PELAYANAN
KEFARMASIAN DI RUMAH SAKIT
PELAYANAN
KEFARMASIAN DI RUMAH SAKIT
1. YOSI AHMADI PUTRI 20160050
2. NUR AZIRA HASANAH 21160050
3. REKA DWI APRODITA 21160055
4. LUTFIAH PUTRI ALIFIAH 21160073
Definisi dan Tujuan mutu pelayanan Farmasi Rumah sakit Definisi dan Tujuan mutu pelayanan Farmasi Rumah sakit
Mutu pelayanan farmasi rumah sakit adalah pelayanan farmasi yang menunjuk pada tingkat kesempumaan pelayanan dalam menimbulkan kepuasan pasien
sesuai dengan tingkat kepuasan rata-rata masyarakat, serta penyelenggaraannya sesuai dengan standar pelayanan profesi yang ditetapkan serta sesuai dengan kode etik profesi farmasi.
Penyelenggaraan pelayanan kefarmasian di rumah sakit harus menjamin ketersediaan sediaan fammasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai yang aman, bermutu. bermanfaat, dan terjangkau. Untuk menjamin mutu Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit, harus dilakukan Pengendalian Mutu monitoring dan evaluasi. Pelayananan Kefarmasian yang meliputi :
A. Evaluasi dan Pengendalian Mutu
Pelayanan farmasi harus mencerminkan kualitas pelayanan kefarmasian yang bermutu tinggi, melalui cara pelayanan farmasi rumah sakit yang baik.
1. Pelayanan farmasi dilibatkan dalam program pengendalian mutu pelayanan rumah sakit.
2. Mutu pelayanan farmasi harus dievaluasi secara periodik terhadap konsep,
kebutuhan, proses, dan hasil yang diharapkan demi menunjang peningkatan mutu pelayanan.
3. Apoteker dilibatkan dalam merencanakan program pengendalian mutu.
4. Kegiatan pengendalian mutu mencakup hal-hal berikut:
a. Pemantauan pengumpulan semua informasi yang penting yang berhubungan dengan pelayanan farmasi.
b. Penilaian penilaian secara berkala untuk menentukan masalah-masalah pelayanan dan berupaya untuk memperbaiki.
с. Tindakan bila masalah-masalah sudah dapat ditentukan maka harus diambil tindakan untuk memperbaikinya dan didokumentasi.
d. Evaluasi efektivitas tindakan harus dievaluasi agar dapat diterapkan dalam program jangka panjang.
e. Umpan balik hasil tindakan harus secara teratur diinformasikan kepada staf.
B. Administrasi dan Pengelolaan Pelayanan diselenggarakan dan diatur demi berlangsungnya pelayanan farmasi yang efisien dan bermutu, berdasarkan fasilitas yang ada dan standar pelayanan keprofesian yang universal.
1) Adanya bagan organisasi yang menggambarkan uraian tugas, fungsi, wewenang dan
tanggung jawab serta hubungan koordinasi di dalam maupun di luar pelayanan farmasi yang ditetapkan oleh pimpinan rumah sakit.
2) Bagan organisasi dan pembagian tugas dapat direvisi kembali dan diubah bila terdapat hal:
a. Perubahan pola kepegawaian
b. Perubahan standar pelayanan farmasi c. Perubahan peran rumah sakit
d. Penambahan atau pengurangan pelayanan
3) Kepala Instalasi Farmasi terlibat dalam perencanaan manajemen dan penentuan anggaran serta penggunaan sumber daya.
4) Instalasi Farmasi menyelenggarakan rapat pertemuan untuk membicarakan
masalah-masalah dalam peningkatan pelayanan farmasi. Hasil pertemuan tersebut disebarluaskan, dicatat dan disimpan
5) Adanya Komite/Panitia Farmasi dan Terapi di rumah sakit dan apoteker IFRS (Insatalasi Farmasi Rumah Sakit) menjadi sekretaris komite/panitia.
6) Adanya komunikasi yang tetap dengan dokter dan paramedis, serta selalu berpartisipasi dalam rapat yang membahas masalah perawatan atau rapat antar bagian atau konferensi dengan pihak lain yang mempunyai relevansi dengan farmasi.
7) Hasil penilaian/pencatatan komite terhadap staf didokumentasikan secara rahasia dan hanya digunakan oleh atasan yang mempunyai wewenang untuk itu.
8) Dokumentasi yang rapi dan rinci dari pelayanan farmasi dan dilakukan evaluasi terhadap pelayanan farmasi setiap tahun.
9) Kepala Instalasi Farmasi harus terlibat langsung dalam perumusan segala
keputusan yang berhubungan dengan pelayanan farmasi dan penggunaan obat.
Indikator mutu pelayanan kefarmasian di RS
Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan baik maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien
Standar Pelayanan Kefarmasian adalah tolok ukur yang dipergunakan sebagai pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam menyelenggarakan pelayanan kefarmasian.
Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit meliputi standar:
a. pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai; dan b. pelayanan farmasi klinik.
Mengukur Mutu Pelayanan Kefarmasian Jamil (2006) mengemukakan bahwa mutu pelayanan kefarmasiandapat diukur menggunakan tujuh indikator, yaitu:
1. rata-rata waktu penyiapan obat 2. rata-rata waktu penyerahan obat
3. Persentase jumlah obat yang diserahkan sesuai resep
4. Persentase jumlah jenis obat yang diserahkan sesuai resep 5. Persentase penggantian resep
6. Persentase etiket dan label yang lengkap 7. Persentase pengetahuan pasien
manajemen resiko pelayanan farmasi di Rumah sakit
manajemen resiko pelayanan farmasi di Rumah sakit
Manajemen resiko pelayanan farmasi di rumah sakit Definisi
Manajemen resiko adalah suatu pendekatan terstruktur/ metodelogi dalam mengelola ketidak pastian yang berkaitan dengan ancaman.
Contoh kesalahan di unit farmasi
- pasien tidak memahami cara pemakaian obat - duplikasi obat
-kegagalan terapi , dll
Dari investasi resiko yang mungkin bisa timbul, dapat di analisis dampak dari resiko tersebut, dapat di golongkan dalam 2 golongan yaitu :
• Dampak kepada pasien/ keluarga
• Dampak terhadap rumah sakit
Pelaksanaan identifikasi resiko dilakukan dengan melihat potensi adanya suatu kejadian yang berdampak negatif dan mempengaruhi pencapaian tujuan yang ingin dicapai. Kemudian
ditentukan prioritas risiko untuk membantu proses pengambilan keputusan berdasarkan hasil analisis risiko.
Analisis resiko dilakukan dengan menghitung :
• Skore/ tingkat resiko (R) = PxFxA
• Asumsi probabilitas kejadian (PELUANG ) = P
• Seringnya terjadi (FREKUENSI) = F
• Dengan besaran dampak (AKIBAT ) = A
• Serta skore/ tingkat resiko (RESIKO) = R Contoh soal :
Resiko salah pemberian obat kerugian pada pasien : P = 4, F = 4, A= 15
Jawaban : R = PxFxA = 4x4x15
= 240 ( tinggi )
Kesimpulan analisis : mendapatkan perhatian dari manajemen puncak dan tindakan perbaikan segera dilakukan.
Grade resiko biasa :
1. Rendah ( resiko masih dapat diterima dan ditoleransi) 2. Cukup tinggi (dilakukan perbaikan secepatnya)
3. Tinggi (perlu mendapat perhatian dari manajemen puncak dan tindakan perbaikan segera dilakukan )
4. Sangat tinggi (perlu mendapatkan perhatian dari manajemen puncak dan tindakan cyto perbaikan segara dilakukan