• Tidak ada hasil yang ditemukan

Paradigma Konsensus Dasar Berbangsa

Dalam dokumen nalar islam kebangsaan lukman hakim saifuddin (Halaman 131-137)

B. Paradigma Kedaulatan Bangsa

1. Paradigma Konsensus Dasar Berbangsa

Presiden RI, Joko Widodo mengatakan bahwa umat Islam di seluruh Tanah Air harus bersama-sama melindungi Bangsa dan Negara dari semua bentuk radikalisme dan terorisme, sehingga umat beragama yang berada dalam jalan yang salah dalam berdakwah dan menyiarkan Agama Islam harus diberi penyadaran dan pemahaman yang utuh dan otentik tentang ajaran Islam.227 Adanya kelompok- kelompok radikal yang memiliki pemikiran dan pemahaman keislaman radikal dan ekstrimis perlu diberikan pemahaman dan orienatasi keislaman yang berwawasan kebhinekaan, sehingga mereka memiliki pemahaman keislaman yang utuh dan otentik.

225 Seokarno, “Negara, Amanat Tuhan kepada Kita, Amanat Ketika Menerima Gelar Pengayom Agung Muhammadiyah Istana Bogor, 25 September 1965”, dalam R Soemarno, Bung Karno: Seorang Amirul Mukminin, (Jakarta:

Putra Sang Fajar, 2015), hlm. 364-365.

226Soekarno, “Negara Islam dan Cita-cita Islam”, Kuliah Umum di Universitas Indonesia, Jakarta, 7 Mei 1953, dalam R Soemarno, Bung Karno:

Seorang Amirul Mukminin, (Jakarta: Putra Sang Fajar, 2015), hlm. 161-171.

227Kita Bangun Islam Yang Tebarkan Perdamaian, http://ksp.go.id/kita-bangun-islam-yang-tebarkan-perdamaian/, diakses 14 September 2017

Sosialisasi paham kebangsaan menjadi keniscayaan yang harus kita lakukan terutama terhadap elemen terdidik dan Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai salah satu elemen pelayan publik yang berbasis nilai-nilai religius. Sebab, nilai-nilai religius memiliki peran penting dalam memberikan pengaruh dan daya juang dalam mempertahankan sebuah ideologi. Immanuel Kant menyebutkan bahwa agama memiliki daya dorong yang kuat untuk membangun dan menata kehidupan umat manusia menjadi lebih militan. Oleh sebab itu, kita menilai sangat tepat sekali nilai-nilai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara yang diharapkan mampu mendukung dan menopang penguatan nasionalisme umat dan bangsa.

Saya (Lukman, pen) mengapresiasi kegiatan yang menghadirkan lebih dari 300 peserta ini sebagai wujud tanggung jawab kalangan ASN di lingkungan Kementerian Agama terhadap penguatan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Seperti apa Indonesia kita sepuluh, dua puluh, lima puluh, bahkan 100 tahun yang akan datang antara lain tergantung pada upaya kita bersama.228

Sosialisasi nilai-nilai luhur dan budaya bangsa memiliki peran penting dalam memupuk dan memperkokoh jiwa dan nasionalisme dari sebuah bangsa. Demikian juga nilai-nilai khas keagamaan yang lahir dari budaya luhur bangsa juga memiliki peran penting dalam memperkokoh keimanan dan nasionalisme sekaligus dari sebuah bangsa. Teori inilah yang dibangun oleh kaum fundamentalis dan radikalis keagamaan trans-nasional yang sedang diterapkan kepada umat dan bangsa Indonesia, sehingga kaum fundamentalis dan radikalis keagamaan trans-nasional tersebut saat ini sedang gencar membuat jargon bid’ah dan mengkafirkan golongan keagamaan Islam di luar mereka yang nota bene sangat akrab dengan budaya nasional, misalnya Islam Nusantara dianggap

228 Lukman Hakim Saifuddin,Sambutan Menteri Agama RI Pada Sosialisasi Empat Konsensus Dasar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, Kanwil Kementerian Agama Provinsi Banten, Serang, 3 Mei 2017.

bid’ah dan kafir oleh mereka. Di samping itu, kaum fundamentalis dan radikalis keagamaan trans-nasional juga gencar menyerang simbol tokoh yang dianggap panutan sebagai salah satu cara menghilangkan citra dan kharismanya, bahkan supaya umat kehilangan hubungan emosional dan kecintaan kepada tokoh panutannya, misalnya serangan terhadap KH Said Aqiel Siraj yang dianggap liberal. Oleh sebab itu, kaum fundamentalis dan radikalis keagamaan trans-nasional terus berusaha melepaskan umat dan bangsa dari tradisi keimanannya yang khas, tradisi budayanya yang khas, dan dari tokoh panutannya, sedangkan cara yang digunakan adalah dengan menyerang dan mendeskriditkan tradisi keimanan, budaya dan tokoh panutannya. Bahkan mereka menghendaki budaya umat dan bangsa kita akan diajak untuk mengikuti tradisi budaya Timur Tengah yang belum jelas itu, baik tipe ideal beragama, berbudaya maupun bernegaranya.

George Orwell, seorang novelis dan seniman besar Inggris pernah menulis, “Cara paling efektif untuk menghancurkan sebuah masyarakat adalah dengan membuat mereka lupa akan sejarah bangsa mereka.” Dalam kaitan itulah, kesadaran terhadap sejarah lahir dan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia perlu dimiliki oleh semua elemen bangsa. Selain itu, kita semua harus bisa menyelamatkan bangsa dan negara dari bahaya paham atau ideologi yang bertentangan atau anti Pancasila dan NKRI, dan juga dari bahaya sekularisme, liberalisme, neo- komunisme, kapitalisme dan sebagainya yang merusak nilai- nilai kehidupan bangsa yang Pancasilais.229

Ancaman hidup berbangsa dan bernegara yang sedang dihadapi oleh masyarakat Indonesia dalam kondisi yang sangat membahayakan sehingga umat Islam sebagai mayoritas warga

229 Lukman Hakim Saifuddin,Sambutan Menteri Agama RI Pada Sosialisasi Empat Konsensus Dasar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, Kanwil Kementerian Agama Provinsi Banten, Serang, 3 Mei 2017.

negara seharusnya mengambil peran penting dalam upaya menanamkan dan mensosialisasikannilai-nilai dasar hidup berbangsa dan bernegara melalui sosialisasi Empat Konsensus Dasar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara. Dalam konteks ini, Lukman Hakim Saifuddin memandang penting hal itu karena mengingat besarnya ancaman disintegrasi dan perpecahan bangsa, baik dari dalam maupun dari luar.230

Indonesia adalah bangsa dan negara besaryang terdiri dari beragam suku, bahasa, budaya dan agama. Keragaman itu, bila tidak dikelola dengan baik bisa menjadi ancaman terhadap integrasi bangsa yang telah menjadi konsensus semenjak proklamasi kemerdekaan negara ini dikumandangkan pada tahun 1945.231

Sosialisasi Empat Pilar atau Empat Konsensus Dasar Bernegara dilaksanakan untuk menyebarluaskan norma-norma baru yang terkandung dalam Perubahan UUD 1945. Adapun sosialisasi itu dilakukan dalam ruang lingkup materi empat pilar kehidupan bangsa, yakni, Pancasila sebagai landasan ideologi, etika moral serta alat pemersatu bangsa, sehingga Pancasila harus menjadi landasan filosofis dalam perumusan tata kehidupan sosial, politik, hukum, pendidikan dan ekonomi, sedangkan UUD Tahun 1945 menjadi landasan konstitusionalnya. Adapun NKRI menjadi konsensus yang harus dipertahankan oleh segenap elemen bangsa Indonesia; dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai kekayaan bangsa dan modal untuk bersatu.232

230 Lukman Hakim Saifuddin,Sambutan Menteri Agama RI Pada Sosialisasi Empat Konsensus Dasar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, Kanwil Kementerian Agama Provinsi Banten, Serang, 3 Mei 2017.

231 Lukman Hakim Saifuddin,Sambutan Menteri Agama RI Pada Sosialisasi Empat Konsensus Dasar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, Kanwil Kementerian Agama Provinsi Banten, Serang, 3 Mei 2017.

232 Lukman Hakim Saifuddin,Sambutan Menteri Agama RI Pada Sosialisasi Empat Konsensus Dasar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, Kanwil Kementerian Agama Provinsi Banten, Serang, 3 Mei 2017.

Empat pilar tersebut merupakan rukun negara, penyangga tegaknya negara dan berfungsi sebagai landasan dalam membangun bangsa yang adil dan sejahtera sesuai cita-cita para pendiri sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. Pembukaan UUD 1945 yang memuat tujuan dan misi bernegara perlu dipahami bersama dan dilaksanakan. Tujuan dan misi bernegara wajib dijalankan oleh pemerintah yaitu: melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.233 Pemberian pemahaman terhadap konstitusi sangat penting agar kita tidak terjebak pada mistifikasi dan dogmatisasi Pancasila sebagaimana terjadi pada masa lalu yang mana Pancasila yang seharusnya menjadi dasar negara, oleh pemerintah Orde Baru diredusir sebagai pedoman perilaku individual atau budi pekerti manusia sebagai pribadi.234

Adanya upaya pendalaman dan sosialisasi konsensus hidup berbangsa tersebut menjadi landasan dalam membangun pemahaman Islam yang otentik, yakni pemahaman Islam yang tidak hanya lahir dari ruang kosong, tetapi pemahaman Islam yang lahir dari realitas empiris umat Islam di Indonesia sehingga selalu relevan dan aktual dengan kebutuhan empiris umat Islam di Indonesia.

Gerakan ini merupakan upaya pergeseran paradigma dari paradigma Islam ekslusif yang selalu disuarakan kelompok fundamentalis/

tradisional-konservatif menjadi paradigma Islam kebangsaan

233 Lukman Hakim Saifuddin,Sambutan Menteri Agama RI Pada Sosialisasi Empat Konsensus Dasar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, Kanwil Kementerian Agama Provinsi Banten, Serang, 3 Mei 2017.

234 Lukman Hakim Saifuddin,Sambutan Menteri Agama RI Pada Sosialisasi Empat Konsensus Dasar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, Kanwil Kementerian Agama Provinsi Banten, Serang, 3 Mei 2017.

sebagai paradigma ijtihad Islam otentik yang memiliki spirit akomodatif terhadap setiap tatangan hidup umat dan bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, jika kita hendak menerjemahkan nilai- nilai Islam dalam tata kehidupan berbangsa, maka wujudnya sudah berbentuk paradigma objektifikasi Islam yang cenderung akomodatif dan otentik -meminjam bahasa Kuntowijo-, bukan paradigma eksternalisasi Islam yang cenderung formalistik dan tidak otentik.

(Pembukaan Pesparawi XII ditandai dengan alat musik tradisional Kalimantan Barat yakni Kangkuang oleh Luhut Binsar Panjaitan didampingi Menag Lukman Hakim, Ketua Umum Panitia Pelaksana Pesparawi Nasional XII Karolin Margret Natasa, Dirjen Bimas Kristen Thomas Pentury dan pejabat Pemprov Kalbar, 2018).235

235Menag Lukman Hadiri Persparawi Tahun 2018 di Pontianak, https://kemenag.go.id/berita/photo_read/220222/menag-lukman-hadiri- persparawi-tahun-2018-di-pontianak, diakses 21 November 2018.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyatakan kegiatan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) adalah wujud aktualisasi semangat pembangunan nasional di bidang pembinaan mental spiritual sebagai bagian dari upaya memperkokoh ketahanan spiritual umat dalam menghadapi era modernisasi dan globalisasi.

Kegiatan ini menjadi simbol dalam memperkuat warisan budaya konsensus bangsa Indonesia yang dilandasi rasa dan sikap kemajemukan. Pemikiran itu disampaikan Lukman pada saat memberi sambutan dihelat Pesparawi ke XII 2018 di Stadion Sultan Syarif Abdurrahman, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, tanggal 30 bulan 07 tahun 2018).236

Dalam dokumen nalar islam kebangsaan lukman hakim saifuddin (Halaman 131-137)