PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
Landasan Teori
- Pengertian Bank
- Asas,Tujuan dan Fungsi Bank
- Jenis Bank
- Kegiatan Bank Pemerintah dan Bank Swasta
- Kinerja Keuangan
- Analisis Rasio Keuangan
- Pengukuran Kinerja Perusahaan Perbankan
- Rasio Yang digunakan Dalam Penelitian
Ada beberapa cara untuk menilai kinerja keuangan, salah satunya dengan analisis rasio terhadap laporan keuangan yang disajikan. Analisis perhitungan tahunan sangat bermanfaat bagi berbagai pihak untuk lebih mudah memahami laporan keuangan sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan. Dalam menilai posisi dan kondisi keuangan suatu perusahaan, analisis laporan keuangan memerlukan metode dan teknik dalam menganalisis laporan keuangan.
Perbedaan jenis perusahaan dapat menyebabkan perbedaan jenis rasio yang akan digunakan dalam analisis laporan keuangan. Ini adalah pengganti yang lebih sederhana untuk informasi yang disajikan dalam laporan keuangan yang sangat rinci dan kompleks.
Penelitian Terdahulu
ROA, ROE dan LDR Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kinerja keuangan bank BUMN dan swasta ditinjau dari ROA, ROE dan LDR. ROA dan BOPO Untuk setiap rasio keuangan, terdapat perbedaan yang signifikan antara kinerja bank BUMN dan swasta.
Kerangka Pikir
Hipotesis
METODE PENELITIAN
- Tempat dan Waktu Penelitian
- Jenis Penelitian
- Populasi dan Sampel
- Metode Analisis Data
- Definisi Operasional
Populasi dalam penelitian ini adalah bank milik negara (BUMN) dan bank swasta nasional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perkembangan dan tren rasio keuangan CAR bank umum milik negara (BUMN) dan bank swasta nasional secara berkala. Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa bank swasta memiliki rata-rata (average) rasio CAR sebesar 7,49%, lebih kecil dari rata-rata (average) rasio CAR bank milik negara (BUMN) sebesar 17,01%.
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa bank swasta memiliki rata-rata (average) rasio NPL sebesar 4,8%, lebih kecil dari rata-rata (average) rasio bank milik negara (BUMN) sebesar 1,97%. Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa bank swasta memiliki rata-rata (average) rasio ROA sebesar 5,2%, lebih kecil dari rasio rata-rata (average) bank milik negara (BUMN) sebesar 2,11%. Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa bank swasta memiliki rata-rata (average) rasio LDR sebesar 43,73%, lebih kecil dari rasio rata-rata (average) bank milik negara (BUMN) sebesar 51,82%.
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa bank swasta memiliki rasio BOPO rata-rata (average) sebesar 40,28%, lebih kecil dari rasio BOPO rata-rata (average) bank milik negara (BUMN) sebesar 58,29%. Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa bank swasta memiliki rata-rata (average) rasio LDR sebesar 43,73%, lebih kecil dari rata-rata (average) rasio LDR bank milik negara (BUMN) sebesar 51,82%. Terdapat perbedaan yang signifikan untuk masing-masing rasio keuangan antara kinerja keuangan bank milik negara (BUMN) dan bank swasta nasional.
Antara bank milik negara (BUMN) dan bank swasta nasional terdapat perbedaan yang signifikan dari beberapa laporan keuangan yang diteliti.
HASIL DAN PEMBAHSAN
Gambaran Umum Objek Penelitian
Pasar modal atau bursa saham sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda tepatnya tahun 1912 di Batavia. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor seperti Perang Dunia I dan II, peralihan kekuasaan dari pemerintah kolonial kepada pemerintah Republik Indonesia, dan berbagai kondisi yang membuat operasi bursa tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. 16 Juni 1989 Bursa Efek Surabaya (BES) mulai beroperasi dan dikelola oleh sebuah Perseroan Terbatas milik swasta yaitu Bursa Efek Surabaya.
2007 Penggabungan Bursa Efek Surabaya (BES) menjadi Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan berubah nama menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI). Bursa Efek Indonesia: JATS-NextG. 2011 Dari sisi kapitalisasi pasar, kapitalisasi pasar BEI mencapai Rp 3.537 triliun per 30 Desember 2011. Menyediakan infrastruktur untuk mendukung terselenggaranya perdagangan efek yang tertib, adil dan efisien serta mudah diakses oleh seluruh pemangku kepentingan. 2) Struktur Organisasi Bursa Efek Indonesia.
Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk (selanjutnya disebut "BNI" atau "Bank") pada awalnya didirikan di Indonesia sebagai bank sentral dengan nama "Bank Negara Indonesia" berdasarkan Peraturan Pemerintah pengganti Undang-Undang No. BNI merupakan bank milik negara (BUMN) pertama yang menjadi perusahaan publik setelah mencatatkan sahamnya di bursa efek Jakarta dan Surabaya pada tahun 1996. Bank Danamon menjadi bank devisa swasta pertama di Indonesia pada tahun 1976 dan perusahaan go public pada tahun 1989.
Bank Niaga menjadi perusahaan publik di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya (sekarang Bursa Efek Indonesia/BEI) pada tahun 1989.
Kinerja Keuangan Bank Umum Pemerintah (BUMN) dan
Perkembangan dan trend rasio keuangan NPL Bank Umum Pemerintah (BUMN) dan Bank Swasta Nasional periode 2015 – 2017. Dari tabel di atas terlihat bahwa rasio keuangan NPL Bank BUMN tahun 2015 ke tahun 2016 mengalami peningkatan sebesar 2,95%. Untuk Bank Swasta Nasional, tabel di atas menunjukkan bahwa rasio NPL meningkat sebesar 1,65% secara tahunan dari tahun 2015 ke tahun 2016.
Perkembangan dan tren rasio keuangan ROA Bank Umum Pemerintah (BUMN) dan Bank Swasta Nasional periode 2015–2017. Tabel di atas menunjukkan bahwa rasio keuangan ROA Bank BUMN untuk tahun 2015 mengalami peningkatan. Untuk Bank Swasta Nasional, tabel di atas menunjukkan bahwa rasio keuangan ROA pada tahun 2015 mengalami peningkatan.
Perkembangan dan Tren Indikator Keuangan LDR Bank Umum Milik Negara (BUMN) dan Bank Swasta Nasional Periode 2015-2017 Perkembangan dan Tren Indikator Keuangan BOPO Bank Umum Milik Negara (BUMN) dan Bank Swasta Nasional Periode 2015 -2017. Tabel di atas menunjukkan bahwa indikator keuangan BOPO pada bank-bank BUMN untuk tahun 2015 mengalami penurunan sebesar 74,49%.
Tabel di atas menunjukkan bahwa rasio keuangan BOPO bank swasta nasional tahun 2015 mengalami peningkatan sebesar 82,66%.
Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan
Standar deviasi Bank Negara (BUMN) sebesar 74,2% juga menunjukkan deviasi data relatif dari nilai rata-rata 17,01% dengan deviasi data yang kecil menunjukkan variabel tersebut cukup baik. Bank BUMN memiliki NPL yang lebih baik dibandingkan bank swasta karena semakin tinggi nilai NPL maka semakin baik kualitas modal bank tersebut. Standar deviasi Bank Negara (BUMN) sebesar 1,39% juga menunjukkan penyimpangan data relatif dari nilai rata-rata.
Bank BUMN memiliki ROA yang lebih baik dibandingkan bank swasta karena semakin tinggi nilai ROA maka semakin baik kualitas modal bank tersebut. Standar deviasi Bank Negara (BUMN) sebesar 1,41% juga menunjukkan deviasi data relatif dari nilai rata-rata 2,11% dengan deviasi data yang kecil menunjukkan variabel tersebut cukup baik. Bank BUMN memiliki LDR yang lebih baik dibandingkan bank swasta karena semakin tinggi nilai LDR maka kualitas modal bank tersebut akan semakin baik.
Standar deviasi bank swasta sebesar 47,82% menunjukkan deviasi data yang relatif besar karena nilainya lebih besar dari nilai rata-rata 43,73%. Standar deviasi Bank Negara (BUMN) sebesar 46,89% juga menunjukkan deviasi data relatif dari nilai rata-rata 51,82% dengan deviasi data yang kecil menunjukkan variabel tersebut cukup baik. Standar deviasi bank swasta sebesar 42,40% menunjukkan deviasi data yang relatif besar karena nilainya lebih besar dari nilai rata-rata 40,28%.
Standar deviasi Bank Negara (BUMN) sebesar 31,31% juga menunjukkan deviasi relatif data dari nilai rata-rata 58,29% dengan deviasi data yang kecil menunjukkan bahwa variabel tersebut cukup baik.
Pengujian Hipotesis
Karena signifikansi data di atas lebih besar dari 0,05, maka dapat dikatakan tidak terdapat variansi data perbandingan kinerja bank swasta dan bank BUMN untuk rasio CAR. Dari hasil uji normalitas pada rasio NPL terdapat perbedaan yang signifikan berdasarkan nilai rata-rata satu sampel. Karena signifikansi data di atas lebih besar dari 0,05, maka dapat dikatakan tidak terdapat variansi data perbandingan kinerja bank swasta dan bank BUMN untuk rasio NPL.
Dari hasil uji normalitas pada rasio ROA terdapat perbedaan yang signifikan berdasarkan rata-rata nilai One-Sample Kolmogorov-Smirnov Bank Pemerintah yaitu 211,8333 lebih baik dari Bank Swasta Nasional yaitu 52,0833 . . Karena signifikansi data di atas lebih besar dari 0,05, maka dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan data perbandingan kinerja bank swasta dan bank BUMN untuk rasio ROA. Hal ini menunjukkan bahwa bank swasta lebih mampu mengatasi persaingan antar bank dan untuk memperoleh keuntungan.
Dari hasil uji Normalitas pada rasio LDR terdapat perbedaan yang signifikan berdasarkan nilai mean Uji Kolmogorov-Smirnov dengan sampel bank pemerintah yaitu 5182.0000 lebih baik dari bank swasta nasional yaitu 4373.0000 . Karena signifikansi data di atas lebih besar dari 0,05, maka dapat dikatakan tidak terdapat variansi data perbandingan kinerja bank swasta dan bank BUMN untuk rasio LDR. Dari hasil uji Normalitas pada laporan BOPO terdapat perbedaan yang signifikan berdasarkan nilai rata-rata Uji Kolmogorov-Smirnov dengan sampel Bank Pemerintah yaitu 5829.6667 lebih baik dari Bank Swasta Nasional yaitu 4028.6667 .
Karena signifikansi data di atas lebih besar dari 0,05, maka dapat dikatakan tidak terdapat variansi data pembanding kinerja bank swasta dan bank BUMN untuk rasio BOPO.
Pembahasan
Berdasarkan pembahasan di atas, terlihat bahwa bank swasta memiliki rata-rata (average) rasio NPL sebesar 4,8%, lebih kecil dari rata-rata (mean) rasio bank milik negara (BUMN) sebesar 1,97%. Berdasarkan pembahasan di atas, terlihat bahwa bank swasta memiliki rasio rata-rata (average) ROA sebesar 5,2%, lebih kecil dari rasio rata-rata (average) bank milik negara (BUMN) sebesar 2,11%. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Ferary Mamahit (2016) yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kinerja bank umum dan bank swasta berdasarkan rasio keuangan.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Y. Irwan Hermawan (2007) yang analisisnya menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kinerja keuangan bank pemerintah dan bank swasta ditinjau dari ROA, ROE dan LDR. Berdasarkan pembahasan di atas terlihat bahwa bank swasta memiliki rata-rata (mean) rasio BOPO sebesar 40,28%, lebih kecil dari rata-rata (mean) rasio BOPO bank milik negara (BUMN) sebesar 58,29%. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nur Anita (2016) yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan untuk setiap rasio keuangan antara kinerja bank pemerintah dan bank swasta.
Berdasarkan hasil uji normalitas, analisis rasio bank milik negara (BUMN) lebih baik dibandingkan dengan bank swasta nasional. Berdasarkan kinerja keuangan bank milik negara (BUMN) dan bank swasta nasional, masing-masing memiliki kemampuan untuk berkembang dan memenuhi kemungkinan risiko kerugian yang ditimbulkan oleh operasional perbankan. Nur anita (2016), Membandingkan Kinerja Keuangan Bank BUMN dan Bank Swasta Nasional, Skripsi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
Richard (2016), Membandingkan Kinerja Keuangan Bank Umum dan Bank Swasta Nasional, Skripsi, Fakultas Ekonomi Sam Ratulangi, Manado.
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan uji statistik sampel independen, uji CAR T menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan, dengan sig. Kemudian untuk rasio NPL berdasarkan independent sample T-test secara statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan, dengan nilai sig.
Saran
Rollando marvil ferary mamahit (2016), Membandingkan kinerja keuangan bank BUMN dan bank swasta nasional di Indonesia, Skripsi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Sam Ratulangi Manado. 2013) Manajemen Bank versus Profesional Bankir Konvensional Jakarta: Kencana. Irwan Hermawan (2007) Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Bank Pemerintah dan Bank Swasta, Skripsi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.