Kebebasan beragama dan berkeyakinan sebagai hak dasar yang dijamin oleh konstitusi nasional telah dihina dengan berbagai penganiayaan massal 'atas nama agama'. Peristiwa kekerasan pada umumnya terkait dengan pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan, antara lain berupa pelarangan pendirian tempat ibadah; Kebebasan beragama dan berkeyakinan sebagai hak asasi yang dijamin konstitusi negara telah dilanggar dengan berbagai penganiayaan massal atas nama Islam.
Laporan kebebasan beragama dan berkeyakinan yang diterbitkan Setara Institute memberikan gambaran jelas mengenai permasalahan di atas. Penyerangan massal FPI terhadap aktivis Aliansi Kebangsaan Agama dan Keyakinan (AKKBB) yang sedang melakukan aksi damai di Monas pada 1 Juni 2008 akhirnya mempertemukan Rizieq Shihab (Ketua Umum DPP FPI) dan Munarman (Ketua FPI DPP FPI untuk Nahi Mungkar). ke meja pengadilan. . Dalam konteks hak kebebasan beragama dan berkeyakinan, para aktivis hak asasi manusia menilai bahwa asal muasal segala tindakan kekerasan (terutama yang dilakukan oleh negara) bermula dari paradoks konstitusi berupa pembatasan politik terhadap hak asasi manusia yang terkandung di dalamnya. . dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (Pasal 28 J Ayat 2).
Setara Institute berhasil mengungkap pelanggaran hak kebebasan beragama dan berkeyakinan meningkat tajam pada tahun 2010. Pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan terkait izin ibadah juga dilakukan tidak hanya oleh pejabat pemerintah, namun juga dilakukan secara massal. penganiayaan.
Kemurtadan terhadap agama Bahá'í di Tulungagung terjadi pada tanggal 25 Oktober 2009, dan hanya dua hari kemudian, tanggal 27 Oktober 2009, terjadi kemurtadan (ditandai dengan penyerangan dan pengusiran) terhadap pengikut Among Tani Majapahit (ATM). Berdasarkan hal tersebut, para penganutnya meyakini bahwa Bahá'í adalah agama yang setara dengan agama lainnya. Agama Bahá'i mempunyai ajaran yang dapat dibedakan secara jelas dengan ajaran agama lain, khususnya Islam.
Kepercayaan Baha'i juga diperkukuh dengan menjadikan Gunung Karmel, berhampiran Laut Mediterranean, Israel, kiblat mereka. Ma'ruf Amin, tanpa teragak-agak dan tanpa meminta maaf, menjadikan Baha'i sebagai mazhab sesat. Menurut Amin, Baha'i memenuhi semua kriteria sebagai gerakan sesat seperti yang ditetapkan oleh MUI.
Diakui Kepala Intelijen Kejari Tulungagung, Slamet SH, penyidikan yang dilakukan kliennya hanya sebatas keinginan mempelajari sejauh mana ajaran Baha'i dari sumber langsung. Menurut Kepala Bagian Agama Kementerian Agama Tulungagung Akhsan Tohari, pihaknya tidak bisa mengambil tindakan apa pun hingga ajaran Baha'i menyimpang dari dogma agama yang diakui pemerintah. Akhsan membenarkan, ia tidak menemukan kesamaan antara ajaran Baha'i dengan dogma yang dianut umat Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Khonghucu.
Selain ajaran yang dinilai sesat di atas, MUI juga mempersoalkan penerbitan akta nikah oleh kelompok Baha'i untuk perkawinan antar penganut ajaran tersebut. Penganut agama Baha'i juga meminta Pemerintah Daerah menerbitkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang menganut agama Baha'i. Kriminalisasi terhadap pengikut Baha'i karena dianggap menghina dan mencemarkan nama baik Islam. Tidak memberikan hak untuk mencatatkan perkawinan antar penganut Baha'i.
Proses seperti ini terjadi pada pendiri Santriloka, Mbah Aan; Sukarno, pendiri ATM, dan para pengikutnya; Sulyani, pendiri Dogma Lima Hal dan para pengikutnya; Jono, pendiri Padange Ati dan para pengikutnya; Kajian Noto Ati Jombang; Baha'i; dan jamaah Syafaatus Shalawat. Seperti telah dibahas pada bagian sebelumnya, umat Baha'i Tulungagung mewajibkan pemerintah daerah untuk mencantumkan identitas agama Baha'i di KTP mereka. Khayalan terhadap ajaran Baha'i misalnya, diawali dengan tuduhan bahwa ajaran tersebut mencemari Islam karena mengajarkan: shalat wajib hanya sekali sehari; Dikatakan pula bahwa puasa Ramadhan hanya wajib selama 17 hari; doa menghadap Gunung Karmel, dekat Mediterania, Israel;
Keberadaan agama Baha'i di Indonesia diakui sebagai ajaran yang terpisah dari agama lain dan masih mempunyai hak untuk eksis. Namun penyesatan dan kriminalisasi terhadap penganut Baha'i Tulungagung tidak bisa dihentikan, bahkan oleh negara. 69/2000 umat Baha'i sebenarnya diperbolehkan tinggal di Indonesia setelah sebelumnya dilarang oleh Presiden Soekarno melalui Keputusan Presiden No.
Merujuk pada Keppres tersebut, Baha'i tidak bisa dituduh memfitnah atau menghina agama apa pun karena Baha'i bukan aliran/aliran agama yang diakui negara.
REGULaSI BERMaSaLaH
Pada 1 Desember 2009, sekitar 50 orang yang mengatasnamakan Forum Komunikasi Umat Islam (ICF) bebas menggerebek sejumlah panti pijat di Kota Batu. Aksi tersebut dibarengi dengan berbagai penghinaan terhadap pengelola panti pijat, menuntut pengelola panti pijat di Kota Batu segera menutup usahanya. FKUI menduga banyak panti pijat yang tidak memiliki izin usaha, meski ada juga yang memilikinya.
Eko Santoso mengaku mendapat informasi Pemkot setempat telah memperbarui izin usaha 8 dari 14 panti pijat yang ada di Batu. Kedatangan mereka menuntut Wali Kota Batu tidak memperpanjang izin usaha panti pijat di Kota Batu. Pengelola panti pijat diberi waktu 1 bulan hingga akhir Desember 2009 untuk menutup usahanya.
Secara terpisah, pengelola panti pijat membantah bahwa bisnis mereka dipandang sebagai tempat amoralitas tersembunyi. Mereka menuntut penutupan seluruh panti pijat di Kota Batu karena diduga menjadi tempat persembunyian prostitusi. FKUI juga mendesak Pemerintah Kota Batu secara tertulis untuk menutup seluruh panti pijat di kota tersebut.
9 Januari 2009 FKUI Kota Batu meminta kepada Pemerintah Kota Batu untuk tidak memperpanjang izin usaha Panti Pijat Rini Jaya dan panti pijat lainnya. Pada 14 Januari 2009, FKUI Batu mendatangi Kepala Satpol PP Shinta Roemondang dan menuntut penutupan seluruh panti pijat di Kota Batu karena diduga sebagai tempat maksiat yang tersembunyi. FKUI juga meminta secara tertulis kepada Pemerintah Kota Batu untuk menutup seluruh panti pijat di kota tersebut.
21 Agustus 2009 FKUI bersama MUI mendesak pemerintah kota Batu menutup total panti pijat dan hiburan sepanjang malam selama Ramadhan 2009. Melalui surat edaran walikota, pemerintah kota Batu memperbolehkan panti pijat buka hanya tiga jam WIB. Usai meninggalkan PN, massa FKUI pun melakukan penggeledahan di seluruh panti pijat yang ada di Kota Batu.
Sayangnya tak mendapatkan perlindungan, namun Satpol PP justru menutup salah satu panti pijat di Batu secara paksa. Pada tanggal 21 Agustus 2009, FKUI bersama MUI Kota Batu kembali mendesak Pemerintah Kota Batu untuk menutup total panti pijat dan tempat hiburan malam selama Ramadhan 2009.
PENUTUP
Demikian pula kekerasan berbasis agama, khususnya kekerasan pada bulan Ramadhan, juga merupakan yang tertinggi di antara seluruh provinsi di Indonesia. Sangat intensnya kekerasan Ramadhan 2009 yang terjadi di Jawa Timur juga dibenarkan dengan berbagai peraturan Ramadhan. CMARs mencatat, sejak tahun 2001, telah diterbitkan 12 peraturan daerah dan surat edaran bupati (SEB) bernuansa syariah di berbagai kota/kabupaten.
Dari segi jumlah, mungkin 'prestasi' Jawa Timur dalam menyusun peraturan berbasis syariah tidak berbeda dengan provinsi lain di Indonesia. Yang paling meresahkan, setiap tahun dukungan terhadap gagasan formalisasi syariah semakin masif dan melibatkan semakin banyak kelompok pendukung. Bahkan, NU yang selama ini dikenal sebagai ormas moderat yang cenderung pro pluralisme, kini telah bergeser menjadi kekuatan yang mendukung gagasan formalisasi syariah.
Besarnya dukungan NU juga terlihat dari pembahasan Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Bangkalan tentang Penyelenggaraan Pendidikan yang salah satu pasalnya memuat peraturan tentang wajib berhijab bagi pelajar dan pekerja di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bangkalan. Di seluruh peraturan berbasis syariah di Jawa Timur, dukungan NU mudah ditemukan. Dalam beberapa kasus murtad, Ormas Islam terbesar ini turut berperan aktif dalam pelaku pelanggaran kebebasan beragama.
Untuk tiga sen, negara ini juga tampaknya sangat lunak dalam menangani fatwa agama, yang jelas-jelas bertentangan dengan konstitusi nasional. 1965 dan Pasal 156a KUHP, karena semangatnya bertentangan dengan semangat perlindungan hak-hak dasar warga negara yang dijamin oleh konstitusi negara, undang-undang no. Lebih lanjut, berbagai peraturan syariah tersebut tidak mencerminkan prinsip penyelenggaraan negara yang demokratis.
Proses pembuatan peraturan berbasis syariah juga cenderung bertentangan dengan asas pembuatan peraturan perundang-undangan sebagaimana diatur dalam Pasal 5 UU No. Sebagai lembaga keagamaan, fatwa yang dikeluarkan MUI hendaknya hanya diperlakukan sebagai pendapat hukum yang bersifat mengikat. pada orang yang memilih untuk mengikutinya (mulzim binafsih). Faktanya, fatwa MUI, termasuk fatwa penipuan, telah dianggap sebagai imbauan yang mengikat secara hukum.
TENTaNG PENULIS