jumlah daripada kekayaan sumber daya alam atau kebudayaan material, misalnya bagaimana konsep suatu komunitas kebudayaan atas pengelompokan tumbuhan, binatang, hutan, tanah, air, musim, termasuk metode lokal untuk menghitung jumlah barang.
4. Sistem pengajaran yakni metode masyarakat lokal untuk menyebar luaskan pengetahuan melalui inovasi dan divisi yang berbasis kebudayaan.
5. Sistem penggembalaan dalam bidang peternakan, misalnya mengatur tugas dan fungsi gembala.
6. Sistem pertanian, yakni mengatur bagaimana sebuah komunitas mengelola sistem pertanian, monokultur, intensifikasi, difersikasi, dan lain-lain.
7. Hutan dan perkebunan, pengelolaan hutan, tumbuh-tumbuhan, perkebunan, serta bagaimana pengetahuan lokal tentang hubungan manusia dengan hutan, tanaman (pangan, hortikultura, perkebunan,dll).
8. Pengelolaan air tradisional yang mampu mngelola sumber dan aliran air teknik-teknik tradisional di bidang irigasi, konservasi air, 9. Bagimana manusia memenfaatkan tanah, dll.
penguasaan, perlindungan atas tanah, dll.
10. Bagaimana manusia memanfaatkan tumbuhan sebagai makanan ternak, penggunaaan untuk parfum, sabun, obat- obatan, dll.
11. Kehidupan dan perkembangan, termasuk prilaku binatang.
12. Pandangan dunia yakni pandangan menyeluruh dari satu komunitas tentang hakekat kemanusiaan, hubungan manusia dengan alam, mitos, kepercayaan dan adapt- istiadat.
Kearifan lokal dalam bantuk kepercayaan adalah sistem keyakinan dari suatu masyarakat yang mengandung segala keyakinan serta bayangan masyarakat yang bersangkutan tentang bentuk dunia, alam, terutama wujud dari alam gaib (supranaturl), hidup, maut yang dilaksanakan dengan suatu tapa serangkaian ritus dan upacara yang sarat dengan nilai, norma dan ajaran yang dihayati dan dikembangkan oleh masyarakat itu sendiri.
Bantuk kearifan lokal dalam bidang keagamaan adalah nampak pada pemujaan arwah nenek moyang (asli Indonesia) berdampingan dengan pemujaan terhadap Tuhan yang Maha Esa dengan manifestasinya yaitu para dewa (Agama Hindu). Hal ini terlihat pada candi tempat terjadinya penggabungan antara penyembahan para dewa dan pemujaan terhadap roh nenek moyang. Seperti Sanggah/Pamerajan (Pura Keluarga) di Bali bersifat dwifungsi, yaitu tempat pemujaan roh leluhur dan pemujaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan yang Maha Esa).
Kearifan lokal yang masih terkait dengan sistem kepercayaan ini adalah terwujud dalam bentuk ritual atau upacara keagamaan. Ritual bukan saja bermakna sebagai sarana permohonan yang vertikal kepada Tuhan, tetapi bermakna juga untuk menanamkan nilai- nilai kecintaan terhadap alam semesta sebagai ciptaan
dari Tuhan, karena salah satu kewajiban manusia adalah menjaga kesejahteraan alam. Karena alam adalah tempat dan sumber hidup dan kehidupan manusia di dunia.20 Ritual/upakara sering membakukan simbol- simbol tertentu yang terkait dengan kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa dan mempunyai makna sebagai ungkapan rasa syukur, rasa cinta kasih serta bhaktinya kepadaNya.21
Ada beberapa jenis flora dan fauna yang digunakan sebagi sarana upakara/ritual. Penggunaan tumbuh- tumbuhan dan binatang dalam ritual itu sesungguhnya terkandung makna untuk menanamkan nilai pelestarian alam pada jiwa setiap manusia. Dengan nilai tersebut akan tumbuh suatu upaya nyata untuk memelihara dengan sungguh-sungguh kesejahteraan alam tersebut.
Salah satu bentuk kearifan lokal masayarakat Indonesia yang ada sejak jaman dahulu adalah berupa Folklor/cerita rakyat. Folklor adalah sebagaian kebudayaan yang diwariskan secara turun temurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat.
Ciri-ciri pengenal utama folklor pada umumnya adalah:22
1. Penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan, yakni disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut (atau dengan suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat, dan alat pembantu mengingat)
20 Ketut Wiana, Melestarikan Isi Alam, dalam Taman Gumi Banten, Lem- baga Pengabdian pada masyarakat Universitas Udayana, Denpasar, 2002, hlm 20.
21 S Swarsi, Upacara Piodalan Alit di Sanggah/Merajan, Paramita, Sura- baya, 2003, 3
22 Lihat lebih lanjut James Danandjaya, Folklor Indonesia, Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lainnya, Grafitti Pers, Jakarta, 1984, hlm.3.
dari satu generasi kegenerasi berikutnya.
2. Folklor bersifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau dalam bentuk standar. Disebarkan diantara kolektif tertentu dalam waktu yang cukup lama (paling sedikit dua generasi)
3. Folklor ada dalan versi-versi dan varian-varian yang berbeda. Hal ini diakibatkan oleh cara penyebarannya dari mulut kemulut, oleh karena itu folklor dapat mengalami perubahan.
Walaupun demikian perubahan hanya terletak pada bagian luarnya saja sedangkan bentuk dasarnya dapat tetap bertahan.
4. Folklor adakah bersifat anonim, nama penciptanya tidak diketahui orang lagi.
5. Folklor biasanya bentuk berumus atau berpola.
6. Folklor mempunyai kegunaan dalam kehidupan bersama suatu kolektif. Misalnya mempunyai kegunaan sebagai alat pendidikan, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan terpendam.
7. Folklor bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika umum.
8. Folklor menjadi milik bersama dari kolektif tertentu, sehingga setiap anggota kolektif yang bersangkutan merasa memiliknya.
9. Folklor pada umumnya bersifat polos dan lugu, sehingga sering kali kelihatannya kasar, terlalu spontan.
Folklor/cerita rakyat ini biasanya disampaikan dengan tradisi mendongeng. Dongeng diyakini mengandung nilai-nilai yang sangat berguna bagi
pendidikan budi pekerti. Di dalamnya termuat tokoh- tokoh yang memerankan protagonis dan antagonis dengan karakter plot cerita yang menarik. Isinya dapat dijadikan bahan pengembangan moral, spiritual, dan kepribadian anak. Mendongeng diyakini mampu mengubah kesadaran anak. Dengan mendongeng telah terjadi kedekatan antara orang tua dengan anaknya, antara guru dengan muridnya. Mendongeng adalah sebuah alternatif untuk menanamkan nilai-nilai moral kepada anak.
Disamping melalui cerita rakyat pesan-pesan moral, pendidikan, kesehatan dapat dijumpai dalam bentuk pantun-pantun atau sair-sair tradisional. Pantun- pantun tradisional itu disampaikan secara lisan dari mulut ke mulut dari generasi kegenerasi sebagi suatu bentuk kearifan lokal masyarakat Indonesia.
C. Potensi Kearifan Lokal dalam Pelestarian dan