• Tidak ada hasil yang ditemukan

Modul bab 6 Tatalaksana Pastura

Dominika Martha Aprilistika Ile Weking

Academic year: 2023

Membagikan "Modul bab 6 Tatalaksana Pastura"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

INVENTARISASI DAN MONITORING KONDISI PADANG PENGGEMBALAAN

Oleh

(Ir. J.J.A. Ratuwaloe, M.Sc)

PENDAHULUAN

Produksi ternak perumput sangat ditentukan oleh jenis vegetasi (yang tumbuh di padangan) yang dikonsumsi. Daerah padang rumput/padang penggembalaan sendiri secara alami ditumbuhi oleh beraneka tumbuhan yang membentuk asosiasi- asosiasi vegetasi tertentu. Secara umum, padang rumput yang baik sebagai padang penggembalaan adalah padang rumput yang ditumbuhi oleh jenis-jenis leguminosa antara 20-30%, dan sisanya adalah jenis rumput atau belukar perdu lainnya yang palatabel (Humphreys, 1991).

Kebersamaan hidup spesies di dalam suatu komunitas vegetasi mengakibatkan antara spesies yang ada melakukan interaksi yang bersifat positif maupun negatif.

Sudah barang tentu faktor-faktor ketersediaan sumber daya nutrisi, air, udara dan ruang merupakan faktor-faktor pengendalinya. Oleh karena komposisi faktor-faktor pengendali tersebut selalu tidak identik diantara berbagai komunitas, maka komposisi dan struktur vegetasi antar komunitas bisa berbeda.

Manfaat dan relevansi pokok bahasan ini dengan mata kuliah tanaman pakan adalah mahasiswa mampu dalam melakukan penanaman dengan mempertimbangkan bahan tanam yang sesuai untuk masing-masing species tanaman pakan yang akan dikembangbiakkan dengan cara penanaman yang benar, agar senantiasa tersedia pakan yang berkualitas.

Kompetensi / Kemampuan akhir yang diharapkan adalah mahasiswa terampil dalam memilih/menentukan bahan tanam, menyiapkan dan atau memberi perlakuan khusus terhadap bahan tanam kalau diperlukan sebelum dilakukan penanaman serta trampil dalam penanaman.

Keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya adalah materi yang diuraikan dalam modul ini merupakan keberlanjutan dari rangkaian materi Ilmu

(2)

dari bagaimana menentukan/memilih bahan tanam, menyiapkan/memberi perlakuan khusus, sampai penanaman di lahan, yang merupakan lanjutan dari modul sebelumnya. Sementara pada materi modul sebelumnya dibahas mengenai peranan tanaman pakan ternak, dasar pertumbuhan dan perkembangan tanaman (sel, jaringan dan metabolisme), taksonomi dan morfologi tanaman, dan beberapa spesies tanaman sebagai pakan ternak. Pada modul selanjutnya akan dibahas mengenai budidaya tanaman pakan dan kualitas tanaman pakan

Untuk menambah wawasan dalam mempelajari modul ini, mahasiswa juga diharapkan untuk menelusuri pustaka yang berkaitan dengan topik pokok bahasan ini untuk menyelesaikan tugas yang diberikan dalam bentuk paper. Apabila mahasiswa mengerjakan latihan mendapat nilai minimal 70 dan mengerjakan tugas dengan baik maka mahasiswa akan lulus dengan nilai skor minimal B.

(3)

PENYAJIAN MATERI

Komposisi Botani

Perlu adanya metoda analisa botani hijauan makanan ternak yang cepat dan tepat. Dikenal beberapa metoda antara lain:

a. Pemisahan dengan tangan dan penimbangan hijauan makanan ternak yang telah dipotong

b. Estimasi persentase berat pada hijauan makanan ternak yang telah dipotong c. Estimasi persentase berat hijauan makanan ternak “ in situ” dikebun /lapangan d. Estimasi unit berat dari tiap-tiap species hijauan yang ada dikebun/lapangan

Metoda a. adalah yang paling teliti jika digunakan jumlah sampel yang cukup banyak, tetapi memerlukan waktu yang lama dan fasilitas pengeringan yang tidak selalu tersedia. Oleh karena diperlukan oven pengering untuk memperoleh berat kering yang mantap. Pemisahan dapat dilakukan segera setelah pemotongan dan ditimbang dalam keadaan segar dari setiap komponen (jenis) hijauan yang ditemukan dalam satu meter bujur sangkar yang diambil berupa sample. Komponen-komponen tersebut haruslah diberi tanda dan dimasukkan ke dalam kantong-kantong secara tersendiri (baik dalam satu sampel tersendiri maupun dari sampel yang lain). Bagian -bagian dari, tanaman tersebut yang sudah dipisah-pisahkan dimasukkan ke dalam oven sampai beratnya tidak berubah lagi (mantap) lalu diadakan penimbangan.

Metoda a. yang tersebut diatas hanya mungkin dilakukan apabila luas lapangan yang diukur agak terbatas sehingga jumlah sampel yang dibutuhkan agak sedikit, atau pada petak-petak penelitian.

Metoda b., c., d., adalah lebih cepat, tetapi kurang teliti oleh karena faktor- faktor subyektif.

Dewasa ini telah diperkenalkan metoda “Rank” (perbandingan) yang memberikan “persentase relatif” (relative importance percentages). Metoda mula- mula diperkenalkan oleh “T. Mannatje dan Haydock.”

Metoda Dry Weight Rank yang dikembangkan oleh “T Mannetje dan Haydock” ini banyak dilakukan di daerah-daerah tropika dan terutama banyak digunakan di Australia. Metoda ini digunakan untuk menaksir komposisi botani

(4)

padang rumput atas dasar bahan kering tanpa melakukan pemotongan dan pemisahan species.

Metoda “ Dry-Weight Rank”

Tujuan :

Melakukan analisis vegetasi guna memeriksa komposisi vegetasi padang rumput yang kemungkinan terdiri atas jenis-jenis leguminosa, rumput, herba lain, semak-perdu, dan jenis pohon dengan metoda Dry Weight Rank (DWR) Alat-alat yang dipergunakan/diperlukan:

- quadrat dari besi atau kayu ukuran 0,5 x 0,5 meter atau ukuran 1 x 1 meter atau = 1 m2

- Tabel isian untuk tiap pengamatan (1 m 2) dan Tabel isian untuk mengumpulkan data tiap komponen dari tabel pertama,

- Alat tulis menulis.

- Kertas Label

- Lapangan padang rumput alam atau padang rumput buatan.

Pelaksanaan :

- Tentukan titik pertama (awal pengamatan) pada lapangan yang “ mau diukur/diamati, sedapat mungkin lakukan secara acak atau random,''

- setelah titik mulai di tentukan, quadrat ditempatkan secara acak di padang rumput yaitu dengan mengangkat ke atas sambil menghadap ke arah depan tegak lurus, lalu quadrat dijatuhkan ke arah kanan.

- semua species yang ada di dalam quadrat dicatat dan lakukan estimasi species-species mana yang menempati tempat pertama, kedua dan ketiga dalam hal bahan kering.

- Catatlah hasil pengamatan ini pada tabel yang telah tersedia dengan urutan sebagai berikut ''untuk spesies yang menempati perkiraan bobot yang terbesar dalam hal bahan kering di tulis pada ranking no 1, dan species berikutnya (ke dua) di tulis pada ranking no.2, dan untuk yang bobotnya kira-kira no.3 dituliskan pada ranking no. 3. Apabila dalam pengamatan tersebut hanya terdapat 1 (satu) spesies maka yang diisi hanyalah pada

(5)

ranking no. 1 sedangkan ranking kedua (no. 2) dan ranking no. 3 dikosongkan.

- Begitu pula bila hanya terdiri dari dua (2) species maka hanya diisi ranking no,1 dan ranking no..2 saja,dan ranking no, 3 dikosongkan.

Sedangkan apabila terdiri atas banyak species maka species-species tersebut dapat digolongkan sebagai-berikut :

R untuk species rumput (komponen rumput) L untuk species leguminosa dan A untuk tanaman pengganggu lain.

Pengisian tabel tersebut hanya diisi dengan singkatan saja seperti yang tersebut diatas.

- Apabila data pertama telah dicatat pada tabel pertama maka pengambilan data berikutnya akan diambil pada jarak 10 meter ke arah kanan tegak lurus dari arah pertama (tempat ini disebut pengamatan ke dua).

- - Dari pengamatan ke dua tegak lurus ke depan seperti arah pertama umpamanya kalau kita bergerak pertama kearah barat maka arah selanjutnya terus kebarat. Pada tempat pengamatan ke tiga ini kita mengarah ke kanan lagi 10 meter ( dari tempat kedua ketempat ketiga juga 10 meter), untuk mendapatkan tempat keempat demikian seterusnya dilakukan berulang- ulang dengan arah yang zig-zag setiap 10 meter.

- Lakukan pengamatan. sebanyak 50 kali pengukuran pada praktikum ini.

Dalam praktek yang sebenarnya untuk pengukuran komposisi botani ini pada luas lapangan kurang lebih 100 ha dilakukan pengamatan sebanyak 120 - 240 plot pengamatan (tempat quadrat). Untuk padang rumput yang homogen dapat diambil contoh atau pengamatan yang relatif lebih sedikit dibanding dengan lapangan yang species-speciesnya heterogen.

- Arah pengamatan (memulai) tidak ada ketentuan asalkan tidak kembali lagi pada tempat yang telah diukur /diambil, umumnya arah memulai ditentukan sebelum berangkat , biasanya dengan mempergunakan peta.

- Penentuan jarak tiap pengamatan tidak mutlak 10 meter, tetapi dapat juga 5 meter dan seterusnya haruslah jaraknya tiap sampel secara zig-zag dengan

(6)

jarak 5 meter, begitu pula, bila memakai jarak pengamatan 10 meter maka sampai selesai harus pakai jarak 10 meter.

- Tabulasikan data dari Tabel pengamatan pertama yang terdiri dari banyak pengamatan (sesuai dengan banyaknya peletakan quadrat) di lapangan ke dalam Tabel kedua untuk mendapatkan perbandingan antara species-species yang menempati tempat pertama, kedua dan ketiga.

- Angka perbandingan tersebut diatas (dalam tabel) dikalikan dengan angka koefisien sebagai berikut :

Tempat pertama : x 70,2 Tempat kedua : x 21,1

Tempat ketiga : x 8,7

Koefisien tersebut di atas hanya berlaku bagi tabel pertama yang terisi penuh (tidak ada ranking yang kosong) artinya pada tiap peletakan quadrat semua species yang akan dimasukkan ke dalam ranking semuanya ada.

Misalnya : ada species rumput (R), ada species leguminosa (L), dan ada juga species-species herba atau tanaman penggangu lain ( H + TPL ).

Contoh :

Suatu padang rumput akan dilakukan analisa botanis dengan Metoda Dry Weight Rank.

- Misalkan dilakukan 10 kali pengamatan/pengukuran ( 10 kali )

- Species yang ada ialah Rumput (R), Leguminosa (L), Alang-alang (A), dan Tumbuhan pengganggu Lain (TPL) maka keadaan pada tabel 1 adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Observasi Plot

Nomer Plot Rank

( 1 ) ( 2 ) ( 3 )

1 2 3 4 5 6

R R L R R L

A L R TPL

A A

TPL A A L TPL

R

(7)

7 8 9 10

R R R R

TPL L L L

A TPL

A A

Hasil pengamatan (Data) di atas dapat dimasukkan (ditabulasikan ) ke dalam Tabel ke dua seperti berikut:

Tabel 2.

Komponen (species) Rank

( 1 ) ( 2 ) ( 3 )

R (Rumput) L (Leguminosa) A (Alang-alang) TPL (Tumbuhan penganggu lain)

8 2 - -

1 4 3 2

1 1 5 3

10 10 10

Dari data pada tabel 2 di atas dengan mempergunakan angka koefisien dapatlah dihitung komposisi tiap kornponen sebagai berikut :

R = (8/10 x 70t2) + (1/10 x 21,1) + (1/10 x 8,7) = 59,14 % L = (2/10 x 70,2) + (4/10 x 21,1) + (1/10 x 8,7) = 23,35 % A = ( - ) + (3/10 x 21,1) + (5/10 x 8,7) = 10,63 % TPL = ( - ) + (2/10 x 21,1) + (3/10 x 8,7) = 6,83 % jumlah = 99,95 % atau angka ini dapat dibulatkan menjadi 100 %.

Apabila Persentase total sudah lebih besar dari 90 % rnaka sudah baik.

Melihat angka persentase dari tiap komponen seperti di atas dapatlah diartikan bahwa pada padang rumput tersebut terdiri atas 59,14 % Bahan keringnya terdiri dari rumput, 23,35 % bahan keringnya terdiri dari leguminosa, 10,63 % bahan keringnya terdiri atas alang-alang dan 6,83 % bahan keringnya terdiri atas TPL.

(8)

Contoh lain:

Suatu padang rumput dengan hasil pengamatan pada Tabel 1 memperlihatkan keadaan species yang tidak merata (tidak selalu terdapat dalam quadrat). Misalnya seperti pada tabel di bawah ini.

Tabel 3.

Nomer Plot Rank

( 1 ) ( 2 ) ( 3 )

1 2 3 4 5

R R R TPL

R

L - - - -

TPL - - - TPL

Pada Tabel 3 di atas yang hanya terdiri dari lima kali pengamatan ditabulasikan ke dalam Tabel 4 seperti di bawah Ini.

Tabel 4.

Komponen (species) Rank

( 1 ) ( 2 ) ( 3 )

R (Rumput) L (Leguminosa) TPL (Tumbuhan penganggu lain)

4 - 1

- 1 1

- - 1

5 2 1

Angka konstanta yang digunakan untuk perhitungan selanjutnya data (pengamatan) seperti diatas adalah :

Tempat pertama berbanding Tempat kedua berbanding tempat ketiga adalah 8,04: 2,41: 1

Angka konstanta tersebut masing-masing dikalikan dengan jumlah yang dicapai oleh tiap spesies pada tabulasi data Tabel 3 dalam Tabel 4 Sehingga perhitungan adalah :

R = ( 4 x 8,04 ) + ( - ) + - = 32,16 L = ( - ) + ( 1 x 2,41 ) + - = 2,41 TPL = ( 1 x 8,04 ) + ( - ) + ( 2 x 1) = 10,04 Jumlah = 44, 61

(9)

Angka ini merupakan penyebut dari angka yang dicapai tiap species dikali dengan 100 % untuk memperoleh komposisi tiap komponen (perhitungan seperti dibawah ini).

R = 32,16/44,61 x 100 % = 72 % Bahan Kering L = 2.41/44,61 x 100 % = 5% Bahan Kering TPL = 10,04/44,61 x 100 % = 23 % Bahan Kering Jumlah = 100 %

Angka tersebut diatas (persentase) adalah menunjukkan bahwa padang rumput mengandung 72 % B.K adalah Rumput, 5 % B.K adalah komponen leguminosa dan 23 % B.K adalah komponen tumbuhan pengganggu lainnya.

Untuk mengetahui produksi padang rumput dapat ditempuh cara pengukuran produksi seperti yang dikemukakan oleh Halls dan kawan-kawan, yaitu dengan mengambil cuplikan, sedangkan untuk mengetahui secara pasti komponen tiap species dapat diambil beberapa cuplikan untuk dianalisa guna mengetahui zat-zat makanan yang dikandungnya. Sehingga dengan demikian dapat kita ketahui (hitung) kebutuhan seekor sapi akan protein dan sebagainya.

Menghitung Komposisi Botani Metode SDR

Komposisi botani diduga dengan jalan menghitung susunan vegetasi penyusun komunitas, pengukuran ini dilakukan dengan metode perbandingan nilai penting (PNP) yang diambil dalam plot kuadrat, sesuai petunjuk Tjitrosoedirdjo, dkk (1984) pengamatan dilakukan dalam sub plot sampling ukuran 1 x 1 meter sebanyak 8 buah diletakan pada titik-titik di sepanjang garis diagonal plot percobaan (20 M2).

1. Kerapatan mutlak adalah jumlah individu setiap jenis yang ada didalam plot percobaan

2. Kerapatan nisbih (Kn) adalah

(kerapatan mutlak jenis – i / kerapatan mutlak semua jenis

¿ ¿ x (100%)

3. Frekuensi mutlak suatu jenis adalah jumlah petak jumlah petak contoh yang berisi jenis itu.

4. Frekuensi nisbih suatu jenis (Fn) adalah

(10)

(nilai frekuensi mutlak – i / jumlah semua petak contoh

¿ ¿ x (100%)

5. Summed dominance ratio (SDR) adalah (KN + FN) : 2 Satuannya %.

Kerapatan adalah jumlah tanaman perareal. Kerapatan dapat di determinasi untuk menghitung jumlah tanaman yang besar dan sangat baik digunakan untuk vegetasi tanaman dengan kerapatan yang rendah akan tetapi memerlukan waktu yang cukup lama bila digunakan areal dengan kerapatan tinggi.

Frekuensi suatu spesies tumbuhan adalah jumalah petak contoh tempat ditemukannya suatu spesies dari sejumlah petak contoh yang dibuat.

Frekuensi merupakan besarnya intensitas ditemukannya suatu spesies organisme dalam suatu pengamatan keberadaan organisme pada komunitas atau ekosistem.

Sampling frekuensi cepat dan mudah dilakukan di lapangan, jika kerapatan yang dideterminasi dari bingkai kuadrat berukuran kecil dan frekuensi dapat dilakukan dari atas yang sama dimana frekuensi menunjukan persentase dari spesies yang ditemukan dalam bingkai kuadrat tersebut.

Ukuran bingkai kuadrat sangat peka terhadap sampling frekuensi, oleh karena itu jika ukuran bingkai kuadratnya besar untuk spesies yang muncul di dalam bingkai kuadrat tersebut lebih banyak.

Setelah nilai SDR didapat, selanjutnya seluruh vegetasi yang tercatat akan dikelompokkan atas hijauan pakan dan hijauan nonpakan ternak. Untuk menentukan apakah suatu jenis itu tergolong hijauan atau gulma digunakan petunjuk dari buku panduan identifikasi jenis rumput dan gulma padang rumput “ The Grasses Of Southern Quensland ” (Tothill dan Hacker, 983) dan “ A Guide to Herbaceous and shrubs legume of Quensland ” (Haker, 1990). Kemudian dari hasil penggolongan tersebut dicatat proposi HPT (Hijauan Pakan Ternak).

Hitung kerapatan mutlak (Km) dan frekuensi mutlak (Fm) dari masing- masing kelompok vegetasi, baik pada komunitas 1 maupun komunitas 2. Summed Dominance Ratio (SDR) dari masing-masing kelompok vegetasi, baik pada

(11)

komunitas 1 maupun komunitas 2. Koefisien kesamaan komunitas (C) antara komunitas 1 dan komunitas 2 di bawah ini!!!

No.

Plot

Kelompok Vegetasi Komunitas 1 No.

Plot

Kelompok Vegetasi Komunitas 2

R L BRL G R L BRL G

1 50 60 50 40 1 80 61 60 -

2 - 75 - - 2 20 - 20 25

3 55 - - - 3 25 52 - -

4 - 65 - - 4 60 - - -

5 75 70 - - 5 65 47 - -

6 - 25 - 45 6 - 11 15 -

7 75 - - - 7 100 77 - -

8 - 70 40 - 8 - - - 25

9 70 6- - 10 9 65 72 - -

10 25 55 - - 10 55 - 50 -

11 40 70 - 40 11 50 71 - 15

12 - 60 - - 12 - - 55 20

13 50 - 40 - 13 75 42 - -

14 - 40 - - 14 55 - 20 -

15 75 60 30 - 15 60 47 - -

16 - 55 - 25 16 55 21 50 -

17 60 - 30 - 17 50 77 - -

18 - 50 40 - 18 - - 30 -

19 70 60 - - 19 70 62 - -

20 25 80 25 - 20 65 - - -

21 40 65 - - 21 60 71 - -

22 - 70 - - 22 - - 60 -

23 30 - 45 - 23 55 57 - 15

24 - 40 - 30 24 75 - 40 -

25 60 70 - - 25 60 32 - -

∑ Km 800 1200 300 200 ∑ Km 1200 800 400 100

Kn 32% 48% 12% 8% Kn 48% 32% 16% 4%

∑ Fm 15 20 8 7 ∑ Fm 20 15 10 5

Fn 40% 40% 16% 14% Fn 40% 30% 20% 10%

SDR 31% 44% 14% 11% SDR 44% 31% 18% 7%

Keterangan : R=rumput, L= legum, BRL= bukan rumput ataupun legum, G= gulma.

Angka di bawah huruf R, L, BRL, dan G pada tabel menunjukan banyak individu dari kelompok vegetasi tsb.

Km= kerapatan Mutlak, Kn= kerapatan nisbi, Fm= frekuensi mutlak, Fn= frekuensi nisbi.

(12)

SDR= Summed Dominance Ratio Komunitas 1

No Jenis/Spesies Km Kn (%) Fm Fn (%) SDR (%)

1 Rumput 800 32 20 40 36

2 Legum 1200 48 15 30 39

3 BRL 300 12 8 16 14

4 Gulma 200 8 7 14 11

Total untuk seluruh spesies 2500 50

Komunitas 2

No Jenis/Spesies Km Kn (%) Fm Fn (%) SDR (%)

1 Rumput 1200 48 20 40 44

2 Legum 800 32 15 30 31

3 BRL 400 16 10 20 18

4 Gulma 100 4 5 10 7

Total untuk seluruh spesies 2500 50

Untuk dua komunitas yang berbeda lokasi yang diamati pada saat yang bersamaan, atau satu komunitas yang diamati pada dua saat berbeda atau satu komunitas yang diberi dua perlakuan yang berbeda, dapat dihitung seberapa dekat atau jauh tingkat kesamaannya (Koefisisen kesamaan komunitas : C ) dengan mengunakan rumus berikut:

C= 2w

(a+b) x 100%

Dimana : W = total nilai Km terkecil dari dua komunitas a = total nilai Km dari semua spesies pada komunitas I b = total nilai Km dari semua spesies pada komunitas II

Catatan: berbeda halnya dengan SDR, yang dibutuhkan untuk menghitung C hanya data kerapatan mutlak (Km) saja, sedangkan cara pengumpulan data sama seperti di atas.

C untuk dua komunitas di atas (Komunitas 1 dan Komunitas 2)

(13)

C= 2w

(a+b) x 100%

800+800+300+100 2¿¿

C=¿

x 100%

C=2(2000)

(5000) x 100%

C=4000

5000 x 100% , C = 80 %

PENGUKURAN DAYA TAMPUNG PADANG RUMPUT

Kemampuan berbagai padang rumput dalam menampung ternak adalah berbeda-beda oleh karena adanya perbedaan-perbedaan dalam hal-hal produktivitas tanah, curah hujan dan penyebarannya, topografi dan hal-hal lainnya.

Oleh karena itu setiap padang rumput sebaiknya digembalai (digunakan sebagai penggembalaan ternak) menurut kemampuannya menampung ternak masing- masing.

Penggunaan padang rumput yang berdasarkan daya tampung dari padang rumput bersangkutan berarti menjaga keadaan tanah supaya tidak rusak (erosi) karena produksi hijauan yang tumbuh di atasnya tidak terganggu (pertumbuhannya terjamin) sehingga dengan demikian ternak akan selalu memperoleh makanan berupa hijauan yang tetap sepanjang tahun. Dengan memperhatikan daya tampung padang rumput itu, maka kondisi tanah, tanaman dan ternak tetap terpelihara (terjamin).

Taksiran daya tampung menurut Halls dkk didasarkan kepada jumlah hijauan tersedia. Oleh karena itu tidaklah mungkin untuk mengamati setiap bagian dari padang rumput tersebut maka cara pengambilan cuplikan memegang peranan penting dalam analisa botani dan pengukuran produksi hijauan makanan ternak.

Ada beberapa methoda untuk menentukan letak petak-petak cuplikan.

Metoda-metoda yang mungkin dipilih adalah :

(14)

1) Dengan pengacakan 2) Dengan stratifikasi

3) Dengan secara sistematik (dimulai dari titik-titik yang telah ditentukan dan kemudian cuplikan diambil pada jarak-jarak tertentu sepanjang garis yang memotong padang rumput).

Setiap metoda pengambilan cuplikan mempunyai kebaikan dan keburukan, tetapi bila dilakukan sebaik-baiknya dapat memberikan gambar yang cukup obyektif.

Cara yang baik dalam pengambilan cuplikan ialah dengan menggunakan dua angka dari daftar random number sebagai kordinat tempat cuplikan. Koordinat tersebut tidak perlu dimulai dari sudut padang rumput sebagai titik nol tetapi dapat dimulai dari letak cuplikan yang sebelumnya. Prosedur lengkap perlu ditentukan sebelum peneliti terjun kelapangan.

Jumlah cuplikan yang diperlukan tergantung dari ketidak seragaman padang rumput, alat-alat yang digunakan, tujuan pengambilan data, tingkat ketelitian yang dikehendaki, biaya dan fasilitas yang tersedia dan sebagainya.

Halls dkk mengukur daya tampung sebagai berikut :

- Petak cuplikan pertama ditentukan secara acak seluas 1 meter bujur sangkar (I m2) atau dalam bentuk lingkaran dengan garis tengah.

- Petak cuplikan kedua diambil pada jarak lurus 10 langkah ke kanan dari petak cuplikan pertama dengan luas yang sama. Kedua petak cuplikan ini yang berturut-turut tersebut membentuk satu kumpulan (cluster). Cluster-cluster selanjutnya diambil pada jarak lurus 25 meter dari cluster sebelumnya.

Dalam hal ini terdapat beberapa kemungkinan modifikasi yang dapat disesuaikan dengan keadaan lapangan, sehingga diperoleh jumlah cuplikan yang diperlukan.

- Untuk lapangan dengan luas 160 acre (kurang lebih 65 ha) diperlukan paling sedikit 50 cluster. Setelah petak cuplikan ditentukan semua hijauan yang terdapat dalam petak tersebut dipotong sedapat mungkin dekat sekali kepermukaan tanah.

Alat yang baik digunakan untuk memotong rumput tersebut adalah dengan menggunakan gunting rumput (gunting khusus), Bagian bagian tanaman yang

(15)

juga harus ikut dipotong ialah bagian dari pohon-pohonan yang tingginya dapat dimakan oleh ternak, dapat dipotong dari ketinggian 1,5 meter diatas permukaan tanah ( yang dipotong hanyalah daun-daun dari pohon tersebut).

- Kalau petak cuplikan jatuh pada batu-batu, pohon-pohon besar dan sebagainya janganlah berusaha menghindar. Hijauan tersebut kenudian dimasukkan kedalam kantong-kantong dan ditimbang bobot segarnya.

- Lakukan hal yang sama pada petak-petak cuplikan selanjutnya; Dari catatan bobot segar tersebut diatas dapat diketahui produksi hijauan segar per meter bujur sangkar. Akan tetapi sebenamya tidak seluruh hijauan tersebut tersedia bagi ternak, karena sebagian dari bahagian tanaman harus ditinggalkan untuk menjamin pertumbuhan kembali (regrowth) dari tanaman itu. Jadi dalam hal ini haruslah diperhitungkan f aktor “proper use”.

Besarnya Proper Use faktor tersebut antara lain dipengaruhi oleh keadaan lapangan yaitu makin curam lereng suatu lapangan maka proper use makin kecil, artinya jumlah hijauan yang tersedia (dapat dimamfaatkan oleh ternak) akan semakin kecil (sedikit), jenis tanaman (misalnya tanaman yang perakarannya dalam/sukar tercabut dan cepat tumbuh akan lebih banyak yang dapat digunakan atau tersedia), jenis ternak (misalnya keadaan cara injakan ternak sangat berpengaruh terhadap keadaan tanaman), type iklim dan keadaan musim karena diketahui type iklim dan keadaan musim sangat berpengaruh terhadap produksi hijauan makanan ternak.

Pada dasarnya makin besar kemungkinan terjadinya erosi maka “proper use factor” makin kecil. Untuk penggunaan lapangan yang ringan, maka besarnya

“proper use factor” adalah 25 - 30% penggunaan lapangan lapangan yang sedang 40 - 45 % sedangkan untuk penggunaan yang berat 60 - 70 %.

Misalnya apabila produksi hijauan segar per m2 = 900 g, dan “profer use factor” 45 % maka jumlah hijauan tersedia/m2 adalah 45 % x 900 g = 405 g atau sama dengan 10.000 x 405 gr/ha = 4050 kg/ha.

Mengingat adanya pengaruh musim terhadap produktivitas padang penggembalaan maka Voisin memasukkan faktor periode istirahat yang panjangnya sangat tergantung musim. Makin panjang musim kemarau maka periode istirahat makin panjang.

(16)

Berdasarkan penelitian-penelitian di negara-negara tropis panjangnya periode istirahat berkisar antara 10 sampai 14 minggu.

Apabila kebutuhan hijauan 40 kg / ekor / hari maka kebutuhan luas tanah perbulan (30 hari) adalah :

¿40x30ha/ekor/bulan 4050

Kebutuhan luas tanah pertahun dihitung menurut rumus Voisin ( y-1 )s = r

Y = jumlah satuan luas tanah (paddock) terkecil yang dibutuhkan seekor ternak sapi,

S = periode merumput (stay) pada setiap satuan tanah,

R = periode istirahat (rest) yang dibutuhkan agar hijauan tidak direnggut sapi untuk menjaga pertumbuhan kembali (regrowth). Misalnya apabila periode istirahat (= r) = 10 rninggu (70 hari).

Maka (y- 1) s = r ( y- 1 ) 30 = 70 Y=70+30

30 =3,3

Kebutuhan luas tanah pertahun = 3,3 x kebutuhan luas tanah perbulan

¿3.3x 40x30

4050 ha/ekor/bulan=0,98ha/ekor/tahun

PENUTUP

Rangkuman

Daftar Pustaka

Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih. Edisi Revisi. Cetakan Kelima. PT RajaGrafindo Persada, Jakarta

Kartasapoetra, A.G. 2003. Teknologi Benih : Pengolahan Benih dan Penuntun Praktikum. Cetakan Keempat. Rineka Cipta, Jakarta

(17)

Tahir, N. 1979. Beberapa Petunjuk Preaktek Tatalaksana Padang Rumput dan Tanaman. Lembaga Penerbit Unhas, Ujung Pandang

Referensi

Dokumen terkait

pada bab ini dijelaskan mengenai paparan data dan pembahasan yang disertai analisa dari hasil penelitian, kondisi objektif dari lokasi penelitian, tahapan-tahapan dalam proses

Isi bab ini mengenai “kata” dari sisi ejaan (huruf dan tanda baca), imbuhan, dan diksi (pilihan kata). Penyusunan kalimat efektif dan penataan paragraf dijelaskan

Pada bab ini akan dijelaskan mengenai latar belakang kehidupan Soedjatmoko yang mempengaruhi pemikiran-pemikirannya, kemudian dijelaskan bagaimana pemikiran-pemikiran

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN Pada bab ini berisi analisis dan perancangan yang akan dilakukan untuk membangun sistem BAB IV IMPLEMENTASI Pada bab ini dijelaskan mengenai hasil

1 BAB 1 PENDAHULUAN Pada bab 1 pendahuluan ini dijelaskan mengenai latar belakang, perkembangan komposit, alasan pemilihan serat kulit singkong, perumusan masalah, tujuan penelitian,

1 BAB I PENDAHULUAN Pada bab I pendahuluan ini dijelaskan mengenai latar belakang, alasan pemilihan variabel, perumusan masalah, tujuan penelitian, batasan masalah penelitian,

BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA Pada bab ini dijelaskan mengenai tinjauan pustaka mengenai penelitian sebelumnya, pengertian trailer boat, pengujian struktur menggunakan software SOLIDWORKS

Bagianisilaporan : BAB 1 PENDAHULUAN Pada bab ini dijelaskan mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan pengujian, batasan masalah, manfaat penulisan, dan sistematika penulisan