• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF repo.unhi.ac.id

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PDF repo.unhi.ac.id"

Copied!
304
0
0

Teks penuh

Buku ini menguraikan tentang bentuk dan potensi kearifan lokal nusantara dalam melestarikan alam dan budaya yang menjadi daya tarik wisata utama tanah air. Penjelasan lebih mendalam terkait potensi kearifan lokal dalam pengembangan hukum pariwisata, baik dalam pengembangan substansi hukum, struktur hukum, maupun budaya hukum. Melalui penafsiran kembali terhadap fungsi dan makna kearifan lokal, maka dapat ditemukan nilai-nilai kearifan lokal yang dapat diangkat dalam pengembangan hukum pariwisata.

Pengertian Pariwisata

Dengan demikian, pariwisata dapat diartikan sebagai perjalanan yang dilakukan secara berulang-ulang atau berputar-putar dari suatu tempat ke tempat lain. Oka A.Yoeti mengartikan pariwisata sebagai suatu perjalanan yang dilakukan sementara waktu, yang dilakukan dari suatu tempat ke tempat lain, dengan tujuan bukan untuk berusaha atau mencari nafkah di tempat yang dikunjungi, melainkan sekedar menikmati perjalanan itu untuk kesenangan dan kesenangan. kesenangan..rekreasi atau pemenuhan berbagai keinginan.3. Lamanya tinggal di suatu negara tertentu bersifat sementara dan dalam waktu singkat sebelum kembali ke negara asal.

Usaha Pariwisata

Pemesanan akomodasi, restoran dan tiket pertunjukan seni budaya, serta kunjungan ke obyek dan daya tarik wisata. Perusahaan pemandu wisata adalah perusahaan yang menyediakan dan/atau mengkoordinasikan tenaga pemandu wisata untuk memenuhi kebutuhan pariwisata dan/atau perjalanan. Usaha Jasa Pramuwisata adalah suatu perusahaan yang menyediakan dan/atau mengkoordinasikan tenaga pemandu wisata untuk memenuhi kebutuhan wisatawan dan/atau keperluan biro perjalanan wisata.

Bentuk-bentuk Wisatawan

Pariwisata terencana, yaitu perjalanan wisata yang segala sesuatunya telah disepakati terlebih dahulu, termasuk akomodasi, transportasi, dan fasilitas wisata yang akan dikunjungi. Special tour yaitu wisata yang dirancang khusus untuk memenuhi permintaan pelanggan sesuai dengan minatnya. Wisata safari merupakan perjalanan wisata yang diselenggarakan secara khusus dengan perlengkapan dan fasilitas khusus.

Pariwisata Sebagai Suatu Industri

Wisata bahari yaitu perjalanan wisata ke tempat wisata bawah laut, menyelam dengan peralatan khusus. Hingga pertengahan abad ke-19, masyarakat yang melakukan perjalanan wisata masih sangat terbatas dan sangat sederhana. Liburan dan berwisata pun mulai menjadi salah satu cara untuk melepas penat dari rutinitas sehari-hari.

Hukum Kepariwisataan

Artinya, penyedia jasa bisnis dari biro perjalanan dan agen dari negara anggota bisa leluasa masuk ke Indonesia. Artinya, penyedia jasa di bidang keagenan dan biro perjalanan dari negara anggota mana pun bisa leluasa masuk ke Indonesia. Commercial Presense merupakan penyedia jasa luar negeri yang hanya diperbolehkan membuka maksimal 30 untuk biro perjalanan dan agen perjalanan.

Tabel Nomor : 1
Tabel Nomor : 1

Kearifan Lokal dan Kebudayaan

Pada bagian ini diuraikan potensi kearifan lokal dalam pengembangan peraturan perundang-undangan pariwisata, dengan subtopik antara lain: pemahaman kearifan lokal, bentuk-bentuk kearifan lokal, fungsi kearifan lokal dan kontekstualisasi kearifan lokal di era globalisasi. Dari uraian tersebut diharapkan pembaca dapat mengetahui dan memahami makna kearifan lokal, hubungan antara kearifan lokal dan budaya, berbagai bentuk kearifan lokal, fungsi kearifan lokal dalam pelestarian alam dan budaya. , serta kontekstualisasinya di era globalisasi. Semadi Astra mengatakan, kearifan lokal yang akhir-akhir ini semakin ramai diperbincangkan merupakan istilah yang digunakan untuk menerjemahkan istilah local genius yang awalnya dicetuskan oleh H.G.

4 Semadi Astra, Revitalisasi kearifan lokal dalam upaya penguatan jati diri bangsa, dalam kebijakan budaya dan identitas etnik. Soerjanto Puspowardijo mengatakan kearifan lokal merupakan salah satu unsur kebudayaan daerah yang mempunyai potensi dan teruji kemampuannya hingga saat ini. Dalam buku ini, kearifan lokal dikonseptualisasikan sebagai bagian dari kebudayaan, khususnya bagian dari sistem pengetahuan tradisional.

Kearifan Lokal yang digunakan selama berabad-abad merupakan cerminan budaya bangsa pada umumnya yang mampu memberikan kesejahteraan ekonomi dan spiritual kepada suku bangsa yang telah menjadi bangsa Indonesia sejak tahun 194515. 15 Faisal Kasryono, Kearifan Lokal Subak dan Kerta masa atau Pranata Mangsa, dalam Subak dan Kertha Mangsa Kearifan Lokal Mendukung Pertanian Berkelanjutan, Yapadi, Jakarta, 2003. Swarsi, Fungsi Kearifan Lokal dalam Pengembangan Kualitas Sumber Daya Manusia, Laporan Penelitian, Pusat untuk Kajian Sejarah dan Nilai-Nilai Tradisional Denpasar, Denpasar, 2004, hal.33.

Dari penjelasan di atas berarti bahwa secara konseptual kearifan lokal merupakan bagian dari kebudayaan dan lebih khusus lagi merupakan bagian dari sistem pengetahuan tradisional.

Bentuk-bentuk Kearifan Lokal

Kearifan lokal yang berupa kepercayaan merupakan suatu sistem kepercayaan suatu masyarakat yang memuat seluruh kepercayaan dan imajinasi masyarakat yang bersangkutan tentang wujud dunia, alam, khususnya wujud alam ghaib (gaib), kehidupan, kematian yang ada. telah membawa. dengan rangkaian ritus dan upacara yang sarat dengan nilai, norma dan hikmah yang diperoleh dan dikembangkan oleh masyarakat itu sendiri. Bantuan kearifan lokal dalam bidang keagamaan terlihat pada pemujaan terhadap roh nenek moyang (lahir di Indonesia) yang berdampingan dengan pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan manifestasinya yaitu para dewa (Hindu). Kearifan lokal yang masih terkait dengan sistem kepercayaan ini diwujudkan dalam bentuk ritual atau upacara keagamaan.

Ritual tersebut bukan sahaja bertujuan sebagai sarana penerapan vertikal kepada Tuhan, tetapi juga bertujuan untuk menerapkan nilai-nilai cinta terhadap alam semesta sebagai ciptaan. Penggunaan tumbuh-tumbuhan dan haiwan dalam upacara tersebut sebenarnya mengandungi makna untuk menyemai nilai memelihara alam semula jadi dalam jiwa setiap manusia. Salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat Indonesia yang telah ada sejak zaman dahulu adalah dalam bentuk cerita rakyat.

Penularan dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan, yaitu menyebar melalui mulut (atau misalnya disertai gerak tubuh dan mnemonik). Hal ini disebabkan dari mulut ke mulut, sehingga cerita rakyat bisa berubah. Selain cerita rakyat, pesan moral, pendidikan, dan kesehatan dapat ditemukan dalam bentuk pantun atau puisi tradisional.

Pantun-pantun tradisional ini diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi sebagai wujud kearifan lokal Indonesia.

Potensi Kearifan Lokal dalam Pelestarian dan

Tempat wisata alam mempunyai daya tarik yang besar karena keindahan alam pegunungan, sungai, pantai, pasir, hutan, dan lain sebagainya. Objek wisata budaya mempunyai daya tarik yang besar karena mempunyai nilai keistimewaan berupa atraksi seni, upacara adat,. Objek dan daya tarik wisata mempunyai kedudukan yang sangat menentukan dalam usaha pariwisata karena merupakan potensi yang mendorong kehadiran wisatawan ke suatu daerah tujuan wisata.

Oleh karena itu sarana dan daya tarik wisata hendaknya selalu dilindungi, dilestarikan dan dikembangkan, agar fasilitas tersebut benar-benar dapat dijadikan daya tarik wisata sesuai dengan keinginan pasar, namun tanpa mengorbankan kepentingan budaya dan lingkungan masyarakat setempat. Oleh karena itu perencanaan dan pengelolaan sarana dan daya tarik wisata harus selaras dengan kearifan lokal masyarakat dimana fasilitas dan daya tarik wisata tersebut berada. Hal yang sama juga terjadi ketika wisatawan datang ke Tanah Toraja, mereka datang bukan hanya karena keindahan alamnya saja, namun karena atraksi budayanya seperti bentuk rumah yang unik dan adat istiadat penguburan keluarga Toraja.

Berbagai budaya yang menjadi objek dan daya tarik wisata dapat berkelanjutan dan dikembangkan karena didukung oleh kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat sebagai penganut budaya daerah tersebut. Artinya kearifan lokal mempunyai potensi besar bagi pelestarian dan pengembangan budaya sebagai objek dan daya tarik wisata. Salah satu objek dan daya tarik wisata tersebut adalah keindahan alam beserta flora dan faunanya.

Dari uraian di atas terlihat jelas bahwa kearifan lokal merupakan unsur penting dalam pelestarian sarana dan daya tarik wisata alam, baik dalam kelestarian hutan beserta flora dan faunanya, maupun dalam kelestarian laut dan pantai.

Potensi Kearifan Lokal Masyarakat Bali dalam

Secara umum kampung awig adat dibagi menjadi delapan sarga (bagian), masing-masing sarga dibagi lagi menjadi beberapa palet (bab), dan masing-masing palet dibagi lagi menjadi beberapa pawo (bab). Jika dicermati isi awig-awig desa adat atau subak awig-awig di Bali mempunyai nilai universal khususnya dalam pengelolaan dan pelestarian alam dan budaya. Jauh sebelum Belanda datang ke Indonesia, desa adat sudah ada di Bali, namun disebut Kraman.

Desa adat berhak mengurus rumah tangganya sendiri, artinya desa adat mempunyai otonomi. Masyarakat lebih memilih cara penyelesaian sengketa di desa adat ini dibandingkan melalui pengadilan negara. Berdasarkan sistem dan struktur organisasinya, desa adat di Bali dibedakan menjadi dua jenis, yaitu Desa Apenaga dan Desa Bali Age.

Keberadaan pecalang erat kaitannya dengan keberadaan desa adat, oleh karena itu keberadaan pecalang juga diatur dalam awig-awig dan perarem desa adat yang bersangkutan. Menjaga keamanan dan ketertiban di desa adat untuk mewujudkan tatanan kehidupan individu Sukerta Tata Pawongan (hubungan antar manusia). Memelihara keamanan dan ketertiban di desa adat untuk mewujudkan tatanan kehidupan lingkungan hidup sukerta tata palemahan (hubungan manusia dengan lingkungannya).

Struktur kepengurusan pecalang hampir sama dengan struktur kepengurusan desa adat, yaitu: kelihan (ketua), petajuh (wakil ketua), penarikan (sekretaris), petengen (bendahara) dan kesinoman (asisten umum).

Kontekstualisasi Kearifan Lokal dalam

Bagian ini menjelaskan tentang globalisasi perdagangan jasa pariwisata dan prinsip-prinsip pengaturannya dalam GATS-WTO dengan sub-uraian; aturan hukum internasional di bidang pariwisata, ruang lingkup perjanjian perdagangan jasa pariwisata di GATS-WTO, prinsip-prinsip pengaturan perdagangan jasa di GATS-WTO, dan dampak globalisasi terhadap perkembangan pariwisata. Dari uraian tersebut diharapkan pembaca dapat mengenal dan memahami globalisasi perdagangan jasa pariwisata, kaidah-kaidah hukum internasional di bidang pariwisata, ruang lingkup perjanjian perdagangan jasa pariwisata dalam GATS-WTO, prinsip-prinsipnya. pengaturan perdagangan jasa di GATS-WTO, dan dampak globalisasi terhadap pengembangan pariwisata. Globalisasi dalam bidang perdagangan tidak hanya terjadi pada perdagangan barang saja, namun juga terjadi pada perdagangan jasa, sehingga salah satu lampiran WTO juga mengatur tentang perdagangan jasa.

Deklarasi Punta del Este pada tahun 1986 merupakan hasil kompromi antara negara maju dan berkembang mengenai perdagangan jasa. Dimasukkannya peraturan perdagangan jasa (GATS) ke dalam kerangka GATT/WTO dianggap sebagai langkah maju yang penting bagi GATT/. Perdagangan jasa pariwisata menyangkut berbagai aspek kehidupan manusia seperti: aspek ekonomi, budaya, sosial, agama, lingkungan hidup, keamanan dan lainnya.

Berdasarkan ketentuan pasal sebelumnya, terdapat empat bentuk penyediaan jasa (metode penyediaan) yang dimaksud dengan lalu lintas jasa, yaitu: Pertama, penyediaan jasa dari wilayah suatu negara ke wilayah negara lain. Dengan demikian, penyediaan jasa di wilayah suatu negara di wilayah negara lain (lintas batas negara) termasuk dalam definisi perdagangan jasa berdasarkan GATS-WTO. Untuk mengatur perdagangan jasa multilateral, GATS juga menganut prinsip perlakuan nasional.

Selain itu, perjanjian-perjanjian internasional yang mempengaruhi perdagangan jasa juga harus dibuat di mana suatu Negara Anggota berpartisipasi dalam perjanjian tersebut77. Kedua, setiap Negara Anggota wajib memberi tahu Dewan Perdagangan Jasa mengenai persyaratan hukum baru atau perubahan undang-undang, peraturan atau pedoman administratif yang berlaku yang mempunyai dampak signifikan terhadap perdagangan jasa yang disebutkan dalam komitmen khusus. Prinsip ini mensyaratkan bahwa kewajiban Negara-negara Anggota sehubungan dengan sektor jasa dimasukkan dalam Daftar Nasional.

Gambar

Tabel Nomor : 1
Tabel Nomor : 1 Lanjutan

Referensi

Dokumen terkait

pasal 10 ayat (2) dan pasal 11 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 Tentang Ketenagalistrikan, dibenarkannya praktik Un-Bundling dalam usaha penyediaan tenaga listrik

(1) Setiap orang yang melakukan usaha penyediaan tenaga listrik tanpa izin operasi sebagaiman dimaksud dalam Pasal 4 diancam pidana sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang

Pasal 72 Ketentuan lebih lanjut mengenai perizinan Wakil Penasihat Berjangka diatur dengan Peraturan Kepala Bappebti Bagian Ketiga Pedagang Berjangka Pasal 73 1 Kegiatan usaha