PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dari uraian di atas, maka perlu dilakukan penelitian dengan mengembangkan perangkat ajar yang bercirikan model pembelajaran kolaboratif tipe jigsaw sebagai alternatif untuk mengatasi permasalahan pembelajaran biologi di Madresah Aliyah Ponpes Nurul Haramain Putri NW Narmada. “Kualitas Proses dan Hasil Pembelajaran Biologi melalui Pengajaran dengan Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw di Madresah Aliyah Ponpes Nurul Haramain Lombok Barat NTB.”
Rumusan Masalah
Yusuf, S.Pd., M.Pd 7 Model Pembelajaran Kolaboratif Jigsaw yang meliputi; Bahan ajar, RPP, lembar kegiatan siswa dan instrumen tes hasil belajar.
Tujuan, Asumsi, Pembatasan Penelitian, dan Penjelasan
- Tujuan Umum
- Tujuan Khusus
- Asumsi
- Penjelasan Istilah
Mengetahui kualitas proses dan hasil belajar biologi siswa melalui penggunaan perangkat pembelajaran kooperatif dan model tipe puzzle. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran yang mengharuskan siswa belajar secara berkelompok yang terdiri dari 4 sampai 6 orang siswa yang mempunyai kemampuan heterogen.
Metodologi (Pemecahan Masalah)
- Jenis Penelitian
- Subjek Penelitian
- Variabel dan Definisi Operasional Variabel
- Prosedur Penelitian
- Instrumen Penelitian
- Teknik Analisis Data
X = Pembelajaran dengan perangkat pembelajaran dan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw oleh peneliti dan guru mitra. Analisis data pengelolaan pembelajaran digunakan untuk menjawab pertanyaan “Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran yang diarahkan pada model pembelajaran kooperatif tipe puzzle?”.
Tinjauan Pustaka
- Hakikat IPA Biologi dan Pembelajarannya
- Teori Konstruktivis dalam Pembelajaran IPA
- Prinsip-prinsip Belajar Konstruktivis
- Pembelajaran Kooperatif
- Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
- Penelitian-penelitian yang Relevan
- Kerangka Berpikir
Dalam pembelajaran kooperatif, siswa belajar bersama dalam kelompok kecil yang saling membantu. Berikut ini langkah-langkah pokok yang disusun untuk melaksanakan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw; (1) memberikan tugas, (2) memberikan makalah ahli, (3) memimpin diskusi, (4) mengadakan kuis. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa guru dapat memanfaatkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dengan baik dan meningkatkan keterampilan kooperatif siswa pada saat pembelajaran.
Kemudian dengan menggunakan pembelajaran kooperatif format puzzle, siswa dapat dengan mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit. Diskusi dalam pembelajaran kooperatif menjalin komunikasi dimana siswa saling bertukar pikiran atau pendapat. Selanjutnya pembelajaran kooperatif tipe puzzle merupakan lingkungan belajar dimana siswa belajar bersama dalam kelompok kecil yang heterogen untuk menyelesaikan tugas belajar.
Dengan demikian diharapkan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan kualitas proses dan kualitas hasil belajar biologi siswa kelas X Madrasah Aliyah.
PEMBAHASAN
Hasil Pengembangan Perangkat Pembelajaran
- Materi Ajar
- Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
- Lembar Kegiatan Siswa (LKS)
- Instrumen Tes Hasil Belajar Siswa (THB)
Dengan demikian diperoleh gambaran item-item yang layak digunakan dalam evaluasi hasil belajar pada uji coba II. Soal yang diganti adalah soal nomor 5, 6, 8 dan 24. c) tujuan pembelajaran yang berkaitan dengan soal yang dihapus tersebut dihilangkan. Yusuf, S.Pd., M.Pd 91 Tabel 2.5 diatas menunjukkan hasil analisis soal produk THB berdasarkan hasil uji coba pertama yang dilakukan pada 22 santri MA Pesantren Darun Najah Duman Lombok Barat.
Berdasarkan kriteria sensitivitas butir soal yang baik menurut Arikunto66, yaitu soal tes yang mampu mengukur pengaruh pembelajaran adalah soal yang mempunyai kepekaan lebih besar atau sama dengan 0,40. Kesembilan pertanyaan yang tidak mengukur efek pembelajaran tersebut selanjutnya dikelompokkan menjadi tiga, yaitu; (1) tanda tanya dihilangkan termasuk tujuan pembelajaran yang dinilai dengan tanda tersebut, (2) tanda tanya diganti, dan (3) tanda tanya dihilangkan namun tujuan pembelajaran yang dinilai dengan tanda tanya tetap ada. Informasi lebih lanjut mengenai soal-soal yang diganti dan dihilangkan dapat dilihat pada Tabel 2.6 di bawah ini.
Dari hasil analisis item proses perdagangan orang pada Tabel 2.7 di atas diketahui bahwa seluruh item yang dikembangkan peneliti untuk mengevaluasi tujuan pembelajaran proses dapat digunakan untuk mengevaluasi tujuan pembelajaran proses dalam pembelajaran nyata (Eksperimen II).
Hasil Analisis Reliabilitas Instrumen Pengamatan
Dengan demikian, instrumen observasi dapat digunakan untuk menilai kualitas proses pembelajaran dalam pembelajaran nyata (Eksperimen II) dalam penelitian ini.
Hasil Observasi dan Analisis Implementasi Perangkat
- Kemampuan guru mitra dalam Mengelola Pembelajaran102
Tingginya persentase keaktifan guru dalam mendorong dan mengaktifkan keterampilan kooperatif siswa membuktikan bahwa proses pembelajaran yang dikelola guru telah menunjukkan ciri-ciri pembelajaran kooperatif. Yusuf, S.Pd., M.Pd 115 Dalam pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe ini, aktivitas dominan guru adalah mengelola pembelajaran sesuai kaidah pembelajaran kooperatif dan mendorong atau melatih keterampilan kooperatif siswa. Tingginya persentase keaktifan guru dalam pembinaan dan pelatihan keterampilan kooperatif siswa membuktikan bahwa proses belajar mengajar yang dikelola guru telah menunjukkan ciri-ciri pembelajaran kooperatif.
Dengan demikian, terdapat hubungan antara peningkatan aktivitas guru dalam mengajarkan keterampilan kooperatif siswa dengan peningkatan aktivitas siswa dalam mengajarkan keterampilan kooperatif. Tingginya aktivitas siswa dalam mengajarkan keterampilan kolaboratif sejalan dengan meningkatnya aktivitas guru dalam RPP individu dalam mengajarkan keterampilan kolaboratif siswa. Perbandingan rata-rata persentase keterampilan kooperatif yang dilakukan siswa selama pembelajaran ditunjukkan pada Gambar 2.5 di bawah ini.
Perbandingan rata-rata persentase keterampilan kooperatif siswa selama pembelajaran pada Uji Coba I dan Uji Coba II ditunjukkan pada Gambar 2.6 berikut ini.
Hasil Analisis Tes Hasil Belajar
- Tes Hasil Belajar Produk
- Tes Hasil Belajar Proses
Hasil analisis ketuntasan belajar siswa membuktikan bahwa sebanyak 23 siswa atau 88,64% siswa tuntas belajarnya, dari 26 siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran uji coba kedua. Oleh karena itu, secara klasikal siswa telah menyelesaikan studinya, karena persentase siswa yang menyelesaikan studinya berada di atas standar kelulusan yang ditetapkan dalam kurikulum. Ketuntasan siswa terhadap produk tujuan pembelajaran ditinjau secara individual yang disebut ketuntasan individu, dan dipertimbangkan secara keseluruhan oleh siswa yang mengikuti pembelajaran dari RPP-1 sampai RPP-3 yang disebut ketuntasan klasikal.
Pengajaran yang menerapkan perangkat dan model pembelajaran kolaboratif tipe Jigsaw oleh guru mitra di MA Ponpes Nurul Haramain Putri NW Narmada Lombok Barat telah menghasilkan 88,64% siswa tuntas belajarnya untuk tujuan produk karena persentase siswa yang tuntas belajarnya berada di atas standar ketuntasan yang ditetapkan dalam Kurikulum 1994 yaitu 85%. Hasil analisis membuktikan bahwa terdapat dua orang siswa yang belum menyelesaikan studinya untuk keperluan pembelajaran prosedural, yaitu siswa dengan nomor urut 20 dan 22. Dari wawancara dengan siswa yang bersangkutan diperoleh informasi bahwa siswa tersebut salah paham. poin pertanyaan nomor 1, 3 dan pertanyaan nomor 5.
Meskipun terdapat dua orang siswa yang belum menyelesaikan proses belajarnya untuk tujuan proses pembelajaran, namun secara keseluruhan siswa tersebut telah menyelesaikan proses belajarnya untuk tujuan proses pembelajaran karena 92,30% siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran telah menyelesaikan proses belajarnya.
Hasil Analisis Respon Siswa terhadap Perangkat dan Model
Komentar siswa terhadap perangkat pengajaran dan model pembelajaran diikuti, 100% siswa menjawab bahwa LKS dan keterampilan kolaboratif siswa merupakan sesuatu yang baru. Seluruh siswa (100%) tertarik untuk mengikuti kegiatan pembelajaran berikutnya ketika disajikan model pembelajaran kolaboratif Jigsaw. Menilai kualitas pembelajaran dengan menerapkan perangkat pembelajaran dan model pembelajaran kolaboratif tipe jigsaw, salah satunya dengan melakukan cross check siswa dan guru dengan meminta mereka memberikan komentar atau pendapat terhadap perangkat pembelajaran dan pembelajaran yang dilakukan.
Respon siswa terhadap alat dan model pembelajaran kolaboratif Jigsaw meliputi respon terhadap topik biologi yang dipelajari, buku siswa, LKS, suasana kelas, penampilan guru, dan keterampilan kolaboratif, serta minat siswa untuk mengikuti kegiatan pembelajaran berikutnya sebagaimana yang telah dilakukannya. dengan pengalaman. Persentase yang tinggi tersebut juga menunjang keberhasilan pengelolaan pembelajaran yang dilakukan guru pada saat pembelajaran, sehingga guru mitra dapat mengelola pembelajaran yang berorientasi pada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dengan kategori baik. Tingginya persentase siswa yang merasa senang dan merasa baru terhadap perangkat dan model pembelajaran kolaboratif Jigsaw berimplikasi pada minat siswa untuk mengikuti kegiatan pembelajaran selanjutnya seperti yang telah mereka ikuti sebelumnya.
Namun alat peraga khususnya buku siswa yang berorientasi pada model pembelajaran kooperatif tipe puzzle masih perlu ditingkatkan dari segi bahasa dan tampilannya apabila alat peraga yang dikembangkan tersebut dapat diterapkan kembali pada mata pelajaran lain atau oleh pihak yang membutuhkan.
Kesan Guru terhadap Perangkat dan Model Pembelajaran
Secara umum guru mitra menilai perangkat pembelajaran yang dikembangkan peneliti cukup berguna dalam proses pembelajaran dan sangat bermanfaat, baik bagi guru itu sendiri dan terlebih lagi bagi siswa. Kesan guru terhadap alat dan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw meliputi kesannya terhadap komponen pembelajaran yaitu; topik biologi yang dipelajari, buku siswa, LKS, suasana kelas, penampilan guru dan keterampilan kerjasama. Selain itu guru juga diminta memberikan pendapatnya mengenai manfaat penerapan perangkat dan model pembelajaran yang dikembangkan peneliti serta kendala yang akan dihadapi jika guru merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe puzzle.
Secara umum guru mitra menilai sumber belajar yang dikembangkan peneliti sangat membantu dalam proses pembelajaran. Menurut guru mitra, salah satu manfaat yang dapat diperoleh dengan menerapkan perangkat dan model pembelajaran kooperatif berbentuk puzzle adalah siswa lebih berani dalam mengkomunikasikan sesuatu. Meskipun alat dan model pembelajaran yang dikembangkan cukup bermanfaat dan memberikan manfaat yang signifikan bagi guru dan siswa, namun guru mitra akan menemui kendala dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe puzzle pada pembelajaran berikutnya.
Pengetahuan dan pengalaman guru mitra dalam membuat buku ajar dan LKS seperti yang dikembangkan peneliti tidak terlalu menjadi kendala.
SIMPULAN
Proses pembelajaran yang menerapkan perangkat pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe puzzle dapat meningkatkan proporsi jawaban benar siswa. Untuk THB produk sebesar 0,46, sedangkan THB proses meningkat sebesar 0,78, sehingga tujuan pembelajaran produk dan proses yang dikembangkan peneliti dikuasai sepenuhnya oleh siswa, baik secara individu maupun kelas. Hal ini menunjukkan bahwa siswa secara umum telah memahami konsep interaksi tindakan melalui pembelajaran dengan menerapkan alat dan model pembelajaran kooperatif berbentuk puzzle.
SARAN
Pembelajaran Dasar Fisika II : Topik Pokok Rangkaian Arus Listrik dan Arus Listrik Searah Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw. “Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran Fisika Siswa Kelas XI MIPA SMA Negeri 2 Singaraja.” JPPF 8, no. “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika SMA Sasaran Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw.” Tesis Magister, PPs IKIP Surabaya, 1999.
Penelitian pengembangan ini dilakukan dengan tujuan; (1) Pengembangan perangkat pembelajaran biologi SMA/MA yang bercirikan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, dan (2) pengetahuan tentang kualitas proses dan hasil pembelajaran biologi dengan menggunakan perangkat pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Hasil survei menunjukkan; (1) Guru mampu melaksanakan seluruh aspek pembelajaran dengan kategori baik, (2) Aktivitas dominan guru adalah memimpin pembelajaran sesuai prinsip pembelajaran kooperatif dan melatih siswa dalam keterampilan kooperatif, (3) Aktivitas dominan siswa siswa membaca bahan ajar, LKS dan menulis yang relevan, (4) keterampilan kolaborasi siswa yang dominan adalah bergiliran dan berbagi tugas, (5) siswa mengungkapkan kesenangan dan baru terhadap alat dan model pembelajaran, (6) guru menganggap alat pembelajaran sangat berguna dan bermanfaat, dan (7) Pembelajaran yang baik Penggunaan perangkat pembelajaran kooperatif dan model tipe puzzle dapat menyelesaikan pembelajaran siswa. Pembelajaran kooperatif merupakan suatu strategi pengajaran dengan banyak siswa sebagai anggota kelompok kecil dengan tingkat kemampuan yang berbeda-beda.
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan salah satu jenis pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam suatu kelompok yang bertanggung jawab untuk menguasai sebagian materi pembelajaran dan mampu mengajarkan bagian tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya.