• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Kanker Serviks - poltekkes-malang.ac.id

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PDF BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Kanker Serviks - poltekkes-malang.ac.id"

Copied!
47
0
0

Teks penuh

Beberapa faktor yang dianggap sebagai kofaktor (komorbiditas) terhadap kejadian kanker serviks, antara lain multiplisitas, kebiasaan merokok, kontrasepsi hormonal, penyakit menular seksual, dan faktor gizi. Risiko menderita kanker serviks meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah rokok yang dikonsumsi, namun tidak berhubungan dengan lamanya merokok. Penyakit menular seksual seperti infeksi HIV dan virus herpes dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker serviks (Rasjidi, 2009).

Faktor predisposisi kanker serviks ada tiga, yaitu faktor individu, faktor risiko dan faktor pasangan pria (Sukaca, 2009). 1). Ada beberapa penelitian yang menyimpulkan bahwa kekurangan asam folat dapat meningkatkan risiko displasia ringan dan sedang, dan juga dapat meningkatkan risiko kanker serviks pada wanita yang pola makannya rendah beta karoten, retinol (vitamin A), vitamin C, vitamin E. .10 (Sukaca, 2009). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kekurangan asam folat, vitamin C, E, beta karoten/retinol berhubungan dengan peningkatan risiko kanker serviks (Rasjidi, 2009).

Wanita yang merokok memiliki risiko 2 kali lipat terkena kanker serviks dibandingkan wanita yang tidak merokok. Karena sel kolumnar serviks lebih rentan mengalami metaplasia pada usia dewasa, maka wanita yang melakukan hubungan intim sebelum usia 18 tahun akan mempunyai risiko lima kali lipat lebih besar terkena kanker serviks (Rasjidi, 2008). Risiko terkena kanker serviks 10 kali lebih besar pada wanita yang pernah memiliki 6 pasangan seksual atau lebih.

Wanita yang mempunyai banyak pasangan seksual lebih besar kemungkinannya untuk menderita kanker serviks.

Pencegahan Kanker Serviks

Penyakit menular seperti infeksi human papillomavirus (HPV) telah terbukti meningkatkan kejadian kanker serviks, penis, dan vulva. Penggunaan kondom mungkin dapat mengurangi atau memberikan perlindungan terhadap penyakit terkait HPV, termasuk kanker serviks. Namun cara paling efektif untuk mencegah kanker serviks adalah dengan mengembangkan vaksin HPV.

Jadi skrining harus dilakukan untuk mengetahui apakah wanita yang telah terinfeksi virus HPV mengalami lesi prakanker dini.

Penapisan Kanker Serviks

Papanicolou smear, disebut juga Pap smear, adalah pemeriksaan sitologi sel di daerah serviks. Dengan nilai positif dan negatif tersebut, berarti pemeriksaan IVA pada sekitar 75% kasus dapat mengetahui apakah lesi tersebut benar-benar prakanker atau sepenuhnya normal. Dilihat dari hasil prediksi nilai sensitivitas dan nilai negatifnya, maka pemeriksaan IVA untuk mendeteksi lesi prakanker atau kanker serviks lebih tinggi dibandingkan dengan Pap smear.

Tes IVA adalah praktik yang direkomendasikan untuk fasilitas dengan sumber daya rendah dibandingkan dengan jenis pemeriksaan lainnya.

Pemeriksaan serviks

Usia di atas 70 tahun, boleh dihentikan jika 3 tes Pap terakhir normal atau tidak ada Pap dalam 10 tahun terakhir yang normal. Tes IVA (inspeksi visual dengan asam asetat) merupakan salah satu pemeriksaan skrining alternatif selain tes Pap karena murah, praktis, sangat mudah dilakukan dengan peralatan sederhana dan murah serta dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan kecuali dokter spesialis kandungan. Tes IVA merupakan deteksi dini penyakit kanker serviks dengan menggunakan asam asetat 3-5% dalam pemeriksaannya dan dilihat dengan pengamatan langsung (dengan mata telanjang).

Penyedia layanan kesehatan mengambil sampel jaringan, atau biopsi, dari serviks untuk memeriksa kanker serviks atau kondisi lainnya. Leher rahim dilihat dengan kaca pembesar, yang dikenal sebagai kolposkop, dan biopsi dapat dilakukan pada area mana pun yang terlihat tidak sehat. Biopsi serviks di mana potongan jaringan berbentuk kerucut dikeluarkan dari serviks dan diperiksa di bawah mikroskop disebut biopsi kerucut.

Biopsi kerucut dilakukan setelah tes Pap abnormal untuk mengidentifikasi dan menghilangkan sel-sel berbahaya di serviks. Pemindai CT mengambil beberapa sinar-X dan komputer menghasilkan gambar rinci dari leher rahim dan struktur lain di perut dan panggul. CT scan sering digunakan untuk menentukan apakah kanker serviks telah menyebar dan, jika ya, seberapa jauh penyebarannya.

Pemindai MRI menggunakan magnet bertenaga tinggi dan komputer untuk membuat gambar serviks dan struktur lain di perut dan panggul dengan resolusi tinggi.

Stadium Klinik Kanker Serviks

Stadium 0

Stadium 1

Tahapan kanker serviks adalah sebagai berikut. pada jaringan serviks, namun lebarnya masih kurang dari 7 mm. 2).

Stadium II

Stadium III

Stadium IV

Penatalaksanaan Medis Berdasarkan Stadium Kanker

Deteksi Dini Kanker Serviks

Secara umum kasus kanker serviks dan kematian akibat kanker serviks dapat dideteksi dengan mendeteksi perubahan pada area serviks melalui pemeriksaan sitologi menggunakan apusan.

  • Tujuan Pemeriksaan IVA
  • Kategori Pemeriksaan IVA
  • Pelaksanaan Skrining IVA
  • Kelebihan Pemeriksaan IVA

Tes IVA merupakan salah satu tes skrining alternatif selain tes Pap karena biasanya murah, praktis, sangat mudah dilakukan dan peralatannya sederhana serta dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan selain dokter spesialis kandungan. Pada pemeriksaan ini pemeriksaan dilakukan dengan melihat leher rahim yang telah diberi larutan asam asetat 3-5% secara inspeksional. Setelah serviks direvisi dengan asam asetat, akan terjadi perubahan warna pada serviks yang dapat diamati secara langsung dan dapat terbaca normal atau tidak normal.

Efeknya akan hilang dalam waktu sekitar 50-60 detik, sehingga dengan pemberian asam asetat akan diperoleh gambaran leher rahim yang normal (merah homogen) dan bercak putih (displasia) (Novel S Sinta, dkk, 2010). Kelompok ini menjadi sasaran temuan skrining kanker serviks dengan metode IVA karena temuan tersebut mengarah pada diagnosis prakanker serviks (displasia ringan-sedang-berat atau kanker serviks in situ). IVA-Kanker Serviks: Bahkan pada stadium ini, upaya menurunkan stadium kanker serviks akan tetap bermanfaat dalam menurunkan kematian akibat kanker serviks jika terdeteksi pada stadium invasif dini (stadium IB-IIA).

Pemeriksaan visual asam asetat (IVA) merupakan pemeriksaan yang dapat dilakukan oleh tenaga medis seperti dokter, bidan, dan paramedis. Cairan ekstraseluler yang hipertonik ini menarik cairan dari intraseluler sehingga membran kolaps dan jarak antar sel menjadi lebih dekat. Akibatnya jika permukaan epitel menerima cahaya, maka cahaya tersebut tidak diteruskan ke stroma, melainkan dipantulkan dari luar sehingga permukaan epitel abnormal tersebut berwarna putih (aceto white epithelium.) (M. Farid Aziz, dkk, 2006).

Pada penampakan bagian dan bercak putih tersebut dapat disimpulkan hasil tes IVA positif, dan sebagai tindak lanjutnya dapat dilakukan biopsi. Apabila bidan menemukan hasil tes IVA positif, di beberapa negara bidan dapat segera melakukan terapi dengan cryosurgery. Jika semakin putih dan jelas bercak putik yang terlihat, maka semakin tinggi pula derajat kelainan histologisnya.

Efeknya akan hilang dalam waktu sekitar 50-60 detik sehingga Anda akan mendapatkan gambaran serviks normal (homogen) dan bercak putih dengan mengoleskan asam asetat. Lesi yang muncul sebelum pemberian asam asetat bukan merupakan epitel putih melainkan disebut leukoplakia dan biasanya disebabkan oleh proses keratosis (M. Farid Aziz, dkk, 2006).

Tabel 2.2 Kategori Temuan IVA
Tabel 2.2 Kategori Temuan IVA

Faktor Yang Berhubungan Dengan Rendahnya Kunjungan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA)

  • Faktor Predisposisi (Predisposing Factor) .1 Tingkat Pendidikan
    • Tingkat Pengetahuan
    • Status Pekerjaan
  • Faktor Pemungkin (Enabling Factor)
    • Jarak Fasilitas Kesehatan (Puskesmas)
  • Faktor Pendorong (Reinforcing Factor) .1 Peran Kader Kesehatan
    • Penyuluhan Kesehatan
    • Dukungan Anggota Keluarga
  • Syarat-Syarat Menjadi Kader
  • Peran Kader

Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin tinggi pula perilaku kesehatan seseorang dalam upaya pencegahan penyakit, termasuk pelaksanaan deteksi dini kanker serviks. Penerapan diartikan sebagai kemampuan menggunakan materi yang telah dipelajari dalam situasi atau kondisi nyata. Sintesis mengacu pada kemampuan untuk menempatkan atau menghubungkan bagian-bagian menjadi bentuk keseluruhan yang baru.

Evaluasi, hal ini berkaitan dengan kemampuan untuk membenarkan atau menilai suatu materi atau objek. Jika seseorang berpendapat bahwa kanker serviks tidak memberikan dampak buruk bagi dirinya dan keluarganya, maka hal tersebut tidak menyurutkan kesadaran orang tersebut untuk melakukan deteksi dini terhadap kanker serviks. Namun di sisi lain, hal ini juga berdampak pada partisipasi perempuan dalam melakukan pemeriksaan kanker serviks di Puskesmas Halmahera.

Akses informasi dan fasilitas kesehatan sangat mendukung atau memungkinkan terselenggaranya deteksi dini kanker serviks, faktor inilah yang disebut dengan faktor pendukung. Menurut Departemen Kesehatan RI (2005), kader adalah anggota masyarakat yang dipilih untuk mengatasi masalah kesehatan, baik individu maupun komunitas, dan bekerja erat dengan pelayanan kesehatan primer. Selain itu, tenaga kesehatan juga mempunyai tugas untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap permasalahan kesehatan yang timbul.

Pemahaman yang baik dan benar terhadap lingkungan sekitar akan memberikan motivasi bagi individu untuk ikut serta dalam deteksi dini kanker serviks. Kader kesehatan masyarakat adalah laki-laki atau perempuan yang dipilih oleh masyarakat dan dilatih untuk menangani masalah kesehatan individu dan masyarakat serta bekerja dalam kontak yang sangat dekat dengan berbagai tempat. Kader adalah setiap orang yang dipilih oleh masyarakat setempat dan dilatih untuk menangani masalah kesehatan individu atau masyarakat dan bekerja sangat dekat dengan tempat-tempat penyelenggaraan pelayanan kesehatan (Peraturan Menteri Kesehatan Daerah Nomor 25 Tahun 2014).

Partisipasi atau partisipasi masyarakat sangat diharapkan, terutama peran serta kader atau tokoh masyarakat. Jika peran kader kesehatan ini dijalankan dengan baik maka akan membantu dan meningkatkan hasil pelaporan posyandu (Mubarok, 2012). Peran kader pada umumnya adalah melaksanakan kegiatan pelayanan dan menyukseskan masyarakat, serta merencanakan kegiatan pelayanan kesehatan di tingkat desa. Kerangka pelayanan kesehatan berperan besar dalam upaya meningkatkan kemampuan masyarakat untuk membantu dirinya mencapai kesehatan yang optimal.

Menurut Kementerian Kesehatan RI (2006), berbagai peran kader dalam meningkatkan cakupan pemeriksaan IVA pada ibu antara lain sebagai berikut. Faktor yang mempengaruhi partisipasi kader internal adalah tingkat pengetahuan yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan formal.

Gambar

Tabel 2.1 Tahapan Kanker Serviks
Tabel 2.2 Kategori Temuan IVA

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian ini maka untuk meningkatkan pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) pada Pasangan Usia Subur (PUS) di Wilayah Kerja UPTD