• Tidak ada hasil yang ditemukan

PATOGEN YANG DITULARKAN MELALUI MAKANAN

N/A
N/A
Agus

Academic year: 2023

Membagikan "PATOGEN YANG DITULARKAN MELALUI MAKANAN"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

PATOGEN YANG DITULARKAN MELALUI MAKANAN

(FOODBORNE PATHOGENS)

Nyoman Semadi Antara, Ph.D.

Guru Besar Teknologi Pangan dan Industri Pertanian Program Master Ilmu dan Teknologi Pangan

Program Pasca Sarjana Universitas Udayana

(2)

Walaupun sudah ada kemajuan berkaitan dengan higiene, pengetahuan konsumen,

perlakuan terhadap makanan dan pengolahan, namun penyakit yang ditularkan melalui

makanan masih menjadi ancaman masyarakat di dunia.

(3)

Secara global WHO memperkirakan 1.5 milyar kejadian

diarrhea dan terjadi lebih dari 3 juta

kematian anak-anak di bawah 5 tahun, dan

proporsi terbesar terjadi karena

mengkonsumsi

makanan hewani yang tercemer mikroba

patogen dan toksinnya

(4)

Penyakit dari Makanan

Sporulation Growth and

lysis FOOD-BORNE DISEASES

POISONING INFECTION

Chemical poisoning

Intoxication Enterotoxigenic Invasive

Intestinal mucosa

Systemic Other

tissues Poisonous

plant tissues

Poisonous animal tissues

Microbial intoxication

Muscle Liver

Mycotoxin Bacterial toxin Algal toxin

Neurotoxin

Enterotoxin Interferes with

carbohydrate metabolism

(5)

Bakteri

Salmonellosis: endotoxin of Salmonella spp.

Clostridium perfringens illness: an enterotoxin released during sporulation of C. perfringens type A in the intestinal tract.

B. Cereus gastroenteritis: an

exoenterotoxin released during lysis of the cells.

Enteropahtogenic E. coli infection:

several serotype of E. coli some invasive and some enterotoxigenic.

Others (Yersiniosis, Shigelosis, Vibrio parahaemolyticus).

Staphylococcal intoxication

(staphylococcal enterotoxicosis): an enterotoxin produced by

Staphylococcus aureus

Botulism: a neurotoxin produced by Clostridium botulinum

FOOD-BORNE DISEASES Bacterian

INTOXICATION INFECTION

(6)

Emerging Foodborne Pathogens

• Definition:

those causing illnesses that have only recently appeared or been recognised in a population or that are well recognised but are rapidly

increasing in incidence or geographic range

• 60 % of the human pathogens are zoonotic

• 75 % of emerging zoonotic

(7)

Emerging Foodborne Diseases

• Penyakit yang baru muncul.

• Perluasan media penularan.

• Dimulai dengan peningkatan insiden atau kisaran geografis secara cepat.

• Sudah menyebar sebelumnya, namun baru dapat diidentifikasi dengan

pengetahuan atau metode baru untuk mengidentifikasi dan menganalisis

penyakit tersebut.

(8)

Emerging Foodborne Diseases Penyebabnya:

Perubahan lingkungan (teknologi, Iklim, dll.)

Produksi dan globalisasi pasokan pangan

Perkembangan ekonomi

Perjalanan dan perdaganagan Internasional

Perubahan karakter populasi

Perubahan atau gangguan kesehatan masyarakat

Perubahan gaya hidup

Perubahan karakter mikroba (adaptasi, mutasi, dll.)

(9)

Emerging foodborne bacteria

Salmonella (multidrug resistant strain)

Campylobacter jejuni

E. coli O157:H7

Listeria monocytogenes

S. aureus MRSA

Vibrio vulnificus

Yersinia enterocolitica

Aerobacter spp.

Mycobacterium paratuberculosis

(10)

Emerging foodborne viruses

• Hepatitis A and E

• Norovirus

• (Avian influenza, AI)

(11)

Emerging foodborne parasites

Cryptosporidium parvum

Cyclospora cayetanensis

Anisakis spp.

(12)
(13)

Pathogen Emerging foodborne diseaeses estimated annually

Economic losses estimated annualy

$ billion Cases No. of

Ilnesses

No. of Deaths

Campylobacter spp. 1,963,141 10,539 99 1.2

Salmonella non- typhoidal

1,341,873 15,608 553 2.4

E. coli O157:H7 62,458 1,843 52 .7

E. coli non-O157-STEC 31,229 921 26 .3

L. monocytogenes 2,493 2,298 499 2.3

Total 3,401,194 31,209 1,229 6.9

Reference: USDA’s Economic Research Service & CDC

(14)

Year Country Food Serotype/Phage type

No. of cases

No. of deaths 1991 Germany Orange cream S. enteritidis PT4 109 4

1991 Germany Puding (egg) S. enteritidis 87 10

1994 U.S.A Ice cream S. enteritidis 224000 -

2003 U.S.A Chicken S. typhimurium 38 -

2005 Spain Processed chicken

S. hadar 2138 1

2006 Norway Salami S. kedougou 54 1

2008 Ireland&U.K Beef, chicken S. agona 119 -

KLB (outbreak) Salmonella di Dunia

(15)

KLB (outbreak) penting Campylobacter di Dunia

Year Country Food No. of

cases

2000 U.K & Wales Raw milk 333

2001-2002 Australia Chicken 601

2005 Denmark Chicken salad 4

2005 Scotland Chicken pate 82

2005-2006 U.S.A Water 32

2007 U.S.A Cheese (from

unpasteurized milk)

67

2007 Denmark Water 16

(16)

Campylobacter jejuni

(17)

Negara Tahun Jumlah kasus (umur)

Komplikasi Isumber infeksi Japan 1996 >5499

(students)

12 deaths Alfalfa

U.S.A 1999 321 - Beef

Canada 2000 27 5 deaths Water

Sweden 2002 39 - Fermented

sausage

U.S.A 2002 34 5 HUS Ground beef

Netherlands 2005 32 - Steak tartare

U.S.A 2006 376 3 deaths Fresh

spinach

KLB (Outbreak) E. coli O157:H7 di dunia

(18)
(19)

Isolat E. coli O157:H7 yang ditemukan dalam contoh fecal sapi dan biri-biri di RPH Turki (Erol et al., 2008)

Sheep Cattle

Cattle (male)

Cattle

(female) Total

Number of samples

218 282 207 75 500

Number of positive samples

14 11 7 4 25

Percent (%)

6.42 3.90 3.38 5.33 5.00

(20)

Ketahanan terhadap Antibiotika

• Resistensi bakteri terhadap antibiotik sudah menjadi perhatian dunia, seperti beberapa bakteri berikut:

Salmonella Typhimurium DT 104 Campylobacter spp.

Listeria monocytogenes E. coli O157:H7

Staphylococcus aureus (MRSA) Enterococcus (VRE)

(21)

Risk

Research

Risk

management Epidemiologi cal evaluation

/ assessment Surveillance

Control of

Foodborne

Diseases

(22)

Control of Foodborne Disease

• Pendekatan “from farm to table”

• Implementasi GMP dan HACCP

(23)
(24)

Staph. aureus

 Masa inkubasi 1 - 6 jam

 Gejala utama pada 6 - 24 jam

Mual

Muntah

Diare

Nyeri perut

Tanpa Demam

Tidak sadarkan diri dan

dehidrasi pada kasus yang berat

(25)

Ketahanan Staph. aureus terhadap panas

Nilai - D pada 77°C

~ 0.001 - 0.0105 menit z = 8 - 12°C

Enterotoksin sangat tahan panas

( tahan pada suhu 100°C)

(26)

Cl. botulinum

Karakteristik Tip Proteolitik Tip Non-proteolitik

Masa inkubasi 12-36 jam sama

Lamanya sakit Beberapa hari- Beberapa bulan

Gejala Mual

Muntah

Gangguan penglihatan Vertigo

Dosis Toksik 0.005-0.1µg 0.1-0.5µg

(27)

Kondisi minimal untuk pertumbuhan dan daya tahan panas C. botulinum

Proteolitik Non-proteolitik

Tip Toksin A, B, F B, E, F

pH minimal 4.6 5

NaCl maksimal 10 % 3 %

aw minimal 0.93 0.97

Rentang suhu pertumbuhan 12.5 - 48°C 3.5 - 48°C

“Decimal reduction time”

spora pada suhu 100°C 25 menit <0.1 menit

(28)

B. cereus

Masa inkubasi 4 - 16 jam

Lamanya penyakit 12 - 24 jam

Gejala Nyeri perut

Diare encer Dosis dalam makanan 108 / g

(29)

Bahan makanan yang sering terkontaminasi oleh B. cereus

Makanan mentah:

Serealia

Sayuran kering

Kentang

Susu

Krim

Beras

Rempah-rempah

Makanan matang / jadi:

Produk daging gorengan / bakar

Sup

Nasi goreng / putih

(30)

Salmonella

Terdapat 2200 serotip

200 serotip merupakan penyebab penyakit yang ditularkan makanan di Eropa setiap tahun

70% kasus disebabkan oleh S. enteritidis dan S. typhimurium

Serotip terbagi menjadi subtip yang disebut tip-faga

(31)

Daya tahan panas

Salmonella dalam makanan

Salmonella rentan terhadap panas

Pasteurisasi cukup untuk membunuh Salmonella pada makanan dengan kelembaban tinggi

Pemanasan pada 70 °C selama 2 menit biasanya cukup untuk membunuh 106 Salmonella

(32)

Salmonellosis

Gejala utama

Diare

Demam

Keram perut

Muntah-muntah

Orang yang beresiko tinggi

Usia muda

Usia tua

Wanita hamil

Kekebalan yang lemah

Berpenyakit tertentu

Tingkat kefatalan

< 1%

Masa inkubasi

biasanya 12-36 jam

(33)

Bahan makanan mentah yang cenderung terkontaminasi Salmonella

 unggas

 daging

 susu

 telur

 buah-buahan

 kerang

 rempah-rempah dan jamu

 air yang tidak diolah

(34)

Campylobacter

Gambar di bawah mikroskop elektron

(35)

Daya tahan Campylobacter

Organisma ini sangat rentan, tidak tahan pada lingkungan pemasakan makanan.

 Peka terhadap panas

 Peka terhadap pengeringan

 Tahan pembekuan (beberapa bulan dalam daging dan unggas beku)

 Lebih tahan pada kondisi dingin daripada suhu kamar

(36)

Campylobacteriosis

 Gejala utama

Diare ringan hingga berat

Demam

Mual

Keram perut

 Orang yang beresiko

Bayi dan anak kecil

Orang lemah

 Masa inkubasi biasanya 2-5 hari

(37)

E. coli patogen

Enteropathogenic E. coli (EPEC)

Diare encer akut - anak rentan terhadap organisma ini

Enteroinvasive E. coli (EIEC)

Sindroma seperti disentri Enterotoxigenic E. coli (ETEC)

Diare encer akut - sering mengenai pelancong

Enterohaemorrhagic E. coli (EHEC) Sindroma diare berdarah

Inkubasi 8-44 jam tergantung pada jenisnya

(38)

Bahan makanan mentah cenderung

terkontaminasi dengan E. coli patogen

Daging Ikan

Sayur-sayuran Susu

Air tercemar

(39)

Dosis penularan minimum

ETEC 106

Shigella, EIEC 10-100

EHEC 100

L. monocytogenes Tidak diketahui mungkin rendah dalam kelompok beresiko

Salmonella (tak termasuk typhi ) 106 (jumlah rendah, mis.10-1000,

dapat menyebabkan infeksi pada makanan berlemak seperti coklat &

keju)

Campylobacter kurang lebih. 500

Salmonella typhi 10-100

EPEC 106

V. cholerae 106

(40)
(41)

Factors contributing to the global incidence of foodborne disease

Poor sanitary conditions

Malnutrition

Changing demographics (increasing population of infants, elderly)

Inadequate public health infrastructure

Inadequate hygienic and technological conditions of food production

Inadequate cooking, reheating and storage conditions

Increasing tourism and international trade

Increasing animal movement and insufficient control of borders

Increasing international trade of animal and food

Inadequate legislation and official control system

Emerging/reemerging foodborne pathogens

Acquisition of virulence and antibiotic genes by nonpathogenic bacteria

Adaptation and enhanced survival of pathogens in food

Inadequate consumer education

(42)

Trichinellosis

outbreak in Turkey

Although there is a religious restriction on pork

meat consumption, in January 2004 there was a big trichinellosis outbreak occurred by consuming çiğ köfte (raw ground meat ball-traditional food) in Izmir

542 people were affected and samples were found to be contaminated with T. britovi

(43)

One World One Health (OWOH)

• The medical and veterinary professions have a common interest in many diseases, primarily zoonotic diseases such as BSE, SARS and, most recently, Avian Influenza (H5N1), have

highlighted the need for interprofessional

collaboration not just locally and nationally, but on a global scale.

(44)

One World One Health (OWOH)

• Improving animal and human health globally through collaboration among all the health

sciences, especially between the veterinary and human medical professions to address critical needs.

Gambar

Gambar di bawah mikroskop elektron

Referensi

Dokumen terkait

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,