NAMA : MUHAMAD ALDI
NIM : 1810115210006
MATA KULIAH : FILSAFAT PENDIDIKAN DOSEN : PROF. DR. SURATNO, M.PD
OBYEK FILSAFAT ILMU
Secara garis besar obyek filsafat ilmu adalah:
1. Kenyataan atau fakta 2. Kebenaran atau truth 3. Konfirmasi
4. Logika inferensi
Ad. 1 Kenyataan atau fakta dapat dirinci menjadi:
1) Fakta, ide, dan teori
William Whwell (dalam John Losee, 1993) mengetengahkan bahwa fakta merupakan secull pengetahuan yang menjadi raw material bagi perumusan hukum atau teori. Hukum Kepler merupakan faktor yang selanjutnya diteoretisasikan oleh Newton.
Ada hubungan relatif antara teori satu dengan lainnya, dan bila teori satu menyatu dengan teori lain, maka teori itu menjadi fakta tertentu.
2) Pola discovery (cara menemukan fakta)
Discovery menurut Whewell dapat pula terproses dengan cara lain, yaitu dari ide-ide dieksplistikan menjadi konsep-konsep, dilagakan dengan berbagai fakta menjadi hukum phenomena, dan dijadikan teori.
3) Ide, value, dan aksi 4) Fakta yang terkonstruksi
Dalam positivisme dikenal fakta elementer, fakta langsung diperoleh lewat indria. Dalam perkembangan ilmu, para ahli mulai menyadari adanya inter-relasi bermakna antar fakta-fakta, dan dikenalah konsep fakta terkonstruk. Ada dua fakta
terkonstruk. Pertama fakta terkonstruk karena temuan pola discovery, karena ada idee, dan ada teori. Kedua, fakta terkonstruk yang berupa moral terkonstruk.
Ad. 2 Kebenaran atau truth dapat dirinci menjadi:
1) Kebenaran proposisi
Proposisi adalah suatu pernyataan yang berisi banyak konsep kompleks, yang merentang dari yang subyektif individual sampai yang obyektif. Suatu kebenaran dapat diperoleh bila proposisi-proposisinya benar. Dalam logika Aristoteles, proposisi benar adalah bila sesuai dengan persyaratan formal suatu proposisi. Pendapat lain yaitu dari Euclides, bahwa proposisi benar tidak dilihat dari benar formalnya, melainkan dilihat dari benar materialnya.
2) Kebenaran korespondensi
Berfikir benar korespondensial adalah berfikir tentang terbuktinya sesuatu itu relevan dengan sesuatu lain. Koresponsdensi relevan dibuktikan adanya kejadian sejalan atau berlawanan arah antara fakta dengan fakta yang diharapkan, antara fakta dengan belief yang diyakini, yang sifatnya spesifik.
3) Kebenaran koherensi
Kebenaran koherensi yaitu adanya kesesuaian atau keharmonisan antara sesuatu yang lain dengan sesuatu yang memiliki hirarki yang lebih tinggi dari sesuatu unsur tersebut, baik berupa skema, sistem, atau pun nilai. Koherensi ini bisa pada tatanan sensual rasional mau pun pada dataran transendental.
4) Kebenaran struktural paradigmatic
Kebenaran struktural paradigmatik Sesungguhnya kebenaran struktural paradigmatik ini merupakan perkembangan dari kebenaran korespondensi. Sampai sekarang analisis regresi, analisis faktor, dan analisis statistik lanjut lainnya masih dimaknai pada korespondensi unsur satu dengan lainnya. Padahal semestinya keseluruhan struktural tata hubungan itu yang dimaknai, karena akan mampu memberi eksplanasi atau inferensi yang lebih
5) Kebenaran performative
Ketika pemikiran manusia menyatukan segalanya dalam tampilan aktual dan menyatukan apapun yang ada dibaliknya, baik yang praktis yang teoritik, maupun yang filosofik, orang mengetengahkan kebenaran tampilan aktual. Sesuatu benar bila memang dapat diaktualkan dalam tindakan.
6) Kebenaran pragmatic
Yang benar adalah yang konkret, yang individual dan yang spesifik dan memiliki kegunaan praktis.
Ad. 3 Konfirmasi dapat dirinci menjadi:
1) Aspek kuantitatif dan aspek kualitatif konfirmasi
Dasar untuk memastikan kebenaran penjelasan atau kebenaran prediksi sebagian ahli mengemukakan aspek kuantitatif dan sebagian lain aspek kulitatif. Derajat konfirmasi bersifat probabilitas; probabilitas dari hasil analisis frekuensi.Derajat konfirmasi kuantitatif menjadi masalah pada keluasan generalisasi, seberapa jauh generalisasi dapat diterapkan.Konfirmasi kuantitatif menimbulkan masalah pada signifikansinya. Batas koefisien dianggap signifikan menjadi masalah, karena dalam terapan di jumpai batas signifikansi statistik dan batas signifikansi arbiter, misalnya dalam analisis data psikologis, sosiologis yang mentoleri koefisien lebih rendah dari tabel signifikansi statistik, karena objeknya adalah manusia.
Dalam membangun konfirmasi kualitatif dan upaya melepaskan dari yang kuantitatif tampaknya memang belum dapat dilakukan sepenuhnya.Rudold carnap mengembangkan dua model bahasa yaitu, bahasa terjemahan dan bahasa interpretasi.
Dasar untuk memastikan kebenaran penjelasan atau kebenaran prediksi, sebagian ahli menggunakan aspek kuantitatif, dan sebagian lain menggunakan aspek kualitatif.
2) Teori konfirmasi
Dalam hal konfirmasi.sampai saat ini dikenal ada tiga teori konfirmasi, yaitu:
Decision Theory: menerapkan kepastian berdasar keputusan apakah hubungan antara hipotesis dengan evidensi memang memiliki manfaat aktual.
Estimation Thory: menetapkan kepastian dengan memberi peluang benar atau salah dengan menggunakan konsep probabilitas.
Reliability Analysis: menetapkan kepastian dengan mencermati stabilitas evidensi (yang mungkin berubah-ubah karena kondisi atau karena hal lain) terhadap hepotesis.
Ad. 4 Logika Inferensi dapat dirinci menjadi:
1) Logika
Logika adalah study tentang tipe-tipe tata fikir. Bila sdilacak study logika ini berangkat dari Yunani kuno ke Arabia, lalu Eropa, abad tengah, daerah pasca renaissance yang matematik, dilanjutkan keabad XIX dan abad XX . tradisi logika berkelanjutan seperti jalur diatas. Sedangkan filsafat India dan China berkembang berpisah.
Urutan utama logika Aristoteles adalah logika untuk membuat dan memuji inferensi langsung logika sintaks dan semantic berupaya mempelajari fungsi kata, fungsi kalimat, dan pencarian makna.
Dalam konseptualisasi trasdisional, logika, tidak lain daripada study formal dalam jenis tentang relasi formal dalam jenis.
2) Logika formal kategori
Yang dimaksud logika formil kategorik adalah logika aristoteles beserta modifikasi-modifikasi yang bertujuan menyempurnakan logika Aristoteles. Pada waktu itu orang masih berpendapat bahwa Aristoteles telah mengadakan eksplorasi secara tuntas seluruh masalah logika. Pada waktu itu yang dikerjakan orang hanyalah sekedar membuat perbaikan-perbaikan, atau penghapusan yang tidak perlu, atau membuat rumusan- rumusan. untuk memperjelas konsep-konsep logika dari Aristoteles. Menurut Emmanuel khant perbaikan dan penjelasan tersebut lebih banyak menunjukkan usaha agar logika Aristoteles. menjadi lebih tampan (elegant), bukan agar tampil lebih kokoh (solid).
Selanjutnya logika aristoteles dan pernaikannya, penulis sebut sebagai logika tradisional 3) Logika formal matematik-aksiomatik
Pemikiran tradisional kuno lainnya dapat kita jumpai pula pada Euclides dan Archimedes. Tesis yang diteriam adalah bahwa struktur ilmu yang lengkap semestinya tampil dalam pernyataan dalam system deduktif. Euclides dan Archimedes mengorganisasikan kebenaran theoreen mengikuti kebenaran asumtif aksiomanya.
Mereka membuktikan bahwa aksioma dan definisi sudut dan segitiga, merupakan konsekwensi dari jumlah sudut dari suatu segitiga sama besar dengan jumlah dua sudut siku-siku.
4) Logika dalam Paradigma Kuantitatif a) Logika induktif probabilistic
Logika matematik yang digunakan dalam positivisme adalah sistem logika induktif probabilistik. Untuk menguji validitas digunakan uji verifikasi.
b) Logika deduktif probabilistic
Realisme baru menggunakan logika matematik pula. Adapun sistem logika yang digunakan adalah sistem logika deduktif probabilistik. Perlu diingat bahwa realisme adalah aliran yang menuntut pembuktian kebenaran perlu didukung, oleh teori dan empiri. Keduanya harus ada dan saling mendukung. Realisme baru menuntut adanya teori terkonstruk (Kuhn, Lakatos, Laudan) dan adanya empiri yang terkonstruk pula (Hacking).
c) Logika paradigmatik uji inferensi logik kuantitatif
Rasanya aneh menampilkan term logika paradigmatik. Maksudnya sama dengan upaya penulis menampilkan term logika kualitatif grounded, yaitu untuk menampilkan alternatif komparatif guna membuat inferensi logik.
d) Inferensi logik kuantitatif
Model uji inferensi logik kuantitatif setepatnya digunakan, bila para peneliti menggunakan pendekatan positivistik, postpositivistik rasionalistik, realisme baru, atau quantum logik.
5) Logika dengan Paradigma Kualitatif
Logika paradigma kualitatif dapat penulis pilahkan menjadi dua, yaitu : logika untuk phenomenologi antropologik dan logika untuk bahasa. Logika phenomenologi antropologik penulis sebut pula sebagai logika kualitatif grounded. Logika bahasa dapat
dipilahkan menjadi dua, yaitu logika linguistik yang positivistik (yang terpusat pada sintaksis) dan logika phenomenologi hermeneutik.
a) Logika kualitatif grounded
Dalam banyak pustaka, model grounded yang dalam buku penulis. Metodologi Penelitian Kualitatif penulis luaskan model-modelnya dengan nama pendekatan phenomenologik, diklasifikasikan sebagai model pengembangan ilmu ideographik. Ilmu yang tidak merancangkan membuat inferensi, melainkan ilmu yang bersifat mencandra, ilmu yang hendak mendeskripsikan.
b) Logika linguistik, semantik, dan hermeneutik
Inferensi logik dalam bahasa dikenal setidaknya dua tahapan, yaitu : pertama, logika linguistik yang positivistik, yang menggunakan struktur kalimat dan fungsi kata- kata sebagai dasar analisisnya; kedua, logika phenomenologi, hermeneutik dengan perkembangan dari phenomenologi sosial, strukturalisme semiotik atau semantik, dan phenomenologi hermeneutik. Berturut-turut dibahas lebih lanjut, masing-masing tersebut.
a. Strukturalisme klasik
Strukturalisme klasik seperti de Saussure memfokuskan pada analisis tata bahasa.
Dikenal dua bentuk linguistic codes, yaitu : elaborated code dan restricted code.
b. Strukturalisme Levi-Strauss
Strukturalisme Levi-Strauss, yang juga disebut strukturalisme genetik, berasumsi bahwa karya sastra seseorang, tidak dapat lepas dari latar belakang sosialnya.
c. Strukturalisme Dinamik
Realitas sosial tersebut dilukiskan lewat novel imaginer. Menurut hemat penulis analisis ini lebih dekat untuk disebut strukturalisme dinamik daripada genetik.
d. Strukturalisme Semiotik/Semantik
Strukturalisme berikut adalah strukturalisme semiotik atau strukturalisme- semantik.
e. Logika Hermeneutik
Logika linguistik yang semantik dapat pula disebut : logika hermeneutik.
Kebenaran dicari dengan menganalisis makna simbolik dengan pembacaan heuristik atau pembacaan hermeneutik.
6) Logika Reflektif Deduktif Probabilistik a) Logika Reflektif Deduktif Tematik
Logika yang digunakan dalam realisme metaphisik berakar pada positivisme.
Positivisme menggunakan sistem logika induktif probabilistik. Realisme metaphisik menolak penggunaan sistem indeuktif tersebut dan menggantinya dengan sistem logika deduktif probabilistik.
b) Logika Deduktif Paradigmatik: uji inferensi esensial
Inferensi logik esensial paradigmatik dapat menggunakan pendekatan postpositivistik, phenomenologik, realisme metaphisik, atapun linguistik dekonstruksi.
Dari saran tersebut semoga terpahami oleh pembaca, pemuaraan dari logika hermeneutik yang mencari makna, phneomenologik yang generative, realisme yang mengembangkan logika paradigmatik
7) Logika Pragmatik
a) Logika Pragmatik Era Pertama
Rasionalitas dalam pragmatisme telah direduksi menjadi yang berguna, yang bermanfaat atau yang berfungsi. Model ini telah ditinggalkan sejak tahun 1940-an.
b) Logika Pragmatik Meta-Etik
Rasionalitas dalam pragmatisme meta-etik mereduksi problem teoretik dan moralitas menjadi kepentingan pragmatik.