• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pedoman Nasional Keselamatan Pasien di Rumah Sakit

N/A
N/A
Kelas B@Cahaya Alriani Safitri Hutabarat

Academic year: 2024

Membagikan "Pedoman Nasional Keselamatan Pasien di Rumah Sakit"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PEDOMAN NASIONAL KESELAMATAN PASIEN DI RUMAH SAKIT

Rina Mardiani / 181101005

[email protected]

ABSTRAK

Latar Belakang : Rumah sakit dalam menjalankan tugas dan fungsinya memerlukan adanya jaminan keamanan pada klien agar terhindar dari cidera atau kecelakaan yang terjadi di rumah sakit. Sehingga pemerintahan membuat suatu kebijakan kepada seluruh rumah sakit yaitu dengan suatu program keselamatan pasien. Sehingga diperlukan adanya pedoman nasional keselamatan pasien di rumah sakit.

Tujuan: Tujuan dari penulisan kajian ini yaitu untuk menjelaskan serta memberitahukan kepada mahasiswa keperawatan bagaimana pedoman nasional keselamatan pasien di rumah sakit.

Metode: Pada kajian ini digunakan metode kualitatif, yang dimana metode ini lebih berisi uraian bersifat konseptual atau teoritik.

Hasil: keselamatan pasien (patient safety) adalah suatu program yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan rasa aman dan nyaman untuk klien dalam konteks perawatan. Keselamatan pasien tersebut dapat meminimalkan timbulnya resiko dan mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan yang tidak tepat. Sehingga muncul pedoman nasional tentang keselamatan pasien yang terdiri dari standar keselamatan pasien dan sasaran keselamatan pasien.

Kesimpulan : Berdasarkan hasil kajian dapat disimpulkan bahwa adanya program keselamatan pasien pada pedoman nasional yaitu UU dan peraturan menteri kesehatan untuk menjaga keselamatan pasien sangat bermanfaat untuk meningkatkan rasa aman nyaman pasien dirumah sakit serta untuk mencegah terjadinya kecelakaan di rumah sakit.

Kata Kunci : Pedoman Keselamatan Pasien, Standar Keselamatan Pasien, Sasaran Keselamatan Pasien.

(2)

PENDAHULUAN

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomer 58 tahun 2014, Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit, menyatakan bahwa “Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, pelayanan rawat jalan, dan gawat darurat”.

Sehingga rumah sakit memiliki fungsi- fungsi tertentu.

Rumah sakit memiliki fungsi- fungsi tertentu. Menurut undang-undang Nomor 44 tentang Rumah sakit (2009) “fungsi rumah sakit adalah Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit, Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis, Penyelengaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan serta Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan , pengaplikasian teknologi dalam bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan

dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan”.

Dalam menjalankan tugas dan fungsi dari rumah sakit, diperlukan petugas yang akan menjamin adanya jaminan untuk pasien bertahan yaitu keamanan pasien. Salah satu petugas pelayanan kesehatan dirumah sakit adalah perawat. Perawat merupakan unsur vital dalam sebuah Rumah Sakit karena perawat merupakan penjalin kontak pertama dan terlama dengan pasien khususnya pasien rawat inap, dengan tugas utama perawat adalah memberikan asuhan keperawatan dari pengkajian, penegakan diagnosa, keperawatan, intervensi, implementasi sampai dengan evaluasi (Potter & Perry, 2009).

Menurut Ali (2009), Proses keperawatan mempunyai 5 komponen yaitu : pengkajian, diagnosa, perencanaan, implenentasi, dan evalusi. Proses keperawatan adalah suatu metode yang sistematis dan terorganisasi dalam pemberian asuhan keperawatan, yang difokuskan pada reaksi dan respons unik individu pada suatu kelompok atau perorangan terhadap gangguan kesehatan yang dialami, baik actual maupun potensial (Deswani, 2009). Menurut Manurung (2011) Proses keperawatan memiliki tujuan adalah untuk mempraktikkan metode pemecahan

(3)

masalah dalam praktik keperawatan, untuk menggunakan standar untuk praktik keperawatan, untuk memperoleh metoda yang baku dan sesuai, rasional dan sistematis dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien, serta untuk memperoleh metode yang dapat digunakan dalam segala situasi. Pada saat melakukan proses keperawatan ada celah yang memungkinkan terjadinya kecelakaan kerja atau cidera pada klien, sehingga diperlukan adanya keselamatan pasien.

Namun masih ada perawat yang tidak menerapkan dan menjaga keselamatan pasien sehingga angka terjadinya kecelakaan pasien semakin meningkat. Menurut Mubarak, W.I. (2008), kecelakaan terkait peralatan (equipment-related accident) kecelakaan ini biasanya disebabkan oleh tidak berfungsinya atau rusaknya alat- alat elektrolit misalnya tersengat arus listrik saat menggunakan peralatan elektrolit, baterai tidak berkerja. Sehingga pemerintah membuat kebijakan untuk setiap Rumah sakit yaitu suatu Program keselamatan pasien.

Program Keselamatan pasien sudah menjadi tuntutan masyarakat maka pelaksanaan program keselamatan pasien rumah sakit perlu dilakukan. Karena itu diperlukan

pedoman nasional untuk melaksanakan keselamatan pasien di Rumah sakit.

Pedoman nasional keselamatan pasien di rumah sakit berisi Standar Keselamatan pasien rumhan sakit dan Tujuh langkah menuju keselamatan pasien rumah sakit.

Selain pedoman nasional keselamatan pasien, pimpian rumah sakit juga memiliki peran pentung untuk meningkatkan angka keselamatan pasien seperti yang terdapat dalam Yusuf (2017), Pemimpin meginterprestasikan, mengasumsikan dan memberikan penilaian terhadap persoalan dan akan memberikan solusi baik menyangkut pengetahuan sikap maupun tindakan yang harus dijalankan agar keselamatan pasien tetap terjaga.

TUJUAN

Tujuan dari penulisan kajian ini yaitu untuk menjelaskan serta memberitahukan kepada mahasiswa keperawatan bagaimana pedoman nasional keselamtan pasien di rumah sakit. Serta agar mahasiswa keperawatan atau mahasiswa lainnya dapat mengaplikasikan pedoman nasional keselamatan pasien agar angka kecelakaan di rumah sakit menurun serta dapat memberikan asuhan keperawatan yang maksimal kepada klien.

METODE

(4)

Pada kajian ini digunakan metode kualitatif, yang dimana metode ini lebih berisi uaraian bersifat konseptual atau teoritik. Proses dan maknanya yang lebih ditonjolkan sehingga metode ini bersifat subjektif dimana proses penelitian ini lebih memperlihatkan dan cenderung lebih focus pada landasan teori.

HASIL

Hasil yang dapat disimpulkan dari kajian ini bahwa keselamatan pasien (patient safety) adalah suatu program yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan rasa aman dan nyaman untuk klien dalam konteks perawatan. Keselamatan pasien tersebut dapat meminimalkan timbulnya resiko dan mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan yang tidak tepat. Sehingga muncul pedoman nasional tentang keselamatan pasien yang terdiri dari standar keselamatan pasien dan sasaran keselamatan pasien.

Standar keselamatan pasien dan sasaran keselamtan pasien telah tercantum pada peraturan menteri kesehatan republik indonesia nomor 11 tahun 2017 tentang keselamatan pasien.

Standar keselamatan pasien terdiri dari tujuh standar yaitu : Hak Pasien, Mendidik pasien dan keluarga, Keselamatan pasien dalam

kesinambungan pelayanan, Penggunaaan metode-metode peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien, Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien Pimpinan mendorong dan menjamin implementasi program, Mendidik staf tentang keselamatan pasien Komunikais sebagai kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien.

Sasaran Keselamatan pasien terdiri dari enam sasaran yaitu: Mengidentifikasi pasien dengan benar; Meningkatkan komunikasi yang efektif.; Meningkatkan keamanan obat- obatan yang harus diwaspadai ; Memastikan lokasi pembedahan yang benar, prosedur yang benar, pembedahan pada pasien yang benar ; Mengurangi resiko infeksi akibat perawatan kesehatan,; Mengurangi resiko cedera pasien akibat jatuh.

PEMBAHASAN

Keselamatan pasien adalah suatu system yang membuat asuhan pasien lebih aman, meliputi asasmen risiko, identifikasi dan pengelolaan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari indiden dan tindak lanjutnya, serta

(5)

implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya resiko dan mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (Menteri Kesehatan RI, 2017).

Menurut Departemen kesehatan Republik Indonesia (2008), Ke s e l a m a t a n p a s i e n (P a t i e n t S a f e t y)rumah sakit a d a l a h s u a t u s i s t e m dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman. Sistem tersebut meliputi : assessmen risiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko. Sistem tersebut diharapkan dapat mencegah cedera yang terjadi disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan. Sesuai dengan peraturan Menteri kesehatan republik Indonesia (2017), system pelayanan harus menjamin pelaksanaan:

asuhan keperawatan pasien lebih aman, melakui upaya yang meliputi asesmen risiko, identifikasi risiko, dana pengelolaan risiko pasien; pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden, dan tindak lanjutnya ; dan implementasi solusi untuk

meminimalkan timbulnya risiko dan mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.

Dalam penyelengaraan program keselamatan pasien dirumah sakit, Menteri kesehatan Indonesia telah dirancang malalui pembentukan system pelayanan yang menerapkan :

Standar Keselamatan Pasien

Menurut peraturan menteri kesehatan republik Indonesia (2017), standar keselamatan pasien terdiri dari tujuh standar yaitu :

I. Hak pasien standar :

Menurut peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (2017) “Pasien dan keluarganya memiliki hak untuk mendapatkan informasi tentang rencana dan hasil pelayanan termasuk kemungkinan terjadinya insiden”.

II. Mendidik pasien dan keluarga Standar :

Fasilitas pelayanan kesehatan harus mendidik pasien dan keluarganya tentang

(6)

kewajiban dan tanggung jawab pasien dalam asuhan keperawatan (Peraturan Menteri Kesehatan RI, 2017).

III. Keselamatan pasien dalam kesinambungan pelayanan

Standar :

Fasilitas pelayan kesehatan menjamin keselamatan pasien dalam kesinambungan pelayanan dan menjamin koordinasi antar tenaga dan antar unit pelayanan (Peraturan Menteri Kesehatan RI, 2017).

IV. Penggunaaan metode-metode peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien.

Standar :

Menurut peraturan Menteri kesehatan Republik Indonesia (2017), Fasilitas pelayanan kesehatan harus mendesain proses baru atau memperbaiki proses yang telah ada, memonitor dan mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data, menganalisis secara intensif insiden, dan melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja serta keselamatan pasien (Peraturan Menteri Kesehatan RI, 2017).

V. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan

pasienPimpinan mendorong dan menjamin implementasi program.

Standar :

1. Pimpinan mendorong dan menjamin implementasi program keselamatan pasien secara terintegrasi dalam organisasi melalui penerapan “ Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien”

(Peraturan Menteri Kesehatan RI, 2017).

2. Pimpinan menjamin berlangsungnya program proaktif untuk identifikasi risiko keselamatan pasien dan program menekan atau mengurangi insiden (Peraturan Menteri Kesehatan RI, 2017).

3. Menurut peraturan Menteri kesehatn republik Indonesia (2017) “Pimpinan mendorong dan menumbuhkan komunikasi dan koordinasi antar unit dan individu berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang keselamatan pasien”.

4. Pimpinan mengalokasikan sumber daya yang adekuat untuk mengukur, mengkaji, dan meningkatkan kinerja fasilitas pelayanan kesehatan serta meningkatkan keselamatan pasien (Peraturan Menteri Kesehatan RI, 2017).

5. Pimpinan mengukur dan mengkaji efektifitas kontribusinya dalam meningkatkan kinerja fasilitas pelayanan

(7)

kesehatan dan keselamatan pasien (Peraturan Menteri Kesehatan RI, 2017).

VI. Mendidik staf tentang keselamatan pasien

Standar :

1. Fasilitas pelayanan kesehatan terutama rumah sakit memiliki proses pendidikan, pelatihan dan orientasi untuk setiap jabatan mencakup keterkaitan jabatan dengan keselamtan pasien secara jelas.

2. Fasilitas pelayanan kesehatan

terutama rumah sakit

menyelenggarakan dan memelihara kompetensi staf serta mendukung pendekatan interdisipliner dalam pelayanan pasien (Permenkes RI 2017).

VII. Komunikasi sebagai kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien Standar :

1. Fasilitas pelayanan kesehatan merencanakan dan mendesain proses manajemen informasi keselamatan pasien untuk memenuhi kebutuhan informasi internal dan eksternal.

2. Transmisi data dan informasi harus tepat waktu dan akurat.

Sasaran Keselamatan Pasien

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI (2017), Di Indonesia secara nasional untuk seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, diberlakukan Sasaran Keselamatan Pasien Nasional yang terdiri dari :

1. Mengidentifikasi Pasien Dengan Benar.

Dalam menjalankan atau memberikan pelayanan kepada pasien, sering kali terjadi kesalahan karena petugas yang keliru terhadap pasien, mulai dari indentifikasi identitas pada saat mendiagnosis dan pengobatan. Sesuai dengan yang terdapat di Permenkes RI ( 2017), tujuan ganda dari sasaran ini adalah : pertama, untuk dengan cara yang dapat dipercaya / reliable mengidentifikasi pasien sebagai individu yang dimaksudkan untuk mendapatkan pelayanan atau pengobatan; dan kedua, untuk mencocokkan pelayanan atau pengobatan terhadap individu tersebut.

2. Meningkatkan Komunikasi Yang Efektif.

Menurut Permenkes RI (2017), maksud dan tujuan sasaran ini yaitu Komuniksi efektif, yang tepat waktu, akurat,

(8)

lengkap, jelas, dan yang dipahami oleh pasien/ penerima, akan mengurangi kesalahan, dan menghasilkan peningkatan keselamatan pasien.

3. Meningkatkan Keamanan Obat- obatan yang harus diwaspadai.

Menurut Permenkes RI (2017), Fasilitas pelayanan kesehatan mengembangkan pendekatan untuk memperbaiki keamanan obat-obatan yang harus diwaspadai. Sehingga setiap unit pelayanan kesehatan yaitu Rumah sakit harus menerapkan manajemen yang benar dalam menjalankan asuhan keperawatan khususnya pada saat pengobatan.

4. Memastikan Lokasi Pembedahan Yang Benar, Prosedur yang benar, pembedahan pada pasien yang benar.

Fasilitas pelayanan kesehatan mengembangkan suatu pendekatan untuk memastikan tepat lokasi, tepat prosedur, dan tepat pasien operasi (Permenkes RI, 2017).

5. Mengurangi resiko infeksi akibat perawatan kesehatan.

Menurut Permenkes RI (2017), Fasilitas pelayanan kesehatan mengembangkan

suatu pendekatan untuk mengurangi resiko infeksi yang terkait pelayanan kesehatan.

6. Mengurangi risiko cedera pasien akibat terjatuh.

Kegiatan yang dilakukan pada saat sasaran ini menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI (2017), yaitu fasilitas pelayanan kesehatan menerapkan proses asesmen awal risiko pasien jatuh dan melakukan asesmen ulang terhadap pasien bila diindikasikan terjadi perubahan kondisi atau pengobatan.

Tujuan dari sasaran keselamatan pasien adalah untuk menggiatkan perbaikan – perbaikan tertentu dalam soal keselamatan pasien

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil kajian dapat disimpulkan bahwa adanya program keselamatan pasien pada pedoman nasioanl yaitu UU dan peraturan menteri kesehatan untuk menjaga keselamatan pasien sangat bermanfaat untuk meningkatkan rasa aman nyaman pasien dirumah sakit. Dalam penyelengaraan program keselamatan pasien dirumah sakit tersebut , Menteri kesehatan Indonesia telah membentuk system pelayanan yang

(9)

menerapkan 7 standar keselamatan pasien dan 6 sasaran keselamatan pasien.

Standar dan sasaran keselamatan pasien dapat memberikan kejelasan secara akurat pada petugas agar terus menjaga dan merawat keselamatan pasien.

SARAN

Bagi mahasiswa keperawatan diharapkan dapat terus mengingat bahwa penting untuk memberikan asuhan keperawatan disertai dengan menjaga keselamtan pasien agar asuhan keperawatan terpenuhi Serta agar mahasiswa keperawatan atau mahasiswa lainnya dapat mengaplikasikan pedoman nasional keselamatan pasien agar angka kecelakaan di rumah sakit menurun serta dapat memberikan asuhan keperawatan yang maksimal kepada klien.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Z. (2009). Dasar-Dasar Dokumentasi Keperawatan. Jakarta : EGC.

Depkes RI, (2008). National Patient Safety Agency (NPSA). Jakarta : Depkes RI Depkes RI. (2006). Panduan Nasional

Keselamatan Pasien Rumah Sakit.

Jakarta: Depkes RI.

Depkes RI. (2008). Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit.(Edisi 2). Jakarta. Bhakti Husada

Deswani. (2009). Proses Keperawatan dan Berpikir Kritis. Jakarta : Salemba Medika Kemenkes RI. (2015). Pedoman Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit ( Patient Safety). Edisi 3. Jakarta : Kemenkes RI

Kemenkes RI. (2017). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2017 Tentang Keselamatan Pasien. Jakarta : Kemenkes RI.

Kemenkes RI. (2013) . Panduan Keselamatan Pasien. Jakarta : Kemenkes RI.

Kemenkes RI. (2014). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit.

Jakarta : Kemenkes RI

Mubarak, I, W, & Cahyatin N. (2008). Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia Teori &

Aplikasi dalam praktik. Jakarta: EGC Ns. Suryani Manurung, S.M. (2011). Buku

Ajar Keperawatan Maternitas Asuhan Keperawatan Intranatal. Jakarta: Trans Info Media

(10)

Nursalam. (2011). Manajemen Keperawatan Aplikasi Dalam Praktik Keperawatan Profesional Edisi 3.

Jakarta: Salemba Medika

Potter & Perry. (2009). Fundamental Keperawatan. Edisi 7. Jakarta : Salemba Medika

Republik Indonesia. 2009. Undang-Undang RI Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. Jakarta

Simamora, R.H. (2018). Buku Ajar Keselamatan Pasien Timbang Terima Pasien Berbasis Komunikasi Efektif : SBAR.

Yusuf, M. (2017). Penerapan Patient Safety di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Zainoal Abidin.

Jurnal Ilmu Keperawatan, 5(1).

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan manajemen keselamatan pasien dalam usaha pencegahan kejadian pasien jatuh di Rumah Sakit Islam Klaten yang

Rumah sakit wajib melaksanakan standar keselamatan pasien, komite medik rumah sakit dalam upaya melindungi keselamatan pasien melalui proses kredensial dan

Insiden keselamatan pasien adalah setiap kejadian yang tidak disengaja dan kondisi yang mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera yang dapat dicegah pada

mendokumentasikan supervisi yang sesuai dengan kebijakan rumah sakit, sasaran program, serta mutu dan keselamatan asuhan pasien. D Bukti adanya buku log terisi

Promosi Kesehatan di Rumah Sakit adalah upaya Rumah Sakit untuk meningkatkan kemampuan pasien, klien, dan kelompok-kelompok masyarakat, agar pasien dapat

Program Penerapan Standar Akreditasi Keselamatan Pasien Akreditasi Pelayanan KPRS menggunakan Instrumen Akreditasi Rumah Sakit untuk menilai rumah sakit dalam memenuhi

Mengacu kepada standar keselamatan pasien pada Lampiran I, maka rumah sakit harus merancang proses baru atau memperbaiki proses yang ada, memonitor dan mengevaluasi

Hal ini sesuai pada uraian tujuh langkah menuju keselamatan pasien rumah sakit pada PMK nomor 1691 tahun 2011, yaitu rumah sakit harus menggunakan informasi yang diperoleh