• Tidak ada hasil yang ditemukan

nilai pendidikan dalam pelaksanaan ritual

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "nilai pendidikan dalam pelaksanaan ritual"

Copied!
81
0
0

Teks penuh

Judul Skripsi: Nilai-Nilai Edukasi yang Terlibat dalam Implementasi Ritual Adat Anggentung pada Masyarakat Makassar di Bantaeng. Nilai edukasi dalam pelaksanaan ritual adat Anggentung pada masyarakat Makassar di Bantaeng. Peneliti mengucapkan puji syukur kehadirat Allah Azza Wa Jalla yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Nilai Pendidikan Dalam Penyelenggaraan Ritual Adat Anggentung Pada Masyarakat Makassar Di Bantaeng” .

Heriyati Yatim, M.Pd sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Negeri Makassar 3. Padalia, M.Pd sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik (Sendratasik) Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Negeri Makassar. Staf dan tenaga administrasi Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Negeri Makassar yang telah memberikan pelayanan administrasi dan kemahasiswaan.

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang
  • Rumusan Masalah
  • Tujuan Penelitian
  • Manfaat Penelitian

Kabupaten Bantaeng merupakan sebuah daerah di Sulawesi Selatan, daerah ini terkenal memiliki beragam budaya, salah satunya adalah ritual adat angentung. Bantaeng, prosesi ritual adat Anggentung merupakan hal yang tidak bisa diabaikan begitu saja di Bantaeng karena sudah menjadi tradisi yang diwariskan secara turun temurun. Ketertarikan penulis mengangkat tema tulisan ini pertama karena ritual adat angentung masih eksis dalam budaya masyarakat Bantaeng.

Kedua, unik, dimana keunikan dari ritual adat ini adalah tidak semua masyarakat Bantaeng bisa melakukan ritual adat Anggentung. Pertunjukan ritual Anggentung dapat dilakukan oleh para bangsawan dan mereka yang masih memiliki garis keturunan bangsawan. Selain itu digunakan untuk mendeskripsikan atau mengungkap cerminan nilai edukasi dalam prosesi ritual adat Anggentung dan nilai-nilai apa saja yang terkandung didalamnya. dalam ritual adat Anggentung. Berdasarkan latar belakang di atas mendorong penulis untuk mendalami, meneliti dan mengkaji ritual adat Anggentung.

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

TINJAUAN PUSTAKA

Disertasi Liswati di Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri yang berjudul Ritual Adat Mappalili di Segeri Kabupaten Pangkep dalam penelitiannya mengkaji ritual adat yang dilakukan masyarakat Segeri secara turun temurun. Ritual adat mappalili merupakan upacara sebagai tanda dimulainya penanaman padi, namun juga sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat Segeri atas limpahan kebahagiaan yang diterima dari Tuhan sepanjang tahun, baik kesehatan maupun hasil panen yang memuaskan. Yang membedakan dalam penelitian ini adalah permasalahan utama dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk ritual adat mapalili di Segeri kabupaten Pangkep.

Dan persamaannya dalam penelitian ini adalah membahas tentang ritual adat yang masih dilakukan hingga saat ini. Adat istiadat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai budaya, norma, adat istiadat, lembaga, dan hukum adat yang umum pada suatu daerah. Prosesi ritual adat Anggentung biasanya dilakukan oleh Anrong Guru dan dilaksanakan 3 hari sebelum acara dimulai.

Kerangka Pikir

Jenis Penelitian

Desain penelitian

Lokasi Penelitian

Penentuan sumber data untuk penelitian didasarkan pada kemampuan dan ketrampilan peneliti dalam mengungkapkan suatu peristiwa seobjektif mungkin dan menentukan informan yang memenuhi syarat agar data yang dibutuhkan peneliti benar-benar sesuai dan wajar terhadap fakta yang konkrit. Penentuan informan sebagai sumber utama penggalian data adalah memiliki pengetahuan yang kompeten dan pemahaman mendalam tentang ritual adat Anggentung. Penelitian yang dilakukan tergolong penelitian deskriptif kualitatif. Oleh karena itu, subjek merupakan kelompok sasaran penelitian atau sumber yang dapat memberikan informasi.

Peneliti akan menjadi informan yang akan memberikan berbagai informasi yang dibutuhkan dalam proses penelitian. Jadi beliau pasti mempunyai banyak pengalaman dengan ritual adat Anggentung, dan yang menjadi informan adalah Hamzah Saleh, S.Pd dan Hj.

Teknik Pengumpulan Data

Observasi merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan cara mengamati secara sistematis fenomena-fenomena yang terjadi pada objek yang diteliti. Observasi awal yang dilakukan peneliti adalah mengamati dan mengamati pelaksanaan Ritual Adat Anggentung di Bantaeng serta mencari informasi mengenai ritual adat tersebut sehingga dapat membantu penelitian. Wawancara adalah proses memperoleh informasi melalui suatu sistem antara penulis yang mengajukan pertanyaan dan sumber yang menjawab secara langsung (tatap muka) atau tidak langsung dan melalui perantara (ponsel) seperti melalui telepon, pesan atau e-post untuk tujuan penelitian. dapat dilakukan. .

Penelitian ini akan menggunakan wawancara terstruktur dan tidak terstruktur, yaitu wawancara terhadap praktisi Ritual Anggentung yang mengetahui bentuk penyajian dan nilai edukasi Ritual Adat Anggentung. Catatan adalah pernyataan yang diberikan kepada seseorang atau organisasi dengan tujuan untuk membuktikan adanya suatu peristiwa. Sedangkan kata dokumen digunakan untuk menyebut suatu tulisan selain suatu catatan, artinya tidak dipersiapkan secara khusus untuk tujuan tertentu.

Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data kualitatif. Data yang disajikan bersifat deskriptif. Analisis data ini dilakukan dengan cara mengklasifikasikan data, baik data yang diperoleh dari wawancara maupun observasi. Kemudian analisisnya berdasarkan data yang diperoleh sejumlah data. diskusi sistematis dibagikan secara deskriptif. Dengan demikian, data yang terkumpul menggambarkan secara rinci keberadaan dan bentuk penyajian nilai-nilai pendidikan dalam Ritual Adat Anggentung Masyarakat Makassar di Bantaeng.

Teknik Analisis Data

  • Gambaran Ritual Adat Anggentung Pada Masyarakat Makassar di Bantaeng
  • Nilai-nilai Pendidikan yang Terkandung Dalam Komponen Ritual Adat Anggentung di Bantaeng
  • Nilai-nilai Pendidikan Yang Terkandung Dalam Prosesi Ritual Adat Anggentung di Bantaeng

Peneliti menyajikan data yang diperoleh dari penelitian situs serta gambaran nilai-nilai pendidikan dalam ritual adat Anggentung pada masyarakat Makassar di Bantaeng. Nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam komponen ritual adat Anggentung di Bantaeng Anggentung di Bantaeng. Campaniga merupakan salah satu komponen utama dalam ritual adat Anggentung yang mempunyai makna tertentu yang mengandung doa dan harapan bagi kedua mempelai dan keluarganya.

Pa’rinring Campaniga mempunyai nilai pendidikan keagamaan yang terkandung dalam komponen ritual adat Anggentung sebagai pengusir kejahatan. Simpa' dalam melaksanakan ritual adat Anggentung mempunyai nilai pendidikan sosial. Dalam pelaksanaannya berarti mengarahkan kehidupan calon pengantin agar tetap rukun, damai dan harmonis. Bakukaraeng pada upacara adat Anggentung merupakan persembahan yang berisi nasi, lilin, kelapa, dan gula merah yang diyakini sebagai simbol kemakmuran.

Daun sirih dalam pelaksanaan ritual adat ini mempunyai nilai pendidikan sosial, dimaknai sebagai simbol penghormatan terhadap leluhur dan simbol harapan untuk menjadi pribadi yang rendah hati dan tenang. Daun katangka dalam pelaksanaan ritual adat mempunyai nilai pendidikan keagamaan yang terkandung pada komponen diatas dalam menjalani hidup baru, kedua mempelai mendapat gizi ganda. Daun Ka’dorobuku dalam pelaksanaan ritual adat mempunyai nilai pendidikan sosial yang terkandung di dalamnya, agar kedua mempelai mempunyai kesehatan dan melahirkan keturunan yang sehat.

Daun Diri’ dalam penyelenggaraan upacara adat mempunyai nilai pendidikan sosial yang terkandung dalam komponennya agar kedua mempelai saling menjaga nama baik keluarga dan saling menghormati baik dalam rumah tangga maupun dalam keluarga kedua mempelai. Sarung benang dalam penyelenggaraan upacara adat mempunyai nilai edukasi sosial yang terkandung dalam komponen sebagai penyatuan dua keluarga besar calon pengantin. Ritual adat angentung gelang kuningan mempunyai nilai budaya dan pendidikan yang terkandung dalam komponen keberhasilan dan sebagai simbol rasa syukur kepada leluhur.

Walasuji dalam pelaksanaan ritual adat ini mempunyai nilai pendidikan sosial yang terkandung pada komponen calon pengantin dalam menjalani kehidupan yang penuh keberanian dan rezeki yang berlimpah. Penunjang pelaksanaan ritual adat ini mempunyai nilai edukasi budaya dan digunakan untuk mengiringi ritual adat Anggentung. Sebelum melaksanakan tradisi ini perlu dipersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam ritual adat Anggentung.

Gambar 4.2. Pa’rinring campaniga   (Dok. Qonita, 2022)
Gambar 4.2. Pa’rinring campaniga (Dok. Qonita, 2022)

Pembahasan

Namun disini penulis hanya memfokuskan penelitiannya pada ritual adat Anggentung pada prosesi pernikahan di Bantaeng. Prosesi ritual Anggentung biasanya dilakukan oleh sesepuh yang dianggap memahami adat istiadat dan proses pelaksanaan ritual tersebut atau biasa disebut Tau pangadakkang. Pelaksanaan ritual Anggentung dapat dilakukan oleh seluruh kelompok yang melakukan perayaan, komponen-komponennya seperti bakukaraeng yang digunakan sebanyak 24 buah (22 buah kecil dan 2 buah besar), 5 buah simpa', 16 buah sarung dan 1 buah kaci serta jumlah bakukaraeng yang digunakan sebanyak 12 buah (10 buah). kecil dan 2 besar) 5 simpa', 5 sarung dan 2 kaci.

Setiap tahapan upacara adat ini penting untuk dilakukan karena setiap tahapan mempunyai maksud dan tujuan atau nilai-nilai yang dianggap baik, dan ada pula tujuan mendoakan melalui tahapan tersebut bagi kedua mempelai dan keluarganya. Bantaeng, ritual ini tidak hanya mengandung nilai-nilai luhur yang mencerminkan keluhuran masyarakat Bantaeng, namun ritual Anggentung juga mengandung nilai-nilai pendidikan dalam kehidupan. Nilai-nilai yang dianutnya sangat beragam sesuai kesepakatan masyarakat, seperti nilai agama, nilai sosial, dan nilai budaya.

Ritual adat Anggentung ini dipercaya oleh masyarakat Bantaeng, selain sebagai upacara untuk mengusir kejahatan atau sama saja dengan menghindari mara bahaya juga dilakukan sebagai ucapan syukur kepada wujud tertinggi dan roh nenek moyang masa lampau, atau dengan kata lain jika kami melakukan ritual adat Anggentung yang sama. Hal tersebut dengan menghindari kejadian buruk yang akan terjadi pada saat suatu kejadian. Nilai pendidikan sosial yang tertanam dalam ritual angentung adalah agar hubungan dalam kehidupan bermasyarakat tetap baik dan harmonis. Upaya untuk menggambarkan suatu aktivitas masyarakat yang tetap melakukan berbagai jenis ritual dan budaya, yaitu tradisi yang diturunkan secara turun temurun (dari nenek moyang) yang masih dilakukan oleh masyarakat Bantaeng, yaitu ritual adat Anggentung pada prosesi pernikahan. bertujuan untuk memastikan bahwa generasi mereka akan memiliki kebahagiaan dan kesejahteraan abadi dan pikiran berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Nilai pendidikan budaya yang terkandung dalam ritual adat Anggentung ini sebagai sumber informasi yang diwariskan secara turun temurun baik tertulis maupun tidak tertulis, dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ritual adat Anggentung masih tetap terjaga tinggi oleh masyarakat pendukungnya. Anggentung merupakan adat istiadat masyarakat Bantaeng ketika melangsungkan perkawinan. Adat ini telah lama dilakukan oleh masyarakat setempat sebagai wujud kebudayaan, yang diwariskan dengan tips-tips yang diingat secara turun-temurun. Proses ini menyebabkan nilai-nilai budaya tertentu menjadi tradisi yang biasanya terus dipertahankan oleh masyarakat tersebut.

Dengan demikian, konsep tradisi yang dimaksud dalam pembahasan penulis adalah tradisi lokal yaitu ritual adat Anggentung yang khusus berlaku pada masyarakat Bantaeng dan membedakannya dengan masyarakat daerah lain, termasuk ritual adat Anggentung dalam perkawinan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Saran

DAFTAR PUSTAKA

Pengumpulan data dilakukan melalui salah satu teknik data yaitu wawancara dengan berbagai narasumber yang tinggal di Bantaeng. Hal ini didasarkan pada temuan bahwa beliau mengetahui budaya lokal, melestarikan dan berpartisipasi dalam berbagai kesenian yang ada di Bantaeng, khususnya nilai-nilai edukasi yang terkandung dalam pertunjukan ritual adat Anggentung di kalangan masyarakat Makassar di Bantaeng.

Gambar

Gambar 2.1 : Kerangka Pikir 1. Nilai Religius
Gambar 3.1 : Desain Penelitian
Gambar 4.2. Pa’rinring campaniga   (Dok. Qonita, 2022)
Gambar 4.1. Campaniga   (Dok. Qonita, 2022)
+7

Referensi

Dokumen terkait

The results showed that: 1 the implementation of the two stay two stray learning model with the aid of mind mapping got an average result of 97.15% with very good criteria, 2 there