1
MULTI KRITERIA TERHADAP PEMILIHAN ALTERNATIF PENGOLAHAN SAMPAH ORGANIK DENGAN MENGGUNAKAN
METODE ANALYTICAL NETWORK PROCESS (Studi Kasus: Kota Sungai Penuh - Jambi)
Desvia Safitri
1, Mochammad Chaerul
2, Emenda Sembiring
3Program Studi Magister Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10 Bandung, 40132.
1[email protected], 2[email protected], 3[email protected].
Abstrak: Persampahan merupakan salah satu tantangan yang dihadapi oleh negara-negara berkembang.
Pertambahan jumlah sampah dan pengelolaan yang tidak sesuai dapat menimbulkan resiko terhadap kesehatan, dampak lingkungan bahkan dampak sosial. Hal ini mengindikasikan pemilihan pengolahan sampah menjadi kompleks karena dipengaruhi berbagai aspek (kriteria) dan adanya hubungan keterkaitan antar kriteria. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan alternatif pengolahan sampah organik yang tepat dan sesuai untuk diterapkan di Kota Sungai Penuh. Metode ANP adalah suatu pendekatan dalam teknik analisis multi kriteria yang mampu memodelkan permasalahan menggunakan hubungan keterkaitan antar kriteria. Selain itu, kekuatan keterkaitan antar sub kriteria digambarkan dengan dependence and driving analysis (DDPA). Dalam studi ini diidentifikasi 18 sub kriteria dalam 4 kriteria (ekonomi, lingkungan, sosial, teknis, dan kelembagaan). Skenario Alternatif pengolahan sampah organik yang dianalisis terdiri atas kombinasi pengomposan, insinerasi, dan landfill.
Proses pemilihan alteranatif diperoleh melalui kuisioner perbandingan berpasangan dari 22 responden meliputi kelompok stakeholders,akademisi, masyarakat, dan sektor informal. Kemudian diolah menggunakan super decision software. Hasil perhitungan menunjukkan kriteria sosial (0,292) dan lingkungan (0,249) merupakan pertimbangan utama dalam pemilihan alternatif pengolahan sampah organik. Sub kriteria sosial yaitu penerimaan masyarakat terhadap teknologi (S1) merupakan sub kriteria dependent dengan dependency tertinggi. Sedangkan, secara ekonomi manfaat langsung maksimum merupakan sub kriteria dalam kluster linkage dengan driving power tertinggi. Sintesis prioritas skenario pengomposan di sumber skala kelurahan dan landfilling merupakan preferensi dengan bobot tertinggi (0,320).
Kata kunci : pengolahan sampah, multi kriteria, keterkaitan antara kriteria, Analytical Network Process.
PENDAHULUAN
Sampah perkotaan merupakan salah satu permasalahan kompleks yang dihadapi negara-negara berkembang. Pertambahan jumlah sampah yang tidak diimbangi dengan pengelolaan yang ramah lingkungan akan menyebabkan terjadinya pengusakan dan pencemaran lingkungan. Penanganan sampah yang tidak komprehensif akan memicu terjadinya masalah sosial, seperti amuk massa, bentrok antar warga serta pemblokiran fasilitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) (Hadi, 2004).
Pengelolaan sampah Kota Sungai Penuh menggunakan sistem konvensional (kumpul-angkut- buang) dan mengandalkan TPA Regional Sanggaran Agung. Tingginya volume sampah Kota Sungai Penuh yang terangkut ke TPA menyebabkan semakin mendesak pemerintah kota untuk mencari alternatif penanganan sampah yang dapat mengatasi masalah kebutuhan lahan dan sulitnya mencari lahan TPA.
Pengelolaan sampah perkotaan merupakan permasalahan yang kompleks karena melibatkan
hubungan antar elemen dan sering menimbulkan konflik dalam pencapaian tujuannya (Haastrup dalam Bottero dan Ferreti, 2011). Permasalahan sampah menjadi lebih akut dan pemilihan fasilitas pengolahan sampah dapat menjadi pemicu terjadinya konflik. Dalam konteks ini, Pengambil keputusan (decision makers) harus mampu mengambil keputusan yang benar dan tepat. Penelitian terhadap banyak sistem pendukung keputusan modern yang mana sebagian besar mempertimbangkan analisis faktor sosial selain biaya dan manfaat, faktor lingkungan, permasalahan teknis, dan aspek manajemen (Su dkk, 2007). Bahkan kriteria ekologis dan spasial, pengembangan manusia serta pengembangan berkelanjutan dipertimbangan dalam pengambilan keputusan pengelolaan sampah (Generowicz dkk, 2011; Morrissey dkk dalam Nouri, 2011; Garfi dkk, 2009).
Multi Criteria decision making (MCDM) adalah metode yang umum digunakan dalam menyelesaikan permasalahan pengelolaan sampah
2 perkotaan. MCDM memfasilitasi pemilihan alternatif terbaik diantara beberapa alternatif yang ada dengan penilaian terhadap berbagai kriteria yang mempengaruhinya. Kriteria yang dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan seringkali memiliki keterkaitan satu sama lain, sehingga metode ANP sangat tepat digunakan untuk menangani permasalahan dengan keterkaitan antar kriteria (Bottero dan Ferreti, 2001). Untuk membangun model yang terpercaya perlu dilakukan identifikasi secara jelas kriteria-kriteria yang penting dan hubungan keterkaitannya. Dalam penelitian ini pendekatan dengan metode ANP (Analytical Network Process) digunakan untuk menentukan prioritas alternatif pengolahan sampah organik di Kota Sungai Penuh. Sedangkan hubungan keterkaitan antar kriteria dianalisis menggunakan metode dependence and driving analysis (DDPA) yang mampu menggambarkan kekuatan keterkaitan dan pengaruh antar kriteria.
METODOLOGI
Hasil sampling komposisi sampah Kota Sungai Penuh disominasi oleh sampah organik (70%
berdasarkan berat). Oleh karena itu, dalam studi ini dirancang skenario pengolahan sampah organik sebagai berikut:
Skenario 1: Pengomposan di sumber skala kelurahan dan residu diangkut ke TPA; Skenario 2:
Pengomposan di sumber skala kelurahan dan residu diangkut bersama sampah kelurahan lain untuk diinsinerasi di TPA; Skenario. 3: Pengomposan di TPST skala kecamatan dan residu diangkut ke TPA untuk diurug; Skenario 4: Pengomposan di TPST skala kecamatan dan insinerasi di TPST.
Proses pemilihan alternatif dengan metode ANP meliputi enam tahap:
I. Penentuan kriteria dalam pemilihan alternatif pengolahan sampah berdasarkan studi literatur dan wawancara dengan stakeholders.
II. Penentuan sub kriteria melalui kuisioner yang berisi identifikasi sub kriteria yang akan dipilih oleh responden dari stakeholders (Kuisioner I).
Kriteria dan sub kriteria terpilih dalam kriteria ekonomi adalah: biaya investasi minimal (E1), biaya operasional dan maintenance minimal (E2), manfaat langsung maksimal (E3); Sub kriteria lingkungan: pencemaran udara minimal (L1), pencemaran air minimal (L2), habitat vektor penyakit minimal (L3), peningkatan estetika maksimal (L4); Sub kriteria sosial : penerimaan masyarakat terhadap teknologi (S1), penguatan peran aktif masyarakat (S2), penyerapan tenaga kerja (S3), menciptakan lapangan kerja formal/informal (S4); Sub kriteria teknis:
kesesuaian RTRW (T1), ketersedian lahan (T2), kemudahan operasional (T3), ketersediaan SDM (T4); Sub kriteria kelembagaan : ketersediaan institusi (K1), peraturan (K2), kerjasama antar pemerintah (K3).
III. Penentuan hubungan keterkaitan antar sub kriteria diperoleh melalui kuisioner keterkaitan antar 18 sub kriteria yang telah ditentukan. Responden terdiri atas dua kelompok yaitu kelompok stakeholders dan akademis yang diwakili masing- masing 10 orang. Hasil kuisioner diintegrasi dari kedua kelompok responden dan Persamaan 1 digunakan untuk menentukan hubungan keterkaitan blok matrik m x m.
Q = ……….. Persamaan 1 IV. Konstruksi model jaringan alternatif pengolahan
sampah berdasarkan hasil pada langkah I,II, III.
V. Skala kepentingan skenario alternatif pengolahan sampah organik diperoleh dari kuisioner perbandingan berpasangan kriteria dan sub kriteria. Responden terdiri atas stakeholders (pengelola sampah) akademisi (Mahasiswa Teknik Lingkungan), masyarakat, dan sektor informal (pengusaha daur ulang/bandar).
VI. Uji konsistensi matrik perbandingan berpasangan, hingga memenuhi ratio inconsistency ≤ 10%, dihitung bobot kriteria, dan sintesis alternatif pengolahan sampah dengan menggunakan super decision software.
HASIL DAN DISKUSI
Penentuan dan Analisis Hubungan Keterkaitan Antar Sub Kriteria
Penentuan hubungan saling ketergantungan berdasarkan metode voting pada hasil penelitian oleh Kasirian dan Yusuff (2009). Hasil gabungan dari dua kelompok responden dapat dilihat pada Tabel 1.
Jumlah responden (N) adalah 20 (dua puluh) orang, masing-masing 10 orang dari setiap kelompok.
Jika dalam suatu blok (baris i - kolom j), jumlah responden yang memilih (Vij) lebih dari atau sama dengan (N/2 ≥ 10), maka terdapat hubungan keterkaitan antar kriteria tersebut.
Hubungan keterkaitan antar sub kriteria hasil pendapat gabungan responden ditransformasi ke dalam reachability matrix (terdapat hubungan=1, tidak terdapat hubungan=0). Setiap baris dijumlah sehingga diperoleh driving power (sumbu Y) masing- masing sub kriteria dan penjumlahan setiap kolom merupakan nilai dependence power (sumbu X).
Kemudian koordinat x,y sub kriteria diplot pada grafik yang membagi sub kriteria ke dalam empat kluster berdasarkan driving-dependence power (Tabel 2 dan Gambar 1).
3
Tabel 1. Hubungan Ketergantungan Antar Kriteria dari Dua Kelompok Responden
Tabel 2. Driving - Dependence Power dalam Reachability Matrix
Gambar 1. Kluster Sub Kriteria Berdasarkan Dependence dan Driving Power
Kuadran III (linkage cluster) merupakan sub kriteria yang harus dipertimbangkan dengan hati-hati karena hubungan dengan variabel lainnya tidak stabil.
Setiap tindakan terhadap sub kriteria tersebut memberikan dampak terhadap sub kriteria lainnya
dan umpan balik pengaruhnya bisa memperbesar atau menimbulkan dampak yang baru.
Dengan menggunakan Super Decision software dibuat model jaringan alternatif pengolahan sampah organik (Gambar 2).
Gambar 2. Model Jaringan Alternatif Pengolahan Sampah Organik
4 Penilaian Kriteria
Kriteria sosial merupakan prioritas utama dalam penentuan alternatif pengolahan sampah organik. Indikator lingkungan merupakan kriteria kedua dengan bobot tertinggi. Hal ini mencerminkan alternatif pengolahan sampah diharap dapat mendorong perbaikan dan peningkatan kualitas lingkungan (Tabel 4).
Tabel 4. Prioritas Kriteria Pengolahan Sampah Organik
Kriteria
Alternatif Pengolahan Sampah Organik
Bobot CR
Ekonomi 0,1415
0,0115 Lingkungan 0,2490
Sosial 0,2923
Teknis 0,1840
Kelembagaan 0,1332
Nilai Consistency Ratio (CR) sebesar 0,0115 (1,15%) menunjukkan bahwa hasil perhitungan perbandingan berpasangan cukup konsisten dan berada dalam batas inconsistency ratio yaitu ≤10%.
Sintesis Alternatif Pengolahan Sampah
Prioritas alternatif pengolahan untuk diterapkan di Sungai Penuh adalah skenario ke-1:
dengan bobot tertinggi yaitu 0,3295. (Gambar 3).
Implementasi skenario-1 mengimplikasikan perlu dilakukannya studi sosial yang dapat mengukur tingkat penarimaan dan kesiapan masyarakat terhadap alternatif pengolahan sampah yang direncanakan .
Gambar 3. Hasil Sintesis Prioritas Skenario Pengolahan Sampah Organik
KESIMPULAN
Model jaringan pemilihan alternatif pengolahan sampah menunjukkan hubungan yang kompleks antar sub kriteria yang mempengaruhi pengambilan keputusan. Hubungan keterkaitan antar sub kriteria yang menjadi pertimbangan utama adalah hubungan dalam sub kriteria (inner dependence) yaitu penerimaan masyarakat (S1) terhadap teknologi. Hubungan antar sub kriteria (outer dependence) yaitu manfaat langsung maksimum terhadap penerimaan masyarakat (S1).
Selain itu, preferensi terhadap penerimaan masyarakat (S1) adalah sub kriteria dengan dependency tertingi (dependent kluster) dan manfaat langsung maksimal (E3) berada pada kluster independent dengan driving power tertinggi. skenario terpilih adalah pengomposan di sumber skala kelurahan dan landfilling.
Daftar Pustaka
Bottero, Marta dan Ferretti, Valentina. 2011. An Analytic Network Process-based Approach for Location Problems: The Case of a New Waste Incinerator Plant in the Province of Torino (Italy). Journal of Multi-Criteria Decision Analysis, 17, 63–84.
Garfi, M., Tondeli, S. dan Bonoli, A. 2009. Multi-criteria Decision Analysis for Waste Management in Saharawi Refugee Camps. Waste Management. 29, 2729–2739.
Generowicz, A., Kowalski, Z. dan Kulczycka, J. 2011.
Planning of Waste Management Systems in Urban Area Using Multi-criteria Analysis. Journal of Environmental Protection, 2, 736-743
Hadi, Sudharto P. 2004. Dimensi Lingkungan Perencanaan Pembangunan. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Kasirian, M.N., Yusuff, M.R. 2009. Determining Interdependence Among Supplier Selection Criteria.
European Jurnal of Scientific Research, Vol. 35 No.1, pp: 76-84.
Kustiah, Tuti. 2005. Kajian Kebijakan Pengelolaan Sanitasi Berbasis Masyarakat. Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman. Badan Penelitian dan Pengembangan Depertemen PU. Bandung.
Nouri, D. Sabour, M.R. dan Ghanbarzadeh, L.M. 2011.
Environmental and Technical Modeling of Industrial Solid Waste Management Using Analytical Network Process; A Case Study: Gilan-IRAN. World Academy of Science, Engineering and Technology, 81.
Su, J.P., Chiueh, P.T., Hung, M.L. dan Ma, H.W. 2007.
Analyzing Policy Impact Potential for Municipal Solid Waste Management Decision Making: A Case Study of Taiwan. Resources Conservation and Recycling, 51, 418–434.