3) Bagi regulator, penelitian ini diharapkan bisa memberikan kontribusi dalam membuat kebijakan yang berhubungan dengan peningkatan pariwisata di bidang kuliner (gastronomi) masyarakat lokal.
1.5. Definisi Konsep 1.5.1. Food Vlogger
Food vlogger merupakan sebuah bidang kerja yang menawarkan pekerjaan
untuk mengabadikan video tentang review berbagai macam kuliner dan dibagikan di media sosial berbasis video. Seperti YouTube, Instagram atau TikTok untuk ditonton oleh viewers yang biasanya juga pecinta kuliner. Food vlogger biasanya akan mengambil keuntungan melalui konten review kuliner yang ia bagikan berupa penghasilan dari iklan seperti Google Adsense, Paid Partnership, dan sebagainya.
1.5.2. Wisata Kuliner (Gastronomi)
6
Pengembangan wisata dalam bidang kuliner dikenal dengan sebutan gastronomi, “culinary tourism, also referred to as gastronomic” (Hjalanger dan G.
Richards, 2002). Wisata gastronomi adalah cara lain dalam menikmati objek wisata sekaligus juga melestarikan kebudayaan melalui upaya pelestarian kebudayaan di bidang makanan dan minuman atau biasa disebut wisaa kuliner (Brillat-Savarin, 1994).
Gastronomi secara lebih umum merupakan sebuah studi mengenai hubungan antara budaya menikmati makanan dan minuman. Gastronomi lebih lanjut mempelajari berbagai komponen budaya dengan sentra kuliner sebagai pusat analisisnya. Ruang lingkup gastronomi tidak hanya memaparkan makanan dan minuman dari segi pemenuhan kebutuhan fisiologis tetapi lebih mendalam mengkaji sudut pandang kuliner daerah sebagai aspek budaya serta aset bagi daerah dalam mengembangkan industri pariwisata guna meningkatkan ekonomi rakyat dan pendapatan daerah.
1.6. Kajian Pustaka
1.6.1. Teori Interaksi Parasosial
Teori interaksi parasosial pertama kali diperkenalkan oleh (Horton dan Wohl, 1956) yaitu merupakan sebuah hubungan satu arah yang dibentuk oleh seseorang dengan “media persona”. Media persona ini biasa berupa karakter film, tokoh kartun, pembawa berita, host talk show, dan idola selebriti (Nadhifa, 2022) dalam (Wulandari, Sugandi, & Hairunnisa, 2023). Lebih jauh, Horton dan Wohl (1956) dalam (Sularjo, 2023) mendefinisikan bahwa hubungan parasosial merupakan hubungan yang terbangun ketika individu secara berulang-ulang memiliki dan membangun keterkaitan emosi dan merasa berada dalam hubungan pertemanan atau kerabat dekat dengan idola. Lalu Hartmann (2016) juga memberikan definisi mengenai hubungan parasosial, bahwa hubungan parasosial dapat diartikan sebagai hubungan sosial yang terbangun antara pelaku kepada sosok yang mereka temui melalui media dalam hal ini penggemar dan idola. Dalam komunitas internet, orang-orang saling berinteraksi agar dapat menjalin hubungan lebih dalam baik antar individu dengan individu, kelompok dengan individu maupun kelompok dengan kelompok lain yang dapat memenuhi kebutuhan sosial dan ekonomi. Hal ini diperkuat oleh Kozinet (1999) yang memposisikan bahwa dengan memahami komunitas-komunitas (internet) ini dan kesempatan yang mereka berikan, maka perusahaan dapat memberikan pandangan yang mengubah cara masyarakat memilih produk atau jasa yang harus mereka konsumsi, serta bagaimana cara mengonsumsi mereka. Lalu, Kozinet (1999) juga menjelaskan bagaimana pembentukan hubungan di komunitas internet dibagi berdasarkan dua faktor: (1) orang yang memiliki
7
hubungan berdasarkan aktivitas konsumsi, (2) intensitas suatu hubungan antara seseorang dengan anggota dalam komunitas internet. Hal ini mempengaruhi bagaimana ikatan sosial di dalam komunitas internet yang dapat membentuk interaksi parasosial dan berlanjut dengan pembentukan hubungan parasosial.
Interaksi parasosial mengarah kepada hubungan sepihak yang dikembangkan konsumen media dengan tokoh media, merasakan rasa keterhubungan dan keintiman meskipun tidak ada interaksi di kehidupan nyata. Dalam konteks vlogging makanan, pemirsa sering kali mengembangkan hubungan parasosial dengan vlogger saat mereka berbagi aspek pribadi kehidupan, pengalaman kuliner, dan teknik memasak. Vlogger menjadi teman virtual, pemandu, atau bahkan sumber inspirasi bagi penontonnya.
Penonton mungkin merasakan keterhubungan dan keakraban dengan vlogger, meskipun interaksinya melalui layar. Teori ini membantu menjelaskan popularitas dan kesuksesan food vlogger, karena sifat pribadi dan intim dari konten mereka menumbuhkan rasa keterhubungan yang kuat dengan penonton (Safitr, Rusli , Regina,
& Pahlov, 2023).
1.6.2. Teori Perilaku Konsumen
Swashta dan Handoko (2000) menjelaskan bahwa perilaku konsumen adalah kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan menggunakan barang-barang serta jasa termasuk dengan proses pengambilan keputusan pada persiapan dan penentu kegiatan tersebut (Pemasaran, 2018). Kotler dan Armstrong (2010) mengidentifikasi bahwa perilaku konsumen dipengaruhi oleh beberapa faktor (Sunarto, 2018), meliputi : 1) faktor kebudayaan yang merupakan faktor mendasar dalam mempengaruhi perilaku konsumen. Faktor kebudayaan harus memahami peran budaya, subbudaya dan kelas sosial; 2) faktor sosial yaitu, dipengaruhi seperti lingkungan, kelompok kecil, keluarga, dan serta status konsumen sendiri; 3) faktor pribadi, yaitu keputusan pengambilan karakteristik pribadi dari konsumen, seperti usia dan tahap daur hidup, pekerjaan, status ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep diri; dan yang terakhir faktor psikologis yaitu, yaitu motivasi, persepsi, pembelajaran, serta keyakinan dan sikap. Dua tipe stimulus yang dapat mempengaruhi perilaku konsumen adalah pemasaran dan lingkungan (sosial dan budaya). Stimuli pemasaran adalah setiap komunikasi yang didesain untuk mempengaruhi konsumen.
Produk dan komponen-komponennya (seperti kemasan, isi, ciri-ciri fisik) adalah stimuli utama (primary stimuli). Komunikasi yang didesain untuk mempengaruhi konsumen adalah stimuli tambahan (secondary stimuli) yang mempresentasikan
8
produk seperti kata-kata, gambar, dan simbol atau melalui stimuli lain yang diasosiasikan dengan produk (seperti harga, toko tempat produk dijual, dan pengaruh sales) (Sunarto, 2018) dalam (Hansvirgo, Leon, Jesselyn, Marcellino, & Hanita, 2023).
1.7. Metode Penelitian 1.7.1. Jenis Penelitian
Adapun jenis penelitian yang digunakan peneliti dalam penelitian ini ialah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian kualitatif menurit Bogdan dan Taylor (Moleong, 2013) dalam (Sutikno & Hadisaputra, 2020) merupakan metode penelitian yang nantinya akan menghasilkan data deskriptif, baik itu berupa kata-kata lisan maupun tulisan dari orang-orang atau perilaku yang diteliti. Dalam mendapatkan data penelitian, peneliti mengedepankan data yang berkualitas, disamping jumlah sampel penelitian mengingat penyajian data deskriptif yang menenkan pada penyimpulan keseluruhan data. Pendekatan deskriptif menjadi pendekatan yang lebih mapan dalam menyajikan fenomena food vlogger secara mendalam. Hal ini sejalan dengan tujuan peneliti dalam menggambarkan bagaimana strategi food vlogger di media sosial dalam mempromosikan wisata gastronomi (kuliner) masyarakat lokal.
1.7.2. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian merupakan tempat dimana peneliti melakukan penelitian terutama dalam menangkap fenomena atau peristiwa yang sebenarnya terjadi dari objek yang diteliti dalam rangka mendapatkan data-data penelitian yang akurat. Adapun lokasi penelitian dalam penelitian ini ialah media sosial Instagram, Youtube, dan Tik tok.
1.7.3. Informan
Menurut Moleong (2006) dalam buku Metode Penelitian Kualitatif, Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar belakang penelitian. Dalam penelitian adapun informan kunci adalah food vlogger. Dengan Informan pendukung (tambahan) adalah para penonton/viewers food vlogger. Informan Pendukung merupakan orang yang dapat memberikan informasi tambahan sebagai pelengkap analisis dan pembahasan dalam penelitian kualitatif. Informan tambahan terkadang memberikan informasi yang tidak diberikan oleh informan kunci.
1.7.4. Teknik Pengumpulan Data
9
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini disesuaikan dengan jenis penelitiannya yakni, penelitian kualitatif. Adapun teknik pengumpulan data digunakan untuk mendapatkan data berupa informasi terkait dengan kebutuhan penelitian sebagai bahan utama dalam menjelaskan dan menjawab permasalahan penelitian. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti ialah melalui observasi, serta wawancara kepada penonton aktif konten food vlogger sebagai data primer peneliti. Selain itu, untuk menguatkan data primer, peneliti juga melakukan pengumpulan data melalui studi literatur dari beberapa jurnal maupun artikel terkait penelitian wisata kuliner lokal dan food vloggers sebagai data sekunder penelitian. Dokumentasi berupa gambar serta komentar dari media sosial yang menggambar bagaimana proses promosi wisata juga dapat peneliti jadikan sebagai sumber data peneltian. Objek penelitian dikhususkan peneliti pada ruang public digital yakni sosial media seperti Instagram, tik-tok, facebook, dan you tube.
▪ Data Primer
Adapun teknik pengumpulan data primer yang digunakan peneliti, yakni;
1. Observasi
Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang menggunakan penginderaan baik secara langsung ataupu tidak langsung terhadap objek yang diteliti (Sutikno & Hadisaputra, 2020). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis observasi yang menempatkan peneliti sebagai pengamat (Participant as observer). Peneliti akan melakukan pengamatan terhadap beberapa konten food vlogger.
2. Wawancara
Wawancara merupakan proses memperoleh keterangan melalui tanya jawab secara tatap muka (face to face) anatar pewawancara dengan informan atau orang diwawancarai (Sutikno & Hadisaputra, 2020). Pada prosesnya wawancara yang dilakukan adalah wawancara infromal (interview informal).
Namun, pewawancara tetap membuat instrument pertanyaan sebagai pedoman wawancara. Wawancara dilakukan secara personal (interview personal) terhadap beberapa penonton konten food vlogger baik melalui tatap muka maupun virtual dalam ruang chat/video call.
3. Dokumentasi
Menurut Moleong (2013) dalam (Sutikno & Hadisaputra, 2020) Dokumen merupakan setiap yang didapat dari bahan tertulis ataupun film, bisa diartikan dokumen adalah rekam jejak dari kejadian, penafsiran, jasa-jasa, dan kegiatan
10
seseorang dalam bentuk tulisan, photo, gambar, rekaman video, manuskrip, catatan harian, dan sebagainya. Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data melalui dokumentasi pelaksanaan wawancara dan observasi.
▪ Data Sekunder
Data sekunder adalah data tambahan atau pendukung data utama (primer) yang diambil secara tidak langsung melalui studi literatur/kepustakaan, seperti artikel onnline, koran, majalah, jurnal ilmiah,dan sumber kepustakaan lain yang dianggap relavan dengan penelitian.
1.7.5. Interpretasi Data
Menurut Sutikno & Hadisaputra (2020) interpretasi data atau analisis data penelitian data kualitatif adalah tahapan penelitian yang menyeleksi, mengklasifikasikan dan mengatur data serta menghubungkan antara data yang satu dengan yang lain, agar dapat ditarik simpulan- simpulannya. Dalam penelitian ini, proses analisis data menggunakan teknik Miles dan Huberman (Sutikno & Hadisaputra, 2020) dimana data mentah diolah melalui tiga metode analisis data, yakni Reduksi Data (Data Reduction) dimana peneliti melakukan pemilahan/menyeleksi data yang dibutuhkan, tahap ini peneliti akan menyaring data yang relavan dan dibutuhkan untuk penelitian. Selanjutnya Penyajian Data (Data Display), pada tahap ini data-data yang ditemukan disajikan dalam bentuk narasi (deskripsi) dalam menyajikan data peneliti menyajikan beberapa kalimat langsung dari narasumber. Hingga yang terakhir yakni tahap penarikan kesimpulan (Conclusion), pada tahap ini peneliti akan menarik kesimpulan dari data yang telah disajikan atau temuan dari penelitian.
11 BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
2.1. Analisis Konten Food Vlogger Kuliner dalam Wisata Gastronomi
Gastronomy tourism atau wisata gastronomi merupakan salah satu contoh dari produk pariwisata berkelanjutan. Gastronomi merupakan gabungan dari dua kata yang berasal dari Bahasa Yunani yaitu “gastros” yang memiliki arti “lambung” atau “perut” dan nomos yang memiliki arti “hukum” atau “aturan”. Gastronomi didefinisikan sebagai the art of good eating. Gastronomi sebagai atraksi wisata merupakan hal-hal yang berkaitan dengan suatu hidangan. Hal-hal yang berkaitan dengan hidangan tersebut merupakan refleksi dari sebuah sejarah, tradisi, budaya, serta faktor lingkungan yang kemudian mempengaruhi proses hidangan itu diperoleh, dibuat, dan disajikan (Barbara, 2004). Selain menjadi sebuah atraksi wisata dan penggambaran sebuah kebudayaan, gastronomi dapat menjadi kepentingan suatu negara karena hal tersebut dapat mendefinisikan identitas budayanya.
Setiap aspek dalam gastronomi diatas memiliki karakteristik yang berbeda. Dalam kaitannya dengan wisata kuliner yaitu pada aspek gastronomi praktis dapat dijadikan sebagai acuan dalam mengkaji pengolahan dari bahan mentah hingga menjadi makanan yang siap dinikmati serta dapat dinilai dari aspek budaya. Sementara itu, gastronomi dipadukan dengan pariwisata telah menjadi sumber daya pariwisata bagi penciptaaan produk wisata baru, serta pengembangan wisata gastronomi dapat memberikan pendidikan kuliner yang autentik dan pemahaman dan apresiasi yang tinggi terhadap kuliner sebuah daerah.
Namun di Indonesia saat ini wisata gastronomi masih terbilang masih belum optimal, atau perkembangannya belum sangat populer. Namun beberapa pihak meyakini bahwa Indonesia memiliki potensi yang sangat besar apalagi untuk mendongkrak perekonomian ditambah lagi dengan keberagaman budaya indonesia. Pasalnya, wisata gastronomi sangat berbeda dengan wisata kuliner yang sering didengar oleh masyarakat. Wisata kuliner dianggap hanya identik tentang bagaimana seseorang menikmati makanan khas yang disajikan oleh setiap daerah yang dikunjungi. Berbeda dengan wisata gastronomi dimana kita tahu historis makanannya, baik itu tentang bentuk dari makanannya serta kita juga jadi lebih tahu nilai gizi dari setiap makanan yang kita makan. Bukan hanya sekedar menikmati makanan yang sudah jadi. Wisatawan juga jadi tahu sejarah makanan itu dan kandungan gizi dari makanan yang hendak dicicipi.
12
Di era digital seperti sekarang ini platform sosial media seperti Youtube, Tiktok dan Instagram sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Melalui platform inilah muncul peluang-peluang yang dimanfaatkan sebagian orang untuk membuat konten review/ulasan yang berhubungan dengan dunia kuliner atau yang dikenal dengan sebutan Food Vlogger. Mulai dari figur publik hingga orang biasa kini dapat dengan mudah menjadi reviewer kuliner di berbagai platform. Food Vlogger ini juga tidak menutup kemungkinan untuk dapat memberikan sumbangsi dalam hal mengoptimalkan wisata gastronomi di Indonesia. Selainnya, mengoptimalkan wisata gastronomi food vlogger juga bisa menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan sebuah daerah agar dikenal oleh publik. Karena pada dasarnya Sebagian besar food vlogger tidak hanya mengulas makanan, tetapi juga memberikan informasi rinci tentang menu, harga, dan suasana di tempat-tempat yang mereka kunjungi. Ini membantu calon pelanggan untuk membuat keputusan yang lebih informan tentang tempat makan yang mereka pilih. Bagi wisata gastronomi, ini adalah kesempatan untuk mengedukasi pelanggan potensial tentang produk mereka dan menarik minat lebih lanjut.
Zaman sekarang ini makanan pedesaan menjadi salah satu kuliner yang sudah hampir langka karena masuknya makanan-mkanana luar yang dibawa masuk ke Indonesia. Melalui food vlogger hal tersebut dapat di minimalisir dengan memperlihatkan akan potensi keindahan dan kearifan yang masih sangat terjamin di pedesaan. Wisata gastronomi malang (Menikmati Sajian ala Pedesaan di Tomboan Ngawonggo) merupakan salah satu konten food vlogger yang menjelaskan tentang berbagai tempat dengan konsep wisata gastronomi (fine-dining restoran, gastronomi molekuler, dan berbasis budaya). Dalam konten ini vlogger menjelaskan tentang konsep wisata gastronomi yang berbasis budaya yakni Tomboan berada di Kawasan Situs Petirtaan Ngawonggo, sebuah situs dengan karakter petirtaan atau pemandian suci yang berada di Dusun Nanasan, Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dalam konten tersebut dijelaskan sekilas tentang sejarah dari suci Petirtaan Ngawonggo dan juga diajak untuk melihat Kawasan suci Petirtaan Ngawonggo. Kemudian, setelah itu dikenalkan dengan tempat bernama Pawon Dhaharan yakni menjadi tempat penyajian berbagai jenis makanan dan minuman seperti nasi jagung, nasi empok, lodeh rebung, botok simbukan, jajanan tradisional (getuk, sawut, apem, horok-horok, jemblem, lepet, ongol-ongol, putu, lemet, iwel-iwel, getas) dan minuman tradisional (wedang ngawonggo, wedang telang, wedang cempoko, wedang tomboan abang). konten tersebut menjelaskan tentang sajian yang diberikan bukan hanya berupa makanan atau minuman, namun juga sajian atau yang biasa
13
mereka sebut dengan nama suguhan seperti keindahan alam yang selalu mereka jaga dan suasana yang membawa kenyamanan bagi para tamu yang diharapkan dapat menjadi obat kepenatan bagi para pengunjung. Jadi, dalam konten tersebut tidak hanya disinggung tentang kuliner namun juga dijelaskan tentang tempat wisata yang tidak kalah menarik.
Sedikit berbeda dengan vlogger Nex Carlos yang telah menjelajah berbagai daerah untuk mencoba semua kuliner. Jika dalam konten sebelumnya membahas tentang kuliner ala pedesaan, maka Nex Carlos mencoba menjelaskan tentang pemaknaan atau filosofi yang sesungguhnya dari makanan yang telah kita kenal yakni Rendang atau dalam bahasa minangnya disebut sebagai Randang. Dalam konten dijelaskan tentang sebuah rumah makan yang telah di jalankan selama 2 generasi yang dimana awal berdirinya pada tahun 1996 tepatnya di Kota Padang, Sumatera Barat. Hal tersebut dibarengi dengan pembahasan tentang pemaknaan dari makanan rendang (randang). Dalam konten ini, makanan yang menjadi khas langsung dikumpulkan dan di satukan lalu disajikan diatas meja makan yang mereka sebut dengan istilah Hidang, berbeda dengan konten sebelumnya dimana vlogger ikut bersama-sama dalam membuat atau pun menyajikan makanan dan minuman.
Food vlogger menjadi salah satu opsi untuk mempertahankan kearifan lokal yang ada pada masyarakat dan menjadi media promosi agar diketahui oleh masyarakat luas. Norlela salah satu vlogger yang memperkenalkan makanan khas Kalimantan Utara (Dayak Bulusu) yang sebelumnya belum terlalu dikenal banyak orang. Dalam beberapa kontennya, norlela menjelaskan keseharian masyarakat Kalimantan Utara dan memperkenalkan makanan- makanan yang memang biasa mereka konsumsi seperti tembiluk, tamba ikan, dan inau.
Dalam konten-kontennya penonton akan diajak melihat tempat untuk menemukan tembiluk yakni didasar sungai yang sedang surut tepatnya di kayu yang telah busuk. Makanan khas lainnya seperti tamba ikan yang dihasilkan melalui ikan fermentasi selama dua minggu dengan menggunakan dua bahan yakni nasi dan garam, serta inau yang dijadikan sebagai makanan sehari-hari yang dicampur dengan sayur bening. Konten norlela juga banyak menceritakan tentang masyarakat Kalimantan utara (Dayak Bulusu) serta kuliner-kuliner mereka yang masih sangat tradisional.
2.2. Peran Food Vlogger Dalam Meningkatkan Minat Wisata Gastronomi
Food vlogger menjadi bentuk pekerjaan baru yang menampilkan kegiatan atau aktivitasnya terkait eksplorasi makanan melalui sebuah konten yang diupload ke media sosial. Banyak jenis konten makanan yang ditampilkan oleh berbagai food vlogger mulai dari makan dengan jumlah banyak (mukbang), makan di restoran paling mahal, makan
14
makanan yang ekstrim, hingga makan makanan khas masyarakat lokal. Berkaitan dengan itu, potensi kuliner (makanan) yang ada di Indoensia menjadi peluang dalam bidang kepariwisataan yang lebih otentik. Wisata ini dapat menjadi ajang melestarikan nilai dan budaya lokal, serta menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat. Wisata gastronomi sendiri sudah ada sejak dahulu, namun masih kurang populer. Wisata gastronomi menjadi salah satu wisata yang mengundang daya tarik wisatawan, salah-satu negara yang terkenal akan wisata gastronominya adalah Thailand.
Wisata gastronomi di Indonesia masih menjadi potensi yang harus terus dikembangkan layaknya wisata gastronomi di negara tetangga. Oleh karenanya, peran food vlogger dalam menarik minat para masyarakat (penonton) di Indonesia bahkan, dunia menjadi sesuatu yang penting. Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan mengenai peran food vlogger dalam meningkatkan minat wisata gastronomi, terdapat beberapa alasan kuat yang membuat para penonton/masyarakat menjadi tertarik untuk melakukan wisata gastronomi.
Hal ini dapat dijelaskan melalui perilaku konsumen yakni dimana seorang individu memilih terlibat dan menggunakan barang atau jasa tersebut. Menurut Kotler dan Amstrong dalam (Hansvirgo, Leon, Jesselyn, Marcellino, & Hanita, 2023) menyebutkan beberapa faktor yang dapat mempengaruh perilaku konsumen (Sunarto, 2018), seperti : (1) Faktor kebudayaan, yaitu budaya merupakan salah satu faktor yang mendasar dalam mempengaruhi perilaku konsumen, (2) Faktor sosial, yaitu perilaku konsumen juga dipengaruhi oleh faktor sosial, seperti lingkungan, kelompok kecil, keluarga, serta peran dan status dari konsumen sendiri, (3) Faktor Pribadi, yaitu keputusan yang dipengaruhi oleh karakteristik pribadi dari konsumen, seperti usia dan tahap daur hidup, pekerjaan, status ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep diri. Dan yang terakhir adalah (4) Faktor Psikologis, yaitu keputusan yang dipengaruhi juga oleh faktor psikologis, yaitu motivasi, persepsi, pembelajaran, serta keyakinan dan sikap. Berdasarkan keempat faktor tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa penonton (masyarakat) yang diteliti memiliki minat terhadap wisata gastronomi melalui konten food vlogger diklasifikasikan dalam faktor budaya, sosial, psikologis, dan pribadi.
Dari faktor budaya penonton merasakan bahwa dengan adanya konten kuliner lokal yang dipublikasikan oleh food vlogger ada nilai tersendiri dari penyajian makanan tersebut, yang berkaitan juga dengan penerimaan rasa makanan yang dekat dengan lidah masyarakat lokal (budaya Indonesia). Selain itu, berdasarkan faktor sosial, makanan yang ditampilkan para food vlogger memberikan kesan yang dekat dengan makanan disekeliling penonton, sehingga mereka memiliki inisiatif untuk mencoba wisata kuliner lokal yang sama. Faktor
15
psikologis juga menjadi faktor penonton (masyarakat) ingin melakukan wisata gastronomi, melalui konten food vlogger. Hal ini dikarenakan, konten food vlogger telah memberikan banyak informasi, pengetahuan, wawasan baru terkait makanan lokal lainya, mulai dari cara pengolahan (memasak), penyajian, hingga makna filosofis dari sebuah makanan.
Terakhir, faktor pribadi, konten food vlogger seringkali menampilkan gaya penyampaian yang unik seperti intonasi yang lebih tinggi dan cepat. Selain itu, beberapa penonton menjadi tertarik dengan konten-konten kuliner para vlogger juga dikarenakan beberapa hiburan seperti jokes (candaan) yang dilontarkan dan hasil editan video yang menarik.
Dengan alasan tersebut, penonton secara pribadi memiliki ketertarikan terhadap konten makanan lokal, hingga memiliki minat untuk melakukan wisata gastronomi. Beberapa informan juga tertarik pada wisata gastronomi ke wilayah Jawa, Kalimantan, dan Papua.
Food vlogger dalam kontennya tidak hanya berputar pada jenis makanan yang mereka cicipi atau cara mereka menyantap makanan. Lebih dari sekedar aktivitas menyantap makanan, informan juga menjelaskan bahwa beberapa food vlogger juga memberikan informasi, pengetahuan, dan makna filosofi dari makanan yang mereka nikmati. Selain bermanfaat sebagai wawasan baru bagi masyarakat, informan juga berpandangan bahwa konten mereka telah menarik minat yang cukup tinggi untuk masyarakat/penotnon melakukan wisata gastronomi. Seperti, Fitri yang mengatakan bahwa dia sendiri sering berkunjung ke tempat yang disarankan oleh food vlogger.
Pewancara: “Setelah menonton konten Food vlogger apakah Anda jadi ingin untuk melakukan wisata kuliner lokal (gastronomi)?”
Informan: “Tentu saja, saya bahkan sering ke tempat yang disarankan oleh mereka.”
Selain rekomendasi tempat yang disarankan food vlogger, beberapa pengaruh yang dirasakan para penonton juga terkait dengan rasa ingin tahu yang tinggi pada makanan khas lain, bahkan nilai dan makna yang terkandung dalam makanan itu. Seperti Yuyun Hartati yang sangat tertarik untuk mencoba makanan khas lokal lainya.
Pewawancara: Apakah Anda lebih suka menonton konten vlogger yang fokus pada satu jenis makanan atau yang menjelajah berbagai macam kuliner?
Informan: Saya suka yang menjelajahi berbagai macam kuliner karena semakin banyak vlogger yang mereview makanan semakin banyak juga pengetahuan saya mengenai berbagai jenis makanan dari berbagai daerah lain. Karena sepatutnya saya memang hanya mencoba makanan yang ada didaerah saya, jadi dari konten food vlogger saya bisa mengenal berbagai makanan yang ada diindonesia dan mungkin dilain kesempatan saya harus mencobanya.
16
Selain itu, beberapa informan juga mengungkapkan keinginan mereka untuk mencoba makanan khas lain yang memiliki keunikan karena nuansa budaya dan makna filosofinya.
Seperti Nina dan Fitri yang juga tertarik untuk melakukan wisata gastronomi, khususnya menikmati makanan khas masyarakat lain, seperti papeda, kerak telor, makanan khas jawa, dan minang. Ketertarikan yang ditimbul dari konten food vlogger juga memberikan manfaat pengetahuan bagi penontonnya, salah satunya Nina yang menjelaskan bahwa pengetahuan akan filosofi makanan kerak telor khas Jakarta-Betawi didapatkan dari konten food vlogger.
Pewawancara: Berarti kesan informatif terkait makanan dari sisi lain masih kurang menarik perhatian anda ya. Tetapi, tentu anda pernah melihat beberapa konten yang menjelaskan makna filosofi makanan tersebut.
Informan: Benar sekali, untuk kerak telor yang saya ingat itu tantang kepemimpinan, nah artinya seperti ini kerak telor itu kan nanti nya akan di telungkupkan ke arah bara(arang) nya untuk dimasak lagi, nah sebelum dia dibalikkan tentunya bagian atasnya haruslah sudah rekat dengan sempurna sehingga ketika anda membaliknya ke arah arangnya kerak telor tsb tidak hancur dan rusak, demikian seorang pemimpin yang membutuhkan kematangan dari berbagai sisinya untuk di angkat sebagai pemimpin.
Nilai sejarah dalam makanan juga menjadi bentuk nilai yang menjadi penting.
Berdasarkan penjelasan Elopnianto, nilai sejarah dapat diulik, hingga suasana yang sengaja diciptakan untuk meningkatkan esensi makanan menjadi dasar utama yang menjadikan wisata gastronomi menjadi menarik. Melalui konten food vlogger yang pernah ditontonya, yakni wisata gastronomi di Malang di desa Tomboan Ngawonggo.
Pewawancara: Apakah manfaat yang anda dapatkan dari menonton konten food vlogger ini? Seperti informasi terkait bumbunya, filosofi makanan, atau lainnya ?
Informan: Dari video tersebut dapat menambah wawasan saya terhadap wisata kuliner yang unik serta bergaya perdesaan dan juga menambah pengetahuan sejarah singkat daerah tersebut. Sejarah singkat seperti malang raya, merupakan wisata kuliner ala pedesann jaman Majapahit. Dimana menurut saya pribadi hal tersebut sangat menarik sekali, karena wisatanya membuat kita menyatu dengan keindahan alam, Keanekaragaman makanan juga sepertinya enak, sehingga membuat saya ingin mencobanya.
17
Melalui konten food vlogger, banyak dampak yang telah diberikan kepada masyarakat (penonton) kuliner lokal untuk melakukan wisata gastronomi. Sebagai negara yang memiliki potensi pangan yang beragam, seharusnya wisata gastronomi menjadi wisata yang dapat berkembang pesat. Tentu saja, perkembangan itu tidak hanya terkait pada peluang ekonomi, melainkan juga dalam mempertahankan esensi dan nilai makanan khas yang otentik. Melalui penjelasan di atas, peran food vlogger dalam meningkatan minat wisata gastronomi cukup besar. Dengan konten food vlogger, informasi terkait makanan khas lokal yang ada di sepanjang wilayah dapat tereksplor dan menjadi peluang bagi pengembangan wisata gastronomi di Indonesia.
18
DAFTAR PUSTAKA Buku
Sutikno, M. S., & Hadisaputra, P. (2020). Penelitian Kualitatif. Lombok: Holistica.
Jurnal
Effendy, R., Wulandari , P. A., Setiyaningsih, L. A., & Mariani, A. (2021). Mengglobalkan Makanan Tradisional Lewat Media Sosial Youtube Sebagai Budaya Tandingan (Studi Food Vlogger Nex Carlos sebagai Media Promosi Kuliner Lokal). Jurnal Nomosleca, 7(1), 148-159.
Giantara, M. S., & Santoso , J. (2015). Pengaruh Budaya, Sub Budaya, Kelas Sosial, Dan Persepsi Kualitas Terhadap Perilaku Keputusan Pembelian Kue Tradisional Oleh Mahasiswa Di Surabaya . Jurnal Manajemen, 1-17.
Hansvirgo, Leon, J., Jesselyn, Marcellino, & Hanita. (2023). Pengaruh Instagram Vloggers Terhadap Food Branding Dan Keputusan Pembelian Konsumen Di Kota Batam . KREATIF : Jurnal Ilmiah Prodi Manajemen Universitas Pamulang, 51-59.
Safitr, D., Rusli , I., Regina, & Pahlov, S. D. (2023). Peran Food Vlogger Tasyi Athasyia Dalam Mempengaruhi Keputusan Konsumen Pada Pembelian Produk MAKANAN. Jurnal Nomosleca, 9(2), 190-203.
Sholahudin, U. (2019). Globalisasi: Antara Peluang Dan Ancaman Bagi Masyarakat Multikultural Indonesia. Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis, 103-114.
Sufa, S. A., Kusuma, E. A., & Octavianti, M. (2020). Wisata Gastronomi Sebagai Daya Tarik Pengembangan Potensi Daerah Kabupaten Sidoarjo. Mediakom: Jurnal Ilmu Komunikasi Volume, 75-86.
Wulandari, K., Sugandi, & Hairunnisa. (2023). Parasocial Interactions And Loyalty Levels Of Teenagers Ending Korean Pop (K-Pop) Fans In Samarinda. Management Studies and Entrepreneurship Journal, 4(2).
Internet
Pradhana, G. A. (2018, November 15). Consumers and Subcultures. Retrieved from Medium.
com: https://medium.com/@zianpradhana/consumers-and-subcultures-e16924da8f4a Sularjo, R. D. (2023, May 7). Hubungan Parasosial Dalam Dunia Internet. Retrieved May 12,
2023, from Medium.com: https://upi-humanika-fib.medium.com/hubungan-parasosial- dalam-dunia-internet-9ade9b30d8a3
19
LAMPIRAN WAWANCARA Nama : Geralda Giovani
Sumber Video : Ria SW – Hello Madura
1.) Menurut Anda hal apa yang menarik dari menonton video kuliner lokal ?
Menonton kuliner lokal bukan hanya menambah pengetahuan penonton, namun juga meningkatkan keinginan atau hasrat mencicipi makanan tersebut. Kuliner lokal dianggap lebih mudah untuk dijumpai dan lebih sesuai dengan lidah Indonersia, sehingga penonton jug akan lebih mudah untuk mencoba kuliner yang sedan dikontenkan oleh pembuat video 2.) Apa yang membuat Anda menyukai isi konten vlogger ini ?
Konten Creator video tersebut merupakan salah satu konten creator kuliner yang namanya cukup diperhitungkan. Hal ini dikarenakan ciri khas dari video yang dibawakan begitu menarik dari pemilihan konsep video, penjelasan mengenai kuliner, lokasi hingga pengeditan video yang dirasa cukup dekat dengan penonton. Penonton akan merasa lebih interaktif dengan konten yang disajikan karena pengeditan video yang menarik dan juga berisi disisipkan motivasi-motivasi dan hiburan
3.) Apakah Anda merasa tertarik untuk melakukan touring kuliner akibat menonton konten kuliner mereka ?
Tentu saja. Pembawaan dan konsep video yang diberikan menarik rasa penasaran saya untuk mencicipi makanan khas Madura. Dimana bukan hanya mengenalkan makanan
"Bebek Madura" yang sudah sering dikenal, namun juga makanan khas lainnya.
4.) Apakah manfaat yang Anda dapatkan dari menonton konten food vlogger ini ? Seperti informasi terkait bumbunya, filosofi makanan atau lainnya ?
Video yang diberikan meningkatkan contoh kreatifitasan pembuatan video, cara pengambilan dan menggambungan video hingga penjelasan dari konten yang disajikan.
Konten creator menjelaskan rasa dari kuliner yang sedang dicicipi dan menjelaskan tekstur dengan sangat jelas. Konten creator juga memberikan apreasi terhadap kuliner yang dicicipi. Penjelasan mengenai filosofi makanan juga dijelaskan dengan cara yang menarik seperti narasi yang tidak membosankan penonton. Konten creator juga menjelaskan
“patokan” lokasi untuk mendapatkan makanan yang sedang di “review”, bukan hanya penjelasan juga didapatkan dari wawancara singkat dengan penjual dengan cara obrolan antar pembeli dan penjual sehingga informasi yang didapat terasa hangat kepada penonton.
5.) Apakah Anda lebih suka menonton konten vlogger yang fokus pada satu jenis makanan atau yang menjelajahi berbagai macam kuliner ?
Tidak. Konten dengan berbagai jenis kuliner lebih menarik. Hal ini tentu tidak membosankan bagi penonton. Bukan hanya menambah pengetahuan namun juga menghibur. Video Ria SW merupakan salah satu contoh konten yang menarik dalam konsep pemilihan makanan karena walaupun berbeda namun tetap satu rumpun dalam kedaerahan
20
ataupun lokasi makanan tersebut. Sehingga penonton juga lebih mudah dalam mencoba berbagai makanan yang di “review”.
Nama: Pertiwi
Wawancara 1 An. Yuyun Hartati (sebagai salah satu Narasumber penikmat konten food vlogger)
1. Menurut anda apa hal yang menarik dari menonton video kuliner lokal ?
Bisa melihat berbagai macam makanan makanan khas dari berbagai daerah dan juga dapat menambah wawasan mengenai makanan juga dan bisa juga menambah inspirasi untuk mengelola jenis jenis makanan.
2. Apa yang membuat anda menyukai si konten si vlogger ini? (Cara penyampaian kah atau gaya makannya)
Cara penyampaian juga menurut saya menarik karena tidak membosankan, gaya makannya juga membuat kita berselera untuk makan sehingga memikat para penonton untuk mengeksplorasi kuliner-kuliner yang tidak pernah dicoba
3. Apakah anda merasa tertarik untuk melakukan touring makanan, Berwisata kuliner akibat menonton konten kuliner mereka ?
Ya, tentu saja. Karena melihat mereka makan saya juga berselera makan, dan semangat untuk berwisata kuliner juga
4. Apakah manfaat yang anda dapatkan dari menonton konten food vlogger ini?
Seperti informasi terkait bumbunya, filosofi makanan, atau lainnya ?
Saya bisa menambah wawasan mengenai jenis makanan dan bisa me- recook makanan yang menurut saya memang enak dan harus dicoba, jadi saya bisa mengikuti cara dan bagaimana cara mengolah makanan tersebut
5. Apakah Anda lebih suka menonton konten vlogger yang fokus pada satu jenis makanan atau yang menjelajahi berbagai macam kuliner ?
Saya suka yang menjelajahi berbagai macam kuliner karena semakin banyak vlogger yang mereview makanan semakin banyak juga pengetahuan saya mengenai berbagai jenis makanan dari berbagai daerah lain. Karena sepatutnya saya memang hanya mencoba makanan yang ada didaerah saya, jadi dari konten food vlogger saya bisa mengenal berbagai makanan yang ada diindonesia dan mungkin dilain kesempatan saya dapat mencobanya
21 Wawancara 2 An. Elopanianto
1. Menurut anda apa hal yang menarik dari menonton video kuliner lokal ?
Dengan menonton video tersebut dapat menambah pengetahuan saya terhadap makanan khas berbagai daerah
2. Apa yang membuat anda menyukai si konten si vlogger ini? (Cara penyampaian kah atau gaya makannya)
Menurut saya penyampaiannya bagus , jelas dan terperinci, penampilan dari fisik makanan khas nya juga sepertinya enak sehingga menggugah selera para penonton.
Selainnya, vloggernya juga bagus , karena menjelaskan wisata-wisata di daerah tersebut Sehingga menarik perhatian untuk wisata ke tempat tersebut
3. Apakah anda merasa tertarik untuk melakukan touring makanan, Berwisata kuliner akibat menonton konten kuliner mereka ?
Ya , dengan menonton video jajanan diatas keinginantahuan saya terhadap rasa makanan yang khas semakin besar, terlebih saya juga menyukai berbagai jenis ragam Makanan yang baru
4. Apakah manfaat yang anda dapatkan dari menonton konten food vlogger ini?
Seperti informasi terkait bumbunya, filosofi makanan, atau lainnya ?
Dari video tersebut dapat menambah wawasan saya terhadap wisata kuliner yang unik serta modern dan juga menambah pengetahuan sejarah singkat daerah tersebut. Sejarah singkat seperti malang raya , merupakan wisata kuliner ala pedesann jaman Majapahit.
Dimana menurut saya pribadi hal tersebut sangat menarik sekali , karena wisatanya membuat kita menyatu dengan keindahan alam, Keanekaragaman makanan juga sepertinya enak , sehingga membuat kita ingin mencoba
5. Apakah Anda lebih suka menonton konten vlogger yang fokus pada satu jenis makanan atau yang menjelajahi berbagai macam kuliner ?
Menurut saya berbagai macam kuliner lebih menarik karena kita dapat membandingkan jajanan tersebut. Karena dengan menjelajahi berbagai macam kuliner, wawasan Saya mengenai berbagai macam makanan dari setiap daerah akan semakin banyak pula.
Nama: Teresia Sinaga Wawancara I
[15:50, 12/5/2024] teresia sinaga: Halo, perkenalkan saya Teresia. Nah, aku ingin bertanya nih mengenai konten-konten makanan kuliner yang ada di media sosial. Keperluan data ini mau digunakan untuk tulisan mini risetku, kira-kira Nina bersedia, tidak?
22
[15:51, 12/5/2024] Nina: Halo Kk Teresia, saya bersedia.
[15:51, 12/5/2024] teresia sinaga: Baik, terima kasih.
[15:51, 12/5/2024] teresia sinaga: Sebelumnya, apakah nina pengguna sosial media tiktok, Instagram dan YouTube?
[15:52, 12/5/2024] Nina: Ya
[15:52, 12/5/2024] teresia sinaga: Nina sendiri suka gak menonton konten food vlogger di media sosial?
[15:53, 12/5/2024] Nina: Ya, saya suka
[15:53, 12/5/2024] teresia sinaga: Menurut Nina sendiri apa sih hal yang menarik dari menonton video tentang kuliner lokal gitu?
[15:54, 12/5/2024] teresia sinaga: Nina bisa voice note kalau ingin menjelaskan secara detail [15:57, 12/5/2024] Nina: Menurut saya yang menarik dari konten seperti itu yang terpenting pembawaan sang konten kreator. jika pembawaannya menarik tentu saja saya lanjut menonton dan hal lain yang saua rasa menarik ialah jenis makanan yang akan di makan oleh si konten kreator
[15:58, 12/5/2024] teresia sinaga: Hal yang menarik seperti pembawaan ini secara spesifik seperti apa nin? Apakah selingan suara, ada jokesnya, atau mimik wajah yang jujur?
[15:59, 12/5/2024] Nina: Seperti halnya mimik wajahnya Dan juga suaranya [15:59, 12/5/2024] teresia sinaga: Berati ada keunikan ya dari pembawaan nya
[15:59, 12/5/2024] teresia sinaga: Lantas untuk makanan nya sendiri, kenapa Kaka suka dengan kuliner lokal yang dibawakan oleh si vlogger?
[16:01, 12/5/2024] teresia sinaga: Mengapa tidak kuliner yang trend dan cukup modern?
[16:02, 12/5/2024] Nina: Untuk beberapa video yang saya tonton saya suka karna makanannya yang terlihat sangat menggiurkan
[16:03, 12/5/2024] teresia sinaga: Setelah menonton konten makanannya, apakah anda jadi kepengen untuk melakukan wisata kuliner seperti sang vlogger atau tidak?
[16:06, 12/5/2024] Nina: Untuk kuliner yang cukup modern kadang kala saya melihatnya namun tidak cukup membuat saya tertarik
[16:07, 12/5/2024] Nina: Saya jelas tertarik
[16:07, 12/5/2024] teresia sinaga: Kira-kira jenis makanan kuliner lokal apa yang jadi ingin anda coba?
[16:09, 12/5/2024] Nina: Kerak telor dan papeda
[16:09, 12/5/2024] teresia sinaga: Wow menarik sekali...
23
Jadi keinginan anda untuk berwisata makanan atau kuliner meningkat ya karena menonton konten food vlogger
[16:10, 12/5/2024] Nina: Tentu saja kaka Teresia
[16:10, 12/5/2024] teresia sinaga: Lantas apa sih manfaat secara gak langsung yang anda rasakan setelah menonton konten food vlogger? Apakah anda jadi tahu informasi tentang makanan khas itu?
[16:13, 12/5/2024] Nina: Yap,saya mengetahui sedikit banyak bagaimana makanan itu dibuat dan terbuat dan bagaimana sensasinya di dalam mulut ketika anda mengunyah makan itu,serta apa rasa yang dominan di makanan tsb
[16:15, 12/5/2024] teresia sinaga: Menarik sekali.
Lantas untuk makanan nya sendiri, apakah ada informasi yang anda dapatkan dari sisi sosial budayanya? Seperti dia berasal dari etnis mana, dan makna yang terkandung (filosofi) dalam makanan tersebut?
[16:15, 12/5/2024] teresia sinaga: Semisal ikan na niarsik, ada makna filosofi bagi orang Batak.
Dimana ada unsur perlindungan nya
[16:16, 12/5/2024] Nina: Didalam beberapa video yang saya tonton kadang kala mereka membuat filosofi makanan tersebuta namun Karna saya fokusnya ke makanannya saja jadi saya tidak terlalu memerhatikan, mohon maaf
[16:18, 12/5/2024] teresia sinaga: Berarti kesan informatif terkait makanan dari sisi lain masih kurang menarik perhatian anda ya. Tetapi, tentu anda pernah melihat beberapa konten yang menjelaskan makna filosofi makanan tersebut.
[16:22, 12/5/2024] Nina: Benar sekali,untuk kerak telor yang saya ingat itu tantang kepemimpinan,nah artinya seperti ini kerak telor itu kan nanti nya akan di telungkupkan ke arah bara(arang) nya untuk dimasak lagi,nah sebelum dia dibalikkan tntunya bagian atas nya haruslah sudah rekat dengan sempurna sehingga ketika anda membaliknya ke arah arangnya kerak telor tsb tidak hancur dan rusak,demikian seorang pemimpin yang membutuhkan kematangan dari berbagai sisinya untuk di angkat sebagai pemimpin
[16:23, 12/5/2024] teresia sinaga: Menarik, itu konten vlogger makanan yang anda sukai siapa?
Ini kalau lupa juga ga papa si
[16:25, 12/5/2024] Nina: Lupa, Karna fyp media sosial saya sudah jarang tentang konten kuliner
[16:26, 12/5/2024] teresia sinaga: Oiya ya
24 Wawancara II
[15:58, 12/5/2024] teresia sinaga: Sebelumnya, apakah kak fitri pengguna sosial media tiktok, Instagram dan YouTube?
[15:59, 12/5/2024] Fitri Samosir: Iya
[16:00, 12/5/2024] teresia sinaga: Menurut anda sendiri apa sih hal yang menarik dari menonton video tentang kuliner lokal gitu?
[16:00, 12/5/2024] teresia sinaga: Mau voice note juga bisa
[16:03, 12/5/2024] Fitri Samosir: Yang menarik dari kuliner lokal itu adalah rasa yang sudah sesuai dengan lidah masyarakat Indonesia. Selain itu kuliner lokal itu unik dan resepnya kadang sudah turun temurun.
[16:05, 12/5/2024] teresia sinaga: Lantas, apa yang anda sukai dari konten si vlogger makanan?
Adakah hal unik yang membuat anda tertarik untuk menonton konten kulinernya? Seperti cara bicara, jokes, atau gaya makan, atau memveri makna makanan yang ia makan?
[16:07, 12/5/2024] Fitri Samosir: Konten vlogger Makanan itu biasanya menyenangkannya dan menyediakan video ringan dengan gaya bahasa yang cukup santai selain itu ada informasi baru yang ia sampaikan tentang makanan yang ia sedang review.
[16:08, 12/5/2024] teresia sinaga: Informasi baru yang anda maksudkan itu terkait apa? Apakah bahan/bumbunya atau makna dari makanan tersebut?
[16:09, 12/5/2024] Fitri Samosir: Informasi yang saya dapatkan yaitu tentang cara pengolahan makanan, rasa serta lokasi saya dapat membeli makanan tersebut
[16:11, 12/5/2024] teresia sinaga: Baik.
[16:11, 12/5/2024] teresia sinaga: Setelah menonton konten food vlogger apakah anda jadi kepengen untuk melakukan wisata kuliner lokal?
[16:11, 12/5/2024] Fitri Samosir: Tentu saja
[16:12, 12/5/2024] Fitri Samosir: Saya bahkan sering ketempat tempat yang disarankan oleh mereka
[16:13, 12/5/2024] teresia sinaga: Wah, menarik sekali.
Kira kira, ada nggak jenis makanan kuliner lokal yang ingin anda cobain setelah menonton konten food vlogger? Mungkin makanan khas Kalimantan dll
[16:14, 12/5/2024] Fitri Samosir: Makanan khas daerah Jawa , Minang bahkan meskipun saya orang Batak , saya juga masih tertarik untuk mencoba makanan khas Batak yang di review oleh conten creator
[16:17, 12/5/2024] teresia sinaga: Okey, aku juga suka makanan Jawa wkwk.
25
Kalau begitu, ada gak sih konten food vlogger yang menjelaskan makna filosofi dari makanan atau penyajian makanan yang mereka nikmati?
Atau bahkan, mereka berhasil mengulik sisi sosial budaya dari makanan itu sendiri?
Mungkin anda bisa menceritakan nya jika anda pernah melihatnya
[16:19, 12/5/2024] Fitri Samosir: Tentuu ada bahkan saya suka jika ada konten yang lebih menjelaskan asal muasal dari makan tersebut. Misalnya makanan tersebut berasal dari satu daerah tertentu dan cara pengolahan masakan masih secara tradisional agar menjaga rasa dan budaya yang sudah melekat didalam nya. Itu menjadi hal yang unik yang menciptakan value atas makanan itu sendiri. Dan saya sangat tertarik ingin mencoba makanan Makanan tersebut.
[16:20, 12/5/2024] teresia sinaga: Baik, terima kasih saudari lasro atas jawabannya