• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF BENTUK -AN DALAM BAHASA INDONESIA 1. Pendahuluan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "PDF BENTUK -AN DALAM BAHASA INDONESIA 1. Pendahuluan"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BENTUK –AN DALAM BAHASA INDONESIA

1. Pendahuluan

Bahasa Indonesia tergolong ke dalam bahasa yang memiliki tipologi Aglutinasi. Bahasa yang termasuk dalam golongan ini afiks memegang peranan yang sangat penting dalam pembentukan kata jadian. Bentukan-bentukan kata dilakukan dengan melekatkan afiks pada suatu kata yaitu di muka, di tengah, dan di akhir (Bawa, 1980:8).

Bahasa Indonesia memiliki seperangkat sistem, seperti sistem fonologi, sistem morfologi, dan sintaksis. Morfologi sebagai salah satu perangkat sistem memiliki pula beberapa sistem, salah satu di antaranya adalah afiks. Afiks ini memiliki subbagian sistem lagi yaitu subbagian sistem prefiks, infiks, dan sistem sufiks.

Mengingat akan pentingnya peranan afiks dalam bahasa Indonesia, pada makalah ini akan dibicarakan salah satu subbagian sistem sufiks yaitu –an dalam bahasa Indonesia. Masalah ini belum pernah dibicarakan secara mengkhusus.

Namun secara sepintas telah banyak dibicarakan oleh para ahli bahasa, seperti oleh Gorys Keraf dalam bukunya yang berjudul Tatabahasa Indonesia, J.S.

Badudu dalam bukunya yang berjudul Kaidah Bahasa Indonesia dan Pelik-Pelik Bahasa Indonesia, M. Ramlan dalam bukunya yang berjudul Morfologi Suatu Pengantar Tinjauan Deskriptif. Soekono Wiejosoedarmo dalam bukunya yang berjudul Tatabahasa Bahasa Indonesia.

1

(2)

Setelah memperhatikan buku-buku yang ada, ternyata semuanya senada, yaitu sama-sama membicarakan akhiran –an atau –an sebagai imbuhan saja.

Selain itu belum ditegaskan –an sebagai afiks, –an sebagai morfem, dan juga belum ditegaskan apakah sejumlah –an tersebut merupakan satu morfem atau lebih dari satu morfem. Dengan demikian, penelitian yang dilakukan dalam kesempatan ini ialah penelitian tentang –an dalam bahasa Indonesia dengan ruang lingkup yang lebih luas dan hasilnya juga diharapkan berbeda dengan hasil-hasil penelitian yang telah ada.

Ruang lingkup masalah yang akan diteliti meliputi identitas –an dalam bahasa Indonesia yaitu apakah semuanya merupakan bentuk linguistik ataukah ada –an yang bukan bentuk linguistik, apakah semuanya merupakan afiks ataukah ada yang bukan merupakan afiks, apakah semuanya merupakan morfem ataukah ada yang bukan merupakan morfem. Semua –an yang telah terbukti sebagai morfem itu apakah semuanya merupakan satu morfem ataukah lebih dari satu morfem. Kemudian untuk setiap morfem tersebut akan dianalisis mengenai bentuk, distribusi dan fungsinya.

Untuk mencapai tujuan pembahasan –an dalam bahasa Indonesia dalam analisis menggunakan teori struktural yang memperhatikan struktur bentuk bahasa, arti, hubungan sintagmatik, dan hubungan paradigmatik. Mengingat dikotomi-dikotomi Ferdinand de Saussure sangat menunjang, maka penelitian ini bersifat sinkronik (memiliki sifat kekinian) yaitu memiliki suatu objek berdasarkan kurun waktu tertentu.

(3)

2. Identitas –An dalam Bahasa Indonesia

Dalam bahasa Indonesia sering dijumpai kata-kata yang bersufiks –an.

Seperti –an dalam kata-kata lautan, harian, ribuan, orang-orangan, uritan, imbalan, dan lain-lain. Apakah semua –an tersebut merupakan bentuk linguistik, merupakan afiks, merupakan morfem (termasuk satu morfem), ataukah ada di antaranya yang tidak dapat disebut bentuk linguistik, bukan afiks, dan bukan morfem. Hal ini akan dijelaskan dalam pembicaraan berikut.

2.1 -An sebagai Bentuk Linguistik

M. Ramlan dalam bukunya yang berjudul Morfologi mengemukakan bentuk linguistik adalah satuan-satuan bahasa yang mengandung arti, baik arti leksikal maupun arti gramatikal. Bentuk lingustik itu mungkin berupa morfem, kata, frasa, dan kalimat (1983:7). Dengan demikian, setiap satuan bahasa asal sudah terbukti mengandung arti baik arti leksikal maupun arti gramatikal dapat dimasukkan ke dalam bentuk linguistik.

Beranjak dari pengertian bentuk linguistik di atas, dapat ditentukan yang mana di antara sekian banyak –an dalam bahasa Indonesia yang dapat dimasukkan ke dalam bentuk linguistik. Seperti –an dalam kalimat-kalimat di bawah ini : (1) Laporan mingguan dikerjakan oleh sekretaris.

(2) Orang-orangan dipasang di tengah sawah.

Kata mingguan/’tiap-tiap minggu’. Dalam kalimat (1) tersebut di atas dapat dibagi-bagi lagi menjadi satuan-satuan yang lebih kecil yang mengandung arti, yaitu menjadi minggu/dan –an. Satuan bahasa minggu mengandung arti yang disebut arti leksikal yang tercantum di dalam kamus. Adapun arti –an ialah ‘tiap-

(4)

tiap’. Arti ini muncul setelah –an dibubuhkan pada kata minggu. Sebab itu arti-arti dimilikinya disebut arti gramatikal. Oleh karena itu, –an dalam kata mingguan telah terbukti sebagai satuan bahasa yang mengandung arti (arti gramatikal), maka bentuk itu dapat disebut sebagai bentuk linguistik.

Dalam kalimat (2) kata orang-orang ‘seperti atau menyerupai orang atau orang-orang’. Kata ini dapat dibagi menjadi bagian yang lebih kecil yang mengandung arti. Bagian-bagian tersebut yaitu orang-orang memiliki arti leksikal yang dapat dilihat dalam kamus, dan –an yang berarti ‘seperti atau menyerupai’, arti tersebut disebut dengan arti gramatikal. Dengan demikian, –an dalam kata orang-orangan adalah bentuk linguistik.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa setiap –an dalam bahasa Indonesia yang telah terbukti mengandung arti dapat dimasukkan kedalam bentuk linguistik. Beberapa contoh lain yaitu makanan, gambaran.

2.2 Bentuk –An Bukan bentuk Linguistik

Selain –an sebagai bentuk linguistik ada juga –an yang bukan bentuk linguistik. Misalnya –an dalam kata uritan. Kata ini tidak dapat dibagi-bagi lagi menjadi satuan-satuan yang lebih kecil yang mengandung arti, tetapi hanya dapat dibagi menurut suku katanya. Satuan bahasa –an dalam kata uritan tidak mengandung arti. Oleh karena itu, –an pada kata tersebut bukan bentuk linguistik, melainkan hanya suku kata. Demikian pula –an dalam kata berikut ini bukan merupakan bentuk linguistik yaitu cendawan, senapan, halaman dan sebagainya.

(5)

2.3 Bentuk –An Sebagai Afiks

Di dalam bahasa Indonesia ditentukan bentuk bebas dan bentuk terikat.

Bentuk terikat ada yang berupa afiks dan ada yang berupa klitika. Afiks adalah suatu bentuk yang di dalam suatu kata merupakan unsur langsung yang bukan bentuk bebas, yang mempunyai kesanggupan melekat pada bentuk lain untuk membentuk kata baru (Wirjosoedarmo, 1985:98) misalnya satuan ter-, me-, -kan, - an tidak bisa berdiri sendiri, baik dalam tuturan biasa maupun secara gramatikal.

Satuan-satuan tersebut bersama-sama dengan satuan lain membentuk suatu kata.

Misalnya –kan dengan kata jalan membentuk kata jalankan, -an bersama dengan kata minum membentuk kata minuman. Dilihat dari sudut arti, satuan –kan dan – an tidak memiliki makna leksikal, tetapi sebagai akibat pertemuannya dengan satuan lain, memiliki makna gramatikal. Jadi afiks adalah satuan bahasa yang terikat yang tidak dapat berdiri sendiri dan selalu dibubuhkan pada morfem pangkal, morfem dasar atau morfem dasar ulang.

Berdasarkan pengertian afiks di atas, dapat ditentukan yang mana di antara bentuk –an dalam bahasa Indonesia dapat disebut sebagai afiks. Misalnya –an dalam kalimat-kalimat berikut.

(3) Ratusan orang meninggal karena kelaparan (4) Besaran bajuku daripada bajumu

Dalam kalimat (3) dijumpai kata ratusan yang berarti ‘beberapa ratus’.

Kata ini terdiri atas dua unsur yaitu ratus sebagai bentuk dasar dan –an sebagai bentuk terikat. Satuan terikat –an mengandung arti gramatikal ‘beberapa...’,

(6)

setelah dibutuhkan pada morfem dasar ratus. Dengan demikian, –an pada kata ratusan adalah afiks.

Dalam kalimat (4) dijumpai kata besaran/’lebih besar’. kata ini juga terdiri atas dua unsur yaitu besar sebagai bentuk dasar, dan –an sebagai bentuk terikat.

Dalam hal ini bentuk –an memiliki arti ‘lebih . . .’. Dengan demikian bentuk –an pada kata besaran disebut afiks.

Dari uraian di atas dapat disebutkan bahwa setiap bentuk –an yang dapat melekat pada morfem dasar dan pada morfem dasar ulang, yang memiliki makna gramatikal disebut afiks. Contoh lain bentuk –an sebagai afiks daratan ‘ kumpulan darat ’, minuman ‘ sesuatu yang diminum’.

2.4 Bentuk –An Bukan Sebagai Afiks

Selain –an sebagai afiks, ada juga –an yang bukan sebagai afiks. Misalnya –an dalam kata tempayan adalah suku kata yang tidak memiliki arti gramatikal.

Selain itu bentuk –an dalam kata tempayan bukan merupakan unsur yang dibutuhkan, karena kata itu sendiri merupakan kata dasar. Dengan demikian, jelaslah bahwa bentuk –an dalam kata tempayan bukan afiks. Contoh lain bentuk –an yang bukan merupakan afiks yaitu sembilan, jembatan, cendawan, delapan, dan lain-lain.

2.5 Bentuk –An Sebagai Morfem

Di atas telah diungkapkan bahwa dalam bahasa Indonesia ditemukan bentuk –an sebagai bentuk linguistik, dan sebagai afiks. –an sebagai bentuk linguistik dan –an sebagai afiks dapat di masukkan ke dalam –an sebagai morfem.

(7)

Misalnya –an dalam kata bulanan ‘tiap-tiap bulan’, sekaligus merupakan bentuk linguistik karena –an dalam kata bulanan merupakan satuan bahasa yang mengandung arti. Disebut afiks karena –an ini unsur yang dibutuhkan pada morfem dasar atau morfem dasar ulang. Disebut morfem karena –an ini merupakan satuan bahasa yang terkecil yang memiliki arti secara gramatikal. Arti gramatikal –an dalam kata bulanan ialah ‘tiap-tiap...’. Jadi setiap –an yang sudah terbukti mengandung arti gramatikal dapat dimasukkan ke dalam morfem. Contoh lain yaitu harian / ‘tiap-tiap hari’, daratan/ ‘kumpulan darat’, kecilan/ ‘lebih kecil’.

Semua bentuk –an yang telah terbukti sebagai morfem itu perlu diteliti untuk menentukan bentuk-bentuk tersebut apakah merupakan suatu morfem, dua morfem, tiga morfem, atau lebih, harus kita pertimbangkan makna bentuk-bentuk tersebut. Kesamaan bentuk belum menjamin bahwa bentuk-bentuk itu merupakan morfem yang sama (Nida, 1963:56 dan Samsuri, 1975:21). Perlu kita periksa lebih jauh apakah bentuk-bentuk itu alam hubungannya dengan kata dasar yang dilekatinya menyatakan pengertian yang sama atau berbeda. Dasar analisis diberikan sejumlah kalimat di bawah ini.

(5) Ratusan rumah hancur ditiup angin topan.

Beberapa ratus rumah hancur ditiup angin topan’.

(6) Majalah yang terbit bulanan harganya mahal.

‘Majalah yang terbit tiap-tiap bulan harganya mahal’.

(7) Makanan ini rasanya enak.

Sesuatu yang dimakan ini rasanya enak’.

(8)

(8) Rumah-rumahan itu terbuat dari kayu jati.

Seperti atau menyerupai rumah (rumah-rumah) itu terbuat dari kayu jati’.

(9) Kecilan mejaku daripada mejamu.

Lebih kecil mejaku daripada mejamu’.

(10) Lautan Indonesia sangat luas.

Kumpulan laut Indonesia sangat luas’.

Sesuai dengan batasan morfem di atas bahwa bentuk-bentuk yang sama susunan fungsinya merupakan morfem sendiri-sendiri apabila arti yang dikandungnya berbeda. Jika diperhatikan –an pada kalimat (5) mempunyai arti gramatikal ‘beberapa...’, –an dalam kalimat (6) memiliki arti gramatikal ‘seperti atau menyerupai...’, –an pada kalimat (9) arti gramatikalnya ‘kumpulan....’.

Ternyata –an yang terdapat dalam kalimat masing-masing memiliki arti gramatikal yang berbeda. Dengan demikian, masing-masing –an tersebut adalah morfem terikat yang berbeda-beda.

Berdasarkan analisis kalimat-kalimat di atas, untuk sementara penelitian ini berhasil menemukan enam jenis morfem –an dalam bahasa Indonesia. Untuk lebih mudah membedakan keenam morfem –an itu perlu diberikan kode nomor : 1 sampai dengan 6, sehingga ada yang disebut dengan morfem –an1, morfem –an2, morfem –an3, morfem –an4, morfem –an5, morfem –an6. Uraian selengkapnya untuk setiap jenis morfem –an ini diberikan dalam pembicaraan selanjutnya.

(9)

2.6 Bentuk An Bukan Morfem

–An bukan morfem hampir sama dengan –an bukan bentuk linguistik dan –an bukan afiks. Perbedaannya hanya terletak penekanannya yaitu –an bentuk linguistik tidak memiliki arti leksikal dan gramatikal. –An bukan afiks karena bukan merupakan unsur yang dibubuhkan pada kata dasar, sedangkan –an bukan morfem karena tidak memiliki arti gramatikal. Misalnya –an dalam kata haluan adalah suku kata yang tidak memiliki arti gramatikal, dan tidak dibubuhkan pada dasar kata. Contoh lain –an yang bukan morfem yaitu gerangan, tuan, dan sebagainya.

3. Morfem –An1, –An2, –An3, –An4, –An5, dan –An6, dalam Bahasa Indonesia

3.1 Morfem an1

Morfem –an1 adalah morfem yang terikat secara morfologis. Karena morfem ini selalu dibubuhkan pada morfem lain dalam bentuk sebuah kata.

Sebagai sebuah morfem –an1 mengandung arti tersendiri yang tidak sama dengan arti yang dikandung oleh morfem lain. Arti yang dikandung oleh morfem –an1 bukanlah arti leksikal melainkan arti gramatikal. Misalnya morfem –an1 dapat dibubuhkan pada morfem dasar juta sehingga terjadi kata jutaan. Setelah morfem –an1 dibubuhkan pada kata tersebut, maka timbullah arti gramatikalnya yaitu

‘beberapa...’ (seperti yang tersebut dalam morfem dasar). Contoh yang lain dapat dilihat dalam kalimat-kalimat di bawah ini.

(11) Ribuan penonton membanjiri lapangan.

‘Beberapa ribu penonton membanjiri lapangan’

(10)

(12) Ratusan orang mendaki gunung.

‘Beberapa ratus orang mendaki gunung’

(13) Puluhan mahasiswa tidak lulus ujian.

‘Beberapa puluh mahasiswa tidak lulus ujian’

3.1.1 Bentuk Morfem An1

Bentuk morfem –an1 ‘beberapa ....’hanya boleh dibubuhkan pada morfem dasar bilangan. Bentuknya tidak mengalami perubahan, kecuali pada bentuk dasar yang diakhiri dengan fonem vokal /u/.

Contoh :

Milyaran ‘beberapa milyar’  MD bl milyar Ribuan ‘beberapa ribu’  MD bl ribu

Milyunan ‘beberapa milyun’  MD bl milyun

3.1.2 Distribusi Morfem An1

Dengan melihat jenis morfem yang dapat dilekati –an1 diketahui distribusinya. Morfem –an1 hanya dapat dibubuhkan di akhir morfem dasar bilangan. Dengan demikian distribusinya adalah morfem dasar bilangan + morfem –an1. Contoh dapat dilihat pada contoh bentuk –an1 di atas.

3.1.3 Fungsi Morfem an1

Morfem–an1 sebagai morfem terikat secara morfologis selalu dibubuhkan pada morfem lain atau bentuk lain. Sebagai akibat dari pembubuhannya pada morfem lain, menyebabkan terjadinya suatu kata baru atau kata yang berimbuhan.

Berdasarkan atas data yang ditemukan, morfem –an1 berfungsi untuk membentuk

(11)

kata benda dari morfem dasar bilangan. Contoh dapat dilihat pada contoh bentuk di atas.

3.2 Morfem an2

Morfem –an2 selalu dibubuhkan pada morfem lain untuk membentuk sebuah kata, dan tidak dapat muncul sendiri dalam suatu kalimat. Morfem –an2 sama halnya dengan morfem –an1 yaitu sama-sama arti gramatikal yang tersendiri. Misalnya morfem –an2 dapat dibubuhkan pada morfem dasar tahun sehingga terjadi kata tahunan ‘tiap-tiap tahun’. Dalam hal ini arti Morfem –an2 secara gramatikal adalah ‘tiap-tiap . . .’(seperti yang tersebut dalam morfem dasar). Beberapa contoh dapat dilihat dalam kalimat-kalimat berikut :

(14) Ia membayar premi asuransi secara semesteran

‘Ia membayar premi asuransi secara tiap-tiap semester

(15) Majalah Anita terbit mingguan.

‘Majalah Anita terbit tiap-tiap minggu’

(16) Ayah menerima upah kerja bulanan

‘Ayah menerima upah kerja tiap-tiap bulan

3.2.1 Bentuk Morfem An2

Bentuk morfem –an2 sewaktu dibubuhkan pada morfem dasar yang berakhir dengan selain fonem vokal /i/ dan /u/ bentuknya tidak mengalami perubahan. Apabila dibubuhkan pada morfem dasar dengan vokal /i/ dan /u/, bentuknya akan berubah menjadi morfem –yan2 dan –wan2.

(12)

Contoh :

Harian/ ‘tiap-tiap hari’MD bd hari/ mingguan/ ‘tiap-tiap minggu’  MD bd minggu/ tahunan/ ‘tiap-tiap tahun’ MD bd tahun.

3.2.2 Distribusi Morfem An2

Distribusi morfem –an2 ditentukan oleh jenis kata atau morfem yang dilekatinya. Morfem –an2 dapat dibubuhkan pada morfem dasar, akan tetapi tidak semua morfem dasar dapat dilekatinya. Berdasarkan data yang ditemukan, morfem dasar yang dapat dilekati oleh morfem –an2 adalah morfem dasar benda.

Contohnya dapat dilihat pada contoh bentuk morfem –an2 di atas.

3.2.3 Fungsi Morfem an2

Morfem –an2 sebagai morfem terikat secara morfologis selalu dibubuhkan pada morfem dasar yang lain. Morfem –an2 hanya dapat dibubuhkan pada morfem dasar benda. Pembubuhan morfem –an2 pada morfem dasar benda yang dilekatinya berfungsi untuk membentuk kata benda berimbuhan. Contohnya dapat dilihat pada contoh bentuk morfem –an2 di atas.

3.3 Morfem An3

Morfem –an3 tidak berbeda dengan morfem –an1 dan –an2 adalah morfem afiks yang terikat secara morfologis, karena selalu dibubuhkan pada morfem lain alam membentuk sebuah kata. Secara gramatikal –an3 juga memiliki arti yang berbeda dengan morfem –an1 dan –an2. Misalnya morfem –an3 dapat dibubuhkan pada morfem dasar makan sehingga terjadi kata makanan. Secara gramatikal akibat pertemuannya dengan morfem dasar makan mengandung arti sesuatu

(13)

yang di.... (seperti tersebut dalam morfem dasar). Contoh lain dapat dilihat dalam kalimat-kalimat berikut.

(17) Minuman itu rasanya pahit.

‘Sesuatu yang diminum itu rasanya pahit’

(18) Kita biasanya sangat sulit untuk mentaati larangan.

‘Kita biasanya sangat sulit untuk mentaati sesuatu yang dilarang’

(19) Bungkusan itu dikirimkan kepada kakak.

‘Sesuatu yang dibungkus itu dikirimkan kepada kakak’

3.3.1 Bentuk Morfem An3

Morfem –an3 bentuknya tidak berubah apabila mengikuti morfem dasar yang berakhir dengan selain fonem /i/ dan /u/ .tetapi kalau diakhiri dengan fonem /i/dan /u/ bentuknya akan berubah menjadi –yan3 dan –wan3. Contoh:

galian ’sesuatu yang digali’  MD kr gali bantuan ‘sesuatu yang dibantu’  MD kr bantu gorengan ‘sesuatu yang digoreng’  MD kr goreng isapan ‘sesuatu yang diisap’  MD kr isap

3.3.2 Distribusi Morfem An3

Morfem –an3 sesuatu yang di... (seperti tersebut dalam bentuk dasar), sangat ditentukan oleh jenis morfem yang dilekatinya. Berdasarkan data yang ditemukan bahwa –an3 hanya dapat dibubuhkan pada morfem dasar kerja. Dengan demikian, distribusinya hanya satu, yang dapat dirumuskan yaitu morfem dasar kerja + –an3. Contoh dapat dilihat pada contoh bentuk morfem –an3 di atas.

(14)

3.3.3 Fungsi Morfem An3

Pembubuhan morfem –an3 pada morfem dasar kerja yang diikutinya berfungsi untuk membentuk kata baru yang disebut kata berimbuhan. Di samping itu, juga dapat menyebabkan perubahan jenis kata yaitu dari jenis kata dasar kerja menjadi jenis kata benda. Contohnya dapat dilihat pada contoh bentuk –an3 di atas.

3.4 Morfem An4

Morfem –an4 juga termasuk morfem terikat secara morfologis, karena selalu dibubuhkan pada morfem lain, dan tidak bisa muncul sendiri dalam suatu kalimat. Morfem –an4 sama halnya dengan morfem –an yang lainnya yaitu hanya memiliki makna gramatikal saja. Misalnya morfem –an4 dibubuhkan pada morfem dasar ulang orang-orang terjadi kata orang-orangan ‘seperti atau menyerupai orang (orang-orang)’. Di sini terlihat arti gramatikal morfem –an4 yaitu seperti atau menyerupai... (seperti yang tersebut dalam morfem ulang dasar). Contoh lain dapat dilihat dalam kalimat di bawah ini.

(20) Kucing-kucingan itu berwarna hitam.

Seperti atau menyerupai kucing itu berwarna hitam’

(21) Adik membeli burung-burungan.

‘Adik membeli seperti burung atau menyerupai burung

(22) Kuda-kudaaan ini dibuat dari plastik.

Seperti kuda atau menyerupai kuda ini dibuat dari plastik’

(15)

3.4.1 Bentuk Morfem An4

Morfem –an4 “Seperti atau menyerupai.... (seperti yang tersebut morfem dasar ulang) hanya dibubuhkan atau dapat dilekatkan pada morfem dasar ulang.

Bentuknya tidak berubah kalau dibubuhkan pada akhir morfem dasar ulang yang berakhir dengan fonem konsonan. Sedangkan kalau dibubuhkan pada morfem dasar ulang yang diakhiri dengan fonem vokal /i/ dan /u/ masing-masing akan berubah menjadi –yan4 dan –wan4. Misalnya morfem dasar ulang babi-babi dan batu-batu bila dibubuhi dengan morfem terikat –an4 maka terjadi kata-kata babi- babian ‘seperti atau menyerupai babi’ dan kata batu-batuan ‘seperti atau menyerupai batu’. Contoh lain :

Sapi-sapian “seperti sapi”  MD kb sapi-sapi

Rumah-rumahan “seperti rumah”  MD kb rumah-rumah 3.4.2 Distribusi Morfem An4

Distribusi morfem –an4 “seperti atau menyerupai....”(yang tersebut dalam morfem dasar ulang) ditentukan oleh morfem dasar ulang yang dilekatinya.

Berdasarkan data yang terkumpul, morfem –an4 hanya dapat dibubuhkan pada akhir morfem dasar ulang benda. Dengan demikian, distribusinya hanya satu, yang dapat dirumuskan yaitu morfem dasar ulang benda + morfem –an4. Contoh dapat dilihat pada contoh bentuk –an4 di atas.

3.4.3 Fungsi Morfem An4

Pembubuhan morfem –an4 pada morfem dasar ulang benda, menyebabkan morfem dasar ulang benda tersebut berubah menjadi kata benda ulang berimbuhan. Dengan demikian, morfem –an4 berfungsi membentuk morfem dasar

(16)

ulang benda menjadi kata ulang benda atau kata ulang dasar berimbuhan. Contoh dapat dilihat pada contoh bentuk –an4 di atas.

3.5 Morfem An5

Morfem –an5 selalu dibubuhkan pada morfem lain, untuk membentuk sebuah kata. Morfem –an5 selalu terikat oleh bentuk yang lain, dan tidak dapat muncul sendiri dalam suatu kata atau kalimat. Oleh sebab itu, morfem –an5 disebut morfem afiks yang terikat secara morfologis. –An5 sebagai sebuah morfem mengandung arti tersendiri. Arti yang dikandungnya adalah arti gramatikal. Misalnya morfem –an5 dibubuhkan pada morfem dasar kurus terjadi kata kurusan ‘lebih kurus’. Di sini terlihat arti gramatikal morfem –an5 ‘lebih...

(seperti yang tersebut dalam morfem dasar). Contoh lain dapat dilihat dalam kalimat-kalimat berikut.

(23) Tinggian ibumu daripada ibuku

Lebih tinggi ibumu daripada ibuku’

(24) Baruan baju ini daripada baju itu.

Lebih baru baju ini daripada baju itu’

(25) Merahan jambu ini daripada jambu itu

Lebih merah jambu ini daripada jambu itu’

3.5.1 Bentuk Morfem An5

Morfem –an5 ‘lebih... (seperti yang tersebut dalam morfem dasar), jika dibubuhkan pada morfem dasar yang berakhir dengan fonem konsonan tidak akan mengalami perubahan bentuk. Apabila dibubuhkan pada morfem dasar yang

(17)

berakhir dengan fonem vokal /i/ dan /u/, bentuknya akan berubah menjadi –yan5 dan –wan5. Di bawah ini diberikan beberapa contoh :

putihan / ‘lebih putih’  MD sf putih gemukan/ ‘lebih gemuk’  MD sf gemuk ramaian / ‘lebih ramai’  MD sf ramai hijauan / ‘lebih hijau’  MD sf hijau 3.5.2 Distribusi Morfem An5

Morfem –an5 dapat dibubuhkan pada morfem dasar, tetapi tidak semu jenis morfem dasar yang dapat dilekatinya. Morfem dasar yang dapat dilekati oleh morfem –an5 hanya morfem dasar sifat. Dengan demikian, distribusinya dapat dirumuskan menjadi morfem dasar sifat + morfem –an5. Contoh dapat dilihat pada contoh bentuk morfem –an5 di atas.

3.5.3 Fungsi Morfem An5

Secara morfologis morfem –an5 adalah morfem terikat yang selalu dibubuhkan pada morfem lain. Pembubuhan morfem terikat –an5 pada morfem dasar menyebabkan perubahan pada bentuk kata tersbeut. Jika morfem –an5 itu dibubuhkan pada morfem dasar sifat, terlihatlah fungsinya yaitu membentuk kata sifat berimbuhan. Dengan demikian, fungsinya untuk membentuk morfem dasar sifat menjadi kata sifat berimbuhan. Contohnya dapat dilihat pada contoh bentuk morfem –an5 di atas.

(18)

3.6 Morfem An6

Morfem –an6 juga merupakan morfem yang terikat secara morfologis.

Morfem –an6 tidak bisa berdiri sendiri dalam suatukata atau kalimat. Sebagai sebuah morfem sudah tentu mengandung arti tersendiri, arti yang dikandungnya adalah arti gramatikal yaitu arti yang timbul setelah terjadi pertemuannya dengan morfem dasar. Mislanya –an6 dibubuhkan pada morfem dasar datar terjadi kata dataran ‘kumpulan datar’. Disini terlihat arti gramatikal morfem –an6 yaitu kumpulan ...(seperti yang tersebut dalam morfem dasar). Beberapa contoh lain dapat dilihat dalam kalimat-kalimat berikut.

(26) Lautan Indonesia airnya sangat dalam.

‘Kumpulan laut Indonesia airnya sangat dalam’

(27) Dataran Indonesia lebih sempit daripada lautnya.

‘Kumpulan darat Indonesia lebih sempit daripada lautnya’

3.6.1 Bentuk Morfem An6

Morfem –an6 ‘kumpulan ... (seperti yang tersebut pada morfem dasar), jika dibubuhkan pada morfem dasar tidak mengalami perubahan bentuk. Dengan demikian, morfem –an6 tidak memiliki alomrf. Di bawah ini diberikan beberapa contoh yang membuktikan hal tersebut :

lautan ‘kumpulan laut’  MD bd laut dataran ‘kumpulan datar’  MD bd datar daratan ‘kumpulan darat’  MD bd darat

(19)

3.6.2 Distribusi Morfem An6

Morfem –an6 dapat dibubuhkan pada morfem dasar, tetapi tidak samua jenis kata dasar yang dapat dilekatinya. Morfem dasar yang dapat dilekati morfem –an6 adalah morfem dasar benda. Dengan demikian, distribusinya dapat dirumuskan menjadi morfem benda + morfem –an6. Contohnya dapat dilihat pada contoh bentuk morfem –an6 di atas.

3.6.3 Fungsi Morfem An6

Morfem –an6 sebagai morfem terikat secara morfologis selalu dibubuhkan pada morfem dasar benda. Pembubuhan morfem –an6 pada morfem dasar benda yang dilekatinya berfungsi untuk membentuk kata benda berimbuhan. Contoh dapat dilihat pada contoh bentuk morfem –an6 di atas.

4. Simpulan

Sebagai penutup tidaklah lengkap bila uraian di atas tidak diakhiri dengan simpulan. Adapun simpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut.

1) Identitas –an menunjukan bahwa ia dapat berupa bentuk linguistik dan bukan bentuk linguistik, afiks dan bukan afiks, morfem dan bukan morfem.

2) –An yang terbukti sebagai morfem ditemukan enam buah yaitu morfem –an1, morfem –an2, morfem –an3, morfem –an4, morfem –an5 dan morfem –an6 3) Bentuk, distribusi, dan fungsi morfem -an adalah sebagai berikut.

a) Bentuk morfem –an2, –an3, –an4, –an5 tidak mengalami perubahan, kecuali dibubuhkan pada morfem dasar yang berakhir dengan fonem /i/

dan /u/ akan berubah menjadi –yan dan –wan. Morfem –an1 juga tidak

(20)

mengalami perubahan, kecuali jika dilekatkan pada morfem dasar yang berakhir dengan fonem /u/ akan berubah menjadi –wan, sedangkan morfem –an6 juga tidak mengalami perubahan tanpa perkecualian.

b) Distribusi morfem –an1 adalah pada morfem dasar sifat; morfem –an2 dan –an6 pada morfem dasar benda; morfem –an3 pada morfem dasar kerja;

morfem –an4 pada morfem dasar benda ulang; dan morfem –an5 pada morfem dasar sifat.

c) Fungsi morfem –an1 untuk membentuk kata benda dari morfem dasar bilangan; morfem –an2 dan –an6 untuk membentuk kata benda berimbuhan dari kata benda dasar; morfem –an3 untuk mengubah jenis kata dasar kerja menjadi jenis kata benda; morfem –an4 untuk membentuk morfem dasar ulang menjadi kata ulang dasar berimbuhan; dan morfem – an5 berfungsi untuk membentuk kata sifat berimbuhan.

(21)

DAFTAR PUSTAKA

Bawa, I Wayan. 1980. “Bahasa Melayu sebagai Dasar Bahasa Indonesia”.

Denpasar : Fakultas Sastra Universitas Udayana.

Keraf, Gorys. 1978. Tatabahasa Indonesia. Untuk Sekolah Lanjutan Atas.

Cetakan VI. Ende-Flores : Nusa Indah.

Nida, E.A. 1963. Morphologi : The Descriptive Analysis of Words. Ann ArBor : The University of Michigan Press.

Ramlan, M. 1983. Ilmu Bahasa Indonesia Morfologi : Suatu Tinjauan Deskriptif.

Cetakan ke-5. Yogyakarta : UP. Karyono.

Samsuri. 1975. Pengantar Morfosintaksis. Edisi Penataran.

Soekono Wirjosudarmo. 1985. Tatabahasa Bahasa Indonesia. Edisi Lengkap.

Cetakan ke-2. Surabaya : Sinar Wijaya.

(22)

BENTUK –AN DALAM BAHASA INDONESIA

OLEH

I MADE SUIDA

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA

FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR, 2016

Referensi

Dokumen terkait

penelitian sastra yang mengangkat kritik sosial dalam karya sastra. 3) Penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah keilmuan sastra. Indonesia khususnya penelitian

Teks yang terdapat dalam kolom Sunday Meme ini menggunakan bahasa yang sangat menarik berupa bentuk eufemisme dan desfemisme untuk menunjukkan pikiran dan sikap

Contoh yang lain seperti Congestive heart failure, exposure, nonclosure; (2) Noun dengan akhiran –y, ery, ary.Contoh penggunaan sufix –y, ery, ary dalam ICD-10 volume 3 yang