• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kritik, Kontroversi, dan Implikasi

N/A
N/A
wyp pcy

Academic year: 2024

Membagikan " Kritik, Kontroversi, dan Implikasi"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

Kontraversial pasal pasal Rkuhp

Rkuhp merupakan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana menjadi hal urgent untuk dilakukan sebuah perbaikan. Dikarenakan Pasal- pasal yang bnyk ditentang oleh masayarakat indesia, karena menurut warga negara indonesia pasal psal itu krang pas dengan negara kita.

Pasal 218 rkuhp

Berikut bunyi Pasal 218 ayat (1) RKUHP:

“Setiap Orang yang di muka umum menyerang kehormatan atau harkat dan martabat diri Presiden atau Wakil Presiden dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan atau pidana denda paling banyak kategori IV”

Pasal ini mengenai kritik kepada Presiden dan Wakil Presiden. Pasal ini sangat rawan untuk disalahtafsirkan oleh aparat penegak hukum guna membungkam kritik terhadap penguasa.

Pasal ini sangat bersifat mengakang terhadap masyarakat dan dapat mengancam kebebasan berpendapat masyarakat umum. Kritik terhadap pemerintah itu sangat penting agar pemerintah dapat berbenah diri dan hati-hati dalam mengambil keputusan atas suatu kebijakan. Dikarena pemerintahan sangat berpengaruh bagi masyarakat, setiap tindakan yang dilakukan, setiap peraturan2 baru yang dibuat oleh pemerintah. Oleh sebab itu perlunya kritik dari masyarakat agar peraturan2 dapt dipersetujukan bersama sama dan ditaati nbersama sama

pasal 240 RKUHP

Begitupun dengan pasal ini menyatakan bahwa seseorang bisa diancam pidana penjara 3 tahun jika menghina pemerintah di media sosial. Banyak masyarakat yang menentang rkup dikarenakan Pasal ini dapat berpotensi mengkriminalisasi siapapun yang melayangkan ketidakpuasan mereka terhadap kinerja pemerintah. Pemerintah seolah antrikritik dan kembali membangunkan masa orba.

(2)

Berikut bunyi pasal 240 RKUHP:

"Setiap orang yang di muka umum melakukan penghinaan terhadap pemerintah yang sah yang berakibat terjadinya kerusuhan dalam masyarakat dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau pidana denda paling banyak kategori IV.”

Pasal 241 RKUHP

Ancaman hukuman 3 tahun penjara yang disebutkan dalam pasal 240 RKUHP akan dinaikkan menjadi 4 tahun, jika penghinaan yang dimaksud dilakukan di media sosial, sebagaimana bunyi draft pasal 241 RKUHP berikut ini:

"Setiap orang yang menyiarkan, mempertunjukkan, atau menempelkan tulisan atau gambar sehingga terlihat oleh umum, memperdengarkan rekaman sehingga terdengar oleh umum, atau menyebarluaskan dengan sarana teknologi informasi yang berisi penghinaan terhadap pemerintah yang sah dengan maksud agar isi penghinaan diketahui umum yang berakibat terjadinya kerusuhan dalam masyarakat dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun atau pidana denda paling banyak kategori V."

Berdasarkan hal tersebut maka, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (BEM UMM) menyatakan sikap sebagai berikut :

1. Untuk menghapus pasal 218 mengenai Penghinaan Terhadap Presiden dan Wakil Presiden, karena hal tersebut sudah menjadi sebuah konsekuensi sebagai pemimpin. Pasal 218 ini juga sangat bertentangan dengan aturan hukum dan konstitusi yang telah dipercayakan kepada MK, karena sebelumnya pasal penghinaan terhadap presiden telah dihapuskan oleh MK. Selain itu, dari sisi aturan hukum juga sudah sangat jelas, perbedaan antara kritik dan hinaan atau fitnah. Dengan demikian, sudah sangat tidak perlu dan tidak relevan lagi

(3)

pasal penghinaan presiden tersebut dihidupkan kembali.

Sebab, bila tetap dihidupkan, akan menjadi senjata pemerintah untuk bersikap otoriter layaknya yang terjadi pada era sebelum reformasi.

2. Mendesak untuk segara dipubilkasikannya draft terbaru Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, agar dapat dipelajari, dipahami, serta dikritisi secara bersama

Menurut saya pernyataan dari bem malang , saya sangat setuju

dikarean semua sudah menjadi resiko aparatur negara seperti presiden dan wakil presiden dikarenakan apabila masyarakat tisdak setuju dengan peraturan peraturan yang baru, banyak diantara mereka melontarkan kalimat2 ketidak persetujuan di media sosial, selain itu pemerintah pasti juga tau mana yang merupakan hinaan mana yang termasuk kritikan dan saran.

Kritik dan saran dapat membuat indonesia lebih maju, karena dengan didengarnya suara rakyat, maka rakyatpun ikut serta mematupi

peraturan yang mereka setujui bersama .

Referensi

Dokumen terkait

Masalah pencurian dana nasabah bank saat ini diatur oleh Pasal 362 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, akan tetapi dalam Pasal 362 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana,

Jan, Remmelink, 2003 Hukum Pidana, Komentar atas Pasal-Pasal Terpenting dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Belanda dan Padanannya dalam Kitab Undang-Undang

Remmelink, Jan, Hukum Pidana Komentar Atas Pasal-Pasal Terpenting Dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Belanda dan Paparanya Dalam Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia,

Jan Remmelink,2003, Hukum Pidana Komentar Atas Pasal-Pasal Terpenting dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Belanda dan Paparanya dalam Undang-Undang Hukum Pidana

Skripsi ini mempunyai tujuan untuk mengetahui bagaimana Potret aspirasi masyarakat dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan

Perbedaan antara Pasal 244 Kitab Undang-undang Hukum Pidana dengan Pasal 245 Kitab Undang-undang Hukum Pidana, yaitu bahwa pada Pasal 244 tujuannya adalah

Disamping yang diatur dalam Pasal 1 ayat (1) Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana, terdapat juga Pasal 10 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, yang

Latar belakang pembentukan pasal 488 mengenai larangan kumpul kebo dalam rancangan KUHP ...51 BAB IV KRIMINALISASI KUMPUL KEBO DALAM RANCANGAN KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA A..