• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 DAKWAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI 2.1 DAKWAH"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI 2.1 DAKWAH

2.1.1 Pengertian Dakwah

Secara etimologi, kata dakwah berasal dari bahasa Arab yaitu Da’a, Yad’u, Da’watan, yang berarti ajakan, seruan, undangan dan panggilan. Sedangkan secara istilah berarti menyeru untuk mengikuti sesuatu dengan cara dan tujuan tertentu.

(Kusnawan, dkk, 2009:15)

Sedangkan menurut Bakhial Hauli, adalah suatu proses menghidupkan peraturan-peraturan Islam dengan maksud memindahkan umat dari satu keadaan kepada keadaan lain. (Munir, 2003:7)

Menurut Syekh Muhammad Al-ghozali dalam bukunya ma’allah mengatakan, bahwa dakwah adalah program pelengkap yang meliputi semua pengetahuan yang dibutuhkan manusia, untuk memberikan penjelasan tentang tujuan hidup serta menyingkap rambu-rambu kehidupan agar mereka menjadi orang yang dapat membedakan mana yang boleh dijalani dan mana kawasan yang dilarang. (Aziz, 2004:5)

Pada tataran praktik dakwah harus mengandung dan melibatkan tiga unsur, yaitu : penyampaian pesan, informasi yang disampaikan, dan penerima pesan.

Namun dakwah mengandung pengertian yang lebih luas dari istilah-istilah tersebut, karena istilah dakwah mengandung makna sebagai aktivitas menyampaikan ajaran islam, menyuruh berbuat baik dan mencegah perbuatan munkar, serta memberi kabar gembira dan peringatan bagi manusia.

2.1.2 Unsur-Unsur Dakwah

Unsur-unsur dakwah adalah komponen-komponen yang selalu ada dalam setiap kegiatan dakwah. Unsur-unsur tersebut adalah da’I (pelaku dakwah), mad’u (mitra dakwah), maddah (materi dakwah), wasilah (media dakwah), thoriqoh (metode dakwah), dan atsar (efek dakwah). (Aziz, 2004:75)

1. Da’I (Pelaku Dakwah)

Yang dimaksud da’I adalah orang yang melaksanakan dakwah baik lisan maupun tulisan ataupun perbuatan dan baik secara individu, kelompok atau

(2)

berbentuk organisasi atau lembaga. Da’I sering disebut kebanyakan orang dengan sebutan mubaligh (orang yang menyampaikan ajaran islam). (Aziz, 2004:75-77) 2. Mad’u (Mitra Dakwah Atau Penerima Dakwah)

Unsur dakwah yang kedua adalah mad’u yaitu manusia yang jadi sasaran dakwah atau manusia penerima dakwah, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok, baik manusia yang beragama islam maupu tidak; atau dengan kata lain manusia secara keseluruhan. Sesuai dengan firman Allah QS. Saba, ayat:28:

ًرْيِشَب ِساانلِلًةافاَك الَِّا َكاَنْلَس ْرَااَمَو ( َن ْوُمَلْعَي َلَّ ِساانلاُرَثْكَا انِكَلَواًرْيِذَنَوا

٢٨ )

Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Saba, ayat:28)

Kepada manusia yang belum beragama islam, dakwah bertujuan untuk mengajak mereka mengikuti agama islam; sedangkan kepada manusia yang sudah beragam islam dakwah bertujuan meningkatkan kualitas Iman, Islam Dan Ihsan.

(Aziz, 2004:90)

3. Maddah (Materi Dakwah)

Maddah adalah isi pesan atau materi yang disampaikan da’I kepada mad’u.

Dalam hal ini sudah jelas bahwa yang menjadi maddah adalah ajaran Islam itu sendiri. (Munir, Ilaihi, 2006: 24)

Secara umum materi dakwah dapat diklasifikasikan dalam empat masalah pokok, yaitu: masalah akidah (aspek keimanan), masalah muamalah (aspek kehidupan), masalah syariah (aspek hukum) dan masalah akhlak (aspek kebatinan yang membentuk perilaku).

4. Wasilah (Media Dakwah)

Media dakwah adalah alat yang dipergunakan untuk menyampaikan materi dakwah (ajaran islam) kepada mad’u.

Untuk menyampaikan ajaran Islam kepada umat, dakwah dapat menggunakan berbagai wasilah. Hamzah ya’kub membagi wasilah dakwah menjadi lima macam, yaitu: lisan, tulisan, lukisan, audio visual dan akhlak. Berikut penjelasannya: (Aziz, 2004:120)

(3)

a. Lisan, inilah wasilah dakwah yang paling sederhana yang menggunakan lidah dan suara, dakwah dengan wasilah ini dapat berbentuk pidato, ceramah, kuliah, bimbingan, penyuluhan dan sebagainya.

b. Tulisan, buku majalah, surat kabar, surat menyurat (korespondensi) spanduk, flash card, dan sebagainya.

c. Lukisan, gambar, karikatur, dan sebagainya.

d. Audio visual yaitu alat dakwah yang merangsang indra pendengaran atau penglihatan dan kedua-duanya, televisi, film, slide, internet, dan sebaginya.

e. Akhlak yaitu perbuatan-perbuatan nyata yang mencerminkan ajaran islam yang dapat dinikmati serta didengarkan oleh mad’u.

5. Thoriqoh (Metode Dakwah)

Metode dalam bahasa latin methodus yang artinya cara. Dalam bahasa yunani methodus berarti cara atau jalan. Sedangkan dalam bahasa inggris method dijelaskan dengan metode atau cara. Kata metode telah menjadi bahasa Indonesia yang memiliki pengertian”Suatu cara yang bisa ditempuh atau cara yang ditentukan secara jelas untuk mencapai dan menyelesaiakan suatuu tujuan ,rencana system, tata pikir manusia”. (Aziz, 2004:122)

Metode dakwah adalah jalan atau cara yang dipakai juru dakwah untuk menyampaikan ajaran materi dakwah islam. Dalam menyampaikan suatu pesan dakwah, metode sangat penting perananya, suatu pesan walaupun baik, tetapi disampaikan lewat metode yang tidak benar, pesan itu bisa saja ditolak oleh sipenerima pesan. (Aziz, 2004:123)

Hal ini diperkuat dengan firman Allah QS. An-Nahl ayat: 125.

َمْلاَو ِةَمْكِحْلاِب َكِّبَر ِلْيِبَس ىَلِا ُعْدُا ُمَلْعَا َوُه َكابَر انِا ُنَس ْحَا َيِه ْىِتالاِب ْمُهْلِداَجَو ِةَنَسَحْلا ِةَظِعْو

( َنْيِدَتْهُمْلاِب ُمَلْعَا َوُهَو ِهِلْيِبَس ْنَع الَض ْنَمِب ١٢٥

)

Artinya: serulah (manusia) kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. QS. Ann- nahl ayat:125 (M. Ali Aziz, 2004:145-146)

(4)

Dari surat di atas dapat dipahami bahwa Al-Qur’an menyuruh dakwah dengan cara al-hikmah, al-mauidzoh hasanah, dan al-mujadalah. Berikut penjelasannya:

(Aziz, 2004:136)

1. Hilkmah, yaitu berdakwah dengan memperhatikan situasi dan kondisi sasaran dakwah dengan menitik beratkan pada kemampuan mereka, sehingga didalam menjalankan ajaran-ajaran islam selanjutnya, mereka tidak lagi merasa terpaksa atau keberatan.

2. Al-Mauidzoh Hasanah, yaitu berdakwah dengan memberikan nasehat-nasehat atau menyampaikan ajaran-ajaran islam dengan rasa kasih sayang, sehingga nasehat dan ajaran islam yang disampaikan itu dapat menyentuh hati mereka.

3. Mujadalah, yaitu berdakwah dengan cara bertukar pikiran dan membantah dengan cara yang sebaik-baiknya dengann tidak memberikan tekanan-tekanan dan tidak pula dengan menjalankan yang menjadi sasaran dakwah.

6. Atsar (Efek Dakwah)

Dalam setiap aktivitas dakwah pasti akan menimbulkan reaksi. Artinya, jika dakwah telah dilakukan oleh seorang da’I dengan materi dakwah, washilah dan tariqah tertentu, maka akan timbul respon dan efek (atsar) pada mad’u (penerima dakwah). (Munir dan Illaihi, 2006:34)

2.1.3 Pengertian Media Dakwah

Media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti perantara, tengah atau pengantar (Arsyad, 2006:3). Dalam bahasa inggris media merupakan bentuk jamak dari medium yang berarti tengah, antara, rata-rata. Dari pengertian ini ahli komunikasi mengartikan media sebagai alat yang menghubugkan pesan komunikasi yang disampaikan oleh komunikator kepada komunikan (penerima pesan). Dalam bahasa arab media sama dengan washilah (ةليسو) atau dalam bentuk jamak, wasail (لئاسو) yang berarti alat atau perantara. (Aziz, 2004:403)

Menurut Asmuni Syukir (1983:163), media dakwah adalah segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan dakwah yang telah ditentukan.

(Aziz, 2004:404)

Sedangkan menurut Mira Fauziah (2006:102), mengatakan media dakwah adalah alat atau sarana yang digunakan untuk berdakwah dengan tujuan supaya memudahkan penyampaian pesan dakwah kepada mad’u. (Aziz, 2004:403)

(5)

2.1.4 Jenis-Jenis Media Dakwah Dan Efektifitasnya

Dalam pembahasan ini adalah merupakan pengembangan lebih lanjut dari poin media dakwah di atas. Media dakwah adalah instrument yang dilalui oleh pesan atau saluran pesan yang menghubungkan antara da’I dan mad’u. (Kusnawan, 2004:53).

Dan adapun media dakwah terbagi menjadi tiga wasilah yaitu: (Aziz, 2004:148- 149)

1. Spoken Words, yaitu media dakwah yang berbentuk ucapan atau bunyi yang dapat ditangkap dengan indra telinga seperti radio, telepon, dan sebagainya.

2. Pinted Writing, yaitu media dakwah yang berbentuk tulisan, gambar, lukisan dan sebagainya yang dapat ditangkap dengan indra mata.

3. The Radio Visual, yaitu media dakwah yang berbentuk gambar hidup yang dapat didengar sekaligus dapat dilihat seperti, televisi, film, video, dan sebagainya.

Disamping penggolongan wasilah dakwah dalam jenisnya di atas, wasilah dakwah juga digolongkan dari segi sifatnya dibagi menjadi dua golongan yaitu:

1. Media Tradisional, yaitu berbagai macam seni pertunjukkan yang secara tradisional dipentaskan didepan umum (khalayak) terutama sebagai sarana hiburan yang memliki sifat komunikatif, seperti ludruk, wayang, drama, dan sebagainya.

2. Media Modern, yang diistilahkan juga dengan “media elektronika” yaitu media yang dilahirkan dari teknologi. Yang termasuk media modern ini antara lain televisi, radio, pers, dan sebagainya. (Aziz, 2004:149)

2.1.5 Tujuan Dakwah

Dalam sebuah kegiatan tidak lepas dari suatu tujuan, begitu juga dengan kegiatan dakwah. Dakwah mempunyai tujuan dalam merubah suatu kaum untuk lebih baik yang sesuai dengan tuntutan ajaran agama islam. Adapun tujuan dakwah menurut Arifin adalah untuk menumbuhkan, kesadaran penghayatan, dan pengalaman ajaran agama islam yang dibawakan oleh aparat dakwah atau penerang agama. (Arifin, 2004:45)

(6)

Sedangkan meurut Moh. Ali Aziz dalam bukunya mengatakan “dakwah adalah segala bentuk aktifitas penyampaian ajaran agama islam kepada orang lain denga cara yang bijaksana untuk terciptanya individu dan masyarakat yang mennghayati dan mengamalkan ajaran agam islam dalam semua lapangan kehidupan. (Aziz, 2004:11)

2.2 ISTIGHOTSAH

2.2.1 Pengertian Istighotsah

Istighotsah menurut bahasa berasal dari kata َثاَغ yang artinya menolong atau membantu, didalam kitab دوصقملا مظن halaman 8 (delapan) ketika suatu lafadz dikaitkan dengan wazan لَعْفَتْسِا maka dia bisa menunjukkan arti بلط yaitu suatu permintaan atau pencarian, maka ketika lafadz َثاَغ dikaitkan dengan wazan َلَعْفَتْسِا menjadi َثَغَتْسِا apabila ditasrif jadilah kata َةَثاَغ dengan tambahan ة (ta’ َتْسِا marbuthah) diakhirnya, maka mempunyai arti permintaan pertolongan. Jadi istighotsah adalah sebuah ritual atau kegaiatan berdo’a bersama yang bertujuan untuk meminta pertolongan. (Munawir, 1997:1021)

Istighotsah (ةثاغتسا) berasal dari kata َثْوَغْلَا yang berarti “pertolongan”. Dalam tata bahasa Arab, kalimat yang mengikuti wazan َلَعْفَتْسِا menunjukkan arti permintaan atau permohonan. Maka istighotsah berarti meminta pertolongan.

Seperti kata istighfar berasal dari kata َغ َرَف mengikuti wazan َلَعْفَتْسِا menjadi َرَفْغَتْسِا yang berarti meminta ampun. Jadi, makna istighotsah berarti ثْوَغْلا ُبَلَط yaitu

“meminta pertolongan”. (Al-Armawi, 2017:140)

Ada istilah lain yang hampir semakna dengan istighotsah, yaitu isti’anah. Para ulama membedakan antara istighotsah dengan isti’anah meskipun secara bahasa makna keduanya sama. Kata isti’anah berpola istif’al dari kata Al-Aunu yang berarti ِنوَعْلا ُبَلَط yaitu meminta pertolongan. (Al-Armawi, 2017:140)

Istighotsah adalah meminta pertolongan ketika dalam keadaan sulit. Sedangkan isti’anah maknannya meminta pertolongan dalam arti yang lebih luas dan umum.

(Al-Armawi, 2017:141)

Dalam Al-Qur’an surat Al-Anfal ayat 9 disebutkan:

ْمُكَل َباَجَتْساَف ْمُكابَر َنْوُثْيِغَتْسَت ْذِإ ( َنْيِفِدْرُم ِةَكِئ َلََمْلا َنِم ٍفْلَأِب ْمُك ُّدِمُم ىِّنَأ

۹ )

Artinya:ketika kamu memohon pertolongan kepada tuhanmu, lalu diperkenankan-nya bagimu, “sesungguhnya aku akan mendatangkan bala bantuan

(7)

kepada kamu dengan seribu malikat yang datang berturut-turut. (QS. Al-Anfal ayat:9).

Ayat diatas menjelaskan sebuah peristiwa ketika Nabi Muhammad Saw.

Memohon bantuan dari Allah Swt. Saat itu beliau berada ditengah berkecamuknya perang badar dimana kekuatan musuh tiga kali lipat lebih besar dari pasukan kaum muslimin. Kemudian Allah mengabulkan permohonan Nabi Muhammad Saw.

dengan memberi bantuan pasukan dari golongan malaikat.

Dalam surat Al-Ahqof ayat:17 juga disebutkan,

ْدَقَو َجَر ْخُأ ْنَأ ىِننِاَدِعَتَأ اَمُكال ٍفُأ ِهْيَدِلاَوِل َلاَق ىِذالاَو ُالله ِناَثْيِغَتْسَي اَمُهَو ىِلْبَق ْنِم ُنْوُرُقْلا ِتَلَخ

( َنْيِلاوَ ْلْاُرْيِطاَسَأ الَِّإاَذَهاَم ُل ْوُقَيَف ٌّق َح ِالله َدْعَو انِإ ْنِمآ كَلْيَو ١٧

)

Artinya: Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu-bapaknya, Ah! Bagi kamu keduanya, apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan? Padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku?

Lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah Swt. seraya mengatakan, “celakalah kamu” berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar. Lalu dia berkata “ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu kala. (QS. Al-Anfal ayat: 17)

Dalam ayat tersebut terdapat kalimat ناثيغتسي امهو dalam hal ini berarti kedua orang tua memohon pertolongan kepada Alah Swt. atas kedurhakaan anaknya dan keenggaannya meyakini hari kebangkitan. Tidak ada cara lain yang dapat ditempuh oleh keduanya untuk menyadarkan sang anak kecuali memohon pertolongan Allah Swt.

Dari kedua ayat di atas dapat disimpulkan bahwa istighotsah adalah memohon pertolongan Allah Swt. untuk mewujudkan suatu keajaiban atau suatu yang dianggap tidak mudah untuk diwujudkan. Istighotsah sebenarnya sama dengan berdo’a. Akan tetapi istighotsah ini lebih dari sekadar berdo’a karena yang diminta dalam istighotsah ini adalah mencakup hal-hal yang luar biasa. Oleh karena itu istighotsah sering dilakukan secara kolektif dan biasanya lafadz istighotsah menggunakan wirid tertentu, mencakup istighfar, tasbih, tahmid, takbir, tahlil, sholawat dan lainnya.

Dalam hadits disebutkan :

(8)

ُنُذُ ْلْا ُف ْصِن ُقَرَعْلا َغُلْبَي ىات َح ِةَماَيِقْلا َمْوَي ْوُنْدَت َسْماشلا انِإ َكِلَذَك ْمُهاَمَنْيَبَف

ٍدام َحُمِب امُث ىَسُمِب امُث ٍمَدآِباْوُثاَغَتْسا

Artinya: sesungguhnya matahari akan mendekat kekepala manusia pada hari kiamat. Sehingga keringat sebagian orang keluar hingga mencapai separuh telinganya. Ketika mereka berada pada kondisi seperti itu, mereka meminta pertolongan kepada Nabi Adam, kemudian kepada Nabi Musa, kemudian kepada Nabi Muhammad Saw. (HR. Al-Bukhori)

Hadits ini merupakan dalil tentang dibolehkannya meminta pertolongan kepada Allah Saw. melalui perantara manusia dengan keyakinan bahwa seseorang tersebut dekat dengan Allah Swt. Misalnya seorang Nabi atau Wali.

2.3 AKHLAK

2.3.1 Pengertian Akhlak

Secara teoritis dalam penelitian ini, penulis tidak terlepas dari pembahasan tentang akhlak. Pengertian secara umum akhlak sering diartikan dengan moral atau etika, padahal sejatinya diantara ketiga kata tersebut memiliki persamaan dan perbedaan yang sangat subtansial.

Secara bahasa kata Akhlak berasal dari bahasa arab yaitu al-akhlak, yang merupakan bentuk jamak dari kata khuluq atau al-khaliq yang berarti :

1. Tabi’at, budi pekerti 2. Kebiasaan atau adat

3. Keperwiraan, kesatriaan, kejantanan

Sedangkan pengertian secara istilah, alhlak adalah suatu keadaan yang melekat pada jiwa manusia, yang melahirkan perbuatan-perbuatan yang mudah, tanpa melalui proses pemikiran pertimbangan dan penelitian. Jika keadaan tersebut melahirkan perbuatan yang baik dan terpuji menurut pandangan akal dan hukum islam, disebut akal yang baik. Jika perbuatan-perbuatan yang timbul tidak baik, dinamakan akhlak yang buruk. (Abdurrohim, dkk, 2013:31-32)

Imam Al-Ghazali dalam Zainuddin (1991:102-103), menjelaskan, secara ma’nawi akhlak yang baik sangat mengacu pada keadaan batin manusia, karena akhlak yang baik merupakan sebuah indikasi kondisi batin yang baik juga. Pada

(9)

tahap selanjutnya Imam Al-Ghazali mengemukakan bahwa, hakekat akhlak harus mencakup dua syarat yaitu: (Zainuddin, 1991: 102-103).

a. Perbuatan itu harus konstan, yaitu dilakukan berulangkali kontinu dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan (habit forming). Misalnya, seorang yang memberikan sumbangan harta hanya sekalikali karena dorongan keinginan sekongyong-konyong saja, maka orang itu tidak dapat dikatakan sebagai pemurah selama sifat demikian itu belum tetap dan meresap dalam jiwa.

b. Perbuatan yang konstan itu harus tumbuh dengan mudah sebagai wujud refleksif dari jwanya tanpa pertimbangan dan pemikiran, yakni bukan karena ada tekanan-tekanan, paksaan-paksaan dari orang lain, atau pengaruh-pengaruh dan bujukan-bujukan yang indah dan sebagainya. Misalnya, orang yang memberikan harta benda karena tekanan moril dan pertimbangan, maka belum juga termasuk kelompok orang yang bersifat pemurah. Pemurah sebagai sifat dan sikap yang melekat dalam pribadi yang di dapat karena didikan atau memang naluri.

Sementara itu, Aly As‟ad (2007:10) menerangkan dalam kutipan kitab Ta’lim wa Muta’allim bahwa :

“Orang yang sedang belajar ilmu akhlak dikatakan tercapai apabila orang tersebut mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, demikian pula (wajib mempelajari ilmu) dalam bidang studi akhlak, semacam sifat dermawan, kikir, penakut, nekad, sombong, rendah diri, menjaga diri, berlebih-lebihan, terlalu irit, dan sebagainnya. Karna sifat sombong, kikir, penakut, maupun berlebihan itu haram hukumnya, dan tidak mungkin menghindari semua itu, kecuali dengan mengetahui ilmunya dan ilmu antisipasinnya. Maka wajib bagi setiap orang untuk mempelajarinnya”.(As’ad, 2007:10)

Diperkuat oleh Abuddin Nata yang dikutip oleh Solihin, dkk (2003:23) dalam buku Akhlak tasawuf manusia etika dan makna hidup, setidaknya memberikan penjelasan tentang ciri-ciri akhlak, menurutnya ada lima ciri-ciri akhlak, antara lain: (Solihin, dkk, 2003:23)

1. Akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang dan telah menjadi bagian dari kepribadian.

2. Akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran.

3. Akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar.

(10)

4. Akhlak adalah perbuatan yang dilakukan secara sungguh-sungguh, bukan main- main atau sandiwara seperti dalam film.

5. Sejalan dengan ciri yang ke-empat, perbuatan akhlak (khususnya akhlak yang baik) adalah perbuatan yang dilakukan ikhlas semata-mata karena Allah bukan karena ingin di puji orang.

Lebih jelasnya Asmaran (1994:3) mengatakan, bahwa hakikat akhlak ialah suatu kondisi atu sifat yang telah meresap dalam jiwa dan menjadi kepribadian, hingga dari situlah timbul berbagai macam perbuatan dengan cara spontan dan mudah tanpa dibuat-buat dan tanpa memerlukan pikiran. Apabila dari kondisi tadi timbul kelakuan yang baik dan terpuji menurut pandangan syari‟at dan akal pikiran, maka ia dinamakn budi pekerti mulia dan sebaliknya, apabila yang lahir kelakuan yang buruk, maka disebutlah budi pekerti tercela. (Asmaran, 1994:3)

Sedangkan menurut Oemar Bakry dalam bukunya yang berjudul “Akhlak Muslim” mengatakan bahwa sebagian ulama memberikan penjelasan tentang Akhlak ialah, Suatu sifat yang terpendam dalam jiwa seseorang dan sifat itu akan timbul waktu ia bertindak tanpa merasa sulit. (Bakry, 1993:10)

Begitupun juga sebagian ulama mengatakan bahwa, “akhlak ialah menangnya keinginan dari beberapa keinginan manusia dengan langsung berturut-turut (Amin, 1995:62).

Akhlak sangat penting dan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia, karena akhlak adalah mutiara hidup yang membedakan antara manusia dengan makhluk lainya. Manusia tanpa akhlak akan hilang derajat kemanusiaanya sebagai makhluk Allah yang paling mulia (Thaib, 1992 :15).

Akhlak dipahami sebagai kondisi jiwa (mental) yang darinya lahir tindakan- tindakan atau perbuatan (perilaku). Disatu sisi, akhlak menunjuk pada jiwa, tetapi disatu sisi lain, ia menunjuk pada perilaku tau perbuatan (Ismail,2009:97).

Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat di katakan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang dari padanya timbul perbuatan- perbuatan yang mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu. Dan dengan demikian dapat dikatakan juga bahwa akhlak adalah kehendak yang dibiasakan sehingga ia mampu menimbulkan perbuatan yang mudah tanpa pertimbangan pemikiran terlebih dahulu. Akhlak, membekali manusia bagaimana

(11)

bisa berkiprah ditengah-tengah masyarakat dengan baik dan tetap berpegang pada nilai-nilai yang sudah digariskan oleh ajaran agama.

2.3.2 Pembagian Aklak a. Ahklak Baik

Dari segi Bahasa baik adalah terjemahan dari kata khair dalam Bahasa arab, atau good dalm Bahasa inggris. Louis ma’luf dalam kitabnya, munjid, mengatakan bahwa yang disebut baikadalah sesuatu yang telah mecapai kesempurnaan.

Semacam itu, dalam webster’s new twentieth century dictionary, dikatakan bahwa yang disebut baik adalah sesuatu yang menimbulkan rasa keharuan dalam kepuasan, kesenangan, persesuaian dan seterusnya. (nata, 2013: 87-88)

b. Ahklak Buruk

Mengetahui sesuatu yang baik sebagai mana disebutkan di atas akan mempermudah dalam mengetahui yang buruk. Dalam Bahasa arab, yang buruk itu dikenal dengan istilah syaar, dan diartikan sebagai sesuatu yang tidak baik, yang tidak seperti yang seharusnya, tak sempurna dalam kualitas, dibawah standar, kurang dalm nilai, tak menncukupi, keji, jahat, tidak bermoral, tidak menyenangkan, tidak dapat disetujui, tidak dapat diterima, sesuatu yang tercela, lawan dari baik, dan perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma masyarakat yang berlaku. Dengan demikian, yang dikatakan buruk itu adalah sesuatu yang dinilai sebaliknya dari yang baik, dan tidak disukai kehadirannya oleh manusia.

(nata, 2013: 89)

2.3.3 Peningkatan Akhlak

Menurut seorang ahli bernama AdiS,peningkatan berasal dari kata tingkat.

Yang berarti lapis atau lapisan dari sesuatu yang kemudian membentuk susunan.

Tingkat juga dapat berarti pangkat,taraf, dan kelas.

Sedangkan peningkatan berarti kemajuan. Secara umum, peningkatan merupakan upaya untuk menambah derajat, tingkat, dan kualitas maupun kuantitas.

Peningkatan juga dapat berartipenambahan keterampilan dan kemampuan agar menjadi lebih baik.

(12)

Selain itu, peningkatan juga berarti pencapaian dalam proses, ukuran, sifat, hubungan dan sebagainya.Kata peningkatan biasanya digunakan untuk arti yang positif. Contoh penggunaan katanya adalah peningkatan mutu pendidikan, peningkatan kesehatan masyarakat, serta peningkatan keterampilan para penyandang cacat. Peningkatan dalam contoh diatas memiliki arti yaitu usaha untuk membuat sesuatu menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Suatu usaha untuk tercapainya suatu peningkatan biasanya diperlukan perencanaan dan eksekusi yang baik. Perencanaan dan eksekusi ini harus saling berhubungan dan tidak menyimpang dari tujuan yang telah ditentukan.1

Dengan demikian, keterkaitan antara penelitian sang penulis dalam membahas peningkatan akhlak bisa dilihat dari usaha seseorang untuk meningkatkan nilai-nilai positif dalam kehidupannya. Sebab, jika seseorang terus berusaha meningkatkan kadar akhlak baik dalam dirinya, maka seseorang tersebut bertanggung jawab atas esensinya sebagai makhluk yang Ahsanu Taqwiem

Berkaitan dengan rasa tanggung jawab Agus Suyanto dalam sudarsono mengemukakan bahwa, yang dimaksud dengan memiliki rasa tanggung jawab, berarti telah mengerti tentang perbedaan antara yang benar dan yang salah, yang boleh dan yang dilarang, yang diajarkan dan yang dicegah, yang baik dan yang buruk, dan sadar kalau harus menjauhi segala yang bersifat negatif dan mencoba membina diri untuk selalu menggunakan hal-hal yang positif.

(Sudarsono,1991:174).

Peningkatan akhlak bagi setiap muslimin, memang seyogyanya harus terus dikobarkan. Terlebih ditengah krisis moral yang selalu berkembang dewasa ini, pembinaan akhlak selayaknya harus gencar dilakukan, baik melalui kegiatan yang berhubungan dengan perencanaan dan pengorganisasian serta pengendalian segala sesuatu secara teratur dan terarah ataupun melalui lembaga institusi yang terstruktur secara formal dan nonformal.

2.3.4 Jenis-Jenis Akhlak

1.http://www.duniapelajar.com/2014/08/08/pengertian-peningkatan-menurut-para- ahli/

(13)

Pemahaman ajaran agama Islam terkait macam Akhlak terbagi menjadi dua bagian, yaitu akhlak terpuji (baik) dan akhlak tecela (buruk). Akhlak terpuji dikenal dengan sebutan akhlak mahmudah, sedangkan akhlak yang tercela dalam Islam di kenal dengan sebutan akhlak madzmumah.

1) Akhlak Terpuji (akhlak mahmudah).

Akhlak yang terpuji, etika atau perilaku yang bersumber pada firman Allah SWT, telah di contohkan oleh Rasulullah SAW., baik dari segi perbuatan, tindakan ataupun ucapan yang wajib ditiru oleh umat manusia (FKDT Nasional,2013:7).

Akhlak terpuji atau akhlak Mahmu-dah yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah antara lain :

a. Ash-shidqu (benar)

Ash-shidqu ialah, memberitakan sesuatu sesuai dengan fakta (kejadianya), atau mengabari lainya menurut apa yang ia yakinkan terhadap kebenarannya. Ash- shidqu dalam Bahasa Indonesia disebut dengan istilah “benar” atau “jujur”. Berlaku jujur dituntut oleh suara hati atau hati nurani manusia, sesuai dengan kebiasaannya yang terpuji (Thaib,1992:57).

b. Amanah

Amanah ialah memelihara dan melaksanakan hak-hak Allah dan hak-hak manusia. Allah menciptakan manusia tidak untuk berlenggang kangkung di atas bumi ini, tetapi mempunyai dan mengemban tugas-tugas sesuai dengan kemanusiaanya, baik terhadap zat yang menciptakan atau dengan sesamanya, bahkan dengan makhluk lain dan dengan alam sekitarnya (Thalib, 1992:63).

Sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang baik harta, ilmu, rahasia ataupun yang lainnya wajib dipelihara dan disampaikan kepada yang berhak menerimannya.

Sebagai realisasi akhlaqul karimah adalah hartawan hendaknya memberikan hak orang lain yang dipercayakn kepadannya, penuh tanggung jawab, orang yang diberi rahasia hendaknnya menjaga, menyimpan rahasia itu sesuai kehendak yang di percayakannya.

c. Tawakkal.

(14)

Tawakkal ialah, berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi sesuatu pekerjaan atau keadaan. Menurut Al-Ghazaly tawakkal itu tidak lain selain

“menyandarkan diri kepada Allah SWT. tatkala menghadapi sesuatu kepentingan, dalam waktu kekurangan, teguh hati tatkala ditimpa bencana dengan jiwa yang tenang dan hati yang kuat (Thaib,1992:67).

d. Santun (Al-Hilm).

Santun ialah, tak suka membalas dendam seketika hati sangat marah, padahal terasa bahwa dirinya mampu membalas dendam itu (Thaib,1992:68).

e. At-taqwa.

Taqwa ialah melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangan- larangan-Nya baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Taqwa ialah hubungan baik dengan Allah dan terpeliharanya secara permanen (Thaib,1992:71).

Sahabat Ali r.a pernah di Tanya oleh seseorang, orang itu bertanya kepada sahabat Ali r.a “Apakah taqwa itu”, kemudian sahabat Ali menjawab “Taqwa adalah takut kepada Allah SWT. yang Maha Agung, mengamalkan wahyu, puas terhadap yang sedikit, serta bersiap-siap untuk menghadapi hari kebangkitan”

(Labib, dkk,2010:8).

Manusia memperhatikan bahwa dia hamba yang hina dan Tuhan yang Maha Kuat dan Maha Perkasa tentu tidak layak baginya hina dan mendurhakai terhadap Tuhan Yang Maha Perkasa, karena ubun-ubunnya dalam kekuaasanNya (Nasiyah : Ubun-ubun, pada dasarnya dipakai untuk bagian depan kepala atau rambut depan dan yang dimaksud disini sosok sempurna) penyebab ketaqwaan selan-jutnya mengingat mati, seseorang yang menyadari bahwa dia akan mati, tiada di hadapannya selain Surga dan Neraka niscaya tergeraklah dirinya melakukan amal- amal baik semampunya, diantara perbuatan baik adalah menolong sesama muslim, memandang mereka dengan pandangan lemah lembut, dan kasih sayang lebih-lebih lagi bila mereka lebih dulu berbuat baik.

f. Adil.

(15)

Adil ialah berlaku sama tengah dalam semua urusan dan melaksanakanya sesuai dengan ketentuan syari‟at, sebagian mengatakan adil ialah cenderung kepada kebenaran (Thaib,1992:74).

Berakhlak atau Akhlak yang terpuji artinya menghilangkan semua adat kebiasaan yang tercela yang sudah digariskan oleh agama islam serta menjauhkan diri serta menjauhkan diri dari perbuatan tercela, kemudian membiasakan adat kebiasaan yang baik, melakukanya serta mencintainya.

g. Sabar

Menurut bahasa, sabar adalah tabah, tahan uji, atau tahan terhadap suatu cobaan.

Adapun menurut istilah, sabar ialah kondisi mental seseorang yang mampu mengendalikan hawa nafsu yang ada dalam dirinya. Hawa nafsu disini mengandung arti yang sangat luas, misalnya amarah, ambisi, serakah, tergesa-gesa dan sebagainya.

Oleh karena itu, orang yang sabar adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya dalam menerima hal-hal yang kurang disenanginnya. Bersikap sabar sama halnnya meneladani sifat Allah SWT. Dan Rasulullah SAW. Oleh karena itu sikap sabar sangat dianjurkan dalam agama Islam. Sesuai dengan firman Allah SWT : Surat Al-Luqman Ayat 17

اَم ىَلَعْرِبْصاَو ِرَكْنُمْلا ِنَع َهْناَو ِف ْوُرْعَمْلاِب ْرُمْأَوَةوٰلاصلا ِمِقَأ ايَنُبٰي ِل َذ انِإ ۖ َكَباَصَأ

ك

ْ ِرْوُم ْلَّا ِمْزَع ْنِم

ٍ(

١٧ )

Artinya,”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal- hal yang diwajibkan (oleh Allah)”(Wahid,2009:17).

h. Syukur.

Menurut bahasa, syukur artinya berterima kasih, mengenang jasa baik, tau tanda mata. Adapun menurut istilah agama, syukur ialah ungkapan terima kasih yang ditunjukan kepada Allah SWT. dengan cara menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

(16)

Dalam agama Islam syukur kepada Allah wajib dilakukan oleh setiap muslim pada setiap saat dan setiap waktu. Oleh karena itu, Islam mewajibkan umatnya bersyukur tidak hanya kepada Allah semata, sesuai firman Allah SWT.:

{ ُديِدَشَل ىِباَذَع انِإ ۖ ْمُت ْرَفَك نِئَلَو ْمُكانَديِزَ َلْ ْمُت ْرَكَشْنِئَل ْمُكابَرَناذَأتْذِإَو ٧

}

Artinya :"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS: Ibrahim:7)

i. Ikhtiar.

Ikhtiar berasal dari bahasa Arab yang artinya berusaha, bekerja, dan memilih.

Adapun menurut istilah, Ikhtiar ialah berusaha dengan mengerahkan segala kemampuan yang ada untuk meraih suatu harapan dan keinginan yang di cita- citakan.

Dalam ajaran Islam, Ikhtiar sangat dianjurkan bahkan diwajibkan. Allah tidak akan mengubah nasib seseorang tanpa orang tersebut mau melakukan perubahan atas nasibnya sendiri.

Sesuai dengan firman Allah SWT :

للهٱ انإ ْمِهِسُفْنَأِباَمْاوُرِّيَغُي ىٰ تَح ٍمْوَقِباَمُرِّيَغُي َلَّ

Artinya, :”Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan”(Wahid,2009:14).

2) Akhlak Tercela (Akhlak Madzmumah).

Akhlak tercela adalah Etika atau perilaku yang digambarkan Allah melalui bebrapa firman-Nya, dan telah disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada ummatnya, baik dalam bentuk perbuatan, tindakan ataupun ucapan yang harus dijauhi oleh umat manusia (FKDT Nasional, 2013:7).

Adapun Perilaku-perilaku yang tercela atau akhlak madzmumah antara lain a. Dzalim.

Sifat dzalim adalah menepatkan sesuatu bukan pada tempatnya; sifat dzalim dapat merugikan orang lain dan diri sendiri, bahkan sifat dzalim akan menimbulkan sifat permusuhan diantara manusia dan juga bisa mengakibatkan tali persaudaraan terputus (Rifai,2010:9).

(17)

Semua bentuk dzalim akan menyebabkan kerugian, bahkan perbuatan dzalim bisa mendatangkan bencana, permusuhan, dan bisa mendatangkan perasaan dendam bagi orang-orang yang teraniaya. Oleh karena itu, ketika kita tidak sengaja melakukan perbuatan dzalim, hendaknya segera memohon maaf kepada pihak yang telah kita dzalimi dan memohon ampun kepada Allah Swt. Dengan menyesali perbuatan buruk yang kita kerjakan, Allah akan segera mengampuni kesalahan kita.

Dan dengan meminta maaf kepada orang yang kita sakiti, hubungan kita dengan pihak lain juga akan kembali baik, sehingga kita bisa hidup tenang dan bahagia.

b. Acuh tak acuh.

Perilaku yang tercela (akhlaq al-madzmumah) yang lain adalan sifat acuh tak acuh (cuek). Sifat acuh tak acuh adalah sifat yang mengabaikan atau tidak perduli dengan kondisi yang terjadi di sekeliling kita. Sifat acuh atau cuek adalah sikap yang lebih mementingkan dirinya sendiri dari pada memperhatikan kepentingan orang lain (Rifai,2010:25).

Sifat acuh tak acuh merupakan sifat yang sangat dibenci oleh manusia dan Allah.

Orang yang bersifat acuh tak acuh akan dijauhi oleh orang banyak, sebab ketika dia sedang membuhtuhkan pertolongan orang lain, maka tidak ada orang yang akan mau menolongnya. Sebab, dia juga tidak pernah memberikan pertolongan kepada orang lain ketika mereka sedang kesusahan.

c. Hubbu Ad-Dunya

Hubbu Ad-Dunya berarti cinta dunia, yaitu menganggap harta benda adalah segalanya. Penyakit Hubbdu Ad-Dunya berawal dari penyakit iman, yang berakar pada persepsi yang salah bahwa dunia ini adalah tujuan akhir kehidupan, sehingga akhirat dilupakan. Akhirnya jabatan dan harta dipandang sebagai tujuan,bukan sebagai alat untuk meraih keridhan Allah SWT. (Abdurrohim, dkk, 2014:67)

Adapun ciri-ciri Hubbu Ad-Dunya antara lain :

1. Menganggap dunia sebagai tujuan utama, bukan sebagai sarana mencapai kebahagiaan akhirat.

2. Suka mengumpulkan harta benda dengan segala cara tanpa memperhatikan halal dan haramnya.

3. Kikir, tidak rela sedikitpun hartanya lepas dan berkurang.

(18)

4. Serakah dan rakus serta tamak tidak puas dengan segala apa yang telah dimiliki, sehingga akan berusaha menambah perbendaharaan hartanya.

5. Tidak mensyukuri nikmat yang sedikit. Maunya nikmat yang besar, banyak dan melimpah. (Abdurrohim, dkk, 2014:68)

d. Hasad

Hasad berarti dengki, maksudnya suatu sikap atau perbuatan yang mencerminkan rasa marah, tidak suka karena rasa iri. Orang yang hasud menginginkan kenikmatan yang diperoleh orang lain dan berharap supaya berpindah kepadanya, dan tidak suka jika ada orang lain yang menyamainya baik hal prestasi maupun materi. (Abdurrohim, dkk, 2014:69)

e. Takabur, Ujub

Secara etimologi, Ujub berasal dari kata “Ajaba”, yang artinya “kagum”, terheran-heran, takjub. Sedangkan takabur berarti “sombong” atau “berusaha menampakan keagungan diri”. Dalam kitab Lisanul Arab, antara lain disebutkan bahwa At-Takabur wal istikbar berarti At-Ta’azzhum (Sombong/Kibr).

Secara istilah dapat kita pahami bahwa “Ujub” yaitu suatu sikap membanggakan diri, dengan memberikan suatu penghargaan yang terlalu berlebihan kepada kemampuan diri. Sikap ini tercermin pada rasa tinggi diri (Superiority Complex) dalam bidang keilmuan, amal perbuatan ataupun kesempurnaan moral, dan disaat menampakkan kelebihannya pada orang lain dengan sombong, maka telah terjangkit penyakit takabur. Oleh karena itu, sikap ujub dan takabur memiliki keterkaitan satu sama lain. (Abdurrohim, dkk, 2014:72)

f. Riya’

Riya’ adalah mengerjakan suatu perbuatan atau ibadah untuk mendapatkan pujian dari orang lain, bukan karena Allah Semata. Orang riya’ tidak ikhlas dalam beramal, ia senantiasa pamer dan cari perhatian supaya mendapat pujian, sanjungan dan pengakuan.

Bentuk riya’ terbagi menjadi dua, :

Pertama, Riya’ dalam Niat, Ketika seseorang akan melakukan sebuah amal dalam hatinya telah ada keinginan atau tujuan selain mencari ridho Allah SWT.

(19)

Kedua, Riya’ dalam perbuatan, adalah ketika melakukan sebuah amal ibadah

selalu berharap mendapat perhatian dari orang lain. (Abdurrohim, dkk 2014:76) 2.4 MOTIVASI

2.4.1 Pengertian Motivasi

Motivasi adalah sebuah dorongan atau alasan yang mendasari semangat dalam melakukan sesuatu. Motivasi adalah hal-hal yang menimbulkan dorongan, dan motivasi kerja adalah pendorong semangat yang menimbulkan suatu dorongan.

Pemberian motivasi ini diharapkan setiap individu karyawan mau bekerja keras dan antusias untuk mencapai prestasi kerja yang tinggi.

Didalam buku Thoha (2004: 206) mengatakan bahwa perilaku manusia itu hakekatnya adalah berorientasi pada tujuan dengan kata lain bahwa perilaku seseorang itu pada umumnya di rangsang oleh keinginan untuk mencapai beberapa tujuan. Motivasi, kadang-kadang istilah ini dipakai silih berganti dengan istilah- istilah lainnya, seperti misalnya kebutuhan, keinginan, dorongan, semangat atau impuls.

2.4.2 Teori Motivasi

Teori motivasi menurut Robbin (2003:208) yang mengatakan bahwa suatu proses yang menghasilkan suatu intensitas, arah dan ketekunan individual dalam usaha untuk mencapai satu tujuan. Sementara motivasi umum bersangkutan dengan upaya ke arah setiap tujuan.

Motivasi adalah konsep yang menguraikan tentang kekuatan-kekuatan yang ada dalam diri setiap individu untuk memulai dan mengarahkan perilaku. Konsep ini digunakan untuk menjelaskan perbedaaan-perbedaan dalam intensitas perilaku dimana perilaku yang bersemangat adalah hasil dari tingkat motivasi yang kuat.

Selain itu konsep motivasi digunakan untuk menunjukkan arah perilaku.

Kemudian menurut Nimran (2005 : 47) mendefinisikan motivasi adalah sebagai keadaan dimana usaha dan kemauan keras seseorang diarahkan kepada pencapaian hasil-hasil tertentu. Hasil-hasil yang dimaksud bisa berupa :

a. Produktivitas

b. Kehadiran atau Prilaku kerja kreatifnya.

(20)

Sedangkan menurut Adair (2007 : 192) Motivasi adalah apa yang membuat orang melakukan sesuatu, tetapi arti yang lebih penting dari kata ini adalah bahwa motivasi adalah apa yang membuat orang benar-benar berusaha dan mengeluarkan energi demi apa yang mereka lakukan. Definisi yang sederhana dari kata ‘motivasi’

mungkin "membuat orang mengerjakan apa yang harus dikerjakan dengan rela dan baik".

2.4.3 Jenis-jenis Motivasi

Motivasi digolongkan menjadi dua macam yaitu sebagai berikut : a. Motivasi internal

Motivasi internal adalah motivasi yang tumbuh dari dalam diri seseorang tanpa dipengaruhi oleh orang lain untuk melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan b. Motivasi eksternal

Motivasi eksternal adalah motivasi yang datang dari luar diri seseorang dengan harapan dapat mencapai sesuatu tujuan yang dapat menguntungkan dirinya.

Motivasi kerja tampak dalam dua segi yang berbeda yakni : a. Pertama

Kalau dilihat dari segi aktif atau dinamis, motivasi kerja tampak sebagai suatu usaha positif dalam menggerakkan dan mengarahkan daya serta potensi tenaga kerja agar produktif berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang ditetapkan sebelumnya.

b. Kedua

Jika dilihat dari segi pasif motivasi nampak sebagai suatu kebutuhan juga sekaligus menggerakkan dan mengarahkan potensi serta daya kerja manusia tersebut kearah yang diinginkan.2

2http://www.materibelajar.id/2016/04/teori-konsep-motivasi-pengertian-jenis.html

Referensi

Dokumen terkait

Telah tetap dengan seluruh riwayat- riwayat ini bahwa Amr bin Luhai - laknat Allah Shubhanahu wa ta’alla atasnya- adalah orang yang membawa berhala ke tanah Arab dan

Ekstraksi bakteri dari sampel media pembawa berupa bagian tanaman (rimpang, umbi, stek, akar, daun dan lain-lain) dapat dilakukan dengan metode yang sesuai untuk

Kinerja karyawan kantor kecamatan Bojongmangu juga harus didasari dengan memiliki mutu atau kualitas sumber daya yang baik pada dirinya dan sikap profesionalisme dalam

Kemampuan ice breaking tidak sekedar menjalankan permainan-permainan, namun juga penting untuk memilih kata-kata yang menarik dan tepat untuk menciptakan peserta yang

Berdasarkan uraian pada latar belakang tersebut, rumusan masalah dalam tugas akhir ini adalah bagaimanakah merancang, membuat, dan menguji sistem pendukung keputusan penerimaan

Pengaruh dosis radiasi sinar gamma terhadap persentase hidup tunas Nepenthes pada umur dua bulan setelah perlakuan (atas) dan umur lima bulan pasca perlakuan pada

Pengawasan persediaan dapat dikatakan sebagai suatu kegiatan untuk menentukan tingkat dan komposisi dari persediaan parts, bahan baku dan barang hasil/produk sehingga perusahaan

Peradilan militer di Indonesia saat ini merupakan penjelmaan dari Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dengan aturan hukum yang ada