• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF ADAT PERKAWINAN MASYARAKAT BIMA (MBOJO) DALAM - Unismuh

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PDF ADAT PERKAWINAN MASYARAKAT BIMA (MBOJO) DALAM - Unismuh"

Copied!
105
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

Kajian Pustaka

  • Penelitian Yang Relevan
  • Sastra
  • Prosa Fiksi
  • Novel
  • Pendekatan Mimetik
  • Tinjauan Umum Tentang Bima

Apabila telah tercapai batas tertentu, maka berdasarkan musyawarah kedua belah pihak, yaitu baik keluarga laki-laki maupun keluarga isteri, ditetapkan waktu dan waktu untuk membicarakan mahar dan melangsungkan perkawinan. Jadi yang dimaksud adalah upacara penyerahan mahar dari keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan. Dalam acara tersebut, pihak keluarga mempelai wanita, tetangga, dan kerabat dari desa yang sama menunggu dan menyambut kedatangan rombongan laki-laki yang mengajak masyarakat desa dan keluarganya untuk mengantarkan mahar bersama-sama ke rumah keluarga mempelai wanita.

Pada acara hadra juga beberapa sesepuh melakukan upacara Kapancha, yaitu membubuhkan henna yang ditumbuk halus di ujung jari para pria. Keluarga pihak laki-laki mengajak beberapa tetangga dan masyarakat desanya untuk mengantarkan mempelai pria ke rumah keluarga mempelai pria. Sementara itu pihak pihak wanita tak lupa mengumpulkan para tamu untuk menunggu kedatangan rombongan mempelai pria.

Setelah rombongan pengantin lelaki tiba di rumah pengantin perempuan, mereka terus dijemput dan dipersilakan untuk duduk di bilik pengantin perempuan yang telah sabar menunggu untuk dinikahkan. Penari wanita memakai gaun merah dan emas, manakala lelaki membawa cerut di kepalanya yang melambangkan anak bulan, memakai seluar ala Aceh dan membawa keris.

Kerangka Pikir

Landasan atau kerangka penulisan ini adalah mendeskripsikan adat perkawinan masyarakat Bima dalam novel Wadu Ntanda Rahi karya Alan Malingi yang akan dianalisis berdasarkan 1) Panati, 2) Wi'i Ngahi, 3) Pita Ngahi dan 4) Ngge'e Nuru.

METODE PENELITIAN

  • Variabel Dan Desain Penelitian
  • Definisi Istilah
  • Data dan Sumber Data
  • Teknik pengumplan Data
  • Teknik Analisi Data

Setelah La Nggini mengungkap rahasia hatinya, Ompu Ngaro dan Ina Male mengetahui dan menyadari bahwa putra kesayangannya mulai tertarik pada La Nggini. Kutipan di atas menjelaskan bahwa La Nggusu mengungkapkan perasaannya kepada orang tuanya agar orang tuanya merasa bahagia setelah mengetahui anaknya mencintai La Nggini. “Kemudian La Wila mengajak kami duduk di atas karpet pandan yang ditenun oleh La Nggini.”

Kutipan di atas menjelaskan bahwa La Nggini hanya diam saat menanyakan hal tersebut kepada La Wila hingga akhirnya ia mengungkapkannya. Kutipan di atas menjelaskan bahwa La Nggini menerima lamaran tersebut dan kemudian La Wila bertemu dengan Ompu Nggara dan Ina Male untuk memperjelas rencana selanjutnya. Kutipan di atas menjelaskan bahwa Ina Mala atau ibu La Nggusu meminta La Willa untuk terus merawat dan mengembangkan La Nggini.

Kutipan di atas menjelaskan bahwa La Nggini ingin mengambil kembali pakaian yang dipinjamkan temannya karena utusan Ompu Nggaro akan datang. Saat itu la nggusu dan la nggini ibarat dua orang yang berdiri berhadapan. Untuk memperjelas dan mempertajam niat Ompu Nggaro untuk mempersatukan La Nggusu dan La Nggini dalam sebuah ikatan suci.

Dalam penelitian ini kita mengkaji adat perkawinan masyarakat Bima dalam novel WNR karya Alan Malingi yang menceritakan kisah cinta La Nggusu dan La Nggini serta menggambarkan kebudayaan masyarakat Bima yang masih bertahan hingga saat ini. Saat La Nggusu dan La Nggini melangsungkan pernikahannya, mereka menggunakan tahapan pernikahan adat masyarakat Bima yaitu 1) Panati, 2) Wi'i Ngahi, 3) Pita Ngahi dan 4) Ngge'e Nuru. Gambaran mimesis yang diungkapkan La nggusu dan La nggini dalam novel “Wadu Ntanda Rahi” sama dengan kenyataan yang terjadi di masyarakat Bima yang melekat hingga saat ini.

Setelah La Nggusu mengungkap rahasia hatinya, Ompu Ngaro dan Ina Male mengetahui dan menyadari bahwa putra kesayangannya tertarik pada La Nggini.

PENYAJIAN DATA DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Kutipan di atas menjelaskan bahwa jika orang tua laki-laki ingin meminang seorang gadis untuk anaknya, maka dia harus pergi ke rumahnya, namun diam-diam tahap Panati telah dimulai. Kutipan di atas menjelaskan bahwa sebelum orang tua anak laki-laki memberitahukan tujuannya, sebaiknya orang tua anak laki-laki tersebut berbicara seperti percakapan biasa. Kutipan di atas menjelaskan bahwa orang tua pria tersebut mulai mengungkap maksud kedatangannya, meski dalam bentuk sindiran.

Namun istri Ompu Nggaro berpesan agar suaminya jujur ​​seperti kutipan di bawah ini. Kutipan di atas menjelaskan bahwa orang tua gadis tersebut sudah memahami tujuan tersebut, namun La Wila memintanya untuk mengungkapkannya lebih jelas, seperti pada kutipan di bawah ini. Kutipan di atas menjelaskan bahwa orang tua La nggusu jujur ​​akan tujuannya pulang.

Kutipan di atas menjelaskan bahwa La Wila menceritakan tentang tujuan kedatangan Ompu Nggaro dan Ina Male untuk menikahinya. Kutipan di atas menjelaskan bahwa pihak laki-laki akan kembali ke rumah pihak perempuan untuk membicarakan apa yang akan dipersiapkan. Kutipan di atas menjelaskan bahwa pada masa Nge'e Nuru la Nggusu, beliau terus bekerja keras pada masa itu.

Kutipan di atas menjelaskan bahwa laki-laki harus membangun rumah ketika sudah menikah. Kutipan di atas menjelaskan bahwa adat istiadat pada masa itu adalah untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan. Kutipan di atas menjelaskan bahwa pada masa Nge’e Nuru, selain kesabaran sang pemuda, kecerdasan sang gadis juga diuji, misalnya dalam hal memasak.

Kutipan di atas menjelaskan bahwa La Nggusu telah meninggal dunia di Nge'e Nuru dan pihak keluarga perempuan tersebut sangat senang dengan kepribadian La Nggusu.

Pembahasan

Sementara itu, La ngusu menggambarkan seorang pria yang bekerja keras, meski pada akhirnya menemukan kebahagiaan dan melupakan keluarga serta meragukan kesetiaan istrinya. Panati (Bahasa Bima) yaitu utusan resmi keluarga laki-laki yang ingin melamar anak perempuan, hal ini terjadi setelah keluarga laki-laki mengunjungi keluarga perempuan untuk memeriksa apakah lamaran itu memungkinkan. Pada tahap ini, orang tua Panati menanyakan kepada anak laki-laki tersebut apakah putrinya telah dilamar atau belum.

Wi'i Ngahi (Bahasa Bima) yang artinya lamaran diterima dimana Panati dari pihak laki-laki diterima dan disambut baik oleh pihak keluarga pihak perempuan, untuk merundingkan segala sesuatu yang berkaitan dengan lamaran kepada pihak gadis. Selain waktu yang disepakati untuk mengirim utusan, permintaan pihak laki-laki adalah agar pihak perempuan dapat mendidik dan merawat gadis tersebut dengan baik. Berdasarkan penjelasan di atas, Wi'i Ngahi berpendapat bahwa laki-laki, khususnya perempuan, menjunjung tinggi kehormatannya.

Ngge'e Nuru (Bahasa Bima) yaitu calon menantu tinggal bersama di rumah calon menantu (khusus di beberapa desa dan hal ini jarang terjadi) menurut Pita Ngaha (Bahasa Bima). ...pertunangan yang khidmat, maka calon menantunya berhutang budi kepada Ngge'e Nuru. Ngge’e Nuru adalah kewajiban calon menantu untuk tinggal di rumah calon mertuanya selama mereka melaksanakan pertunangan. Di Nge,e Nur, laki-laki harus bekerja keras membantu perempuan dalam pekerjaan, mulai dari hal terkecil hingga hal tersulit.

Jadi dengan Nge,e Nuru, laki-laki bisa rukun dengan calon mertuanya, sama seperti perempuan. Selain permintaan untuk melakukan Nge'e Nuru, hendaknya istri menanyakan syarat lain kepada suami... seperti kutipan di bawah ini. Adapun manfaat Nge'e Nuru, selain laki-laki bisa menyesuaikan diri dengan keluarga perempuan, juga menguji kesabaran dan kegigihan mereka dalam bekerja keras.

Tahapan Adat Perkawinan Orang Bima dalam Novel Wadu Ntanda Rahi karya Alan Malingi adalah sebagai berikut: a) Panati (Bahasa Bima), yaitu utusan resmi keluarga pihak laki-laki yang hendak meminang pihak perempuan.

Saran

Dan di ladang yang lain, ada seorang gadis lajang yang diadopsi dan dibesarkan oleh seorang laki-laki bernama Ompu Wila, gadis tersebut bernama La Nggini. Kecantikan dan kebaikan hati La Nggini membuat para lelaki di desanya menginginkannya sebagai istri. namun La Nggini tidak pernah memberikan kesempatan kepada laki-laki yang ingin mendekatinya. Pada suatu hari La Ngusu sedang bekerja di sawah bersama Ina Male dan Ompu Nggaro, ditengah-tengah pekerjaannya ia terhenti karena melihat sosok gadis cantik nan anggun yaitu La Nggini, La Nggini yang datang untuk memberikan makan siang kepada Ina . Male dan Ompu Nggaro juga tidak menyangka. mereka akan bertemu dengan La Ngusu. Setelah mengenal La Nggini selama beberapa hari, La Nggusu selalu teringat pada La Nggini dan berniat pergi ke rumah La Nggini di desa seberang.

Saat La Ngusu tiba, Ompu Wila menyambut baik kedatangan La Ngusu, dan La Ngusu mengutarakan keinginannya untuk memperistri La Nggini. Ia selalu melaut, ketika berada di tengah laut, La Ngusu berencana merantau ke Goa (Makassar) agar kehidupannya bisa lebih baik bersama La Nggini. Saat kapal yang hendak mengangkut La Ngusu hendak berangkat, La Ngusu menyerahkan Pasapu Monca kepada La Nggini.

Sekarang hanya tersisa dua wanita lemah. Untuk bertahan hidup, La Nggini bekerja di ladang dan sawah tetangga untuk mendapatkan makanan. Suatu hari seorang teman datang dan menawari La Nggini untuk datang bekerja di pelabuhan dan mengelola toko miliknya. Tergiur dengan kekayaan yang dijanjikan sang nakhoda kapal, temannya rela menjerat La Nggini dengan memfitnahnya karena melakukan perbuatan terlarang dengan pemilik kapal.

Berminggu-minggu setelah berada di sana, warga mengetahui bahwa La Nggini tidak bersalah dan itu semua hanyalah fitnah yang dilakukan teman-temannya. Di tengah laut, kapal yang ditumpangi La Ngusu tenggelam, kabar tersebut sampai ke telinga kalangan atas dan membuatnya terpuruk dan terpukul. Ompu Nggaro dan Ina Male mengangguk sambil memandang sosok La Nggini dari balik tirai yang memisahkan ruang tamu dengan halaman” (WNR,51).

“Kedatangan Ompu Nggaro dan Ina Male tak lain untuk menyampaikan keinginan la ngusu untuk menikah denganmu.” La Wila menghampirinya. Namun, bukan berarti isyarat kebebasan yang membiarkan ngsu dan nggini bertemu seenaknya, bermesraan, dan bebas pergi kemana saja. Masa saling tutur dan bertingkah laku antara la nggsu dan la nggini serta antara keluarga ompu nggaro dan la wila, masa tersebut menyatakan dengan tegas dan jelas bahwa la nggsu dan la nggini telah memasuki suatu hubungan adat yang sulit diputuskan.

Referensi

Dokumen terkait

Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa terdapat empat jenis tindak tutur dalam tuturan upacara perkawinan masyarakat Tapanuli Selatan, yaitu tindak

Perilaku Seksual dalam Novel Larung Karya Ayu Utami: Analisis Psikologi.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku seksual dalam novel.. Larung terbagi menjadi empat

Konsep ini muncul dalam berbagai bentuk pelaksanaan di dalam Masyarakat In- donesia, dimana dapat disimpulkan bahwa konsep pemaafan yang ada dalam masyarakat adat tidak serta

Proses pribumisasi Islam pada tradisi peta kapanca itulah yang kemudian membentuk pola atau corak Islam yang khas Bima yang merupakan wajah Islam Nusantara, yaitu Islam

Ragam bahasa ini dapat juga ditemukan pada estetis bahasa yang digunakan dalam umpasa ‘pantun’ dalam masyarakat Simalungun, yang berbeda pengucapannya dari masing

Penelitian yang berjudul “Sinonim Bahasa Bima dalam Tuturan Masyarakat “Sie: Kajian Semantik” menggunakan metode yang bersifat deskriptif kualitatif yaitu peneliti

Berkaitan dengan pembahasan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa dalam Novel Cinta di Telaga Nabi karya Abdillah F Hasan terdapat perilaku masyarakat

Sea Nono Heu bagi masyarakat Suku Amarasi di Timor adalah suat tahapan yang dipandang sangat penting dalam perkawinan secara adat, dimana setelah pengantin pria telah menjalankan