IDEOLOGI KEKUASAAN DALAM NOVEL GENGHIS KHAN: BADAI DI TENGAH PADANG (BUKU II) KARYA SAM DJANG PERSPEKTIF
LOUIS ALTHUSSER
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan dalam Menyelesaikan Studi Strata Satu (S1) pada Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra dan Daerah
Oleh Hardini Mirayanti E1C111039
UNIVERSITAS MATARAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
PRODI PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA DAN DAERAH 2018
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS MATARAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
Jln.Majapahit No. 62 Telepon (0370) 623873 Fax 634918 Mataram NTB
HALAMAN PENGESAHAN JURNAL SKRIPSI
IDEOLOGI KEKUASAAN DALAM NOVEL GENGHIS KHAN: BADAI DI TENGAH PADANG (BUKU II) KARYA SAM DJANG PERSPEKTIF LOUIS
ALTHUSSER
Jurnal ini telah diperiksa dan disetujui pada tanggal 5 Juli 2018.
Mataram, Juli 2018
Disetujui oleh,
ABSTRAK
Penelitian dalam skripsi ini membahas tentang ideologi kekuasaan dalam novel Genghis Khan: badai di tengah padang (buku II) karya Sam Djang perspektif Louis Althusser. Ideologi Kekuasaan perspektif Louis Althusser dibagi menjadi dua yaitu ISA (Ideological State Apparatus) dan RSA (Repressive State Apparatus), ISA dan RSA berkaitan dalam meraih dan mempertahankan kekuasaan.
Oleh karena itu, novel Genghis Khan yang menjadi objek penelitian ini adalah novel yang sangat erat kaitannya dengan kekuasaan, maka permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini yaitu: a.
Bagaimanakah gambaran kekuasaan tokoh dalam novel Genghis Khan: Badai Di Tengah Padang(Buku II) Karya Sam Djang ditinjau dari ideologi kekuasaanperspektifLouis Althusser? b.
Bagaimanakah ISA (Ideological State Apparatuses)dalam novelGenghis Khan:
Badai Di Tengah Padang(Buku II) Karya Sam Djang ditinjau dari ideologi kekuasaanperspektif Louis Althusser? c.
Bagaimanakah RSA (Repressive State Apparatus)dalam novelGenghis Khan:
Badai Di Tengah Padang(Buku II) Karya Sam Djang ditinjau dari ideologi kekuasaanperspektif Louis Althusser? d.
Bagaimanakah kaitan antara ISA dan RSA dalam novelGenghis Khan: Badai Di Tengah Padang(Buku II) Karya Sam Djang ditinjau dari ideologi kekuasaanperspektif Louis Althusser?
Oleh sebab itu, data dalam penelitian ini akan dikumpulkan menggunakan teknik observasi dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa gambaran kekuasaan Genghis Khan terdiri dari lima sikap kepemimpinan tokoh Genghis Khan yaitu bijaksana, cerdas, tegas, ambisius dan diktator. ISA dalam novel Genghis Khan dibagi menjadi enam bidang yaitu ISA dalam institusi hukum, keluarga, agama, politik, komunikasi dan kebudayaan yang berbentuk nasihat, ungkapan, peraturan
negara, peraturan militer dan peraturan perang. RSA dalam novel Genghis Khan yaitu RSA pemerintah, RSA angkatan bersenjata dan RSA pengadilan. Kaitan antara RSA dan ISA adalah keduanya saling mendukung dalam mewujudkan impian Genghis Khan sebagai penguasa dunia dengan Imperium Mongolnya.
Kata kunci: Ideologi, kekuasaan, dan novel.
ABSTRACT
Research in this thesis discusses about ideology of power in Genghis Khan‟s novel: storm in the middle of desert (book II) by Sam Djang perspective Louis Althusser. Ideology the power of Louis Althusser's perspective is divided into two name ISA (Ideological State Apparatus) and RSA (Repressive State Apparatus), ISA and RSA are concerned in achieving and maintaining power. Therefore, Genghis Khan novel that became the object of this research is a novel that is closely related to power, then the problems studied in this research are: a. How is the power figure of the character in Genghis Khan's novel: The Storm In The Middle of Desert (Book II) Sam Djang's work is viewed from the ideological ideology of liberal power of Louis Althusser? B. How is RSA (Repressive State Apparatus) in novel Genghis Khan: The Storm In The Middle of Desert (Book II) Sam Djang's work is viewed from the ideology of power perspective LouisAlthusser? c.How ISA (Ideological State Apparatuses) in the novel Genghis Khan: The Storm In The Middle Of Desert (Book II) Sam Djang's work is viewed from the ideological ideology of power of Louis Althusser? d.
How is the relationship between ISA and RSA in novel Genghis Khan: The Storm In The Middle of Desert (Book II) Sam Djang's work is viewed from the ideology of the power of perspective Louis Althusser? Therefore, the data in this study
were collected using observation and documentation techniques. Based on the results of research and discussion, it can be concluded that the picture of the power of Genghis Khan consists of five leadership attitudes of Genghis Khan figure that is wise, intelligent, assertive, ambitious and dictator. The ISA in the Genghis Khan novel is divided into two ISAs in legal institutions and in the form of politics in the form of expressions, state regulations, military regulations and regulations of war.
RSA in Genghis Khan's novel Mongolian army that carried out torture and massacre.
The link between ISA and RSA is that both of them support each other in realizing Genghis Khan's dream of mastering the world with his Mongol Empire.
Keywords: Ideology, power, and novels.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara Kesatuan yang tidak lepas dari cengkraman berbagai masalah, hal ini terbukti dengan adanya masalah yang lebih besar justru dialami oleh Indonesia setelah kemerdekaan, tetapi masalah-masalah tersebut tidak akan menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang lemah, melainkan akan membuktikan bahwa Indonesia bisa menjadi bangsa yang mandiri dan kuat.
Menjadi bangsa yang mandiri dan kuat membutuhkan keseriusan semua pihak, sehingga dalam hal ini, peran pemerintah sangatlah penting, tetapi dalam menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang
mandiri masih mendapatkan banyak halangan, terutama dari oknum-oknum pemerintahan yang menyalahgunakan kekuasaan.
Oleh karena itu, negara ini sangat membutuhkan pemimpin yang tegas dan tangguh, tangguh dalam hal ini adalah pemimpin yang tidak mudah menyerah menghadapi kritikan-kritikan dari rakyatnya dan pemimpin yang tetap fokus pada semua pekerjaannya, walaupun banyak kalangan yang menyerangnya.
Oleh karena itu, Indonesia membutuhkan pemimpin yang bisa menjauhkan rakyatnya dari berbagai kesulitan, salah satu contohnya adalah seorang pemimpin seperti Genghis Khan.
Sejarah tentang kepemimpinan Genghis Khan tersebut diabadikan dalam sebuah novel yang berjudul Genghis Khan: Badai di Tengah Padang (Buku II)karya Sam Djang. Di dalam novel ini, Genghis Khan dijuluki sebagai sang penakluk dengan kekuatan imperium mongolnya yang tidak ada tandingannya saat itu. Genghis Khan adalah pemimpin yang tegas dan tangguh, dia mencintai dan meghormati rakyatnya, jika rakyatnya melakukan kesalahan seperti mencuri, maka Genghis Khan akan memberikan hukuman mati, tetapi dia tidak pernah membeda-bedakan rakyatnya yang miskin dengan yang kaya, hal inilah yang menjadikannya sebagai pemimpin
yang dihormati sekaligus ditakuti oleh rakyatnya.
Berdasarkan paparan di atas mengenai keterkaitan novel Genghis Khan dengan teori ideologi kekuasaan Louis Althusser dalam hubungannya mengenai ideologi hakikat negara, maka novel Genghis Khan (Badai di Tengah Padang) jilid IIkarya Sam Djang sangat tepat bila dikaji menggunakan teori ideologi kekuasaan perspektif Louis Althusser.
1.2 Rumusan Masalah
a. Bagaimanakah gambaran kekuasaan tokoh dalam novel Genghis Khan: Badai Di Tengah Padang(Buku II) Karya Sam Djang ditinjau dari ideologi kekuasaanperspektifLouis
Althusser?
b. Bagaimanakah ISA (Ideological State Apparatuses)dalam novelGenghis Khan: Badai Di Tengah Padang(Buku II) Karya Sam Djang ditinjau dari ideologi kekuasaanperspektif Louis Althusser?
c. Bagaimanakah RSA (Repressive State Apparatus)dalam novelGenghis Khan: Badai Di Tengah Padang(Buku II) Karya Sam Djang ditinjau dari ideologi kekuasaanperspektif Louis Althusser?
d. Bagaimanakah kaitan antara ISA dan RSA dalam novelGenghis Khan: Badai Di Tengah Padang(Buku II) Karya Sam Djang ditinjau dari ideologi kekuasaanperspektif Louis Althusser?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah
a. Mendeskripsikan gambaran kekuasaan tokoh dalam novel Genghis Khan: Badai Di Tengah Padang(Buku II) Karya Sam Djang ditinjau dari ideologi kekuasaanperspektif Louis Althusser.
b. Mendeskripsikan ISA (Ideological State Apparatus)dalam novel Genghis Khan: Badai Di Tengah Padang(Buku II) Karya Sam Djang ditinjau dari ideologi kekuasaanperspektif Louis Althusser.
c. Mendeskripsikan RSA(Repressive State Apparatus)dalam novelGenghis Khan: Badai Di Tengah Padang(Buku II) Karya Sam Djang ditinjau dari ideologi kekuasaanperspektif Louis Althusser.
d. Mendeskripsikan kaitan antara ISA dan RSA dalam novel
Genghis Khan: Badai Di Tengah Padang(Buku II) Karya Sam Djang ditinjau dari ideologi kekuasaanperspektif Louis Althusser.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan akan dicapai dalam penelitian ini adalah:
1.4.1 Manfaat Teoritis
Manfaat penelitian ini adalah memberikan tambahan teori dan pandangan baru dalam penelitian karya sastra.
1.4.2 Manfaat Praktis 1. Bagi Penulis
Menambah pengetahuan dalam menilai kebijakan-kebijakan pemerintah, sehingga tidak mudah menyalahkan atau membenarkan setiap kebijakan pemerintah.
2. Bagi Pembaca
Penelitian ini dapat menjadi acuan dalam meneliti karya sastra yang berkaitan dengan ideologi terutama yang berkaitan dengan ideologi Louis Althusser.
3. Bagi Masyarakat
Manfaat penelitian ini bagi masyarakat yaitu memberikan gambaran kepada masyarakat tentang bentuk-bentuk kekuasaan yang disalahgunakan oleh oknum-oknum pemerintahan. Selain itu, penelitian ini diharapkan bisa menjadikan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat
yang objektif dalam menilai kebijakan- kebijakan pemerintah, sehingga mereka tidak mudah terprovokasi oleh oknum- oknum yang tidak bertanggungjawab.
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Penelitian yang Relevan
Penelitian yang relevan sangat dibutuhkan dalam penyelesaian sebuah penelitian. Dalam hal ini, penelitian tentang ideologi sudah banyak dilakukan, tetapi penelitian yang khusus menggunakan ideologi Louis Althusser masih dalam bentuk jurnal. Beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini akan dijelaskan sebagai berikut:
Pertama, penelitian Mohammad Renaldi (2011) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia dengan judul skripsi “Hegemoni Ideologi Demokrasi Liberal Amerika Serikat dan Wacana Global War On Terror dalam Media Massa” mengacu pada Analisis Wacana Kritis Pemberitaan Aksi Pembunuhan Usamah Bin Ladin oleh Militer Amerika Serikat Dalam Pemberitaan Harian Kompas.
Relevansi penelitian Mohammad Renaldi dengan penelitian ini terletak pada objek penelitian yang membahas tentang kebijakan pihak yang berkuasa. Dalam hal ini pihak berkuasa yang dimaksud adalah Amerika Serikat yang dianggap sebagai penyelamat dunia dalam wacana “war on
terror” dan Genghis Khan yang dianggap sebagai penyelamat bangsanya dalam novel Genghis Khan: Badai Di Tengah Padang(Buku II) Karya Sam Djang.
Kedua, penelitian Miftahuddin (2008) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dengan judul skripsi
“Pengaruh Ideologi Ikhwanul Muslimin Terhadap Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Di Indonesia”.
Relevansi penelitian terletak pada subjek penelitian yaitu bagaimana pengaruh Ideologi Ikhwanul Muslimin Terhadap Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan pengaruh ideologi kekuasaan Genghis Khan terhadap rakyatnya yang terdapat dalam novel Genghis Khan: Badai Di Tengah Padang(Buku II) Karya Sam Djang.
2.2 Landasan Teori 2.2.1 Sastra
Sastra berasal dari bahasa Sanskerta, yakni dari kata sas yang berarti mengarahkan, memberi petunjuk atau intruksi, sedang tra berarti alat atau sarana (Teeuw dalam Winarni dalam ). Padahal, dalam pengertian sekarang (bahasa Melayu), sastra banyak diartikan sebagai tulisan. Pengertian ini kemudian ditambah dengan kata su yag berarti indah atau baik. Jadi, susastra bermakna tulisan yang indah.
Sastra adalah institusi sosial yang memakai medium bahasa.
Teknik-teknik sastra tradisional seperti simbolisme dan mantra bersifat sosial karena merupakan konvensi dan norma masyarakat. Sastra menyajikan kehidupan dan kehidupan sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial, walaupun karya sastra juga meniru alam dan dunia subjektif manusia (Warren dan Wellek, 2014: 99).
2.2.2 Novel
Kata novel berasal dari kata latin novellus yang diturunkan pula dari kata novies yang berarti “baru”.
Dikatakan baru karena bila dibandingkan dengan jenis-jenis sastra lainnya seperti puisi, drama dan lain- lain, maka jenis novel ini muncul kemudian (Tarigan, 2011: 167).
Dalam The American Collage Dictionary dapat dijumpai keterangan bahwa “novel adalah suatu cerita prosa yang fiktif dalam panjang tertentu, yang melukiskan para tokoh, gerak serta adegan kehidupan nyata yang representatif dalam suatu alur atau suatu keadaan yang agak kacau atau kusut.”(Tarigan, 2011: 167).
2.2.3 Kekuasaan
Menurut Van Dijk dalam (Eriyanto, 2009: 272) mendefinisikan kekuasaan sebagai kepemilikan yang
dimiliki oleh suatu kelompok (anggotanya), satu kelompok untuk mengontrol kelompok (anggota) dari kelompok lain.
Menurut Van Dijk (Eriyanto, 2009: 272) kekuasaan umumnya didasarkan kepada kepemilikan atas sumber-sumber yang bernilai, seperti uang, status, dan pengetahuan. Selain berupa kontrol yang bersifat langsung dan fisik, kekuasaan dipahami oleh Van Dijk, juga berbentuk persuasif yaitu tindakan seseorang secara tidak langsung mengontrol dengan jalan mempengaruhi kondisi mental, seperti kepercayaan, sikap, dan pengetahuan.
2.2.4 Ideologi
Secara etimologis ideologi berasal dari idea (cita-cita, gagasan) dan logos (ilmu), merupakan derivasi ideologeme, unit terkecil ideologi itu sendiri, seperti fonem yang dianggap sebagai satuan bunyi terkecil yang berfungsi untuk membedakan arti.
Jadi, ideologi berarti ilmu tentang gagasan, cita-cita, sistem kepercayaan yang ditentukan secara sosial.
Ideologi pertama kali dibicarakan oleh Antoine Destutt de Tracy, akhir abad ke-18. Menurut Tracy (Larrain dalam Ratna, 2008:
370) ideologi memiliki konotasi positif, yang justru ditujukan untuk
menghindarkan prasangka agama dan metafisika.
2.2.5 Ideologi Perspektif Louis Althusser
Masyarakat menyembunyikan ideologi sebagai elemen dan atmosfir yang sangat diperlukan bagi napas dan kehidupan sejarah mereka. Biasanya ideologi dipahami sebagai satu bentuk kesadaran atau sebuah bidang ide, tapi hal ini menurut Althusser (Thompson, 2014: 131) merupakan sebuah kesalahan, karena Ideologi bukanlah representasi distorsif dari relasi yang riil tapi lebih sebagai sebuah relasi yang riil itu sendiri, relasi di mana manusia menghidupkan relasi tersebut bagi dunia mereka.
Althusser (Ratna, 2008: 373) mengaitkan ideologi dengan bahasa, sebagai representasi. Orang tidak dapat hidup tanpa representasi, ideologi muncul sebagai representasi dunia tertentu. Pada gilirannya, melalui ideologilah manusia dibentuk. Oleh karena itu, ideologi memiliki kaitan langsung dengan bahasa sehari-hari, maka ideologi tidak terbatas sebagai konsep dan gagasan, melainkan meluas pada simbol, seperti: mitos, gaya, selera, mode, media massa, dan keseluruhan gaya hidup di masyarakat.
2.2.6 ISA (Ideological State Apparatuses)
Menurut Althusser dalam (Ratna, 2008:373) ISA bersifat tanpa paksaan, persusif, dan privat, seperti:
agama, keluarga, hukum, politik, sistem komunikasi (pers, radio.
Televisi, iklan), dan kebudayaan (seni, olah raga, rekreasi). ISA merupakan ideologi yang dipakai negara untuk memperkuat represi dan penindasan terhadap rakyat.ISA berfungsi sebagai penjaga kelangsungan hegemoni sebuah negara dalam periode yang lama.
Dengan segala syarat yang diimplikasikan oleh keperluan ini, Althusser mengategorikan institusi- institusi berikut sebagai aparatus negara ideologis sebagai berikut:
1. ISA agama (sistem gereja-gereja yang berbeda)
2. ISA keluarga 3. ISA hukum
4. ISA politik (sistem politik, termasuk pelbagai partai yang berbeda)
5. ISA komunikasi (press, radio dan televisi dan sebagainya)
6. ISA budaya (kesusastraan, seni, olahraga dan sabagainya) dll.
2.2.7 RSA (Repressive State Apparatus)
Aparatus negara adalah aparatus yang dapat memaksakan kepatuhan secara langsung, seperti polisi,
pengadilan serta sistem penjara.
Melalui aparatus-aparatus ini, negara memiliki kekuasaan untuk memaksa warga negara untuk berkelakuan
“baik” secara fisik, sifat kerjanya terutama adalah menindas. Penindasan yang dilakukan ini selanjutnya diberi arti ideologis, bernilai, legal dan formal.
Aparatus negara secara formal terdiri dari pemerintah, angkatan bersenjata, polisi, pengadilan, penjara, dll. Oleh karena itu, Althusser menyebutkan dua mekanisme utama yang memungkinkan warga negara berkelakukan sesuai dengan aturan- aturan yang berlaku dalam negara, sekalipun aturan-aturan tersebut tidak sesuai dengan kepentingan yang dimiliki oleh warga negara, yakni represif dan ideologis. Kedua dimensi ini erat dengan eksistensi Negara sebagai alat penindasan atau pembungkaman bagi perjuangan kelas.
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
Dalam penelitian kualitatif, peneliti menjadi instrumen. Untuk dapat menjadi instrumen, maka peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas, sehingga mampu bertanya, menganalisis, memotret dan
mengkonstruksi obyek yang diteliti menjadi lebih jelas dan bermakna.
3.2 Data dan Sumber Data 3.2.1 Data
Data merupakan alat untuk memperjelas pikiran, data merupakan sumber informasi yang diperoleh atau dikumpulkan lewat (1) narasi, dan (2) dialog di dalam novel atau cerita pendek dengan merujuk kepada konsep sebagai kategori (Siswantoro, 2005: 63).
3.2.2 Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah novel Genghis Khan (Badai Di Tengah Padang) Jilid II Karya Sam Djang, berikut keterangan dari novel tersebut:
Judul Asli :Genghis Khan:
World Conqueror Volume 2
Judul terjemahan :Genghis Khan (Badai Di Tengah Padang) Jilid II Pengarang :Sam Djang Penerjemah :Reni Indardini
Penerbit I :New Horison Books, North hills Penerbit II : PT Bentang Pustaka
Cetakan : I (pertama) Tahun terbit : 2010 Cetakan I : 2011
Jumlah halaman :482 halaman
Jenis buku :Novel Terjemahan
Warna sampul
:Hitam Gambar sampul
: Laki- laki berkumis dengan wajah berwarna
coklat Laki-laki dan wanita bersama seekor kuda
3.3 Metode Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan beberapa teknik antara lain:
3.3.1 Teknik Observasi
Nasution (dalam Sugiyono, 2014:
64) menyatakan bahwa, observasi dasar semua ilmu pengetahuan. Para ilmuan dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi.
Dalam hal ini, data yang diamati adalah data dalam bentuk dialog maupun kaliamat penjelasan yang mengandung ISA dan RSA Louis
Althusser, kemudian dijabarkan menggunakan kalimat-kalimat yang akan menggambarkan ideologi kekuasaan di Dataran Mongol sebelum dan selama kekuasaan Genghis Khan.
3.3.2 Dokumentasi .
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.
Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan, ceritera, biografi, peraturan, dan kebijakan.
Data utama dalam penelitian ini adalah ISA (Ideological State Apparatus) dan RSA (Repressive State Apparatus) Louis Althusser yang terdapat di dalam novel Genghis Khan Karya Sam Djang. Selain itu, tulisan atau buku yang berhubungan dengan data adalah tulisan-tulisan yang berkaitan dengan ideologi, seperti Analisis Ideologi Dunia (Jhon B Thompson), Postkolonialime Indonesia (Nyoman Kutha Ratna), analisis wacana (Eriyanto) dan berbagai buku lainnya yang menjadi data pendukung.
3.4 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat untuk memudahkan peneliti dalam melakukan
penelitian, yaitu dengan mengumpulkan data secara terstruktur kemudian dianalisis.
Dalam hal ini, data-data yang dibutuhkan akan dikumpulkan menggunakan beberapa tabel. Tabel yang dimaksudkan adalah tabel instrumen data gambaran kekuasaan tokoh dalam novel Genghis Khan, tabel instrumen data ISA, tabel instrumen data RSA, dan tabel instrumen data kaitan antara ISA dan RSA.
3.5 Penyajian Hasil
Dalam penyajian hasil analisis, metode yang digunakan adalah metode analisis deskriptif. Secara etimologis deskripsi dan analisis berarti menguraikan.
Analisis yang berasal dari bahasa Yunani, analiyein („ana‟ = atas, „lyein‟ = urai), telah diberi arti tambahan, tidak semata- mata menguraikan melainkan juga memberikan pemahaman dan penjelasan secukupnya. Metode deskriptif analitik ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis (dalam Ratna, 2012: 53).
gan analisis (dalam Ratna, 2012: 53).
Metode analisis deskriptif ini digunakan untuk mendeskripsikan ISA dan RSA Louis Althusser yang terdapat dalam novel Genghis Khan karya Sam Djang yang dikaji menggunakan teori ideologi kekuasaan perspektif Louis Althusser. ISA dan RSA tersebut, salah satunya berkaitan dengan kebijakan Genghis Khan dalam memimpin Imperium Mongol.
BAB IV PEMBAHASAN
Penelitian ini membahas tentang ideologi kekuasaan yang terdapat dalam novel Genghis Khan buku II karya Sam Djang. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa ideologi kekuasaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ideologi kekuasaan negara dan aparaturnya yang dibagi menjadi dua yaitu: ISA (Ideological State Apparatus) dan RSA (Repressive State Apparatus).
Dalam hal ini, terdapat beberapa hal yang akan dibahas terkait dengan ideologi kekuasaan perspektif Louis Althusser dalam novel Genghis Khan, seperti:
gambaran kekuasaan tokoh Genghis Khan, ISA (ideological state apparatus), RSA (repressive state apparatus), dan kaitan antara ISA dan RSA dalam kepemimpinan Genghis Khan.
4.1 Gambaran Kekuasaan Tokoh dalam Novel Genghis Khan Jilid II Karya Sam Djang perspektif Louis Althusser
Novel Genghis Khan adalah novel sejarah karya Sam Djang yang diterbitkan oleh New Horrison Books pada tahun 2011, kemudian diterjemahkan oleh Rini Indardini yang diterbitkan oleh Penerbit Bentang. Novel ini ditulis oleh Sam Djang untuk mengungkapkan sisi positif sang
penaklukyaitu Genghis Khan dengan kehidupan cintanya, keluarganya, dan kisah kontroversial tentang penaklukan kerajaan muslim khawarazm, tetapi dalam penelitian ini, kajian difokuskan pada gambaran kekuasaan seorang Genghis Khan dengan berbagai sikapnya selama menjadi pemimpin sampai akhir hayatnya.
Berdasarkan paparan di atas, akan dijelaskan beberapa sikap dari tokoh Temujin atau Genghis Khan dalam memimpin negaranya, baik itu setelah maupun sebelum berdirinya Imperium Mongol yang terdapat dalam novel Genghis Khan karya Sam Djang. Sikap- sikap tersebut yaitu sikap bijaksana, cerdas, siaga, ambisius dan diktator.
4.2ISA (Ideological State Apparatus) dalam Novel Genghis Khan Jilid II Karya Sam Djang Perspektif Louis Althusser
ISA merupakan ideologi yang digunakan negara untuk memperkuat represi dan penindasan terhadap rakyat.ISA berfungsi sebagai penjaga kelangsungan hegemoni sebuah negara dalam periode yang lama.
Menurut Altusser (Ratna, 2008:373) ISA bersifat tanpa paksaan, persusif, dan privat, seperti: hukum, agama, keluarga, politik, sistem komunikasi (pers, radio.
Televisi, iklan), dan kebudayaan (seni, olah raga, rekreasi).
Berdasarkan paparan di atas, novel Genghis Khan sangat erat kaitannya dengan ISA, karena ISA digunakan oleh Genghis Khan dalam mempertahankan dan memperluas daerah kekuasaannya. Dalam hal ini, untuk mempertahankan kekuasaannya, Genghis Khan menggunakan ISA dalam beberapa aspek kehidupan yaitu ISA yang digunakan dalam bidang hukum, agama, keluarga, politik, komunikasi dan kebudayaan.
4.3 RSA (Repressive State Apparatus) dalam Novel Genghis Khan BukuII Karya Sam Djang Perspektif Louis Althusser
RSA bersifat represif, monolitik, dan publik, seperti pemerintah, angkatan bersenjata, polisi, penjara, pengadilan dan sebagainya. Represif Apratus negara adalah aparatus yang dapat memaksakan kepatuhan secara langsung, seperti polisi, pengadilan serta sistem penjara. Melalui aparatus-aparatus ini, Negara memiliki kekuasaan untuk memaksa warga negara untuk berkelakuan baik secara fisik. Sifat kerjanya terutama adalah menindas dan penindasan yang dilakukan ini diberi arti ideologis, bernilai dan legal.
Dalam pembahasan ini, akan dibahas RSA yang terdapat dalam novel Genghis Khan yang terdiri dari: RSA pemerintah, RSA angkatan bersenjata dan RSA pengadilan.
4.4Kaitan antara ISA dan RSA dalam novel Genghis Khan Jilid II Karya Sam Djang Perspektif Louis Althusser
Menurut Althusser (dalam Ratna, 2008:274) aparatur negara disamping menggunakan represi fisik, secara sekunder juga bekerja melalui ideologi, artinya tidak ada aparatur yang secara keseluruhan bersifat represif. Angkatan bersenjata dan polisi juga bekerja melalui ideologi. Demikian juga sebaliknya, aparatus ideologi dapat memanfaatkan represi meskipun secara halus dan tersembunyi.
Aparatus negara yang menggunakan ideologi sangat membutuhkan peran dari represi, seperti hukuman dan pendisiplinan dalam sekolah dan sensor terhadap karya- karya yang terbit melalui Balai Pustaka.
ISA dan RSA tidak bisa dipisahkan dari sebuah negara, karena ISA dan RSA adalah pendukung utama bertahannya kekuasaan para penguasa, begitu pula dengan kekuasaan Genghis Khan di
Imperium Mongol. Dalam
mempertahankan kekuasaannya, Genghis Khan membuat peraturan yang disebut
sebagai Yassa, kemudian Genghis Khan memberlakukan hukuman mati bagi siapa pun yang melanggar peraturan tersebut.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan
Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan pada novel Genghis Khan: Badai di Tengah Padang buku II karya Sam Djang, dapat disimpulkan bahwa novel ini membahas tentang kekuasaan serta kebijakan seorang Genghis Khan sebelum dan sesudah dia menjadi pemimpin Imperium Mongol yang ditinjau melalui ideologi kekuasaan perspektif Louis Althusser, dengan kesimpulan sebagai berikut:
1. Gambaran Kekuasaan Tokoh dalam novel Genghis Khan: Badai di Tengah Padang buku II karya Sam Djang perspektif Louis althusser.
Gambaran kekuasaan yang dimaksud adalah sikap kepemimpinan Genghis Khan, seperti kebijaksanaan, kecerdasan, ketegasan, keambisiusan dan kediktatoran Genghis Khan dalam memimpin atau pun meraih kekuasaan semasa hidupnya, baik itu sebelum maupun sesudah dideklarasikannya Imperium Mongol.
2. ISA (Ideological State Apparatus) dalam novel Genghis Khan: Badai di
Tengah Padang buku II karya Sam Djang perspektif Louis althusser.
Dalam novel Genghis Khan, ISA adalah peraturan atau gagasan yang digunakan dalam beberapa hal sebagai berikut:
a. ISA dalam bidang Agama
Dalam setiap perjalanan hidup seorang manusia, agama menjadi suatu hal yang tidak bisa dihindari, begitu pula dengan kehidupan Genghis Khan. Genghis Khan selalu menyempatkan diri meminta kepada Tuhannya ketika dia akan pergi berperang.
b. ISA dalam Keluarga
Di dalam kepemimpinannya, Genghis Khan memang seorang pemimpin yang sangat ditakuti dan dihormati, tetapi dibalik semua itu, Genghis Khan adalah seorang ayah yang sangat mencintai anak-anaknya.
c. ISA dalam Institusi Hukum
Salah satu contoh ISA dalam institusi hukum dalam novel ini yaitu berupa peraturan yang telah disahkan oleh Genghis Khan dan siapa pun yang melanggar peraturan tersebut akan mendapat hukuman mati, seperti Yassa, peraturan militer, peraturan pampasan perang, dan peraturan hukuman bagi masyarakat daerah taklukan.
d. ISA dalam bidang politik
ISA dalam bidang politik dalam novel ini, seperti yang dilakukan oleh Genghis Khan yaitu strategi Genghis Khan dalam meyakinkan rakyatnya agar tetap percaya bahwa mereka akan selalu mendapatkan kemenangan dalam setiap peperangan.
e. ISA dalam komunikasi
Komunikasi adalah salah satu cara Genghis Khan menjalin hubungan baik dengan negara lain.
dalam hal ini, salah satu alat resmi yang digunakan dalam berkomunikasi oleh setiap negara pada era Genghis Khan adalah surat.
f. ISA dalam Kebudayaan
Budaya adalah salah satu ciri dari suatu bangsa dan negara, oleh karena itu Genghis Khan sangat menghargai sebuah kebudayaan dengan cara tidak menghancurkan beberapa simbol
kebudayaan pada daerah
taklukkannya.
3. RSA (Repressive State Apparatus) Dalam novel Genghis Khan:
Badai di Tengah Padang buku II karya Sam Djang perspekt if Louis althusser.
RSA yang dimaksud dalam novel ini terdiri dari tiga lembaga yaitu:
a. RSA Pemerintahan
Negara sejatinya adalah alat bagi kepentingan kelas yang berkuasa, kelas yang
dimaksudkansalah satunya adalah pemerintah. Di dalam suatu negara, pemerintah adalah pengendali kekuasaan yang dapat memaksakan kehendaknya.
b. RSA Angkatan Bersenjata
Angkatan bersenjata yang dimaksud adalah prajurit Mongol.
Dalam hal ini, prajurit Mongol melakukan hukuman mati berupa pemenggalan kepala bagi para warga yang melanggar peraturan pemerintahan. Selain itu, prajurit Mongol juga memenggal kepala setiap warga daerah taklukan yang tidak mau tunduk pada Imperium Mongol dan mereka juga melakukan penghancuran ataupun pembakaran disetiap daerah yang dilewati.
c. RSA Pengadilan
Pengadilan adalah lembaga yang bertugas dalam memberikan hukuman bagi semua orang yang telah melakukan kejahatan. Dalam hal ini, di dalam novel Genghis Khan, bentuk hukuman yang diberikan kepada pelaku kejahatan adalah pemenggalan kepala massal, tetapi mereka juga menguliti hidup- hidup orang yang dianggap pengkhianat.
4. Keterkaitan antara RSA danISA dalam novel Genghis Khan: Badai di Tengah
Padang buku II karya Sam Djang perspektif Louis althusser.
Keterkitan antara RSA dan ISA dalam novel ini yaitu peraturan dalam bentuk ISA yang terdiri dari ISA agama, keluarga, hukum, politik, komunikasi dan ISA kebudayaan, tidak akan terlaksana dengan baik, jika tidak ada dukungan dari RSA pemerintah, angkatan bersenjata dan RSA pengadilan yang berupa hukuman dan pendisiplinan, sehingga kedua hal ini tidak akan pernah terpisahkan dalam sebuah kekuasaan, begitu juga dengan kekuasaan yang dimiliki oleh seorang Genghis Khan.
B. Saran
Dengan adanya penelitian ini diharapakan kepada para pembaca agar menjadikan sikap positif yang dimiliki oleh seorang Genghis Khan sebagai contoh dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Dalam hal ini, sikap Genghis Khan yang perlu dicontoh, seperti kebijaksanaannya dalam mengambil keputusan, keberaniannya dalam melawan musuh dan kerendahan hatinya saat bersama dengan rakyat yang dianggap paling rendah sekalipun.
Selain itu, kejujuran dan ketulusan hati yang selalu dijunjung tinggi oleh Genghis Khan dapat dijadikan pedoman dalam setiap langkah kehidupan kita, karena dengan kejujuran dan ketulusan
itulah, kita bisa tenang dalam menjalani hidup.
DAFTAR PUSTAKA
Djang, Sam. 2011. Genghis Khan (Badai Di Tengah Padang). Jilid II. Terj.
Reni Indardini. Yogyakarta: Penerbit Bentang.
Eriyanto. 2009. Analisis Wacana.
Yogyakarta: LkiS Yogyakarta.
Faruk. 2007. Belenggu Pasca-Kolonial, Hegemoni dan Resistensi dalam Sastra
Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Faruk. 2012. Metode Penelitian Sastra.
Jogyakarta: Pustaka Pelajar.
Khairul. 2013. Karyawan PDAM Bima Dipolisikan. From,
http://mataramnews.co.id/hukrim/ite m/2677-karyawan-pdam-bima- dipolisikan. Akses tanggal 17 agustus 2015, 11:19 WITA.
Miftahuddin. 2008. “Pengaruh Ideologi Ikhwanul Muslimin Terhadap Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Di Indonesia.” Skripsi: Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
Moleong, Lexy J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Ratna, Nyoman Kutha. 2008.
Postkolonialisme Indonesia Relevansi Sastra. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Ratna, Nyoman Kutha. 2013. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Renaldi, Mohammad. 2014. “Hegemoni Ideologi Demokrasi Liiberal Amerika Serikat dan Wacana Global War On Terror dalam Media Massa.” Skripsi: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
. 2014. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Thompson, Jhon B. 2014. Analisis Ideologi Dunia. Terj. Haqqul Yaqin.
Yogyakarta: Penerbit IRCiSoD.
Wellek, Rene., Austin Warren. 2014. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.