MAKALAH
PERIKAHAN SIRI MENURUT PERSPEKTIF INDONESIA SEBAGAI NEGARA HUKUM
Dosen Pengampu: Ratnasari Fajariya Abidin, S.H., M.H.
Disusun Oleh:
Muhammad Daniyal Firmansyah (22103080028)
Mata Kuliah Hukum Perusahaan dan Kepailitan Fakultas Syariah dan Hukum
Program Studi Hukum Ekonomi Syariah Tahun 2024
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jl. Laksda Adisucipto, Papringan, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman,
Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
ii
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr.wb
Bismillahirrohmanirrohim
Alhamdulillah kami panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. Yang telah memberikan rahmat, hidayah, dan inayah-nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Pernikahan Siri Menurut Perspektif Indonesia Sebagai Negara Hukum” Dengan tepat waktu. Makalah ini disusun untuk m-emenuhi tugas mata kuliah Hukum Perusahaan dan Kepailitan pada semester empat dengan dosen pengampu Ratnasari Fajariya Abidin, S.H., M.H. Selain itu makalah ini bertujuan untuk memberitahukan tentang Indonesia Sebagai Negara Hukum
Kami mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapan Ratnasari Fajariya Abidin, S.H., M.H. selaku dosen pengampu mata kuliah Hukum Perusahaan dan Kepailitan;
2. Rekan-rekan yang mengikuti mata perkuliahan Hukum Perusahaan dan Kepailitan;
3. Semua pihak yang telah membantu proses penyusunan makalah yang tidak dapat disebutkan satu persatu
Kami menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, kami memohon untuk para pembaca bisa memberikan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah ini dan pembelajaran kami selanjutnya.
Terima kasih
Wassalamu’alaikum wr.wb
Yogyakarta, 1 April 2024/
21 Ramadhan 1445 M
Penusun
iii DAFTAR ISI
JUDUL ... …i
KATA PENGANTAR ... …ii
DAFTAR ISI ... …iii
BAB 1 PENDAHULUAN ... …1
A. Latar Belakang ... …1
B. Rumusan Masalah ... …2
C. Tujuan Penulisan ... …2
BAB II PEMBAHASAN ... …3
A. Konsep Pernikahan Siri ... …3
B. Pernikahan Siri Dalam Persepsi Hukum Positif Dan Hukum Islam Di Indonesia ... …5
1. Pernikahan Siri Dalam Persepsi Hukum Positif ... …5
2. Pernikahan Siri Dalam Persepsi Hukum Islam ... …8
BAB III PENUTUP ... …10
A. Kesimpulan ... …10
DAFTAR PUSTAKA... …11
1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Manusia merupakan makhluk yang setiap saat berinteraksi dengan manusia maupun makhluk lainnya. Dalam menjalani kehidupannya manusia akan selalu membutuhkan orang lain, manusia tidak dapat mencapai keinginannya oleh dirinya sendiri. Maka dari itu, disebutlah manusia sebagai makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dan dibutuhkan oleh orang lain. Manusia saling membutuhkan dengan manusia lainnya tentunya dalam hal yang posistif. Salah satu manusia membutuhkan orang lain yaitu untuk menjadi pendamping hidupnya. Untuk mendukung keinginan mengembangkan keturunannya itu, tentunya melalui proses Pernikahan atau Perkawinan. Pernikahan adalah sebuah peristiwa hidup dimana terucapnya janji suci antara laki-laki dan perempuan.
Berdasarkan undang-undang nomor 1 tahun 1974 yang didalamnya menjelaskan tentang pernikahan. Pernikahan merupakan ikatan lahir dan batin antara pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan abadi berdasarkan ketuhanan maha esa. Pada hakikatnya pernikahan adalah rasa cinta kasih, kewajiban, pemenuhan hasrat seksual dan menghasilkan keturunan secara sah, untuk membentuk keluarga yang baik, harmonis dan bertanggung jawab. Perkawinan yang baik harus memenuhi syarat seperti: kesehatan, agama, sosial ekonomi, dan mentalitas yang perlu ada pada waktu itu.
Undang-undang perkawinan memberlakukan usia 18 tahun sebagai usia minimum pernikahan. Namun hal tersebut tidak sama dengan apa yang ada dilapangan. Secara keseluruhan, ada 720 juta wanita yang hidup dan menikah sebelum usia 18 tahun dengan rata-rata usia 15 tahun.
2
Pernikahan sejatinya adalah menjadi momentum untuk membagi kebahagiaan kepada orang lain, membagikan legalitas dan romantisme kebahagiaan sebagai pasangan suami istri.perkawinan banyak mengalami perubahan disesuaikan dengan perkembangan masyarakat itu sendiri namun tidak menghilangkan atau mengubah syarat serta rukun perkawinan itu sendiri sebagaimana diatur dalam UU No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Adanya UU No.16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tidak mengubah keseluruhan pasal dalam UU No. 1 Tahun 1974 namun hanya mengubah pasal tertentu yaitu mengenai batasan usia perkawinan. Pada praktiknya perkawinan yang sering terjadi dalam masyarakat termasuk di kalangan artis adalah perkawinan atau pernikahan siri yang hanya dilakukan dan diakui oleh hukum agama, di mana tujuan utama dilakukan perkawinan siri adalah untuk menghindari terjadinya zina.
Oleh karena itu, saya sebagai penulis akan mengambil judul
“Pernikahan Siri Menurut Perspektif Indonesia Sebagai Negara Hukum” sebagai pembahasan yang ada di dalam makalah ini untuk melihat lebih jauh bagaimana status hukum nikah siri menurut hukum positif dan hukum Islam di Indonesia.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Konsep Pernikahan Siri Di Indonesia?
2. Bagaimana persepsi hukum positif dan hukum Islam di Indonesia dalam menanggapi kasus pernikahan siri
C. Manfaat Penulisan
1. Untuk mengetahui pernikahan siri yang berlaku di Indonesia
2. Untuk membuka wawasan kepada pembaca tentang hukum positif dan hukum islam yang berlaku di Indonesia.
3. Untuk memaparkan persepsi hukum positif dan hukum islam yang berlaku di Indonesia terhadap kasus pernikahan siri.
3
BAB II PEMBAHASAN A. Konsep Pernikahan Siri
Menurut undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan pada pasal 1, perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga), yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan yang maha esa.
Pertimbangannya adalah sebagai negara yang berdasarkan Pancasila di mana sila pertamanya ialah ketuhanan yang maha esa, maka perkawinan mempunyai hubungan yang erat sekali dengan agama atau kerohanian sehingga perkawinan bukan saja mempunyai unsur lahir atau jasmani tetapi unsur batin atau rohani juga mempunyai peranan yang penting.
Perkawinan menurut kompilasi hukum islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau miitsaaqan ghaliizhan untuk menaati perintah allah dan melaksanakannya merupakan ibadah. Dan perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warohmah Keabsahan perkawinan sebagaimana dalam Undang-Undang No 1 Tahun 1974 dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 2 (2) yang menetapkan sebagai berikut:
Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masingmasing agamanya dan kepercayaannya itu. Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan-peraturan, perundang-undangan yang berlaku. 1
Demikian juga dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) dikatakan bahwa keabsahan Perkawinan adalah apabila dilakukan menurut hukum Islam sesuai pasal 2 ayat 1&2 UU.NO.1 tahun 1974, dan dicatat oleh PPN. Dengan demikian, selain harus memenuhi syarat dan rukun perkawinan sebagaimana ketetapan dalam hukum Islam, juga harus di dicatatkan di Kantor Urusan Agama (KUA) oleh Pegawai Pencatat Nikah (PPN). Pencatatan nikah ini memiliki arti jaminan kepastian hukum atas status pernikahan dengan segala
1 Moh. Asnawi, “Himpunan Peraturan Dan Undang-undang RI Tentang Perkawinan Serta Peraturan Pelaksanaan”, (Kudus: Menara, 1975), hlm 232.
4
akibat yang ditimbulkannya. Maka pencatatan merupakan suatu keharusan, dan kebutuhan primer yang harus dipenuhi bagi setiap pasangan suami istri, sehingga hak-hak masing-masing dijamin secara hukum.
Hal ini berbeda dengan makna pernikahan siri, yang dalam fikih memiliki arti nikah yang disembunyikan, dirahasiakan, dan tidak diumumkan ke dunia luar.2 Sedangkan dalam pengertian yuridis di Indonesia, pernikahan siri adalah pernikahan yang dilakukan secara hukum islam dengan diketahui orang banyak, hanya saja tidak dicatatkan ke Kantor Urusan Agama, sehingga yang membedakan antara nikah sirri dan bukan adalah akta nikah sebagai bukti atas adanya pernikahan. Maka menurut Quraish Shihab nikah siri adalah sah menurut hukum Islam, tetapi dapat mengakibatkan dosa bagi pelakunya, karena melanggar ketentuan pemerintah “Aturan ulil amri harus ditaati selama tidak bertentangan dengan hukum-hukum Allah”.3
Hukum perkawinan Islam telah dilakukan jauh sebelum adanya Undang- undang tentang pencatatan sebagai syarat legalnya perkawinan, sehingga perkawinan secara islam telah menjadi budaya di masyarakat dan telah mengakar menjadi hukum adat, maka hal yang cukup sulit untuk mengatasi permasalahan perkawinan siri yang telah dianggap sah secara hukum islam tersebut meski hal tersebut telah banyak menimbulkan berbagai problematika dimana hak-hak mereka yang melakukan perkawinan siri tidak terlindungi hukum, karena secara legal formal mereka belum menikah.
Di Indonesia telah terdapat sejumlah Undang-Undang dan Peraturan perundang-undangan lainnya yang secara legal bisa dijadikan ukuran keabsahan pernikahan. Diantaranya adalah Peraturan Pemerintah dan Undang-undang pemerintah yang terkait diantaranya: PP No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan, PP No. 9 Tahun 1975 tentang perceraian, UU No 88 tahun 2002 tentang
2 Wahbah Al Zuhaily, “Al-fiqh Al-Islamiyyah wa Adillatuhu”, (Beirut: Dar Al Fikr, 1989), VII, hlm 71
3Quraish Shihab, “Wawasan Al-Qur’an”.( Bandung. Mizan. 2007), hlm.271.
5
penghapusan traffiking perempuan dan anak, UU No. 23 tahun 2004 tentang KDRT.4
B. Pernikahan Siri Dalam Persepsi Hukum Positif Dan Hukum Islam di Indonesia
1. Pernikahan Siri Dalam Persepsi Hukum Positif Di Indonesia
Perkawinan merupakan salah satu asas pokok hidup yang paling utama dalam pergaulan yang berguna untuk mengatur kehidupan rumah tangga dan keturunan. Di Indonesia, dasar hukum perkawinan adalah menggunakan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 dan kompilasi hukum Islam. Menurut UU Nomor 1 Tahun 1974, perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Perkawinan atau pernikahan merupakan bentuk perjanjian formal dan sakral di antara kedua pasangan.Selain perkawinan yang berdasarkan dengan aturan hukum positif di atas, suka tidak suka, dalam realita sosial yang ada, dikenal adanya kawin siri dan kawin kontrak. Siri berasal dari Bahasa Arab “as-sirru” yang berarti rahasia, diam-diam.
Kawin siri merupakan pernikahan yang hanya memenuhi prosedur keagamaan, tanpa melaporkannya ke KUA atau ke Kantor Catatan Sipil.
Biasanya nikah siri dilaksanakan karena kedua belah pihak belum siap meresmikannya atau meramaikannya, namun di pihak lain untuk manjaga agar tidak tidak terjadi kecelakaan atau terjerumus kepada hal-hal yang dilarang agama5
Pada dasarnya, perkawinan siri jika sudah memenuhi unsur syarat dan rukun nikah, maka hukumnya sah dalam Islam. Syaratsyarat pernikahan
4Zeni Luthfiyah, “Status Pernikahan Siri Dalam Aturan Perundang-undangan”, (Surakarta, Jurnal Uiveritas Sebelas Maret, 2019), hlm 126.
5 Hussein Muhammad. “Pandangan Islam Tentang Seksualitas”, Makalah Seminar Gender dan Islam. (Surabaya, 2004), hlm. 12
6
dalam Islam itu adalah meliputi calon pengantin, wali dari wanita yang akan dinikahkan, Mas kawin dan dua orang saksi. Tetapi yang menjadi soal adalah, perkawinan di Indonesia tidak berdasarkan hukum Islam. Melainkan hukum positif, yakni UndangUndang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan.
Terjadinya perkawinan siri dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Pertama adalah faktor ekonomi, biaya yang lebih murah jika dibandingkan dengan perkawinan yang mengundang pihak KUA. Perkawinan siri tidak perlu menyebarkan undangan terlalu banyak. Sehingga otomatis akan menghemat biaya perkawinan. Contoh nya adalah kasus perkawinan Bupati Garut Aceng HM Fikri dengan seorang gadis belia berumur 18 tahun, Fany Octora.Yang mana, setelah 4 hari diceraikannya. Fakta di lapangan, tidak sedikit orang yang melakukan perkawinan siri dengan alasan ingin poligami, beristri lebih dari satu.Bahkan, istri pertama pun kerap kali tidak mengetahui.
Di Indonesia, nikah yang tidak bermasalah adalah nikah yang dilakukan menurut ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Bagi orang Islam, nikah yang tidak bermasalah adalah nikah yang diselenggarakan menurut hukum Islam seperti disebutkan dalam pasal 2 ayat (1) UU R.I No.1 Tahun 1974 dan dicatat, menurut ayat (2) pasal yang sama.
M. Quraish Shihab mengemukakan bahwa betapa pentingnya pencatatan nikah yang ditetapkan melalui undang-undang, di sisi lain nikah yang tidak tercatat selama ada dua orang saksi- tetap dinilai sah oleh hukum agama, walaupun nikah tersebut dinilai sah, namun nikahi bawah tangan dapat mengakibatkan dosa bagi pelaku-pelakunya, karena melanggar ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah (ulul amri). Al-Quran memerintahkan setiap muslim untuk menaati ulul amri selama tidak bertentangan dengan hukum Allah. Dalam hal pencatatan tersebut, ia bukan
7
saja tidak bertentangan, tetapi justru sangat sejalan dengan semangat Al- Quran. 6
Dari argumen tersebut terlihat bahwa baik itu ulama fikih klasik, kontemporer dan pakar hukum Indonesia maupun ulama Indonesia umumnya menentang nikah siri, sebab dapat menimbulkan mudarat, meskipun tidak dapat dipungkiri ada sebagian ulama yang membolehkan, dengan alasan sebagai upaya menghindari zina. Akan tetapi, untuk menghindari zina tidak mesti dengan menikah siri, nikah yang dilakukan dengan proses yang benar yang diakui oleh hukum agama dan negara akan lebih menjamin masa depan lembaga nikah tersebut.
Faktor sosial dan budaya di suatu daerah juga menjadi faktor terjadinya perkawinan siri. Pengurusan perkawinan terkesan sulit di lingkungan birokrasi. Bukan tanpa alasan pernikahan siri banyak ditempuh pasangan wanita dan pria yang ingin menyatukan cinta dalam mahligai pernikahan. Selain karena mudah pengurusannya dimana tidak direpotkan faktor birokrasi yang berbelit, keabsahan hubungan secara agama pun dalam genggaman. Tidak salah jika pernikahan ini pun akhirnya digemari banyak orang, bukan hanya kalangan biasa, tapi juga jajaran pejabat atau PNS menempuh jalan ini. Hanya saja, pernikahan semacam ini sangat tidak dianjurkan, karena beberapa alasan :
a) Pemerintah telah menetapkan aturan agar semua bentuk pernikahan dicatat oleh lembaga resmi, KUA. Sementara sebagai kaum muslimin, diperintahkan oleh Allah untuk menaati pemerintah selama aturan itu tidak bertentangan dengan syariat. Pencatatan nikah sama sekali tidak bertentangan dengan aturan Islam atau hukum Allah.
b) Adanya pencatatan di KUA akan semakin mengikat kuat kedua belah pihak. Dalam Al-quran, Allah menyebut akad nikah dengan perjanjian
6 Quraish Shihab. “Wawasan Al-Qur’an”, ( Bandung. Mizan. 2007), hlm.271.
8
yang kuat Sebagaimana yang Allah tegaskan di surat An-Nisa: 21. Surat nikah ditujukan untuk semakin mewujudkan hal ini. Dimana pasangan suami-istri setelah akad nikah akan lebih terikat dengan perjanjian yang bentuknya tertulis. Dengan ikatan semacam ini, masing-masing pasangan akan semakin menunjukkan tanggung jawabnya sebagai suami atau sebagai istri.
c) Pencatatan surat nikah memberi jaminan perlindungan kepada pihak wanita. Dalam aturan nikah, wewenang cerai ada pada pihak suami.
Sementara pihak istri hanya bisa melakukan gugat cerai ke suami atau ke pengadilan. Yang menjadi masalah, terkadang beberapa suami menzhalimi istrinya berlebihan, namun di pihak lain dia sama sekali tidak mau menceraikan istrinya. Dia hanya ingin merusak istrinya.
Sementara sang istri tidak mungkin mengajukan gugat cerai ke pengadilan agama, karena secara administrasi tidak memenuhi persyaratan.
d) Memudahkan pengurusan administrasi negara yang lain7
2. Pernikahan Siri dalam persepsi Hukum Islam Di Indonesia
Apabila dilihat dari aspek sosial, bahwa suatu perkawinan itu mempunyai arti yang penting dan teristimewa dimana hal ini telah terjadi dua orang manusia yang tadinya tidak ada hubungan apapun (merupakan orang lain), apabila terjadi suatu ikatan suami sstri, sebenarnya ikatan itu tidak berhenti sampai disitu saja melainkan sampai pada hubungan famili, kerabat dan hubungan kekeluargaan. Sehingga semua agama memandang bahwa perkawinan merupakan suatu kejadian yang sangat penting dan di istimewakan. Disamping itu banyaknya penilaian umum yang berpendapat bahwa orang yang melakukan perkawinan atau pernah melakukan
7 Ammi Nur Baits, 2012, “Hukum Nikah Siri” , Konsultasi Syariah (online) , https://konsultasisyariah.com/11347-nikah-siri-tanpa-sepengatahuan-orang-tua.html, diakses tanggal 7 Desember 2022
9
perkawinan mempunyai kedudukan yang lebih dihargai daripada mereka yang belum kawin. Khususnya bagi kaum wanita dengan perkawinan akan memberikan kedudukan sosial yang tinggi, karena ia sebagai istri dan wanita mendapat hak-hak tertentu dan dapat melakukan tindakan hukum dalam berbagai lapangan mu’amalat, yang tadinya ketika masih gadis tindakan-tindakannya masih terbatas, harus dengan 0ersetujuan dan pengawasan dari orang tuanya.8
Dari pandangan masyarakat tersebut diatas inilah maka dalam suatu masyarakat masih dilakukan suatu perkawinan sirri. Dalam hal ini disamping dijumpai didesa-desa ada juga sebagian masyarakat kota yang masih melaksanakan suatu perkawinan sirri, baik yang berpendidikan tinggi maupun yang rendah.
Saya sebagai penulis telah mengemukakan diatas bahw suatu perkawinan sirri adalah suatu perkawinan yang dilakukan oleh orang-orang Indonesia yang beragama Islam, yang telah memenuhi baik rukun-rukun maupun syarat-syarat perkawinan tetapi tidak dicatatkan pada pejabat pencatat nikah, sebagaimana yang ditentukan oleh Undang-undang Nomor 1 tahun 1974. Dengan tidak dicatamelakuka akan perkawinan sirri ini, maka suatu perkawinan itu tidak terdaftar didalam suatu akta negara.
Perkawinan sirri itu merupakan bagian daripada perkawinan Islam, maka apabila mereka melakukan suatu perkawinan sirri syarat-syarat dan rukun-rukun yang harus di penuhi adalah harus sesuai dengan yang ada dalam perkawinan menurut agama Islam.
8 Ny. Soemiati. “Hukum Perkawinan Islam dan Undang-undang Perkawinan (Undang- undangNo.l tahun 1974 tentang perkawinan)”, (Yogyakarta: Liberty,1982) h. 11.
10
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
Pernikahan siri adalah pernikahan yang dilakukan secara hukum islam dengan diketahui orang banyak, hanya saja tidak dicatatkan ke Kantor Urusan Agama, sehingga yang membedakan antara nikah sirri dan bukan adalah akta nikah sebagai bukti atas adanya pernikahan. Maka menurut Quraish Shihab nikah siri adalah sah menurut hukum Islam, tetapi dapat mengakibatkan dosa bagi pelakunya, karena melanggar ketentuan pemerintah “Aturan ulil amri harus ditaati selama tidak bertentangan dengan hukum-hukum Allah”. Menurut Hukum Positif Indonesia, pernikahan siri memang di perbolehkan, hanya saja pernikahan semacam ini sangat tidak dianjurkan, karena beberapa alasan dengan beberapa pertimbangan
Sedangkan menurut hukum Islam, pernikahan sirri juga diperbolehkan. Maka apabila mereka melakukan suatu perkawinan sirri syarat-syarat dan rukun-rukun yang harus di penuhi adalah harus sesuai dengan yang ada dalam perkawinan menurut agama Islam.
11
DAFTAR PUSTAKA
Moh. Asnawi, “Himpunan Peraturan Dan Undang-undang RI Tentang Perkawinan Serta Peraturan Pelaksanaan”, (Kudus: Menara, 1975).
Wahbah Al Zuhaily, “Al-fiqh Al-Islamiyyah wa Adillatuhu”, (Beirut: Dar Al Fikr, 1989), VII.
Quraish Shihab, “Wawasan Al-Qur’an”.( Bandung. Mizan. 2007).
Zeni Luthfiyah, “Status Pernikahan Siri Dalam Aturan Perundang-undangan”, (Surakarta, Jurnal Uiveritas Sebelas Maret, 2019).
Hussein Muhammad. “Pandangan Islam Tentang Seksualitas”, Makalah Seminar Gender dan Islam. (Surabaya, 2004).
Ammi Nur Baits, 2012, “Hukum Nikah Siri” , Konsultasi Syariah (online) , https://konsultasisyariah.com/11347-nikah-siri-tanpa-sepengatahuan- orang-tua.html, diakses tanggal 7 Desember 2022
Ny. Soemiati. “Hukum Perkawinan Islam dan Undang-undang Perkawinan (Undang-undangNo.l tahun 1974 tentangperkawinan)”, (Yogyakarta:
Liberty,1982).