MUSHOKU TENSEI II : ISEKAI ITTARA HONKI DASU EPISODE – 01
Di tengah salju, Rudheus pergi ke suatu tempat menggunakan jasa kereta bersama dengan beberapa penumpang lainnya. Ia hanya duduk di pojok sembari menghela napas dalam beberapa kali tanpa disadarinya sedangkan penumpang lain sibuk bersenda gurau mengisi waktu luang menunggu sampai di tujuan. Salah satu wanita bernama Suzanne peduli pada Rudheus yang terlihat murung sepanjang perjalanan. Suzanne itu mencoba mengajak Rudheus bicara namun tanggapan Rudheus hanya sepantasnya saja hingga membuat rekan Suzanne itu yang merupakan gadis remaja bernama Sara merasa tersinggung karena temannya di abaikan meski sudah berniat baik dan khawatir pada Rudheus. Di sisi lain dalam pikirannya, Rudheus melihat Sara terasa mirip dengan seseorang. Suzanne yang mencoba menenangkan Sara mendapat jawaban dari Rudheus. Tujuan Rudheus pergi ke Utara adalah untuk mencari ibunya yang menjadi korban dari bencana teleportasi. Mendengar jawaban itu, seluruh penumpang di dalam kereta tersebut bersimpati pada Rudheus. Suzanne yang khawatir menawarkan pada Rudheus untuk memberikan informasi yang ia ketahui tentang Utara selama perjalanan pada Rudheus yang tidak memiliki petunjuk apapun tentang keberadaan ibunya di Utara yang begitu luas.
Negeri yang ada di Utara mayoritas adalah negeri yang miskin namun ada yang mendapat julukan sebagai tiga negeri sihir dan lebih makmur dari negeri lainnya. Negeri itu adalah kerajaan Ranoa yang amat sangat memprioritaskan pendidikan sihir, kesultanan Neris yang menekuni bidang pembuatan alat sihir serta kesultanan Basherant yang sangat ulet meneliti teknik sihir sekaligus tujuan mereka. Ketiga negeri itu beraliansi untuk memajukan ilmu sihir.
Sesampainya di tujuan, setiap penumpang yang ada langsung berkumpul dengan orang-orang yang menjemputnya hingga hanya tersisa Rudheus yang sendirian. Ia pergi ke sebuah penginapan dan langsung menyewa sebuah kamar untuknya selama sebulan penuh dengan pembayaran di muka. Segera ia menuju kamar yang telah ia sewa, mengistirahatkan tubuhnya tanpa membiarkan seberkas cahaya dan kehangatan sedikitpun menyentuhnya. Ia berbaring sembari memegang dan mengamati potongan seikat rambut Eris yang ia bawa.
Belum lama ia berbaring, ia memutuskan untuk bangkit karena perjalanannya tidak ingin ia sebut sebagai perjalanan karena patah hati namun ia harus fokus pada tujuannya untuk menemukan Zenith.
Rudheus datang ke guild sendirian dan langsung menjadi buah bibir seisi guild. Ia datang dengan tujuan untuk membubarkan partynya dengan Eris. Meski sedikit berat namun ia akhirnya melepaskannya. Melihat itu, para pelanggan di guild itu mengira rekan party Rudheus pasti telah tewas dalam sebuah misi hingga menyisakan Rudheus sebatang kara.
Rudheus tidak memikirkan perkataan orang lain. Ia memilih sebuah misi yang harusnya ditangani oleh sebuah party bukan secara mandiri. Tiba-tiba dada Rudheus terasa nyeri dan ia mencoba meredamnya dengan menggenggam sesuatu yang ada di sakunya hingga Suzanne muncul dan menawarkan Rudheus untuk bergabung dengan party miliknya. Suzanne memperhatikan raut wajah Rudheus yang tidak lagi memiliki aura manusia yang punya lagi semangat untuk hidup. Rudheus awalnya enggan untuk bergabung dengan party Suzanne namun ia kemudian diajak berkumpul dengan anggota party lainnya. Dalam pikiran Rudheus, perlakuan yang ia terima sudah pasti hanya karena simpati belaka. Suzanne berkata bahwa partynya membutuhkan satu lagi penyokong sehingga akhirnya Rudheus menyetujui untuk bergabung dan mereka akan berkumpul keesokannya di gerbang utara untuk melakukan misi yang mereka ambil.
Keesokannya Rudheus datang lebih pagi dan menunggu sendirian di gerbang utara.
Beberapa saat kemudian barulah Suzanne datang dengan yang lain. Ia memperkenalkan diri
sebagai Rudheus Greyrat si penyihir yang dapat menggunakan sihir tanpa merapal.
Perkenalan itu membuat anggota party lainnya terkejut dengan fakta Rudheus yang bisa menggunakan sihir tanpa merapal. Suzanne mengulurkan tangan untuk berjabat sebagai tanda kerja sama mereka namun Rudheus belum bisa menjabatnya. Mereka memulai perjalanan misi mereka dan sembarinya saling mengenalkan diri pada Rudheus. Yang pertama adalah Suzanne yang merupakan wakil ketua dari party Counter Arrow dan memiliki posisi sebagai garda depan, selanjutnya adalah Timothy yang bertugas sebagai garda belakang dan ahli dalam serangan sihir. Timothy inilah yang merupakan leader dari party Counter Arrow.
Anggota selanjutnya adalah Mimir pengguna sihir pemulihan serta Patrice yang juga bertugas di garda depan bersama Suzanne. Anggota terakhir adalah Sara yang tugasnya di garda tengah dan merupakan pengguna busur. Sara masih belum menerima Rudheus sebagai anggota party dan hanya berusaha mematuhi keputusan Suzanne. Suzanne mencoba menghentikan sikap arogan Sara. Bergabungnya Rudheus dalam party tanpa sengaja digunakan sebagai pelajaran bagi Sara supaya dapat beradaptasi dengan cepat apabila kedepannya ia akan berpisah dengan counter Arrow. Sara beranjak pergi mengikuti Suzanne.
Rudheus yang melihat punggung Saran dari belakang melihatnya mirip seperti Eris.
Mereka bermalam di alam terbuka sembari membahas inti dari misi yang akan ditangani. Misi kali ini adalah memburu Luster Grizzly. Luster Grizzly tidak dapat melihat saat malam. Oleh karena itu mereka mencoba mengatur strategi bagaimana melawan Luster Grizzly secara efektif dan efisien. Suzanne telah merancang strategi dimana semua kebagian peran yang rata namun Rudheus merasa karena perannya sedikit, ia ingin membantu namun ditentang oleh Sara. Perdebatan terjadi antara keduanya dan anggota party lainnya melihat mereka saling saut-sautan argumen. Rudheus menawarkan diri untuk ikut di garda depan namun Sara menolak mentah-mentah tawaran Rudheus karena menganggapnya sebagai orang asing dalam party. Rudheus dalam pikirannya tidak mempedulikan sikap Sara namun semakin yakin bahwa Sara begitu mirip dengan Eris. Sikap Sara yang seperti itu kembali mendapat teguran dari Suzanne.
Rudheus menyendiri untuk sejenak namun Timothy datang menyandinginya dan meminta maaf atas nama Sara. Timothy memuji Rudheus sebagai sesama penyihir. Rudheus adalah orang kedua dalam hidup Timothy yang memiliki kemampuan sihir tanpa merapal selain gurunya di sekolah. Namun, jawaban Rudheus sungguh di luar pikiran. Baginya, memiliki kemampuan tersebut pun tidak bisa mengembalikan orang-orangnya yang berharga.
Ia lalu pergi meninggalkan Timothy sendiri.
Strategi dimulai. Mereka mengamati target yaitu sekumpulan Luster Grizzly yang sedang tertidur. Sara percaya diri semua akan berjalan lancar. Mereka mulai menyerang dan merapal sihir. Strategi mereka berjalan lancar namun Rudheus merasakan suatu hal lain. Ia tiba-tiba menempelkan telinganya pada permukaan tanah dan mencoba mendengarkan sesuatu. Anggota lain kecuali Timothy yang sibuk merapal sihir tercengang dengan tindakan Rudheus. Mereka merasa bingung namun kebingungan itu tidak berlangsung lama. Musuh baru datang, ancaman diluar dugaan mereka maju menyerang. Puluhan Grizzly yang terlapisi lumpur maju menyerang. Mereka memutuskan untuk mundur tetapi Rudheus pesimis.
Baginya sudah terlambat untuk mundur karena mereka sudah terpojok. Ia bingung harus melakukan apa dan mulai menyerah akan hidupnya. Satu Grizzly maju menyerang hendak membabat Rudheus namun Suzanne datang dan melindunginya. Mereka terkepung oleh para Luster Grizzly. Saling bertahan, saling melindungi. Disini hanya Rudheus yang masih stuck dengan perang batinnya sendiri. Suzanne terhempas namun mencoba untuk bangkit lagi.
Yang lain begitu bekerja keras untuk bertarung dan bertahan. Tak satupun mencoba melarikan diri membuat Rudheus terjebak dalam keheranan. Perang batinnya terus terjadi ditengah pertarungan sengit dengan para Grizzly. Dadanya mulai berdegup kencang dan napasnya mulai sesak. Rudheus mulai ingat alasan mengapa mereka begitu berjuang tak
kenal gentar. Suzanne kembali jatuh dan kini baru bisa bangkit setelah di bopong Sara.
Melihat Luster Grizzly yang masih begitu banyak mengepung mereka membuat Sara putus asa namun dari sisi samping Rudheus maju. Dengan satu sihir telaknya, Rudheus berhasil menyapu bersih seluruh Luster Grizzly yang mengepung mereka. Saat fajar, mereka mengumpulkan apa yang harus mereka bawa ke guild sebagai tanda penyelesaian misi.
Suzanne mengatakan bahwa Rudheus telah menyelamatkan mereka semua dari kematian namun kini jawaban Rudheus sedikit lebih baik dari sebelumnya. Ia merasa bersyukur karena Suzanne telah mengajaknya dan mengulurkan tangan pada Suzanne untuk berjabat sebagai ganti jabat tangan yang sebelumnya. Bahkan Sara juga berterima kasih pada Rudheus karena telah menyelamatkan mereka semua. Counter Arrow kembali ke guild bersama.
Kehadiran counter Arrow sebagai party pendatang mendapat pandangan miring dari para pengunjung bar di guild tersebut. Rudheus mendengar semua cemooh itu dan tanpa sengaja melihat Suzanne yang bertukar pandang dengan Timothy. Timothy maju dan bicara pada seluruh pengunjung bar dan memperkenalkan bahwa itu adalah hari pertama dimana counter Arrow memulai aktivitas di kota tersebut. Sebagai awalan, counter Arrow mentraktir seluruh pengunjung bar disana. Suzanne menambahkan bahwa mulai saat itu counter Arrow akan menumpang di guild itu juga Rudheus. Rudheus tertegun sesaat dan mulai merekahkan senyumnya. Seluruh pengunjung bar menyorakkan nama Rudheus membuatnya seperti diterima dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama Rudheus tertawa tanpa beban dari hatinya.
Rudheus kembali ke kamar di penginapannya. Tidak seperti sebelumnya menutup jendela dan membiarkan api padam, kini ia mencoba membuka jendela dan menyalakan api untuk menghangatkannya. Ia mengeluarkan benda pusaka miliknya dan merenung sejenak. Ia sempat melupakan cara untuk hidup dengan bersungguh-sungguh. Ia menyesal dan menangisinya kemudian mengingat kembali memori kebersamaannya dengan gurunya.
Kedatangannya ke dunia itu membuatnya memiliki banyak hal dan hidup dengan layak bahkan bahagia. Masih banyak yang tersisa meski memang kehilangan sesuatu yang cukup besar. Meski begitu ia tetap masih memiliki sesuatu yang tersisa di hidupnya yang tidak boleh di pungkirinya. Meski terpisah jauh, ia tidak sendirian. Meski cobaannya begitu menyiksa, namun kehidupannya yang lalu lebih menyakitkan. Rudheus mengambil seikat potongan rambut Eris dan merelakannya terbakar dalam perapian sebagai bentuk tekat barunya untuk terus berjuang untuk maju.
EPISODE – 02
Rudheus mengawali pagi dengan berlari guna melatih otot-otot kakinya yang telah ia beri nama Tindalos dan Baskerville. Beberapa bulan telah berlalu dan Rudheus terus melanjutkan tekadnya untuk melangkah menjadi petualang. Ia terus mengambil misi dan membuat penduduk kota serta para petualang lainnya mengingat namanya. Hal itu ia lakukan agar kabar Rudheus terus tersebar hingga ke pelosok sehingga kemungkinan Zenith yang masih belum diketahui keberadaannya bisa mendengar namanya. Rudheus membuat kuil kecil untuk barang pusaka miliknya namun menaruhnya kembali ke sakunya segera setelah berdoa dan hendak berangkat melakukan aktivitasnya. Sesampainya di guild ia mendengar perkataan seorang pria yang berteriak bahwa sebuah misi akan di ambil oleh party Stepped Leader. Misi itu berkaitan dengan kawanan snow Drake yang ada di gua Ilbron. Pria itu mengatakan dengan sombongnya bahwa snow Drake bukan lawan yang sulit bagi Stepped Leader. Party itu kemudian pergi melewati Rudheus dan leadernya sempat sedikit melirik ke arah Rudheus yang tengah menunduk sebagai gestur hormat pada mereka.
Rudheus hendak mengambil misi sepele di kota. Sejumlah orang menyapanya. Ia dikenal sebagai rawa dan banyak orang yang membantunya mencari Zenith karena Rudheus suka membantu para penduduk kota. Akibatnya, nama Rudheus Greyrat terus menyebar dari mulut ke mulut di kota. Meski upaya yang dilakukannya membutuhkan waktu lama untuk membuahkan hasil yang ditargetkannya, Rudheus tetap yakin.
Misi sepele yang diambil Rudheus kali ini adalah membersihkan tengah kota dari salju. Sara melihatnya dari kejauhan bagaimana Rudheus membantu warga sekitar. Saat pulang Rudheus melihat Sara yang sedang menunggu. Sara datang untuk mengajaknya melakukan misi bersama party Counter Arrow. Rudheus hendak menolaknya dengan basa- basi karena pergerakan dalam kelompok secara berkepanjangan dapat menurunkan efektivitas rencana yang sedang dilakukan Rudheus. Sara berkata jujur bahwa Rudheus bisa menolak jika memang tidak ingin. Ia juga meminta Rudheus untuk berhenti berkata formal dengannya.
Suzanne muncul menghentikan Sara bersama anggota party lainnya namun juga menawarkan Rudheus untuk bergabung dalam misi kali ini. Rudheus memutuskan untuk ikut dalam misi.
Misi yang mereka ambil bertempat di reruntuhan Galgau, sebuah benteng yang dibangun pada perang manusia dan iblis pertama. Rudheus merasa takjub. Pasalnya ia telah banyak melihat bangunan kaum iblis di benua iblis namun ia merasa ada yang berbeda dengan reruntuhan Galgau. Mereka melanjutkan perjalanan. Rudheus selebar melihat bayangan Sara terjatuh di depannya. Ia sigap dan langsung menangkap Sara tepat pada waktu Sara akan jatuh tanpa memperhatikan bagian mana yang ia pegang dari Sara.
Misi mereka kali ini adalah mengumpulkan sisik snow Drake yang jatuh di area sekitar dalam jumlah besar. Meski terkesan mudah, misi ini tergolong sebagai misi tingkat A.
Mereka tidak mencoba masuk ke sarang snow Drake dan hanya mengumpulkan sisik yang jatuh di area yang biasa dilewati snow Drake. Pertarungan melawan snow Drake memang sedikit menyusahkan namun harusnya mereka cukup bersembunyi dan melihat snow Drake lewat saja jika memang ada namun Rudheus merasa ada yang janggal. Ia melihat di berbagai sudut tak satupun menemukan monster sama sekali. Ia melihat kembali bentuk patung yang ada disana dimana mengingatkannya pada sosok yang ia kenal. Tiba-tiba terdengar suara dari suatu tempat dan Mimir memiliki firasat buruk tentang itu. Snow Drake datang menyerang.
Rudheus mengisyaratkan untuk mundur dan mencoba menghalangi snow Drake namun penghalang itu berhasil dilewati snow Drake. Saat melihat kebelakang dan mencoba memastikan keadaan anggota party lainnya, tidak tersisa siapapun disana. Hanya ada dirinya dan kawanan snow Drake menjadikannya merasa ditinggalkan. Namun tiba-tiba saat seekor snow Drake datang hendak menyerangnya, panah Sara berhasil melindungi Rudheus. Tak satupun anggota counter Arrow meninggalkannya. Mereka saling bertarung bersama dan
melindungi. Rudheus merasa terharu melihatnya namun disadarkan oleh Sara agar juga ikut bertarung bersama. Tiba-tiba tiba serangan lain yang datang membunuh snow Drake. Leader dari party Stepped Leader muncul dalam pertarungan. Suzanne dan lainnya tanpa pikir panjang bantu memfollow dan bertarung bersama.
Pertarungan selesai. Timothy maju sebagai leader dari counter Arrow dan leader dari Stepped Leader juga maju namun berbeda dengan Timothy yang maju untuk berterima kasih, pria itu maju dan memukul wajah Timothy. Ia mengira counter arrow telah merebut mangsa orang lain. Suzanne berontak. Tidak satupun tau bahwa mereka juga mengambil misi tersebut namun pria itu kekeh mengatakan bahwa ia telah mengatakan dengan lantang di guild bahwa Stepped Leader akan mengambil misinya. Rudheus kemudian ingat kejadian tersebut dan mengatakannya pada Suzanne. Misi yang Stepped Leader ambil adalah menghabisi snow Drake yang muncul di gua Ilbron. Jelas Suzanne angkat bicara, pasalnya gua Ilbron sendiri jaraknya satu hari dari reruntuhan Galgau. Suzanne yang hampir terbawa amarah ditenangkan oleh Timothy yang bangkit dari jatuhnya. Ia juga meminta sara untuk menurunkan busurnya.
Timothy mencoba bicara untuk memediasi kedua belah pihak. Yang membuat mereka bisa bertemu adalah karena bagian dalam gua Ilbron terhubung dengan reruntuhan Galgau dan mengakibatkan beberapa Monsternya lari menuju Galgau. Akhirnya kesalahpahaman terpecahkan. Meski begitu, Stepped Leader tetap mengakui bahwa snow Drake yang telah terbunuh itu tetap milik mereka dan jatah untuk counter Arrow hanya seekor saja. Timothy dan lainnya menerima hal tersebut. Mereka hendak pulang dan merayakan keberhasilan misi kali ini. Sara mengajak Rudheus untuk sesekali ikut merayakan misi mereka dan yaaah, Rudheus ikut kali ini. Mereka merasa beruntung dapat bertahan dari serangan banyak monster seperti snow Drake kali ini. Rudheus merasa beruntung karena dapat bertahan berkat pertolongan para member counter Arrow. Jelas saja, di party pada umumnya tidak akan membahayakan keselamatan diri demi satu orang member party. Rudheus berterimakasih pada sara dan Suzanne malah mengompor-ngompori hal itu. Sara mengelak dan berkata bahwa ia menolong Rudheus sebagai bentuk balas budi pada Rudheus untuk yang sebelumnya. Sara mengalihkan topik dengan berkata jika saja Stepped Leader tidak muncul mungkin misi kali ini akan menjadi yang terbaik. Perkataan sara di tanggapi oleh member counter Arrow lainnya yang juga tidak suka dengan sikap leader dari Stepped Leader. Lain dengan Rudheus, ia malah berpikir apa mungkin Paul dulunya juga memiliki tabiat seperti leader dari Stepped Leader.
Tiba-tiba orang yang dibicarakan muncul dalam keadaan mabuk dan meminta maaf atas tindakannya di reruntuhan Galgau. Namun, ia tetap mengutarakan ketidak sukaannya terhadap sikap Timothy yang ramah dan murah senyum terutama sikapnya yang diam saja saat diajak baku hantam tanpa protes sedikitpun. Timothy hanya menanggapinya dengan ramah dan senyuman namun counter Arrow lainnya mengedarkan pandangan jengah pada orang itu. Namun kemudian, pria ini kembali berulah dan menyinggung Rudheus.
Menyebutnya kurang ajar dan selalu peduli terhadap pandangan orang lain serta membenci senyum palsu Rudheus yang selalu digunakannya pada orang lain meski sebenarnya ia tidak tersenyum sama sekali bahkan pandangan Rudheus dikatakan meremehkan orang lain. Rekan pria itu menegurnya yang sedang mabuk berat. Soldat Heckler, si pria biang onar ini mengatakan bahwa Rudheus bersikap seperti orang paling malang di dunia yang selalu pesimis dan lari dari suatu hal. Itu membuat Soldat begitu membenci Rudheus. Dengan ujaran kebencian itu, tanggapan Rudheus pada Soldat adalah permintaan maaf yang akan ia usahakan dengan tidak berada dalam jarak pandang Soldat . Soldat mengamuk menghancurkan meja dan meraih kerah Rudheus. Ia benci dengan tingkah laku Rudheus yang membantu dan berbuat baik tanpa pamrih padahal sebagai manusia untuk hidup jelas memerlukan uang. Soldat marah karena Rudheus hidup tanpa menikmatinya. Ia meneriakinya bahwa lebih baik mati jika memang tidak menikmati hidup yang telah dimiliki.
Akhirnya Soldat diseret keluar dengan paksa oleh rekannya. Rudheus hanya bisa tersenyum pahit menahan rasa rendah dirinya.
Sayangnya, di lain waktu ia kembali bertemu dengan Soldat saat sedang sendiri.
Soldat menampakkan jelas rasa tidak sukanya namun tetap mengajak Rudheus bicara.
Rudheus sedang menunggu misi yang disisakan oleh orang-orang karena ia punya tujuan tersendiri namun Soldat seenaknya berkata bahwa apa yang Rudheus lakukan hanya setengah-setengah. Rudheus juga bertemu dengan counter Arrow namun tidak dalam formasi lengkap. Mereka baru saja pulang dari misi namun sayang, Mimir tewas sedangkan sara terpisah dari mereka. Timothy yakin bahwa Sara hanya terpisah dan jika mereka mencarinya masih ada harapan namun Suzanne menolak karena situasi di luar sedang terjadi badai salju yang artinya pencarian sama halnya dengan bunuh diri. Mereka harus menunggu badai berlalu. Timothy merasa menyesal karena meninggalkan mereka. Rudheus menanyakan tempat mereka terpisah yang adalah hutan trier sebelah barat. Badai salju menghalangi pandangan mereka saat kawanan snow buffalo menyerang mereka. Setelahnya mendengarnya, Rudheus pamit untuk kembali. Ia kembali ke penginapan untuk mengambil barang bawaannya dan pergi mencari sara ditengah badai salju. Ia menggunakan sihirnya untuk membuka jalan. Selama perjalanan ia teringat kata-kata Soldat dan merenungkan kembali apa yang sedang ia lakukan. Ia mulai berpikir bahwa selama ini ia hanya mencoba memenuhi rasa kepuasannya dan contohnya adalah dengan menemukan sara melalui caranya sendiri meski sara dalam keadaan hidup atau tidak. Ia hanya menginginkan hasil dan sampailah ia di tempat snow buffalo berkumpul. Rudheus hanya ingin mengambil keputusan untuk tidak meninggalkan orang lain karena ia telah ditinggalkan oleh Eris.
Rudheus menghabisi snow buffalo tersebut tanpa kesulitan. Ia menemukan tumpukan kerangka tulang bekas santapan para snow buffalo dan disana ia menemukan sisa-sisa kerangka Mimir dan membungkusnya. Ia lalu hendak mencari sara dan tak jauh, masih di tumpukan kerangka itu ia melihat anting yang biasa dipakai sara. Rudheus membakar seluruh bangkai yang ada. Di depan api itu pikirannya hanyut. Ia memang tidak begitu dekat dengan sara namun akhir-akhir ini sikap Sara terhadapnya tidak sejudes seperti pertama kali mereka bertemu. Mungkin saja ia bisa lebih akrab dengan sara, pikirnya. Namun kemudian ia diserang. Saat berbalik ia melihat tubuh sara yang masih utuh terperangkap dalam sebuah pohon. Rudheus maju melawan dan menghampiri sara yang tidak dalam keadaan sadar. Ia melepaskannya namun juga terus mendapat serangan sehingga keduanya jatuh ke danau.
Rudheus mencoba keluar dan sarapun sadar. Mereka menjauh dari pohon hidup yang menyerang mereka ke sebuah gua untuk mengeringkan pakaian mereka.
Karena pakaian luar yang basah harus dikeringkan, mereka kini hanya mengenakan pakaian dalam di depan api unggun untuk menghangatkan diri. Rudheus melakukan penyembuhan terhadap luka yang ada pada sara dengan saksama tanpa sadar bahwa yang sedang ia hadapi adalah gadis belia tanpa busana. Sara yang sadar merasa malu dan kemudian bergegas memakai kembali pakaiannya. Rudheus ingin memastikan keadaan sara namun sara merasa sudah tidak apa-apa. Meski begitu ia tetap merasa ada yang aneh. Sara memutar balik keraguan itu, yang aneh adalah Rudheus yang datang sendirian menyelamatkannya. Rudheus menjawab bahwa itu semata-mata karena ia mendengar dari Timothy bahwa sara menghilang.
Sara mengkhawatirkan keadaan yang lain dan Rudheus dengan jujur mengatakan bahwa yang lain dalam keadaan baik kecuali Mimir yang tewas. Setelah selesai bersiap, mereka memutuskan untuk kembali. Jubah Rudheus dipakai oleh sara kali ini. Saat hendak keluar gua, sara berbalik dan ingin meraih Rudheus namun ia mengurungkan niatnya. Sara kemudian hanya memanggil Rudheus dan mengatakan bahwa ia senang Rudheus datang menyelamatkannya.
Mendengar perkataan sara, Rudheus merasa semua tindakannya selama ini telah dimaafkan. Ia merasa terselamatkan. Mereka kembali dan saat di gerbang pinggiran kota,
mereka bertemu dengan Suzanne, Timothy dan Patrice yang hendak mencari keberadaan sara. Mereka merasa bingung bagaiman sara bisa ada disana sedangkan mereka baru akan mencarinya. Sara menceritakan bahwa Rudheus datang menyelamatkannya. Suzanne dan lainnya terkejut Rudheus langsung pergi menyelamatkan sara setelah mendengar cerita dari mereka. Suzanne marah karena Rudheus bertindak gegabah tanpa memikirkan keselamatannya sendiri namun sara menjadi tameng Rudheus kali ini. Suzanne sadar, ia hanya sedikit panik karena kejadian akhir-akhir ini. Suzanne kemudian berterimakasih pada Rudheus yang telah menyelamatkan sara sedangkan Timothy maju menjabat tangan Rudheus.
Dengan air mata yang mengalir, Timothy berterimakasih pada Rudheus. Ia bertanya bagaimana caranya membayar hutang budinya pada Rudheus dan akan mengabulkan apapun permintaan Rudheus namun Rudheus menolak. Tidak perlu berterimakasih padanya, justru counter arrow sendiri juga telah menyelamatkan Rudheus dalam suatu hal berulang kali sehingga ia sama sekali tidak menganggapnya sebagai hutang budi.
Rudheus kembali ke kamar penginapannya untuk beristirahat dari berbagai hal yang telah terjadi hari itu. Ia membuka jendela, menyalakan perapian dan meletakkan benda pusakanya di tempatnya. Rudheus merasa kali ini ia bisa tidur dengan nyenyak setelah sekian lama.