• Tidak ada hasil yang ditemukan

nilai sosial pesta adat wotu dalam interaksi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "nilai sosial pesta adat wotu dalam interaksi"

Copied!
93
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Apa nilai sosial pesta adat wotu pada masyarakat bahari di Kecamatan Wotu Kabupaten Luwu Timur.

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Bagi peneliti sendiri dapat mengembangkan ilmu pengetahuan tentang sosiologi khususnya tentang nilai-nilai sosial budaya pesta adat Wotu dalam gambaran masyarakat bahari di Kecamatan Wotu Kabupaten Luwu Timur. Nilai-nilai sosial adalah nilai-nilai yang dianut oleh suatu masyarakat yang dianggap berharga, berkaitan dengan apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk oleh masyarakat.

KAJIAN PUSTAKA

  • Masyarakat maritim
  • Nilai Soial
  • Pasta Adat
  • Kajian Teori
  • Penelitian yang Relevan
  • Kerangka Pikir

Kedua, tindakan sosial tradisional, yaitu suatu jenis tindakan sosial yang diarahkan atau dipengaruhi oleh adanya ikatan-ikatan tradisional yang ada pada masyarakat yang bersangkutan. Masyarakat pesisir adalah kelompok masyarakat yang hidup bersama di wilayah pesisir, membentuk dan mempunyai budaya khas terkait ketergantungannya terhadap pemanfaatan sumber daya pesisir. Masyarakat Maritina secara umum sudah menjadi bagian dari masyarakat majemuk, namun tetap dalam semangat persatuan.

Kedudukan nilai dalam suatu kebudayaan sangatlah penting, sehingga pemahaman terhadap sistem nilai budaya dan orientasi nilai budaya menjadi sangat penting dalam rangka memahami perilaku suatu masyarakat dan sistem pendidikan yang digunakan untuk menyampaikan sistem tersebut. produk. yang sarat dengan sistem nilai masyarakat yang bersangkutan. Sistem nilai sosial mempunyai bentuk yang berbeda-beda dan bervariasi dari satu budaya ke budaya lainnya. Sebagai salah satu warisan budaya nenek moyang, masyarakat pesisir pada umumnya telah menjadi bagian dari masyarakat yang majemuk, namun tetap mempunyai semangat kebersamaan, artinya struktur masyarakat pesisir rata-rata merupakan gabungan antara karakteristik masyarakat perkotaan dan pedesaan. .

Merupakan salah satu khazanah simbolik budaya dan estetika masyarakat yang berakar pada nilai dan norma sosial budaya antara manusia dengan Sang Pencipta yang memegang nilai-nilai luhur. Pembahasan teori ini bersifat tradisional yaitu perbuatan yang ditentukan oleh adat istiadat yang sudah mendarah daging, perbuatan tersebut pada umumnya dilakukan karena adat istiadat atau tradisi yang diwariskan secara turun temurun, yang pada umumnya dilakukan oleh masyarakat yang masih mempunyai kebudayaan yang kuat sehingga membawa mereka keluar. tindakan ini tanpa mengkritik keberanian mereka. Budaya a'dengka tetap bertahan karena (1) generasi muda ingin melestarikan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam budaya tersebut, (2) masyarakat Kelara masih mengamalkan dan melestarikan keberadaan budaya a'dengka hingga saat ini, agar kebudayaan ini tetap lestari dan mampu dinikmati oleh generasi muda, padahal banyak perubahan yang terjadi di masyarakat yang mengakibatkan memudarnya bahkan hilang dari suatu kebudayaan.

Faktanya, gaya hidup masyarakat mana pun, baik seluruhnya maupun sebagian, tidak ada dan bahkan tidak bisa dianggap lebih baik dibandingkan gaya hidup masyarakat lain. Yang dimaksud dengan tindakan sosial dalam tindakan adat adalah tindakan yang ditentukan oleh kebiasaan-kebiasaan yang mendarah daging, tindakan ini pada umumnya dilakukan karena adat istiadat atau tradisi yang turun temurun, umumnya dilakukan oleh masyarakat yang masih mempunyai budaya yang kuat sehingga melakukan tindakan tersebut tanpa ada keberaniannya untuk mengkritik. mereka.

Gambar 2.1 Karangka KonsepMasyarakat Wotu
Gambar 2.1 Karangka KonsepMasyarakat Wotu

METODE PENELITIAN

  • Tempat dan Waktu Penelitian
  • Informan Penelitian
  • Teknik Analisis Data
    • Teknik Keabsahan Data
  • Etika Penelitian

Data penelitian sekunder ini berupa dokumen-dokumen yang berkaitan dengan hiburan tradisional Wotu di Kecamatan Wotu Kabupaten Luwu Timur. Bagi masyarakat Wotu Kabupaten Luwu Timur, hiburan tradisional yaitu maccera tasi tidak lepas dari norma dan nilai sosial yang terkandung di dalamnya. Selain itu, nilai-nilai sosial yang terkandung dalam hiburan tradisional maccera tasi adalah nilai gotong royong.

Namun hal tersebut tidak menjadi alasan bagi masyarakat Wotu untuk tidak melaksanakan pesta adat maccera tasi dan saling tolong menolong. Dari pernyataan di atas terlihat bahwa masyarakat di daratan juga ikut serta dalam pelaksanaan pesta adat maccera tasi. Selain faktor kepercayaan masyarakat, peran pemerintah juga menjadi faktor pendukung terselenggaranya pesta adat maccera tasi.

Setiap kali diadakan festival adat maccera tasi, selalu ada bantuan dari pemerintah, baik langsung maupun tidak langsung. Festival tradisional maccera tasi ini biasanya diadakan setahun sekali oleh masyarakat yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Festival adat maccera tasi merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh komunitas dan masyarakat sebagai pelaku menerima segala nilai-nilai sosial yang terkandung dalam budaya tersebut.

Gambar 3.2 Modal Analisis Data
Gambar 3.2 Modal Analisis Data

GAMBAR UMUM LOKASI PENELITIAN

Letak Geografis

Desa Lampenai merupakan desa dengan wilayah terluas yaitu 22,31 km2 atau mencakup 17 persen luas wilayah kecamatan. Secara administratif Wotu terbagi menjadi 16 desa yaitu Lera, Bawalipu, Lampenai, Bahari, Kalaena, Karambua, Kanawatu, Maramba, Tarengge, Cendana Hijau, Balo-Balo, Pepuro Barat, Rinjani, Madani, Tarengge Timur dan Tabaroge. Tomoni di utara, Kabupaten Angkona di timur, berbatasan dengan Teluk Bone di selatan, dan Kabupaten Burau di barat.

Secara topografis wilayah Kecamatan Wotu merupakan wilayah datar karena keenam belas desa tersebut merupakan wilayah dataran dan tidak ada satupun wilayah yang tergolong wilayah perbukitan.

Tabel 4.1 Peta  Kacamatan Wotu Kabupaten Luwu Timur
Tabel 4.1 Peta Kacamatan Wotu Kabupaten Luwu Timur

Keadaan Penduduk

Keadaan ini tercermin dari jumlah tempat ibadah umat Islam seperti 46 masjid dan 20 unit mushallah/langgar. Selain itu, warga Kecamatan Wotu juga memiliki komunitas masyarakat yang menganut agama Kristen dan Hindu dengan 20 tempat ibadah berupa gereja dan 15 pura. Terjadinya perubahan budaya dan sosial budaya dalam masyarakat merupakan suatu proses transformasi global akibat tidak homogennya budaya suatu wilayah.

Dinamika pembangunan perkotaan tidak lagi mempertimbangkan budaya dan adat istiadat sebagai hukum (norma etika) masyarakat yang berlaku, namun digantikan oleh karakter individualistis, dan kepentingan sosial ekonomi akan menjadi dominan. Perubahan watak dan kebudayaan sebagai ciri khas suatu masyarakat tidak perlu terjadi apabila masyarakat tersebut menjunjung tinggi dan menjunjung nilai-nilai budaya yang telah dipegang teguh secara turun temurun. Salah satu yang menjadi kekuatan masyarakat di Distrik Wotu adalah perpaduan nilai-nilai agama dalam budaya yang masih melekat hingga saat ini.

Faktor lain yang mempengaruhi adalah masyarakat di Kecamatan Wotu sebagian besar merupakan masyarakat adat masih dalam satu ikatan kekerabatan, sehingga konflik sosial tidak memecah belah, namun diselesaikan bersama. Berdasarkan hasil observasi diperoleh gambaran percampuran suku dan budaya di kabupaten Wotu yang umumnya dipengaruhi oleh suku Luwu dengan bahasa sehari-hari yang digunakan adalah Luwu, namun di sisi lain terdapat beberapa desa. yang menggunakan bahasa sehari-hari yaitu Bugis. Mata pencaharian penduduk di Kecamatan Wotu sebagian besar bekerja pada sektor pertanian dalam arti luas, hal ini didukung dengan kondisi wilayah yang merupakan wilayah tiga dimensi yaitu laut/pantai, dataran rendah dan pegunungan yang secara umum mempunyai potensi sumber daya alam. pengembangan sektor pertanian.

Keadaan Pendidikan

Dalam mengimplementasikan nilai-nilai sosial yang ada pada budaya tersebut, masyarakat menyalurkannya dalam bentuk kegiatan seperti Maccera Tasi yang diselenggarakan oleh masyarakat Wotu desa Lampenai. Kendala yang dilalui masyarakat Wotu sebelum melaksanakan tradisi maccera tasi hanya bergantung pada masyarakat yang ingin merayakan hari raya adat tersebut atau bergantung pada hasil panen yang diperoleh masyarakat. Festival adat maccera tasi mengandung nilai-nilai sosial antara lain nilai-nilai musyawarah, persatuan dan kesatuan serta solidaritas yang mendorong integrasi antar beberapa lapisan masyarakat.

Artinya pemahaman nilai sosial maccera tasi kemudian diterapkan pada interaksi sosial masyarakat maritim Wotu. Artinya pengertian interaksi sosial maccera tasi kemudian diterapkan pada interaksi sosial masyarakat maritim Wotu. Penyelenggaraan festival adat maccera tasi oleh masyarakat Wotu dianggap sebagai persoalan keimanan dan keyakinan, hal ini terlihat setiap kali pendapatan dari hasil laut meningkat maka masyarakat Wotu mengadakan pelaksanaan maccera tasi sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan. . Sangat kuat.

Tradisi perayaan adat maccera tasi yang sering dilakukan oleh masyarakat Wotu ini mengalami beberapa kendala karena kurangnya minat generasi muda untuk mempelajari tradisi ini karena rasa gengsi yang tinggi. Nilai-nilai sosial yang terkandung dalam pesta adat Wotu merupakan tradisi maccera tasi masyarakat Wotu khususnya Desa Lampenai. Ada nilai-nilai sosial yang masih dijaga dengan baik oleh masyarakat Wotu seperti musyawarah, gotong royong, dan gotong royong. Faktor pendukung diadakannya pesta adat ini adalah faktor kepercayaan masyarakat, serta peran pemerintah dalam penyelenggaraan pesta adat maccera tasi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pembahasan

Tradisi pesta adat masyarakat Wotu merupakan salah satu bentuk ungkapan dan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Diperlukan perhatian dari berbagai pihak khususnya lembaga adat Desa Lampenai untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar tradisi maccera tasi yang menjadi identitas Desa Lampenai tetap terjaga dengan baik dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Berdasarkan hasil observasi, wawancara dan dokumentasi yang peneliti peroleh dilapangan pada saat melakukan penelitian di kecamatan Wotu, masyarakat Wotu masih melaksanakan dan memelihara hari raya adat tersebut hingga saat ini, kebudayaan tersebut masih tetap bertahan selalu dan dapat dinikmati oleh masyarakat. orang orang.

Kegiatan ini terlihat pada pelaksanaan pesta adat maccera tasi antar tetangga, antar kerabat dan terjadi secara spontan tanpa adanya permintaan atau ikatan ketika ada yang dalam kesulitan. Kaitan rumusan masalah dengan teori yang digunakan peneliti adalah terdapat beberapa nilai yang terkandung dalam tradisi maccera tasi, antara lain (1) nilai musyawarah (2) nilai gotong royong (3) nilai persatuan dan kesatuan. dan kesatuan). Misalnya saja masyarakat maritim di Wotu bertindak berdasarkan makna yang terkandung dalam pesta adat maccera tasi, (2) makna yang diperoleh berdasarkan hasil nilai dengan orang lain, sedangkan makna yang terkandung dalam nilai sosial dari maccera tasi seperti gotong royong, toleransi dan musyawarah, (3) makna-makna tersebut kemudian direvisi, dimodifikasi atau disempurnakan melalui proses interaksi sosial.

Interaksi sosial adalah hubungan sosial yang dinamis yang melibatkan hubungan antar individu, antar kelompok manusia, dan antara individu dengan kelompok manusia (Soekanto, 2010: 55). Interaksi sosial yang terjadi pada masyarakat bahari di Kecamatan Wotu dapat diartikan sebagai interaksi simbolik yaitu tindakan manusia yang menggunakan simbol-simbol sebagai jembatan interaksinya. Misalnya saja masyarakat maritim di Wotu bertindak berdasarkan makna yang terkandung dalam pesta adat maccera tasi, (2) makna yang diperoleh berdasarkan hasil interaksi dengan masyarakat.

Kerja sama masyarakat terlihat dari sebelum perayaan adat dimulai, masyarakat bergotong royong mempersiapkan segala persiapannya. Bagaimana tata cara pelaksanaan pesta adat Wotu, apakah ada perubahan tata cara pelaksanaannya pada setiap angkatan? Bagaimana cara mempertahankan sistem hukum adat yang diterapkan masyarakat adat di era hukum positif?

Gambar 4. Wawancara dengan Masyarakat
Gambar 4. Wawancara dengan Masyarakat

KESIMPULAN DAN SARAN

Saran Penelitian

Gambar

Tabel 3.2 Instrument Observasi guru ........................................................................
Gambar 2.1 Karangka KonsepMasyarakat Wotu
Gambar 3.2 Modal Analisis Data
Tabel 4.1 Peta  Kacamatan Wotu Kabupaten Luwu Timur
+3

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa stratifikasi sosial dalam upacara rambu solo’ di kecamatan Tallunglipu dapat dilihat dari jenis pesta kematian, berapa lama pelaksanaan