Selama ini untuk memperoleh tes paralel dilakukan dengan mengubah nomor urut dan/atau mengubah urutan jawaban. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menunjukkan bahwa dengan mengubah urutan nomor soal dan/atau urutan jawaban, kita akan mendapatkan tes paralel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh urutan acak nomor soal dan distribusi jawaban terhadap tingkat kesulitan tugas.
Hasil analisis juga menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan tingkat kesulitan soal yang signifikan antara paket 1 dan paket 5. Untuk mencapai tes paralel selama ini dilakukan dengan mengubah nomor urut dan/atau mengubah urutan pilihan jawaban. dari satu paket pertanyaan menjadi beberapa paket pertanyaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: pengaruh pengacakan urutan nomor soal dan pilihan jawaban terhadap kesulitan mata pelajaran.
Penulisan Butir Soal
Langkah-langkah Penulisan Butir Soal
Menulis soal tes merupakan langkah penting dalam mengembangkan instrumen pengukuran kemampuan atau tes yang baik. Butir soal bersifat uraian atau dapat juga berupa indikator. Oleh karena itu, setiap pernyataan atau butir pertanyaan harus dibuat sedemikian rupa sehingga jelas apa yang ditanyakan dan jelas pula jawaban yang ditanyakan. Tinjauan soal atau analisis soal kualitatif merupakan tinjauan teoritis terhadap soal tes yang telah disusun.
Pengujian soal pada dasarnya adalah upaya untuk mengetahui kualitas soal tes berdasarkan hasil empiris atau jawaban peserta tes. Dalam analisis soal dengan pendekatan teori tes klasik, parameter soal yang diestimasi adalah tingkat kesukaran soal, pembedaan, dan fungsi pengecoh. Untuk menjamin nilai tes yang diperoleh akurat dan reliabel, maka soal tes harus valid dan reliabel.
Analisis Perangkat Tes a. Validitas Tes
Dengan demikian, makna yang dapat diambil dari pernyataan tersebut adalah suatu tes dikatakan reliabel jika hasil pengukurannya mendekati kondisi sebenarnya peserta tes. Lebih lanjut dikatakan bahwa reliabilitas adalah koefisien korelasi antara dua skor observasi yang diperoleh dari hasil pengukuran dengan menggunakan tes paralel. Dengan demikian, makna yang dapat diambil dari pernyataan tersebut adalah suatu tes dikatakan reliabel jika hasil pengukurannya mendekati kondisi sebenarnya peserta tes.
Estimasi reliabilitas tes dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu konsistensi eksternal atau konsistensi internal. Yang dimaksud dengan konsistensi internal adalah konsistensi antar butir soal dalam suatu tes sebagai indikasi bahwa tes yang bersangkutan mempunyai fungsi pengukuran yang dapat diandalkan. Tes yang nilainya sedikit banyak dipengaruhi oleh kecepatan kerja (speed test), misalnya memerlukan metode pembagian yang tidak sama dengan metode pembagian yang dilakukan pada tes yang mengukur kemampuan maksimal (power test).
Teori Tes Klasik
Tes yang memuat soal-soal yang tingkat kesukarannya homogen akan lebih terbuka terhadap cara pembagian yang berbeda dibandingkan dengan tes yang memuat soal-soal yang tingkat kesukarannya sangat bervariasi.Tentu saja tidak semua jenis dan ciri-ciri tes memerlukan cara tertentu. metode pembagian, namun setiap metode pembagian tes yang digunakan hendaknya menekankan pada upaya maksimal untuk memperoleh bagian atau bagian yang parameter dan isi soalnya relatif setara. Metode ini hanya memerlukan satu kali presentasi tes, yang dikenal dengan administrasi uji coba tunggal, sehingga masalah akibat presentasi yang berulang-ulang dapat dihindari. Berkualitas atau tidaknya soal tes dapat ditentukan berdasarkan tingkat kesulitan masing-masing soal. Suatu soal tes dikatakan baik apabila soal tersebut tidak terlalu sulit dan tidak terlalu mudah, atau dengan kata lain tingkat kesukaran soal tersebut sedang atau cukup.
Tingkat kesukaran suatu soal dinyatakan dengan indeks yang disebut indeks kesukaran soal dan dilambangkan dengan huruf p, yaitu perbandingan antara benarnya jawaban suatu soal dengan banyaknya jawaban (Saifuddin Azwar. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Anastasi & Urbina bahwa dalam mengukur soal tes, tingkat kesukaran skor berkaitan dengan persentase orang yang dapat menjawab soal dengan benar.Tingkat kesukaran ini merupakan persentase dari banyaknya peserta tes yang menjawab suatu soal dengan benar, yaitu perbandingan antara jumlah total penguji.
Teori Respons Butir
Artinya jawaban subjek pada soal tersebut tidak berhubungan dengan soal lain dalam tes tersebut. Menurut Retnawati, invariansi parameter berarti sifat-sifat soal tes tidak bergantung pada sebaran parameter kemampuan peserta tes dan parameter yang menjadi ciri peserta tes tidak bergantung pada sifat-sifat butir tes. Invariansi parameter kemampuan dapat diselidiki dengan menerapkan dua atau lebih rangkaian tes dengan tingkat kesulitan berbeda kepada sekelompok peserta tes.
Invariansi parameter kemampuan akan terbukti jika perkiraan skor kemampuan peserta tes tidak berubah meskipun tes yang diambil mempunyai tingkat kesulitan yang berbeda. Jika kemampuan peserta tes lebih tinggi dari tingkat kesukaran soal, maka nilai probabilitas peserta tes menjawab soal dengan benar lebih besar dari 0,5. Sebaliknya jika kemampuan peserta tes lebih rendah dari tingkat kesukaran soal, maka peluang orang tersebut menjawab soal dengan benar kurang dari 0,5.
Kerangka Berpikir
Model logistik tiga parameter menggunakan parameter kesulitan soal, diskriminasi, dan tebakan.
Pertanyaan Penelitian
Apakah terdapat pengaruh tingkat kesulitan tugas sebelum pengacakan nomor soal dan setelah pengacakan nomor soal 1-20 dan 21-40 berdasarkan teori tes klasik? Apakah ada pengaruh tingkat kesulitan tugas sebelum pengacakan nomor soal dan setelah pengacakan nomor soal serta 21-30 dan 31-40 berdasarkan teori tes klasik? Apakah ada pengaruh perbedaan tingkat kesukaran soal sebelum urutan acak jawaban (A, B, C, D) dan setelah urutan acak jawaban (D, C, B, A) berdasarkan teori tes klasik?
Apakah ada pengaruh parameter kesulitan item dan skill sebelum mengacak urutan nomor item dan setelah mengacak urutan nomor item 1-40 berdasarkan teori respon item? Apakah ada pengaruh parameter kesulitan item dan skill sebelum mengacak urutan nomor item dan setelah mengacak urutan nomor item 1-20 dan 21-40 berdasarkan teori respon item? Apakah ada pengaruh parameter kesulitan item dan skill sebelum mengacak urutan nomor item dan setelah mengacak urutan nomor item dan 21-30 dan 31-40 berdasarkan teori respon item?
Apakah terdapat pengaruh antara tingkat kesulitan tugas dan parameter kemampuan sebelum pengacakan (A, B, C, D) dan setelah pengacakan (D, C, B, A) berdasarkan respon butir teori? Penelitian ini menggunakan desain one-group pre-test-post-test untuk membandingkan kemampuan siswa dan melihat derajat paralelisme soal dengan menggunakan beberapa paket soal yang diacak berdasarkan nomor urut dan pilihan jawaban.
Prosedur Penelitian
Teknik Analisis Data
- Reliabilitas Tes
- Analisis Soal Berdasarkan Pendekatan Teori Tes Klasik
- Uji Beda Berdasarkan Pendekatan Teori Tes Klasik
- Analisis Soal Berdasarkan Pendekatan Teori Respons Butir
- Uji Beda Berdasarkan Teori Respons Butir
Secara keseluruhan soal Paket 1 tergolong baik jika dilihat dari tingkat kesukaran sedang. Secara umum soal Paket 2 tergolong baik ditinjau dari tingkat kesukaran rata-rata karena berkisar antara 0,3 hingga 0,7 (Nitko, 1983). Berdasarkan hasil analisis pendekatan teori tes klasik yang diuraikan pada Tabel 6 terlihat bahwa soal paket 3 memiliki rata-rata tingkat kesukaran sebesar 0,651.
Secara keseluruhan jika dilihat rata-rata tingkat kesukarannya, soal paket 3 termasuk dalam kategori baik karena berada pada rentang 0,3 hingga 0,7. Tabel 7 menunjukkan bahwa berdasarkan hasil analisis pendekatan teori tes klasik, soal paket 4 mempunyai rata-rata tingkat kesukaran sebesar 0,661. Secara umum jika dilihat dari rata-rata tingkat kesukaran, soal paket 4 tergolong baik karena berada pada rentang 0,3 sampai 0,7 (Nitko, 1983).
Terlihat bahwa berdasarkan hasil analisis pendekatan teori tes klasik, soal paket 5 memiliki rata-rata tingkat kesukaran sebesar 0,675. Secara umum jika dilihat dari rata-rata tingkat kesukaran, soal paket 5 tergolong baik karena berada pada rentang 0,3 sampai 0,7 (Nitko, 1983). Dibandingkan dengan paket 1, rata-rata kesukaran soal pada paket 5 memiliki nilai rata-rata kesukaran yang tidak berbeda jauh.
Dari Tabel 13 terlihat bahwa soal paket 1 memiliki rata-rata tingkat kesukaran sebesar 0,250 berdasarkan hasil analisis pendekatan teori tes klasik. Tabel 14 menunjukkan bahwa berdasarkan hasil analisis pendekatan teori tes klasik, soal paket 2 memiliki rata-rata tingkat kesukaran sebesar 0,245. Tabel 15 menunjukkan bahwa berdasarkan hasil analisis pendekatan teori tes klasik, soal paket 3 mempunyai rata-rata tingkat kesukaran sebesar 0,236.
Dari Tabel 16 terlihat bahwa dari hasil analisis pendekatan teori tes klasik, soal paket 4 mempunyai rata-rata kesukaran sebesar 0,222. Terlihat bahwa berdasarkan hasil analisis pendekatan teori respon item, soal paket 5 mempunyai rata-rata kesukaran sebesar 0,222. Secara keseluruhan, dari segi rata-rata kesukaran, soal Paket 5 tergolong baik karena berada pada rentang -2 hingga +2 (Hambleton & Swaminathan: 1985).
Pembahasan 1. Teori Tes Klasik
Artinya tidak ada pengaruh pengacakan pilihan jawaban pada paket 5 soal tanpa mengacak pilihan jawaban pada paket 1. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diujikan dalam ujian nasional sekolah menengah pertama (SMP). Hal inilah yang mendasari pentingnya matematika sehingga menjadi salah satu mata pelajaran yang diujikan dalam ujian nasional.
Paket-paket tersebut disusun dengan item pertanyaan yang sama, namun nomor urut pertanyaan dan pilihan jawaban diacak untuk membedakan paket pertanyaan. Jika berdasarkan hasil analisis dengan pendekatan teori respon item, seluruh pertanyaan pada paket 1, paket 2, paket 3, paket 4 dan paket 5 tergolong pertanyaan baik. Hal ini terlihat dari nilai kesukaran (b) yang berada di antara -2 sampai 2. Hal ini sejalan dengan Anesa, S. 2016), dalam penelitiannya yang menyatakan bahwa tingkat kesukaran suatu soal dikatakan baik jika memiliki nilai antara -2 dan 2.
Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh pengacakan terhadap kelima paket soal dilakukan uji beda dengan menggunakan SPSS. Nilai tersebut lebih besar dari 0,05 yang berarti tidak terdapat perbedaan kesulitan siswa mengerjakan soal pada Paket 1, Paket 2, Paket 3, Paket 4 dan Paket 5. Dapat disimpulkan bahwa urutan nomor soal yang acak tidak ada bedanya. berpengaruh terhadap tingkat kesukaran butir soal pada pendekatan teori respon tugas.
KESIMPULAN
Saran
PEMBIAYAAN
Uang lelah
IDENTITAS DIRI
RIWAYAT PENDIDIKAN
PENGALAMAN MENGAJAR
PENGALAMAN PENELITIAN
PENGALAMAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Wonosari
- PENGALAMAN PENULISAN ARTIKEL ILMIAH DALAM JURNAL No Tahun Judul Artikel Ilmiah Volume/
- SEMINAR No Ta
- PELATIHAN PROFESIONAL
- PENGALAMAN PENULISAN BUKU
- PENGALAMAN PEROLEHAN HKI
- PENGALAMAN RUMUSAN KEBIJAKAN PUBLIK/REKAYASA SOSIAL LAINNYA
- PAKAR/KONSULTAN/STAF AHLI/NARASUMBER
- KEANGGOTAAN PADA ORGANISASI/ASOSIASI PREFESI DAN ILMIAH NO Nama Organisasi Periode Keanggota
- VISITING PROFESSOR/LECTURING
- PENCAPAIAN PRESTASI/REPUTASI DOSEN
- Curriculum Vitae Anggota Tim Peneliti I. IDENTITAS DIRI
- PENGALAMAN PENELITIAN
- PENGALAMAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT No Tahun Judul pengabdian pada masyarakat
- PENGALAMAN PENULISAN ARTIKEL ILMIAH DALAM JURNAL No Tahun Judul Artikel Ilmiah Volume/
- PELATIHAN PROFESIONAL
- PENGALAMAN PENULISAN BUKU
- PAKAR/ KONSULTAN/ STAF AHLI/ NARASUMBER
- KEANGGOTAAN PADA ORGANISASI/ASOSIASI PREFESI DAN ILMIAH
- VISITING PROFESSOR/LECTURING
- PENCAPAIAN PRESTASI/REPUTASI DOSEN
- Curriculum Vitae Anggota Tim Peneliti I. IDENTITAS DIRI
- SEMINAR
PENGALAMAN MENULIS ARTIKEL ILMIAH DI JURNAL Nr. Tahun Judul Artikel Ilmiah Jilid/ No. Tahun Judul Artikel Ilmiah Jilid/. PENGALAMAN PELAYANAN MASYARAKAT No. Tahun Judul Pengabdian Masyarakat Nr. Tahun Gelar Pengabdian Kepada Masyarakat. Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika mengangkat tema “Pengembangan kompetensi guru Matematika menghadapi implementasi kurikulum 2013”.
Seminar Satu Dekade APSI dengan tema “Membangun Jati Diri Pengawas Sekolah/Madrasah dan Menyambut Penerapan Kurikulum 2013”. Seminar Satu Dekade APSI “Membangun Jati Diri Pengawas Sekolah/Madrasah dan Menyambut Penerapan Kurikulum 2013”. Pembawa acara : Seminar Evaluasi Pendidikan Nasional (SNEP) II yang dilaksanakan oleh Program Studi Magister PEP Pascasarjana UNES Semarang pada tanggal 22 November 2014.