• Tidak ada hasil yang ditemukan

72464 Modul 5 Implementasi Penanganan Lereng Terhadap Bahaya Longsor

N/A
N/A
C1@20-044_ I Komang Dede Aryana Sagita Putra

Academic year: 2023

Membagikan "72464 Modul 5 Implementasi Penanganan Lereng Terhadap Bahaya Longsor"

Copied!
103
0
0

Teks penuh

Konstruksi Pelebaran Jalan menggunakan material ringan pada morfologi perbukitan untuk mengurangi beban yang berdampak pada peningkatan momen berkendara..49 Gambar 41. Beberapa alternatif teknologi yang dapat digunakan untuk mengatasi keruntuhan tanggul yang dibangun di atas tanah lunak..84 Gambar 59.

Latar Belakang

Secara teknis dapat dijelaskan bahwa tanah longsor terjadi karena perubahan keseimbangan antara gaya-gaya yang ditimbulkan oleh torsi penggerak tidak dapat diseimbangkan dengan gaya-gaya yang dibentuk oleh torsi penahan. Secara tegas dapat kita jelaskan bahwa tanah longsor terjadi karena daya penggeraknya tidak didukung oleh kekuatan perlawanan, sehingga tanah longsor yang terjadi dapat dikelompokkan menjadi tanah longsor, tanah longsor batu, dan gabungan tanah longsor dan tanah longsor, serta tanah longsor alami dan buatan.

Diskripsi Singkat

Penyebab tanah longsor lainnya adalah curah hujan yang tinggi dan dampak perubahan cuaca akibat pemanasan global.Dengan demikian, tanah longsor disebabkan oleh kondisi geologi batuan dasar yang mengalami perubahan karakteristik akibat degradasi seiring waktu geologi, kondisi geomorfologi. , kondisi topografi, kondisi geohidrologi, kondisi pola aliran, kondisi tingkat cuaca, kondisi perubahan iklim serta gempa bumi dan gunung berapi. Penanganan bencana tanah longsor yang hanya berdasarkan trial and error saja akan kurang berhasil karena tidak cukup mengatasi kasus tersebut dan tidak memadai.

Tujuan Pembelajaran

Kompetensi Dasar

Indikator Keberhasilan

Materi Pokok dan Sub Materi Pokok

Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta mampu memahami hubungan stabilitas lereng dengan karakteristik dan mekanisme longsor dalam pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan.

Umum

Penanganan Sementara

Teknik Teknik Penanggulangan Preventif Non Permanen

Pada lereng yang longsor perlu segera dilakukan penanganan darurat berupa penumpukan kayu (balok kayu) bergantian dengan kayu yang diisi karung pasir hingga membentuk lereng seperti semula. Perawatan darurat terhadap kerusakan pada struktur pelindung lereng bangunan yang terdiri dari beton bertulang, pasangan bata, dan penunjuk.

Penyesuan Geometri Lereng

Penerapan metode geometri lereng dapat dilakukan dengan cara menggergaji bagian atas lereng yang ternyata dapat mengurangi beban sehingga mengakibatkan peningkatan torsi penggerak dan akumulasi pada dasar lereng sebagai upaya untuk menambah beban. . yang meningkatkan momen resistensi. Gaya penyebab momen penggerak yang berupa berat massa longsor W1 (ABED) dapat dikurangi dengan cara memotong sebagian massa tanah (ABC) sebagai beban yang menimbulkan momen penggerak.

Gambar 3. Metode Geometri dengan Pemotongan Bagian Atas Lereng sebagai Beban yang mengakibatkan Momen Pendorong
Gambar 3. Metode Geometri dengan Pemotongan Bagian Atas Lereng sebagai Beban yang mengakibatkan Momen Pendorong

Mengendalikan Air Permukaan

Mengendalikan Air Bawah Permukaan

  • Horisontal Drain
  • Sumuran kolektor
  • Penyalir Tegak (vertical drain) dan Penyalir Pencegat (interceptor
  • Konstruksi Penahan Penanganan longsoran tipe gelinciran (Rotasi)
  • Konstruksi Penahan Penanganan Longsoran tipe Debris, Avalance dan
  • Stabilitas Lereng Timbunan pada Morfologi Lereng Pegunungan /
  • Stabilitas Lereng Timbunan pada Morfologi Dataran
  • Pemilihan Penanganan Timbunan Oprit

Sump dimaksudkan untuk menahan dan menampung aliran air dari saluran bawah laut atau permukaan sebelum dialirkan keluar dari zona slip dan ditunjukkan pada Gambar 2-8. Di bawah ini adalah kasus tanah longsor yang terjadi pada tanggul jalan yang dibangun dengan morfologi miring dan ditunjukkan pada Gambar 18.

Gambar 7. Horisontal Drain
Gambar 7. Horisontal Drain

Mekanisme Keruntuhan Lereng berupa Longsoran Batuan

Mekanisme Tipe Longsoran Batuan

Mekanisme Pergerakan Longsoran Batuan

Hal lain yang menjadi pemicu laju terjadinya tanah longsor juga dipengaruhi oleh besarnya gempa yang terjadi sehingga dengan mengetahui besaran gempa tersebut dapat direncanakan pilihan penanganan yang tepat dan sesuai. Untuk mengetahui besaran gempa, Anda bisa melihat peta gempa yang diterbitkan Kementerian Pekerjaan Umum pada tahun 2010.

Gambar 25. Hubungan Longsoran Batuan dan Longsoran Tanah diperhatikan terhadap kecepatan pergerakannya
Gambar 25. Hubungan Longsoran Batuan dan Longsoran Tanah diperhatikan terhadap kecepatan pergerakannya

Pemilihan Konstruksi Penahan Penanganan longsoran Batuan yang sesuai

Identifikasi dan Penciri-an Tipe Longsoran Batuan

Metode Analisa dalam

Merekayasa perkuatan Lereng Batuan dengan Penambatan

  • Prinsip Penanganan dengan Penambatan Batuan
  • Tumpuan Beton
  • Baut Batuan
  • Pengikat Batuan
  • Jangkar Kabel
  • Beton Semprot
  • Dinding Tipis
  • Implementasi terhadap perkuatan Lereng Batuan

Anchorage dalam konstruksi perkuatan lereng batuan agar kokoh, meliputi penyangga beton, baut batuan, pita batuan, angkur kabel dan shotcrete. 2) Penambatan batu untuk melindungi pengguna jalan. Penanggulangannya dimulai dengan merobohkan batu-batu yang menggantung karena dapat membahayakan lalu lintas mobil, seperti terlihat pada Gambar 30. Pemasangan baut batuan dilakukan untuk memperkuat massa batuan yang terbentuk pola diskontinuitas antara lain: sambungan, retakan, sehingga kemiringan lereng. menjadi stabil dan stabil. ditunjukkan pada gambar 31.

Pengikat Beton atau dikenal dengan Rock Nailed, digunakan seperti Rock Bolts, dengan tujuan untuk mengurangi jumlah baut batuan yang ditunjukkan pada Gambar 32. Cable Anchor atau dikenal dengan Rock Achor, adalah ketika massa batuan yang bergerak mempunyai ukuran yang besar (Gambar 33 ) ). Shotcrete digunakan untuk memperkuat permukaan batu yang terkelupas (a) dan untuk batu "pencucian" (b) yang ditunjukkan pada gambar.

Sebagai upaya perkuatan lereng batuan, apabila akan dibangun jalan pada bagian bawah atau atas lereng maka diperlukan perkuatan permanen seperti terlihat pada Gambar 3-12, yaitu perkuatan dengan angkur kabel yang dipadukan dengan balok beton sebagai pengunci.

Gambar 30. Penambatan dengan tumpuan Beton pada tebing Batuan
Gambar 30. Penambatan dengan tumpuan Beton pada tebing Batuan

Penambatan batuan dengan melindungi pengguna jalan

Dinding / Tembok Penahan Batu

Jala Kawat

Pengaman dengan Semi Terowongan

Umum

Percepatan Pergerakan

Creep adalah pergerakan yang terus menerus dalam kondisi tekanan yang konstan, sedangkan solifluksi adalah pergerakan puing-puing akibat faktor geologi dan pengaruh lingkungan, termasuk air dan aktivitas manusia. Di lapangan, identifikasi pergerakan lambat ditandai dengan timbulnya retakan pada tanah di permukaan dan miringnya tiang serta pohon. Penyebab utamanya adalah rembesan air tanah yang besar, curah hujan yang tinggi, gempa bumi atau tanaman merambat yang tumbuh sedikit demi sedikit dari lapisan batuan dan umumnya diawali dengan tanda-tanda dan kejadian yang tidak terduga. a) Jenis pergerakan cepat lainnya adalah aliran puing-puing dengan kadar air tinggi yang membawa puing-puing yang mengalir dalam bentuk cairan kental (slurry).

Tinjauan terhadap Ke-Gempa-an

Penanganan Longsoran Tanah dengan Memperbaiki Materrial Lereng

Rumput vetiver merupakan salah satu jenis rumput berukuran besar yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama akar wangi atau akar serai. Lahan yang bebas tanaman liar memberi peluang bagi rumput vetiver untuk tumbuh tanpa bersaing dengan tanaman lain. Tanaman keras di lahan seperti kelapa, rambutan, mahoni dan sejenisnya tidak perlu dibersihkan atau ditebang karena tidak mengganggu pertumbuhan rumput vetiver.

Agar rumput vetiver memberikan perlindungan maksimum terhadap erosi, pagar rumput harus diatur pada "Jarak Garis Vertikal" (VI atau Interval Vertikal) yang benar. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menurut Sumber : Rumput Vetiver, Pagar Hidup Mencegah Erosi (2000), kemiringan lereng mempengaruhi jarak permukaan dan jarak garis vertikal dan kondisi ini diterapkan dengan catatan media Penanaman perlu dilakukan karena jenis lahan tidak selalu sama. Jadi luas antara barisan pagar rumput vetiver yang ditanam pada tanah yang miring 57 persen dan jarak vertikal 2 meter adalah sekitar 4 meter.

Pemupukan dapat dilakukan setiap hari untuk lebih mempercepat pertumbuhan rumput vetiver dengan dosis yang tepat disekitar rumput vetiver. Pemangkasan dapat dilakukan pada saat pertumbuhan daun berlebihan, karena rumput vetiver sudah berumur 6 bulan sejak ditanam. Pemangkasan dapat dilakukan dengan cara memotong batang atau daun rumput vetiver setinggi 30-40 cm diukur dari permukaan tanah, guna merangsang (merangsang) tumbuhnya tunas-tunas baru.

Gambar 40. Konstruksi Pelebaran Jalan menggunakan Material Ringan di Morfologi Perbukitan untuk mengurangi beban yang berdampak pada meningkatnya momen pendorong
Gambar 40. Konstruksi Pelebaran Jalan menggunakan Material Ringan di Morfologi Perbukitan untuk mengurangi beban yang berdampak pada meningkatnya momen pendorong

Permasalahan Longsoran Jalan akibat Abrasi

Kasus pengikisan sungai yang mengakibatkan hilangnya sebagian jalan. Perhatikan Gambar 53 yang diambil dari salah satu ruas jalan Provinsi Nangroe Darrusalam Aceh Tengah di Kalapinang. Dengan mempelajari data primer tersebut, maka dapat dirumuskan penanganan yang ideal dengan mempertimbangkan faktor-faktor penyebab seperti: hambatan erosi pada kelokan sungai, pengikisan dasar sungai akibat degradasi dan pergeseran jalan menuju perbukitan berdasarkan permulaan lapisan tanah/batuan yang diperoleh dari sumber daya yang memadai. geoteknik. dan penyelidikan geohidrologi baik dan mempunyai stabilitas yang cukup (Gambar 54 dan Gambar 55). Perawatan jalan akibat erosi pada tikungan sungai dengan cara memindahkan dasar sungai dengan memasang nat dan melebarkannya ke arah bebatuan mengikuti kondisi berbatu.

Gambar 53. Kasus Abrasi Sungai yang berdampak pada Hilangnya Sebagian Jalan Dengan memperhatikan Gambar 53 yang diambil dari salah satu ruas jalan lintas tengah Profinsi Aceh Nangroe Darrusalam di Kalapinang.
Gambar 53. Kasus Abrasi Sungai yang berdampak pada Hilangnya Sebagian Jalan Dengan memperhatikan Gambar 53 yang diambil dari salah satu ruas jalan lintas tengah Profinsi Aceh Nangroe Darrusalam di Kalapinang.

Permasalahan Longsoran Dalam dan LongsoranLereng

Pada Gambar 5-4 terlihat bahwa meskipun timbunan telah diperhitungkan dengan cermat agar mampu menopang perkerasan jalan, namun permasalahan penurunan dan perkembangan hingga keruntuhan lereng, baik dalam maupun dangkal, disebabkan karena keberadaannya pada tanah yang bermasalah. merupakan permasalahan yang perlu dipecahkan. Dengan menyadari permasalahan yang timbul yaitu besarnya penurunan dan naik turunnya tanah pada sisi kiri/kanan tanggul, maka dapat diperoleh informasi melalui penyelidikan geoteknik (pengeboran dan DCP (sondir)) serta karakteristik tanah/ lapisan stratifikasi batuan seperti menunjukkan adanya lapisan tanah yang bermasalah. Jika konsistensi tanah bermasalah sangat rendah maka akan terjadi keruntuhan lereng seperti terlihat pada Gambar 5-6.

Modus keruntuhan geser yang mengakibatkan ketidakstabilan tanggul jalan pada beberapa kondisi tanah bermasalah yang terdiri dari tanah liat. Hal lainnya adalah bahwa dalam pembangunan tanggul yang dibangun pada tanah ekspansif perlu memperhatikan nilai keluasan atau nilai aktivitas dari tanah ekspansif tersebut, karena terdapat beberapa kendala akibat dampak yang ditimbulkan dari masalah pembengkakan dan penyusutan. sifat yang mempengaruhinya. Hal lainnya adalah dalam pembangunan tanggul yang dibangun di atas tanah ekspansif perlu memperhatikan nilai keluasan atau nilai aktivitas dari tanah ekspansif tersebut, karena terdapat beberapa kendala akibat dampak yang ditimbulkan dari permasalahan pembengkakan dan penyusutan tersebut. properti yang mempengaruhinya. .

Beberapa alternatif teknologi yang dapat diterapkan untuk mengatasi runtuhnya tanggul yang dibangun pada tanah lunak.

Gambar 56. Modus Keruntuhan Geser yang mengakibatkan terjadinya ketidakstabilan Timbunan jalan pada beberapa kondisi lapisan tanah problematic yang terdiri dari lempung
Gambar 56. Modus Keruntuhan Geser yang mengakibatkan terjadinya ketidakstabilan Timbunan jalan pada beberapa kondisi lapisan tanah problematic yang terdiri dari lempung

Permasalahan jalan pada Lonsoran Alam

Mengingat jenis longsor yang terjadi, dimana hampir seluruh jalan ambruk, dan mengidentifikasi potensi rambat seperti terlihat pada Gambar 61 a, maka disarankan penanganannya digeser ke kanan, dengan mempertimbangkan badan jalan yang berada di atas permukaan tanah. puncak bukit dan juga mengurangi beban tanah yang dapat meningkatkan gaya dorong seperti terlihat pada Gambar 62b. Pengolahan dengan memindahkan jalan menuju puncak bukit di Ciregol Setelah dilakukan relokasi, terdapat 2 ruas jalan di lokasi Čiregol yang dikerjakan tersendiri yaitu jalan baru menuju pantai utara dan jalan lama yang ditandai telah mengalami kerusakan. longsor pada tahun 2011 yang berfungsi sebagai jalan untuk memperlancar arus lalu lintas dari Pantura (Brebes). Perawatan yang dilakukan dengan merelokasi permukaan jalan juga dilakukan dengan penanaman vegetasi dan rehabilitasi saluran, agar air permukaan tidak meresap ke area longsor.

Pada pengamatan bulan Mei tahun 2016 terlihat struktur cukup stabil dan tidak ditemukan retakan pada sepanjang jalan baru, dan jalan lama juga cukup stabil karena beban pada lereng dipotong dan diperuntukkan sebagai lahan untuk jalan baru. jalan. 3) Pemantauan kestabilan jalan, baik jalan baru maupun jalan lama, sebagai acuan pelaksanaan pemeriksaan selanjutnya.

Gambar 61. Penanganan dangan menggeser Jalan ke puncak Bukit di Ciregol Setelah dilakukan penggeseran maka di lokasi ciregol terdapat 2 ruas jalan yang difungsikan  secara  terpisah  yaitu  jalan baru  untuk  kea  rah  pantura  dan  jalan lama yang telah m
Gambar 61. Penanganan dangan menggeser Jalan ke puncak Bukit di Ciregol Setelah dilakukan penggeseran maka di lokasi ciregol terdapat 2 ruas jalan yang difungsikan secara terpisah yaitu jalan baru untuk kea rah pantura dan jalan lama yang telah m

Permasalahan jalan pada lereng Galian

Pembahasan akhir modul 1 adalah klasifikasi pergerakan massa bumi dan pola pergerakannya, faktor-faktor penyebab terjadinya tanah longsor dengan mempertimbangkan karakteristik sifat-sifat tanah/batuan penyusun lereng. Direktorat Jenderal Bina Marga (1983), Pedoman Investigasi Geoteknik Perencanaan Pondasi Jembatan, Badan Penerbitan Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta, Indonesia. Direktorat Jenderal Bina Marga (1992), Manual Perancangan Jembatan (Draft), Badan Penerbitan Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta, Indonesia.

26.Pedoman Pengendalian Pemanfaatan Ruang Pada Daerah Rawan Longsor KLASIFIKASI DAN FAKTOR PENYEBAB AIR TANAH 27.Pt M-01-2002-B, Pedoman Geoteknik 3, tanggul jalan pada tanah lunak. 28.Pt T-08-2002-B, Pedoman Geoteknik 1, Tanggul Jalan pada Tanah Lunak : Proses Pembentukan dan Sifat Dasar Tanah Lunak. 29.Pt T-09-2002-B, Panduan Geoteknik 2, Tanggul Jalan pada Tanah Lunak: Investigasi, Desain dan Kerja Lapangan Tanah Lunak.

33. SNI (1990), Cara pengukuran permeabilitas air pada tanah zona tak jenuh dengan lubang drainase, SK-SNI-M-56-1990-F, Badan Standardisasi Nasional.

Gambar

Gambar 2. Geometrik Lereng disesuaikan dengan Karakteristik dan Propertis lapisan Tanah/Batuan penyusun lereng
Gambar 3. Metode Geometri dengan Pemotongan Bagian Atas Lereng sebagai Beban yang mengakibatkan Momen Pendorong
Gambar 4. Metode Geometri dengan Pemotongan Bagian Atas Lereng sebagai Beban yang mengakibatkan Momen Pendorong
Gambar 5. Penanganan Lereng dengan Re-garding, Pengendalian Air Permukaan (termasuk saluran samping jalan) serta Menutup Rekahan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Undangan Kepada Yth, Bapak/Ibu/Sdr/i : Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam Penulisan nama dan gelar Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Kami mohon beribu-ribu maaf apabila ada kesalahan, referensi, kutifipan atau salah menorehkan sumber-sumber buku terkait “LEGALITAS PERKAWINAN ANTAR WARGA NEGARA DI

Akhirnya penulis mohon maaf kepada semua pihak atas segala kesalahan dan kekhilafan selama masa perkuliahan teriring permohonan semoga apa yang telah kami

Mohon maaf jika terjadi kesalahan dalam penulisan biodata, harap dilengkapi dan diperbaiki.. BIODATA PESERTA PELATIHAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN

Undangan Kepada Yth, Bapak/Ibu/Sdr/i : Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam Penulisan nama dan gelar Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Dengan Memohon Rahmat dan Ridho

Jika didalam pelaksanaan kerja praktek dan penyusunan laporan kami banyak melakukan kesalahan kami mohon maaf sebesar-besarnya kepada pihak yang bersangkutan.. Dengan tersusunnya

Mohon maaf bila terdapat kesalahan penulisan nama, gelar, alamat Dengan memohon Rahmat serta Ridho Allah SWT, kami sekeluarga mengharap dengan hormat kehadiran Bapak/Saudara guna

Dokumen ini membahas tentang hak asasi manusia (HAM) dan pentingnya