• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODUL 3 (Faktor daya)-PRINT

N/A
N/A
Ikhsan Heru Ramadhan

Academic year: 2023

Membagikan "MODUL 3 (Faktor daya)-PRINT"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

MODUL III

MENGHITUNG FAKTOR DAYA

MEMAHAMI SIFAT BEBAN LISTRIK (RESISTIF,INDUKTIF,KAPASITIF) MENGHITUNG KEBUTUHAN PEMAKAIAN LISTRIK

ِميِح ّرلا ِنمْح ّرلا ِهللا ِمْسِب

1.1

Kegiatan Belajar 1 (Waktu Belajar 120 menit) A. Tujuan Kegiatan Pembelajaran

Setelah menyelesaikan kegiatan belajar ini, peserta pelatihan diharapkan dapat:

1. Memahami Daya listrik dan faktor daya listrik

2. Memahami sifat beban listrik (resistif, induktif dan kapasitif) 3. Menghitung kebutuhan pemakaian daya listrik

B. Teori Dasar 1. Daya listrik Pengertian Daya

Daya adalah energi yang dikeluarkan untuk melakukan usaha.

Dalam sistem tenaga listrik, daya merupakan jumlah energi yang digunakan untuk melakukan kerja atau usaha. Daya listrik biasanya dinyatakan dalam satuan Watt atau Horsepower (HP), Horsepower merupakan satuan daya listrik dimana 1 HP setara 746 Watt atau lbft/second. Sedangkan Watt merupakan unit daya listrik dimana 1 Watt memiliki daya setara dengan daya yang dihasilkan oleh perkalian arus 1 Ampere dan tegangan 1 Volt.

Daya dinyatakan dalam P, Tegangan dinyatakan dalam V dan Arus dinyatakan dalam I, sehingga besarnya daya dinyatakan :

P = V x I

P = Volt x Ampere x Cos φ P = Watt

(2)

Gambar 1. Arah aliran arus listrik

Daya Aktif

Daya aktif (Active Power) adalah daya yang terpakai untuk melakukan energi sebenarnya. Satuan daya aktif adalah Watt. Misalnya energi panas, cahaya, mekanik dan lain – lain.

P = V. I . Cos φ P = 3 . VL. IL . Cos φ

Daya ini digunakan secara umum oleh konsumen dan dikonversikan dalam bentuk kerja.

Daya Reaktif

Daya reaktif adalah jumlah daya yang diperlukan untuk pembentukan medan magnet. Dari pembentukan medan magnet maka akan terbentuk fluks medan magnet. Contoh daya yang menimbulkan daya reaktif adalah transformator, motor, lampu pijar dan lain – lain. Satuan daya reaktif adalah Var.

Q = V.I.Sin φ Q = 3 . VL. IL. Sin φ Daya Nyata

Daya nyata (Apparent Power) adalah daya yang dihasilkan oleh perkalian antara tegangan rms dan arus rms dalam suatu jaringan atau daya yang merupakan hasil penjumlahan trigonometri daya aktif dan daya reaktif. Satuan daya nyata adalah VA

(3)

Gambar 2. Penjumlahan trigonometri daya aktif, reaktif dan semu S = P + jQ, mempunyai nilai/ besar dan sudut

S = S φ

S = √P2 + √Q2 φ

Untuk mendapatkan daya satu phasa, maka dapat diturunkan persamaannya seperti dibawah ini :

S = P + jQ P = V.I Cos φ Q = V. I Sin φ Maka :

S= V. I. Cos φ + j V. I Sin φ S= V. I. (Cos φ + j Sin φ) S= V. I. ej φ S1 φ = V. I φ

S1 φ = V. I *

Sedangkan untuk rangkaian tiga phasa mempunyai 2 bentuk hubungan yaitu :

Hubungan Wye (Y)

(4)

Gamba r 3.

Hubung an bintang Dimana

:

(5)

VRS = VRT = VST = VL ; Tegangan antar phasa VRN = VSN =VTN = VP ; Tegangan phasa IR = IS = IT = IL (IP) ; Arus phasa /Arus saluran

Bila IL adalah arus saluran dan IP adalah arus phasa, maka akan berlaku hubungan : IL = IP

VL = 3 VP

Hubungan Delta (∆)

Gambar 4. Hubungan delta Dimana :

Bila VL adalah tegangan antar phasa dan VP adalah tegangan phasa maka berlaku hubungan :

VL = VP IL = 3 . IP

Dari kedua macam rangkaian di atas, untuk mendapatkan daya tiga phasanya maka dapat digunakan rumus :

S(3) = 3 . VL. IL Segitiga Daya

Segitiga daya merupakan segitiga yang menggambarkan hubungan matematika antara tipe- tipe daya yang berbeda (Apparent Power, Active Power dan Reactive Power) berdasarkan prinsip trigonometri.

(6)

Gambar 5. Diagram faktor daya

S = √P2 + √Q2 φ P = S / Cos φ Q = S / Sin φ 2. Faktor Daya

Faktor daya (Cos φ ) dapat didefinisikan sebagai rasio perbandingan antara daya aktif (Watt) dan daya nyata (VA) yang digunakan dalam sirkuit AC atau beda sudut fasa antara V dan I yang biasanya dinyatakan dalam cos φ .

Faktor Daya = Daya Aktif (P) / Daya Nyata (S)

= kW / kVA

= V.I Cos φ / V.I

= Cos φ

Faktor daya mempunyai nilai range antara 0 – 1 dan dapat juga dinyatakan dalam persen. Faktor daya yang bagus apabila bernilai mendekati satu.

Tan φ = Daya Reaktif (Q) / Daya Aktif (P)

= kVAR / kW

karena komponen daya aktif umumnya konstan (komponen kVA dan kVAR berubah sesuai dengan faktor daya), maka dapat ditulis seperti berikut :

Daya Reaktif (Q) = Daya Aktif (P) x Tan φ

sebuah contoh, rating kapasitor yang dibutuhkan untuk memperbaiki faktor daya sebagai berikut :

Daya reaktif pada pf awal = Daya Aktif (P) x Tan φ1 Daya reaktif pada pf diperbaiki = Daya Aktif (P) x Tan φ2

sehingga rating kapasitor yang diperlukan untuk memperbaiki faktor daya adalah

(7)

Daya reaktif (kVAR) = Daya Aktif (kW) x (Tan φ1 - Tan φ2)

Faktor daya terdiri dari dua sifat yaitu faktor daya “leading” dan faktor daya

“lagging”. Faktor daya ini memiliki karakteristik seperti berikut : Faktor Daya “leading

Apabila arus mendahului tegangan, maka faktor daya ini dikatakan “leading”.

Faktor daya leading ini terjadi apabila bebannya kapasitif, seperti capacitor, synchronocus generators, synchronocus motors dan synchronocus condensor.

Gambar 6. Faktor daya “leading

(8)

Gambar 7.

Segitiga daya untuk beban kapasitif

(9)

Faktor Daya “lagging

Apabila tegangan mendahului arus, maka faktor daya ini dikatakan “lagging”.

Faktor daya lagging ini terjadi apabila bebannya induktif, seperti motor induksi, AC dan transformator.

Gambar 8. Faktor daya “lagging

Gambar 9. Segitiga daya untuk beban induktif 3. Sifat Bebab Listrik

Dalam suatu rangkaian listrik selalu dijumpai suatu sumber dan beban.

Bila sumber listrik DC, maka sifat beban hanya bersifat resistif murni, karena frekuensi sumber DC adalah nol.

Reaktansi induktif (XL) akan menjadi nol yang berarti bahwa induktor tersebut akan short circuit. Reaktansi kapasitif (XC) akan menjadi tak berhingga yang berarti bahwa kapasitif tersebut akan open circuit. Jadi sumber DC akan mengakibatkan beban beban induktif dan beban kapasitif tidak akan berpengaruh pada rangkaian. Bila sumber listrik AC maka beban dibedakan menjadi 3 sebagai berikut :

(10)

Beban resistif yang merupakan suatu resistor murni, contoh : lampu pijar, pemanas. Beban ini hanya menyerap daya aktif dan tidak menyerap daya reaktif sama sekali. Tegangan dan arus se-fasa. Secara matematis dinyatakan :

R = V / I

Gambar 10. Arus dan tegangan pada beban resistif 3.2 Beban induktif

Beban induktif adalah beban yang mengandung kumparan kawat yang dililitkan pada sebuah inti biasanya inti besi, contoh : motor – motor listrik, induktor dan transformator. Beban ini mempunyai faktor daya antara 0 – 1 “lagging”. Beban ini menyerap daya aktif (kW) dan daya reaktif (kVAR). Tegangan mendahului arus sebesar φ°. Secara matematis dinyatakan :

XL = 2πf.L

Gambar 11. Arus, tegangan dan GGL induksi-diri pada beban induktif 3.3 Beban Kapasitif

Beban kapasitif adalah beban yang mengandung suatu rangakaian kapasitor. Beban ini mempunyai faktor daya antara 0 – 1 “leading”. Beban ini menyerap daya aktif (kW) dan mengeluarkan daya reaktif (kVAR). Arus mendahului tegangan sebesar φ°. Secara matematis dinyatakan :

XC = 1 / 2πfC

(11)

Gambar 12 Arus, tegangan dan GGL induksi-diri pada beban kapasitif 4. Meningkatkan Faktor Daya

Beberapa keuntungan meningkatkan faktor daya :

 Tagihan listrik akan menjadi kecil (PLN akan memberikan denda jika pf lebih kecil dari 0,85)

 Kapasitas distribusi sistem tenaga listrik akan meningkat

 Mengurangi rugi – rugi daya pada sistem

 Adanya peningkatan tegangan karena daya meningkat.

Jika pf lebih kecil dari 0,85 maka kapasitas daya aktif (kW) yang digunakan akan berkurang. Kapasitas itu akan terus menurun seiring dengan menurunnya pf sistem kelistrikan. Akibat menurunnya pf maka akan timbul beberapa persoalan diantaranya :

 Membesarnya penggunaan daya listrik kWH karena rugi – rugi

 Membesarnya penggunaan daya listrik kVAR

 Mutu listrik menjadi rendah karena jatuh tegangan (voltage drops)

Denda atau biaya kelebihan daya reaktif dikenakan apabila jumlah pemakaian kVARH yang tercatat dalam sebulan lebih tinggi dari 0,62 jumlah kWH pada bulan yang bersangkutan sehingga pf rata – rata kurang dari 0,85.

sedangkan perhitungan kelebihan pemakaian kVARH dalam rupiah menggunakan rumus sebagi berikut :

Kelebihan pemakaian kVARH = [ B – 0,62 ( A1 + A2 )] Hk dimana :

B = pemakaian kVARH A1 = pemakaian kWH WPB A2 = pemakaian kWH LWBP

Hk = harga kelebihan pemakaian kVARH

(12)

Gambar 13. Hubungan daya aktif, reaktif dan kapasitansi

Seperti terlihat pada gambar 13, daya reaktif yang dibutuhkan oleh induktansi selalu mempunyai beda fasa 90° dengan daya aktif. Kapasitor menyuplai kVAR dan melepaskan energi reaktif yang dibutuhkan oleh induktor. Ini menunjukan induktansi dan kapasitansi mempunyai beda fasa 180°.

Beberapa strategi untuk koreksi faktor daya adalah :

 Meminimalkan operasi dari beban motor yang ringan atau tidak bekerja

 Menghindari operasi dari peralatan listrik diatas tegangan rata – ratanya

 Mengganti motor – motor yang sudah tua dengan energi efisien motor.

Meskipun dengan energi efisien motor, bagaimanapun faktor daya diperngaruhi oleh beban yang variasi. Motor ini harus dioperasikan sesuai dengan kapasitas rat – ratanya untuk memperoleh faktor daya tinggi.

 Memasang kapasitor pada jaringan AC untuk menurunkan medan dari daya reaktif. Selain itu, pemasangan kapasitor dapat menghindari :

 Trafo kelebihan beban (overload), sehingga memberikan tambahan daya yang tersedia

Voltage drops pada line ends

 Kenaikan arus / suhu pada kabel, sehingga mengurangi rugi – rugi.

Untuk pemasangan Capasitor Bank diperlukan :

 Kapasitor, dengan jenis yang cocok dengan kondisi jaringan

 Regulator, dengan pengaturan daya tumpuk kapasitor (Capasitor

(13)

 Kontaktor, untuk switching kapasitor

 Pemutus tenaga, untuk proteksi tumpuk kapasitor.

Pada gambar 14, segitiga daya menunjukan faktor daya 0,70 untuk 100 kW (daya aktif) beban induktif. Daya reaktif yang dibutuhkan oleh beban adalah 100 kVAR. Dengan memasang 67 kVAR kapasitor, daya nyata akan berkurang dari 142 menjadi 105 kVA. Hasilnya terjadi penurunan arus 6%

dan faktor daya meningkat menjadi 0,95.

Energi listrik digunakan berbanding lurus dengan biaya produksi yang dikeluarkan. Semakin besar energi listrik yang digunakan maka semakin besar biaya produksi yang dibutuhkan. Dengan menggunakan power monitoring system dapat diketahui pemakaian energi listrik dan kondisi energi listrik dari peralatan listrik sehingga menigkatkan efisiensi dari energi listrik yang digunakan dalam pekerjaan dan meminimalkan rugi – rugi pada sistem untuk penyaluran energi listrik yang lebih efisien dari sumber listrik ke beban.

Gambar 14. Kompensasi daya reaktif 5. Kompensasi Daya

(14)

cara yang biasa digunakan adalah sebagai berikut : 5.1 Metoda Perhitungan Biasa

Data yang diperlukan antara lain adalah daya aktif (kW). Power factor lama (Cos θ1) dan Power factor baru (Cos θ2). Daya yang diperoleh dari persamaan : S = P / Cos θ1

keterangan : S = Daya nyata (kVA) P = Daya aktif (kW)

Daya reaktif dari pf lama dan pf baru diperoleh dari persamaan : QL = P Tan θ1

QB = P Tan θ2 keterangan :

QL = Daya reaktif pf lama (kVAR) QB = Daya reaktif pf baru (kVAR)

Daya reaktif yang dikompensasi oleh capacitor bank adalah : QC = QL - QB

keterangan : QC = Daya yang dikompensasi kapasitor (kVAR) contoh perhitungan :

Data yang diketahui :

Daya nyata 22 MVA, Tegangan 20 kV, 3 Phasa, 50 Hz, Cos θ1 = 0.5 lag, Cos θ2 = 0.95 lag Perhitungan :

Cos θ1 = 0.5 --- Tan θ1 = 1,732 Cos θ2 = 0.95 --- Tan θ2 = 0,3287 P = S Cos θ1

P = 22 x 106 x Cos 0,5 P = 11 MVA

maka : QC = QL - QB

QC = P [ Tan θ1 - Tan θ2 ]

QC = 11 x 106 [ 1,732 0,3287 ] QC = 15, 4363 MVAR

5.1 Metoda Tabel Kompensasi

Untuk menghitung besarnya daya reaktif dapat dilakukan melalui tabel

(15)

mula sebesar Cos θ1 dan faktor daya yang diinginkan Cos θ2 maka besarnya faktor pengali dapat dilihat melalui tabel kompensasi. D engan kasus yang sama tetapi diselesaikan dengan Tabel Cos θ Untuk Kompensasi. Data semula adalah :

Daya nyata 22 MVA, Tegangan 20 kV, 3 Phasa, 50 Hz, Cos θ1 = 0.5 lag, Cos θ2 = 0.95 lag

perhitungan :

Dari nilai Cos θ1 = 0.5 lag sebelum dan Cos θ2 = 0.95 lag yang diinginkan maka dilihat dalam Tabel Cos θ Untuk Kompensasi

Cos θ nilainya adalah 1,4.(lihat tabel dibawah) Kemudian tentukan nilai beban daya aktif : P = S Cos θ1

P = 22 x 106 x Cos 0,5 P = 11 MVA

setelah nilai beban aktif diketahui maka tinggal dikalikan dengan hasil pengali yang diperoleh dari Tabel Cos θ, yaitu :

P = 11 MVA x faktor pengali P = 11 MVA x 1,4

P = 15,4 MVAR

Dari hasil perhitungan yang berbeda didapat diperoleh hasi yang sama.

Berikut data tabel kompensasi :

(16)

Tabel 1. Tabel Cos θ Untuk Kompensasi

(17)

6. Menghitung Kebutuhan Pemakaian Daya Listik Yang Terdapat Dirumah Rumus yang digunakan ialah :

S = V x I , hasilnya menggunakan satuan VA (Volt Ampere).

Misalkan :

Listrik dirumah anda menggunakan arus 1 phase (220 volt) dengan MCB 10 A maka untuk menghitung daya listriknya menggunakan rumus dibawah ini.

S = 220 V x 10 Amp = 2200 VA.

Seharusnya, untuk 1 Phase :

P = V x I x Cos φ (phi), untuk cos φ (power factor) bisa bernilai 0,8 atau 1. P = 220 V x 10 Amp x 0,8 = 1760 watt.

P = 220 V x 10 Amp x 1 = 2200 watt.

Jadi kalau dirumah, beban pemakaian mempunyai Cos Q (Power factor) 0.8, maka dengan berlangganan 2200 VA (Limiter 10 Amp), kita hanya bisa memakai 1760 watt saja. Sedangkan jika Cos φ (power factor) 1, maka anda bisa memakai 2200 watt.

Untuk 3 Phase:

P = V x I x V3 (akar tiga) x Cos φ.

Contoh : : 1. P = 380 V x 10 Amp x 1,73 x 0,8 = 5259.2 watt.

2. P = 380 V x 10 Amp x 1,73 x 1 = 6574 watt.

Catatan :

1. Dalam perhitungan 3 phase harus selalu disertakan V3 (akar tiga).

2. Cos φ adalah Power Factor.

3. Satuan VA untuk daya semu sedangkan untuk watt adalah daya nyata.

1.2

Praktikum (Waktu 120 menit) Cara Hitung Kwh Perbulan

(18)

berapa rupiah biayanya, tergantung dari daya langganan listrik di tempat kita. tiap langganan daya mempunyai tarif yang berbeda-beda satu sama lain. dengan daya 1000 watt/jam ( = 1 KWH) dan misal lama pemakaian 1 jam/hari, maka bisa dihitung sebagai berikut:

1 KWH x 1 jam x 30 hari = 30 KWH/bulan

Apabila kita berlangganan daya listrik dengan daya 1.300 VA sesuai dengan ketentuan tarif dasar listrik baru tahun 2019, biaya per KWH yaitu Rp 1.400

Kurang lebih biaya yang dikeluarkan adalah:

Biaya listrik/Bulan = Total KWH/Bulan x Tarif/KWH

= 30 kwh x Rp 1.400 = Rp 42.000

Mungkin kurang lebih biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 42.000,-

Referensi

Dokumen terkait

Abdul Aziz Singkawang total penggunaan energi listrik (kWh) rumah sakit untuk tahun 2014 adalah sebesar 1.131.500 kWh dan rata-rata konsumsi energi listriknya per bulan adalah

Daya reaktif ini di generator sangat diperlukan untuk mengatur tegangan pendorong arus ke beban, tetapi di pihak beban dapat timbul daya reaktif karena beban induktif atau

Pada prinsipnya, dalam perbaikan PF agar nilai PF ≈ 1, sebuah kapasitor daya ac (kapasitor bank) harus mempunyai nilai daya reaktif kompensator Qc yang sama dengan

V : tegangan sisi sekunder transformator (kV) Rugi-rugi daya akibat adanya arus netral pada penghantar netral Transformator.. Sebagai akibat dari ketidakseimbangan

Gambar 9 menunjukkan laporan pemakaian listrik dalam jangka waktu satu bulan, dan didapatkan hasil total penggunaan listrik sebesar 317,076447 KWh dengan total

itu perlu dilakukan suatu analisis untuk mencari nilai daya reaktif yang tepat dan.. optimal untuk mengurangi rugi-rugi daya pada sistem

Berdasarkan perhitungan yang tertera pada Tabel 4.3 - Pengurangan Energi Listrik Per Tahun (kWh) Setelah Dilakukan Peningkatan Faktor Daya Lampu 11 W Dari 0.47 Menjadi 0.58,

Hasil kesimpulan analisis rugi-rugi daya adalah puncak rugi-rugi daya tertinggi yang terjadi pada tanggal 25 september sebesar 0,074559 MW dan kehilangan daya terendah pada tanggal 22