• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelajaran dari Aktivitas Modul 1.3

N/A
N/A
Abdul Munir

Academic year: 2024

Membagikan " Pelajaran dari Aktivitas Modul 1.3"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Apa pelajaran yang diperoleh selama melakukan aktifitas di modul 1.3?

a. Kekuatan visi (Kekuatan Doa)

Jika kita ingin melangkah jauh maka kita harus bersifat menyemangati , menguatkan , menggerakan hati dan kolaborasi sehingga mampu membuat kita melangkah maju

b. Inkuiri Apresiatif adalah suatu filosofi dan landasan berpikir tentang perubahan yang berfokus pada upaya kolaboratif (kooperatif , ko-evolusi) untuk menemukan hal terbaik( positif) c. BAGJA yakni sebuah tahapan pendekatan Inkuiri

Dalam konteks perubahan di sekolah, BAGJA dapat diartikan sebagai semangat mengapresiasi- dan proses bertahap dalam menyelidiki- segala kekuatan, aset, dan hal positif di sekolah yang memungkinkan terjadinya upaya gotong-royong demi mewujudkan prakarsa perubahan yang diperlukan untuk mencapai visi yang berpusat pada peningkatan kualitas pembelajaran murid.

Question #2

2

Response is required

Apa yang akan dilakukan untuk perbaikan dalam melaksanakan kegiatan fasilitasi CGP?

Sebagai seorang PP saya akan berusaha dengan sebaik baiknya untuk menggali potensi yang dimiliki oleh CGP dan membantu CGP untuk mewujudkan potensinya dalam sebuah aksi nyata sehingga bias bermanfaat bagi lingkungan sekitar terutama pesera didik maupun teman sejawat/seprofesi

Klik tombol Submit questionnaire untuk mengirimkan jawaban!

(2)

Budaya positif merupakan perwujudan dari nilai-nilai atau keyakinan universal yang diterapkan di sekolah. Budaya positif berawal dari perubahan paradigma tentang teori kontrol. Harapannya tentu guru mestinya berada pada posisi manager.

Selama ini, sebagian guru masih memposisikan diri sebagai penghukum dan

pembuat rasa bersalah. Murid yang melakukan kesalahan tentu memiliki alasan atau motif sebagaimana tertera dalam lima kebutuhan dasar manusia yaitu:

1) Kebutuhan bertahan hidup (Survival) yaitu kebutuhan berkaitan dengan fisik seperti makan, tidur, tempat tinggal dll. 2) Kebutuhan Cinta dan kasih sayang (Penerimaan). 3) Kebutuhan Penguasaan (pengakuan akan kemampuan),4) Kebutuhan Kebebasan (Kebutuhan akan pilihan), dan 5) Kebutuhan akan Kesenangan.

Menurut Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline ada tiga alasan motivasi manusia dalam melakukan sesuatu, yaitu: 1)Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman,2) Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain, 3) Untuk menjadi orang yang mereka inginkan sesuai dengan nilai- nilai yang diyakini. Berdasarkan ketiga alasan tersebut, tindakan pendisiplinan dengan melakukan hukuman atau memberi imbalan bisa disebut motivasi eksternal dan hal tersebut bersifat temporal dan tidak akan bertahan lama. Hukuman dan imbalan mungkin dapat menciptakan kepatuhan, tapi itu hanya sementara dan kedisiplinan yang diterapkan menguatkan karakter siswa.

Pendisiplinan yang dilakukan guru mestinya dilakukan karena alasan yang ke-3 yaitu Untuk menjadi orang yang mereka inginkan sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini, maka dari iti perlu dibuat keyakinan kelas agar terbentuk disiplin positif yang nantinya akan menjadi kebiasaan dan akhirnya membudaya

menjadi budaya positif. Keinginan untuk melaksanakan keyakinan universal yang muncul dapat terwujud dengan Restitusi. Menurut Diane Gossen, Restitusi adalah proses menciptakan kondisibagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka dapat kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat. Restistusi merupakan upaya mendisiplinkan siswa dengan cara siswa sendiri untuk menyelesaikan masalahnya dan membuat mereka bertindak sesuai dengan keinginan ideal berdasarkan pada keyakinan kelas.

Melalui pemahaman Modul 1.4 tentang budaya positif saya mendapatan pelajaran bahwa apa yang kita lakukan selama ini dengan pendisiplinan di sekolah belumlah tepat. Disiplin berarti kepatuhan. Penegakan disiplin adalah melalui peraturan atau tata tertib yang harus dipatuhi. Jadi apa makna hukuman di sekolah? Tidak ada hukuman di lembaga pendidikan.

Yang ada adalah disiplin positif. Ini perlu perubahan paradigma tentang disiplin di sekolah, hukuman pelanggaran, tata tertib yang mengikat peserta didik. Kunci pokok dari disiplin positif adalah kontrol pribadi. Lembaga pendidikan untuk menegakkan disiplin harus dibangun melalui pembelajaran kontrol diri. Pengaruh atau tindakan apapun yang kita lakukan ke orang lain tidak akan dapat mengubah orang lain jika kita tidak mampu untuk membangun kesadaran diri dalam diri orang tersebut.

berpengaruh pada orang lain apabila kontrol diri orang lain dibuka. Situasi ini tentu diperlukan bahasa pengaruh yang tepat, mnyentuh hati orang untuk membuka diri dalam

(3)

perubahan. Semangat positif itu kan bermakna jika sesuai dengan kebutuhannnya, perkembangannya dan situasinya.

Proses pemulihan akan terjadi bila ada keinginan dari murid yang berbuat salah untuk melakukan sesuatu yang menunjukkan rasa penyesalannya. Fokusnya tidak hanya pada mengurangi kerugian pada korban, tapi juga bagaimana menjadi orang yang lebih baik dan melakukan hal baik pada orang lain dengan kebaikan yang ada dalam diri kita.

Pada modul ini CGP melakukan praktik segitiga restitusi di Sekolah masing-masing. Ini merupakan pengalaman yang luar biasa, karena dari sinilah sebagai seorang guru saya

Pelajaran yang saya peroleh selama melakukan aktifitas di modul 1.4 adalah bagaimana menerapkan budaya positif di kelas/sekolah. memulai dengan mengganti hukuman dengan konsekuensi dan membuat kesepakata kelas yang dibuat, disepakati, dan dijalankan oleh warga kelas itu sendiri. dengan mengganti kalimat larangan yang bernada negatif menjadi kalimat positif

yang mengafirmasi pribadi Budaya positif di sekolah ialah

di sekolah yang berpihak pada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab. Peran guru sebagai kontrol manajer sangat penting karena pendidik sebagai pamong yaitu “menuntun” atau memberikan ‘tuntunan’

agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. Anak diberi kebebasan, namun perlu diberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah.

Pelajaran yang diperoleh selama melakukan aktifitas di modul 1.4 adalah disiplin positif sangat penting untuk membangun kesadaran pada murid agar berkomitmen pada

kesepakatan bersama terkait kesepahaman.

memahami konsep pendidikan menurut Kihajar Dewantara dihubungkan dengan konsep budaya positif yang berpihak pada anak. konsep budaya positif yang berdasarkan pada konsep perubahan, makna disiplin, keyakinan kelas, hukuman dan penghargaan.

Menerapkan budaya positif sekolah dan menerapkannya sesuai dengan kebutuhan sosial dan murid

budaya positif merupakan keyakinan yang dapat dilaksanakan di dalam kelas bersama murid sehingga tercipta kebiasaan baik. budaya positif sangat berperan penting bagi pembentukan karakter murid. dalam mewujudkan budaya positif perlu adanya disiplin positif, dalam disiplin positif seorang guru mengajarkan disiplin pada murid yang berawal dari kesadaran diri mereka bukan karena dorongan dari pihak lain ataupun hanya sebuah rasa takut pada tata tertib sehingga murid hanya tertanam kepatuhan untuk bukan terdorong dari dirinya sendiri.

Bahwa kesepakatan kelas ataupun keyakinan kelas lebih berarti dibandingkan dengan hukuman, aturan kelas ataupun tata tertib. Karena kesepakatan dan keyakinan kelas akan

(4)

membentuk budaya positif pada masing-masing peserta didik. MOtivasi yang berasal dari diri sendiri akan menjadi budaya yang konsisten

Pelajaran yang diperoleh selama aktivitas di modul 1.4 Budaya Positif

Bahwasanya pendidikan berpihak pada murid, murid dibiasakan dengan lingkungan positif, pembiasan yang positif yang menguatkan dengan kalimat-kalimat positif dengan kesadaran sendiri, motivasi dari dalam diri sendiri untuk menjadi murid yang disiplin dan taat aturan karena adanya keyakinan kelas, tidak ada hukuman, tidak ada penghargaan, adanya konsekuensi dan restitusi. Siswa patuh disiplin karena adanya kesadaran diri yang tumbuh dari dalam ( motivasi instrinsik)

Perubahan paradigma Teori Kontrol( ilusi kontrol), kegiatan pendalaman keyakinan kelas dengan tabel T dan Y , kita menghormati orang lain, menghargai keselamatan orang lain dangan selalu melakukan budaya positif

1. Memahami konsep pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara dihubungkan dengan konsep budaya dan lingkungan positif di sekolah yang berpihak pada murid.

Pancasila sebagai dasar pembentukan karakter siswa dengan membiasakan peserta didik untuk melakukan pembiasaan baik atau positif dalam setiap aspek kegiatan mengandung 2. Mendapatkan pengetahuan tentang cara melakukan evaluasi dan refleksi tentang praktik disiplin dalam pendidikan Indonesia secara umum untuk mendapatkan pemahaman baru mengenai konsep disiplin positif untuk menciptakan murid dengan profil pelajar Pancasila.

Teori motivasi, hukuman dan penghargaan serta restitusi yang merupakan pemahaman yang baru dan ternyata ada hal-hal yang perlu dipertimbangkan kembali terkait beberapa hal 3. Memahami peran sebagai guru untuk membangun budaya positif dengan menerapkan konsep disiplin positif dalam berinteraksi dengan murid.. Pembelajaran dan budaya positif yang selalu berfihak kepada siswa dalam rangka menggembangkan potensi yang mereka miliki

Memahami konsep pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara dihubungkan

Melakukan evaluasi dan refleksi tentang praktik disiplin dalam pendidikan Indonesia secara umum untuk mendapatkan pemahaman baru mengenai

Memahami peran sebagai guru untuk membangun budaya positif dengan

(5)

Budaya positif.

Dimana pentingnya membangun budaya positif disekokah seperti halnya filosofi KHD pendidikan yang berpihak kepada murid

Budaya positif terbentuk dengan kesadaran diri bukan karena untuk menghindari hukuman atau mendapat penghargaan

Pelajaran yang diperoleh selama melakukan aktifitas di modul 1.4 adalah saya memahami tentang budaya positif

Memahami peran sebagai guru untuk membangun budaya positif dengan menerapkan konsep disiplin positif dalam berinteraksi dengan murid sesuai konsep pendidikan menurut

Dewantara serta Melakukan evaluasi dan refleksi tentang praktik disiplin dalam pendidikan Indonesia secara umum untuk mendapatkan pemahaman baru mengenai disiplin positif untuk

Disiplin positif harus muncul dari kesadaran diri sendiri (faktor intrinsik), bukan karena faktor luar (faktor ekstrinsik)

hukuman tidak membuat anak jadi disiplin tetapi anak menjadi trauma atau sebalikya Penghargaan yang diberikan sebelum anak melakukan aktivitas (iming-iming) identik dengan suap sehingga memunculkan hal negatif (akan melakukan kalau ada imbalan) Disiplin positif hendaknya diupayakan menjadi budaya bagi murid-murid kita. Disiplin positif dapat dimulai dari motivasi intrisik murid dalam melakukan sesuatu. Motivasi intrisik akan lebih kuat mendorong murid berperilaku positif bahkan memberikan dampak positif bagi seisi kelas. Konsep hukuman yang selama ini masih menjadi salah satu cara yang digunakan guru untuk mendorong murid melakukan hal positif, namun saat ini cara tersebut hendaknya digeser menjadi penghargaan dan pendekatan restitusi.

Pemikiran tentang penghargaan hendaknya memiliki kesamaan pemahaman dalam mengartikannya. Peraturan di kelas hendaknya beralih menjadi keyakinan kelas. Apabila

(6)

seluruh anggota kelas merumuskan keyakinan kelas tersebut maka diharapkan rasa memiliki bahkan konsisten terhadap konsekuensi akan dilaksanakan dengan sukarela.

Guru hendaknya dapat memposisikan dirinya sebagai manajer dalam penerapan aturan kelas. Murid tidak akan merasa terhakimi, beda rasanya bila guru berada pada posisi penghukum.

Pelajaran yang saya peroleh selama melakukan aktifitas di modul 1.4 ( Budaya Positif ) adalah sebuah disiplin terbentuk dari kesadaran diri

berdasarkan value ( nilai yang diyakini benar ), bukan karena menghindari hukuman atau untuk memdapatkan imbalan ( motivasi internal ).Untuk membangun sebuah budaya positif dimulai dari pemahaman/ kesepakatan kelas, kemudian membangun keyakinan positif dan lingkungan yang positif.

hukuman dan penghargaan tidak menumbuhkan kesadaran dalam diri anak didik/murid, namun dengan budaya positif lebih efektif dalam membangun kesadaran anak didik untuk bertanggung jawab pada diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Dengan budaya positif anak akan lebih tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter dan memiliki nilai nilai luhur Pancasila pelajaran yang diperoleh selama melakukan aktifitas di modul 1.4?

salah satu cara menanamkan disiplin positifpada murid sebagai bagian dari budaya positif di sekolah.dengan cara budaya positif yang bisa di lakukan sejak usia dini dari hal kecil dalam kehidupan sehari hari

Konsep pendidikan KHD yang dihubungkan dengan Konsep budaya dan lingkungan positif yang berpihak pada siswa

Disiplin tentang kesadaran diri untuk berbuat sesuai nilai universal, membuat kesepakatan kelas yang baik dengan kriteria:

1. Nilai universal yang akan diraih 2. kalimat positif

3. Mudah diingat

Menanamkan disiplin tidak harus dengan aturan -aturan. Disiplin bukan soal kepatuhan, akan tetapi kesadaran dari diri sendiri.Disiplin berupa kesadaran diri sendiri untuk

melakukan bahwa yang dilakkan benar tanpa pamrih apapun seperti pemberian hadiah atau pujian. Guru tidak bisa mengontrol murid, tetapi membuat murid membuka kontrolnya dengan memberi penguatan seperti pijian yang sewajarnya apabila murid berhasil melakukan suatu hal yang tidak bisa dilakukan teman-temannya.

1. Menjelaskan konsep budaya positif yang berdasarkan pada konsep perubahan paradigma stimulus respons

(7)

2. Menjelaskan konsep makna disiplin, keyakinan kelas, hukuman dan penghargaan, 5 kebutuhan dasar manusia, Restitusi dengan 5 posisi kontrol guru serta segitiga restitusi dan

menerapkannya dalam

3. Menyusun strategi-strategi aksi nyata yang efektif dengan mewujudkan kolaborasi beserta seluruh pemangku kepentingan sekolah agar tercipta budaya positif yang 4. Menganalisis secara reflektif dan kritis penerapan budaya positif di sekolah dan

5. mengamati bagaimana sistem rancangan di sekolah masing-masing dapat menciptakan lingkungan positif serta mendukung murid menjadi pribadi yang bahagia, mandiri, dan bertanggung jawab, sesuai filosofi Ki Hadjar Dewantara.

6. makna ‘kontrol’ dari paparan Teori Kontrol Dr. William Glasser serta miskonsepsi

7.

8. makna Disiplin Positif, dan mengamati penerapannya di lingkungannya, serta kaitan

9. pentingnya memilih dan menentukan nilai-nilai kebajikan yang akan diyakini dan disepakati seluruh warga sekolah, sehingga kelak tercipta sebuah budaya positif.

10. menjelaskan konsep teori motivasi, hukuman dan penghargaan, dan pendekatan 11. melakukan pengamatan dan peninjauan atas praktik penerapan konsep-konsep tersebut

12. menganalisis pentingnya memiliki keyakinan sekolah/kelas sebagai fondasi dan arah tujuan sebuah sekolah/kelas, yang akan menjadi landasan dalam memecahkan konflik atau

(8)

13. menjelaskan proses pembentukan dari peraturan-peraturan beralih ke keyakinan kelas.

14. menjelaskan kebutuhan dasar yang menjadi motif dari tindakan manusia baik murid 15. menganalisis dampak tidak terpenuhinya kebutuhan dasar terhadap pelanggaran 16. mengidentifikasi peran dan sekolah guru dalam upayanya menciptakan lingkungan

17. melakukan refleksi atas praktik disiplin yang dijalankan selama ini dan dampaknya 18. memahami dan menerapkan disiplin restitusi di posisi Manajer, minimal pemantau agar dapat menghasilkan murid yang bertanggung jawab, mandiri dan merdeka.

19. menjelaskan restitusi sebagai salah satu cara menanamkan disiplin positif pada murid 20. menerapkan restitusi dalam membimbing murid berdisiplin positif agar menjadi murid 21. menganalisis dengan sikap reflektif dan kritis penerapan disiplin positif di

22. menganalisis kasus-kasus yang tersedia dalam LMS berdasarkan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif.

konsep dalam disiplin positif dapat menjadi standar tindak lanjut kasus pelanggaran disiplin di sekolahnya. Mereka akan mempresentasikan hasil analisisnya secara sinkronus, dan

23.

24. mendemonstrasikan pemahamannya secara lebih mendalam mengenai konsep-konsep

25. membuat keterkaitan konsep budaya positif dengan materi pada sebelumnya yaitu modul 1.1, 1.2 dan 1.3 sehingga dapat mulai menyusun langkah dan strategi yang lebih efektif, konkret, dan realistis untuk mewujudkan budaya positif di sekolah.

(9)

menyampaikan kepada para pemangku kepentingan di sekolahnya mengenai perubahan paradigma dan penerapan strategi disiplin positif di sekolah masing-masing agar dapat

1. Makna Disiplin: Dalam rangka menciptakan lingkungan positif, salah satu strategi yang perlu kita tinjau kembali adalah penerapan disiplin di sekolah kita 2. Untuk menciptakan lingkungan sekolah yang positif, perlu adanya budaya positif.

Budaya positif dapat dilakukan dengan adanya penerapan disiplin positif.

3. Ketika mendengar kata ‘disiplin’ yang terbayang Kebanyakan orang akan menghubungkan kata disiplin dengan tata tertib, teratur, dan kepatuhan pada peraturan.

Kata ‘disiplin’ juga sering dihubungkan dengan hukuman, padahal itu sungguh berbeda, karena belajar tentang disiplin positif tidak harus dengan memberi hukuman, justru itu adalah salah satu alternatif terakhir dan bila perlu tidak digunakan sama sekali. Dalam budaya kita, makna kata ‘disiplin’ dimaknai menjadi sesuatu yang dilakukan seseorang pada orang lain untuk mendapatkan kepatuhan. Kita cenderung menghubungkan kata

4.

“dimana ada kemerdekaan, disitulah harus ada disiplin yang kuat. Sungguhpun disiplin itu bersifat ‘self discipline’ yaitu kita sendiri yang mewajibkan kita dengan sekeras-kerasnya, tetapi itu sama saja; sebab jikalau kita tidak cakap melakukan self discipline, wajiblah penguasa lain mendisiplin diri kita. Dan peraturan demikian itulah harus ada di dalam

Yang memiliki kendali adalah diri kita sendiri, sepanjang usaha atau pengaruh lingkungan yang berasal dari diri kit aitu tak kan bisa merubah keputusan. (teori control).

Penguatan tidak bemakna atau berlebihan maka tidak akan berpengaruh.

Penguatan disesuaikan jika berlebihan maka standar kepuasan siswa terbatas.

mengeksplorasi suatu posisi dalam penerapan disiplin, yang dinamakan ‘Manajer’ serta bagaimana seorang ‘Manajer’ menjalankan pendekatan disiplin yang dinamakan Restitusi.

menganalisis pentingnya memiliki keyakinan sekolah/kelas sebagai fondasi dan arah tujuan sebuah sekolah/kelas, yang akan menjadi landasan dalam memecahkan konflik atau menjelaskan proses pembentukan dari peraturan-peraturan beralih kekeyakinan kelas.

(10)

berpikir kritis, kreatif, reflektif, dan terbuka dalam menggali nilai- nilai yang dituju pada Jika belum bisa melaksanakan restitusi, Mengurangi hukuman, beralih ke konsekuensi,

Berkolaborasi bersama rekan CPP, fasilitator dan Instruktur mengenai budaya positif.

Mengembangkan konsep mengenai keyakinan kelas, perbedaan antara hukuman dengan konsekensi, dan melaksanakan segitiga restitusi

Total responses to question

2

Apa yang akan dilakukan untuk perbaikan dalam melaksanakan kegiatan fasilitasi CGP?

Respondent

1. Saya akan mencoba memposisikan diri sebagai manajer saat melakukan pendampingan CGP 2. Saya akan mencoba menerapkan disiplin positif saat mendampingi CGP

3. Saya akan mencoba menerapkan restitusi saat mendampingi CGP

4. Saya akan menggunakan alur MERDEKA dalam melaksanakan pendampingan dengan CGP

Ini perlu perubahan cara pandang bagi CGP. Kita bangun pandangan baru bagi CGP dalam menghadapi peserta didik di sekolah. Apa makna disiplin positif dan apa yang dilakukan menjadi tolok ukur bagi penerapan disiplin positif di sekolah. Calon guru penggerak tentu harus difasilitasi dengan pemahaman tentang Perubahan Paradigma Teori Kontrol yang menyadarkan mereka bahwa kontrol diri adalah kendali terbangunnya disiplin positif. Ada banyak konsep-konsep yang salah tentang hukuman, peraturan, tatatertib, pelanggaran dan sebagainya. Membangun disiplin tidak hanya menuntut kepatuhan tetapi kepatuhan yang muncul dari dalam diri pribadi orang itu sendiri. Disiplin positif juga tidak terlepas dari bagaimana motivasi priadi itu terbangun maka teori tentang Motivasi Perilaku Manusia itu perlu dipahami oleh para CGP. Segitiga Restitusi juga diperlukan pemahaman oleh CGP agar mampu melakukan perubahan di sekolah. Peraturan dan tata tertib sekolah harus dibangun berdasarkan keyakinan dan kesepakatan kelas. Poin inilah yang perlu difasilitasi oleh PP dalam pelatihannya.

Saya akan berusaha menggali potensi yang dimiliki oleh CGP dan membantunya untuk mewujudkannya dalam sebuah aksi nyat

yang akan saya lakukan sebagai PP untuk memfasilitasi CGP adalah membantu CGP untuk tetap semangat dalam menerapkan budaya positif di

kelas/sekolah/lingkugannya. karena sesuatu yang baik terkadang tidak mudah untuk dilakukan. seperti contohnya dalam menerapkan reward and punishment.

Menggali potensi dan pemahaman awal dari CGP mengenai budaya positif di sekolah masing - masing dengan cara berdialog atau berdiskusi

Saya akan berusaha menggali potensi yang dimiliki oleh CGP yang diamanahkan kepada saya dan membantunya untuk mewujudkannya dalam sebuah aksi nyata.

mengaktifkan pengetahuan yang telah dipelajari tentangkonsep kihajar dewantara dihubungkan dengan konsep lingkungan dan budaya sekolah, bagaimana sistem rancangan sekolah masing masing dapat menciptakan lingkungan positif serta mendukung murid murid menjadi pribadi yang mandiri ,bahagia, dan bertanggung jawab sesuai dengan filosofis ki hajar dewantara, melakukan pengamatan dan refleksi bagaimana menciptakan budaya sekolah yang positif , harapan , makna dan tujuan

(11)

Respondent

pengajar praktik dapat berbagi praktik baik dengan CGP. Dan juga pengajar praktik melakukan pendampingan individu kepada CGP secara tatap muka.

melakukan pendampingan diantaranya adalah diskusi tantangan belajar daring, refleksi penerapan perubahan kelas sesuai pemikiran Ki Hajar Dewantara, diskusi peta posisi diri dan rencana pengembangan diri dalam dalam kompetensi guru penggerak. Selain secara tatap muka, pp juga memantau kegiatan CGP secara daring seperti ruang kolaborasi, refleksi, dan yang lainnya.

Pendampingan individu CGP untuk mengajak eserta didik dalam penyusunan keyakinan kelas atau kesepakatan kelas

Dengan diskusi di ruang kolaborasi berbagi pendapat akan mendapatkan solusi dan perbaikan dalam pembentukan karakter, selalu berkomunikasi dan kolaborasi untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan, memaksimalkan kerja sama , memaksimalkan tahapan belajar dengan alur merdeka ,

1. Mengaktifkan pengetahuan awal apa yang telah dipelajari sebelumnya tentang konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara dihubungkan dengan konsep lingkungan 2. Mengamati kembali bagaimana sistem rancangan di sekolah apakah sistem yang dibangun sudah mampu menciptakan lingkungan positif serta mendukung murid menjadi pribadi yang bahagia, mandiri, dan bertanggung jawab, sesuai dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara.

a. Upaya yang akan saya lakukan untuk perbaikan dalam melaksanakan kegiatan fasilitasi CGP adalah mengajak dan mendorong CGP untuk memahami dampak b. Mendorong CGP untuk berkolaborasi untuk memikirkan perubahan ke arah yang lebih baik dari sebelumnya dengan orang-orang di organisasi dan lingkungan c. Mengajak CGP untuk menemukan nilai-nilai kebajikan yang diyakini dan disepakati seluruh warga sekolah, sehingga kelak tercipta budaya positif d. Mengajak CGP untuk menganalisis teori motivasi dan motivasi intrinsic yang dituju, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya.

e. Mengajak CGP meninjau atas praktik penerapan konsep-konsep tersebut di lingkungannya

Saya akan terus menggali potensi CGP dengan bertanya kepada CGP yang nantinya saya akan memfasilitasi atau membantu guru penggarak dalam mewujudkn nya Menyamakan pemahaman tentang budaya positif di sekolah, yang merupakan sebuah kesadaran diri untuk menjadi yang lebih baik, tanpa adanya rasa takut bila diberi hukuman Yang akan dilakukan untuk perbaikan dalam melaksanakan kegiatan fasilitasi CGP adalah saya akan mendalami konsep tentang budaya positif sehingga dapat mengimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran

1. Menjelaskan kepada CGP konsep budaya positif dan makna disiplin, keyakinan kelas, hukuman dan penghargaan, 5 kebutuhan dasar manusia, Restitusi dengan 5 posisi kontrol guru serta segitiga restitusi dan menerapkannya dalam

2. Mendampingi CGP Menyusun strategi-strategi aksi nyata yang efektif dengan mewujudkan kolaborasi beserta seluruh pemangku kepentingan sekolah agar tercipta budaya 3. Diskusi dengan CGP dalam Menganalisis secara reflektif dan kritis penerapan budaya positif di sekolah dan mengembangkannya sesuai kebutuhan sosial dan murid.

(12)

Respondent

Menuntun CGP bekerja atas dasar penyadaran diri dan dapat menjadi tauladan bagi para siswanya. Membudayakan disiplin positif yang dilandasi atas kesadaran diri sendiri.

Membantu CGP dalam penemuan diri dan memfasilitasi hingga dapat berada di posisi manager di kelasnya. Salah satu budaya yang dilakukan adalah murid boleh melakukan kesalahan karena itu adalah hal yang wajar. Dari kesalahan tersebut murid dapat merasakan seperti apa bila melakukan sesuatu yg salah, sebaiknya menunjukkan perilaku seperti apa, kemudian memiliki motivasi untuk memperbaikinya. Ada proses belajar di dalamnya.

yang akan saya lakukan untuk perbaikan dalam melaksanakan kegiatan fasilitasi CGP adalah :

1. Membangun budaya positif yang berdasarkan pada konsep perubahan paradigma stimulus respons ke teori kontrol serta nilai-nilai kebajikan universal 2. Menerapkan makna disiplin, keyakinan kelas, hukuman dan penghargaan, 5 kebutuhan dasar manusia, Restitusi dengan 5 posisi kontrol guru

restitusi dan menerapkannya dalam ekosistem sekolah yang

3. Menyusun strategi-strategi aksi nyata yang efektif dengan mewujudkan kolaborasi beserta seluruh pemangku kepentingan sekolah agar tercipta budaya

4. Menganalisis secara reflektif dan kritis penerapan budaya positif di sekolah danmengembangkannya sesuai kebutuhan sosial dan murid.

Mengubah mindset dan membiasakan diri dengan menerapkan budaya positif agar muncul kesadaran diri, mulai menghilangkan hukuman maupun penghargaan dan diganti dengan penguatan, motivasi dan dukungan penuh.

Mengajak CGP berdiskusi dalam ruang kolaborasi menganalisis kasus-kasus yang tersedia dalam LMS berdasarkan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif.

CGP akan

mendiskusikan strategi-strategi agar konsep-konsep dalam disiplin positif dapat

menjadi standar tindak lanjut kasus pelanggaran disiplin di sekolahnya dengan tidak ada hukuman jadi murid melakukan sesuatu karena kesadaran diri tidak karena hukuman atau hadiah

Mendampingi CGP dalam melakukan refleksi tentang praktik disiplin untuk memperoleh pemahaman baru tentang konsep disiplin positif untuk menciptakan siswa dengan Profil Pelajar Pancasila.

melihat kesepakatan kelas yang telah dibuat oleh CGP

mendampingi CGP dan melihat keaktifannya pada saat mengikuti ruang kolaborasi memotivasi CGP untuk menyelesaikan tugasnya

Menyemangati,menguatkan,menggerakkan hati dan kolaborasi sehingga mampu membuat kita terus melangkah maju Sebagai seorang PP saya akan berusaha dengan sebaik baiknya untuk menggali potensi yang dimiliki oleh CGP dan membantu CGP untuk mewujudkan potensinya dalam sebuah aksi nyata sehingga bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitar terutama pesera didik maupun teman sejawat/seprofesi

Sebagai seorang PP saya akan berusaha dengan sebaik baiknya untuk menggali potensi yang dimiliki oleh CGP dan membantu CGP untuk mewujudkan potensinya dalam sebuah aksi nyata sehingga bias bermanfaat bagi lingkungan sekitar terutama pesera didik maupun teman sejawat/seprofesi.

(13)

Respondent

Bismillah untuk meluruskan niat, melakukan pembelajaran yang MERDEKA selama fasilitasi CGP Mereflesikan pengalaman saya yang pernah dilakukan terkait keyakinan kelas Berkolaborasi antar CGP dengan pengajar praktik atau sesama CGP dalam merancang keyakinan kelas.

Demonstrasi dengan berbagai media untuk menerapkan perencanaan keyakinan kelas yang telah dirancang.

Elaborasi pemahaman tentang penguatan konsep/ Diskusi mengenai keyakinan kelas Melakukan aksi nyata / mengimplementasikan hasil belajar Bersama untuk dituliskan dalam bentuk jurnal.

Memotivasi CGP dalam praktik melaksanakan segitiga restitusi untuk menghadapi kasus di kelas maupun sekolah

Referensi

Dokumen terkait

Komponen yang terdapat pada modul elektronik juga sama dengan modul cetak diantaranya (1) tujuan pembelajaran ,(2) materi pelajaran, (3) latihan untuk menguji

Kontribusi aktivitas siswa dalam pelajaran terhadap hasil belajar IPS Ekonomi siswa adalah sebesar 21,8%; (3) Intensitas belajar dan aktivitas siswa dalam pelajaran

Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dengan penerapan metode inkuiri pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh data yang meliputi: keterlaksanaan model pembelajaran inkuiri terbimbing, aktivitas peserta didik, dan angket self

Setelah diberikan tindakan siklus I dengan pembelajaran metode inkuiri menggunakan lembar aktivitas siswa diperoleh rata-rata persentase aktivitas siswa mencapai 20%

Penelitian yang dilakukan di SMK Krian 1 Sidoarjo diperoleh bahwa modul yang dikembangkan telah sesuai dengan mata pelajaran MAPTD, hal ini terlihat dengan

Dari proses dan hasil pengembangan e-modul tema 6 subtema 1 berbasis inkuiri, maka diperoleh kesimpulan bahan ajar e-modul untuk kelas III Sekolah Dasar

Dari hasil kegiatan, dapat disimpulkan bahwa para guru mata pelajaran Bahasa Inggris SMK kota Surabaya menyetujui untuk melakukan pengembangan modul ajar Kurikulum Merdeka, khususnya