Lelaki Itu
Saat mentari ingin mencoba keluar dari sarangnya.
Suara panggilan menghadap kepada hakim dari segala hakim, raja yang kedudukannya diatas para raja, dan penguasa yang menguasai alam semesta pun mulai terdengar dari mushollah kecil diujung desa itu.
Seorang lelaki keluar dari gubuk tuanya, dengan peci hitam kesayangnnya dan untaian kain sarung motif kotak-kotak, yang menjuntai dari pusar hingga tumit kakinya.
Ia berangkat dengan air suci yang telah menyucikan dirinya dan melanjutkan langkahnya.
Langkah demi langkah yang ia tinggalkan, seperti jejak pemabuk rindu yang sangat merindukan sang pujaan kekasinya
Suara khas dari hentakan sandalnya terdengar seperti alunan syair cinta yang khidmat bila didengar.
Sesampai di mushollah itu, ia mulai merapatkan shaf dan merapikan apa yang seharusnya ia sajikan kepada sang kekasih.
Lantunan ayat demi ayat mulai terdengar dari kelopak bibir sang Imam yang merdu itu.
Tanpa mereka tau, ada rasa dan ketenangan didalamnya.
Dan terlebih, sang kekasih memberkati mereka secara diam-diam. Seperti angin sepoi- sepoi yang menari-nari membawa pesan yang tak pernah berkata-kata sedikitpun pada mereka.