• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF Usulan Penelitian Pengembangan Iptek (Ppi)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PDF Usulan Penelitian Pengembangan Iptek (Ppi)"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

1

USULAN PENELITIAN PENGEMBANGAN IPTEK (PPI)

FORMULASI MASKER PEEL OFF SEDIAAN PITOSOM EKSTRAK BIJI KELABET

Oleh:

Ari Widayanti, M.Farm., Apt. (0328017603) Dra. Sri Nevi Gantini, M.Si ( 0306116401)

FAKULTAS FARMASI DAN SAINS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA JAKARTA

2017

(2)

2

(3)

3 BAB I

PENDAHULUAN

Penggunaan ekstrak tumbuhan sebagai bahan aktif dalam sediaan topikal mempunyai keterbatasan karena tingkat adsorpsi yang buruk. Salah satu strategi untuk meningkatkan adsorpsi dan penetrasi bahan aktif dari ekstrak tumbuhan adalah menggunakan teknologi fitosom. Fitosom adalah suatu teknologi pembentukan kompleks antara senyawa-senyawa didalam ekstrak dengan fosfolipid (Kareparamban et al, 2011). Fitosom sebagai pembawa bahan kosmetik memiliki keuntungan karena lipid yang terhidrasi dengan baik dapat mengurangi kekeringan pada kulit yang merupakan penyebab utama penuaan dini (Lipowsky & Sackmann, 1995).

Pemakaian sediaan kosmetik yang mengandung merkuri dan hidrokuinon dalam jangka lama dapat menimbulkan beberapa efek samping seperti iritasi, efek karsinogenik dan efek samping sistemik lainnya (Parvez S et al, 2006). Oleh karena itu, perlu dikembangkan sediaan kosmetik yang menggunakan bahan aktif dari ekstrak tumbuhan. Salah satu contoh ekstrak tumbuhan yang dapat digunakan sebagai zat aktif dalam kosmetika adalah ekstrak klabet (Trigonella Foenum-graecum L.). Biji klabet mengandung kadar polifenol yang memiliki aktivitas antioksidan potensial (Bukhari SB et al. 2008). Penggunaan antioksidan merupakan salah satu upaya yang sering dilakukan untuk mengurangi radikal bebas menjadi molekul yang kurang reaktif, sehingga menghindari dan mengurangi kerusakan oksidatif (Ardhie, 2011).

Berdasarkan kandungan dan khasiat tersebut, ekstrak klabet berpotensi untuk dikembangkan menjadi suatu sediaan kosmetik salah satunya dalam bentuk masker peel-off.

Masker peel-off merupakan masker yang praktis, setelah kering masker tersebut dapat langsung diangkat (biasa dikenal dengan sebutan masker gel). Zat aktif pada masker dapat lebih lama berinteraksi dengan kulit wajah. Manfaat masker peel-off antara lain dapat mengangkat sel kulit mati agar kulit bersih dan segar, mengembalikan kelembutan kulit, dan dengan pemakaian teratur dapat mengurangi kerutan halus pada kulit wajah (Rieger, 2000).

Pada penelitian ini, difomulasikan sediaan masker peel off menggunakan fitosom ekstrak klabet, selanjutnya dilakukan uji stabilitas fisik masker peel off fitosom dari ekstrak klabet (Trigonella Foenum-graecum L.).

(4)

4 BAB II

PERUMUSAN MASALAH

Ekstrak klabet mengandung kadar polifenol yang memiliki aktivitas antioksidan potensial (Bukhari SB et al. 2008). Berdasarkan kandungan dan khasiat tersebut, ekstrak klabet berpotensi untuk dikembangkan menjadi suatu sediaan kosmetik, salah satunya dalam bentuk masker peel off.

Kandungan polifenol seperti flavonoid bersifat polar dan tidak terserap dengan mudah dipermukaan kulit. Oleh karena itu digunakan teknologi fitosom yang dapat meningkatkan adsorpsi dan penetrasi bahan aktif dari ekstrak tumbuhan (Kareparamban et al 2011).

Fitosom sebagai pembawa bahan kosmetik memiliki keuntungan karena lipid yang terhidrasi dengan baik dapat mengurangi kekeringan pada kulit yang merupakan penyebab utama penuan dini (Lipowsky & Sackmann, 1995) oleh karena itu diperlukan suatu penelitian apakah ekstrak klabet dalam bentuk fitosom dapat dibuat menjadi masker peel off dan apakah masker peel-off yang mengandung fitosom ekstrak klabet dapat stabil secara fisika.

(5)

5 BAB III

TINJAUAN PUSTAKA 1. Kulit

a. Anatomi dan fisiologi kulit (Tranggono & Latifah, 2007)

Kulit merupakan organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya dari lingkungan hidup manusia. Luas kulit orang dewasa sekitar 1,5m2 dengan berat kira-kira 15%

berat badan. Kulit terdiri dari tiga lapisan yaitu lapisan epidermis, lapisan dermis, dan lapisan hipodermis.

1) Lapisan epidermis

Lapisan epidermis terdiri dari lapisan sel yaitu stratum korneum (lapisan tanduk), stratum lusidum (lapisan bening), stratum granulosum (lapisan butir), stratum spinosum (lapisan sel duri), stratum basalis, stratum germinativum (lapisan sel basal).

2) Lapisan dermis

Lapisan ini jauh lebih tebal daripada epidermis, terbentuk oleh jaringan elastik dan fibrosa padat dengan elemen seluler, kelenjar dan rambut seperti adeneksia. Pada lapisan ini terdapat ujung serabut saraf, pembuluh darah, saraf penunjang kolagen, elastin dan retikulin.

3) Lapisan hipodermis

Lapisan ini merupakan kelanjutan dermis, terdiri atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak didalamnya. Lapisan ini berfungsi untuk menjaga suhu tubuh, bantalan terhadap trauma, dan tempat penumpukan energi.

b. Fungsi Kulit

Kulit memiliki fungsi utama sebagai pelindung dari berbagai macam gangguan dan rangsangan luar. Fungsi perlindungan ini terjadi melalui sejumlah mekanisme biologis, seperti pembentukan lapisan tanduk secara terus menerus (keratinisasi dan pelepasan sel-sel yang sudah mati), respirasi dan pengaturan suhu tubuh, produksi sebum dan keringat dan pembentukan pigmen melanin untuk melindungi kulit dari bahaya sinar ultraviolet, serta pertahanan terhadap tekanan dan infeksi dari luar (Tranggono & Latifah, 2007).

2. Antioksidan

Antioksidan didefinisikan sebagai senyawa kompleks yang terdapat pada makanan atau suatu zat yang berfungsi sebagai pelindung tubuh terhadap penyakit. Suatu antioksidan dapat

(6)

6 pula didefinisikan sebagai setiap senyawa apapun yang dapat melindungi jaringan dari kerusakan akibat oksidasi. Antioksidan merupakan senyawa-senyawa yang keberadaannya mengganggu reaksi rantai radikal bebas seperti halnya dalam reaksi oksidasi lipida. (Tjandra Oentarini, 2011).

Radikal bebas adalah senyawa kimia yang reaktif dan tidak stabil karena memiliki satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada molekul tubuh (Pangkahila, 2007). Radikal bebas menyebabkan kerusakan pada kulit, seperti menurunkan kinerja zat-zat dalam tubuh, menimbulkan kerusakan protein dan asam amino yang merupakan struktur utama kolagen dan jaringan elastin, dan mengganggu distribusi melanin.

Kerusakan-kerusakan tersebut menyebabkan kulit menebal, kaku, tidak elastis, keriput, pucat, dan kering, serta timbulnya bercak kehitaman atau kecoklatan (Elsner & Maibach, 2000).

Secara umum mekanisme kerja antioksidan adalah menghambat oksidasi lemak. Suatu senyawa untuk dapat digunakan sebagai antioksidan harus mempunyai sifat-sifat tidak toksik, dapat terkonsentrasi pada permukaan/lapisan lemak (bersifat lipofilik) dan harus dapat tahan pada kondisi pengolahan pangan umumnya (Winarno,F.G, 1997).

3. Masker Peel Off

Masker termasuk kosmetik depth cleansing yaitu kosmetik yang bekerja secara mendalam karena dapat mengangkat sel-sel kulit mati. Masker memiliki banyak kegunaan, terutama untuk mengencangkan kulit, mengangkat sel-sel tanduk yang sudah siap mengelupas, memberi kelembaban dan nutrisi pada kulit, memperbaiki tekstur wajah, meremajakan kulit, mencerahkan warna kulit, mengecilkan pori-pori, membersihkan pori-pori kulit wajah yang tersumbat kotoran, menyegarkan wajah karena akan memberi efek rileks otot-otot wajah.

Sebaiknya, penggunaan masker dilakukan 1 minggu sekali (Wirakusumah, 2007).

Masker peel off merupakan salah satu jenis sediaan masker yang praktis dan mudah saat penggunaannya. Selain itu sediaan masker ini telah diaplikasikan untuk anti penuaan dini.

Masker peel off terbuat dari bahan karet seperti polivinil alkohol atau damar vinil asetat. Masker peel off biasanya dalam bentuk gel atau pasta yang dioleskan ke kulit muka. Setelah alkohol yang terkandung dalam masker menguap, tebentuklah lapisan film yang tipis dan transparan pada kulit muka. Setelah berkontak selama 15-30 menit, lapisan tersebut diangkat dari permukaan kulit dengan cara dikelupas (Rahayu et al, 2014).

Masker gel merupakan masker yang praktis, setelah kering masker tersebut dapat langsung diangkat (biasa dikenal dengan sebutan masker pell off). Zat aktif pada masker dapat

(7)

7 lebih lama berinteraksi dengan kulit wajah. Manfaat masker gel antara lain dapat mengangkat sel kulit mati agar kulit bersih dan segar, mengembalikan kelembutan kulit, dan dengan pemakaian teratur dapat mengurangi

kerutan halus pada kulit wajah (Rahayu et al, 2014).

Bahan-bahan pembentuk gel yang biasa digunakan meliputi gom-gom alam (tragakan, karagenan, pectin, agar, dan asam alginat), bahan semisintetik (metilselulosa, hidroksi etil selulosa, dan hidroksipropilmetil selulosa), dan polimer sintetik (carbopol, plivinil alkohol, polietilen-polioksipropilen, dan gelatin). Poliviniol alkohol digunakan untuk bahan pembentuk gel yang cepat kering, memberikan lapisan yang kuat dan plastik, kontak yang baik dan untuk pengobatan, memberikan perlindungan pada kulit dengan tampilan yang baik (Rahayu et al, 2014).

4. Biji Klabet

a. Taksonomi (BPOM, 2006)

Taksonomi dari tanaman klabet adalah sebagai berikut:

Kerajaan : Plantae

Divisi : Tracheophyta

Kelas : Magnoliopsida

Anak Kelas : Rosidae

Bangsa : Fabeles

Suku : Fabaceace

Marga : Trigonella

Jenis : Trigonella foenum-graecum L.

Sinonim : -

Nama Indonesia : Kelabet Nama daerah : Klabet (Jawa)

Simplisia yang digunakan : biji (Trigonellae Foeni-Graeci Semen)

b. Kandungan Kimia dan Manfaat Biji Klabet

Biji klabet terdiri dari 45-60% karbohidrat terutama musilago serat (galaktomanan).

Kandungan protein dalam biji sebanyak 20-30% dengan kandungan utamanya yaitu lisin dan triptofan. Kandungan lain yang terdapat di dalam biji antara lain: 5-10% minyak tetap (lipid);

(8)

8 piridina-jenis alkaloid terutama trigonelin (0,2-0.36%), kaolin (0,5%), gentianin dan carpain;

flavonoid apigenin, luteolin, orientin, quercentin, vitexin dan isovitexin; asam amino bebas seperti 4-hidroksiisoleusin (0,09%), arganin, histidin dan lisin; kalsium dan besi; saponin (0,6- 1,7%). Biji juga menghasilkan steroid glikosida sapogenin pada hidrolisis (diosgenin, yamogenin, tigogenin, neotigogenin); kolesterol dan sitosterol; vitamin A, B, C dan asam nikotinat; senyawa kumarin; dan 0,015% minyak atsiri (nalkan dan sesquiterpen) (El-Soud et al, 2007).Secara tradisional biji klabet telah digunakan untuk mengatasi berbagai gangguan, baik melalui penggunaan sistemik maupun topikal. Sedangkan secara topikal biji kelabet dapat digunakan sebagai pelembut kulit (kosmetika) (Soedibyo, 1998).

Pada penelitian lain, disebutkan bahwa penggunaan pelarut etanol ternyata paling efektif dalam mengikat gugus fenol di dalam biji klabet. Ikatan dengan gugus fenol menyebabkan ekstak etanol biji kelabet (Trigonella foenum-graecum L.) memiliki kemampuan antioksidan terkuat bila dibandingkan menggunakan pelarut lainnya (Bukhari et al, 2008). Ekstrak etanol biji klabet (Trigonella foenum-graecum L.) juga mengandung diosgenin yang mirip kerjanya dengan estrogen (Murakami et al.,2000).

5. Fitosom

Fitosom merupakan sistem pembawa obat berupa nanovesikel lipid dimana terjadi kompleks molekular lipid oleh interaksi antara ekstrak herbal dengan fosfolipid. Sistem pembawa obat berbentuk fitosom ini meningkatkan hidrofilisitas obat yang sangat lipofilik dan meningkatkan lipofilisitas dari fitokonstituen yang bersifat hidrofilik sehingga memadai untuk menembus membran biologis (Tripathy Surrendra et al, 2013).

Adapun tujuan utama pembuatan fitosom untuk meningkatkan bioavailabilitas zat berkhasiat. Kebanyakan ekstrak tumbuhan bersifat hidrofil, seperti flavonoid atau glikosida, akibatnya sulit untuk menembus membran kulit sehingga tidak terjadi absorpsi yang baik. Salah satu strategi untuk meningkatkan adsorpsi dan penetrasi bahan aktif dari ekstrak tumbuhan adalah menggunakan sistem fitosom. Dengan dibuat dalam bentuk sediaan fitosom maka akan dihasilkan sediaan dengan adsorpsi yang lebih baik dibandingkan ekstak herbal biasa. Berikut ini adalah beberapa kelebihan dari fitosom jika dibandingkan dengan formulasi herbal konvensional (Tripathy Surrendra et al, 2013):

1. Efek terapeutik yang lebih baik seperti peningkatan absorpsi secara nyata melalui oral maupun topikal.

(9)

9 2. Diperlukan dalam dosis kecil terkait tingkat absorpsi yang baik.

3. Fitosom memiliki efisiensi penjerapan obat yang lebih baik.

4. Fosfatidilkolin bukan hanya sebagai carrier atau pembawa obat, melainkan juga memiliki efikasi secara klinis, memiliki aktivitas hepatoprotektif dan nilai gizi.

5. Fitosom menunjukkan profil stabilitas yang lebih baik karena terjadi pembentukan ikatan kimia.

6. Fitosom dapat digunakan untuk penghantaran obat herbal tertarget secara sistemik.

7. Aplikasi di bidang kosmetik dan penggunaan fitokonstituen secara topikal lainnya dapat dikembangkan dengan formulasi fitosom.

Salah satu perbedaan utama fitosom dengan liposom terletak pada terbentuknya ikatan pada fitosom antara ekstrak dengan fosfolipid yang digunakan. Bagian kepala besifat hidrofilik dan bagian ekor besifat lipofilik. Zat aktif yang merupakan ekstrak tumbuhan terserap pada bagian kepala hidrofilik sedangkan pada liposom zat aktifnya terserap pada bagian fosolipid (Tripathy Surrendra et al, 2013).

a. Bahan Pembentuk Fitosom

Bahan yang digunakan sebagai penyusun fitosom, yaitu fosolipid. Terdapat dua sumber utama fosfolipid yaitu telur dan kedelai. Fosfolipid yang diperoleh dari telur antara lain fosfatidilkolin, fosfatidiletanolamin dan sfingomyelin. Sedangkan fosfolipid dari kacang kedelai antara lain fosfatidilkolin, fosfatidiletanolamin dan fosfatidilinositol. Fosfatidilkolin memiliki pengaruh besar terhadap teknologi penghantaran obat. Manfaat utama dalam vesikular berbasis fosfolipid adalah kompatibilitas fosfolipid dengan membran biologis baik internal maupun membran kulit. Komponen utama sistem vesikular adalah fosfolipid. Fosfolipid merupakan molekul amfipatik yang memiliki bagian ekor hidrofobik dan bagian kepala yang polar hidrofilik. Fosfolipid polar alami yang paling umum digunakan adalah fosfatidilkolin (Crommelin D.J & Schreier, 1994).

b. Metode Pembuatan Fitosom

Fitosom dibuat dengan menggunakan metode hidrasi lapis tipis. Pada metode ini, larutan lipid dikeringkan dengan menggunakkan rotary evaporator sehingga terbentuk lapis tipis pada dasar labu bulat yang kemudian dihidrasi dengan penambahan larutan dapar dan diaduk dengan vortex sehingga dapat terdispersi secara merata. Senyawa yang akan dienkapsulasi ditambahkan ke larutan dapar atau kedalam pelarut organik yang mengandung lemak. Hal ini tergantung dari

(10)

10 tipe kelarutan zat aktif. Proses hidrasi dilakukan pada suhu transisi (Crommelin & Schreier, 1994).

c. Evaluasi Fitosom 1) Morfologi Fitosom

Evaluasi secara morfologi dilakukan dengan melihat bentuk dan ukuran fitosom dengan menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM). SEM merupakan suatu mikroskop elektron yang mampu untuk menghasilkan gambar beresolusi tinggi dari sebuah permukaan sampel.

Gambar yang dihasilkan oleh SEM memiliki karakteristik penampilan tiga dimensi, dan dapat digunakan untuk menentukan struktur permukaan dari sampel. Hasil gambar dari SEM hanya ditampilkan dalam warna hitam putih. SEM menerapkan prinsip difraksi elektron dimana pengukurannya sama seperti mikroskop optik. Prinsipnya adalah elektron yang ditembakkan akan dibelokkan oleh lensa elektromagnetik dalam SEM (Zhang JT, 2013).

2) Distribusi Ukuran Partikel Fitosom

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan kearah nanoteknologi para peneliti mulai menggunakan Laser Diffraction (LAS). Metode ini dinilai lebih akurat bila dibandingkan dengan metode analisa gambar maupun metode ayakan (sieve analyses), terutama untuk sampel- sampel dalam orde nanometer maupun submikron. Keunggulan penggunaan PSA untuk mengetahui ukuran partikel adalah (Zhang JT, 2013):

a) Lebih akurat, hal ini disebabkan partikel didispersikan ke dalam media sehingga ukuran partikel yang terukur adalah ukuran dari single partikel.

b) Hasil pengukuran berupa bentuk distribusi sehingga dapat menggambarkan keseluruhan kondisi sampel.

c) Rentang pengukuran dari 0,6 nanometer sampai 7 mikrometer. Beberapa analisa yang dapat dilakukan dengan PSA antara lain:

1. Menganalisa ukuran partikel

2. Menganalisa nilai zeta potensial dari suatu larutan sampel 3. Mengukur tegangan permukaan partikel

4. Mengetahui ukuran partikel tegangan permukaan dari densitas pada emulsi yang digunakan pada produk-produk industri minuman

3) Analisis Menggunakan FTIR

(11)

11 Untuk menganalisis terbentuknya ikatan pada fitosom dilakukan pengamatan spektrum infra merah dengan Fourier Transform Infared (FTIR). Pemeriksaan dilakukan pada serbuk fitosom hasil pengeringan suspense fitosom freeze dry. Keberhasilan terbentuknya fitosom dengan FTIR dilakukan untuk mengetahui adanya ikatan hydrogen antara gugus hidoksil (-OH) ekstrak dengan gugus fosfat (P=O) bagian dari fosfatidikolin yang ditandai dengan terjadi penghilangan atau penurunan intensitas peak –OH (Zhang JT, 2013)

6. Pengukuran Aktivitas Antioksidan dengan Metode Peredaman DPPH

Metode peredaman DPPH (2,2-Difenil-1-pikrilhidrazil) merupakan sebuah metode pengukuran aktivitas antioksidan yang sederhana dan murah untuk mengukur kapasitas antioksidan dari suatu sampel dengan menggunakan radikal bebas yaitu DPPH. DPPH secara luas digunakan untuk menguji kemampuan sampel yang bertindak sebagai free radical scavenger atau donor hidrogen dan untuk mengevaluasi aktivitas antioksidan dari suatu sampel.

DPPH merupakan radikal bebas atau zat pengoksidasi yang stabil dan mempunyai satu kelebihan elektron pada strukturnya (Alma MH et al, 2003).

Metode DPPH dapat digunakan untuk sampel padat atau cair dan tidak spesifik untuk setiap komponen antioksidan tertentu, tetapi berlaku untuk kapasitas antioksidan keseluruhan sampel (Prakash et al, 2001). Prinsip kerja metode DPPH adalah berdasarkan adanya senyawa antioksidan (AH) yang mendonorkan hidrogen (H) pada DPPH sehingga mengubah radikal bebas DPPH yang berwarna ungu menjadi berwarna kuning pucat. Serapan tersebut diukur dengan spektrofotometer UV Vis pada panjang gelombang optimum. DPPH yang tersisa diukur serapannya menurut jangka waktu tertentu. Aktivitas antioksidan dinyatakan sebagai harga konsentrasi efisien atau efficient concentration (EC50) yaitu konsentrasi dimana sampel uji dapat meredam DPPH sebanyak 50%. Reaksi dasar DPPH yang diwakilkan sebagai Z• dan AH sebagai donor hydrogen sedangkan ZH sebagai bentuk tereduksi dan A• sebagai radikal bebas (Molyneux, 2003).

7. Monografi bahan penyusun masker peel off a. Polyvinyl alcohol (Rowe et al. 2009)

1) Nama Lain : PVA, polyvinol 2) Rumus molekul : C2H4O

3) Pemerian : serbuk granular putih, tidak berbau

(12)

12 4) Kelarutan : larut dalam air, sedikit larut dalam etanol (95%), tidak larut

dalam pelarut organik

5) Fungsi : stabilizing agent, gelling agent 6) Konsentrasi : 5-10%

7) PH : 4,5 – 6,5

b. HPMC (hydroxypropyl methylcellulose) (Rowe et al. 2009) 1) Nama Lain : Cellulose hydroxypropyl methyl ether 2) Rumus molekul : CH3CH(OH)CH2

3) Pemerian : serbuk berwarna putih kekuningan, tidak berbau dan tidak berasa

4) Kelarutan : Larut dalam air dingin, praktis tidak larut dalam kloroform, etanol (95%), dan eter

5) Fungsi : gelling agent, film former, viscosity increasing agent 6) Konsentrasi : 0,45-1,0% sebagai peningkat viskositas

7) PH : 5,5 – 8,0 c. Gliserin (Rowe et al. 2009) 1) Rumus molekul : C3H8O3

2) Pemerian : cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, kental 3) Kelarutan : larrut dalam air, etanol (95%), metanol

4) Fungsi : humektan, emollient 5) Konsentrasi : <30% sebagai humektan d. Triethanolamin (Rowe et al. 2009)

1) Nama Lain : TEA, Trolaminum 2) Rumus molekul : C6H15NO3

3) Pemerian : cairan kental, bening, tidak berwarna sampai berwarna kekuningan, berbau sedikit amoniak

4) Kelarutan : larut dalam air, aseton, metanol 5) Fungsi : alkalizing agent

e. Kathon CG (kabara 1984)

1) Nama Lain : 5-chloro-2-methyl-3(2H)-isothiazololon dan 2- methyl-3(2H)- isothiazolon

(13)

13 2) Pemerian : Cairan jernih

3) Kelarutan : Larut dalam air, sedikit larut dalam alkohol dan glikol 4) Fungsi : Pengawet

5) Konsentrasi : 0,02-0,1%

f. Alkohol (Rowe et al. 2009) 1) Nama Lain : Ethanol 96%

2) Pemerian : Cairan jernih tidak berwarna,mudah menguap 3) Kelarutan : Larut dalam kloroform, eter gliserin dan air

4) Fungsi : antimicrobial preservative, desinfektan, skin penentrant, solvent

5) Konsentrasi : bervariasi

(14)

14 BAB IV

TUJUAN PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan merancang suatu formula masker peel off Fitosom ekstrak kelabet (Trigonella Foenum-graecum L.) sebagai agent anti penuaan dini yang memenuhi persyaratan secara farmasetika.

(15)

15 BAB V

METODOLOGI PENELITIAN A. Alat dan Bahan Penelitian

1. Alat penelitian

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah timbangan analitik (Nagata EK 15000), beaker glass, spatula, blender, rotary evaporator (Hahn Shin), penangas air (Memmert, Hong Kong), thermometer, mixer, pH meter, viskometer brookfield, density meter, scanning electron microscopy (Jeol Jem-1400).

2. Bahan penelitian a. Simplisia

Biji klabet (Trigonellae Foeni-Graeci Semen) diperoleh dari PT. Martina Berto,Tbk Cikarang, Jawa Barat

b. Bahan Kimia

Etanol 95% & 75%, soy lecithin, PVA JP-18Y (Japan UAM & Poval Co.,Ltd Japan), HPMC, gliserin, triethanolamin, kathon CG dan air suling.

B. CARA PENELITIAN

1. Pengamatan karakteristik simplisia biji klabet

Sampel biji klabet yang digunakan dalam percobaan ini dideterminasi di Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Cibinong.

2. Pembuatan ekstrak klabet

Simplisia kering biji klabet diserbukkan dengan cara digiling dengan blender kemudian diayak dengan ayakan mesh 20 untuk meratakan ukurannya. Ekstrak kental biji klabet dibuat dengan cara maserasi dengan menggunakan etanol 95%. Satu bagian serbuk kering biji klabet dicampurkan ke dalam 3 bagian etanol 95% (perbandingan 1:3). Dilakukan pengocokan selama 6 jam pertama dan kemudian didiamkan selama 18 jam. Kemudian maserat dipisahkan. Proses maserasi diulangi dengan jenis dan jumlah pelarut yang sama hingga maserat jernih. Semua maserat dikumpulkan dan diuapkan dengan penguap vakum hingga diperoleh ekstrak kental (chang, 1999).

(16)

16 3. Formulasi fitosom ekstrak klabet

Di bawah ini adalah fomulasi pembuatan fitosom dengan perbandingan ekstrak dan fosfolipid 1:1 (formula 1) dan 1:2 (formula 2):

Tabel 1. Fomula Fitosom

Fitosom dibuat dengan menggunakan metode hidrasi lapis tipis. Soy lecithin dan ekstrak klabet ditimbang seksama sesuai dengan bobot yang tertera dalam formula pada Tabel 1. Kemudian dilarutkan dalam 50 mL etanol 96%, dimasukkan ke dalam labu alas bulat 1 liter. Larutan dalam etanol tersebut dievaporasi menggunakan alat rotary evaporator dengan suhu 500C, kecepatan 30-150 rpm dan kondisi vakum untuk menguapkan etanol hingga terbentuk lapisan tipis selama kurang lebih 2 jam. Lapisan tipis yang terbentuk didalam labu evaporator dihidrasi 100 ml larutan dapar fosfat pH 7 sambil dikelupas dengan glass beeads dengan kecepatan rotary evaporator sebesar 70 rpm selama kurang lebih 1 jam tanpa penggunaan vakum hingga dipeoleh suspensi fitosom kuning kecoklatan. Suspensi kemudian disimpan didalam botol kaca lalu dialiri dengan gas nitrogen (yanyu et al.,2006).

5. Evaluasi fitosom ekstrak klabet a) Morfologi Fitosom

Evaluasi secara morfologi dilakukan dengan melihat bentuk dan ukuran fitosom dengan menggunakan scanning electron microscopy (SEM) dengan perbesaran 2000x dan 4000x.

Pengujian menggunakan SEM digunakan sampel kering. Mula-mula suspensi fitosom dikeringkan menggunakan metode freeze dry dan kemudian sampel dianalisis dengan SEM (Zhang JT, 2013).

b) Distribusi Ukuran Partikel

Pengukuran distribusi ukuran partikel dilakukan pada suspensi fitosom ekstak klabet menggunakan Particle Size Analyzer (PSA). Larutan air sulling dimasukkan ke dalam fluid tank sebagai baseline, kemudian sampel dimasukkan ke dalam fluid tank tetes demi tetes hingga konsentrasi mencukupi, setelah itu akan terukur ukuran partikel globul

Bahan Formula 1 Formula 2 Ekstrak klabet (mg) 250 250 Soy lecithin (mg) 250 500 Etanol 96% (ml) 50 50

(17)

17 fitosom (Zhang JT, 2013).

c) Analisis Menggunakan FTIR

Sejumlah ± 100 mg serbuk fitosom ditambahkan dengan KBr hingga 100 mg. Kemudian digerus lalu dimasukkan ke dalam wadah cakram. Pemeriksaan juga dilakukan pada ekstrak dan fosfatidikolin. Kemudian spektrum FTIR ekstrak, fosfatidilkolin dan fitosom dibandingkan (Zhang JT, 2013).

6. Formulasi masker peel-off

Penelitian dibuat dengan menggunakan 2 formula masker peel-off ekstrak klabet dengan komposisi berikut:

Tabel 2. Formula masker peel-off

No Bahan Fungsi Formula (%)

I II

1 PVA Gelling agent, Film former 10 10

2 HPMC Viscosity increasing agent 1 1

3 Gliserin Humektan 12 12

4 Triethanolamin (sampai

pH 4,4-6,5) Pengatur pH qs Qs

5 Kathon CG Pengawet 0,1 0,1

6 Fitosom ekstrak klabet F1 Anti-aging 4,0 - 7 Fitosom ekstrak klabet F2 Anti-aging - 4,0

8 Alkohol Skin penetrant 15 15

9 Air suling sampai (ml) Pelarut 100 100

a. Pembuatan sediaan masker peel-off fitosom ekstrak klabet:

1) Serbuk granul PVA dikembangkan dalam 40 ml air suling sambil dipanaskan sampai suhu 900C hingga mengembang sempurna (masa I).

2) Serbuk HPMC dikembangkan dalam 2 ml air suling hingga mengembang sempurna (masa II).

3) Masa I dan masa II dicampurkan sambil diaduk sampai homogen. Kemudian suhu diturunkan sampai sekitar 400C-450C (masa III).

(18)

18 4) Kemudian ditambahkan gliserin, trietanolamin dan kathon CG yang telah dilarutkan dalam

air suling kedalam masa III, lalu diaduk sampai homogen.

5) Fitosom ekstrak klabet yang sebelumnya dilarutkan dalam 4 ml air suling dimasukkan kedalam masa III, lalu aduk sampai homogen.

6) Kemudian alkohol dimasukkan ke dalam masa III, lalu diaduk sampai homogen.

7. Evaluasi masker peel-off

Evaluasi dari sediaan masker peel-off dilakukan untuk pengamatan organoleptis, pengukuran pH, viskositas.

a. Pengamatan organoleptik

Pengujian organoleptik dilakukan dengan mengamati perubahan-perubahan bentuk, warna dan bau dari sediaan masker peel-off.

b. Pengujian pH

Pengukuran pH sediaan dilakukan dengan menggunakan pH meter. Elektroda dikalibrasi dengan dapar standar pH 4 dan pH 7, kemudian elektroda dicelupkan ke dalam sediaan. Nilai pH yang muncul di layar dicatat. Sediaan masker peel-off harus sesuai dengan pH kulit yaitu 4,5- 6,5 (Tranggono & Latifah, 2007).

c. Pengujian Viskositas

Pengujian viskositas diukur dengan menggunakan alat viskometer Brookfield dengan cara sebagai berikut: Sebanyak 200 gr bulk dimasukkan ke dalam gelas beaker 250 ml dan spindle dimasukkan ke dalam gelas beaker hingga batas yang ditentukan, dan diputar dengan kecepatan tertentu (0.5; 1; 2; 2.5; 10; 20; 50; 100 rpm) hingga jarum viskometer menunjukkan satu skala angka yang konstan. Hasil dibaca lalu dicatat (Lachman, 1994).

d. Pengujian waktu sediaan mengering

Pengujian waktu kering dilakukan dengan cara mengoleskan masker gel ke punggung tangan dan diamati waktu yang diperlukan sediaan untuk mengering, yaitu waktu dari saat mulai dioleskannya masker gel hingga benar-benar terbentuk lapisan yang kering. Kemudian waktu tersebut dibandingkan dengan waktu kering masker produk inovator yang beredar di pasaran yaitu sekitar 10 – 20 menit. Pengujian dilakukan secara triplo dan dilakukan selama waktu penyimpanan (Septiani et al, 2012).

(19)

19 8. Uji Stabilitas masker peel-off

Uji stabilitas sediaan masker peel off terdiri dari metode cycling test, suhu kamar dan suhu tinggi.

a. Metode cycling test

Sediaan masker peel off disimpan pada suhu 4±20C selama 24 jam, lalu dipindahkan ke dalam oven yang bersuhu 40±20C selama 24 jam, waktu selama penyimpanan dua suhu tersebut dianggap satu siklus. Cycling test dilakukan sebanyak 6 (enam) siklus kemudian dilakukan pengamatan organoleptis berupa perubahan warna, bau dan apakah terjadi sineresis atau tidak (Anvisa 2005).

b. Penyimpanan pada suhu kamar 28-30 (±20C)

Sediaan masker peel off disimpan pada suhu kamar 28-30 (±20C) selama 6 minggu, kemudian dilakukan pengamatan organoleptis (perubahan warna dan bau), pengukuran pH dan pengukuran viskositas dilakukan setiap minggu serta dilakukan pemeriksaan adanya sineresis (Djajadisastra, 2004).

c. Penyimpanan pada suhu tinggi 40±20C

Sediaan masker peel off pada suhu tinggi 40±20C selama 6 minggu, kemudian dilakukan pengamatan organoleptis (perubahan warna dan bau), pengukuran pH dan pengukuran viskositas setiap minggu serta dilakukan pemeriksaan adanya sineresis (Djajadisastra, 2004).

9. Uji Aktivitas Antioksidan dari Sediaan Masker Peel Off Ekstrak Klabet a) Pembuatan Larutan Sampel

Sampel masker peel off ditimbang sejumlah 1 g kemudian diekstraksi dengan penambahan 10 mL pelarutnya. Disentrifus dengan kecepatan 10.000 rpm selama 15 menit. Cairan supernatan ditampung sedangkan endapan dilarutkan kembali dengan pelarutnya dan disentrifus kembali. Perlakuan diulang sampai 3 (tiga) kali. Masing- masing larutan uji dari 3 (tiga) macam sediaan masker peel off dipipet sejumlah 1 mL kemudian ditambahkan methanol sampai 4 mL. Selanjutnya masing-masing larutan uji ditambahkan 1 mL DPPH 0,3 mm. Larutan uji dan larutan kontrol diinkubasi pada suhu 370C selama 30 menit. Asam askorbat digunakan sebagai kontrol positif (Marinda, 2012).

b) Pembuatan Larutan DPPH

(20)

20 Larutan DPPH 0,3 mm dibuat dengan cara ditimbang sejumlah 2,957 mg serbuk DPPH (BM=394,32), dimasukkan ke dalam labu ukur 25 mL lalu dilarutkan dengan metanol sampai tanda batas (Marinda, 2012).

c) Penentuan Panjang Gelombang Maksimum

Sebelum pengujian aktivitas antioksidan dilakukan penentuan panjang gelombang maksimum dengan menggunakan 1 m autan DPPH 100 ppm ditambahkan 3 mL metanol pro analisis, dikocok selama 20 detik kemudian diinkubasi pada suhu 370C selama 30 menit. Serapan diukur dengan spektrofotometer UV-Vis yang telah diatur panjang gelombangnya dari 400-800 nm (Marinda, 2012).

d) Pengujian Aktivitas Antioksidan Ekstrak

Uji antioksidan ekstrak dilakukan menggunakan metode DPPH dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Serapan atau absorbansi larutan uji diukur pada panjang gelombang maksimum (Marinda, 2012).

(21)

21 BAB VI

JADWAL PENELITIAN

Kegiatan Waktu Keterangan

Pembuatan Proposal Agustus 2017 UHAMKA

Pembelian bahan Agustus 2017

Preformulasi September-Oktober 2017 UHAMKA

Pembuatan Masker Oktober-November 2017 UHAMKA DAN PT.MARTINA BERTO

Evaluasi Masker Desember 2017 UHAMKA, MARTINA BERTO

Pengambilan data dan analisa data

Januari 2018 UHAMKA, MARTINA BERTO

Laporan Akhir Januari 2018 UHAMKA

(22)

22 BAB VII

PERSONALIA PENELITIAN Penelitian ini dilakukan oleh :

a. Ketua Peneliti : Ari Widayanti, M. Farm., Apt

b. Jenis kelamin : Perempuan

c. NIDN : 0328017603

d. Disiplin ilmu : Farmasi/ Teknologi Farmasi e. Pangkat/Golongan :IIIB

f. Jabatan Fungsional : Lektor

g. Fakultas/Jurusan : Farmasi dan Sains/ Farmasi h. Waktu Penelitian : 10 jam/ minggu

i. Anggota Peneliti : Dra. Sri Nevi Gantini, M. Si

j. NIDN : 0306116401

k. Disiplin Ilmu : Statistika, Matematika Farmasi l. Pangkat/ Golongan : III C

m. Jabatan Fungsional : Lektor

n. Waktu Penelitian : 8 Jam / Minggu

(23)

23 BAB VII

PERKIRAAN BIAYA PENELITIAN

NO URAIAN JUMLAH Satuan (RP) HARGA ( RP)

1 Ekstrak klabet (gr) 10 600,000.00 6,000,000.00 2 Soy lecithin (gr) 10 300,000.00 3,000,000.00 3 Etanol 96% (L) 6 50,000.00 300,000.00 4 PVA (kg) 2 250,000.00 500,000.00 5 HPMC (kg) 2 315,000.00 630,000.00 6 Gliserin (L) 2 60,000.00 120,000.00 7 Triethanolamin (kg) 1 100,000.00 100,000.00 8 Kathon CG (kg) 2 350,000.00 700,000.00 9 Aqua dest (L) 10 28,000.00 280,000.00 10 Karakterisasi Ekstrak Kelabet 1 1,000,000.00 1,000,000.00 11 Pereaksi kimia 12 50,000.00 600,000.00

1 SEM 12 150,000.00 1,800,000.00

2 PSA ( Partikel Size Analizer) 12 100,000.00 1,200,000.00

3 FTIR 12 100,000.00 1,200,000.00

4 Uji Antioksidan 12 100,000.00 1,200,000.00 1 Penggandaan proposal dan laporan 700,000.00 700,000.00 2 Penelusuran pustaka 500,000.00 500,000.00

3 Lain lain 170,000.00

20,000,000.00

1. Bahan yang habis pakai

TOTAL PENGELUARAN 3. Dokumentasi

2.Sewa Alat

(24)

24 DAFTAR PUSTAKA

Akhtar, Yazan Y. 2008. Formulation and in-vivo evaluation of a cosmetic multiple emulsion containing vitamin C and wheat protein. Dalam: Pak. Journal Pharm. Sci. Vo.21, Turkey. Hlm. 46.

Alma M.H, Mavi A., Yildriam A., Digrak M and Hirata. 2013. Screening chemical composition and in vitro antioxidant and antimicrobial activities of the essential oil from Origanum syriacum L. Dalam: Biol Pharm. Bull J., 26 (12), Turkey. Hlm. 1725-1729.

Anvisa. 2005. Cosmetic Products Stability Guide First Edition. National Health Survaillance Agency Press, Brasil. Hlm. 18-19.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2006. Monografi Ekstrak Tumbuhan Obat Indonesia Volume II. Badan Pengawas Obat dan Makanan, Jakarta. Hlm. 80-85.

Basuki KS. 2003. Tampil Cantik dengan Perawatan Sendiri. Gramedia Pustaka Utrama, Jakarta.

Hal. 28-32.

Bukhari, S.B, Bhanger, M.I, Memon S. 2008. Antioxidative Activity of Extracts from Fenugreek Seeds (Trigonella foenum-graecum). Dalam: Pak. J. Anal. Environ. Chem. University of Sindh, Pakistan. Hlm. 81

Crommelin D.J & Schreier, H. 1994. Liposomes, in Colloidal Drug Delivery System. Marcel Dekker Inc, New York. Hlm. 73-190.

Djajadisastra J. 2004 Cosmetic stability. Dalam: Seminar Setengah Hari HIKI, Jakarta.

Kabara, Jon J. 1984. Cosmetic and Drug Preservation Principles and Practice. Marcel Dekker, Inc, New York. Hlm. 129-131

Kareparamban JA, Nikam H Pravin, Jadhav P Aruna and Kadam JV. 2011. Phytosome: A Novel Revolution In Herbal Drugs. Dalam: International Journal of Research In Pharmacy and Chemistry. India. Hlm. 299-310.

(25)

25 Martin, A., Swarbick, J., & Cammaata, A. 1983. Farmasi Fisik Jilid II edisi ketiga terj. Dari

Physical Pharmacy oleh Joshita. UI Press, Jakarta. Hlm. 1170-1183.

Marinda WS, 2012. Fomulasi dan Uji Stabilitas Fisik Gel Liposom yang Mengandung Fraksinasi Ekstrak Metanol Kulit Manggis (Garcinia mangostana L.) sebagai Antioksidan.

Skripsi. FMIPA UI, Depok. Hlm 32-33.

Molyneux, P. 2003. The use of stable free radical diphenilpicyl-hydrazyl (DPPH) for estimating antioxidant activity. Songklanarin J. Sci Tech, United Kigdom. Hlm. 212-218.

Parvez S, Kang M, Chung HS, Cho C, Hong MC, Shin MK, Bae H. 2006. Survey and Mechanism of skin of Depigmenting and Lightening Agent. Dalam: Phytoter Res Journal, 20 (11), Hlm. 921.

Prakash A, F. Rigelhof & E. Miller. 2001. Antioxidant activity. Dalam: Medallion Laboratories Analytical Progress., 19 (2). Hlm. 1-6.

Rahayu Oktavia, Sulistiyani P, Zulkarnaen, Alfiantya PF and Sari E Narulita. 2014. Preparasi, Karakterisasi dan Uji Efektivitas Lotion Fitosom Ekstrak Pegagan (Centella asiatica) pada Mencit (Mus musculus) Balb/c Model Dermatitis Kontak Iritan. Dalam: BIMFI Volume 2 no 2. Hlm. 71-81.

Rieger MM. 2000. Harry’s Cosmeticology 8th Edition. Chemical Publishing Co Inc.New York.

Hlm. 471-483.

Rowe RC, Paul JS, Quinn ME. 2009. Handbook Of Pharmaceutical Excipients, sixth edition.

Pharmaceutical Press. London. Hlm. 17, 283, 326, 564, 754

Septiani S, Wathoni N, Mita SR. 2012. Formulasi Sediaan Masker Gel Antioksidan dari Ekstrak Etanol Biji Melinjo (Gnetum gnemon Linn.). Dalam: Jurnal Universitas Padjadjaran.

Bandung. Hlm. 6-7.

Soedibyo, B.R.A. Mooryati. 1998. Alam Sumber Kesehatan Manfaat Dan Kegunaan. Balai Pustaka. Jakarta.

Tranggono RI, Latifah F. 2007. Buku Pegangan IlmuPengetahuan Kosmetik. PT Gramedia Pusaka Utama. Jakarta. Hlm. 11-32.

Tripathy Surenda, Patel DK, Baro L, Nair SK. 2013. A Review On Phytosomes, Their Characterization, Advancement & Potensial for Transdermal Application. Dalam:

Journal of Dug Delivery & Tharapeutics: 2013, 3 (3), India. Hlm. 147-152.

Winarno FG. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Hlm. 106- 109

(26)

26

(27)

27

(28)

28

(29)

29

(30)

30

Gambar

Tabel 1. Fomula Fitosom
Tabel 2. Formula masker peel-off

Referensi

Dokumen terkait

Bendikson KA, Neri OV , Takeuchi T, Tosch M, Schlegel PN, Rosenwacks Z, Palermo GD 2008, The outcome of intracytoplasmic sperm injection using occasional spermatozoa in the ejaculate

TCA20株が,カルシウムイオン(Ca2+)やマグネ シウムイオン(Mg2+)といった2価の陽イオンを利用 してべん毛を回転させる世界初のべん毛モーターをもつ ことが明らかとなった1.TCA20株が分離された温泉 水は,湧き出る温泉中のカルシウムイオン量が牛乳並に 多い(約1,740 mg/L)弱アルカリ性塩化物泉として知 られている.