• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.Partisipasi dalam pelaksanaan, program kerja Karang Taruna tidak berjalan efektif

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "2.Partisipasi dalam pelaksanaan, program kerja Karang Taruna tidak berjalan efektif"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Partisipasi Pemuda dalam Program Karang Taruna (Studi pada Pemuda Kelurahan Senggarang Kecamatan Tanjungpinang Kota)

Syam Budi ¹, Imam Yudhi Prastya ², Edison ³

Program Studi Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Maritim Raja Ali Haji

ABSTRAK

Pemuda merupakan aset bangsa yang berharga, sekaligus sebagai agen perubahan.

Sebagai wadah yang berfungsi dalam menghimpun, menggerakkan dan menyalurkan peran serta pemuda disegala dimensi pembangunan, Karang Taruna memiliki tanggung jawab dan peran strategis berpartisipasi dalam pembangunan melalui program kerja yang menunjang pelaksanaan pembangunan yang dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui partisipasi pemuda dalam program kerja Karang Taruna (Studi pada Pemuda di Kelurahan Senggarang Kecamatan Tanjungpinang Kota). Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi, dengan Informan berjumlah 7 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknis purposive sampling, jenis penelitian deskriftif dengan pendekatan kualitatif. Teknik analisis data yang digunakan adalah pengumpulan data, reduksi data, penyajian dan penarikan kesimpulan.

Penelitian ini merujuk pada konsep partisipasi Cohen dan Uphoff dalam Dwiningrum (2015:61) yang membedakan partisipasi menjadi 4 jenis, yaitu: 1.Partisipasi dalam pengambilan keputusan, adanya partisipasi anggota Karang Taruna dalam pengambilan keputusan terkait kepentingan bersama. 2.Partisipasi dalam pelaksanaan, program kerja Karang Taruna tidak berjalan efektif. 3.Partisipasi dalam pengambilan pemanfaatan, dari kualitas terjadi peningkatan output, dari kuantitas belum berhasil mencapai tujuan sebagaimana yang diharapkan dari program kerja Karang Taruna. 4.Partisipasi dalam evaluasi, secara garis besar program kerja Karang Taruna tidak terlaksana dengan baik, dan tidak ada penyimpangan yang dilakukan. Kesimpulan partisipasi pemuda dalam program kerja Karang Taruna belum terlaksana secara maksimal. Hal ini terlihat dari partisipasi pemuda dalam pelaksanaan, dalam pemanfaatan dan dalam evaluasi. Saran agar terjadi peningkatan partisipasi pemuda dalam pengambilan keputusan, dalam pelaksanaan, dalam pemanfaatan dan dalam evaluasi perlu adanya koordinasi dengan stokeholder terkait, berkaitan dengan penganggaran agar program Karang Taruna dapat terlaksana secara optimal.

Kata Kunci : Partisipasi, Karang Taruna, dan Pemuda [email protected]

(2)

Youth Participation in Youth Organization Program (Study on Youth of Senggarang Village Tanjungpinang Kota District)

Syam Budi ¹, Imam Yudhi Prastya ², Edison ³

State Administration Study Program, Faculty of Social and Political Sciences, Raja Ali Haji Maritime University

ABSTRACT

Youth is a valuable national asset, as well as an agent of change. As a forum that functions in gathering, mobilizing and channeling youth participation in all dimensions of development, Youth Organization has the responsibility and strategic role of participating in development through work programs that support the implementation of development carried out. This study aims to determine the participation of youth in the work program of Youth Organization (Study of Youth in Senggarang Village, Tanjungpinang Kota District). Data collection techniques used were observation, interviews, and documentation, with 7 informants. The sampling technique uses purposive sampling technique, a type of descriptive research with a qualitative approach. Data analysis techniques used are data collection, data reduction, presentation and conclusion drawing.

This research refers to the concept of Cohen and Uphoff participation in Dwiningrum (2015: 61) which distinguishes participation into 4 types, namely: 1. Participation in decision making, the participation of Youth Organization members in making decisions related to shared interests. 2. Participating in the implementation, Youth Organization work program is not effective. 3. Participation in the utilization of utilization, from the quality increase in output, the quantity has not succeeded in achieving the objectives as expected from the Youth Organization work program. 4. Participating in the evaluation, in general the Youth Organization work program is not well implemented, and no deviations have been made. The conclusion of youth participation in Youth Organization work program has not been carried out maximally. This can be seen from the participation of youth in implementation, in utilization and in evaluation. Suggestions for an increase in youth participation in decision making, in implementation, in utilization and in evaluating the need for coordination with related stockholders, relating to budgeting so that the Youth Organization program can be implemented optimally.

Keywords : Participation, Youth Organization and Youth [email protected]

(3)

I. PENDAHULUAN

Pemuda merupakan aset bangsa yang berharga, kemajuan atau kehancuran suatu bangsa tergantung pada pemuda sebagai agen perubahan (agent of change).

Namun peran dan partisipasi pemuda saat ini belum menunjukkan hasil yang maksimal, apabila dibandingkan dengan pemuda di era pra dan pasca kemerdekaan.

Sebagai wadah yang berfungsi dalam menghimpun, menggerakkan dan menyalurkan peran serta pemuda disegala dimensi pembangunan, Karang Taruna memiliki tanggung jawab dan peran strategis berpartisipasi dalam pembangunan melalui program kerja yang menunjang pelaksanaan pembangunan yang dilakukan.

Sesuai dengan paradigma pembangunan desentralistik yang berorientasi pada penghargaan otoritas dan potensi daerah beserta pemberdayaan masyarakat lokal, pertisipatif pemuda dalam pembangunan-pembangunan di masyarakat sangat diperlukan untuk membangun kehidupan sosial masyarakat yang lebih baik.

Partisipatif berasal dari kata partisipasi yang berarti ambil bagian atau ikut berperan serta dalam suatu usaha bersama dengan orang lain untuk kepentingan bersama.

Menurut Sastropoetro (1988:13) mendefinisikan partisipasi sebagai keikutsertaan, peran serta atau keterlibatan yang berkaitan dengan keadaan lahiriahnya.

Berdasarkan hasil observasi awal di Kelurahan Senggarang Kecamatan Tanjungpinang Kota terdapat bahwa peran Karang Taruna sebagai wadah para pemuda untuk meningkatkan kompetensi knowledge, skills, dan disposition menunjukkan kurang maksimal. Karena Karang Taruna belum mampu merangkul dan membangun karakter tanggung jawab, kepekaan sosial, dan peduli lingkungan dalam diri pemuda. Hal ini menarik penulis untuk melakukan penelitian dengan judul “Partisipasi Pemuda dalam Program Karang Taruna (Studi pada Pemuda Kelurahan Senggarang Kecamatan Tanjungpinang Kota)”.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui partisipasi pemuda dalam program kerja Karang Taruna (Studi pada Pemuda di Kelurahan Senggarang Kecamatan Tanjungpinang Kota). Befokus pada penyebab dari kurang aktifnya Karang Taruna Kelurahan Senggarang dalam pelaksanaan program kerja, , dan faktor apa saja menghambat dan mendukung partisipasi pemuda dalam program kerja Karang Taruna Kelurahan Senggarang.

(4)

Partisipasi secara tata bahasa berasal dari bahasa Inggris, “participation”

yaitu : “Pengambilan bagian atau pengikutsertaan”. Cohen dan Uphoff dalam Dwiningrum (2015:51) partisipasi sebagai keterlibatan dalam proses pembuatan keputusan, pelaksanaan program, peroleh pemanfaatan, dan mengevaluasi program. Partisipasi berarti peran serta seseorang atau kelompok masyarakat dalam proses pembangunan baik dalam bentuk pernyataan maupun dalam bentuk kegiatan dengan memberi masukan pikiran, tenaga, waktu, keahlian, modal dan atau materi, serta ikut memanfaatkan dan menikmati hasil-hasil pembangunan.

Penelitian ini merujuk konsep partisipasi Cohen dan Uphoff dalam Dwiningrum (2015:61) yang membedakan partisipasi menjadi empat jenis, yaitu : 1. Partisipasi dalam pengambilan keputusan, 2. Partisipasi dalam pelaksanaan, 3.

Partisipasi dalam pengambilan pemanfaatan, dan 4. Partisipasi dalam evaluasi.

Pertama adalah partisipasi dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan penentuan alternatif dengan anggota karang taruna untuk menuju kata sepakat tentang berbagai gagasan yang menyangkut kepentingan bersama (keterlibatan anggota Karang Taruna dalam pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan bersama). Kedua adalah partisipasi dalam pelaksanaan berkaitan dengan keterlibatan anggota, instansi pemerintah, lembaga pemberdayaan masyarakat dan organisasi kemasyarakatan yang berkaitan dalam kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Karang Taruna (melaksanakan koordinasi dalam penjabaran program, menggerakkan sumberdaya dan dana).

Ketiga adalah partisipasi dalam pengambilan pemanfaatan berkaitan dengan kualitas dan kuantitas hasil pelaksanaan program yang dicapai (program kegiatan Karang Taruna berkaitan dengan peningkatan output yang dilakukan, dan berjalan sebagaimana sesuai dengan apa yang diharapkan). Keempat adalah partisipasi dalam evaluasi berkaitan dengan pelaksanaan program secara menyeluruh (program kegiatan Karang Taruna sesuai dengan rencana yang ditetapkan atau adanya penyimpangan). Selain keempat jenis partisipasi sebagaimana yang diuraikan tersebut, dalam penelitian ini penulis juga mengkaji dan menganalisis faktor-faktor pengham penghambat dan faktor-faktor pendukung dalam kegiatan program kerja Karang Taruna apakah berhasil atau tidak.

(5)

Menurut Chandra (2011:1) Pemuda adalah kaum muda yang harus dilihat sebagai “pribadi” yang sedang berada pada taraf tertentu dalam perkembangan hidup seseorang manusia, dengan kualitas dan ciri tertentu yang khas, dengan hak dan peranan serta kewajiban tertentu dengan potensi dan kebutuhan tertentu pula.

Pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun, sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 0059 Tahun 2013 tentang Pengembangan Kepemimpinan Pemuda pasal 1 menyatakan bahwa pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun.

Menurut Peratutan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 77/HUK/2011 tentang Pedoman dasar karang taruna dimana, Karang Taruna adalah organisasi sosial kemasyarakatan sebagai wadah dan sarana pengembangan setiap anggota masyarakat yang tumbuh dan berkembang atas dasar kesadaran dan tanggung jawab sosial dari, oleh dan untuk masyarakat terutama generasi muda di wilayah desa / kelurahan atau komunitas adat sederajat terutama bergerak di bidang penyelenggaraan kesejahteraan sosial.

II. BAHAN DAN METODE

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Menurut Bogdan dan Taylor dalam Moleong (2011:3) mengatakan bahwa penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.

Menurut Sugiyono (2012:14) penelitian deskriptif yaitu penelitian yang digunakan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan antara variabel satu dengan variabel lainnya.

Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Senggarang Kecamatan Tanjungpinang Kota Kota Tanjungpinang. Karena Kelurahan Senggarang

(6)

merupakan wilayah wisata baru, yang memiliki banyak potensi yang bisa dimanfaatkan oleh pemuda khususnya Karang Taruna Kelurahan Senggarang dalam mengembangkan pemuda diwilayah senggarang.

Dalam menetapkan informan peneliti menggunakan teknik purposive sampling. Purposive sampling adalah pengambilan sampel secara sengaja sesuai dengan persyaratan sampel yang diperlukan (sifat-sifat, karakteristik, ciri dan kriteria sampel). Pemilihan informan sebagai sumber data atau informan dalam penelitian ini berdasarkan subyek yang menguasai permasalahan, memiliki data dan bersedia memberikan informasi yang lengkap dan akurat. Informan dalam penelitian ini terdiri dari 7 orang.

1. Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Untuk melakukan penelitian diperlukan adanya data-data yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan, maka peneliti menggunakan beberapa teknik pengumpulan data sebagai berikut :

a. Observasi, adalah teknik pengumpulan data dengan cara mengamati secaralangsung terhadap objek penelitian kemudian mencatat gejala-gejala yangditemukan di lapangan untuk melengkapi data-data yang diperlukan sebagaiacuan yang berkaitandengan permasalahan penelitian. Adapun alat yang digunakan berupa daftar ceklis.

b. Wawancara, yaitu dengan cara wawancara mendalam untuk memperolehdata yang lengkap dan mendalam dari informan. Metode ini dilakukandengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara langsung dan terbukakepada informan atau pihak yang berhubungan dan memiliki relevansiterhadap masalah yang berhubungan dengan penelitian. Alat yang digunakan dalam melaksanakan wawancara yaitu berupa pedoman wawancara.

c. Dokumentasi, merupakan pengumpulan data dengan menggunakan arsip atau dokumen sebagai sumber data yang dapat dilakukan dengan cara melihat, mencatat dan mengabadikan dalam gambar. Dokumen dalam penelitian ini adalah dokumen-dokumen yang didapat dari Karang Taruna Kelurahan Senggarang, serta foto-foto dalam melaksanakan pengumpulan data dilapangan.

(7)

2. Teknik Analisa Data

Analisis data kualitatif munurut Bogdan & Biklen (Moleong, 2007:248) adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensistesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.

Teknik analisis data menurut Miles dan Huberman dalam Sugiyono (2011:246) menyatakan bahwa, “aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas sehingga datanya jenuh”. Aktivitas analisa data dalam penelitian ini adalah :

a. Reduksi data (data reduction). Seluruh data yang diperoleh dilapangan dicatat dan dirinci, selanjutnya dilakukan analisis data melalui reduksi data dengan cara merangkum, memilih hal-hal sesuai penelitian, memfokuskan kepada hal yang penting, dan membentuk pola dari situasi sosial.

b. Penyajian data (data display). Penyajian data dalam penelitian kualitatif dilakukan dalam bentuk uraian singkat sepertiteks yang bersifat naratif, bagan, flowchart, dan sejenisnya.

c. Conclusion Drawing/Verification. Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif yaitu melakukan penarikan kesimpulan dan verifikasi sehingga dapat menjawab rumusan masalah yang telah ditetapkan.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian disajikan dalam bentuk wawancara, hasil observasi serta dokumentasi dilapangan yang merupakan rangkuman dari hasil penelitian. Hasil penelitian tersebut dipaparkan sesuai dengan teori partisipasi Cohen dan Uphoff, sehingga dapat memudahkan pembaca dalam memhami hasil penelitian ini.

Menurut Cohen dan Uphoff dalam Dwiningrum (2015:61) yang membedakan partisipasi menjadi empat jenis, yaitu : partisipasi dalam pengambilan keputusan, partisipasi dalam pelaksanaan, partisipasi dalam pengambilan pemanfaatan, dan partisipasi dalam evaluasi.

(8)

1. Partisipasi dalam Pengambilan Keputusan

Partisipasi dalam pengambilan keputusan menurut Cohen dan Uphoff dalam Dwiningrum (2015:61) merupakan suatu proses pemilihan alternatif berdasarkan pertimbangan yang menyeluruh dan rasional, untuk menuju kata sepakat tentang berbagai gagasan untuk menyangkut kepentingan bersama. Dimana partisipasi dalam pengambilan keputusan merupakan hal yang sangat penting, karena masyarakat menuntut untuk menentukan arah dan orientasi pembangunan.

Adapun wujud dari partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan bermacam-macam, seperti kehadiran rapat, diskusi, sumbangsih pemikiran, tanggapan atau penolakkan terhadap program yang ditawarkan.

Partisipasi dalam pengambilan keputusan yang terjadi dilapangan ditunjukkan dengan adanya partisipasi anggota Karang Taruna dalam pengambilan keputusan menuju kata sepakat yang menyangkut kepentingan bersama. Hal ini dilakukan melalui rapat kepengurusan yang dilakukan dalam pelaksanaan dan menentukan program kerja Karang Taruna. Dalam rapat yang dilaksnakan tersebut, terdapat diskusi antara kepengurusan Karang Taruna, sumbangsih pemikiran, tanggapan serta penolakkan terhadap program kerja yang ditawarkan. Sehingga hasil rapat yang dilaksanakan merupakan hasil dari keputusan bersama kepengurusan Karang Taruna dalam menentukan program kerja yang akan dilaksanakan.

2. Partisipasi dalam Pelaksanaan

Partisipasi dalam pelaksanaan menurut Cohen dan Uphoff dalam Dwiningrum (2015:62) adalah didalam pelaksanaan program, sangat dibutuhkan keterlibatan berbagai unsur, khususnya pemerintah dalam kedudukannya sebagai fokus atau sumber utama dalam pembangunan penggerakkan sumber daya dan sumber dana dalam pelaksanaan merupakan penentu keberhasilan program yang dilaksanakan. Selain itu Penggerakkan sumber daya dan sumber dana dalam pelaksanaan merupakan penentu keberhasilan program yang dilaksanakan (Cohen dan Uphoff dalam Dwiningrum, 2015:63)

Partisipasi dalam pelaksanaan yang terjadi dilapangan, dimana dalam pelaksanaan program kerja Karang Taruna Kelurahan Senggarang tidak berjalan efektif atau tidak berhasil. Karena kurangnya koordinasi yang dilakukan oleh

(9)

pengurus Karang Taruna dengan berbagai pihak kepintingan yaitu lembaga pemberdayaan masyarakat yang ada di Kelurahan Senggarang dan terutama pemerintah, sehingga menyebabkan program kerja Karang Taruna yang sudah direncanakan tidak terlaksana dengan baik, bahkan tidak bisa dilaksanakan.

Selain permasalahan koordinasi yang tidak berjalan dengan baik, Karang Taruna juga mengalami permasalahan dalam penggerakkan sumber dana. Dimana Karang Taruna tidak memikili anggaran sehingga program kerja yang dilaksanakan berkaitan dengan penggunaan dana tidak bisa dilaksanakan.

3. Partisipasi dalam Pengambilan Pemanfaatan

Partisipasi dalam Pemanfaatan menurut Cohen dan Uphoff dalam Dwiningrum (2015:62) menyatakan bahwa partisipasi dalam pengambilan manfaat tidak terlepas dari kualitas dan kuantitas dari hasil pelaksanaan program yang bisa dicapai. Dari segi kualitas, keberhasilan program akan ditandai dengan adanya peningkatan output dari program tersebut, sedangkan dari segi kualitas dapat dilihat seberapa besar prosentase keberhasilan program yang dilaksanakan, apakah sesuai dengan target yang telah ditetapkan.

Partisipasi dalam Pemanfaatan yang terjadi dilapangan menunjukkan bahwa dilihat dari sisi kualitas program kerja Karang Taruna Kelurahan Senggarang sudah sesuai dengan tujuan dan terjadinya peningkatan dari sisi output. Sedangkan apabila dilihat dari sisi kuantitas program kerja Karang Taruna Kelurahan Senggarang belum berhasil mencapai tujuan sebagaimana yang diharapkan. Dilihat dari pelaksanaan program, hanya sedikit program kerja Karang Taruna yang bisa dilaksanakan dari rencana program kerja yang sudah disusun. Dengan demikian dilihat secara persentase bahwa program kerja Karang Taruna yang terlaksana hanya sekitar 2,6 (%) dari 100 (%) program kerja yang direncanakan.

4. Partisipasi dalam Evaluasi

Partisipasi dala evaluasi menurut Cohen dan Uphoff dalam Dwiningrum (2015:62) adalah partisipasi masyarakat dalam evaluasi berkaitan dengan masalah pelaksanaan program secara menyeluruh. Partisipasi ini bertujuan untuk

(10)

mengetahui apakah pelaksanaan program telah sesuai dengan rencana yang ditetapkan atau ada penyimpangan.

Partisipasi dala evaluasi yang terjadi dilapangan secara garis besar program kerja Karang Taruna tidak terlaksana, meskipun program kerja yang dilaksanakan sudah sesuai dengan rencana program kerja yang sudah disusun, karena hanya hanya 10 program kerja yang terlaksana dari 26 program kerja yang direncanakan.

Berkaitan dengan pelaksanaan penyimpangan yang dilakukan oleh Karang Taruna, tidak ditemukan adanya penyimpangan yang dilakukan oleh Karang Taruna.

Hal ini berkaitan dengan faktor-faktor penghambat yang terjadi dilapangan, yaitu : 1. Terjadi tarik ulur kepentingan dari dinas-dinas terkait, yang seharusnya membantu Karang Taruna dalam pelaksanaan program kerjanya, menjadi salah satu faktor penghambat bagi Karang Taruna dalam pelaksanaan program kerjanya, 2. Masih tingginya sikap kedaerahan dan kepentingan kelompok dalam diri pemuda, sehingga menimbulkan kurangnya partisipasi pemuda dalam mendukung program kerja Karang Taruna, 3. Karang Taruna tidak memiliki anggaran, sehingga menjadi kendala dalam menjalan program kerja yang sudah direncanakan. Anggaran atau dana merupakan motor terpenting dalam penggerakan organisasi untuk mewujudkan tujuannnya.

Selain faktor penghambat Karang Taruna juga memiliki faktor pendukung dalam menjalankan program kerjanya dilapangan, sehingga beberapa program kerja bisa berjalan meskipun tidak memiliki anggarang, diantaranya : 1. Potensi yang dimiliki Senggarang sebagai objek Wisata, 2. Potensi yang dimiliki pemuda dalam olahraga dan seni budaya, 3. Dukungan dari pihak Kelurahan, 4. Adanya kerjasama dengan BNN Kota Tanjungpinang dan beberapa Dosen di program Studi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, dan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Maritim Raja Ali Haji, dan 5. Kekompkkan yang dimiliki oleh Kepengurusan Karang Taruna.

(11)

IV. KESIMPULAN

1. Kesimpulan

Kesimpulan partisipasi pemuda dalam program kerja Karang Taruna belum terlaksana secara maksimal. Hal ini terlihat dari partisipasi pemuda dalam pengambilan keputusan, pelaksanaan, dalam pemanfaatan dan dalam evaluasi, secara rinci dapat dilihat sebagaimana berikut :

1. Dimensi Partisipasi dalam Pengambilan Keputusan, adanya partisipasi anggota Karang Taruna dalam pengambilan keputusan menuju kata sepakat yang menyangkut kepentingan bersama.

2. Dimensi Partisipasi dalam Pelaksanaan Karang Taruna Kelurahan Senggarang dapat disimpulkan, bahwa program kerja Karang Taruna Kelurahan Senggarang tidak berjalan efektif atau tidak berhasil. Karena secara koordinasi belum berjalan dengan baik.

3. Dimensi Partisipasi dalam Pemanfaatan, program kerja Karang Taruna belum terlaksana secara maksimal meskipun secara kualitas program kerja Karang Taruna terjadi peningkatan dari sisi output. Sedangkan dari sisi kuantitas program kerja Karang Taruna belum berhasil mencapai tujuan sebagaimana yang diharapkan. Dilihat dari pelaksanaan program, hanya sedikit program kerja Karang Taruna yang terlaksana dari rencana program kerja yang sudah disusun.

4. Dimensi Partisipasi dalam Evaluasi, dimana secara garis besar program kerja Karang Taruna tidak terlaksana, dan berkaitan dengan pelaksanaan penyimpangan yang dilakukan oleh Karang Taruna, tidak ditemukan adanya penyimpangan yang dilakukan oleh Karang Taruna.

5. Faktor Penghambat Program Kerja Karang Taruna Kelurahan Senggarang:

1. Terjadi tarik ulur kepentingan dari dinas-dinas terkait, yang seharusnya membantu Karang Taruna dalam pelaksanaan program kerjanya, menjadi salah satu faktor penghambat bagi Karang Taruna dalam pelaksanaan program kerjanya, 2. Masih tingginya sikap kedaerahan dan kepentingan kelompok dalam diri pemuda, sehingga menimbulkan kurangnya partisipasi pemuda dalam mendukung program kerja Karang Taruna, 3. Karang Taruna tidak memiliki anggaran, sehingga menjadi kendala dalam menjalan program kerja yang sudah direncanakan.

(12)

Anggaran atau dana merupakan motor terpenting dalam penggerakan organisasi untuk mewujudkan tujuannnya.

6. Faktor Pendukung Program Kerja Karang Taruna Kelurahan Senggarang:

1.Potensi yang dimiliki Senggarang sebagai objek Wisata, 2.Potensi yang dimiliki pemuda dalam olahraga dan seni budaya, 3.Dukungan dari pihak Kelurahan, 4.Adanya kerjasama dengan BNN Kota Tanjungpinang dan beberapa Dosen di program Studi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, dan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Maritim Raja Ali Haji, 5.Kekompakkan yang dimiliki oleh Kepengurusan Karang Taruna.

DAFTAR PUSTAKA

Dwiningrum, Siti Irene Astuti Dwiningrum., 2015. Desentralisasi dan Partisipasi Masyarakat dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Moleong, Lexy J., 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

---., 2011. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sastropoetro, Santoso R.A., 1988. Partisipasi, Komunikasi, Persuasi Dan Disiplin Dalam Pembangunan Nasional. Bandung.

Sugiyono, 2011. Metode Penelitian Administrasi Dilengkapi dengan Metode R&D.

Bandung: Alfabeta.

---., 2012. Metode Penelitian Administrasi Dilengkapi dengan Metode R&D. Bandung: Alfabeta.

Chandra, Teddy. 2011. Skripsi. Pemberdayaan Pemuda Pengangguran Melalui Usaha Industri Kecil Kerajinan Sarung Tenun. (Studi pada Pengrajin Tenun di Kelurahan Wanarejan Utara Kabupaten Pemalang). (tidak diterbitkan)

Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 77/HUK/2011 Tahun 2011 Tentang Pedoman Dasar Karang Taruna.

Peraturan Menpora RI No. 0059 Tahun 2013 tentang Pengembangan Kepemimpinan Pemuda.

Referensi

Dokumen terkait

4.1087 Ilmy Amiqoh Ilmu Administrasi Publik 4.1088 Dikhla Rif`A Ilmu Administrasi Publik 2.39 4.1089 Elfananda Istiqlalia Ilmu Administrasi Publik 4.1090 Hamida Condrowati Jayadi

[r]