TATALAKSANA PADANG PENGGEMBALAAN ASPEK PENGENDALIAN NUTRISI TERNAK
GEMBALA
Oleh
(Ir. Jalaludin, Msi)
PENDAHULUAN
Di Indonesia pada umumnya dan Nusa Tenggara Timur pada khususnya, hijauan masih diberikan dalam porsi yang sangat besar dalam setiap susunan ransum ternak berlambung ganda. Dengan demikian, maka untuk kelangsungan hidupnya ternak harus mengkonsumsi hijauan dalam jumlah yang cukup dengan kualitas yang baik. Kualitas hijauan biasanya ditentukan atas dasar kandungan zat gizi dan kecernaannya. Banyak tanaman atau tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber hijauan makanan ternak. Tumbuhan atau tanaman dimaksud dapat berupa rumput-rumputan, kacang-kacangan dan tanaman non rumput atau non leguminosa atau bahkan sisa hasil pertanian. Beberapa jenis rumput yang bergizi tinggi dan baik bagi ternak diantaranya adalah Rumput Raja, Rumput Gajah, Ramput Panicum, Rumput Setaria, Rumput Cipelang dan lain-lain. Selanjutnya untuk jenis kacang- kacangan yang bergizi tinggi adalah sentro, stylo, gamal, lamtoro, turi, kaliandra, kabesak dan lain-lain. Salah satu sumber hijauan pakan adalah padang rumput/pastura.
Kualitas pastura ditentukan dari kecernaan dan proporsi legume (legume proportion). Kecernaan yang tinggi menandakan kualitas yang baik. Kualitas nutrisi legume lebih baik dari rumput, sehingga kualitas nutrisi rumput dibandingkan dengan legume dalam proporsi legume (legume proportion). Semakin sempit imbangan menandakan bahwa kualitas rumput tidak terlalu jauh dari legume (Bell, 2006).
Modul lima ini masih ada keterkaitannya dengan modul sebelumnya yang membahas tentang nutrisi ternak gembala. Bila dalam modul sebelumnya
tentang hal-hal yang berkaitan nutrisi ternak gembala, khususnya bagi pastura yang terdapat di Nusa Tenggara Timur.
Manfaat pokok bahasan ini bagi mahasiswa sangat besar karena dengan mempelajarinya mahasiswa mengetahui kebutuhan nutrisi ternak gembala dan nilai nutrisi pastura. Relevansi pokok bahasan ini dengan mata kuliah sangat erat karena nilai nutrisi ternak gembala merupakan dasar yang harus dipelajari dalam membahas tatalaksana pastura.
Tujuan Pembelajaran /Kompetensi /Kemampuan akhir yang diharapkan adalah mahasiswa mampu mengetahui kebutuhan nutrisi ternak gembala dan nilai nutrisi suatu pastura.
Keterkaitannya dengan modul berikut adalah dengan mengetahui kebutuhan ternak gembala dan kualitas pastura maka dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam penentuan kapasitas tampung dari pastura.
Dalam mempelajari modul ini, untuk menambah wawasan mahasiswa diharapkan dapat menelusuri pustaka yang berkaitan aspek nutrisi ternak gembala untuk menyelesaikan tugas. Apabila mahasiswa mengerjakan latihan dan mampu menguraikannya akan mendapat nilai minimal 70 dan mengerjakan tugas dengan baik maka mahasiswa akan lulus dengan nilai skor minimal B.
PENYAJIAN MATERI
Kebutuhan Pakan
Kebutuhan ternak terhadap pakan dicerminkan oleh kebutuhannya terhadap nutrisi. Jumlah kebutuhan nutrisi setiap harinya sangat bergantung pada jenis ternak, umur, fase (pertumbuhan, dewasa, bunting, menyusui), kondisi tubuh (normal, sakit) dan lingkungan tempat hidupnya (temperatur, kelembaban nisbi udara) serta bobot badannya. Maka, setiap ekor ternak yang berbeda kondisinya membutuhkan pakan yang berbeda pula.
Rekomendasi yang diberikan oleh Badan Penelitian Internasional (National Research Council) mengenai standardisasi kebutuhan ternak terhadap pakan dinyatakan dengan angka-angka kebutuhan nutrisi ternak ruminansia. Rekomendasi tersebut dapat digunakan sebagai patokan untuk menentukan kebutuhan nutrisi ternak ruminansia, yang akan dipenuhi oleh bahan-bahan pakan yang sesuai/bahan-bahan pakan yang mudah diperoleh di lapangan.
Konsumsi Pakan
Ternak ruminansia yang normal (tidak dalam keadaan sakit/sedang berproduksi), mengkonsumsi pakan dalam jumlah yang terbatas sesuai dengan kebutuhannya untuk mencukupi hidup pokok. Kemudian sejalan dengan pertumbuhan, perkembangan kondisi serta tingkat produksi yang dihasilkannya, konsumsi pakannya pun akan meningkat pula.
Tinggi rendah konsumsi pakan pada ternak ruminansia sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal (lingkungan) dan faktor internal (kondisi ternak itu sendiri).
Temperatur. Lingkungan Ternak ruminansia dalam kehidupannya menghendaki temperatur lingkungan yang sesuai dengan kehidupannya, baik dalam keadaan sedang berproduksi maupun tidak. Kondisi lingkungan tersebut sangat bervariasi dan erat kaitannya dengan kondisi ternak yang bersangkutan yang meliputi jenis ternak, umur, tingkat kegemukan, bobot badan, keadaan penutup tubuh (kulit, bulu), tingkat produksi dan tingkat
perubahan kondisi lingkungan hidupnya, maka akan terjadi pula perubahan konsumsi pakannya. Konsumsi pakan ternak biasanya menurun sejalan dengan kenaikan temperatur lingkungan. Makin tinggi temperatur lingkungan hidupnya, maka tubuh ternak akan terjadi kelebihan panas, sehingga kebutuhan terhadap pakan akan turun. Sebaliknya, pada temperatur lingkungan yang lebih rendah, ternak akan membutuhkan pakan karena ternak membutuhkan tambahan panas. Pengaturan panas tubuh dan pembuangannya pada keadaan kelebihan panas dilakukan ternak dengan cara radiasi, konduksi, konveksi dan evaporasi.
Palatabilitas. Palatabilitas merupakan sifat performansi bahan-bahan pakan sebagai akibat dari keadaan fisik dan kimiawi yang dimiliki oleh bahan-bahan pakan yang dicerminkan oleh organoleptiknya seperti kenampakan, bau, rasa (hambar, asin, manis, pahit), tekstur dan temperaturnya. Hal inilah yang menumbuhkan daya tarik dan merangsang ternak untuk mengkonsumsinya.
Ternak ruminansia lebih menyukai pakan rasa manis dan hambar daripada asin/pahit. Mereka juga lebih menyukai rumput segar bertekstur baik dan mengandung unsur nitrogen (N) dan fosfor (P) lebih tinggi.
Selera. Selera sangat bersifat internal, tetapi erat kaitannya dengan keadaan
“lapar”. Pada ternak ruminansia, selera merangsang pusat saraf (hyphotalamus) yang menstimulasi keadaan lapar. Ternak akan berusaha mengatasi kondisi ini dengan cara mengkonsumsi pakan. Dalam hal ini, kadang-kadang terjadi kelebihan konsumsi (overat) yang membahayakan ternak itu sendiri.
Status fisiologi Status fisiologi ternak ruminansia seperti umur, jenis kelamin, kondisi tubuh (misalnya bunting atau dalam keadaan sakit) sangat mempengaruhi konsumsi pakannya.
Konsentrasi Nutrisi. Konsentrasi nutrisi yang sangat berpengaruh terhadap konsumsi pakan adalah konsentrasi energi yang terkandung di dalam pakan.
Konsentrasi energi pakan ini berbanding terbalik dengan tingkat konsumsinya. Makin tinggi konsentrasi energi di dalam pakan, maka jumlah
konsumsinya akan menurun. Sebaliknya, konsumsi pakan akan meningkat jika konsentrasi energi yang dikandung pakan rendah.
Bentuk Pakan. Ternak ruminansia lebih menyukai pakan bentuk butiran (hijauan yang dibuat pellet atau dipotong) daripada hijauan yang diberikan seutuhnya. Hal ini berkaitan erat dengan ukuran partikel yang lebih mudah dikonsumsi dan dicerna. Oleh karena itu, rumput yang diberikan sebaiknya dipotong-potong menjadi partikel yang lebih kecil dengan ukuran 3-5 cm.
Bobot Tubuh. Bobot tubuh ternak berbanding lurus dengan tingkat konsumsi pakannya. Makin tinggi bobot tubuh, makin tinggi pula tingkat konsumsi terhadap pakan. Meskipun demikian, kita perlu mengetahui satuan keseragaman berat badan ternak yang sangat bervariasi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengestimasi berat badannya, kemudian dikonversikan menjadi “berat badan metabolis” yang merupakan bobot tubuh ternak tersebut. Berat badan ternak dapat diketahui dengan alat timbang.
Dalam praktek di lapangan, berat badan ternak dapat diukur dengan cara mengukur panjang badan dan lingkar dadanya. Kemudian berat badan diukur dengan menggunakan formula: Berat badan = Panjang badan (inci) x Lingkar Dada 2 (inci) / 661, Berat badan metabolis (bobot tubuh) dapat dihitung dengan cara meningkatkan berat badan dengan nilai 0,75, Berat Badan Metabolis = (Berat Badan)0,75.
Produksi. Ternak ruminansia, produksi dapat berupa pertambahan berat badan (ternak potong), air susu (ternak perah), tenaga (ternak kerja) atau kulit dan bulu/wol. Makin tinggi produk yang dihasilkan, makin tinggi pula kebutuhannya terhadap pakan. Apabila jumlah pakan yang dikonsumsi (disediakan) lebih rendah daripada kebutuhannya, ternak akan kehilangan berat badannya (terutama selama masa puncak produksi) di samping performansi produksinya tidak optimal.
Suplementasi
Hollecheck et al (1989) secara behavioral ternak yg baru selesai mengkonsumsi air akan bergerak meninggalkan titik air menuju dua titik lain yaitu pakan dan salt.
Selain pakan hijauan dan air, ternak perlu suplementasi lain seperti garam, mineral, vitamin, dll. Garam berguna utk meningkatkan selera ternak guna mengkonsumsi pakan hijauan. Sapi : 10-12kg/ekor/thn. Kambing/Domba : 1- 2kg/ekor/thn.
Tujuan umum suplementasi
Untuk menutupi kekurangan zat nutrisi yg diperlukan ternak, baik utk hidup pokok maupun utk tujuan produksi lainnya
Musim kemarau : kualitas hijauan rendah maka tambahan mineral dan vitamin penting guna memicu pertumbuhan yg positif
Pemberian suplementasi bagi ternak gembala penting krn banyak energi yg sdh terbuang selama penjelajahannya; juga berguna utk mengurangi tekanan penggembalaan
Suplementasi pakan berkualitas baik : pd saat rumput lapangan kehilangan kualitas nutrisi , disaat pertumbuhan berjln negatif maka bbrp daun pohon dpt ditambahkan ke dlm ransum ternak .
Jenis pohon yg daunnya digunakan sebagai pakan suplementasi :
Daun pohon Leguminosa : Lamtoro, Kabesak putih, Turi, Gamal , Kaliandra dan Dadap
Daun pohon Non-Leguminosa : Kedondong hutan, Beringin, Kapok, Kesambi, Bidara dan Nangka .
Selain pohon maka jenis Gewang ( Corypha gebanga) mrpkan sumber energi yg secara tradisional digunakan dlm ransum suplemen di Timor.
Pemberian pakan suplemen : 60% rpt lapangan : 40% suplemen.
Suplementasi Mineral
Ternak di Timor umumnya mengalami kekurangan bbrp unsur mineral (Little,1989)
Penambahan suplemen seperti putak belum mampu mencegah kehilangan berat badan ternak selama musim kemarau, diperlukan lebih banyak input protein atau NPN (urea) ke dlm ransum. Perbaikan terhadap komposisi vegetasi diharapkan akan ada sumbangan protein dr hijauan leguminosa terhadap kualitas pakan, misalnya kabesak: protein kasar 18.75%, pemberiannya sampai 50% dlm ransum rmpt lapangan , dpt meningkatkan BB 510 g/ekor/hr-679 g/ekor/hr (Kleden,89).
Pemberian suplementasi Mineral Blok dgn campuran :
Urea 17%, ZA 15%, TSP 15%, garam 40%, kapur 10%, dan semen 3%, dgn ukuran 1 kg setiap blok . Setiap ekor sapi dewasa yg mengkonsumsi mineral blok 1 kg/bln mampu mencapai gain 50-100 g/ekor/hr (Nulik dan Bamualim)
Suplementasi dpt mengurangi tingkat mortalitas, mulai dr mortalitas pedet sampai sapi dewasa, selain itu suplementasi protein juga mampu meningkatkan angka kelahiran (Jelantik, 2002).
PENUTUP
Daftar Pustaka
Bamualim, A. dan A. Saleh. 1992. Produksi dan Kualitas Hijauan Makanan Ternak Sapi Di Nusa Tenggara. Laporan Kegiatan CHAPS-EIVS Project.
Disampaikan dalam Annual Asessment Meeting, Mataram. 15-18 September 1992
Mannetje, L.’t, dan R.M. Jones. 2000. Sumberdaya Nabati Asia Tenggara. No. 4 Pakan. PT Balai Pustaka (Persero) bekerja sama dengan Prosea Indonesia, Bogor.
Nullik, J dan A. Bamualim. 1998. Pakan Ruminansia Besar Di Nusa Tenggara. BPTP Naibonat Bekerjasama dengan Eastern Islands Veterinary Services Project, Kupang
Prawiradiputra, B.R., Sajimin, N.D. Purwantari dan I. Herdiawan. 2006. Hijauan Pakan Ternak Di Indonesia. Balitbangtan, Deptan, Jakarta.
Elgersma, A. and J.H. Neuteboom. 1997. Grassland and Forage Science, Wageningen