• Tidak ada hasil yang ditemukan

Paradigma Relasi Agama dan Negara

Dalam dokumen nalar islam kebangsaan lukman hakim saifuddin (Halaman 125-130)

BAB IV

PARADIGMA ISLAM KEBANGSAAN LUKMAN HAKIM SAIFUDDIN

Namun demikian, derasnya arus budaya globalisasidan informasi kemudian mempengaruhi wawasan kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga perilaku anak bangsa kemudian mengalami degradasi dan kurang banggga sebagai anak bangsa,bahkan kurang bangga dengan ideologi Pancasila.216 Kondisi ini tentu saja harus menjadi perhatian para pemuka agama dan tokoh-tokoh nasional karena hal ini menjadi indikasi kendornya rasa kebangsaan yang bisa memicu turunnya kedaulatan hidup berbangsa. Sementara itu, kedaulatan bangsa merupakan idealisme dari para pendiri bangsa.

Kedaulatan bangsa ini secara eksplisit dikemukakan oleh Soekarno sebagai landasan untuk membangun Kemerdekaan Republik Indonesia, yakni berdaulat dalam bidang politik, berkepribadian dalam budaya dan mandiri dalam bidang ekonomi. Dalam hal ini, spirit nasionalisme Soekarno adalah laksana satu kancah, kancah ketidakpuasan, (nasionalisme negatif), kancah ikhtiar terhadap frustasi-frustasi, dan juga satu kancah usaha kedinamisan dari ikhtiar bangsa kembali kembali pada kepribadian bangsanya, baik politik,budaya maupun ekonomi.217

Kepribadian bangsa Indonesia ini merujuk pada ideologi Pancasila yang mana menurut Yusril Ihza Mahendra memiliki ciri- ciri menyeluruh, tidak berpihak kepada golongan tertentu, bahkan ideologi Pancasila dikembangkan dari nilai-nilai yang ada pada realitas kemajemukan kehidupan bangsa Indonesia yang menjadi idealismenya. Ciri keutuhan ideologi Pancasila adalah esensinya yang menjadi prinsip dasar dalam hidup bersama dalam kehidupan masyarakat, bangsa dan negara dari berbagai elemen bangsa yang multikultural atau multireligius. Menurut ideologi Pancasila, kehidupan berbangsa dan bernegara harus berlandaskan pada prinsip

216 Dalam perkembangan dekade terakhir, ada sejumlah organisasi yang menganggap Pancasila sebagai berhala, sehingga ormas tersebut dilarang di Indonesia, bahkan jauh sebelumnya di sejumlah negara sudah dilarang.

217Soekarno, “Negara Islam dan Cita-cita Islam”, Kuliah Umum di Universitas Indonesia, Jakarta, 7 Mei 1953, dalam dalam R Soemarno, Bung Karno: Seorang Amirul Mukminin, (Jakarta: Putra Sang Fajar, 2015), hlm. 161- 163.

moralitas Ketuhanan sebagai kausa prima yang menciptakan alam seisinya termasuk makhluk manusia, sehingga sebagai makhluk Tuhan harus berperilaku adil dan beradab sesuai dengan nilai-nilai agama yang mengajarkan nilai-nilai musyawarah untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan demi tegaknya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.218

Kurangnya rasa kebangaan sebagai anak bangsa tersebut juga terjadi akibat adanya gerakan reformasi di Indonesia. Walaupun diakui atau tidak, era reformasi di Indonesia juga telah memberikan sumbangan positif dalam membangun survival bangsa Indonesia.

Namun demikian, ada beberapa sisi negatif di antaranya kesalahan paradigma berpikir dalam memaknai reformasi, sehingga reformasi itu dimaknai hanya sebagai perubahan (change). Lupa bahwa sesungguhnya gerakan reformasi itu sebagai suatu proses, yang dalam proses tersebut selain harus dilakukan perubahan juga harus dipertahankan suatu keberlanjutan. Implikasinya, masa-masa pasca reformasi, kita jarang selaki mendengar istilah-istilah seperti stabilitas nasional, persatuan dan kesatuan, nasioanalisme, bahkan istilah Pancasila sering dianggap usang. Realitas inilah yang kita maksud sebagai fenomena “kesalahan berpikir” yang tanpa disadari banyak dialami oleh masyarakat kita pada masa reformasi sekarang ini.219

Adanya persoalan bangsa yang terjadi di masa Orde Baru seolah-olah adalah masalah Pancasila. Padahal, Pancasila adalah nilai dasar normatif yang masih abstrak, sehingga perlu kita jabarkan dalam tataran instrumental, yakni penerjemahan dalam hukum positif, dan juga dalam tataran operasional, yakni

218 Kaelan, Liberalisasi Ideologi Negara Pancasila, (Yogyakarta: Penerbit Paradigma, 2015), hlm.172-173.

219 Idjang Tjarsono, “Demokrasi Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika Solusi Heterogenitas” Jurnal Transnasional, Volume 4, Nomor 2, Februari 2013, hlm. 887-888.

pelaksanaan obyektif oleh institusi serta penyelenggara negara dan pelaksanaan subyektif, yakni pelaksanaan oleh warga negara.220

Sebagai falsafah negara, Pancasila telah menjadi pemersatu bangsa dari masyarakat yang majemuk, telah menjadi kesepakatan seluruh bangsa dan rakyat Indonesia, telah berakar dalam hati bangsa dan rakyat Indonesia, dan juga telah menjadi pengarah hidup bangsa dan rakyat Indonesia dalam membangun kesejahteraan umum.221 Oleh sebab itu, adanya gugatan dari kalangan radikal dan ekstrim keagamaan terhadap falsafah Pancasila tidak bisa dibenarkan.

Dalam menjawab anomali berpikir bangsa tersebut, Lukman menggelorakan kembali semangat nasionalisme atau kebangsaannya dengan berusaha meletakkan nilai-nilai keislaman sebagai dasar filosofisnya dalam memperkokoh ideologi Pancasila sebagai bagian dari empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara, dan upaya instrumental dengan mengeluarkan sejumlah regulasi penerjemahan dalam hukum positif serta pelaksanaan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan kenegaraan dan kemasyarakatan.

220 Idjang Tjarsono, “Demokrasi Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika Solusi Heterogenitas” Jurnal Transnasional, Volume 4, Nomor 2, Februari 2013, hlm. 888.

221Abdullah Taufik,“Refleksi atas Revitalisasi Nilai Pancasila Sebagai Ideologi Dalam Mengeleminasi Kejahatan Korupsi”, Jurnal Universum, Volume 9 Nomor 1 Januari 2015, hlm. 53.

(Menteri Agama menutup Pertemuan dengan Pimpinan Induk Organisasi Gereja, Ketua Sinode dalam Rangka Deradikalisasi, di Jakarta, Jumat, 26/10/2018)222

Dalam tataran operasional, Lukman memberikan teladan dalam memberikan penguatan semangat kebangsaan dengan merawat dan membina kebhinekaan terutama dalam hal agama.

Dalam kegiatan tersebut, Lukman mengharapkan para tokoh agama Kristen untuk terus memberikan pemahaman pada umat tentang esensi ajaran agama, yakni menjaga harkat dan martabat kemanusiaan yang menjadi spirit dalam kehidupan berbangsa.223

222Khoiron (ed), Menag Tutup Konsultasi Pimpinan Induk Organisasi Gereja, https://kemenag.go.id/berita/read/509193/menag-tutup-konsultasi- pimpinan-induk-organisasi-gereja 26 Oktober 2018.

223 Khoiron (ed), Menag Tutup Konsultasi Pimpinan Induk Organisasi Gereja, https://kemenag.go.id/berita/read/509193/menag-tutup-konsultasi- pimpinan-induk-organisasi-gereja 26 Oktober 2018.

Dalam tataran aplikatif, sesuai dengan Visi Pemerintahan Jokowi-JK, yakni Terwujudnya Indonesia Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berdasarkan Gotong Royong, yang mana hal ini juga merupakan spirit dari Trisakti Bung Karno, maka bangunan paradigma Islam kebangsaan Lukman Hakim Saifuddin jika ditelisik pada dasarnya tidak lepas lima nilai-nilai budaya Kementerian Agama;

Integritas, Profesionalitas, Inovasi, Tanggung Jawab, dan Keteladan.Hal itu juga penerjemahan dari dari visi dan misi Kementerian Agama RI yang dibangunnya, yakni: Visi: Terwujudnya masyarakat Indonesia yang taat beragama, rukun, cerdas, mandiri, dan sejahtera lahir batin; Misi;1. Meningkatkan kualitas kehidupan beragama. 2. Meningkatkan kualitas kerukunan umat beragama. 3.

Meningkatkan kualitas raudhatul athfal, madrasah, perguruan tinggi agama, pendidikan agama dan pendidikan keagamaan. 4.

Meningkatkan kualitas penyelenggaraan ibadah haji. 5.

Mewujudkan tata kelola kepemerintahan yang bersih dan berwibawa.224

Dalam dokumen nalar islam kebangsaan lukman hakim saifuddin (Halaman 125-130)