• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN "

Copied!
59
0
0

Teks penuh

Segala puji bagi Allah yang mengajarkan dengan qalam, yang mengajarkan manusia apa yang belum mereka ketahui. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa kesimpulan skripsi ini dan kesimpulan penelitian penulis secara umum tidak lepas dari dialektika dan gesekan antara penulis dengan berbagai pihak. Tuan dan Nyonya. Dosen Program Pascasarjana Studi Alquran dan Hadist UIN Sunan Kalijaga; Penulis hanya dapat mengucapkan terima kasih sedikit atas perspektif baru yang telah ditawarkan kepada penulis selama periode penelitian ini.

Kepada saudara-saudaraku yang selalu memberiku motivasi untuk mengarungi lautan ilmu dan memberiku segalanya, dan kini aku belum mampu membalas semua yang telah kau berikan padaku selama ini. Untuk seseorang yang kini selalu ada di hatiku: terima kasih atas semua yang telah kamu lakukan agar kita bisa bersama. Dan semua pihak yang telah membantu dan mendukung penulisan skripsi ini, khususnya teman-teman yang tergabung dalam Grup LAMASTA yang tidak mungkin dapat penulis sebutkan satu persatu.

Akhir kata, dengan segala keterbatasan yang ada pada diri penulis, penulis yakin masih banyak kekurangan dalam penulisan tugas ini, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca untuk mencapai kesempurnaan.

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN

Konsonan Tunggal

Dalam kajian ini, penulis secara khusus telah bertajuk "Periodization of Metan Hadith Criticism (Analisis Perkembangan Metodologi Kritikan Metan dari Zaman Permulaan Hingga Zaman Pasca Atba> al-Tabi'i>n"). Secara ringkas, pembahasan di dalamnya meliputi metodologi dan aplikasi kritik meta yang dilihat dari zaman awal, para sahabat, tabi’in, atba’et-tabi’in, hingga abad ke-7 H. Selanjutnya mengenai kajian metakritik. sebenarnya ada yang dibuat awal-awal lagi iaitu dari zaman Nabi dan para sahabat, tetapi pada zaman kemudiannya, kajian meta-kritikan sedikit terlepas pandang, ini kerana terdapat beberapa faktor yang menyebabkan beberapa daripada mereka dalam tempoh selepas itu. para sahabat, ulama hadis menitikberatkan kajian sanad, dan akhirnya mereka beranggapan apabila sanad hadis tersebut dianggap sahih, maka hadis tersebut juga dianggap sahih, walaupun pada pandangan matanya terdapat kepincangan.

Hal ini menurut penulis, dengan posisi kritis Sayidah Aisyah dengan mencocokkan redaksi hadits dengan ayat Al-Qur'an, dengan hal tersebut ia merasa telah menguji redaksi matan dengan ayat-ayat Al-Qur'an. Fakta ini membawa pada kesimpulan penulis bahwa kajian pada masa awal baik kritik sanad maupun kritik matan dilakukan secara bersamaan. Acuan periodisasi ini akan penulis jadikan sebagai bahan penelitian mengenai periodisasi kritik Matan.Menurut penulis, perkembangan kajian kritik Matan diyakini akan berjalan sama dengan kajian periode perkembangan kritik Matan. Sunnah. Namun yang menjadi penekanan dalam penelitian ini adalah selain melihat periode perkembangan kritik yang matang dalam penelitian ini, penulis juga akan memaparkan metodologi dan penerapan metode yang terdapat pada setiap periode.

Sedikit dari penjelasan yang telah penulis uraikan di atas sudah dapat menentukan fokus kajian yang akan dikaji pada beberapa alinea selanjutnya, yaitu mengenai kritik terhadap Matan Hadits dilihat dari periode yang berbeda dari periode awal, periode Sahabat. waktu. Tabi'in, Atba' Tabiin hingga abad ketujuh Hijriah. Pembahasannya terbatas pada abad ketujuh Hijriah karena menurut pandangan penulis, kajian kritik Matan serius dilakukan oleh para ulama hadis, atau karena kajian Matan Hadis dipelajari secara intensif pada abad ketujuh Hijriyah, seiring dengan munculnya kebangkitan Islam. Ibnu. Karya Qayyim dalam kajian Hadits Matan berjudul Al-Mana>r Al-Muni>f Fi S{ahi}>h} Wa D{ai>f, sedangkan pada masa sebelumnya kajian hadis matan masih tersebar di berbagai tempat. kitab-kitab hadis dan belum diteliti dalam penelitian tersendiri. Bagaimana metodologi kritik hadis Matan dari masa awal hingga pasca Atba al-Tabi'i'n?

Bagaimana penerapan metodologi kritik hadis Matan dari masa awal hingga masa setelah Atba>et-Tabi'in. Anda dapat mengetahui dari beberapa metodologi keabsahan Matan yang dikemukakan oleh masing-masing periode dalam kajian kritik Matan berdasarkan periodisasi perkembangan kajian kritik Matan. Dari penelitian penulis mengenai periodisasi perkembangan kritik Matan terdapat beberapa penelitian serupa, namun penelitian sebelumnya terasa parsial dalam artian penelitian ini masih mengkaji penelitian terhadap tokoh-tokoh yang turut serta dalam kajian kritik Matan. atau berkaitan dengan metodologi yang telah diberikan oleh tokoh-tokoh tersebut dan dirasa kajiannya belum sistematis berdasarkan urutan masanya, secara umum dalam kajian kritik yang matang terdapat beberapa karya yang sangat populer yang pernah dihasilkan. .

Dari ketiga karya tersebut secara tidak langsung penulis menjelaskan perbedaan metodologi kajian kritik kritis hadis dengan standar yang berbeda-beda, misalnya pada penelitian yang dilakukan oleh al-Idlibi ia melihat bahwa standar dalam menentukan hadis dapat diterima dari segi kedewasaan mereka, maka jika hadis tersebut dilindungi dengan empat kriteria antara lain hadis tersebut tidak bertentangan dengan ayat Al-Qur'an, tidak bertentangan dengan hadits shahih dan sirah nabawiyah dan juga tidak bertentangan dengan akal, indra dan sejarah serta hadits tersebut tidak bertentangan. tidak menunjukkan gaya bahasa yang lemah. Sedangkan untuk sumber data sekunder, penulis mengambil dari karya-karya yang mengkaji kritik matanik, seperti buku yang mempelajari kritik Matan. Dalam hal ini penelitiannya berkaitan dengan periodisasi kritik Matan, dimana penulis akan menyertakan tokoh-tokoh yang turut serta dalam kajian kritik Matan pada setiap periodenya serta latar belakang kehidupan dan pemikiran sejarah dari tokoh atau karya yang dihasilkan pada periode tersebut. periode. .

Tambahan pula, dalam meletakkan periodisasi perkembangan kritikan matan, penulis menggunakan gabungan beberapa teori yang ada, contohnya teori yang dibawa oleh Saifuddin, dalam bukunya Arus Tradisi Tadwin Hadis dan Pensejarahan Islam, dalam buku tersebut membincangkan perkembangan ilmu pengetahuan. hadith dengan pendekatan sejarah dengan membahagikan perkembangan hadith kepada enam zaman iaitu. Keenam, kajian kritis lanjutan tentang matan mula muncul dengan terbitnya kitab al-Maudu>'at oleh Imam al-Jauzi, dalam kitab tersebut Imam al-Jauzi menulis hadis matan-matan yang dianggap maudu>' . Ketujuh, Pada periode berikutnya, tepatnya pada tahun 749 H, lahirlah kitab yang khusus membahas kajian kritik matan, yaitu kitab Al-Mana>r Al-Muni>f fi S}ahi>h wa D. {ai>f Ibn Qayyim al-Jauziyyah .

اة

ال

لنا

انا

أو

وا'(

ةأ ا

ھ . اا

ناه و0

1ھذ

ةأ 4ا

ال ر

ﷲو

1را

نا3 و

ناو: ا

Hadits tersebut menjelaskan bahwa Nabi telah melakukan sesuatu yang dilihat/diikuti oleh para sahabatnya, namun para sahabat sepakat untuk menyembunyikannya dan tidak menyiarkannya. Kesimpulan tentang penerapan yang dihasilkan dari metodologi masing-masing periode Pertama, pada periode awal, kritik hadis hanya sekedar konfirmasi, klarifikasi, dan upaya memperoleh bukti saksi. Selain cerita tersebut, ada juga cerita yang menjelaskan kebohongan sahabat al-Walid kepada Nabi tentang tugas yang diberikan kepadanya.

Mengenai hadis yang meriwayatkan ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Jarir daripada Harith bin Abi Dhirar. Kedua, pada zaman sahabat, pengajian kritikan matan bertujuan menguji al-Quran, inilah yang berlaku kepada Khalifah Umar bin Khatab dalam kes Fatimah bin Qais. Selain menguji al-Quran, para sahabat menguji kesahihan hadis dengan ilmu sejarah dan dalil akal, seperti hadis yang menjelaskan kewajipan mandi selepas memandikan jenazah bagi orang yang memandikannya dan kewajipan berwuduk. bagi orang yang membawa mayat.

Ketiga, pada zaman tabi'in mereka lebih menitikberatkan kajian sanad dan akibatnya banyak hadis yang didapati cacat pada mata mereka dan juga banyak hadis palsu yang beredar dalam masyarakat ketika itu. Berkaitan dengan hadis-hadis palsu yang beredar dalam tempoh ini, penulis boleh memberikan contoh hadis-hadis yang mengandungi cerita palsu seperti Lalu jawab utusan Allah dari air yang tidak mengalir dari bumi dan bukan dari langit, Allah menciptakan kuda dan menyuruhnya berlari, lalu kuda itu berpeluh, dan dari keringat itu Allah menciptakan dirinya.

Keempat, pada zaman atba' tabi'in sebagaimana metodologi yang dicipta pada zaman ini sebenarnya tidak jauh berbeza dengan zaman sebelumnya, tetapi yang perlu diperhatikan pada zaman ini ialah pengajian sya>dz} yang diperhatikan, dan banyak yang terdapat dalam riwayat-riwayat sanad itu sahih, tetapi ada sya>dz} di matanya. Kedua-dua hadis tersebut bertentangan dengan hadis-hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Abu Dawud, daripada Ibn bin Uthman bin Affan, daripada bapanya, katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Seseorang yang dalam ihram tidak boleh berkahwin, berkahwin atau meminang. Jadi, riwayat pertama itu salah, kerana dua riwayat terakhir itu sesuai dengan larangan Nabi Muhammad, yaitu larangan bagi seseorang yang sedang ihram untuk menikah, mengawini atau menikah, dan bagaimana mungkin untuk mendapatkannya. berkahwin semasa dia dalam ihram, sebab lain menyatakan bahawa Maimunah sendiri menceritakan bahawa Nabi berkahwin sendiri dalam keadaan baginda tidak berihram, di mana Maimunah menjadi saksi utama peristiwa tersebut dan lebih mengetahui masalah tersebut daripada orang lain.

Mengenai hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, beliau mengulas: Ibn Abbas mengalami kekeliruan ketika menceritakan bahawa Nabi menikahi Maimunah ketika beliau sedang berihram. Kelima, pada zaman kemudiannya, kritikan matan mula muncul dengan kemunculan kitab Ibn Jauzi, di mana Ibn Jauzi menghimpunkan matan hadith yang dianggap palsu dengan mengadaptasi tema-tema yang dibawa oleh matan.

Padahal, ketika Allah SWT sedang murka, Dia menurunkan wahyu dalam bahasa Arab, dan ketika Dia ridha, Dia mengirimkan wahyu dalam bahasa Persia. Melihat wajah yang baik (cantik) dapat membuat mata bersinar, dan melihat wajah jelek dapat membuat murung.

Lalu Rasulullah menjawab, “Ya, aku diberi bubur harisah lalu aku memakannya sehingga aku mendapat kekuatan jimak sama dengan empat puluh orang lelaki, kerana itu Muadz tidak mekan melainkan dia memulakannya dengan memakan bubur harisah.

Data Diri

Riwayat Pendidikan

Referensi

Dokumen terkait

Pengantar Ilmu Pertanian Peny 22-0 41 Dian Hafizah, SP.. MSi Penjab Azwar Rasyidin,