Instruksi Lieber Tahun 1863
Prinsip ini menyatakan bahwa penduduk suatu negara yang terlibat konflik bersenjata atau perang dibedakan menjadi penduduk kombatan dan penduduk sipil. Berdasarkan bentuk-bentuk perlindungan yang diberikan oleh hukum humaniter tersebut di atas, maka dalam hal ini kita akan mengkaji lebih dalam mengenai perlindungan terhadap warga sipil, khususnya bagaimana hukum humaniter internasional memberikan perlindungan terhadap warga sipil dalam konflik bersenjata, termasuk warga sipil yang karena pekerjaannya seharusnya mereka mendapat perlindungan. perlindungan. . Perlindungan warga sipil dalam konflik bersenjata telah lama menjadi perhatian negara-negara, baik yang terlibat perang maupun tidak.
Bahkan dalam kebiasaan perang, terdapat prinsip hukum perang yang melarang penyerangan terhadap warga sipil yang tidak bersenjata, sebagai orang yang “berada di luar perang”. Sebelum lahirnya Konvensi Jenewa tahun 1949, perlindungan terhadap warga sipil sudah disebutkan dalam Konvensi Den Haag, namun masih belum lengkap dan hanya mengatur perlindungan terhadap warga sipil di wilayah pendudukan. Jadi, pengaturan perlindungan warga sipil dalam Konvensi Jenewa IV dapat dikatakan merupakan perjanjian baru.
Di bawah ini akan kami uraikan secara singkat perjanjian-perjanjian tentang perlindungan warga sipil sebelum lahirnya Konvensi Jenewa 1949, serta perjanjian-perjanjian tentang perlindungan warga sipil dalam Konvensi Jenewa 1949 dan Protokolnya.
Konvensi Jenewa Tahun 1864
Deklarasi St. Petersburg tahun 1868
Konvensi Den Haag Tahun 1899 dan Tahun 1907 (Konvensi Den
Hal ini terlihat dari adanya beberapa lembaga negara yang disebutkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang mempunyai kekuasaan sebagaimana tertuang dalam Teori Pemisahan Kekuasaan. Dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, kekuasaan yang dimiliki oleh Presiden diatur dalam Bab III (Kekuasaan Pemerintahan Negara). Presiden dalam pembentukan undang-undang, yakni Pasal 20 ayat (2) menentukan rancangan undang-undang dibahas oleh DPSH dan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama.
Selain itu, ayat keempat Pasal 20 mengatur bahwa rancangan undang-undang yang disetujui bersama oleh DPR dan Presiden harus disahkan oleh Presiden. Paragraf pertama Pasal 5 juga menyatakan bahwa Presiden berhak mengajukan rancangan undang-undang kepada DPR. perwakilan. Hal ini terlihat dari keterlibatan ketiga lembaga tersebut dalam proses legislasi. Kemudian, pada ayat 1 Pasal 20 Undang-Undang Dasar Negara Tahun 1945 sebagaimana telah diubah, berbunyi “Dewan Perwakilan Rakyat mempunyai kekuasaan untuk menetapkan undang-undang”.
Kemudian pasal 20 ayat (2) berbunyi “Setiap rancangan undang-undang dibahas oleh DPR dan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama”. Mengenai kewenangan yang dimiliki oleh DPD, tercantum dalam Pasal 22D Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Berdasarkan ketentuan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, DPR adalah lembaga negara yang mempunyai kekuasaan membentuk undang-undang.
G. Starke mendefinisikan ekstradisi sebagai berikut: “The term
Pemerintah/Presiden mengajukan Rancangan Undang-Undang Ekstradisi dengan amanat Presiden Nomor: R.07/PU/VIII/1978 kepada DPR (M. Budiarto, 1981). Sejauh ini, Indonesia telah menandatangani 6 (enam) perjanjian ekstradisi dengan negara lain (Negara yang sudah terikat perjanjian ekstradisi dengan Indonesia adalah: Malaysia, Filipina, Thailand, Australia, Hong Kong dan Korea Selatan. Perjanjian Ekstradisi Indonesia-Singapura ditandatangani oleh keduanya. negara pada tanggal 28 April 2007 di Istana Tampak Siring Bali, tidak dapat dilaksanakan karena perjanjian tersebut belum diratifikasi oleh DPR). Permintaan perjanjian ekstradisi antara Indonesia dan Singapura sebenarnya sudah ada sejak lama sejak era kepresidenan Soekarno dan Soeharto.
Setelah sekian lama dan melalui proses yang tidak mudah, akhirnya pada tanggal 27 April 2007, pemerintah Republik Indonesia dengan berani menandatangani perjanjian ekstradisi dan perjanjian kerja sama pertahanan. Penandatanganan tersebut akhirnya dilakukan Singapura setelah sekian lama mengalami penolakan. Hal ini menjadi poin penting yang diambil dari Singapura, sedangkan bagi Indonesia sendiri melalui pakar hukum pidana Romli Atmasasmita berharap Perjanjian Ekstradisi Indonesia-Singapura tidak memuat aturan hanya terkait pemindahan orang saja. Dengan adanya perjanjian ekstradisi ini, diharapkan pelaku kejahatan yang melarikan diri ke negara lain tidak lepas dari jangkauan hukum (www.dpr.go.id).
1 Tahun 1979 tentang ekstradisi masih relevan dan sejalan/selaras dengan perkembangan hukum ekstradisi internasional, dalam hal ini Perjanjian Ekstradisi antara Indonesia dan Singapura.
Keadilan
Substansi
Belum ada perjanjian ekstradisi dan mutual legal assistance (MLA) atau bantuan hukum timbal balik antara pemerintah dengan negara-negara yang berpotensi menjadi tempat perlindungan, khususnya bagi pelaku korupsi dan tindak pidana lainnya. Pasal 2 ayat 1, menegaskan kesediaan Indonesia untuk mengekstradisi atau menyerahkan seseorang yang melakukan tindak pidana jika Indonesia dan negara peminta telah terikat dalam perjanjian ekstradisi. Perjanjian tersebut menyatakan bahwa jika kedua belah pihak menyetujui perjanjian ekstradisi, dan kemudian diratifikasi oleh badan legislatif, maka kedua negara berhak menggunakan fasilitas dan area bersama untuk pelatihan militer.
Kenyataannya perjanjian ekstradisi tidak akan dapat mengembalikan harta dan uang hasil korupsi secara langsung, karena perjanjian ini hanya mengatur pengembalian orang dan sebagainya. Oleh karena itu, perjanjian ekstradisi yang telah ditandatangani kedua negara kurang optimal dalam menghadapi penegakan hukum di Singapura (http://majalah.tempointeractive.com. Yang merupakan pepatah atau asas analisis keadilan dalam hal perjanjian tersebut ekstradisi antara Indonesia dan Singapura adalah rapport du troit, inbreng van recht (van Apeldorn), yang artinya hakikat hukum adalah mewujudkan aturan yang adil bagi masyarakat.
Seluruh aturan yang tertuang dalam perjanjian ekstradisi antara Indonesia dan Singapura dimaksudkan untuk memberikan keadilan bagi kedua negara, namun mengundang pro dan kontra mengingat permintaan negara Singapura yang menginginkan sebagian wilayah Indonesia sebagai 'tempat latihan militer harus digunakan. . tentu saja akan mengganggu kedaulatan Indonesia.
Struktur
Hal ini tentu akan mengancam kedaulatan negara Indonesia, karena jika Singapura langsung melakukan latihan militer di Indonesia maka pihak Singapura akan mengetahui kekurangan dan kelemahan pertahanan Indonesia, sehingga Indonesia dapat dijajah kembali oleh negara lain, karena Singapura merupakan negara Persemakmuran. negara Inggris sedangkan Inggris memiliki banyak sekutu. Misalnya, intervensi terhadap kekuasaan kehakiman telah mengakibatkan adanya keberpihakan dalam berbagai putusan, padahal hal tersebut melanggar prinsip ketidakberpihakan dalam sistem hukum. Akumulasi putusan yang mengabaikan asas imparsialitas jangka panjang turut menyebabkan menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum dan hilangnya kepastian hukum.
Kondisi ini juga diperlemah dengan profesionalisme dan kualitas sistem hukum yang masih kurang sehingga terbuka. Dalam perjanjian tersebut terdapat asas kekhususan yang berlaku bagi pelaku yang akan diekstradisi, oleh karena itu negara diminta untuk memastikan untuk tindak pidana apa pelaku diekstradisi. Dalam hal ini terdapat 2 (dua) pilihan, yaitu: Dari segi keadilan, pelaku hanya dapat dituntut oleh negara peminta berdasarkan jenis kejahatan yang pelakunya diekstradisi oleh negara peminta.
Hal ini penting karena tujuan ekstradisi itu sendiri adalah untuk menjamin kepastian hukum, terutama yang berkaitan dengan kepastian hukum orang yang diminta.
Budaya Hukum
Asas keadilan yang digunakan untuk menjelaskan struktur tersebut adalah justisticia est Constante et pepetua suum quick tribuere yang artinya keadilan adalah keadilan yang terus-menerus yang memberikan apa yang menjadi haknya. Ada dua pihak yang memegang peranan penting, yaitu masyarakat dan kualitas aparatur yang bertanggung jawab atas distribusi undang-undang dan berbagai peraturan perundang-undangan. Indonesia tidak bisa begitu saja meminta agar para koruptor tersebut dipulangkan beserta asetnya yang telah diubah menjadi investasi di Singapura.
Demikian pula Singapura tidak bisa begitu saja meminta wilayah Indonesia digunakan untuk latihan militer, karena jelas akan menimbulkan konflik baru dan melemahkan kedaulatan Indonesia. Sesuai dengan jaminan hak kebebasan manusia untuk menganut agama, politik, dan penghapusan perbedaan kebangsaan, suku, dan golongan penduduk, Pasal 14 memuat ketentuan yang mengharuskan ditolaknya permohonan ekstradisi, apabila menurut pendapat Pengadilan. pihak yang berwenang terdapat kecurigaan yang cukup kuat bahwa orang tersebut adalah orang tersebut. Jika ekstradisi diminta, ia akan dituntut, dihukum atau dikenakan tindakan lain berdasarkan agama, keyakinan politik atau kebangsaannya, atau karena ia termasuk dalam kelompok etnis tertentu atau kelompok populasi.
Kepastian Hukum
Dari aturan yang tertulis dalam perjanjian ekstradisi ini sudah dipastikan hak dan kewajiban Indonesia, serta jenis kejahatan yang dapat diekstradisi. Sebagaimana dikemukakan oleh Jan Michael Otto, kepastian hukum adalah kemungkinan bahwa dalam situasi tertentu tersedia peraturan hukum yang jelas, peraturan ditetapkan secara konsisten dan warga negara pada prinsipnya menyesuaikan perilakunya dengan peraturan tersebut. Rendahnya kualitas sumber daya manusia di bidang hukum juga tidak terlepas dari belum stabilnya sistem pendidikan hukum yang ada.
Terlebih lagi, sistem, proses seleksi, dan kebijakan pengembangan SDM yang diterapkan di bidang hukum kurang menghasilkan personel yang berkualitas. Menurut Mertokusumo, yang penting bukan secara hukum apa yang terjadi, tapi apa yang seharusnya terjadi. Permasalahan muncul jika mengacu pada sistem hukum yang berlaku di Singapura, dimana hanya pengadilan yang mempunyai kewenangan menentukan ekstradisi dan pemerintah mempunyai diskresi dalam hal tersebut.
Sekali lagi mengacu pada fakta bahwa alasan terkuat menolak ekstradisi adalah kurangnya kepercayaan dunia terhadap birokrasi penegakan hukum Indonesia yang bisa dibeli, sistem hukum yang terlalu formalistik, dan praktik hukum korup yang mengiringi tumbuhnya mafia peradilan.
Kemanfaatan
Perjanjian ekstradisi ini sejatinya merupakan perjanjian utama dalam upaya pengembalian aset dan uang hasil korupsi. Wajar saja jika pembuatan pengaturan hukum mengenai perjanjian ekstradisi antara Indonesia dan Singapura melibatkan beberapa individu yang dianggap memenuhi syarat. Hukum nasional (pidana) mengenal asas non bis in idem atau de bis in idem, artinya seseorang tidak boleh diadili dan dihukum lebih dari satu kali untuk tindak pidana yang sama (diatur dalam Pasal 10).
Dalam perjanjian ekstradisi ini ditegaskan bahwa tidak ada pihak yang mengambil keuntungan pribadi selama proses tersebut. Perjanjian ekstradisi dibuat atas dasar hukum dimana Indonesia menginginkan pengembalian para koruptor beserta harta bendanya, tentunya dengan beberapa perjanjian yang disetujui Singapura. Misalnya saja dalam hal perjanjian ekstradisi yang dilaksanakan Indonesia dan Singapura mencakup tiga tujuan hukum yang terdiri dari keadilan, kepastian, dan kecukupan.
RI Highlights Singapore International Extradition Treaty Meeting http://www.thejakartapost.com/news ri- highlights-s-pore-.