Berbagai perilaku, mekanisme, dan norma yang dilakukan masyarakat dalam membangun dan menciptakan kesejahteraan ekonominya membentuk suatu kecenderungan tertentu yang disebut dengan sistem perekonomian. Untuk itu sangat dinantikan lahirnya suatu sistem ekonomi yang mampu menjawab permasalahan perekonomian tersebut, yaitu sistem ekonomi yang bersifat ketuhanan yang konsepnya berdasarkan wahyu dari surga. Dua negara terakhir telah serius menerapkan sistem ekonomi alternatif yang bersumber dari pajak Islam.
Dan dari latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka penulis memilih judul “ANALISIS EKONOMI ISLAM TERHADAP PEMIKIRAN EKONOMI MUBYART”. Penulis berharap penelitian ini dapat menjadi bagian dari transformasi sistem perekonomian yang sedang dikembangkan dalam upaya menciptakan kehidupan ekonomi yang adil dan sejahtera bagi masyarakat.
KAJIAN PUSTAKA
Tesis Ahmad Charis yang berjudul “Pemikiran Ekonomi Populis Mubyarto dalam Perspektif Ekonomi Islam”, mahasiswa UIN SUKA Yogyakarta angkatan 2010. Walaupun hampir sedikit kaitannya dengan judul penelitian yang diuraikan oleh Ahmad Charis seperti di atas, namun penelitian yang saya lakukan. berbeda dengan apa yang peneliti lakukan. Walaupun sama-sama menggunakan analisa dari sudut pandang Islam, namun fokus analisa yang saya lakukan berbeda dan hasil yang saya simpulkan juga berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh saudara Ahmad Charis.
METODE PENELITIAN 1. Jenis Penelitian
Metode dokumentasi merupakan suatu cara pengumpulan data yang memberikan data-data penting yang berkaitan dengan masalah yang diteliti, sehingga diperoleh data yang lengkap, valid, dan non-data. Reduksi data diartikan sebagai proses seleksi, dengan fokus pada penyederhanaan, abstraksi, dan transformasi data yang dikumpulkan. Langkah reduksi lebih lanjut terjadi pada saat pengumpulan data (meringkas, mengkode, menelusuri tema, membuat cluster, membuat partisi dan menulis memo jika diperlukan).
Penyajian data yang baik dan mudah dipahami, baik dalam bentuk teks, narasi atau matriks, diagram dan lain-lain, akan memudahkan dalam menarik kesimpulan akhir. Seperti yang diungkapkan oleh Miles dan Hubeman, “seperti halnya reduksi data, penciptaan dan penggunaan penyajian data tidak dapat dipisahkan dari analisis”. Penerapan penyajian data dalam skripsi ini berorientasi pada analisis konsep keadilan dan kesejahteraan ekonomi Islam dan konsep keadilan dan kesejahteraan ekonomi Pancasila, yang disusun dalam bentuk yang runtut dan mudah diakses.
Dengan cara ini, penulis dapat melihat apa yang terjadi, dan menentukan apakah kesimpulannya benar atau perlu analisis lebih lanjut. Pengambilan kesimpulan sebenarnya dimulai sejak pengumpulan, reduksi, dan penyajian data, namun masih dalam bentuk yang terbuka, longgar dan skeptis, mula-mula tidak jelas, namun kemudian meningkat menjadi lebih detail dan mengakar kuat, sehingga muncul kesimpulan. sampai pada suatu kesimpulan akhir. Dalam tesis ini diambil kesimpulan dengan membandingkan dua konsep keadilan dan kesejahteraan.
Untuk kemudian menempatkan salinan kesimpulan dan hasil analisis pada kumpulan data lain.
Analisis Data
Penerapannya dalam skripsi ini adalah melalui abstraksi data yang menjadi pusat kajian konsep ekonomi Pancasila Mubyarto, yang bertumpu pada hasil tulisannya, mulai dari fakta sejarah, peristiwa politik, permasalahan ekonomi dan segala sesuatu yang berkaitan dengan tema yang diangkat, hingga kemudian menganalisa dengan konsep ekonomi syariah.
SISTEMATIKA PEMBAHASAN
PENDAHULUAN
KONSEP EKONOMI DALAM ISLAM
KONSEP EKONOMI PANCASILA MUBYARTO
BAB V PENUTUP
Pengertian Ekonomi Islam
Ada dua istilah yang sering digunakan untuk ilmu ekonomi Islam, yaitu ekonomi Islam dan ekonomi Islam. Ekonomi syariah tumbuh dan berkembang seiring dengan lahir dan berkembangnya Islam di dunia ini. Permasalahan yang berkaitan dengan ekonomi syariah sebagian besar tersimpan dalam literatur Islam seperti Al-Qur’an, Al-Hadits dan syarah.
Belum ada buku karya para ekonom Islam yang mengkaji ekonomi Islam ini secara lebih mendalam, sistematis dan komprehensif. Kajian terhadap ekonomi syariah baru gencar dilakukan tiga puluh tahun yang lalu, sebagai alternatif pencarian sistem perekonomian terbaik pasca kegagalan berbagai sistem perekonomian besar di era globalisasi saat ini. Muhammad Abdul Mannan berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ekonomi syariah adalah “Ekonomi Islam adalah ilmu sosial yang mempelajari permasalahan perekonomian masyarakat yang dijiwai dengan nilai-nilai Islam”.
Ekonomi syariah tidak hanya sekedar etika dan nilai normatif saja, namun juga positif karena mempelajari aktivitas manusia yang sebenarnya, permasalahan ekonomi masyarakat dalam perspektif Islam. Dalam ekonomi Islam, baik konsumen maupun produsen bukanlah raja, perilakunya harus berpedoman pada kesejahteraan umum, individu, dan sosial yang ditentukan oleh hukum Islam. Ekonomi syariah tidak hanya membahas aspek perilaku manusia yang berkaitan dengan cara memperoleh dan membelanjakan uang, namun juga membahas seluruh aspek ekonomi yang mengarah pada kesejahteraan manusia.
Kita tidak boleh lupa bahwa konsep kesejahteraan yang dikembangkan melalui ekonomi syariah harus sesuai dengan prinsip universal Islam yang masih berlaku sepanjang masa.
Asas Hukum Ekonomi Islam
Norma fiqih muamalah sebagai bagian dari norma hukum Islam mempunyai tujuan yang sama yaitu al-mashālih. Proses pertukaran manfaat melalui norma almusyarakat dan norma haq al-milk berakhir pada norma alta'âwun (tolong-tolong). Asas keadilan merupakan kelanjutan dan wujud penerapan asas keadilan dalam teori hukum Islam.
Teori peralihan hak milik diterapkan dalam hukum Islam, misalnya dengan: jual beli yang dapat berupa akad murabahah, salam atau ishtinâ, infaq zakat, shadaka, hibbah dan warisan, sewa dengan al-isti. 'ârat gadai dengan alrahn, dan pinjam meminjam dengan al-qardh. Teori-teori tersebut merupakan sarana untuk menciptakan iklim perekonomian yang sehat agar lalu lintas niaga dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat secara merata, tanpa adanya monopoli pihak-pihak tertentu.” Taradhin merupakan salah satu prinsip fiqh mu’amalah. Selain itu, merupakan kelanjutan dari asas kesetaraan, dan bersinergi dengan asas “adam al-gharâr”, yang artinya pelaksanaan “taradhin memungkinkan tercakupnya ciri-ciri gharar dalam berbagai bentuk mu’ transaksi Amalah”. .
Artinya seluruh prinsip dalam kerangka fiqh mu'amalah berlandaskan dan diarahkan pada al-birr wa al-taqwâ. Hukum Islam melalui asas kebaikan dan ketakwaan menekankan bentuk-bentuk muamalat dalam kategori 'an tarâdhin, 'adam al-gharâr'. Prinsip-prinsip hukum Islam sebagai prinsip atau pilar kegiatan usaha dan pedoman perbankan syariah dalam mencapai tujuannya sejalan dengan al-birr wa al-taqwa.
Ini bermakna prinsip-prinsip syariat Islam seperti ‟an taradhin, tabadul manafi‟, ‟adam al-gharar, ta‟awun, al-adl adalah bertujuan untuk memenuhi al-birr wa al-taqwa.
Prinsip-prinsip Ekonomi Islam
Islam menegakkan prinsip ini dalam seluruh aturan Muamalachian, termasuk perbankan syariah, sehingga dijalankan oleh semua kalangan, apapun kelompok dan latar belakang agamanya. Prinsip tauhid menjadi landasan utama setiap umat Islam dalam menjalankan aktivitasnya, termasuk aktivitas ekonomi. Prinsip ini mencerminkan bahwa penguasa dan pemilik tunggal alam semesta ini adalah Allah SWT.
Prinsip tauhid ini juga mendasari pemikiran tentang kehidupan Islam, yaitu Khilafah (Khalifah) dan “Adalah (Keadilan). Khilafah melambangkan manusia sebagai khalifah atau wakil Allah di muka bumi ini yang dikaruniai dengan seperangkat potensi spiritual dan mental serta sumber daya material yang lengkap yang dapat digunakan untuk menjalankan misi kehidupan. Artinya manusia dengan potensi yang dimilikinya diminta untuk menggunakan sumber daya yang ada untuk mengaktualisasikan kepentingan dirinya dan masyarakat sesuai dengan kemampuannya untuk mengabdi kepada Sang Pencipta, Allah SWT.
Implikasi dari prinsip ini adalah (1) terpenuhinya kebutuhan dasar manusia, (2) sumber pendapatan yang sah dan tayyib, (3) pemerataan pendapatan dan kekayaan, (4) pertumbuhan dan stabilitas. Prinsip “Adalah (keadilan) menurut Chapra merupakan suatu konsep yang tidak dapat dipisahkan dari tauhid dan khilafah, karena adanya prinsip tersebut. Konsekuensi dari prinsip khilafah dan “adalah menuntut agar segala sumber daya yang merupakan amanah Allah, harus digunakan untuk mencerminkan, antara lain, tujuan syariah, yaitu;
Dengan keadilan ekonomi, setiap individu akan mendapatkan haknya sesuai kontribusinya masing-masing terhadap masyarakat.
Konsep Keadilan Dan Kesejahteraan Dalam Islam 1. Konsep Keadilan Dalam Islam
Sebaliknya dalam sistem ekonomi Islam, setiap individu harus memperhatikan ajaran Al-Qur'an dan As-Sunnah. Pemerataan dalam produksi; Islam mengakui hak manusia untuk mencari nafkah sesuai dengan kemampuan, ketrampilan, dan bakat alaminya, namun tidak memperbolehkan hal tersebut merusak akhlak atau merusak tatanan sosial. Sedangkan jika mengacu pada kategori yang dikemukakan Majid Khadduri mengenai teori keadilan, keadilan Islam-keadilan politik, keadilan teologis, keadilan filosofis, keadilan filosofis, keadilan etika, keadilan hukum, dan keadilan sosial.44 terdapat kemungkinan adanya bidang kajian baru. dan pengembangan teori keadilan yang sesuai dengan prinsip ketuhanan, kemanusiaan dan operasional.
Pertama, keadilan politik adalah keadilan yang sesuai dengan kehendak penguasa dan sering kali dipandang sebagai tujuan utama suatu negara. Dalam Islam, orang-orang beriman memiliki pemikiran tentang doktrin bahwa tatanan politik yang sebenarnya berasal dari sumber Ilahi – Al-Qur'an dan Sunnah. Kedua, keadilan teologis adalah keadilan menurut doktrin yang ditetapkan para teolog mengenai hakikat kehendak Allah (Iradah) dan wujud-Nya.
Ketiga, keadilan filosofis adalah keadilan yang didefinisikan bukan berdasarkan wahyu, melainkan berdasarkan akal. Keempat, keadilan etis adalah keadilan yang sesuai dengan kebajikan tertinggi yang menjadi standar perilaku manusia. Terakhir, keadilan sosial adalah keadilan menurut norma dan nilai, apapun norma dan nilai yang terkandung dalam hukum, dan masyarakat bersedia menerimanya melalui adat istiadat, sikap positif, atau alasan lainnya.46 Sistem ekonomi Islam pada umumnya menekankan standar hidup manusia dan distribusi pendapatan yang adil.
Menurut Ibnu Rusyd, keadilan rasional adalah keadilan kodrat, keutamaan tertinggi manusia sebagai warga negara dan sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh ilmu spekulatif (filsafat) dan diatur oleh penguasanya. lihat Zakiyuddin Baidhawi, Islam Melawan Kapitalisme), halaman 16. Oleh karena itu, perbedaan derajat kehidupan ekonomi menjadi landasan untuk saling menguntungkan satu sama lain.48 Perbedaan juga menjadi titik awal persaingan, sehingga setiap orang mempunyai kesempatan yang sama. dan diperbolehkan memberi hadiah atau pahala sesuai dengan usahanya.49. Jadi, menurut Al-Qur'an, kemakmuran mencakup faktor-faktor: keadilan dan persaudaraan universal, nilai-nilai sistem ekonomi, pemerataan distribusi pendapatan.