PATOGEN YANG DITULARKAN MELALUI MAKANAN
(FOODBORNE PATHOGENS)
Nyoman Semadi Antara, Ph.D.
Guru Besar Teknologi Pangan dan Industri Pertanian Program Master Ilmu dan Teknologi Pangan
Program Pasca Sarjana Universitas Udayana
Walaupun sudah ada kemajuan berkaitan dengan higiene, pengetahuan konsumen,
perlakuan terhadap makanan dan pengolahan, namun penyakit yang ditularkan melalui
makanan masih menjadi ancaman masyarakat di dunia.
Secara global WHO memperkirakan 1.5 milyar kejadian
diarrhea dan terjadi lebih dari 3 juta
kematian anak-anak di bawah 5 tahun, dan
proporsi terbesar terjadi karena
mengkonsumsi
makanan hewani yang tercemer mikroba
patogen dan toksinnya
Penyakit dari Makanan
Sporulation Growth and
lysis FOOD-BORNE DISEASES
POISONING INFECTION
Chemical poisoning
Intoxication Enterotoxigenic Invasive
Intestinal mucosa
Systemic Other
tissues Poisonous
plant tissues
Poisonous animal tissues
Microbial intoxication
Muscle Liver
Mycotoxin Bacterial toxin Algal toxin
Neurotoxin
Enterotoxin Interferes with
carbohydrate metabolism
Bakteri
◆ Salmonellosis: endotoxin of Salmonella spp.
◆ Clostridium perfringens illness: an enterotoxin released during sporulation of C. perfringens type A in the intestinal tract.
◆ B. Cereus gastroenteritis: an
exoenterotoxin released during lysis of the cells.
◆ Enteropahtogenic E. coli infection:
several serotype of E. coli some invasive and some enterotoxigenic.
◆ Others (Yersiniosis, Shigelosis, Vibrio parahaemolyticus).
◆ Staphylococcal intoxication
(staphylococcal enterotoxicosis): an enterotoxin produced by
Staphylococcus aureus
◆ Botulism: a neurotoxin produced by Clostridium botulinum
FOOD-BORNE DISEASES Bacterian
INTOXICATION INFECTION
Emerging Foodborne Pathogens
• Definition:
those causing illnesses that have only recently appeared or been recognised in a population or that are well recognised but are rapidly
increasing in incidence or geographic range
• 60 % of the human pathogens are zoonotic
• 75 % of emerging zoonotic
Emerging Foodborne Diseases
• Penyakit yang baru muncul.
• Perluasan media penularan.
• Dimulai dengan peningkatan insiden atau kisaran geografis secara cepat.
• Sudah menyebar sebelumnya, namun baru dapat diidentifikasi dengan
pengetahuan atau metode baru untuk mengidentifikasi dan menganalisis
penyakit tersebut.
Emerging Foodborne Diseases Penyebabnya:
▫ Perubahan lingkungan (teknologi, Iklim, dll.)
▫ Produksi dan globalisasi pasokan pangan
▫ Perkembangan ekonomi
▫ Perjalanan dan perdaganagan Internasional
▫ Perubahan karakter populasi
▫ Perubahan atau gangguan kesehatan masyarakat
▫ Perubahan gaya hidup
▫ Perubahan karakter mikroba (adaptasi, mutasi, dll.)
Emerging foodborne bacteria
• Salmonella (multidrug resistant strain)
• Campylobacter jejuni
• E. coli O157:H7
• Listeria monocytogenes
• S. aureus MRSA
• Vibrio vulnificus
• Yersinia enterocolitica
• Aerobacter spp.
• Mycobacterium paratuberculosis
Emerging foodborne viruses
• Hepatitis A and E
• Norovirus
• (Avian influenza, AI)
Emerging foodborne parasites
• Cryptosporidium parvum
• Cyclospora cayetanensis
• Anisakis spp.
Pathogen Emerging foodborne diseaeses estimated annually
Economic losses estimated annualy
$ billion Cases No. of
Ilnesses
No. of Deaths
Campylobacter spp. 1,963,141 10,539 99 1.2
Salmonella non- typhoidal
1,341,873 15,608 553 2.4
E. coli O157:H7 62,458 1,843 52 .7
E. coli non-O157-STEC 31,229 921 26 .3
L. monocytogenes 2,493 2,298 499 2.3
Total 3,401,194 31,209 1,229 6.9
Reference: USDA’s Economic Research Service & CDC
Year Country Food Serotype/Phage type
No. of cases
No. of deaths 1991 Germany Orange cream S. enteritidis PT4 109 4
1991 Germany Puding (egg) S. enteritidis 87 10
1994 U.S.A Ice cream S. enteritidis 224000 -
2003 U.S.A Chicken S. typhimurium 38 -
2005 Spain Processed chicken
S. hadar 2138 1
2006 Norway Salami S. kedougou 54 1
2008 Ireland&U.K Beef, chicken S. agona 119 -
KLB (outbreak) Salmonella di Dunia
KLB (outbreak) penting Campylobacter di Dunia
Year Country Food No. of
cases
2000 U.K & Wales Raw milk 333
2001-2002 Australia Chicken 601
2005 Denmark Chicken salad 4
2005 Scotland Chicken pate 82
2005-2006 U.S.A Water 32
2007 U.S.A Cheese (from
unpasteurized milk)
67
2007 Denmark Water 16
Campylobacter jejuni
Negara Tahun Jumlah kasus (umur)
Komplikasi Isumber infeksi Japan 1996 >5499
(students)
12 deaths Alfalfa
U.S.A 1999 321 - Beef
Canada 2000 27 5 deaths Water
Sweden 2002 39 - Fermented
sausage
U.S.A 2002 34 5 HUS Ground beef
Netherlands 2005 32 - Steak tartare
U.S.A 2006 376 3 deaths Fresh
spinach
KLB (Outbreak) E. coli O157:H7 di dunia
Isolat E. coli O157:H7 yang ditemukan dalam contoh fecal sapi dan biri-biri di RPH Turki (Erol et al., 2008)
Sheep Cattle
Cattle (male)
Cattle
(female) Total
Number of samples
218 282 207 75 500
Number of positive samples
14 11 7 4 25
Percent (%)
6.42 3.90 3.38 5.33 5.00
Ketahanan terhadap Antibiotika
• Resistensi bakteri terhadap antibiotik sudah menjadi perhatian dunia, seperti beberapa bakteri berikut:
Salmonella Typhimurium DT 104 Campylobacter spp.
Listeria monocytogenes E. coli O157:H7
Staphylococcus aureus (MRSA) Enterococcus (VRE)
Risk
Research
Risk
management Epidemiologi cal evaluation
/ assessment Surveillance
Control of
Foodborne
Diseases
Control of Foodborne Disease
• Pendekatan “from farm to table”
• Implementasi GMP dan HACCP
Staph. aureus
Masa inkubasi 1 - 6 jam
Gejala utama pada 6 - 24 jam
Mual
Muntah
Diare
Nyeri perut
Tanpa Demam
Tidak sadarkan diri dan
dehidrasi pada kasus yang berat
Ketahanan Staph. aureus terhadap panas
Nilai - D pada 77°C
~ 0.001 - 0.0105 menit z = 8 - 12°C
Enterotoksin sangat tahan panas
( tahan pada suhu 100°C)
Cl. botulinum
Karakteristik Tip Proteolitik Tip Non-proteolitik
Masa inkubasi 12-36 jam sama
Lamanya sakit Beberapa hari- Beberapa bulan
Gejala Mual
Muntah
Gangguan penglihatan Vertigo
Dosis Toksik 0.005-0.1µg 0.1-0.5µg
Kondisi minimal untuk pertumbuhan dan daya tahan panas C. botulinum
Proteolitik Non-proteolitik
Tip Toksin A, B, F B, E, F
pH minimal 4.6 5
NaCl maksimal 10 % 3 %
aw minimal 0.93 0.97
Rentang suhu pertumbuhan 12.5 - 48°C 3.5 - 48°C
“Decimal reduction time”
spora pada suhu 100°C 25 menit <0.1 menit
B. cereus
Masa inkubasi 4 - 16 jam
Lamanya penyakit 12 - 24 jam
Gejala Nyeri perut
Diare encer Dosis dalam makanan 108 / g
Bahan makanan yang sering terkontaminasi oleh B. cereus
• Makanan mentah:
▫ Serealia
▫ Sayuran kering
▫ Kentang
▫ Susu
▫ Krim
▫ Beras
▫ Rempah-rempah
• Makanan matang / jadi:
▫ Produk daging gorengan / bakar
▫ Sup
▫ Nasi goreng / putih
Salmonella
Terdapat 2200 serotip
200 serotip merupakan penyebab penyakit yang ditularkan makanan di Eropa setiap tahun
70% kasus disebabkan oleh S. enteritidis dan S. typhimurium
Serotip terbagi menjadi subtip yang disebut tip-faga
Daya tahan panas
Salmonella dalam makanan
Salmonella rentan terhadap panas
Pasteurisasi cukup untuk membunuh Salmonella pada makanan dengan kelembaban tinggi
Pemanasan pada 70 °C selama 2 menit biasanya cukup untuk membunuh 106 Salmonella
Salmonellosis
Gejala utama
Diare
Demam
Keram perut
Muntah-muntah
Orang yang beresiko tinggi
Usia muda
Usia tua
Wanita hamil
Kekebalan yang lemah
Berpenyakit tertentu
Tingkat kefatalan
< 1%
Masa inkubasi
biasanya 12-36 jam
Bahan makanan mentah yang cenderung terkontaminasi Salmonella
unggas
daging
susu
telur
buah-buahan
kerang
rempah-rempah dan jamu
air yang tidak diolah
Campylobacter
Gambar di bawah mikroskop elektron
Daya tahan Campylobacter
Organisma ini sangat rentan, tidak tahan pada lingkungan pemasakan makanan.
Peka terhadap panas
Peka terhadap pengeringan
Tahan pembekuan (beberapa bulan dalam daging dan unggas beku)
Lebih tahan pada kondisi dingin daripada suhu kamar
Campylobacteriosis
Gejala utama
Diare ringan hingga berat
Demam
Mual
Keram perut
Orang yang beresiko
Bayi dan anak kecil
Orang lemah
Masa inkubasi biasanya 2-5 hari
E. coli patogen
Enteropathogenic E. coli (EPEC)
Diare encer akut - anak rentan terhadap organisma ini
Enteroinvasive E. coli (EIEC)
Sindroma seperti disentri Enterotoxigenic E. coli (ETEC)
Diare encer akut - sering mengenai pelancong
Enterohaemorrhagic E. coli (EHEC) Sindroma diare berdarah
Inkubasi 8-44 jam tergantung pada jenisnya
Bahan makanan mentah cenderung
terkontaminasi dengan E. coli patogen
Daging Ikan
Sayur-sayuran Susu
Air tercemar
Dosis penularan minimum
ETEC 106
Shigella, EIEC 10-100
EHEC 100
L. monocytogenes Tidak diketahui –mungkin rendah dalam kelompok beresiko
Salmonella (tak termasuk typhi ) 106 (jumlah rendah, mis.10-1000,
dapat menyebabkan infeksi pada makanan berlemak seperti coklat &
keju)
Campylobacter kurang lebih. 500
Salmonella typhi 10-100
EPEC 106
V. cholerae 106
Factors contributing to the global incidence of foodborne disease
▪ Poor sanitary conditions
▪ Malnutrition
▪ Changing demographics (increasing population of infants, elderly)
▪ Inadequate public health infrastructure
▪ Inadequate hygienic and technological conditions of food production
▪ Inadequate cooking, reheating and storage conditions
▪ Increasing tourism and international trade
▪ Increasing animal movement and insufficient control of borders
▪ Increasing international trade of animal and food
▪ Inadequate legislation and official control system
▪ Emerging/reemerging foodborne pathogens
▪ Acquisition of virulence and antibiotic genes by nonpathogenic bacteria
▪ Adaptation and enhanced survival of pathogens in food
▪ Inadequate consumer education
Trichinellosis
outbreak in Turkey
• Although there is a religious restriction on pork
meat consumption, in January 2004 there was a big trichinellosis outbreak occurred by consuming çiğ köfte (raw ground meat ball-traditional food) in Izmir
• 542 people were affected and samples were found to be contaminated with T. britovi
One World One Health (OWOH)
• The medical and veterinary professions have a common interest in many diseases, primarily zoonotic diseases such as BSE, SARS and, most recently, Avian Influenza (H5N1), have
highlighted the need for interprofessional
collaboration not just locally and nationally, but on a global scale.
One World One Health (OWOH)
• Improving animal and human health globally through collaboration among all the health
sciences, especially between the veterinary and human medical professions to address critical needs.