PENELITIAN PENGEMBANGAN IPTEKS
PENENTUAN LAJU PENGURAIAN ALISIN DALAM EKSTRAK DAN FITOSOM EKSTRAK BAWANG PUTIH SEBAGAI ANTIDIABETES
Oleh
Rahmah Elfiyani, M.Farm., Apt. NIDN 0310128403 (KETUA) Anisa Amalia, M.Si. NIDN 0316018801 (ANGGOTA)
FAKULTAS FARMASI DAN SAINS PROGRAM STUDI FARMASI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF.DR.HAMKA 2020
LEMBAR PENGESAHAN
PENELITIAN PENGEMBANGAN IPTEK (PPI) JudulPenelitian
Penentuan Laju Penguraian Alisin dalam Ekstrak dan Fitosom Ekstrak Bawang Putih sebagai Antidiabetes
JenisPenelitian :PENELITIAN PENGEMBANGAN IPTEK (PPI) Ketua Peneliti :Rahmah Elfiyani
Link Profil simakip :http://simakip.uhamka.ac.id/pengguna/editProfile/877
Contoh link: http://simakip.uhamka.ac.id/pengguna/show/978 Fakultas : Fakultas Farmasi dan Sains
Anggota Peneliti :Anisa Amalia
Link Profil simakip :http://simakip.uhamka.ac.id/pengguna/editProfile/584
Contoh link: http://simakip.uhamka.ac.id/pengguna/show/978
Anggota Peneliti :Click or tap here to enter text.
Link Profil simakip :Click or tap here to enter text.
Contoh link: http://simakip.uhamka.ac.id/pengguna/show/978
Waktu Penelitian : 6 Bulan Luaran Penelitian
Luaran Wajib :Publikasi Jurnal Nasional Akreditasi Status Luaran Wajib : In Review
Luaran Tambahan :Prosiding Status Luaran Tambahan:Submit
Mengetahui, Jakarta, 10 May 2020
Ketua Program Studi Ketua Peneliti
Apt. Kori Yati, M.Farm., Apt. Rahmah Elfiyani, M.Farm.
NIDN. 0324067802 NIDN.0310128403
Menyetujui,
DekanFakultas Farmasi dan Sains Ketua Lemlitbang UHAMKA
Dr. Apt. Hadi Sunaryo, M.Si.. Prof. Dr. Suswandari, M.Pd
NIDN.0325067201 NIDN. 0020116601
RINGKASAN
Berdasarkan uji aktivitas terbukti bahwa ekstrak bawang putih dapat menurunkan kadar gula darah pada hewan coba. Penggunaan bahan alam sebagai bahan aktif dalam suatu bentuk sediaan umunya menunjukkan bioavaibilitas yang rendah.Hal tersebut dapat diatasi dengan menggunakan sistem nanoteknologi dalam bentuk fitosom.Fitosom dapat melindungi zat aktif bahan alam dari kerusakan akibat sekresi pencernaan dan bakteri pada usus sehinggapenyerapan dan bioavaibilitas obat menjadi lebih baik serta dapat memperbaiki efek farmakologis dan farmakokinetik dari zat aktif tersebut.Namun, membran fitosom sangat rentan mengalami degradasi, fusi, agregasi pada vesikel, sehingga terjadi perubahan distribusi ukuran partikel serta kebocoran atau penguraian bahan yang terenkapsulasi dalam fitosom pada saat penyimpanan sehingga menyebabkan kestabilan menurun dan memiliki umur simpan yang pendek. Penelitian ini bertujuan mendapatkan nilai laju penguraian alisin sehingga dapat menggambarkan seberapa besar kemampuan fitosom untuk mencegah terjadinya penguraian ekstrak bawang putih yang terjerap dalam sistem fitosom.Penelitian ini diawali dengan pembuatan ekstrak dan pembuatan fitosom.Selanjutnya penentuan laju penguraian alisin dengan metode uji stabilitas dipercepat menggunakan suhu 40C, 250C, dan 400C, selama 8 minggu. Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah didapatkannya perbandingan laju penguraian alisin dalam ekstrak bawang putih dan fitosom………
………
………
……… dst.
Kata Kunci :fitosom, ekstrak bawang putih, alisin, thermal stability, laju penguraian
Latar Belakang
Allisin (diallyl thiosulfinate) merupakan salah satu komponen biologis yang paling aktif yang terkandung dalam bawang putih. Komponen ini, bersamaan dengan komponen sulfur lain yang terkandung dalam bawang putih berperan pula memberikan bau yang khas pada bawang putih (Londhe et al. 2011).Alliin akan berubah menjadi allisin begitu umbi diremas. Allisin bersifat tidak stabil sehingga mudah mengalami reaksi lanjut tergantung kondisi pengolahan atau faktor eksternal lain seperti penyimpanan, suhu, pH, dan lain-lain. Pada bawang putih, katalisis dari alinase membentuk allisin, yang memberikan karakteristik bau pada bawang putih(Hernawan dan Setyawan 2003).Allisin mampu menjadi agen anti-diabetes dengan mekanisme perangsangan pankreas untuk mengeluarkan sekret insulin lebih banyak (Hernawan dan Setyawan 2003).
Ekstrak bawang putih (Allium sativum L) dapat dibuat dalam sistem fitosom dengan menggunakan fosfatidilkolin sebagai pembentuk ikatan fosfolipid sehingga dapat
Latarbelakangpenelitiantidaklebihdari 500 kata yang berisilatarbelakang dan permasalahan yang akanditeliti, tujuankhusus, dan urgensipenelitian. Pada bagianiniperludijelaskanuraiantentangspesifikasikhususterkaitdenganskema.
Kata KunciMaksimal 5 Kata
Ringkasanpenelitiantidaklebih dari 500 kata yang berisi latar belakang penelitian, tujuan dan tahapanmetodepenelitian, luaran yang ditargetkan,
meningkatkan stabilitas allisin.Pada saat ekstrak bawang putih (Allium sativum L) terjerap di dalamnya, maka kemungkinan allisin untuk terurai semakin rendah(Ramadon and Mun’im2016).Tingkat kejenuhan fosfatidilkolin yang menyusun membran vesikel fitosom mempengaruhi kestabilan dan kerentanannya terhadap oksidasi selama penyimpanan.Selain itu fosfatidilkolin juga mengandung ikatan ester-gliserol yang rentan terhadap hidrolisis (Noor 2008).Adapun kekurangan yang dimiliki fosfatidilkolin yaitu rentan mengalami degradasi, fusi, agregasi pada vesikel, sehingga terjadi perubahan distribusi ukuran partikel serta kebocoran bahan aktif yang terjerap dalam fitosom pada saat penyimpanan sehingga menyebabkan kestabilan fitosom menjadi rendah dan memiliki umur simpan yang pendek.
Selain itu, kekurangan lain fosfatidilkolin adalah memiliki suhu transisi fase pada suhu dibawah 100C ataupun lebih dari 1600C (Rowe 2009).
Berdasarkan hal tersebut maka tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan nilai laju penguraian allisin dalam ekstrak dengan bentuk fitosom sehingga dapat diketahui seberapa besar kemampuan fisosom untuk mencegah terjadinya penguraian allisin dalam ekstrak bawang putih yang terjerap dalam sistem fitosom.
.
Urgensi Penelitian
Alisin yang terkandung dalam bawang putih dapat menurunkan kadar gula darah sehingga berpotensi digunakan dalam pengobatan diabetes mellitus. Berdasarkan uji aktivitas terbukti bahwa ekstrak bawang putih dapat menurunkan kadar gula darah pada hewan coba.
Untuk meningkatkan penerimaan penggunaan ekstrak tersebut dalam pengobatan maka perlu diformulasikan dalam bentuk sediaan.
Permasalahan penggunaan bahan alam sebagai bahan aktif dalam suatu bentuk sediaan adalah rendahnya stabilitas.Allisin bersifat tidak stabil sehingga mudah mengalami reaksi lanjut tergantung kondisi pengolahan atau faktor eksternal lain seperti penyimpanan, suhu, pH, dan lain-lain.Hal tersebut dapat diatasi dengan menggunakan system nanoteknologi dalam bentuk fitosom.Fitosom dapat melindungi zat aktif ekstrak tanaman dari kerusakan, baik kerusakan akibat sekresi pencernaan dan bakteri pada usus ataupun kemungkinan terurai akibat faktor eksternal, sehingga bioavaibilitas obat menjadi lebih baik dan dapat memperbaiki efek farmakologis dan farmakokinetik, serta memperpanjang umur simpan dari ekstrak tanaman tersebut.
Ekstrak bawang putih yang diformulasikan dalam fitosom diharapkan dapat melindungi alisin dari kerusakan sehingga dapat memperlambat laju penguraian yang akan memperpanjang umur simpan sediaan, dengan demikian fitosom dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan diabetes.
.………
………
………
……… dst
TINJAUAN PUSTAKA 1.
State of The Art
Kandungan allisin pada bawang putih (Allium sativum L) merupakan senyawa yang berperan aktif sebagai penurun glukosa darah (Setiawan et al., 2011). Lebih lanjut diketahui bahwa ekstrak metanol bawang putih terbukti memiliki aktivitas farmakologi sebagai antidiabetes sehingga berpotensi digunakan dalam pengobatan diabetes melitus (Rana et al.,2018). Permasalahan penggunaan bahan alam sebagai bahan aktif dalam suatu bentuk sediaan adalah rendahnya bioavailabilitas yang disebabkan oleh sulitnya ekstrak berpenetrasi melalui membran biologis dan kemungkinan ekstrak untuk terurai semakin besar(Agoes, 2010).Oleh karena itu, dibutuhkan suatu teknologi sistem penghantaran yang dapat mengatasi permasalahan tersebut.Salah satu sistem penghantaran bahan alam yang sedang berkembang adalah fitosom.Fitosom dibuat dengan menggunakan teknik penguapan pelarut hingga diperoleh lapis tipis. Lapis tipis tersebut kemudian dihidrasi dengan menggunakan dapar fosfat pH pada suhu 65˚C. Pada sistem fitosom dan ekstrak yang terbentuk kemudian dilakukan uji stabilitas kimia (laju reaksi penguraian dan umur simpan), dan uji aktivitas.
Fitosom
Fitosom merupakan suatu teknologi yang dikembangkan dari pembuatan obat dan nutraceutical. Fitosom berasal dari kata “Phytosome” yang memiliki arti phyto artinya tanaman, dan some artinya sel, merupakan suatu teknologi yang dikembangkan dari pembuatan obat dan nutraceutical, untuk menggabungkan ekstrak dari tanaman yang larut didalam fitokonstituen ke dalam fosfolipid untuk membentuk kompleks molekul lipid(Jain et al. 2010). Fitosom dibuat untuk meningkatkan bioavailabilitas dari suatu bahan aktif. Bahan aktif yang terkandung dalam tanaman memiliki bioavailabilitas yang buruk karena sebagian besarbahan aktif yang terkandung dalam ekstrak tanaman mengandung senyawa polar atau
Tinjauanpustakatidaklebihdari 1000 kata denganmengemukakan state of the art dan peta jalan (road map) dalambidang yang diteliti. Bagan dan road map dibuatdalambentuk JPG/PNG yang kemudiandisisipkandalamisianini. Sumberpustaka/referensi primer yang relevan dan denganmengutamakanhasilpenelitian pada jurnalilmiah dan/atau paten yang terkini. Disarankanpenggunaansumberpustaka 10 tahunterakhir
larut dalam air dan ukuran molekulnya besar sehingga sulit untuk menembus membran sel yang tersusun atas lipid(Ajazudin 2010).Nano-fitosom dibuat dengan mencampurkan fitokonstituen dengan fosfatidilkolin pada perbandingan molar tertentu (biasanya 1:1 hingga 1:3), sehingga akan menghasilkan suatu kompleks yang ikatannya lebih kuat karena 1 molekul fitokonstituen akan diikat oleh 1 molekul fosfatidilkolin (Karimi et al. 2015).
Fitosom memiliki berbagai keuntungan diantaranya dapat meningkatkan absorpsi dari fitokonstituen polar yang tidak larut dalam lipid. Melalui rute oral dan rute topikal menunjukkan bioavabilitas yang lebih baik serta efek terapi yang lebih besar dan penjerapan obat yang cukup besar.Fosfatidikolin yang digunakan dalam preparasi fitosom, selain berperan sebagai karier juga dapat berfungsi sebagai hepatoprotektif, oleh karena itu memberikan efek sinergis dengan substansi hepatoprotektif yang ditambahkan.Fitosom menunjukkan profil stabilitas yang lebih baik karena ikatan-ikatan kimia yang terbentuk antara molekul fosfatidikolin dan fitokonstituen.Fitosom dapat meningkatkan kemampuan suatu substansi untuk melalui membran sel dan masuk ke dalam sel (Amitet al 2013).
Gambar1.Perbedaan Struktur Fitosom (Tripathy et al. 2013)
Fosfolipid
Fosfolipid merupakan kompleksitas gliserida dengan modifikasi hidroksil termasuk dengan gugus kepala polar membentuk fosfolipid. Fosfolipid diturunkan namanya dari gugus fosfat terikat pada salah satu hidroksil terminal akhir dari gliserol. Gugus fosfat yang bermuatan juga selaku jembatan antara kerangka gliserol dan gugus kepala selanjutnya.
Karena sifat amfifatiknya, fosfolipid digunakan sebagai agen pengemulsi dan pendispersi.
Fosfolipid digunakan sebagai komponen utama pembentuk vesikel. Fosfolipid yang digunakan harus berasal dari alam, baik nabati ataupun hewani. Untuk sediaan topikal atau transdermal, biasanya digunakan fosfolipid nabati, karena umumnya fosfolipid hewani (egg yolk) menimbulkan bau. Umumnya fosfolipid yang digunakan adalah soya phosphatidyl choline, dipalmitoyl phosphatidyl choline, distearoyl phoshatidyl choline, danlain-lain(
Ramadhan 2015). Salah satu fosfolipid yang berasal dari alam yang dapat digunakan untuk membuat Fitosom adalah fosfatidilkolin. Fosfatidilkolin berasal dari bahasa Yunani lekithos yang berarti kuning telur, oleh karena itu nama lain dari fosfatidilkolin adalah lesitin. Lesitin memiliki bahan utama pembentuk vesikel sebagai penghantaran obat ke kulit dikarenakan fosfatidilkolin (lesitin) memiliki struktur yang sama dengan struktur lipid bilayer kulit.
Lesitin memiliki struktur fosfolipid yang terdiri dari gugus polar dan non polar yang membentuk susunan lipid bilayer. Lesitin ini akan menjerap obat dan juga kandunga lainnya sehingga akan membentuk vesikel. Fosfatidilkolin dapat ditemukan pada kacang kedelai (1,48 sampai 3,08%), kacang tanah (1,11%), hati anak sapi (0,85%), gandum (0,61%), dan telur (0,39%). Fosfatidilkolin nabati tidak mengandung kolesterol dan tidak berbau, sedangkan fosfatidilkolin hewani mengandung kolesterol dan agak berbau (Mayangkara 2011).
Fosfotidilkolin merupakan golongan dari fosfolipid berupa serbuk hingga padatan berwarna coklat ke kuningan, memiliki rasa hambar dan tidak berbau. Fosfatidilkolin akan memisah pada kondisi pH yang ekstrim, higroskopis dan dapat menjadi sumber degradasi mikroba. Ketika fosfatidilkolin dipanaskan diatas suhu 160oC fosfatidilkolin akan teroksidasi menjadi gelap dan jika disimpan pada suhu dibawah 10oC akan menyebabkan pemisahan (Rowe et al. 2009).
Gambar 2. Struktur lecithin (Rowe et al. 2009).
Uji Stabilitas Kimia(Voigt 1995)
Uji stabilitas dipercepat dilakukan dengan menggunakan perlakuan termik.Dalam hal ini peraturan kinetika reaksi dapat dipergunakan, dimana penguraian dipelajari pada suhu tinggi dan tidak pada suhu kamar, yang selanjutnya di ekstrapolasikan pada suhu penyimpanannya.Bahan obat disimpan dalam berbagai suhu yang tinggi tetapi selama percobaan masing-masing suhu dibuat tetap, dan dalam jangka waktu tertentu, konsentrasi produk penguraian atau kandungan bahan aktif ditentukan. Sebagai besaran dasar pertama
yang ditentukan adalah ketergantungan kecepatan penguraian akan konsentrasi, yang kedua adalah ketergantungan kecepatan reaksi akan suhu.Tujuan uji stabilitas adalah memberikan bukti bagaimana kualitas bahan obat atau produk obat berubah seiring dengan waktu oleh pengaruh berbagai faktor lingkungan, seperti temperature, kelembapan, dan cahaya serta untuk menentukan periode uji ulang untuk bahan obat atau masa guna produk obat dan kondisi penyimpanan yang dianjurkan. Secara umum telah dikenali bahwa dengan menaiknya suhu, kecepatan reaksi pun meningkat.
Uji stabilitas dipercepat adalah uji yang dirancang untuk meningkatkan laju degradasikimia dan perubahan fisika obat dengan membuat suatu kondisi penyimpanan yang dilebihkan.Untuk menentukan ketergantungan kecepatan reaksi akan suhu, harga k ditentukan pada berbagai suhu, paling tidak tiga suhu. Suatu cara khusus yang berguna untuk mengevaluasi kestabilan sediaan adalah mensikluskan antara bebrapa temperatur penyimpanan antara lain suhu 4oC dan 45oC atau yang dikenal dengan nama siklus freeze thaw dan suhu ruang 250C. yang dilakukan selama 8 minggu.
………
………
………
……… dst.
Roadmap Penelitian
………
………
………
……… dst.
METODE PENELITIAN
………
………
………
……… dst Diagram Alir Penelitian
………
………
Metodeataucarauntukmencapaitujuan yang telahditetapkanditulistidakmelebihi 600 kata.
Bagianinidilengkapidengan diagram alirpenelitian yang menggambarkanapa yang sudahdilaksanakan dan yang akandikerjakanselamawaktu yang diusulkan. Format
diagram alirdapatberupa file JPG/PNG. Bagan
penelitianharusdibuatsecarautuhdenganpenahapan yang jelas, mulaidariawalbagaimana proses dan luarannya, dan indikatorcapaian yang ditargetkan. Di bagianiniharus juga mengisitugasmasing-masinganggotapengusulsesuaitahapanpenelitian yang diusulkan.
………
……… dst Penjelasan Jika diperlukan
Pembuatan Ekstrak Bawang Putih
Umbi Bawang putih yang di dapat dideterminasi terlebih dahulu di LIPI Cibinong untuk memastikan spesies yang spesifik.Kemudian bawang putih yang didapat dicuci bersih, lalu dikeringkan diudara dan dihaluskan dengan menggunakan blender. Selanjutnya serbuk diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi (Rana et al.,2018).
Evaluasi ekstrak bawang putih
Pemeriksaan organoleptis meliputi bentuk, warna, bau, dan rasa terhadap ekstrak bawang putih.Penetapan kadar air dilakukan dengan cara destilasi toluen (Departemen Kesehatan RI, 2008).Identifikasi kualitatif alisin dilakukan dengan GCMS, sedangkan penetapan kadar alisin pada ekstrak dilakukan secara spektrofotometer UV-Vis. Selain itu dilakukan penentuan kadar abu total, kadar abu tidak larut asam, dan nilai rendemen.
Pembuatan Fitosom
Ekstrak bawang putih dan lesitin ditimbang masing-masing sebanyak 4,5 gram. Lesitin dilarutkan dengan diclorometan (pro analysis) sebanyak 50 mL, sedangkan ekstrak bawang putih dilarutkan dengan etanol 96% sebanyak 50 mL dengan cara digerus, lalu kedua larutan tersebut di gerus homogen kemudian dimasukkan ke dalam labu alas bulat. Diclorometan diuapakan menggunakan rotary evaporator pada suhu 300C dan kecepatan 125 Rpm hingga diperoleh lapisan tipis merata.Kemudian lapisan tipis yang terbentuk disimpan pada suhu C hingga 24 jam. Lapisan tipis itu di hidrasi dengan larutan dapar fosfat pH 5,5 sebanyak 100 mL pada suhu 300C dan kecepatan 125 Rpm. Setelah sistem fitosom terbentuk diamkan selama 24 jam kemudian lakukan sonikasi selama 60 menit.
Evaluasi fisik fitosom
Pada fitosom yang terbentuk dilakukan evaluasi morfologi.Penentuan morfologi fitosom allisin bawang putih (Allium sativum L) dilakukan menggunakan mikroskop elektron TEM (transmissionelectron microscopy).Serta evaluasi efisiensi penjerapan, bobot jenis, ukuran partikel, polidispersi indeks dan zeta potensial.
Penentuan Laju Penguraian Pengujian fitosom bawang putih
Pada pengujian ini untuk melihat penurunan penguraian allisindari fitosom bawang putih dengan menggunakan 3 suhu berbeda yaitu C, C dan C. Pengujian dilakukan selama 8 minggu. Prosedur pengujian dilakukan dengan memasukkan 1 mL sampel kedalam tabung sentrifugasi (mikrotube), kemudian dilakukan sentrifugasi untuk memisahkan zat aktif yang tidak terjerap dalam fitosom pada kecepatan 10.000 rpm selama 60 menit. Diambil supernatannya untuk mengukur kadar allisin yang tidak terjerap dalam vesikel fitosom.
Selanjutnya dicukupkan volumenya dengan campuran pelarut dapar phosfat pH 6,8 dan
etanol 95% hingga 10 mL, pipet 0,5 mL di masukkan kedalam labu ukur 10 ml, dicukupkan volumenya menggunakan pelarut campuan hingga tanda batas. larutan yang diperoleh diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer. Kemudian zat aktif yang terjerap dalam fitosom (prsipitat) ditambahkan dengan DCM 0,5 mL, divortex selama 1 menit. Kemudian dimasukkan kedalam labu ukur 10 mL dan cukupkan vulumenya hingga tanda batas. Pipet 0,5 mL di masukkan kedalam labu ukur 10 ml, dicukupkan volumenya menggunakan pelarut campuan hingga tanda batas.. Kadar allisin yang diperoleh dimasukkan ke dalam persamaan model kinetika penguraian orde nol dan orde satu dari laju penguraian fitosom ekstrak bawang putih
Pengujian ekstrak bawang putih
Ditimbang dengan seksama ekstrak bawang putih sebanyak 15 mg dilarutkan dengan sebagian campuran pelarut dapar phosfat pH 6,8 dan etanol 95% (8:2), selanjutnya dicukupkan volumenya dengan campuran pelarut 10 mL. Pipet 1 mL di masukkan kedalam labu terukur 10 ml, dicukupkan volumenya menggunakan pelarut campruan hingga tanda batas.larutan yang diperoleh diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer UV-Vis.
Pengujian dilakukan selama 8 minggu. Kadar allisin yang diperoleh dimasukkan ke dalam persamaan model kinetika penguraian orde nol dan orde satu.
………
………
………
……… dst
Jadwal Penelitian
No Nama Kegiatan Bulan
1 2 3 4 5 6
1 Studi literature x x
2 Pengumpulan bahan dan alat x x X
3 Ekstraksi bawang putih dan evaluasi x
4 Pembuatan fitosom dan evaluasi fisik x
8 Penentuan laju penguraian alisin x x
9 Analisa data x
10 Penyusunan laporan x
11 Penyusunan naskah publikasi x
Catatan;(informasi tambahan untuk menjelaskan kegiatan)
………
………
Jadwalpenelitiandisusundengan mengisi langsung tabel berikut dengan memperbolehkan penambahan baris sesuai banyaknya kegiatan.
………
……… dst
DAFTAR PUSTAKA
Agoes G. 2010. Enkapsulasi Farmasetik (SFI-5). Bandung : ITB. Hlm. 237, 264, 248.
Ajazuddin, S.S. 2010. Applications of novel drug delivery system for herbal formulations.
Dalam: Journal of ElsevierFitoterapia. Vol. 81(7). India. Hlm. 682-685
Amit P., Tanwar Y.S., Rakesh S., Poojan P. 2013. Phytosome: Phytolipid Drug Dilivery System for Improving Bioavailability of Herbal Drug. Dalam: Journal of Pharmaceutical Science and Bioscientific Research (JPSBR). Vol.3(2). India. Hlm. 51-57
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.2008. Farmakope Herbal Indonesia.Edisi I.Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Hernawan U. E., Setyawan A. D. 2003. Senyawa Oragnosulfur Bawang Putih (Allium sativum L.) dan aktivitas Biologisnya. Dalam: JournalBiofarmasi. Vol.1(2). Surakarta.
Hlm. 65-76
JainD., Nila P., Melanie S., Alakananda B., Rouel R., Wolfram S. 2010. Enhancement of cisplatin sensitivity by NSC109268 in budding yeast and human cancer cells is associated with inhibition of S-phase progression. Cancer Chemother Pharmacol.Vol.66(5).
Halaman : 945-52
Karimi N., Ghanbarzadeh M., Hamishehkar H., Pezeshki A., Mostafayi H., & Gholian M. M.
2015. Phytosome as novel delivery system for nutraceutical materials. Dalam:
International Journal Curr Microbiol App Sci. Vol. 4(6). Iran. Hlm. 152-159
Londhe V. P., Gavasane A. T., Nipate S. S., Bandawane D. D., dan Chaudhari P. D. 2011.
Role of Garlic (Allium sativum L) In Various Diseases: An Overview. Dalam: Journal of Pharmaceutical Research and Opinion. Vol. 1(4). India. Hlm.129-134
Mayangkara.2011. Pengaruh Etanol dan Asam Oleat terhadap Penetrasi Liposom Transdermal Glukosamin Menggunakan Sel Difusi Franz.Skripsi.Universitas Indonesia.
Jakarta. Halaman 5 – 28.
Noor, N.A.2008. Preparation of liposomes.In : New RRC (ed). Liposomes A Practical Approach.IRL Press. Halaman 33-104.
Ramadhan. 2015. Formulasi dan Karakterisasi Transfersom yang Mengandung Verampil Hidroklorida. Skripsi.Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Jakarta. Halaman 19 Daftar pustakadisusun dan ditulisberdasarkansistemnomorsesuaidenganurutanpengutipan.
Hanyapustaka yang disitasi pada usulanpenelitian yang dicantumkandalam Daftar Pustaka. Daftar Pustakaditulisdenganmenggunakan APA Style
Ramadon, d., and Mun’im A. 2016.Pemanfaatan nanoteknologi dalam sistem penghantaran obat baru untuk produk bahan alam.Jurnal ilmu kefarmasian Indonesia.Vol. 14, no. 2.
Hlm. 118-127
Rana, M. S., Rohani, S., Hossain, M. N., & Rahmatullah, M. 2018. Improved Glucose Tolerance with A Polyherbal Formulation Of Colocasia Esculenta Tubers And Allium Sativum Cloves. Dalam: Journal of Pharmaceutical Research. Vol. 7(16).Hal. 55-61 Rowe C. R., Sheskey J. P., and Quinn E. M. 2009.Handbook of Pharmaceutical Excipients
Edisi 6.The Pharmaceutical Press. America. Hlm. 110-113, 385-387, 441-444, 754-755.
Setiawan, A.S., Yulinah E., Adnyana k., Permana H., and Sudjana P. 2011. Efek antidiabetes kombinasi ekstrak bawang putih (Allium sativumLinn) Dan rimpang kunyit (Curcumma domestica Val.) dengan embanding Glibenklamid pada penderita diabetes mellitus tipe 2.MKB.Vol 43(1). Hlm. 26-34
Tripathy S., Patel D. K., Baro L., Nair S. K. 2013. A Review on Phytosomes, Their Characterization, Advancement & Potential for Transdermal Application.Journal of Drug Delivery & Therapeutics.3(3), 147-152. India. Hlm. 147-152
Voigt R. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Diterjemahkan oleh Soendani N. S.
Yogyakarta: UGM Press. Hlm. 609, 613-
615.………
………
………
……… dst Lampiran
Rencana Anggaran Penelitain Bahan Habis Pakai
Material Justifikasi
Pembelian
Kuantitas Harga Satuan (Rp.)
Jumlah (Rp.)
Bawang Putih 10 kg 1 kg 35.000,00 350.000,00
Standart Allisin 15 gram 5 gram 1.875.000,00 1.875.000,00
Etanol 96% grade p.a 5 L 2,5 L 977.778,00 1.955.556,00
Lesitin 3 kg 1 kg 135.000,00 405.000,00
Aquadest 100 L 20 L 108.000,00 540.000,00
KH2PO4 (Merck) 1 kg 1 kg 969.000,00 969.000,00
NaOH (Merck) 500 gram 1 kg 578.000,00 578.000,00
Na2HPO4 (Merck) 500 gram 1 kg 1.069.000,00 1.069.000,00
Etanol 70% 5 L 1 L 60.000,00 300.000,00
Kertas saring Whatmann 5 lembar 1 lembar 10.000,00 50.000,00 Dicloromethane grade p.a 5 L 2,5 L 1.733.000,00 3.466.000,00 Botol kaca volume 10 mL 60 buah 1 buah 10.200,00 612.000,00
Termometer ruang 2 buah 1 buah 65.000,00 130.000,00
Labu Evaporator 1000 ml 2 buah 1 buah 225.000,00 450.000,00
Piknometer 25 mL 2 buah 2 buah 53.000,00 106.000,00
Sub Total (Rp.) 12.855.556,00 Sewa
Material Justifikasi
Pembelian
Kuantitas Harga Satuan (Rp.)
Jumlah (Rp.)
Rotary Evaporator 20 jam 1 jam 10.000,00 200.000,00
Alat Destilasi 2 jam 1 jam 10.000,00 20.000,00
GC-MS 1 sampel 1 sampel 500.000,00 500.000,00
Timbangan Analitik 3 bulan 1 bulan 10.000,00 30.000,00
Lemari Pendingin 3 bulan 1 bulan 10.000,00 30.000,00
Spektrofotometri UV-Vis 45 sampel 1 sampel 6.500,00 292.500,00 Particle Size Analyzer 6 sampel 1 sampel 150.000,00 900.000,00 Transmission Electron
Microscopy
1 sampel 1 sampel 1.000.000,00 1.000.000,00
Oven 3 bulan 1 bulan 15.000,00 45.000,00
Sentrifugasi 45 sampel 1 sampel 25.000,00 1.125.000,00
Sub Total (Rp.) 4.142.500,00 Biaya Publikasi
Material Justifikasi
Pembelian
Kuantitas Harga Satuan (Rp.)
Jumlah
Biaya Publikasi Jurnal 2 2 1.500.000,00 3.000.000,00
Sub Total (Rp.) 3.000.000,00 TOTAL ANGGARAN YANG DIPERLUKAN (Rp.) 19.998.056,00 Terbilang Sembilan belas juta Sembilan ratus Sembilan puluh delapan ribu lima
puluh enam rupiah
Lampiran Format Susunan Organisasi Tim Pengusul dan Pembagian Tugas
No Nama / NIDN Instansi Asal Bidang
Ilmu Alokasi Waktu
(jam/minggu) UraianTugas 1 Rahmah elfiyani /
0310128403
Teknologi farmasi 12 jam / minggu
Menyusun proposal
Melakukan penentuan laju penguraian alisin pada ekstrak dan fitosom
Menyusun naskah puiblikasi
2 Anisa amalia / 0316018801
Teknologi farmasi 12 jam / minggu
Pembuatan ekstrak dan evaluasi
Pembuatan fitosom dan evaluasi
Menyusun laporan
Surat Pernyataan Peneliti
Yang bertandatangan di bawah ini:
Nama : Rahmah Elfiyani, M. Farm., Apt
NIDN : 0310128403
Fakultas / Program Studi : FFS / Farmasi Jabatan Fungsional : Lektor
Menyatakan bahwa proposal Penelitian Kolaboratif Dosen Dan Mahasiswadengan judul PENENTUAN LAJU PENGURAIAN ALISINDALAM EKSTRAKDAN FITOSOM EKSTRAK BAWANG PUTIHSEBAGAI ANTIDIABETES yang akan diusulkan dalam skema Dana Hibah Penelitian Universitas Muhammadiyah Prof. DR HAMKA pada Batch 2 tahun 2019/2020 merupakan karya tulis yang bebas dari plagiarism.
Demikian surat pernyataan ini ditulis untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.
Jakarta, 10 Mei 2020 Peneliti
(Rahmah Elfiyani, M.Farm., Apt.) NIDN. 0310128403