MOTIF PELAJAR BERPACARAN DENGAN SOPIR ANGKUTAN KOTA DI KELURAHAN PAMPANGAN NAN XX
KECAMATAN LUBUK BEGALUNG KOTA PADANG
Artikel
Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Sosiologi (S1)
KIKI RISKI AMELIA NPM.10070152
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
PADANG
2016
Motif of Students DatingTransportation DriverInThe VillagePampanganNanXXDistrict ofLubukBegalungPadang Kiki Riski Amelia
1, Surya Prahara, MH
2, Erningsih, S.sos, M.Pd
3Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat
ABSTRACT
Datingis acommon thingin the present moment, wherealmostall peopledosomething calleddatingincludesamong students. Each ofthe activities a personmust haveno motivein itandso is the casewithstudentswho are datingtransportation drivers, whichare generallymorestudentshanging out withfriendsbut theschoolenvironmentthey prefertodatingwithpeople outside thecommunityas a student. The purposeof this studywas to describe themotive ofhigh school studentsinthe PampanganXXNanVillageDistrict of LubugBegalungPadang,datingtransportation drivers.
The theory used in this study is a phenomenological theory developed by Alfred Shcutz. Phenomenological theory is used to help understand the different symptoms or social phenomena in society. This study is a qualitative research using descriptive method. Methods of data collection is by interview and observation. Interviews were conducted with key informants as many as 7 people, informants in this study were taken by using snowball sampling technique. Data analysis model, namely through the stages of data collection, data reduction, data presentation and conclusion.
The results showed that the motive of high school students in the village Pampangan Nan XX District of Lubug Begalung Padang dating transportation drivers, namely: (1) Cost free, (2) Financial assistance (3) environmental of friendship become develop, (4) a free traveling ( 5) transportation drivers handsome.
Keyword :Motif of Students DatingTransportation Driver
1Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat Angkatan 2010
2Pembimbing I dan Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat
3Pembimbing II dan Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat
PENDAHULUAN
Pacaran adalah serangkaian aktivitas bersama yang diwarnai keintiman (seperti adanya rasa kepemilikan dan keterbukaan diri) serta adanya keterikatan emosi antara pria dan wanita yang belum menikah dengan tujuan untuk saling mengenal dan melihat kesesuaian antara satu sama lain sebagai pertimbangan sebelum menikah (Luqman,2014 : 4).
Istilah pacaran tidak bisa lepas dari dunia remaja, karena salah satu ciri remaja yang menonjol adalah rasa senang kepada lawan jenis disertai keinginan untuk memiliki. Pada masa ini, seorang remaja biasanya mulai “naksir” lawan jenisnya, lalu ia berupaya melakukan pendekatan untuk mendapatkan kesempatan mengungkapkan isi hatinya. Setelah pendekatannya berhasil lalu keduanya mulai pacaran (Luqman, 2014 :1).
Budaya pacaran sudah menjadi kecenderungan pergaulan remaja saat ini.Pacaran di anggap sebagai jati diri pergaulan dan identitas kedewasaan, meskipun pada kenyataannya banyak aktivitas yang menjurus perilaku seks tidak aman.Pacaran biasanya terjadi pada masal awal pubertas.Perubahan hormon dan fisik membuat seseorang mulai tertarik pada lawan jenis. Proses “sayang-sayangan“ dua manusia lawan jenis tersebut merupakan proses mengenal dan memahami lawan jenisnya dan belajar membina hubungan dengan lawan jenis sebagai persiapan sebelum menikah untuk menghindari terjadinya ketidakcocokan dan permasalahan pada saat sudah menikah. Masing-masing pasangan berusaha mengenal kebiasaan, karakter, atau sifat, serta reaksi-reaksi terhadap berbagai masalah maupun peristiwa (Luqman,2014 :74).
Prilaku pacaran pada umumnya didasarkan pada nilai-nilai budaya yang berlaku dan akan berbeda antara satu dengan yang lainnya. Dengan berkembangnya teknologi dan informasi sekarang cara berpacaran berubah pada sebagian masyarakat. Sarwono (1981) mengatakan bahwa “prilaku pacaran sebagai perwujudan cinta kasih, tidak cukup dengan perasaan hati, pandangan mata, senyuman penuh arti, namun juga melakukan sentuhan”. Hal ini menimbulkan perilaku pacaran yang
bermacam-macam mulai berkunjung kerumah, berkencan, bercumbu sampai bersenggama (Luqman,2014 :38).
Perkembangan kehidupan anak secara biologis-sosiologis sampai pada taraf dimana timbul rasa tertarik pada lawan jenis, dapat dikatakan bahwa ia telah memasuki masa awal bercinta. Pertumbuhan biologis serta perkembangannya psikologis dan pergaulan sosial akan makin menumbuhkembangkan nafsu seksual awal yang kemudian meningkatkan/
membangkitkan rasa senang/tertarik pada lawan jenisnya, secara perlahan-perlahan dan bertahap menuju kematangannya (Gunawan :159 ).
Fenomena pacaran memang sudah ada sejak zaman dahulu, namun dari waktu kewaktu tingkah laku pacaran turut berubah seiring dengan perkembangan sarana teknologi dan komunikasi yang semakin canggih. Pengertian pacaran dalam era globalisasi, informasi saat ini sangat berbeda dengan pengertian pacaran 15 tahun yang lalu (Kartono,1992: 30). Dulunya tingkah laku pacaran masih berwujud samar dan tidak terang-terangan seperti hanya dengan berkirim surat, titip salam melalui teman, namun berbeda dengan tingkah laku pacaran remaja sekarang ini yang menganggap kalau dalam pacaran tidak ada ciuman, saling merapat, menatap dan semacamnya dianggap tidak gaul (Ibrahim, 2006 :3).
Berpacaran tidak hanya sesuatu yang dilakukan semata-mata karena ketertarikan individu terhadap lawan jenis.Berpacaran juga merupakan sesuatu yang diharapkan atau dituntut dari remaja karena pacaran merupakan bentuk hubungan yang populer di masa remaja.Biasanya tuntutan itu berasal dari teman-temanya yang pada masa remaja ini sangat mempengaruhi tingkah laku individu.Akibat adanya tuntutan seperti itu dari teman-temanya, semakin banyak remaja yang ingin menjalin hubungan pacaran.Akhirnya, remaja dan pacaran menjadi dua hal yang selalu terkait dan semakin sulit di pisahkan (Sihombing, 2004). Saat ini rasanya bukan hal yang aneh jika seorang remaja mengatakan bahwa ia sudah menjalin hubungan pacaran (Luqman, 2014 :61).
Berdasarkan observasi awal yang peneliti lakukan di daerah Kelurahan Pampangan Nan XX Kecamatan Lubuk
Begalung, diketahui bahwa ada beberapa pelajar SMA yang tinggal di daerah Kelurahan Pampangan Nan XX Kecamatan Lubuk Begalung yang berpacaran dengan sopir angkutan kota, disebabkan setiap pergi dan pulang sekolah mereka menggunakan jasa angkutan kota dibandingkan menggunakan kendaraan pribadi
Berdasarkan data yang peneliti dapatkan dari masyarakat, pacaran memang sudah hal yang lazim pada saat sekarang ini terjadi yaitu pelajar yang berpacaran dengan sopir angkutan kota (angkot) di Kelurahan Pampangan Nan XX Kecamatan Lubuk Begalung. Ketertarikan peneliti dalam melakukan penelitian ini yaitu pergaulan pelajar di daerah ini tergolong dikatakan bebas seperti mereka berpacaran berpegangan tangan, berciuman, meraba- raba dan dari hasil pengamatan yang peneliti lakukan pelajar yang berpacaran dengan sopir angkot sepulang sekolah tidak langsung pulang kerumah tetapi mereka putar-putar dulu dengan pacarnya yang bekerja mencari penumpang dan itu bahkan sampai larut malam. Seharusnya pelajar yang masih berstatus pelajar lebih fokus kepada studynya dan jika ia lebih banyak menghabiskan waktunya berada diluar dengan pacarnya maka hal ini nantinya akan berpengaruh kepada prestasinya disekolah.
Berdasarkan fenomena yang terjadi pada pelajar di Kelurahan Pampangan Nan XX Kecamatan Lubuk Begalung, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Motif Pelajar Berpacaran dengan Sopir Angkutan Kota di Kelurahan Pampangan Nan XX Kecematan Lubuk Begalung kota Padang”
Berdasarkanlatarbelakang
masalahmaka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:apa motif pelajar berpacaran dengan sopir angkutan kota?. Tujuan dari penelitian ini adalah:untuk mengetahui motif pelajar berpacaran dengan sopir angkutan kota.
METODE PENELITIAN
Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan motif pelajar berpacaran dengan sopir angkutan kota.Tipe penelitian yang dipakai dalam penelitian ini ialah tipe penelitian deskriptif,
Penggunaan metode ini memberikan peluang kepada peneliti untuk melakukan pengumpulan data yang bersumber dari wawancara, observasi, foto-foto, dokumentasi pribadi, catatan atau pun memo dan dokumen resmi untuk menggambatkan subyek dari penelitian tersebut
Informan dalam penelitian in yaitu:
1.
Pelajar SMA yang berpacaran dengan sopir angkot yang berjumlah 7 orang.2.
Sopir angkot yang berpacaran dengan pelajar SMA yang berjumlah 7 orang.3.
Teman dekat dari pelajar SMA yang berpacaran dengan sopir angkot yang berjumlah 7 orang.Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.Pengumpulan data dilakukan melalui 3 metode yaitu:
1. Observasi
Observasi merupakan metode pengumpulan data dengan mencatat dan mengamati (Herdianyah, 2012:131) 2. Wawancara
Menurut Moleong (2001:217) wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu.Teknik wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini adalah wawancara secara langsung yang mendalam.Metode wawancara yang dilakukan adalah wawancara secara terstruktur yaitu wawancara yang dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara yang tersusun secara sistematis.
3. Dokumentasi
Dalam penelitian sosial, fungsi data yang berasal dari dokumen lebih banyak digunakan sebagai data pendukung dan pelengkap bagi data primer yang diperoleh melalui observasi dan wawancara mendalam
Adapun teknik analisis data dalam penelitian ini yaitu:
1. reduksi data,diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyerdehanaa, pengabstrakan dan informasi data “kasar” yang muncul dari catatan tertulis di lapangan
2. Penyajian data,sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan untuk menarik kesimpulan dan pengambilan tindakan. Bentuk
penyajiannya antara lain berupa matriks, grafik, jaringan dan bagan (Huberman dan Miles,1992 :17).
3. Penarikan kesimpulan,Penarikan kesimpulan hanyalah sebagian dari satu kegiatan dan konfigurasi yang utuh.
Kesimpulan-kesimpulan juga diverifikasi selama penelitian berlangsung (Miles dan Huberman,1992:19).
HASIL PENELITIAN
Motif merupakan dorongan dalam diri seseorang yang timbul dikarenakan adanya kebutuhan-kebutuhan yang ingin dipenuhi oleh seseorang tersebut.Dari hasil observasi yang dilakukan diketahui bahwa terdapat beberapa orang pelajar di kelurahan Pampangan yang berpacaran dengan sopir angkot.
Untuk mengetahui bagaimana motif pelajar SMA yang ada di Kelurahan Pampangan Nan XX Kecamatan Lubuk Begalung berpacaran dengan sopir angkot, maka teori yang digunakan adalah teori fenomenologi Alfred Schutz.Digunakannya teori ini untuk mengetahui motif dari pelajar berpacaran dnegan sopir angkot.
Menurut Alfred Schutz tindakan manusia ditentukan oleh makna yang dipahami tentang sesuatu yang disebut dengan motif., dimana mereka dalam melakukan tindakan mempunyai alasan tertentu. Alfred Schtuz membagi motif yang mempengaruhi tindakan manusia ke dalam dua bagian (Littlejohn, 2008):
1. Because motive, yang berarti motivasi yang tumbuh melalui pengalaman dan masalalu individu sebagai anggota masyarakat. Pelajar SMA yang di Kelurahan Pampangan Nan XX Kecamatan Lubuk Begalung sebagai indivu yang merupakan bagian dari komonitas sosial mereka mempunyai motif kenapa mereka berpacaran dengan sopir angkot dan motif tersebut lahir dari pengalaman-pengalaman yang mereka amati dan alami. Dari pengalaman tersebut akhirnya melahirkan motif mereka memilih berpacaran dengan sopir angkot yaitu dikarenakan:
a. Ongkos gratis, dimana dari apa yang diamati oleh pelajar, dengan berpacaran dengan sopir angkot maka secara langsung mereka tidak perlu membayar ongkos angkot dan hal
tersebut membuat mereka bisa memanfaatkannya uang jajan mereka untuk kebutuhan lainnya seperti membeli pulsa handphone.
b. Bantuan keuangan, dimana dari pengamatan pelajar sopir angkot sudah memiliki penghasilan sendiri jadi hal tersebut dapat menguntungkan pelajar yang belum memiliki penghasilan, karena status mereka adalah pacaran sehingga menurut pelajar sudah sewajarnya pacar membantu keuangan dari kekasihnya oleh sebab itu pelajar pacaran dengan sopir angkot yang sudah bekerja supaya pacarnya dapat membantu keuangan dari pelajar yang pas-pasan diberikan oleh orang tua.
2. In order motive, yang berarti motivasi yang tumbuh dan timbul karena melihat adanya nilai-nilai terhadap tindakan sekarang untuk jangkauan masa depan In order motive merupakan tujuan yang digambarkan sebagai maksud, makna, harapan, minat yang diinginkan dan karena itu berorientasi ke masa depan.
Dari hasil wawancara dengan pelajar SMA yang ada di Kelurahan Pampangan Nan XX Kecamatan Lubuk Begalung motif pelajar berpacaran dengan sopir angkot dilihat dari In order motive yaitu:
a. Menjalin pertemanan, dimana dari apa yang diketahui oleh pelajar dengan berpcaran dengan sopir angkot maka teman mereka akan bertambah karena komunitas sopir angkot ini cukup besar dan oleh sebab itu nilai-nilai yang diharapkan oleh pelajar berpacaran dengan sopir angkot yaitu lingkungan pertemannya menjadi semakin luas karena menurut pelajar semakin banyak teman mereka maka semakin luas pergaulannya b. Jalan-jalan gratis, dimana dari apa
yang diketahui oleh pelajar berpacaran dengan sopir angkot maka mereka akan sering jalan-jalan dan mereka tidak perlu berdiam diri dirumah karena pacarnya setiap hari akan membawa mereka putar-putar dengan angkotnya sambil mencari penumpang, oleh sebab itu nilai yang diharapkan oleh pelajar berpacaran dengan sopir angkot yaitu bisa jalan- jalan gratis setipa harinya.
c. Penampilan sopir angkot, dimana menurut pelajar berpacaran dengan sopir angkot akan membuat ia bangga dan rasa percaya dirinya meningkat dan menurut pelajar sopir angkot banyak yang gagah dan keren, oleh sebab itu nilai yang diharapkan oleh pelajar berpacaran dengan sopir angkot adalah dapat meningkatkan rasa bangga dan kepercayaan diri dalam diri pelajar berpacaran dengan orang ganteng dan keren walaupun ia adalah seorang sopir angkot.
KESIMPULAN
Berdasarkan data hasil penelitian, yang di dapatkan dari 7 orang pelajar yang berpacaran dengan sopir angkot maka dapat di simpulkan bahwa motif pelajar berpacaran dengan sopir angkot di Kota Padang adalah: (a) ongkos gratis, karena menganggap bahwa apabila mereka berpacaran dengan sopir angkot uang jajan yang di berikan orang tua bisa berlebih, setidaknya ongkos pergi dan pulang sekolah bisa mereka simpan untuk keperluan yang lain, (b) bantuan keuangan, karena menurutnya berpacaran dengan orang yang sudah memiliki penghasilan dapat membantu keuangan dari pelajar yang pas- pasan dari orang tua, (c) menjalin pertemanan, karena mereka menganggap bahwa lingkungan perteman dari sopir angkot cukup luas dan menurut pelajar hal tersebut akan membuat relasi pertemanan pun semakin bertambah luas (d) jalan-jalan gratis, karena yang mereka inginkan hanya untuk bersenang-senang dan berpacaran dengan sopir angkot membuat mereka bisa jalan-jalan setiap harinya, (e) penampilan sopir angkot, membuat pelajar merasa bangga berpacaran dengan sopir angkot.
SARAN
Berdasarkan data yang telah disimpulkan, maka peneliti menyarankan : 1. Kepada pelajar ketika mencari pacar
carilah pacar yang mampu meningkatkan prestasi atau yang mampu membing atau mengarahkan kepada hal yang positif, dan walaupun masa muda adalah masa- masa yang diisi dengan hal-hal yang menyenangkan tetapi alangkah baiknya
jika pelajar lebih mengutamakan pendidikan mereka ketimbang pacaran karena bagaimanapun juga ilmu dan pendidikan adalah kunci bagi pelajar untuk memasuki dunia kerja.
2. Kepada orangtua disarankan untuk lebih memperhatikan pergaulan anak-anaknya karena pelajar berada pada masa rasa ingin tahu yang tinggi dan ingin mencoba segala sesuatu hal yang menurut mereka baru, oleh sebab itu control dari orangtua sangat diperlukan supaya pelajar tidak masuk kepada pergaulan yang nantinya akan menjerumuskan mereka terlebih lagi dalam hal berpacaran karena umumnya pelajar pada usia SMA lebih mudah untuk dipengaruhi
3. Peneliti mengakui penelitian ini masih memiliki keterbatasan dalam menjelaskan fenomenologi sehubungan dengan motif pelajar berpacaran. Oleh karena itu, untuk kepentingan akademik peneliti menyarankan adanya penelitian yang sejenis di kemudian hari kelak supaya diperoleh gambaran yang lebih jelas lagi mengenai fenomenologi motif pelajar berpacaran.
DAFTAR PUSTAKA
Asrori, M. 2004. Psikologi Remaja, Perkembangan Peserta Didik.
Jakarta: Bumi Aksara.
Gunarsa, Singgih D.1989. Psikologi Remaja,.Jakarta : Gunung Mulia.
Ibrahim.2006.Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru Moleong, 2007.Metode Penelitian Kualitatif.
Bandung: Rosda Karya
Prayitno, Elida. 1989.Motivasi Dalam Belajar dan Berprestasi.Jakarta : Departemen Pendidikan
Sardiman.2007.Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta:
Rajagrafindo Persada
Sarwono.S.W. 1981.Psikologi Remaja.
Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Soekanto, Soerjono. 1993. Sosiologi Suara Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Zeitlin, Irving M. 1998. Memahami Kembali
Sosiologi, Kritik terhadap Teori SosiologiKontemporer, alih bahasa Anshori dan Juhanda, Yogyakarta :Gajah Mada Press