Dalam kerangka ini, Lukman Hakim Saifuddin kemudian mengemukakan perlunya penguatan fungsi agama dalam pembangunan nasional yang merupakan amanat undang-undang. Lukman Hakim Saifuddin, Sambutan Menteri Agama RI pada Acara Pengkajian Ramadlan 1438h PP Muhammadiyah, Ciputat, Senin, 5 Juni 2017.
RUMUSAN MASALAH DAN TUJUAN PENULISAN Relasi Islam dan kebangsaan merupakan dua sisi mata uang
Kedua, Din Syamsuddin, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, memberikan penilaian bahwa Lukman sebagai Menteri Agama merupakan sosok yang tepat. Tujuan kajian terhadap pemikiran dan kebijakan keagamaan Lukman dapat digambarkan sebagaimana barikut: Pertama, untuk meneliti paradigma ijtihad Islam kebangsaan Lukman Hakim Saifuddin.
METODE PEMBAHASAN 1. Paradigma
Tipologi Paradigma Ijtihad
Adapun paradigma ijtihad Islam dapat dibagi menjadi tiga tipologi:Pertama, paradigma ijtihad tekstual yang menafsirkan secara tekstual terhadap nas-nas sumber agama Islam, sehingga penafsirnya hanya sekadar mengartikan teks sumber agama Islam secara harfiah. Kedua, paradigma ijtihad konservatif yang berusaha memahami teks-teks sumber agama Islam dengan cara kembali pada wacana Islam di masa kejayaannya, sehingga penafsirnya selalu merasa tidak puas terhadap keadaan empiris-aktual yang dihadapi.Ketiga, paradigma ijtihad modern yang dapat menafsirkan kembali teks-teks sumber agama Islam sesuai dengan perkembangan aktual hidup umat manusia dan sekaligus mampu menerima metode- metode baru dalam memahami teks-teks sumber agama Islam.46.
Kebangsaan
Analisa Data
SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Biografi Intelektual Lukman Hakim Saifuddin
52Lukman Hakim Saifuddin: Menteri Agama Peduli Kaum Minoritas,Artikel ini pernah dimuat di Majalah Tebuireng edisi 35/November- Desember 2014, dimuat kembali untuk kepentingan pendidikan.http://tebuireng.org/lukman-hakim-saifuddin-menteri-agama- peduli-kaum-minoritas/, diakses 9 Agustus 2016. 53Lukman Hakim Saifuddin: Menteri Agama Peduli Kaum Minoritas, Artikel ini pernah dimuat di Majalah Tebuireng edisi 35/November-Desember.
Paradigma Kebangsaan Lukman Hakim Saifuddin
Hal itu jelas mengancam spirit kebangsaan dari bangsa Indonesia yang hidup dalam kebhinekaan di era modern ini. Dengan demikian, Pancasila harus menjadi ruh dalam segala perjuangan dan pembangunan di segala lini hidup bangsa Indonesia.
Kiprah Lukman Hakim Saifuddin Sebagai Tokoh Nahdlatul Ulama, Tokoh Agama, dan Menteri Agama
86Lukman Hakim Saifuddin, “Sambutan Menteri Agama RI Pada Kongres Nasional Kebebasan Beragama Dan Berkeyakinan di Indonesia 2017”, yang Diselenggarakan Oleh Komnas HAM RI, Jakarta, 16 Maret 2017. 94Lukman Hakim Saifuddin, “Sambutan Menteri Agama RI Pada Kongres Nasional Kebebasan Beragama Dan Berkeyakinan di Indonesia 2017”, yang Diselenggarakan Oleh Komnas HAM RI, Jakarta, 16 Maret 2017.
Wacana Tekstualisme dan Empirisisme Keislaman dan Kebangsaan Lukman Hakim Saifuddin: Antara Gusdurian dan
107Lukman Hakim Saifuddin, Sambutan Menteri Agama RI pada Pengarahan Program Penelitian Tahun 2017 Balai Litbang Agama Semarang. 109Lukman Hakim Saifuddin, Sambutan Menteri Agama RI pada Pengarahan Program Penelitian Tahun 2017 Balai Litbang Agama Semarang.
Respons Berbagai Kalangan terhadap Pemikiran dan Kiprah Lukman Hakim Saifuddin Lukman Hakim Saifuddin
Tiga kriteria inilah yang disematkan oleh Lukman Hakim Saifuddin sebagai manifestasi dari ajaran Islam Rahmatan lil. 119Desmon Andrian dkk, Spirit Moderasi Beragama, Ucapan dan Tindakan Lukman Hakim Saifudddin, (Jakarta: Sekretariat Jenderal Kementerian Agama RI, 2018), hlm. Lebih lanjut, Lukman sebagai tokoh agama dan Menteri Agama mendapatkan respons dari berbagai kalangan, yakni Pertama, Bonaran Tigor Naipopos, Wakil Ketua Setara Institute, mengatakan bahwa Lukman Hakim Saifuddin mendapat banyak pujian karena ia merupakan sosok Menteri yang siap meluangkan waktu untuk berdialog dengan pihak-pihak penganut agama minoritas.
Jawa.125Keenam, M Nasron HK mengemukakan bahwa Lukman Hakim Saifuddin adalah sosok Menteri Agama yang bertanggung jawab, sudah banyak berbuat untuk masyarakat dan bijaksana dalam mengambil keputusan.126Keenam, Rohimin mengemukakakan bahwa Lukman Hakim Saifuddin telah menanamkan pemikiran moderat, toleran dan pluralis.
Prinsip Ijtihad Kebangsaan
Dari kerangka ijtihad Islam tersebut, kita dapat menganalisis dan menjabarkannya dari paradigma lima budaya kerja Kementerian Agama yang digagas oleh Lukman Hakim Saifuddin, yakni Pertama, seorang mujtahid harus memiliki integritas dalam artian bahwa seorang mujtahid dalam Islam tidak hanya memahami ajaran agama Islam secara utuh, tetapi juga harus seorang Muslim, sehingga di sini Lukman Hakim Saifuddin menyebutkanya harus memiliki “keselarasan antara hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik dan benar”. Seorang mujtahid harus memiliki komitmen daya jihad yang kuat sehingga harus memiliki niatan yang baik dan menggunakan segala daya upaya untuk menemukan ketentuan ajaran Islam, bersifat zuhud, qanaah, dan terpercaya, dalam melakukan ijtihad, yang berarti bahwa seorang mujtahid harus “bertekad dan bekemauan untuk berbuat yang baik dan benar; berpikiran positif, arif, dan bijaksana dalam melaksanakan tugas dan fungsi; mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku; menolak korupsi, suap, atau gratifikasi”. Kedua, seorang mujtahid harus memiliki pengetahuan yang utuh tentang al-Qur’an dan Sunnah serta khazanah keilmuan Islam, sehingga seorang mujtahid harus memiliki kemampuan yang mumpuni dalam menggali dan mengeluarkan ketentuan ajaran Islam dari sumbernya sesuai dengan kebutuhan zamannya, yang dalam bahasa Lukman Hakim Saifuddin di sini disebut dengan profesionalitas, yakni“bekerja secara disiplin, kompeten, dan tepat waktu dengan hasil terbaik” yang ditandai dengan;“Melakukan pekerjaan sesuai kompetensi jabatan; Disiplin dan bersungguh-sungguh dalam bekerja; Melakukan pekerjaan secara terukur; Melaksanakan dan menyelesaikan tugas tepat waktu.” Ketiga, seorang mujtahid harus memiliki kemampuan inovatif dalam menjawab perkembangan zaman.
Kelima, seorang mujtahid selalu menjaga kehormatannya dan memberikan teladan dalam perilakunya, sehingga segala hal yang baik yang diketahui biasanya selalu dikerjakan dan segala hal yang buruk yang diketahui ditinggalkannya.
Paradigma Ijtihad Tawazun
Perjuangan Kiai Hasyim Asy’ari dalam memajukan fungsi agama sangat diperhitungkan terutama jika dihubungan dengan keterlibatannya dalam gerakan nasional Indonesia. Berguru pada sejumlah ulama ahli itu mengantarkan Kiai Hasyim Asy’ari pada derajat keilmuan yang tinggi. Tentu jika sudah sampai waktunya, Kiai Hasyim Asy’ari tak mengharamkan sekiranya sebagian santrinya hendak mengamalkan tarekat”.
Dengan paradigma ijtihad keislamaan tersebut, Kiai Hasyim Asy’ari berhasil meyakinkan golongan nasionalis- sekuler, bahwa Indonesia yang majemuk tidak bisa menjadi negara agama.
Paradigma Ijtihad Tawasuth
Setiap anak bangsa dapat menerjemahkan nilai-nilai ajaran agamanya secara seimbang dengan dinamika kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia.168. Hal ini berbeda dengan di Barat, nilai-nilai Islam lebih banyak mempengaruhi terminilogi sains dan teknologi. Nilai-nilai keadilan, baik individu maupun sosial seperti yang tercantum dalam sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.181.
Demikian juga nilai-nilai ajaran Islam sebagai salah satu bahan materi muatan dalam pembentukan hukum nasional perlu didalami dan dikontektualisasikan dengan realitas regulasi hukum nasional di Indonesia.182.
Pradigma Ijtihad Tasamuh
205 Lukman Hakim saifuddin, “Sambutan Menteri Agama RI” pada Seminar Pembukaan Halaqah Fiqh Kebhinekaan, Maarif Institute, Jakarta, 24 Februari 2015. 208 Lukman Hakim saifuddin, “Sambutan Menteri Agama RI” pada Seminar Pembukaan Halaqah Fiqh Kebhinekaan, Maarif Institute, Jakarta, 24 Februari 2015. 211 Lukman Hakim saifuddin, “Sambutan Menteri Agama RI” pada Seminar Pembukaan Halaqah Fiqh Kebhinekaan, Maarif Institute, Jakarta, 24 Februari 2015.
214 Lukman Hakim saifuddin, “Sambutan Menteri Agama RI” pada Seminar Pembukaan Halaqah Fiqh Kebhinekaan, Maarif Institute, Jakarta, 24 Februari 2015.
Paradigma Relasi Agama dan Negara
Kepribadian bangsa Indonesia ini merujuk pada ideologi Pancasila yang mana menurut Yusril Ihza Mahendra memiliki ciri- ciri menyeluruh, tidak berpihak kepada golongan tertentu, bahkan ideologi Pancasila dikembangkan dari nilai-nilai yang ada pada realitas kemajemukan kehidupan bangsa Indonesia yang menjadi idealismenya. Ciri keutuhan ideologi Pancasila adalah esensinya yang menjadi prinsip dasar dalam hidup bersama dalam kehidupan masyarakat, bangsa dan negara dari berbagai elemen bangsa yang multikultural atau multireligius. Dalam menjawab anomali berpikir bangsa tersebut, Lukman menggelorakan kembali semangat nasionalisme atau kebangsaannya dengan berusaha meletakkan nilai-nilai keislaman sebagai dasar filosofisnya dalam memperkokoh ideologi Pancasila sebagai bagian dari empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara, dan upaya instrumental dengan mengeluarkan sejumlah regulasi penerjemahan dalam hukum positif serta pelaksanaan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan kenegaraan dan kemasyarakatan.
Dalam tataran aplikatif, sesuai dengan Visi Pemerintahan Jokowi-JK, yakni Terwujudnya Indonesia Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berdasarkan Gotong Royong, yang mana hal ini juga merupakan spirit dari Trisakti Bung Karno, maka bangunan paradigma Islam kebangsaan Lukman Hakim Saifuddin jika ditelisik pada dasarnya tidak lepas lima nilai-nilai budaya Kementerian Agama;.
Paradigma Kedaulatan Bangsa
Paradigma Konsensus Dasar Berbangsa
228 Lukman Hakim Saifuddin,Sambutan Menteri Agama RI Pada Sosialisasi Empat Konsensus Dasar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, Kanwil Kementerian Agama Provinsi Banten, Serang, 3 Mei 2017. bid’ah dan kafir oleh mereka. 231 Lukman Hakim Saifuddin,Sambutan Menteri Agama RI Pada Sosialisasi Empat Konsensus Dasar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, Kanwil Kementerian Agama Provinsi Banten, Serang, 3 Mei 2017. 232 Lukman Hakim Saifuddin,Sambutan Menteri Agama RI Pada Sosialisasi Empat Konsensus Dasar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, Kanwil Kementerian Agama Provinsi Banten, Serang, 3 Mei 2017.
233 Lukman Hakim Saifuddin,Sambutan Menteri Agama RI Pada Sosialisasi Empat Konsensus Dasar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, Kanwil Kementerian Agama Provinsi Banten, Serang, 3 Mei 2017.
Paradigma Birokrasi-Religius
255Lukman Hakim Saifuddin, Sambutan Menteri Agama RI pada Upacara Peringatan Hari Amal Bakti Kementerian Agama KE-71, Jakarta, 3 Januari 2017. 256Lukman Hakim Saifuddin, Sambutan Menteri Agama RI pada Upacara Peringatan Hari Amal Bakti Kementerian Agama KE-71, Jakarta, 3 Januari 2017. 257Lukman Hakim Saifuddin, Sambutan Menteri Agama RI pada Upacara Peringatan Hari Amal Bakti Kementerian Agama KE-71, Jakarta, 3 Januari 2017.
259Lukman Hakim Saifuddin, Sambutan Menteri Agama RI pada Upacara Peringatan Hari Amal Bakti Kementerian Agama KE-71, Jakarta, 3 Januari 2017.
Paradigma Kepribadian Bangsa
Paradigma Pemberdayaan Bangsa
Lukman Hakim Saifuddin menyatakan bahwa keputusan NU untuk Kembali ke Khittah 1926 merupakan keputusan yang memiliki kebenaran historis dan aktual untuk senantiasa diterapkan dalam tata kehidupan umat dan bangsa yang majemuk ini. Secara global, pelaksanaan spirit Khittah NU 1926 di jiwa Lukman Hakim Saifuddin dapat dilihat dalam garis perjuangannya yang selalu hendak menempatkan agama sebagai pemandu nilai-nilai. Kebijakan-kebijakan yang diprogramkan oleh Lukman Hakim Saifuddin sangat dekat dengan kebutuhan umat dan masyarakat, misalnya dalam masalah menjaga netralitas agama dalam politik praktis Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga melakukan hal yang sama.
Sebagai seorang tokoh agama, Lukman Hakim Saifuddin memiliki jiwa dan pandangan yang inklusif terhadap semua aliran keagamaan.
Paradigma Kerukunan Bangsa
297Lukman Hakim Saifuddin, Sambutan Menteri Agama RI pada Deklarasi Gerakan Cinta Kerukunan Umat Beragama, di Sumatera Barat, Solok, 2 April 2017. 303Lukman Hakim Saifuddin, Sambutan Menteri Agama RI pada Deklarasi Gerakan Cinta Kerukunan Umat Beragama, di Sumatera Barat, Solok, 2 April 2017. 305Lukman Hakim Saifuddin, Sambutan Menteri Agama RI pada Deklarasi Gerakan Cinta Kerukunan Umat Beragama, di Sumatera Barat, Solok, 2 April 2017.
308Lukman Hakim Saifuddin, Sambutan Menteri Agama RI pada Deklarasi Gerakan Cinta Kerukunan Umat Beragama, di Sumatera Barat, Solok, 2 April 2017.
Paradigma Kemandirian Bangsa 1.Paradigma Pendidikan Bangsa 1.Paradigma Pendidikan Bangsa
Paradigma Spirit dan Etos Kerja Bangsa
340 Lukman Hakim Saifuddin, Keynote Speech Menteri Agama RI pada Simposium Pendidikan IslamRevitalisasi Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta, 4 Mei 2017. 344Lukman Hakim Saifuddin, Sambutan Menteri Agama RI pada Acara Rapat Koordinasi Penguatan Fungsi Agama dalam Pembangunan Nasional Ditjen Bimbingan Masyarakat IslamTahun 2017, Jakarta, Jum’at, 11 Agustus 2017. 346Lukman Hakim Saifuddin, Sambutan Menteri Agama RI pada Acara Rapat Koordinasi Penguatan Fungsi Agama dalam Pembangunan Nasional Ditjen Bimbingan Masyarakat IslamTahun 2017, Jakarta, Jum’at, 11 Agustus 2017.
347Lukman Hakim Saifuddin, Sambutan Menteri Agama RI pada Acara Rapat KoordinasiP enguatan Fungsi Agama dalam Pembangunan Nasional Ditjen Bimbingan Masyarakat IslamTahun 2017, Jakarta, Jum’at, 11 Agustus 2017.
PENUTUP
Kesimpulan