TEKS VIDEO RESUME BUKU MUHAMMAD DAUD ALI
“HUKUM ISLAM”
Nama : Hendra
NPM : 2403201010068
MK : Hukum Islam
Jumlah Pertemuan yang diikuti :
RESUME BUKU:
Dalam buku berjudul Hukum Islam yang ditulis oleh Prof.H. Mohammad Daud Ali, S.H, yang dilahirkan di desa Bintang , Takengon Aceh Tengah 4 april 1930 dan wafat tanggal 6 oktober 1998.Beliau adalah Guru besar Fakultas Hukum UI dan beberapa fakultas lain di Jakarta ,buku ini berisikan 4 bab yaitu
Bab I Islam dan Hukum Islam
Pada bab ini, menjelaskan tentang kerangka dasar agama dan ajaran islam dan hukum islam.
Agama islam bersumber dari wahyu (Al-Quran) dan sunah (Hadits), ajaran islam bersumber dari ra’yu (akal pikiran). Hukum islam adalah hukum yang bersumber dari dan menjadi bagian agama islam, sebagai system hukum ia mempunyai beberapa istilah yaitu hukum, hukm, ahkam, syariah atau syariat dan fiqih atau fikh dan istilah- istilah lainnya.
Hukum dalam Islam memiliki fungsi utama sebagai pedoman dalam menilai dan mengatur tindakan manusia serta status hukum suatu benda. Dalam bahasa Arab, kata hukm (مكح) berarti keputusan, ketetapan, atau aturan, sedangkan bentuk jamaknya, ahkam (ماكحأ), merujuk pada berbagai kaidah hukum yang menjadi standar dalam kehidupan manusia. Dalam sistem hukum Islam, terdapat lima jenis hukum yang digunakan sebagai tolok ukur dalam menilai suatu perbuatan atau benda, yaitu wajib, sunnat, mubah, makruh, dan haram.
Kelima hukum ini berfungsi sebagai patokan dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam skala individu maupun sosial. Dalam kehidupan pribadi, hukum Islam menilai perbuatan seseorang
berdasarkan aspek moral dan akhlak. Dalam konteks sosial, hukum ini berperan sebagai pedoman yang menjaga harmoni dalam masyarakat. Sementara itu, dalam aspek hukum duniawi, hukum Islam juga berfungsi sebagai norma yang dapat menjadi dasar dalam peraturan perundang- undangan di suatu negara yang menerapkan prinsip-prinsip syariat.
. Kelima jenis kaidah tersebut disebut al-ahkam al-khamsah atau penggolongan yang lima, yaitu:
(1) ja’iz atau mubah atau ibahah, (2) sunnat,
(3) makruh, (4) wajib, dan 5) haram.
Ilmu fikih adalah ilmu yang bertugas (berusaha) memahami/ menentukan dan menguraikan norma-norma hukum dasar yang terdapat didalam Al-Qur’an dan ketentuan umum yang terdapat dalam Sunnah Nabi Muhammad yang direkam dalam kitab-kitab hadist, untuk diterapkan pada perbuatan manusia yang telah dewasa yang sehat akalnya (mukallaf), yang berkewajiban melaksanakan hukum Islam.
Bab II Sumber Asas- Asas Hukum Islam dan Al-Ahkam Al-Khamsah
Pada bab ini mempelajari tentang sumber, asas dan al ahkam al khamsah. Sumber hukum islam diantaranya adalah:
1) Al-qur’an, adalah kitab suci yang memuat firman-firman Allah, sama benar dengan yang disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad sebagai Rasul Allah sedikit demi sedikit selama 22 tahun 2 bulan 22 hari, mula-mula di Makkah kemudian di Madinah 2) As Sunnah atau Hadits, yaitu sumber hukum islam yang kedua setelah Alqur’an, berupa perkataan, perbuatan dan sikap diam Rasul yang tercatat dalam kitab-kitab hadits. Saat ini telah muncul satu disiplin ilmu tersendiri mengenai ini yang di sebut dengan istilah Ulum Al-Hadist yang mana sekarang dengan kumpulan ini di buat menjadi sebuah kitab dan
menjadi pedoman ummat Islam sebagai sumber hokum Islam yang kedua setelah Alquran yang kedudukanya sebagai penjelas dan penegas Alquran.
Asas hukum islam
Asas adalah kebenaran yang digunakan sebagai tumpuan dan alasan dalam penegakan dan pelaksanaan hukum. Dalam konteks hukum Islam, asas hukum berfungsi sebagai landasan utama dalam menentukan kaidah hukum yang berlaku serta memberikan arah bagi penerapan hukum dalam berbagai aspek kehidupan. Asas hukum juga menjadi pedoman dalam memutuskan suatu perkara dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip keadilan dan kemaslahatan.
Al ahkam al khmasah
Menurut system al-ahkam al-khamsah ada lima kemungkinan penilaian mengenai benda atau perbuatan manusia. Penilaian itu, menurut Hazairin, mulai dari jaiz atau mubah di lapangan kehidupan pribadi atau muamalah atau kehidupan social. Jaiz adalah ukuran penilaian bagi perbuatan dalam kehidupan kesusilaan (akhlak atau moral) pribadi. Kalau mengenai benda, misalnya makanan, disebut halal (bukan jaiz); sunnat dan makruh adalah penilaian bagi hidup kesusilaan (akhlak atau moral) masyarakat, wajib dan haram adalah ukuran penilaian atau kaidah atau norma bagi lingkungan hukum duniawi.
Dalam kehidupan individu maupun interaksi sosial (muamalah), suatu perbuatan yang tidak memiliki nilai pahala maupun dosa dikategorikan sebagai jaiz atau mubah. Artinya, seseorang boleh melakukannya atau tidak, tanpa ada konsekuensi hukum syariat. Dalam aspek kehidupan pribadi, istilah jaiz digunakan sebagai standar penilaian dalam aspek kesusilaan (akhlak atau moral) individu. Namun, jika yang dinilai adalah benda—seperti makanan atau barang konsumsi—
maka istilah yang lebih tepat digunakan adalah halal, bukan jaiz.
Bab III Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Hukum Islam
Pada umumnya tahap pertumbuhan dan perkembangan hukum islam adalah 5 masa berikut ini:
1. Masa Nabi Muhammad (610 M – XIX M)
Agama islam sebagai induk hukum islam muncul di semenanjung arab, di suatu daerah tandus yang dikelilingi oleh laut pada ketiga sisinya dan lautan pasir pada sisi keempat. Klen dipimpin oleh seorang yang diberi gelar Sayyid atau syaikh yang dipilih berdasarkan keahlian, keberanian atau kearifannya. Kepala klen berfungsi sebagai abritatornya. Pada masa ini wanita hanya dibebani kewajiban tanpa imbalan hak sama sekali.
Kedudukan kota Makkah sangat penting dalam kehidupan manusia. Disamping ia terletak persimpangan jalan perdagangan transito seperti dikemukakan diatas, disana juga terdapat rumah suci yang disebut Baitullah atau Ka’bah yang sengaja dibuat untuk tempat manusia tawaf: berjalan mengelilingi ka’bah dengan tubuh bagian kiri berada di arah ka’bah 2. Masa Khulafa Rasyidin (632 M – 662 M)
Dengan wafatnya Nabi Muhammad berhentilah wahyu selama 22 tahun 2 bulan 22 hari , yang beliau trima melalui malaikat jibril baik waktu beliau masih berada dimekah maupun setelah hijrah kemadinah. Demikian juga halnya dengan sunnah berakhir pula meninggalnya rosulluloh itu. Kedudukan Nabi Muhammad sebagai utusan Tuhan tidak mungkin diganti tetapi tugas beliau sebagai pemimpin masyarakat islam dan kepala negara harus dilanjutkan oleh orang lain. Pengganti nabi Muhammad sebagai kepala negara dan pemimpin umat islam ini disebut Khalifah.
Ada 4 sahabat nabi yang terpilih menjadi khulafaur rasidin yaitu:
a. Abu Bakar Sidiq. Beliau adalah ahli hukum yang tinggi mutunya, Ia memerintah dari tahun 632 M sampai 634 M.
b. Umar bin khattab, peerintahannya berlangsung dari tahun 634 M sampai tahun 644 M.
c. Usman bin Affan, pemerintahannya berlangsung dari tahun 644 M sampai 656 M.
d. Ali bin Abithalib, pemerintahannya berlangsung dari tahun 656 M samapai tahun 662 M 3. Masa pembinaan, Pengembangan dan Pembukuan (abad VII – X M)
Disamping periode Nabi Muhammad dan periode Khulafaurasidin terdapat juga periode pembinaan pengembangan dan pembukuan hukum fiqih perode tersebut berlangsung lebih
kurangnya 250 lamanya, dimulai pada bagian ke dua abad VII – X masa ini berlangsung pada pemerintahan khalifah umayah.
Hukum Fiqih islam sebagai salah satu aspek kebudayaan islam mencapai puncak perkembangannya dizaman khalifah abasiyah dan memerintah kurang lebih 500 tahun.
Dimasa inilah:
a. lahir para ahli hukum islam yang menemukan dan merumuskan garis – garis huum fiqih islam serta
b. muncul berbagai teori hukum yang masih dianut dan dipergunakan oleh umat islam sampai sekarang
4. Masa kelesuan Pemikiran (abad X M – XIX M)
Sejak permulaan abad IV hijriah atau kea bad ke X – XI M, ilmu hukum islam mulai berhenti berkembang terjadi diakhir pemerintahan atau dinasti abasyah, pada masa ini para ahli hukum hanya mebatasi diri mempelajari pikiran – pikiran para ahli sebelumnya yang telah dituangkan kedalam buku berbagai mazhab
5. Masa Kebangkitan Kembali (abad XIX M sampai sekarang)
Kebangkitan kembali pemikiran islam timbul sebagai reaksi terhadap sikap taklit tersebut diatas yang telah membawa kemunduran hukum islam. Sebagai reaksi terhadap sikap taklit diatas sesungguhnya pada periode kemunduran itu sendiri telah muncul beberapa ahli yang ingin tetap melakukan ijtihad, untuk menanggung persoalan – persoalan dan perkembangan masyarakat.
Bab IV Hukum Islam di Indonesia.
Hal yang menarik dari buku ini ialah, terletak pada bab IV tentang Hukum Islam di Indonesia, tidak hanya membahas mengenai hukum islam saja, melainkan adanya bahasan terkait hukum adat dan hukum barat yang merupakan salah satu hukum yang berlaku di Indonesia. Buku ini juga membahas mengenai mekanisme sistem Peradilan Agama di Indonesia dan Kompilasi
Hukum Islam di Indonesia. Buku Hukum Islam sebagai Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Islam di Indonesia ini. BAB IV memebahas hukum islam yang ada di Indonesia. Pada bab ini membicarakan
Bagian ini menjelaskan ketiga sistem hukum yang berlaku di Indonesia, masing-masing dengan karakteristik dan sumber hukumnya sendiri. Hukum adat berkembang dari norma-norma masyarakat lokal, hukum Islam bersumber dari ajaran syariat, sedangkan hukum Barat merupakan warisan dari sistem hukum kolonial Belanda.
Dalam sejarahnya, hukum Islam dan hukum adat sering kali berinteraksi dan mengalami proses akulturasi. Beberapa norma hukum adat bahkan mengadopsi prinsip-prinsip hukum Islam, terutama dalam aspek kekeluargaan dan warisan. Bab ini menjelaskan bagaimana keduanya saling memengaruhi dalam praktik hukum di masyarakat.
Seiring perkembangan zaman, hukum Islam terus dikaji dan diintegrasikan dalam pembentukan hukum nasional. Bagian ini membahas upaya kodifikasi hukum Islam serta kontribusinya dalam membangun sistem hukum yang lebih inklusif dan sesuai dengan nilai-nilai keindonesiaan. Sistem peradilan agama di Indonesia memiliki peran penting dalam menangani perkara-perkara yang berkaitan dengan hukum Islam, seperti perkawinan, warisan, wakaf, dan zakat. Bagian ini menguraikan mekanisme serta yurisdiksi peradilan agama di Indonesia.
Sebagai salah satu bentuk kodifikasi hukum Islam di Indonesia, Kompilasi Hukum Islam (KHI) menjadi rujukan utama dalam peradilan agama. Bab ini membahas latar belakang penyusunannya, substansi utama dalam KHI, serta peranannya dalam sistem hukum nasional.
HUBUNGAN ISI MATERI DAUD ALI DENGAN MATERI HUKUM ISLAM YANG SUDAH DI PELAJARI DI KELAS
Berdasarkan isi materi dari buku Hukum Islam karya Prof. H. Mohammad Daud Ali, S.H., terdapat beberapa hubungan yang dapat ditarik dengan materi-materi hukum Islam yang disebutkan:
1. Mazhab dalam Islam
Materi Daud Ali mengenai pertumbuhan dan perkembangan hukum Islam memiliki keterkaitan erat dengan konsep mazhab dalam Islam. Dalam kajiannya, Daud Ali menjelaskan bagaimana hukum Islam berkembang melalui berbagai fase sejarah, termasuk periode pembentukan mazhab fiqh pada masa pembukuan hukum Islam (abad VII-X M). Pada masa ini, muncul empat mazhab utama dalam Islam Sunni, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali. Setiap mazhab memiliki metodologi tersendiri dalam memahami dan menerapkan hukum Islam berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, ijma’, dan qiyas.
Daud Ali menyoroti bahwa perbedaan metodologi dalam masing-masing mazhab tidak menunjukkan perpecahan, melainkan refleksi dari ijtihad yang dilakukan oleh para imam mazhab sesuai dengan konteks sosial dan budaya masyarakat pada masanya. Misalnya, mazhab Hanafi yang berkembang di wilayah Irak lebih banyak menggunakan metode qiyas dan istihsan karena lingkungan Irak saat itu memiliki peradaban yang kompleks. Sementara itu, mazhab Maliki yang berkembang di Madinah lebih banyak mengandalkan amalan penduduk Madinah sebagai dasar hukum karena kota tersebut merupakan pusat kehidupan Nabi Muhammad dan para sahabat. Mazhab Syafi’i, yang banyak diikuti di Indonesia, mencoba menyeimbangkan antara dalil naqli (Al-Qur’an dan Sunnah) dengan rasionalitas hukum melalui qiyas. Adapun mazhab Hanbali dikenal sebagai mazhab yang paling ketat dalam berpegang teguh pada teks Al-Qur’an dan Hadis.
Dalam pembelajaran di kelas, mazhab dipelajari sebagai bagian dari pemikiran fiqh Islam yang membentuk sistem hukum yang fleksibel dan kontekstual. Daud Ali juga menyoroti bagaimana mazhab-mazhab ini mempengaruhi penerapan hukum Islam di berbagai wilayah, termasuk Indonesia, yang mayoritas mengikuti mazhab Syafi'i. Di Indonesia, mazhab Syafi’i memengaruhi berbagai aspek kehidupan keagamaan dan hukum, seperti dalam praktik ibadah, hukum keluarga, dan hukum peradilan agama. Selain itu, pemikiran mazhab juga menjadi landasan dalam penyusunan Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang berlaku di Indonesia.
.
2. Perbandingan Hukum Islam dengan Ilmu Hukum
Materi Daud Ali membahas perbandingan hukum Islam dengan hukum Barat dalam beberapa aspek. Hukum Islam memiliki dimensi teologis yang tidak hanya mengatur hubungan antarmanusia tetapi juga hubungan dengan Tuhan. Konsep ini berbeda dengan hukum Barat yang lebih bersifat sekuler, di mana norma hukum didasarkan pada pemikiran rasional dan pengalaman manusia tanpa keterikatan dengan ajaran agama tertentu. Hukum Islam mengintegrasikan aspek spiritual dengan kehidupan sosial, ekonomi, dan politik, sehingga memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan hukum Barat yang cenderung membatasi dirinya pada hubungan sosial manusia.
Dalam pembelajaran di kelas, perbandingan ini dikaji dengan melihat bagaimana hukum Islam mengatur aspek ibadah dan muamalah, sedangkan hukum Barat cenderung fokus pada aspek perdata dan pidana. Misalnya, dalam hukum Islam, prinsip-prinsip seperti keadilan (‘adl), kemaslahatan (maslahah), dan keseimbangan (mizan) menjadi landasan dalam pengambilan keputusan hukum, sedangkan dalam hukum Barat, legalitas dan prosedur hukum yang ketat lebih diutamakan. Selain itu, dalam hukum perdata Barat, kontrak dianggap sah berdasarkan kesepakatan para pihak, sedangkan dalam hukum Islam, suatu kontrak harus memenuhi prinsip kehalalan, keadilan, dan bebas dari unsur gharar (ketidakpastian) serta riba.
Daud Ali juga mengangkat peran hukum Islam dalam sistem hukum Indonesia yang bersifat pluralistik, menggabungkan unsur hukum adat, hukum Islam, dan hukum Barat.
Hukum Islam berperan dalam regulasi yang mengatur kehidupan umat Muslim, seperti dalam hukum keluarga, perbankan syariah, dan peradilan agama. Sementara itu, hukum adat tetap berlaku dalam beberapa komunitas lokal, dan hukum Barat masih menjadi dasar dari sistem perundang-undangan negara. Pluralisme hukum ini mencerminkan bagaimana hukum Islam tetap eksis dan beradaptasi dengan sistem hukum modern.
3. Fiqh dan Siyasah Syar’iyah
Fiqh dalam perspektif Daud Ali adalah pemahaman terhadap syariat yang kemudian dikodifikasikan dalam bentuk aturan hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia. Dalam fiqh, hukum dibagi menjadi dua bidang utama, yaitu ibadah dan muamalah.
Bidang ibadah mencakup tata cara beribadah kepada Allah, sedangkan bidang muamalah mencakup hubungan sosial seperti ekonomi, pernikahan, dan politik. Fiqh terus berkembang melalui ijtihad para ulama agar tetap relevan dengan dinamika sosial yang terus berubah.
Siyasah syar’iyah, atau hukum ketatanegaraan Islam, juga dikaji dalam bukunya dengan menyoroti peran khalifah dalam sejarah Islam serta penerapan hukum Islam dalam kehidupan sosial-politik. Daud Ali menjelaskan bahwa sistem pemerintahan Islam tidak terbatas pada satu bentuk tertentu, melainkan menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat sepanjang tetap berlandaskan pada prinsip keadilan, musyawarah (syura), dan kemaslahatan umat.
Dalam pembelajaran di kelas, siyasah syar’iyah dikaji dalam konteks bagaimana Islam mengatur sistem pemerintahan dan administrasi negara berdasarkan prinsip keadilan dan kemaslahatan umat. Daud Ali menyoroti relevansi konsep ini dalam sistem pemerintahan Islam klasik dan bagaimana prinsip-prinsip siyasah syar’iyah dapat diterapkan dalam konteks negara modern. Misalnya, prinsip keadilan dalam siyasah syar’iyah diwujudkan dalam sistem hukum Islam yang memberikan hak kepada setiap individu, baik Muslim maupun non- Muslim, tanpa diskriminasi. Selain itu, siyasah syar’iyah juga berperan dalam membentuk sistem ekonomi Islam, seperti pengelolaan zakat dan larangan riba, yang diterapkan dalam sistem keuangan syariah saat ini.
Kajian Daud Ali memperkaya pemahaman mengenai bagaimana hukum Islam tidak hanya mengatur ibadah personal, tetapi juga aspek sosial dan politik dalam suatu negara Islam.
Konsep siyasah syar’iyah yang dibahas oleh Daud Ali memberikan wawasan lebih luas tentang bagaimana hukum Islam dapat diterapkan dalam tatanan kenegaraan yang modern dengan tetap mempertahankan prinsip-prinsip dasar yang telah ada sejak zaman Nabi Muhammad.
4. Ushul Fiqh
Dalam kajian hukum Islam, ushul fiqh berfungsi sebagai metodologi dalam menetapkan hukum Islam dari sumber-sumbernya. Daud Ali membahas sumber hukum Islam, termasuk Al-Qur’an, Hadis, ijma’, dan qiyas, yang menjadi dasar bagi ushul fiqh. Ushul fiqh memberikan kerangka berpikir dalam memahami hukum Islam dengan sistematis sehingga hukum yang ditetapkan memiliki dasar yang kuat dan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.
Dalam pembelajaran di kelas, ushul fiqh dipelajari sebagai ilmu yang mengajarkan bagaimana hukum-hukum Islam ditetapkan berdasarkan dalil-dalil syar’i. Ilmu ini sangat penting karena menjadi pedoman dalam menentukan hukum bagi suatu permasalahan yang belum ada ketentuannya secara eksplisit dalam Al-Qur’an dan Hadis. Oleh karena itu, ushul fiqh juga membahas metode ijtihad, seperti qiyas (analogi), istihsan (preferensi hukum), maslahah mursalah (kemaslahatan umum), serta urf (adat kebiasaan) yang dapat dijadikan dasar hukum selama tidak bertentangan dengan prinsip syariat.
Daud Ali menekankan bahwa hukum Islam bersifat dinamis dan terbuka terhadap perkembangan zaman melalui metode ijtihad. Menurutnya, ijtihad merupakan instrumen utama dalam memastikan hukum Islam tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. Dalam bukunya, ia juga menekankan bahwa pembaruan hukum Islam harus tetap berlandaskan pada prinsip-prinsip syariat dan tidak boleh lepas dari nilai-nilai dasar yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah.
Selain itu, Daud Ali juga menekankan pentingnya metode istinbath hukum yang menjadi dasar dalam pengembangan hukum Islam untuk menghadapi tantangan modern. Istinbath adalah proses menggali hukum dari sumber-sumber utama dengan memperhatikan kaidah- kaidah ushul fiqh. Dengan metode ini, hukum Islam dapat tetap fleksibel dan mampu menjawab berbagai persoalan kontemporer, seperti hukum ekonomi Islam, bioetika, serta regulasi dalam sistem pemerintahan modern.