BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkawinan merupakan hak setiap manusia yang sudah diakui dalam Undang-Undang Dasar 1945 yang menjelaskan bahwa “setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah”.1 berdasarkan pasal ini negara menjamin setiap orang memiliki hak yang sama dalam membentuk keluarga melalui perkawinan, akan tetapi perkawinan yang dilakukan oleh seorang yang telah melakukan transseksual dan sudah mendapat penetapan dari Pengadilan Negeri bahwa sudah sah atas pergantian jenis kelaminnya tersebut, hingga saat ini belum mendapatkan haknya dalam membentuk keluarga melalui perkawinan secara sah yang diakui oleh negara karena dengan alasan tidak mungkin mereka memiliki keturunan.
Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.2 Sementara perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu”.3 Melihat norma yang terkandung dalam Undang-Undang No. 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tersebut menunjukkan perkawinan terjadi antara pria dan wanita yang dilakukan berdasarkan hukum agama masing-masing pasangan, dengan demikian pernikahan dilakukan oleh pria dan wanita dalam hal ini tidak ada kalimat yang menyebutkan pria dan wanita asli dalam hal itu bukan pria dan wanita yang secara hukum diputuskan oleh Pengadilan Negeri telah
1 Indonesia (1), Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pasal 28B ayat (1).
2 Indonesia (2), Undang-Undang Republik Indonesia tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, UU No. 19 Tahun 2016, Pasal 1 angka 1.
3 Ibid., Pasal 2 ayat (1).
berganti jenis kelaminnya (transseksual). Secara hukum status kelamin seseorang ditentukan dalam identitas seseorang, ketika identitas seseorang berganti dari pria menjadi wanita begitu juga wanita menjadi pria seketika itu hak-haknya sebagai pria dan wanita dijamin oleh negara dalam hal ini perkawinan.
Dalam kenyataan yang terjadi pada pelaku transeksual saat ini dimana mereka tidak nyaman atas kondisi fisiknya sehingga orang-orang ini melakukan operasi dalam rangka mengganti jenis klaminnya lalu mengajukan permohonan pergantian identitas jenis kelamin kepada Pengadilan Negeri setelah permohonan perubahan jenis kelamin dikabulkan oleh pengadilan lalu dinas catatan sipil mengganti jenis kelaminnya yang ada di Kartu Tanda Penduduk (KTP), Paspor dan lainnya. Orang inilah yang disebut transseksual yaitu bentuk gangguan identitas gender dimana seseorang merasa terjebak dalam tubuh yang salah, dikarenakan ke tidak nyamanan atas keadaan anatomis tubuh, memiliki keinginan untuk mengubah alat genitalnya dan hidup sebagai anggota lawan jenisnya.4
Penetapan Pengadilan dalam mengabulkan pergantian kelamin pertama di Indonesia ada pada kasus Vivian Rubiyanti yang pada waktu laki-laki bernama Iwan Rubiyanto Iskandar sehingga menjadi yurisprudensi terhadap penetapan pengadilan untuk selanjutnya atas permohonan pergantian kelamin yang dimohonkan oleh para transseksual. Bahwa dalam perkembangannya penetapan- penetapan pengadilan terhadap pergantian status tersebut tidak hanya ditetapkan bagi kaum transseksual saja, namun juga terhadap orang-orang yang mengalami perubahan alat kelamin tanpa melalui operasi pergantian kelamin, yaitu pergantian jenis kelamin yang berubah secara alami atau terjadi begitu saja secara natural.5
4 Anita Wulandari, Gambaran Proses Pengambilan Keputusan pada Transseksual Laki-laki yang Menjalani dan Tidak Menjalani Oprasi Pengubahan Kelamin, Skripsi Sarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Depok, 2006, hlm. 17.
5 Hapsari, Gita Riyanty, Kewenangan Kantor Urusan Agama Dalam Perkawinan Seorang Transseksual yang telah diakui perubahan statusnya oleh Pengadilan Negeri Ditinjau dari Hukum Islam, (Skripsi Sarjana Hukum) Depok: Universitas Indonesia, 2012 hlm. 23
Dalam kenyataannya, seharusnya setiap warga negara yang telah sah secara hukum atas pergantian jenis kelaminnya mendapat hak yang sama dengan warga negara Indonesia lainnya dalam hal berumah tangga, akan tetapi para transseksual dalam kehidupan sehari-hari menjadi kotroversial keberadaannya lebih-lebih ketika dia akan melakukan perkawinan dengan pasangan yang secara identitas menjadi lawan jenisnya. Sebagaimana diketahui bahwa dasar hukum perkawinan di Indonesia adalah Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dimana secara hukum negara mensyaratkan perkawinan dilakukan oleh seorang pria dan wanita akan tetapi dianggap sah jika perkawinan tersebut sesuai hukum agama kedua mempelai.
Pengaturan terhadap pergantian jenis kelamin dari jenis kelamin perempuan menjadi laki-laki dan laki-laki menjadi perempuan pada ketentuan Pasal 56 ayat (1) UU Administrasi Kependudukan jo Penjelasan Pasal 56 ayat (1) UU Administrasi Kependudukan. Pasal 56 ayat (1) yaitu “Pencatatan peristiwa penting lainnya dilakukan oleh pejabat pencatatan sipil atas permintaan penduduk yang bersangkutan setelah adanya penetapan Pengadilan Negeri yang tela memperoleh kekuatan hukum tetap”. Sedangkan penjelasan Pasal 56 ayat (1) tersebut dinyatakan “Yang dimaksud dengan peristiwa penting lainnya adalah peristiwa yang ditetapkan oleh pengadilan negeri untuk dicatat pada instansi pelaksana, antara lain perubahan jenis kelamin”;
Berdasarkan penjelasan Pasal 56 di atas, bahwa permohonan pergantian jenis kelamim tersebut harus melalui penetapan pengadilan yang berkekuatan hukum yang tetap.
Dalam penelitian ini, terhadap pergantian jenis kelamin ini para pemohon yang telah dikabulkan permohonannya akan menindaklanjuti ke jenjang perkawinan berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (selanjutnya disebut UU Perkawinan). Unsur-unsur perkawinan yang harus terpenuhi dalam suatu perkawinan
antara lain “ikatan lahir bathin antara seorang pria dan wanita, untuk membentuk keluarga dan berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa”.
Berdasarkan unsur perkawinan diatas, salah satunya adalah perkawinan juga harus berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa, walaupun UU telah menetapkan melalui penetapan pengadilan akan tetapi dalam agama belum sah. Berdasarkan agama Katolik dan Kristen mengatakan bahwa seseorang transseksual tidak akan pernah dapat secara sah sakramen perkawinan. Sedangkan untuk Agama Islam berdasarkan Majelis Ulama Islam (MUI) mengeluarkan fatwa haram operasi mengganti jenis kelamin. Apabila sudah ada yang terlanjur melakukan pergantian jenis kelamin maka hukum yang berlaku baginya adalah sebelum dia beranti jenis kelamin.6
Secara hukum negara, seorang yang telah berganti kelamin melalui penetapan pengadilan berhak untuk melangsungkan perkawinannya akan tetapi menjadi kendala ketika syarat sah perkawinan disandarkan kepada hukum agama karena kebanyakan agama di Indonesia terutama Agama Islam masih belum mengakui transeksual sebagai seorang yang benar-benar perempuan atau laki-laki, mereka tetap dianggap sebagai laki-laki atau perempuan sesuai jenis kelamin mereka sebelum disahkan oleh pengadilan, selain itu mereka dianggap tidak memenuhi syarat sebagai pasangan calon suami istri karena mereka tidak akan mungkin menghasilkan keturunan dari perkawinannya. Hal ini berbeda dengan tujuan perkawinan dalam hukum negara yaitu perkawinan bertujuan membentuk keluarga.
Uraian di atas telah terjadi perbedaan secara hukum yang berlaku yaitu hukum pergantian jenis kelamin yang secara hukum sah, akan tetapi secara hukum perkawinan seorang transseksual tidak mendapatkan hak-haknya sebagai warga negara untuk membentuk keluarga karena sahnya perkawinan jika perkawinan selain dilakukan oleh pria dan wanita juga disyaratkan dilakukan berdasarkan undang- undang Perkawinan. Oleh karena itu, masalah ini menarik untuk dikaji lebih dalam
6 Fatwa MUI, Operasi Ganti Kelamin Haram, terdapat disitus
<http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/02/2014/mi5z5t-fatwa-mui-operasi-ganti- kelamin-haram>, diakses pada tanggal 15 April 2020.
terutama dari aspek hukum pergantian jenis kelamin, hukum perkawinan bagi transseksual di Indonesia.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa hal yang menjadi rumusan masalah yang akan ditulis, yaitu mengenai akibat hukum bagi transeksual terhadap perkawinan menurut hukum positif Indonesia?
C. Metode Penelitian
Penulis menggunakan metode penelitian hukum normatif menggunakan pokok kajiannya adalah hukum yang dikonsepkan sebagai norma atau kaidah yang belaku dalam masyarakat dan menjadi acuan perilaku setiap orang. Sehingga penelitian hukum normatif berfokus pada inventarisasi hukum positif, asas-asas dan doktrin hukum, penemuan hukum dalam perkara in concreto, sistematik hukum, taraf sinkronisasi, perbandingan hukum dan sejarah hukum.7
7 Abdulkadir Muhammad, Hukum dan Penelitian Hukum. Cet. 1, (Bandung: PT. Citra AdityaBakti, 2004), hlm. 52.
BAB III PEMBAHASAN
A. Kajian Hal Melakukan Perkawinan Transeksual Bagi Warga Negara Indonesia Menurut Hukum Positif di Indonesia
Isu mengenai transkesual pada masa ini cukup menyita perhatian publik.
Pengakuan terhadap pergantian kelamin melalui penetapan Pengadian Negeri pada seorang transeksual yang telah melakukan operasi pergantian kelamin pertama kali diterima oleh Vivian Rubiyanti Iskandar, yang melakukan operasi penyesuaian kelamin di Singapura pada tahun 1973. Lalu pada tahun yang sama, status kelaminnya secara sah ditetapkan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat.6 Penetapan perubahan status kepada Vivian Rubiyanti merupakan penetapan pertama dan kemudian diikuti dengan penetapan-penetapan pengadilan lainnya berkaitan perubahan jenis kelamin sehingga dapat dijadikan penemuan hukum karena belum ada hukum yang mengatur.
Saat ini banyak terjadi di kalangan masyarakat Indonesia melakukan pergantian jenis kelamin (transeksual), Transeksual adalah suatu gejala tentang ketidakpuasan seseorang karena tidak ada kecocokan antara bentuk fisik dan kelamin dengan kejiwaan ataupun ketidak puasan dengan alat kelamin yang dimilikinya. Hal ini dapat dilihat dari bentuk gaya maupun tingkah laku, dandanan maupun make up yang dipakai, sehingga menimbulkan asumsi ketidak jelasan antara status jenis kelamin yang dimilikinya. Misalnya, ada jenis kelamin kali-laki tetapi dia dominan memiliki jiwa perempuan dari pada jiwa laki-laki sesuai dengan jenis kelamin yang dimilikinya, demikian juga sebaliknya dan ada yang memiliki alat kelamin ganda, hal ini merupakan gejala ketidak sesuaian antara alat kelamin yang dimiliki dengan fisik ataupun kejiwaannya.
Oleh karena perasaan tidak nyaman dan tidak puas dengan salah satu anatomi seksnya, menyebabkan penderitaan terus menerus atas ketidakpastian terhadap jenis kelaminnya maka seseorang berharap dapat berganti kelamin dan hidup dengan jenis
kelamin lain, sehingga ia dapat berkembang sebagai manusia yang wajar ditengah- tengah masyarakat. Tidak dapat dipungkiri keberadaan mereka dimasyarakat tidak mempunyai kepastian status jenis kelamin sehingga cendrung dimarginalkan, dikucilkan ataupun dihina dilingkungannya. Oleh karenanya pergantian jenis kelamin (transeksual) dilakukan akibat dari transisi dua alat kelamin, sehingga jalan satu satunya untuk menentukan status ketidak jelasan jenis kelamin yang dibawa sejak lahir akan tetapi adanya kesalahan pencitraan pada dirinya maka dilakukan melalui operasi kelamin.
Pergantian jenis kelamin dikenal dalam dunia ilmu kedokteraan, dapat terjadi keadaan dimana dalam tubuh seseorang kromosom perempuannya lebih berkembang dalam tubuh yang berbentuk laki-laki hal tersebut ditandai dengan organ kelamin tidak berkembang maksimal baik dari segi ukuran maupun fungsi selain itu biasanya tanda-tanda kelaki-lakian yang lain seperti jakun biasanya tidak nampak atau suara yang lebih tinggi yang disebabkan faktor hormonal yang tidak diproduksi tubuh dengan cukup akibat kromosom yang dominan adalah kromosom perempuan.
Di Indonesia saat ini belum ada mengatur tentang regulasi hukum tentang tata cara pergantian jenis kelamin atau kedudukan hukum transeksual, akan tetapi saat ini banyak dilakukan bagi transeksual menuntut hak dan kepastian hukum mereka dengan alasan mereka memiliki hak atas pengakuan, jaminan serta kepastian hukum yang adil bagi dirinya dimata hukum. Dalam rangka memberi perlindungan, pengakuan, penentuan status pribadi dan status hukum setiap peristiwa setiap pristiwa kependudukan dan pristiwa penting yang dialami oleh penduduk Indonesia dan warga negara Indonesia telah diatur oleh Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan. Pergantian jenis kelamin tidak termasuk peristiwa penting sebagaimana disebut dalam Pasal 1 angka 17 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan dimana menyatakan “peristiwa penting adalah kejadian yang dialami
seseorang meliputi kelahiran, perkawinan, kematian, perceraian, pengakuan anak, pengesahan anak, pengangkatan anak, perubahan nama dan status kewarganegaraan “
Akan tetapi Pasal 56 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan mengatur bahwa pencatatan peristiwa penting lainnya dilakukan oleh pejabat Pencatatan Sipil atas permintaan penduduk yang bersangkutan setelah adanya Penetapan Pengadilan Negeri yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, sedangkan yang dimaksud peristiwa penting lainnya, dijelaskan dalam Pasal 56 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan sebagai berikut “yang dimaksud dengan peristiwa penting lainnya adalah peristiwa yang ditetapkan oleh pengadilan negeri untuk dicatatkan pada instansi pelaksana antara lain perubahan jenis kelamin“.
Adapun yang dimaksud instansi pelaksana adalah Pemerintah Kabupaten / Kota yang bertanggung jawab dan berwenang melaksanakan pelayanan dalam urusan Administrasi Kependudukan. Laporan perubahan status jenis kelamin merupakan kewajiban semua penduduk sebagaimana diatur dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan yaitu: “setiap penduduk wajib melaporkan peristiwa kependudukan dan peristiwa penting yang dialaminya kepada instansi pelaksana dengan memenuhi persyaratan yang diperlukan dalam pendaftaran penduduk dan catatan sipil “.
Bahwa, selain Pasal 56 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan tentang pencatatan peristiwa penting lainnya, maka Pasal 97 ayat (2) Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2008 juga disebutkan peristiwa penting dimaksudkan adalah perubahan jenis kelamin dilakukan melalui permohonan penetapan perubahan status jenis kelamin melalui Pengadilan Negeri berdasarkan keterangan ahli serta bukti-bukti serta syarat-syarat yang harus dipenuhinya.
Mengacu kepada Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan dalam hal melakukan perubahan jenis kelamin diwajibkan kelaporkan ke Pengadilan Negeri dan selanjutnya dicatatkan pada Kantor Catatan Sipil, meskipun belum ada peraturan yang mengatur secara jelas mengenai tata cara dari perubahan jenis kelamin akan tetapi dapat diakomodir Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang No:48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman menyatakan “Pengadilan dilarang menolak untuk memeriksa, mengadili dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan alasan bahwa hukum tidak ada, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya”, meskipun belum ada aturan yang mengaturnya akan tetapi tidak ada proses hukum yang tidak dapat diselesaikan.
Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil.
Serupa dengan aturan dalam Pasal 56 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan tentang pencatatan peristiwa penting lainnya, dalam Pasal 97 ayat (2) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil ini juga disebut bahwa peristiwa penting lainnya yang dimaksud antara lain adalah perubahan jenis kelamin. Jadi dalam proses pergantian jenis kelamin sebaiknya pelaku transeksual membawa surat keterangan dari rumah sakit dan juga harus mendapatkan penetapan pengadilan terlebih dahulu soal perubahan jenis kelamin, maka ia wajib melaporkan persitiwa itu untuk kemudian dilakukan pencatatan pelaporan peristiwa penting lainnya oleh pejabat Pencatatan Sipil pada Instansi Pelaksana atau Unit Pelaksana Teknis Daerah instansi pelaksana tempat terjadinya peristiwa penting lainya.
Dalam penelitian ini, fakta hukum berdasarkan penetapan pengadilan tentang dikabulkannya operasi pergantian jenis kelamin pada Putusan Nomor 518/Pdt.P/2013/PN.Ung, menjelaskan bahwa Pemohon yang mengajukan permohonan Pergantian Kelamin adalah Supriyanti, umur 23 tahun, pekerjaan swata ,
bertempat tinggal di Dusun Canggal RT 02/RW017 Desa Kaliwungu Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Semarang. Supriyanti, anak ke enam perempuan dari suami istri Sukiyo dengan Suliyem, lahir di Kabupaten Semarang pada tanggal 08 Agustus 1990, sebagaimana Kutipan Akta Kelahiran Nomor: 6187/TP/2002 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kependudukan, Catatan Sipil dan Tenaga Kerja Kabupaten Semarang tertanggal 02 Juli 2002. Pada saat kelahirannya berjenis kelamin perempuan (wanita), anak tersebut setelah bertambah besar dan tumbuh menunjukkan tanda-tanda baik secara fisik maupun klinis cenderung menjadi sosok seorang yang berjenis kelamin laki-laki, untuk memperkuat hal tersebut.
Kemudian Pemohon memeriksakan ke RSUP Dr. Kariadi Semarang dan selanjutnya dilakukan pemeriksaan oleh Tim Penyesuaian Kelamin RSUP Dr.
Kariadi/FK. UNDIP Semarang dilakukan tindakan medis sebagaimana surat keterangan tentang identitas gender dari Dr. Bambang Wibowo, Sp.OG. tertanggal 20 Nopember 2012 yang menyatakan secara Klinik Supriyanti, berjenis kelamin laki- laki, dari hal-hal tersebut kemudian Pemohon menggantikan namanya, yang telah tercantum resmi pula dicantumkan pada STTB SD, SMP, SMA, Akta Kelahirannya dan Kartu Keluarga Pemohon yang semula tertulis dan terbaca Supriyanti, menjadi tertulis dan terbaca Bagus Supriyanto, laki-laki, lahir di Kabupaten Semarang pada tanggal 08 Agustus 1990, anak dari pasangan suami istri Sukiyo dengan Suliyem, dalam penyesuaian kelamin tersebut Pemohon melakukannya selain untuk kepentingan Pemohon, juga untuk kepastian hukum di kemudian hari.
Dari pertimbangan-pertimbangan tersebut, Putusan Majelis Hakim akhirnya menetapkan status keperdataan Supriyanti anak ke enam perempuan dari suami istri Sukiyo dengan Suliyem lahir di Kabupaten Semarang pada tanggal 08 Agustus 1990, sebagaimana Kutipan Akta Kelahiran Nomor : 6187/TP/2002, yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kependudukan, Catatan Sipil dan Tenaga Kerja Kabupaten Semarang tertanggal 02 Juli 2002, adalah berjenis kelamin laki-laki.
Melihat putusan yang dikeluarkan dalam perkara pergantian kelamin, hakim melihat fakta-fakta yang ada. Pemohon sudah melakukan operasi pergantian maupun
penyesuaian kelamin yang dalam hal ini tidak mungkin hakim meminta pemohon untuk mengembalikan tubuhnya ke keadaan awal sebelum operasi. Hal ini juga didukung dengan kesaksian yang diberikan ahli yakni dokter yang melaksanakan operasi pergantian maupun penyesuaian kelamin berupa hasil rekam medis pemohon yang menguatkan status pemohon pasca operasi sehingga hakim mengabulkan permohonan pergantian kelamin pemohon.8
Setelah pergantian jenis kelamin dikabulkan melalui penetapan pengadilan dan dilakukan pencatatan di catatan sipil, sehingga hak-hak yang melekat pada transeksual kedudukannya sebagai warga negara Indonesia, antara lain berdasarkan:
1. Undang-Undang Dasar Tahun 1945
a. Pasal 28A yang berbunyi “setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.”9
b. Pasal 28C yang berbunyi,10
(1) Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.
(2) Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan negaranya.
c. Pasal 28D11
a) Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.
b) Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja.
c) Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan.
d) Setiap orang berhak atas status kewarganegaraan
8 Erlyn Indarti, Diskresi dan Paradigma : Suatu Telaah Filsafat Hukum, Pidato Pengukuhan Guru Besar Universitas Diponegoro (Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2010)
9 Indonesia (1), Pasal 28A.
10 Ibid., Pasal 28C 11 Ibid., Pasal 28D
2) Pasal 28E12
a) Setiap orang berhak memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.
b) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.
c) Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat.**)
3) Pasal 28F13
Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.
4) Pasal 28G14
a) Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang dibawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi.
b) Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain.
5) Pasal 28H15
a) Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.
b) Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan.
c) Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat.
d) Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenang-wenang oleh siapapun.
12 Ibid., Pasal 28E 13 Ibid., Pasal 28F 14 Ibid., Pasal 28G 15 Ibid., Pasal 28H.
6) Pasal 28I16
a) Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak untuk kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.
b) Setiap orang bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.
c) Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban.
d) Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawabnegara, terutama pemerintah.
e) Untuk menegakkan dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur, dan dituangkan dalam peraturan perundang- undangan.
7) Pasal 28J17
a) Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
b) Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.
b. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999
tentang Hak Asasi Manusia a. Pasal 218
Negara Republik Indonesia mengakui dan menjunjung tinggi hak asasi manusia dan kebebasan dasar manusia sebagai hak yang secara kodrati melekat pada dan tidak terpisahkan dari manusia, yang harus dilindungi,
16 Ibid., Pasal 28I.
17 Ibid., Pasal 28J.
18 Indonesia (3), Undang-Undang Republik Indonesia tentang Hak Asasi Manusia, UU No.
39 Tahun 1999, Pasal 2.
dihormati, dan ditegakkan demi peningkatan martabat kemanusiaan, kesejahteraan, kebahagiaan, dan kecerdasan serta keadilan.
b. Pasal 319
a) Setiap orang dilahirkan bebas dengan harkat dan martabat manusia yang sama dan sederajat serta dikaruniai akal dan hati nurani untuk hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam semangat persaudaraaan.
b) Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan perlakuan hukum yang adil serta mendapat kepastian hukum dan perlakuan yang sama di depan hukum.
c) Setiap orang berhak atas perlindungan hak asasi manusia dan kebebasan dasar manusia, tanpa diskriminasi.
a. Pasal 5 ayat (3)20
Setiap orang yang termasuk kelompok masyarakat yang rentan berhak memperoleh perlakuan dan perlindungan lebih berkenaan dengan kekhususannya.
b. Pasal 821
Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia terutama menjadi tanggung jawab Pemerintah.
c. Pasal 922
Setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan meningkatkan taraf kehidupannya.
1) Setiap orang berhak hidup tenteram, aman, damai, bahagia, sejahtera lahir dan batin.
2) Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.
d. Pasal 1123
Setiap orang berhak atas pemenuhan kebutuhan dasarnya untuk tumbuh dan berkembang secara layak.
19 Ibid., Pasal 3.
20 Ibid., Pasal 5 ayat (3) 21 Ibid., Pasal 8
22 Ibid., Pasal 9 23 Ibid., Pasal 11
e. Pasal 1224
Setiap orang berhak atas perlindungan bagi pengembangan pribadinya, untuk memperoleh pendidikan, mencerdaskan dirinya, dan meningkatkan kualitas hidupnya agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa, bertanggung jawab, berakhlak mulia, bahagia, dan sejahtera sesuai dengan hak asasi manusia.
f. Pasal 1725
Setiap orang, tanpa diskriminasi, berhak untuk memperoleh keadilan dengan mengajukan permohonan, pengaduan, dan gugatan, dalam perkara pidana, perdata, maupun administrasi serta diadili melalui proses peradilan yang bebas dan tidak memihak, sesuai dengan hukum acara yang menjamin pemeriksaan yang obyektif oleh hakim yang jujur dan adil untuk memperoleh putusan yang adil dan benar.
g. Pasal 2026
Tidak seorangpun boleh diperbudak atau diperhamba. Perbudakan atau perhambaan, perdagangan budak, perdagangan wanita, dan segala perbuatan berupa apapun yang tujuannya serupa, dilarang.
h. Pasal 2227
Setiap orang bebas memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Negara menjamin kemerdekaan setiap orang memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.
i. Pasal 2428
Setiap orang berhak untuk berkumpul, berapat, dan berserikat untuk maksud- maksud damai.
j. Pasal 3529
Setiap orang berhak hidup di dalam tatanan masyarakat dan kenegaraan yang damai, aman, dan tenteram, yang menghormati, melindungi, dan melaksanakan sepenuhnya hak asasi manusia dan kewajiban dasar manusia sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini.
24 Ibid., Pasal 12 25 Ibid., Pasal 17 26 Ibid., Pasal 20 27 Ibid., Pasal 22 28 Ibid., Pasal 24 29 Ibid., Pasal 35
k. Pasal 3830
(1) Setiap orang berhak, sesuai dengan bakat, kecakapan, dan kemampuan, berhak atas pekerjaan yang layak.
(2) Setiap orang berhak dengan bebas memilih pekerjaan yang disukainya dan berhak pula atas syarat-syarat ketenagakerjaan.
(3) Setiap orang, baik pria maupun wanita yang melakukan pekerjaan yang sama, sebanding, setara atau serupa, berhak atas upah serta syarat-syarat perjanjian kerja yang sama.
(4) Setiap orang, baik pria maupun wanita, dalam melakukan pekerjaan yang sepadan dengan martabat kemanusiaannya berhak atas upah yang adil sesuai dengan prestasinya dan dapat menjamin kelangsungan kehidupan keluarganya.
l. Pasal 40, Setiap orang berhak untuk bertempat tinggal serta berkehidupan yang layak.31
m. Pasal 4132
(1) Setiap warga negara berhak atas jaminan sosial yang dibutuhkan untuk hidup layak serta untuk perkembangan pribadinya secara utuh.
(2) Setiap penyandang cacat, orang yang berusia lanjut, wanita hamil, dan anak-anak, berhak memperoleh kemudahan dan perlakuan khusus.
n. Pasal 43 ayat (1)33
Setiap warga negara berhak untuk dipilih dan memilih dalam pemilihan umum berdasarkan persamaan hak melalui pemungutan suara yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
o. Pasal 70 ayat (1)34
Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan Undang-undang dengan maksud untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.
p. Pasal 71 ayat (1)35
30 Ibid., Pasal 38 31 Ibid., Pasal 40 32 Ibid., Pasal 41 33 Ibid., Pasal 43 ayat (1) 34 Ibid., Pasal 70 ayat (1) 35 Ibid., Pasal 71 ayat (1)
Pemerintah wajib dan bertanggung jawab menghormati, melindungi, menegakkan, dan memajukan hak asasi manusia yang diatur dalam Undang- undang ini, peraturan perundang-undangan lain, dan hukum internasional tentang hak asasi manusia yang diterima oleh negara Republik Indonesia.
Berdasarkan uraian diatas, yang menjelaskan bahwa terhadap transeksual melalui penetapan pengadilan, maka status hukumnya berubah (dalam sisi jenis kelamin) jika permohonan untuk mengubah jenis kelaminnya tersebut disetujui oleh Hakim Pengadilan sesuai aturan dalam Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. Selain itu, Majelis Hakim juga memerintahkan agar Salinan Penetapan ini dikirimkan kepada kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Madiun untuk dicatat dalam buku register yang tersedia dan menerbitkan tentang perubahan jenis kelamin Pemohon pada Akta Kelahiran No 7/WNI/TAMB/1992 tertanggal 17 Juni 1992, semula tercatat jenis kelamin wanita dirubah menjadi jenis kelamin laki-laki.
Terkait teori hukum positif dari John Austin, mengartikan hukum itu sebagai perintah dari pembentuk undang-undang atau penguasa (a command of the lawgiver), yaitu suatu perintah dari mereka yang memegang kekuasaan tertinggi atau yang memegang kedaulatan. Maka, terhadap penetapan Majelis Hakim dalam pengadilan yang mengabulkan permohonan menjadi transeksual telah sesuai dengan hukum yang berlaku saat itu dan didukung dengan peran pemegang kekuasaan tertinggi didalam persidangan yang dapat memberikan perintah. Dalam perkara ini, perintah yang dimaksud adalah kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Madiun untuk dicatat dalam buku register yang tersedia dan menerbitkan tentang perubahan jenis kelamin Pemohon pada Akta Kelahiran No 7/WNI/TAMB/1992 tertanggal 17 Juni 1992, semula tercatat jenis kelamin wanita dirubah menjadi jenis kelamin laki-laki.
Terhadap perubahan identitasnya sah dan terdaftar sesuai dengan dokumen kependudukannya sesuai aturan dalam Undang-Undang No. 24 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan. Maka, terhadap kedudukan hukum transeksual melalui penetapan
pengadilan telah sesuai menurut hukum positif di Indonesia. Hal ini berakibat kedudukannya dimata hukum sama dengan warga negara lainnya berdasarkan UUD Tahun 1945.
B. Akibat Hukum Bagi Transeksual Terhadap Perkawinan menurut Hukum Positif Indonesia
Berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Perkawinan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Di samping itu, perkawinan sah apabila dilaksanakan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu (Pasal 2 ayat (1) UU Perkawinan), yang dimaksud dengan hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu termasuk ketentuan perundang-undangan yang berlaku bagi golongan agama dan kepercayaannya sepanjang tidak bertentangan atau tidak ditentukan lain oleh undang-undang itu. Jadi bagi orang Islam tidak ada kemungkinan untuk kawin dengan melanggar hukum agamanya sendiri. Demikian juga bagi orang Kristen dan bagi Hindu maupun Budha.
Menurut Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan bahwa untuk dapat melangsungkan perkawinan haruslah dipenuhi syarat-syarat pokok demi sahnya suatu perkawinan yang meliputi syarat materiil dan syarat formil.
1. Syarat Materiil
Syarat materiil disebut juga dengan syarat inti atau internal, yaitu syarat yang menyangkut pribadi para pihak yang hendak melangsungkan perkawinan dan izin-izin yang harus diberikan oleh pihak ketiga dalam hal-hal yang ditentukan oleh undang-undang. Syarat materiil meliputi syarat materiil absolut dan syarat materiil relatif36.
36 Ibid., hlm. 101
Syarat materiil absolut adalah syarat mengenai pribadi seseorang yang harus diindahkan untuk perkawinan pada umumnya. Syarat materiil ini meliputi antara lain: Pasal 6 ayat (1), menetapkan perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai. Maksudnya ialah agar suami isteri dapat membentuk keluarga yang bahagia dan kekal dan sesuai pula dengan hak asasi manusia, maka perkawinan harus disetujui oleh kedua belah pihak yang melangsungkan perkawinan tersebut tanpa ada paksaan.
a. Pasal 6 ayat (2), menetapkan untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin kedua orang tua.
b. Pasal 7 ayat (1), menetapkan batas umur untuk kawin, yaitu 16 tahun bagi wanita dan 19 tahun bagi laki-laki.
c. Pasal 3 ayat (1), terkandung dalam asas perkawinan monogami, bahwa seorang pria hanya boleh mempunyai seorang isteri, seorang isteri hanya boleh mempunyai seorang suami.
d. Pasal 4 ayat (1), menetapkan bahwa seorang suami yang akan beristri lebih dari seorang, maka ia wajib mengajukan permohonan kepada Pengadilan di daerah tempat tinggal.
e. Pasal 11 ayat (1), menetapkan bagi seorang wanita yang putus perkawinannya berlaku jangka waktu tunggu.37
Syarat materiil relatif adalah syarat-syarat bagi pihak yang akan dikawini.
Syarat materiil ini meliputi antara lain:
a. Pasal 8, menetapkan berhubungan darah dalan garis keturunan lurus ke bawah atau ke atas; berhubungan darah dalam garis keturunan menyamping yaitu antara saudara, antara seorang dengan seorang saudara orang tua dan antara seorang dengan saudara neneknya; berhubungan semenda, yaitu mertua, anak tiri, menantu dan ibu/bapak tiri; berhubungan susuan, anak susuan, saudara dan bibi/paman susuan; berhubungan saudara dengan isteri atau sebagai bibi atau kemenakan dari isteri, dalam hal seorang suami beristeri lebih dari seorang; yang mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau praturan lain yang berlaku dilarang kawin.
b. Pasal 9, menetapkan seorang yang masih terikat tali perkawinan dengan orang lain tidak dapat kawin lagi kecuali dalam hal yang disebutkan pada Pasal 3 ayat (2) dan Pasal 4 undang-undang perkawinan.
37 Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Indonesia, (Bandung: CV. Mandar Maju 2003), hlm. 22.
c. Pasal 10, menetapkan apabila suami dan isteri yang telah cerai kawin lagi satu dengan yang lain dan bercerai lagi untuk kedua kalinya, maka di antara mereka tidak boleh dilangsungkan perkawinan lagi.
2. Syarat Formil a. Pemberitahuan
Tentang pemberitahuan diatur dalam Pasal 3 dan 4 Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975. Pasal 3 dan 4 Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 mengatur:
1) Setiap orang yang akan melangsungkan perkawinan, memberitahukan kehendaknya itu kepada pegawai pencatat di tempat perkawinan akan dilangsungkan.
2) Pemberitahuan tersebut dalam ayat (1) dilakukan sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) hari kerja sebelum perkawinan dilangsungkan.
3) Pengecualian terhadap jangka waktu tersebut dalam ayat 2 (dua) disebabkan sesuatu alasan yang penting, diberikan oleh Camat atas nama Bupati Kepala Daerah.
4) Pasal 4 mengatur bahwa pemberitahuan dilakukan secara lisan atau tertulis oleh calon mempelai atau orang tua atau wakilnya kepada pegawai pencatat perkawinan.
b. Pengumuman
Setelah semua persyaratan terpenuhi, maka pegawai pencatat menyelenggarakan pengumuman yang ditempel di papan pengumuman kantor pencatat perkawinan. Ketentuan ini diatur dalam Pasal 8 Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975.
1) Pelaksanaan
Setelah hari ke-10 (sepuluh) tidak ada yang mengajukan keberatan atas rencana perkawinan tersebut maka perkawinan dapat dilangsungkan oleh pegawai pencatat perkawinan. Khusus yang beragama Islam pegawai pencatat perkawinan hanya sebagai pengawas saja.38
38 Wahyuni, Setyowati, Hukum Perdata I (Hukum Keluarga), (Semarang, Universitas 17 Agustus, 1977), hlm. 39.
Perkawinan dianggap sah apabila dilaksanakan menurut hukum agama dan kepercayaannya masing-masing. Maksud dari ketentuan agama dan kepercayaan masing-masing itu termasuk ketentuan perundang-undangan yang berlaku dalam agamanya dan kepercayaannya sepanjang tidak bertentangan atau tidak ditentukan lain dalam undang-undang ini. Suatu perkawinan yang dilaksanakan bertentangan dengan ketentuan agama dengan sendirinya menurut undang- undang perkawinannya dianggap tidak sah dan tidak mempunyai akibat hukum sebagai ikatan perkawinan.39 Dengan demikian, bagi penganut agama atau kepercayaan suatu agama, maka sahnya perkawinan mereka oleh Undang- Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan telah diserahkan kepada hukum agamanya dan kepercayaannya itu
Terkait dengan operasi penggantian kelamin, dapat saja dilakukan apabila memang terdapat suatu kelainan secara biologis dalam tubuh seorang tersebut, maka hal tersebut bukanlah suatu kondisi yang dikehendaki sendiri oleh seorang, melainkan ia telah terlahir dengan kondisi tersebut. Dikarenakan ia telah terlahir dengan kondisi tersebut, maka tidak ada salahnya apabila kemudian dilakukan suatu perbaikan terhadap kondisi dirinya. Apabila dihadapkan pada kondisi semacam ini, maka operasi penggantian kelamin dapat dilakukan sebagai suatu pengobatan atau usaha, sama halnya dengan kebolehan dilakukannya operasi kelamin pada seseorang yang mengalami kondisi intersex/kelamin ganda.
Pada penelitian ini, penulis melakukan wawancara tidak formal kepada beberapa tokoh atau ulama dari agama Islam dan tokoh agama dari agama Katholik untuk memberikan pendapat mengenai transeksual akan melangsungkan perkawinan dari hukum agama.
1. Pendapat dari ulama agama Islam, a. Ustadz 1
39 Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Indonesia Menurut Perundang-Undangan, Hukum Adat, Hukum Agama, (Bandung: Mandar Maju, 1990), hlm. 34.
“Bagaimana bisa mau melangsungkan perkawinan antara transeksual, sedangkan perubahan jenis kelamin melalui operasi saja di agama Islam haram hukumnya. Walaupun itu telah ditetapkan oleh Pengadilan.” Terhadap hal ini, tertulis dalam al-Qur’an diantaranya adalah dalam surah al-A’raf ayat 80-84 dan al-‘Ankabut ayat 29, yang berbunyi:
“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: «Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu? Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.
Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu”.
b. Ustadz 2
“Kalau untuk mengganti kelamin pake operasi dan dikuatkan oleh putusan pengadilan itu haram hukumnya di agama Islam, lalu mau melangsungkan perkawinan lagi. Perkawinan itu dilakukan tujuannya untuk membentuk keluarga sakinah (tenang, tenteram dan bahagia) yang dibina dengan cinta dan kasih sayang (mawaddah wa rahmah) oleh suami istri dalam keluarga. Bagaimana bisa dikatakan keluarga, punya anak aja nanti tidak bisa.”
Di dalam fiqih klasik disebutkan bahwa seorang mukhannits dan mutarajjil statusnya tetap tidak bisa berubah. Disampaikan di dalam Kitab Hasyiyatus Syarwani. “Seandainya ada seorang lelaki mengubah bentuk dengan bentuk perempuan atau sebaliknya, maka–jika ada lelaki yang menyentuhnya–tidak batal wudhunya dalam permasalahan yang pertama (lelaki yang mengubah bentuk seperti wanita), dan batal wudhu’nya di dalam permasalahan yang kedua (wanita yang mengubah bentuk seperti lelaki) karena dipastikan bahwa tidak ada perubahan secara hakikatnya, yang berubah tidak lain hanya bentuk luarnya saja,” (Lihat Abdul Hamid Asy- Syarwani, Hasyiyatus Syarwani, Beirut, Darul Kutub Al-Islamiyah, cetakan kelima, 2006, jilid I, halaman 137).
c. Ustadz 3
“Yang saya ketahui, apabila ada orang mengganti jenis kelamin dengan cara operasi merupakan dosa besar di Agama Islam. Selain itu, ada fatwa yang pernah dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia,
a. Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tentang Operasi Perubahan/Penyempurnaan Kelamin (Musyawarah Nasional II nomor 05/Kep./Munas II/MUI/1980 tanggal 1 Juni tahun 1980),
b. Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 03/MUNASVIII/MUI/2010 tentang Pengubahan dan Penyempurnaan Jenis Kelamin,
Kedua fatwa tersebut jelas-jelas menyatakan bahwa perubahan jenis kelamin misalnya dengan operasi kelamin hukumnya haram karena bertentangan dengan Al-Quran surat an-Nisa ayat 19 dan bertentangan dengan jiwa syara”.
Dari argumen serta penjelasan tersebut di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa jika dikaitkan dengan operasi kelamin pada transseksual yang cenderung mengarah kepada keinginan duniawi dan cenderung keinginan pribadi yang disertai dengan nafsu semata, maka kasus tersebut di atas yaitu transseksual yang mau melakukan operasi ganti kelamin merupakan tindakan yang dilarang dalam agama, karena lebih didominasi oleh nafsu birahi yang hanya untuk kesenangan syahwat duniawi saja dan tanpa melihat kerusakannya akan lebih besar daripada mashlahat/
manfaatnya, sebab pada hakikatnya ia memiliki organ atau jenis kelamin yang normal atau sempurna, yang jika sampai dilakukan operasi ganti kelamin, Islam sangat melarang.
Sebagai diketahui bahwa tujuan perkawinan untuk membentuk keluarga atau rumah tangga bahagia dalam undang-undang Perkawinan tersebut sama dengan tujuan pernikahan yang dirumuskan dalam Pasal 3 Kompilasi Hukum Islam (KHI) yakni membentuk keluarga sakinah (tenang, tenteram dan bahagia) yang dibina dengan cinta dan kasih sayang (mawaddah wa rahmah) oleh suami istri dalam keluarga bersangkutan. Untuk itu dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 77 ayat (2), suami-istri, demikian disebutkan dalam ayat (3) pasal yang sama, memikul kewajiban
untuk mengasuh dan memelihara anak-anak mereka, baik mengenai pertumbuhan jasmani, rohani maupun kecerdasan serta pendidikan agamanya.40
Sedangkan Pengertian perkawinan menurut agama Katolik secara doktriner, diambil dari dua bahan, yaitu (1) Perjanjian Lama, dan (2) Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Lama, perkawinan diartikan sebagai gambaran dan tiruan dari bimbingan Tuhan. Suami istri menampakkan dan menghadiahkan cinta kasih Tuhan dalam hidup cinta mereka. Di dalam Perjanjian Baru, pernikahan seorang Kristen diartikan sebagai suatu ikatan cinta kasih tetap dan taat yang menggambarkan, melahirkan dan mewujudkan hubungan cinta Kristus dengan jemaatnya. Perkawinan bagi umat Katolik dinaikkan menjadi sakramen, karena merupakan ajaran dari gereja dan diakui sebagai lembaga suci yang asalnya dari Tuhan dan ditetapkan oleh-Nya untuk kebahagiaan masyarakat.
Oleh karena itu, negara wajib menetapkan supaya dicatat dan diakui sah secara yuridis (Pasal 1 HOCI). Adanya lembaga sakramen atas perkawinan ini dapat dilihat dalam rumusan perkawinan menurut hukum gereja Katolik, yaitu: "Perjanjian perkawinan, antara pria dan wanita membentuk antara mereka kebersamaan seluruh hidup menurut sifat kodratinya terarah kepada kesejahteraan suami istri pada kelahiran dan pendidikan anak; oleh Kristus Tuhan, perkawinan antara orang-orang yang dibaptis diangkat menjadi sakramen" (Kanon 1055 Pasal 1): "karena itu, antara orang-orang yang dibaptis tidak dapat ada kontrak perkawinan sah yang tidak dengan sendirinya merupakan sakramen" (Kanon 1055 Pasal 2).
Karena itu manusia berkewajiban mendidik anak-anak yang dikaruniakan kepadanya dalam pengamalan yang benar dan takut kepada Allah. Di samping itu, Allah telah menjadikan laki- laki dan perempuan begitu rupa supaya bersama-sama secara raga rokh, mereka itu membentuk suatu persetujuan yang kuat dan benar di dunia ini.41 Hal itu sejalan dengan apa yang terdapat dalam kitab hukum Gereja yang
40 Mohammad Daud Ali, Hukum Islam : Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo Persada 2002), hlm. 67,
41 Arso Sosroatmodjo dan Wasit Aulawi, Hukum Perkawinan di Indonesia, (Jakarta: Bulan Bintang 1981), hlm. 28.
telah terbit pada tahun 1971, menyebutkan bahwa tujuan perkawinan, sebagai berikut:
(a) tujuan primernya adalah kelahiran dan pendidikan anak-anak, (b) tujuan sekundernya adalah kerja sama suami istri dan pemenuhan seksual.42
Sifat perkawinan itu sendiri dalam agama Katolik ialah monogami dan tak terceraikan. Apabila dikaitkan tujuan perkawinan berdasarkan agama Islam dan agama Kristen Katolik di atas, yang salah satunya mendapatkan keturunan, maka bagi pasangan perkawinan transseksual tidak dapat terpenuhi, karena salah satu pasang
“tidak murni/asli” seorang perempuan. Biarpun kelamin diganti dan ditetapkan sebagai perempuan oleh pengadilan negeri, namun yang bersangkutan tidak memiliki rahim sebagai tempat tumbuh kembang janin dalam perut perempuan.
Berdasarkan uraian di atas, hukum perkawinan transeksual berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tidak dapat dilaksanakan dikarenakan tidak memenuhi unsur-unsur perkawinan, antara lain:
1. Unsur mengenai ikatan lahir dan bathin. Hal ini dimaksudkan bahwa perkawinan tidak lagi hanya dilihat sebagai hubungan jasmani saja, tetapi juga merupakan hubungan bathin. Dimana ikatan lahir dan bathin yang dijalin dalam suatu perkawinan terkait dengan salah satu tujuan dari perkawinan itu sendiri yaitu kekal.
2. Unsur yang kedua adalah perkawinan tersebut dilaksanakan antara seorang pria dengan seorang wanita. Perkawinan yang diakui di Indonesia hanya antara seorang laki-laki dengan seorang wanita. Unsur kedua ini membatasi atau melarang adanya perkawinan sejenis. Perkawinan sejenis seperti perkawinan antara homoseksual (laki-laki dengan laki-laki) atau antara para lesbian (perempuan dengan perempuan). Lalu timbul pertanyaan bagaimana dengan perkawinan antara seorang pria atau wanita dengan pria atau wanita yang pernah melakukan operasi perubahan kelamin. Apakah pria atau wanita yang telah melakukan operasi perubahan kelamin tersebut dapat dikatagorikan
42 Ibid.
sebagai pria atau wanita yang dimaksud dengan pria dan wanita dalam undang-undang perkawinan.
Menurut penjelasan dari Neng Djubaedah, yang dimaksud dalam undang-undang perkawinan mengenai pria dan wanita adalah pria maupun wanita yang ‘asli’ atau ‘murni’. Dalam artian secara kodrati merupakan seorang wanita ataupun pria dan ketika lahir dinyatakan sebagai anak perempuan atau anak laki-laki.43
Namun, hal ini tidak dipungkuri terdapat kelainan ketika kelahiran, seperti seseorang yang berkelamin ganda. Seseorang yang berkelamin ganda adalah ketika dilahirkan mempunyai dua kelamin namun dalam perkembangan nantinya hanya salah satu kelamin yang berkembang dan berfungsi dengan baik. Tindak lanjutnya adalah dengan operasi penyempurnaan kelamin. Seseorang yang berkelamin ganda dan melakukan operasi penyempurnaan kelamin masih masuk dalam katagori transeksual. Hanya saja bila membicarakan mengenai perkawinan antara sesorang yang berkelamin ganda dengan sesorang yang merasa dirinya terperangkap dalam tubuh lawan jenisnya adalah berbeda .
Seseorang yang berkelamin ganda dan melakukan operasi kelamin disebut dengan penyempurnaan kelamin. Dalam hal ini jelas kelaki- lakiannya dan keperempuan-perempuannya. Sedangkan seseorang yang merasa dirinya terperangkap dalam tubuh lawan jenisnya dan melakukan operasi kelamin, hal ini disebut dengan operasi pergantian kelamin. Bila dikaitkan dengan masalah perkawinan, seseorang yang melakukan operasi penyempurnaan kelamin dapat dikatagorikan sebagai pria atau perempuan yang dimaksud dalam Pasal 1 Undang-Undang Perkawinan. Sedangkan seseorang yang melakukan operasi perubahan kelamin tidak dapat diakatagorikan sebagai pria atau perempuan yang dimaksud dalam Pasal 1 Undang-Undang
43 Neng Djubaedah, dkk, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, (Jakarta: PT. Hecca Mitra Utama, 2005), hlm. 23.
Perkawinan, walaupun secara fisik terlihat seperti pria atau perempuan seutuhnya.
Hal ini diperjelas dalam Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) dari hasil Musyawarah Nasional ke-8 bahwa mengubah alat kelamin dengan sengaja tanpa adanya alasan alamiah dalam diri yang bersangkutan, hukumnya haram dan penyempurnaan kelamin diperbolehkan. Orang yang telah melakukan operasi perubahan kelamin dianggap jenis kelaminnya adalah sama seperti sebelum dilakukannya operasi.
3. Unsur perkawinan bertujuan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal. Membentuk keluarga yang bahagia di sini dikaitkan dengan keturunan. Seperti yang dijelaskan dalam penjelasan Pasal 1 Undang-Undang Perkawinan, “membentuk keluarga yang bahagia rapat hubungan dengan keturunan, yang pula merupakan tujuan perkawinan, pemeliharaan dan pendidikan menjadi hak dan kewajiban orang tua.”
Bila dikaitkan dengan transeksual, tujuan dari perkawinan yaitu membentuk keluarga tidak tercapai. Hal ini dikarenakan seseorang yang melakukan operasi perubahan kelamin, secara fisik luarnya terlihat seperti pria atau wanita pada umumnya, namun terdapat ketidak sempurnaan karena tidak dapat menghasilkan keturunan. Seorang laki-laki yang merubah kelaminnya menjadi kelamin perempuan tidak akan mempunyai rahim seperti wanita normal. Walaupun pada kenyataannya wanita normal ada yang tidak dapat menghasilkan keturunan.
Berbeda hal dengan transeksual karena wanita normal pada dasarnya tetap memiliki rahim namun dalam perkembangannya terkena virus atau penyakit yang menyebabkan tidak dapat menghasilkan keturunan atau mengakibatkan diangkatnya rahim tersebut. Sedangkan perempuan yang merubah kelaminnya menjadi kelamin laki-laki tidak akan dapat menghasilkan sperma seperti laki-laki normal. Walaupun memang dalam hal ini, yaitu mengenai ada atau tidak adanya keturunan tidak selalu menjamin
setiap perkawinan bahagia dan kekal. Namun, pada intinya perkawinan yang dilaksanakan oleh transeksual tidak memenuhi tujuan dari perkawinan itu sendiri.
Tujuan membentuk keluarga yang kekal dimaksudkan bahwa perkawinan hanya sekali dalam hidup. Dalam Agama Katolik Roma, perceraian adalah dilarang. Sedangkan dalam Islam sendiri membenci perceraian, namun tidak berarti menutupnya kemungkinan terjadinya perceraian selama didukung oleh alasan-alasan yang dibenarkan syariat.44
4. Unsur yang terakhir adalah perkawinan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Pencantuman Ketuhanan Yang Maha Esa adalah karena negara Indonesia berdasarkan kepada Pancasila yang sila pertamanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Maksudnya adalah bahwa setiap perkawinan mempunyai hubungan yang erat sekali dengan agama/kerohanian sehingga perkawinan bukan saja mempunyai peranan yang penting. Hal ini pun dijelaskan oleh Jimly Asshiddiqie bahwa agama mempunyai posisi sentral yang di dalamnya terdapat sila Ketuhanan Yang Maha Esa, yaitu merupakan sila pertama yang utama.
Yang dimaksud dengan hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu termasuk peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi golongan agamanya dan kepercayaannya itu sepanjang tidak bertentangan atau tidak ditentukan lain dalam Undang-Undang ini.”
Apabila diketahui seseorang yang telah melakukan operasi perubahan kelamin lalu menikah dan dicatatkan, baik di dalam Pencatatan Sipil maupun KUA (Kantor Urusan Agama), tidak berarti perkawinan tersebut telah sah. Karena keabsahan suatu perkawinan didasarkan ketentuan dari agama. Sedangkan agama tersebut melarang dilakukannya operasi perubahan kelamin yang mengakibatkan tidak sahnya perkawinan yang dilaksanakan secara agama tersebut. Bila aturan melarang atau tidak mensahkan suatu perbuatan hukum seperti perkawinan bagi transeksual dari ajaran
44 Aminiur Amiruddin dan Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia: Studi Kritis Perkembangan Hukum Islam dari Fikih, UU No 1 sampai KHI, Cet.2, (Jakarta: Kencana, 2004), hlm. 43.
agama, hubungan hukum para pihak yang melaksanakan perkawinan adalah tidak sah dan tidak menimbulkan akibat hukum apapun. Terlebih lagi pencatatan perkawinan tidak mengakibatkan hubungan hukum antara para pihak menjadi sah dan menimbulkan akibat hukum tidak sah pula.
Apabila perkawinan oleh seseorang yang telah melakukan operasi perubahan kelamin tetap dilakukan, tindakan hukum yang dapat dilakukan adalah pembatalan perkawinan. Sebagaimana diatur dalam Pasal 22 UU Perkawinan yaitu, “Pembatalan perkawinan adalah perkawinan dapat dibatalkan apabila para pihak tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan.”Pembatalan adalah tindakan pengadilan yang berupa keputusan yang menyatakan perkawinan yang dilakukan itu tidak sah.45 Sedangkan sesuatu yang tidak sah dianggap tidak pernah ada. ketentuan ini hampir mirip dengan batal demi hukum. Namun dalam ketentuan perkawinan tidak ada perkawinan batal demi hukum. Hal ini dijelaskan dalam Pasal 85 KUHPerdata. Dalam pembatalan perkawinan harus adanya putusan pengadilan dan akibat dari perkawinan tersebut seperti menyangkut anak dan harta bersama tidak berlaku surut.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, akibat hukum bagi transeksual terhadap perkawinan menurut hukum positif Indonesia tidak dapat dilakukan perkawinan yang sah seperti yang diatur dalam 28B UUD Tahun 1945 sebagaimana hak setiap orang warga negara Indonesia. Dikarenakan dalam melakukan perkawinan yang sah harus memenuhi syarat yaitu perkawinan dilakukan berdasarkan agama dan kepercayaannya masing-masing.
45 Ahmad Budi Cahyono dan Surini Ahlan Sjarif, Mengenal Hukum Perdata, Cet-1, (Jakarta : CV Gitama Jaya 2008), hlm. 53-54.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Kesimpulan dalam makalah ini, yaitu pengaturan hukum bagi warga negara Indonesia yang berganti kelamin berdasarkan Pasal 56 ayat (1) jo Penjelasan Pasal 56 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan tentang pencatatan peristiwa penting lainnya, maka Pasal 97 ayat (2) Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2008 juga disebutkan peristiwa penting dimaksudkan adalah perubahan jenis kelamin dilakukan melalui permohonan penetapan perubahan status jenis kelamin melalui Pengadilan Negeri berdasarkan keterangan ahli serta bukti-bukti serta syarat-syarat yang harus dipenuhinya.
Akibat hukum bagi transeksual terhadap perkawinan menurut hukum positif Indonesia tidak dapat dilakukan perkawinan yang sah seperti yang diatur dalam 28B UUD Tahun 1945 sebagaimana hak setiap orang warga negara Indonesia. Dikarenakan dalam melakukan perkawinan yang sah harus memenuhi syarat yaitu perkawinan dilakukan berdasarkan agama dan kepercayaannya masing-masing. Hal ini didukung dengan hasil wawancara dengan beberapa ulama/tokoh agama (Islam, Kristen/Katolik, Hindu, Budha) menyatakan perkawinan transeksual dilarang agama.
B. Saran
Saran dalam makalah ini, mengenai diharapkan kepada Pemerintah dapat mensosialisasikan mengenai perkawinan transeksual agar mengetahui dan memahami aturan-aturan baik hukum positif dan hukum agama. Diharapkan masyarakat transeksual dapat memahami dan menyadari terkait akan melakukan perkawinan harus memenuhi syarat perkawinan pada Undang-undang yang berlaku seperti UUD Tahun 1945 dan Undang-Undang Perkawinan.
DAFTAR PUSTAKA
Abdulkadir Muhammad, Hukum dan Penelitian Hukum. Cet. 1, (Bandung: PT. Citra AdityaBakti, 2004), hlm. 52.
Ahmad Budi Cahyono dan Surini Ahlan Sjarif, Mengenal Hukum Perdata, Cet-1, (Jakarta : CV Gitama Jaya 2008), hlm. 53-54.
Aminiur Amiruddin dan Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia:
Studi Kritis Perkembangan Hukum Islam dari Fikih, UU No 1 sampai KHI, Cet.2, (Jakarta: Kencana, 2004), hlm. 43.
Anita Wulandari, Gambaran Proses Pengambilan Keputusan pada Transseksual Laki- laki yang Menjalani dan Tidak Menjalani Oprasi Pengubahan Kelamin, Skripsi Sarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Depok, 2006, hlm. 17.
Arso Sosroatmodjo dan Wasit Aulawi, Hukum Perkawinan di Indonesia, (Jakarta:
Bulan Bintang 1981), hlm. 28.
Erlyn Indarti, Diskresi dan Paradigma : Suatu Telaah Filsafat Hukum, Pidato Pengukuhan Guru Besar Universitas Diponegoro (Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2010)
Fatwa MUI, Operasi Ganti Kelamin Haram, terdapat disitus
<http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/02/2014/mi5z5t-fatwa-mui- operasi-ganti-kelamin-haram>, diakses pada tanggal 15 April 2020.
Hapsari, Gita Riyanty, Kewenangan Kantor Urusan Agama Dalam Perkawinan Seorang Transseksual yang telah diakui perubahan statusnya oleh Pengadilan Negeri Ditinjau dari Hukum Islam, (Skripsi Sarjana Hukum) Depok: Universitas Indonesia, 2012 hlm. 23
Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Indonesia Menurut Perundang-Undangan, Hukum Adat, Hukum Agama, (Bandung: Mandar Maju, 1990), hlm. 34.
Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Indonesia, (Bandung: CV. Mandar Maju 2003), hlm. 22.
Indonesia (2), Undang-Undang Republik Indonesia tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, UU No. 19 Tahun 2016, Pasal 1 angka 1.
Indonesia (3), Undang-Undang Republik Indonesia tentang Hak Asasi Manusia, UU No. 39 Tahun 1999, Pasal 2.
Mohammad Daud Ali, Hukum Islam : Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo Persada 2002), hlm. 67,
Neng Djubaedah, dkk, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, (Jakarta: PT. Hecca Mitra Utama, 2005), hlm. 23.
Wahyuni, Setyowati, Hukum Perdata I (Hukum Keluarga), (Semarang, Universitas 17 Agustus, 1977), hlm. 39.
JUDUL:
KAJIAN PERKAWINAN BAGI WARGA NEGARA BERGANTI KELAMIN (OPERASI KELAMIN/TRANSEKSUAL)